Disclaimer: Bleach ©Tite kubo
(Saya hanya pinjam karakter-karakter yang ada di dalamnya sebagai karakter dalam fanfik saya, tanpa berniat mengambil keuntungan apa pun selain kesenangan semata)
.*.
Overdose
By
Ann
Terinspirasi dari lagu Overdose yang dipopulerkan EXO M.
.*.
Warning: AU, OOC, typos.
Jika tidak suka, silakan arahkan kursor ke sudut kiri atas, atau tekan tombol kembali pada ponsel Anda,
dan
selamat membaca!
.*.
Karena cinta adalah perangkap yang terlalu indah untuk dilewatkan.
.*.
Jika cinta adalah candu, maka dia adalah ekstasi. Zat adiktif memabukkan yang kini mengalir di setiap pembuluh darahku, dari jantung hingga ke ujung jari. Kecanduanku telah sampai ke taraf yang membahayakan. Aku akan mati. Ya, aku akan mati karena dia. Sebentar lagi.
Dia. Gadis bermata ungu itu, masuk ke dalam kehidupanku dengan cara tak biasa. Dia jatuh dari balkon tepat ke dalam dekapanku. Pertemuan yang sungguh luar biasa.
Dalam sekejap mata dia mengisi hari-hariku. Dengan sengaja mencoba mendobrak pintu hatiku. Aku jatuh cinta padamu, ujarnya. Semula aku tak percaya. Ah, bagaimana cinta bisa datang secara tiba-tiba dan dalam waktu sekejap mata? Aku sama sekali tak percaya. Tapi dia menaklukkanku. Dia mampu membuatku percaya bahwa di dunia ini ada sesuatu yang bernama cinta. Klise memang, namun itulah yang terjadi.
Dia menginginkanku, dia mendapatkanku, lalu dia menyakitiku.
Dia. Gadis berambut hitam sebahu itu, ekstasiku, pergi. Tanpa kabar, dia meninggalkanku. Dia memberiku cinta, mengambil hatiku lalu pergi begitu saja. Yah, dia benar-benar luar biasa.
Kulakukan segalanya untuk menghapus segala tentangnya. Entah berapa banyak gadis yang kuajak berkencan untuk memudarkan kenangan gadis mungil bermata violet. Mungkin sepuluh atau ... sudahlah, aku tak mampu mengingat, yang jelas semua itu hanyalah usaha bodoh yang malah membuatku senewen.
Rambut hitam sebahu, mata sewarna ladang lavender, kulit seputih porselen. Aku mengingat segala tentangnya. Sentuhan, pelukan, dan aroma yang seperti musim semi. Tak satu pun yang menghilang dari pikiranku.
Cinta adalah penyakit. Kecanduan yang berbahaya. Dia membuatku overdosis. Semakin lama semakin sulit mengontrol perasaanku padanya. Aku semakin jatuh ke dalam ketidakwarasan dalam mencinta.
"Apa kau sudah gila?" Teman-temanku mulai mempertanyakan kewarasanku. Ah, apa yang bisa kukatakan. Mereka benar. Aku sudah menjadi gila. Benar-benar gila sehingga melakukan apa saja untuk menemukannya.
"Kau sudah tahu semuanya tentangnya. Kau hanya persinggahan. Sebuah pion untuk mencapai keinginannya. Tapi kau─kau benar-benar bodoh, Ichigo. Gila."
Perkataan Renji masih membekas di pikiranku. Lembar-lembar kertas hasil print out di mejaku berisi segala hal tentang gadis lavenderku. Kini, aku tahu semua. Segala hal tentangnya sudah tak lagi menjadi rahasia. Pria lain mungkin akan langsung lari setelah mengetahui rahasia tersembunyi itu, tapi aku tidak. Menyibak tirai masa lalu malah membuatku semakin menginginkannya. Lagi pula, seorang gangster sepertiku tak jauh berbeda darinya, bukan? Aku tak memiliki alasan untuk menjauh, malah semakin bersemangat. Rupanya cinta benar-benar penyakit kronis yang mampu menggerogoti pikiran manusia.
.*.
Akhirnya, kutemukan dia. Salah! Dia yang datang untuk menemukanku.
"Aku di sini untuk membunuhmu."
Moncong pistol berada tepat di antara alisku. Satu tarikan pada pelatuk, maka aku akan kehilangan nyawa. Alih-alih ketakutan, aku malah tersenyum. Aku menyambut kehadiran gadisku dengan suka cita, sebab sudah lama aku tak melihatnya. Ah, aku ingin sekali memeluknya.
"Lakukan, jika itu yang kauinginkan."
Mata ungu itu menyipit ke arahku. "Kau benar-benar ingin mati ya?"
Aku hanya mengedikkan bahu, tak acuh. "Lebih baik mati daripada tidak mendapatkanmu."
"Kau Gila." Dia mengataiku, dan aku tak peduli. Sudah terlalu sering orang mengatakan hal itu padaku. Bahkan aku sudah mencap diriku sendiri gila. Aku menjadi tidak waras karena dia telah meracuni hidupku. Meracuniku dengan sesuatu yang bernama cinta.
"Ayo, jadikan aku satu lagi keberhasilanmu, Rukia." Kutantang dia.
"Itu bukan namaku." Ia menyahut dari rahang yang terkatup.
"Tapi itu yang kutahu darimu. Namamu Rukia. Aku yakin kau tidak berbohong, karena nama itu juga yang tertera di akta kelahiranmu."
"Kau tak tahu apa pun tentangku!" Dia berang. Matanya menatapku nyalang. Tapi aku tak melihat kemarahan, justru aku melihat cinta. Ya, aku tahu dia mencintaiku. Setidaknya, dari semua kebohongan yang diucapkannya, ada kejujuran.
"Aku tahu segalanya, Rukia. Segala hal bahkan setiap inci tubuhmu."
Mata ungu itu membelalak marah. Itu adalah hal yang paling kusuka darinya. Ketika matanya menyorot marah ke arahku, dia justru terlihat teramat seksi.
"Hubungan singkat kita tak bisa membuatmu mengerti diriku."
"Tapi cukup untuk membuatku mencintaimu."
"Kau bodoh, Kurosaki. Gila. Aku mendekatimu untuk mendekati pamanmu Yhwach, dan melenyapkannya."
Aku tersenyum, dan dia memutar mata. "Kau sangat hebat karena berhasil melakukannya, aku salut padamu. Sudah sejak lama aku ingin pamanku itu lenyap, tapi belum menemukan cara yang tepat untuk melakukannya. Kau telah membantuku. Terima kasih."
"Kau benar-benar tak waras, hah?"
"Ya. Karena aku mencintaimu."
Dia membelalak ngeri. Cinta. Dia tak pernah mengingini cinta. Tapi aku justru memberinya semua yang kupunya.
"Ayolah, Rukia. Jangan seperti ini, mencintai bukan hal semengerikan itu." Aku mencoba meraihnya. Rukia melangkah mundur.
"Jangan mendekat!"
Namun, yang kuinginkan justru berbanding terbalik dengan apa yang ia katakan. Kuingin memeluknya dengan erat. Sekali ini aku ingin menyimpannya dalam dadaku. Tidak. Sekali tak akan cukup. Aku tak bisa berhenti. Berada dalam dekapannya begitu nyaman sehingga aku tak bisa berhenti. Setiap hari, setiap saat, aku ingin dia berada di dekatku. Tanpanya, aku seperti mati. "Tinggalah bersamaku, Rukia. Aku mencintaimu."
"Tidak." Dia menjawab sembari berusaha membuat jarak.
"Jangan, tetaplah bersamaku," pintaku.
"Tidak."
"Hentikan semua ini dan tinggalah di sampingku."
"Tidak. Aku harus membunuhmu."
"Kalau begitu lakukan. Kau punya pistol dan aku begitu dekat. Mati lebih baik daripada harus kehilanganmu. Nyawaku ada di tanganmu."
Dia menggeleng pelan. "Apa kau selalu seperti ini?"
"Inilah aku," sahutku sembari merentangkan kedua tangan.
"Sepertinya membunuhmu adalah hal yang sia-sia," ujarnya tak yakin.
"Kalau begitu jangan. Daripada membunuhku, lebih baik kau menikahiku."
Matanya melebar, menatapku tak percaya. "Aku sudah menerima bayaran untuk membunuhmu."
"Dan aku yang membayarmu."
"APA?!" Dia tampak benar-benar terkejut mendengar jawaban santai dariku.
"Sudah kukatakan, aku akan mendapatkanmu dengan cara apa pun."
"Kau gila!"
Lama kelamaan aku suka mendengarnya mengatakan itu. Gila! Gila! Gila! Cinta adalah kegilaan. Cinta adalah kecanduan yang mematikan. Cinta adalah ... dia. Rukia.
"Bagaimana jika kau tidak bisa mendapatkanku?" tanyanya sembari menyimpan pistol.
Aku tersenyum. Aku tahu, pada akhirnya aku akan menang. "Aku akan mendapatkanmu," sahutku yakin.
Dia menghela napas, lalu menoleh garang padaku. "Kau menyebalkan."
Kuberanikan diri mendekat. menangkap tangannya sebelum dia menjauh. Tangan putih itu begitu mungil dalam genggamanku. Satu kecupan kudaratkan di ujung jemari. "Mulai sekarang kau milikku."
Dia adalah candu yang memerangkapku. Tapi aku tak ingin keluar. Selamanya. Karena cinta adalah perangkap yang terlalu indah.
.*.
fin
.*.
Hola~ Apa kabar semua? Gimana puasanya masih lancar? Hehe ...
Lagu yang saya pakai untuk chapter ini adalah lagu lama dari EXO, Overdose. Pertama dengar saya langsung suka, dan setelah tahu arti liriknya, lagu itu langsung jadi salah satu favorit saya. Thanks buat Haruna Aoi yang sudah rikues lagu ini.
Karena inti yang saya dapat dari lagu itu adalah seseorang yang kecanduan cinta, makanya saya bikin Ichigo jadi begitu. Gila karena cinta. :v
Buat yang rikues, semoga suka dengan drabble gaje dari saya ini. Mudah-mudahan nggak kapok baca karya saya setelah ini.
See ya,
Ann *-*
ps: karena chapter dua udah publish, rikues ditutup ya. ;)
