Disclaimer: Bleach ©Tite kubo
(Saya hanya pinjam karakter-karakter yang ada di dalamnya sebagai karakter dalam fanfik saya, tanpa berniat mengambil keuntungan apa pun selain kesenangan semata)
.*.
I Love You
By
Ann
Terinspirasi dari lagu I Love You yang dipopulerkan April Lavigne.
.*.
Warning: AU, OOC, typos.
Jika tidak suka, silakan arahkan kursor ke sudut kiri atas, atau tekan tombol kembali pada ponsel Anda,
dan
selamat membaca!
.*.
Sebuah kata cinta yang sulit terucap.
.*.
Rukia's pov:
Bulir-bulir hujan mulai membasahi, ketika ia melangkah menjauh. Aku menatap punggung yang sedikit tertunduk, tak seperti ia yang biasa terlihat gagah. Kuhela napas berat. Apakah ini akhir? Apakah setelah ini aku tak akan bisa mendekat padanya lagi?
Mendongak. Kutatap hujan yang turun. Perlahan tetesannya semakin banyak dan terasa menyakitkan ketika menimpa wajah. Aku mencintaimu, ingin kuteriakkan kata itu. Tapi ia sudah terlalu jauh pergi, terlalu jauh untuk mendengar suaraku di bawah rinai hujan.
Ia tak pernah bertanya apakah aku mencintainya atau mengapa aku memilih bersamanya. Kukira itu karena ia mengerti apa yang kurasa. Nyatanya, aku salah. Ia tak tahu, jauh dari mengerti tentang aku.
Aku suka melihat senyummu.
Sekali waktu pernah kukatakan itu. Ia pun tersenyum dengan malu-malu. Aku suka gayanya yang tampak cuek, namun biasa tersipu oleh sedikit pujianku. Aura keras tapi lembut yang membuatku merasa nyaman. Namun, bukan itu yang membuatku jatuh cinta.
Dengan cara tersendiri, ia tampak layaknya bintang. Sang Superstar yang mampu merebut perhatian kaum hawa. Ia tampan, walau dengan rambut oranye yang mencolok itu. Matanya yang sewarna madu indah, dan ia memiliki postur tubuh tinggi dan atletis. Sedap dipandang mata. Dan aku tak lupa bahwa ia juga memiliki suara yang indah. Ia seringkali menyanyikan lagu untukku dengan gitarnya, atau melalui line telepon ketika aku tak bisa tidur di malam hari. Namun, bukan karena itu juga aku mencintainya.
Aku sering bertanya-tanya, apakah ia merasakannya? Perasaanku yang tak pernah terlontar lewat ucap. Apakah ia bisa merasai cinta yang kutunjukkan lewat kasih dan perhatian, bahkan terkadang omelan? Apakah ia bisa mengerti bahwa keangkuhan membuat kata cinta tak pernah dapat meluncur dari bibirku?
Kuharap ia mengerti─walau tidak sekarang─bahwa cintaku ada, dan akan selalu ada untuknya. Karena ia begitu indah, terlalu indah. Bahkan mungkin ia tidak menyadari bahwa seringkali aku bersyukur bahwa ia memilihku untuk berada di sampingnya. Namun, bukan pula parasnya yang membuatku merindu.
Dirinya. Hanya dirinya. Alasanku mencinta. Segala hal yang ada di dalam dirinyalah, entah baik maupun buruk. Semuanya. Aku mencintai semua yang ada padanya.
Ia pemberang, tak berpikiran panjang, suka berkelahi, bermulut kasar, karena itulah seringkali ia terlibat dalam masalah. Bad boy. Ya, ia seorang lelaki yang buruk─karena sikap berangasan. Tapi aku menyukainya. Bahkan ketika kakakku berkata tidak mengizinkanku berhubungan dengan berandal itu, aku berkeras untuk bersamanya. Karena ia mampu mengeluarkan sisi lain dari diriku. Sisi lain yang semua tak kutahu ada dalam diriku.
Ujarnya, "Aku adalah pungguk yang merindukan bulan."
Salah. Ia bukanlah sang burung hantu yang hanya mampu memandangi rembulan. Ia adalah matahari, yang mampu memberi bulan kekuatan untuk bersinar di malam gelap. Ia adalah matahariku. Hanya saja ia tak tahu. Karena aku tak memberitahunya. Kini, ketidaktahuan itu membuatnya pergi. Melangkah keluar dari kehidupanku. Perlahan menjauh.
Kini, hujan semakin mengganas. Sebentar lagi aku akan menggigil. Namun, bukan dingin yang kutakutkan, melainkan hati yang membeku karena ditinggalkan. Apa jadinya aku tanpanya? Bagaimana bulan mampu bersinar tanpa seberkas cahaya dari sang matahari? Ah, Kami-sama. Jika ia pergi, aku akan hidup seperti zombie. Hidup segan, mati tak mau. Kami-sama, bawalah ia kembali padaku. Jika Kau melakukannya, aku akan mengatakan cintaku padanya. Dengan lantang, membuang semua keangkuhan. Kami-sama, aku ...
Kenapa kau tidak berusaha sendiri, Rukia?
Aku tersentak. Memicing pada bayang yang berdiri tegak di depanku.
Apa selama ini kau pernah berusaha untuknya? Berusaha memertahankannya?
Aku terdiam. Sementara bayang yang sama persis diriku itu terus berbicara.
Selama ini kau hanya diam. Menerima apa yang ia berikan. Kau begitu pasrah sehingga membuatnya memutuskan untuk menyerah.
"Tidak!" raungku. "Aku memberinya cinta sama besar dengan yang kuterima." Aku membela diri.
"Tapi kau tidak pernah mengatakannya."
"Seharusnya, ia bisa merasakan."
"Begitukah? Jangan naif, Rukia. Terkadang cinta perlu diucapkan dengan kata sebagai sebuah kepastian."
"Kepastian?" Aku membeo.
"Ya, semudah itu. Ia menginginkan kepastian. Berikan itu padanya, maka ia akan kembali padamu."
Aku berlari, dan terus berlari, tanpa memedulikan hujan yang mulai mereda. Aku hanya ingin segera mencapainya. Mengembalikan waktu agar ia tak pernah pergi. Aku ingin ia di sini, bersamaku, memelukku.
Sosoknya terlihat di kejauhan. Kupercepat langkah untuk meraihnya yang berada di seberang jalan.
"Ichigo!"
Nama itu kuteriakkan bersamaan dengan bunyi nyaring klakson kendaraan. Lampu lalu lintas sudah kembali hijau ketika aku melangkah tadi. Dengan ngeri kutatap mini bus yang melaju ke arahku. Suara klaksonnya memekakkan telinga.
"RUKIA!"
Kudengar ia meneriakkan suaraku dengan panik dari seberang jalan sana, kemudian ia berlari ke arahku, berusaha mencapaiku sebelum mini bus.
TIIINNN!
Suara klakson memenuhi telingaku. Mataku terpejam, pasrah dengan apa yang akan menimpa.
Aku tak ingin mati. Kami-sama, semoga ini bukan mautku. Semoga aku hanya akan berakhir di ruang rawat rumah sakit sebagai pasien kecelakaan, bukannya kamar mayat.
Namanya menjadi kata terakhir yang kusebut dalam hati sementara menanti hantaman keras pada tubuhku, yang nyatanya tidak terjadi.
Perlahan kubuka mata. Langsung bertatapan dengan mata sang sopir mini bus yang tampak sangat bersyukur. Aku menunduk. Hanya ada jarak setipis kertas antara tubuhku dan bumper depan mobil. Aku selamat.
"BAKA!" Kurasakan pukulan di puncak kepala, diikuti dengan genggaman erat di tangan, kemudian aku diseret ke pinggir jalan.
Sopir mini bus berlalu dengan ucapan yang kudengar sayup-sayup. Sepertinya tadi pria itu berkata agar aku lebih berhati-hati di lain kesempatan. Tenang saja, Pak. Kali lain aku tak akan membiarkan diriku melangkah ke tengah jalan kecuali lampu penunjuk boleh menyeberang menyala.
"Apa yang kaulakukan, hah?" Aku mendongak, menatap pemilik mata madu yang tengah mengomeliku. "Kau bisa saja celaka tadi. Dasar teledor, harusnya kau memerhatikan lampunya sebelum menyeberang. Syukurlah, sopir tadi merem tepat waktu jika tidak, entah apa yang terjadi padamu." Ia terus mengomel panjang kali lebar mengenai kelengahanku tadi, sementara aku memandanginya dengan takjub.
"Aku mencintaimu." Kata-kata itu terlontar begitu saja dari mulutku.
"HAH?" Ia terperangah. Matanya menatapku tak percaya. "Kau─"
"Aku mencintaimu." Lagi. Kukatakan hal yang sama.
"Kepalamu terbentur ya? Atau korslet kena hujan?" Ia terlihat sangsi.
"Aku mencintaimu. Aku mencintaimu. Aku mencintaimu. Aku men─" Ia menutup mulutku yang mengulang kalimat sama bak kaset rusak.
"Ya. Ya. Ya. Aku tahu. Tak perlu mengulanginya lagi sekarang. Oke?" ujarnya malu karena kini kami menjadi pusat perhatian.
Aku mengangguk, dan ia melepas tangan dari mulutku.
"Kau tidak akan pergi, kan?" tanyaku dengan memelas.
Ia mendesah. "Tentu saja. Mana bisa aku meninggalkanmu. Lagi pula, harus ada seseorang yang menjagamu, kalau tidak kejadian─"
Kupeluk ia dengan erat, membuat ucapannya menggantung di udara.
"Aku mencintaimu," ucapku.
"Ya, sekarang aku tahu," sahutnya seraya membalas pelukanku.
.*.
fin
.*.
Yuhuuu! Chap 3 up! Kali ini rikuesannya Damai, lagunya April Lavigne yang berjudul, I Love You.
Hai, Damai. Tenang, lagu yang kamu saranin kepilih kok, dan semoga yang saya tuliskan di sini memuaskanmu ya. 😉
O ya, saya mau jelasin. Kalo rikuesnya emang sudah ditutup karena chapter 2 udah up kemaren. Tapi, tenang saja semua lagu yang dirikues di review Chap 1 akan saya buatkan drabble. Harap sabar menanti ya.
Akhir kata, terima kasih sudah membaca dan semoga terhibur.
See ya,
Ann *-*
