"ㅡJangan tertawa. Ia memang seperti itu."
Sangat lucu. Melihat seorang Hwang Hyunjin yang telah tertanam kuat image badboy itu terlihat uring-uringan.
Ada apa gerangan?
Begini,
Ada beberapa hal yang mengganggunya. Pertama; Ayah dan Ibunya bertengkar untuk yang kesekian kalinya. Kedua; Tetangganya hari ini tidak terlihat.
Rindu?
Ah, mana mungkin Hyunjin merindukan orang yang ia benci. Iya. Hyunjin sangat membenci tetangganya. Seungmin.
Biasanya, jika pagi Hyunjin di temani dengan kata-kata umpatan dan teriakan dari kedua orang tuanya, maka akan ada Seungmin yang menghibur dari balkon kamarnya. Seungmin dengan senang hati menyambut Hyunjin dengan senyuman cerahnya. Dengan lembutnya memberikan kata penyemangat pada Hyunjin.
Dan pagi ini ia kehilangan itu.
Ia terbangun karna teriakan Ibunya yang memanggil nama Ayahnya. Sepertinya, Ibu menahan Ayah untuk pergi. Hyunjin mengira begitu.
Hyunjin muak. Terlahir dari keluarga broken home. Dan ya, ia lelah.
Sudah dikatakan. Hyunjin itu brengsek.
Lihatlah betapa tidak warasnya ia. Berdiri di balkom kamarnya, menatap lurus ke jendela kamar Seungmin. Tatapannya, err.. terlihat seperti menunggu mungkin?
Hah! Tertangkap. Mari kita simpulkan bahwa Hyunjin menunggu Seungmin membuka jendelanya dan berdiri di balkon kamar dengan senyuman yang selalu Hyunjin benci.
Dan mari kita anggap bahwa benci adalah sebuah alasan bodoh untuk menutupi rasa gugup.
Hampir satu jam Hyunjin berdiri. Hanya untuk menunggu sang matahari tersenyum.
Lihat wajahnya. Tertekuk begitu jelek. Ia seperti anak kecil yang dijanjikan untuk berlibur, namun gagal. Kecewa? Kesal? Ya, kira-kira seperti itulah perasaanya.
Hyunjin, bodoh.
Berkali-kali ia berkata benci. Namun tetap mencari.
Sudahlah, Hyunjin itu sedang merindu.
Ia sedih, tidak mendapat kata penyemangat pagi ini.
