"ㅡLalu para awan bertemu, hiruk pikuk karna menertawai kebodohan Hwang Hyunjin."
.
Hyunjin terbiasa makan malam dengan keheningan. Jangan bayangkan betapa hangatnya makan malam Hyunjin bersama keluarga. Jauh dari kalimat itu.
Ibunya memang selalu memasak. Tapi tidak akan pernah mau menemani Hyunjin makan. Wanita itu bahkan lebih memilih untuk bekerja demi mendapatkan duit.
Dan Ayahnya. Pria yang sangat Hyunjin benci. Yang jika pulang ke rumah, selalu membongkar isi lemari Ibu, mengambil perhiasan dan semua duit tabungan, berjudi, mabuk-mabukan, dan bermain wanita.
Pantaskah ia disebut sebagai seorang Ayah?
Cih. Bahkan ia tidak pernah menunjukkan kasih sayangnya.
Apa Hyunjin pernah merasakan bagaimana hangatnya sebuah keluarga?
Jawabannya pernah. Terakhir kalinya ia merasakan bagaimana harmonisnya sebuah keluarga di usianya yang ke 5 tahun. Setelah itu, ia hanya merasa seperti tinggal di dalam sangkar kepedihan.
Makan malam. Ruangan makan itu terasa dingin. Bunyi sumpit yang bersentuhan dengan mangkuk menjadi backsound yang memuakkan. Ada empat kursi. Dan hanya ada satu orang yang mendudukinya.
Hyunjin makan dengan biasanya. Santai.
Tetapi hatinya menjerit. Berteriak ingin mengungkap betapa pedihnya luka yang ia rasakan.
Untuk kali ini saja, mari kita biarkan Hyunjin memakan makanan malamnya dengan air mata yang mengalir.
—
Kembali ke rutinitas malamnya. Duduk di balkon kamar, dan memandang langit.
Kali ini, Hyunjin berharap Seungmin akan mengganggunya seperti biasa. Hyunjin berharap, ia akan mendengar celotehan tak jelas atau mungkin sebuah nyanyian penghantar tidur.
Hyunjin berharap lebih. Hatinya butuh hiburan.
Sayang sekali, Hyunjin berharap terlalu tinggi.
Seungmin tidak muncul. Bahkan lampu kamar itu padam. Seungmin tidak ada.
Hyunjin diam. Terselip kekecewaan yang mendalam. Hatinya gagal terhibur.
Ia rindu.
Merindu pada sosok yang dibenci.
