Disclaimer: Bleach Tite kubo
(Saya hanya pinjam karakter-karakter yang ada di dalamnya sebagai karakter dalam fanfik saya, tanpa berniat mengambil keuntungan apa pun selain kesenangan semata)
.*.
The Ghost of YouBy
Ann
Terinspirasi dari lagu The Ghost of You yang dipopulerkan oleh MLTR.
.*.
Warning: AU, OOC, typos.
Jika tidak suka, silakan arahkan kursor ke sudut kiri atas, atau tekan tombol kembali pada ponsel Anda,
dan
selamat membaca!
.*.
Bagaimanapun aku mencoba, aku masih mengingat dirimu.
.*.
Musim panas berlalu dengan cepat. Udara kering nan lembab berganti menjadi dingin yang menusuk. Orang-orang terpaksa selalu mengenakan mantel atau jaket ketika keluar rumah, begitupula pria berambut jingga yang tengah melangkah di trotoar yang dihiasi pohon-pohon yang merangas. Pria itu bernama Ichigo Kurosaki, seorang pekerja seni, tepatnya sekarang ia bekerja sebagai seorang pencipta lagi. Lima tahun yang lalu, orang-orang mengenalnya sebagai gitaris band. Namanya dielu-elukan bersama personil band lainnya. Tiga album berhasil membuat nama Ichigo dan teman-temannya melejit yang tentunya menghasilkan digit di buku tabungan Ichigo terus melejit. Namun, sebelum perilisan album keempat, Ichigo mengundurkan diri dari band bernama Bleach itu. Alasannya tak pernah diungkap ke publik sehingga penyebab Ichigo meninggalkan kawan-kawannya tepat di saat mereka berada di puncak karier masih menjadi misteri. Hanya orang-orang terdekat yang mengetahui alasan menghilangnya Ichigo dari panggung hiburan, dan lebih memilik balik layar sebagai tempatnya bekerja.
Waktu berlalu. Ingatan orang-orang mengenai Ichigo memudar, meski namanya masih sering disebut-sebut karena Bleach masih berada di tangga teratas dunia hiburan, dan semua itu berkat lagu-lagu yang diciptakan Ichigo yang dengan apik dinyanyikan oleh Grimm, sang vokalis Bleach.
Hari-hari Ichigo menjalani kehidupan yang sunyi, terkadang ia hanya berada di ruang musik di rumahnya bersama sebuah gitar, atau berada di ruang lain dengan komputernya. Tak seorang manusia pun yang menemani. Namun sesekali ia akan pergi keluar, menjamah udara segar untuk pergi membeli kebutuhan harian atau sekadar duduk di taman mencari inspirasi. Sama seperti yang dilakukannya hari ini, Ichigo mendudukkan diri di bangku besi yang menghadap ke sebuah danau buatan, dalam diam menyesap semua keindahan di depannya.
"Kau sendirian lagi?"
Suara itu mengetuk indra dengan Ichigo, membuat kepalanya tertoleh. Seorang wanita memakai gaun kuning polos selutut tanpa mantel maupun jaket duduk di sampingnya. Seketika keningnya berkerut.
"Apa-apaan reaksimu itu? Kau tak senang aku datang?" Si wanita mengerucutkan bibir tak senang.
Ichigo menghela napas, mengembalikan tatapannya ke danau.
"Jangan seperti ini, Ichigo. Jangan terlihat menderita di depanku. Kumohon ..."
"Lalu apa yang harus kulakukan? Aku tak bisa tersenyum ketika melihatmu. Kau ..." Ichigo tak mampu melanjutkan kalimatnya.
"Aku mengerti." Wanita itu tertunduk. "Aku hanya akan membawa kenangan sedih jika muncul di hadapanmu, kan?"
Ichigo mendesah. "Kumohon ... jangan berkata apa pun."
"Apa kau ingin aku pergi?"
"Ya," jawab Ichigo dengan rahang terkatup.
"Baiklah ... sampai jumpa, Ichigo."
Dan ketika Ichigo menoleh wanita itu sudah tidak ada lagi. Jemari Ichigo terkepal di sisi tubuhnya, menguatkan hati bahwa apa yang dilakukannya adalah pilihan terbaik. Pilihan yang mampu membuat hatinya tetap utuh. Namun seberapa pun ia menguatkan hati, air mata itu tetap luruh. Perlahan menuruni pipinya hingga mencapai rahang.
Kau mencoba hidup tanpanya, tapi itu mustahil. Selamanya dia akan selalu bersamamu. Hidup di hatimu.
Marah karena suara yang bergaung di dalam kepalanya, Ichigo berdiri, berderap cepat meninggalkan danau.
.*.
Ichigo melangkah memasuki sebuah bar yang mulai ramai di awal malam, duduk di depan meja bar dan memesan bir dalam sebuah gelas besar. Ia berencana untuk mabuk malam ini, berharap dengan melakukan itu dapat memperbaiki isi kepalanya. Dalam sekali minum ia menghabiskan setengah isinya, membuat bartender yang berdiri di belakang meja melengkungkan alis.
"Minuman keras tidak baik untuk hati. Kau akan cepat mati kalau minum-minum terus," ujar sebuah suara. Tanpa berpaling pun Ichigo tahu siapa pemiliknya. Ia mendengus dan menggumamkan, "Bukan urusanmu."
"Apa kau mau mati, Ichigo?" Suara itu terdengar lagi. "Kuharap tidak, karena mati bukanlah hal yang menyenangkan. Sungguh. Aku belajar dari pengalaman."
Ichigo menenggak minumannya lagi. Kali ini menandaskan seluruh isi gelas. Kemudian ia turun dari kursi dan melangkah ke pintu. Ternyata minuman keras pun tak mampu menghalau wanita itu.
Lima tahun, Ichigo. Selama lima tahun kau melakukan berbagai cara untuk mengenyahkan dia, dan tak satu pun cara berhasil. Jadi, bagaimana mungkin segelas besar bir mampu melakukannya?
Ichigo merapatkan mantelnya, memasangkan kancing-kancing hingga ke bagian leher guna mengusir angin dingin yang menyusup membekukan. Ia melangkah melalui trotoar yang ramai. Dan wanita itu kembali muncul di sisinya, masih memakai gaun selutut berwarna cerah itu, tanpa mantel seolah udara malam di musim gugur sama sekali tak mengganggunya. Wanita itu tersenyum. Senyum yang langsung membangkitkan emosi terdalam Ichigo.
"Kenapa kau selalu muncul di hadapanku, hah?!" Suaranya mengundang tatapan ingin tahu orang di sekitar. "Kapan kau akan berhenti? Kapan kau akan pergi."
Wanita berambut hitam itu menggeleng. Matanya yang berwarna ungu berkaca-kaca. "Aku tak bisa." Suara wanita itu sepelan bisikan. "Kau selalu memanggilku. Tak pernah berhenti."
Napas Ichigo tertahan, kepalanya tertunduk. Untuk sesaat ia terlihat akan jatuh, namun kemudian ia mengangkat wajah, menatap wanita bermata ungu itu. "Pergilah ... agar aku bisa kembali pada kenyataan. Biarkan aku melanjutkan hidup."
Walau sedih wanita itu mengangguk. Melangkah mundur, sosok mungil itu menghilang dalam keramaian.
.*.
Malam telah pekat, ketika Ichigo kembali ke rumah. Tempat itu sepi seperti seharusnya, dingin dan gelap. Ichigo duduk di sofa bersama penerangan temaram dari lampu duduk di meja di sampingnya. Telepon berbunyi nyaring di sebelah lampu, namun Ichigo tak bergerak untuk menjawab. Kemudian terdengar bunyi klik yang menandakan mesin perekam pesan mulai bekerja. Ichigo memang sengaja mempertahankan teknologi jadul itu di rumahnya; telepon rumah dengan mesin penjawab yang akan merekam pesan yang ditinggal penelepon untuknya.
"Ichigo, ini Ibu. Kau baik-baik saja, kan? Ibu meneleponmu untuk menanyakan rencanamu untuk besok. Apa kau akan datang ke rumah keluarga Kuchiki? Tahun ini seperti tahun-tahun sebelumnya, mereka akan mengadakan upacara peringatan kematian Rukia. Ibu harap kau bisa datang sebagai penghormatan pada mendiang istrimu. Segera telepon Ibu. Kami menyayangimu."
Ruangan kembali hening, hanya suara napas Ichigo yang menderu terdengar. Ia mencengkeram dadanya, memukul-mukul dengan maksud menghilangkan rasa sesak yang seketika menyergap kala nama itu disebut. Rukia ... mendiang istrinya ... wanita yang kematiannya menjadi penyebab mundurnya Ichigo dari dunia hiburan.
Lima tahun sudah berlalu semenjak sebuah kecelakaan merenggut Rukia dari hidup Ichigo. Pergi ... menjadi sesuatu yang tak lagi dapat ia sentuh, namun masih selalu dapat ia lihat. Di setiap saat, di setiap waktu. Berulang kali Ichigo berusaha menghilangkan bayang Rukia, mengusirnya, mengenyahkannya, tapi bayangan itu selalu kembali. Lagi dan lagi. Seolah wanita itu tak mau melepaskannya. Atau mungkin dirinya yang tak mampu melepaskan.
"Kau selalu memanggilku. Tak pernah berhenti."
"Benarkah aku yang selalu memanggilmu, Rukia? Apa aku terlalu takut kehilanganmu? Apakah aku tak sanggup ...," Ichigo terdiam sesaat, "sialan!" Ia mengumpat. "Aku memang tak sanggup kehilanganmu. Aku tak bisa tanpa dirimu ... aku─Rukia kembalilah ..."
"Nah kan, kau yang memanggilku." Tawa renyah terdengar. "Seperti yang sudah kukatakan, kau selalu memanggilku. Tak pernah berhenti."
Ichigo menghela napas, kepalanya tertunduk. "Aku berkata pada diri sendiri bahwa aku bisa bertahan. Aku mencoba hidup tanpamu. Seperti orang bodoh" Ia mengangkat mata, menatap Rukia yang tengah tersenyum padanya. "Lucu, bagaimana kupikir diriku melalui lima tahun ini dengan hati yang utuh, padahal semua itu terjadi karena kau selalu ada."
"Kau tak dapat melepaskanku seperti aku yang tak mampu melepaskanmu. Kita terikat," ujar Rukia.
"Aku menyerah, Rukia ... aku tak bisa melawanmu. Tak sanggup melepasmu."
.*.
fin
.*.
Yuhuuuu! Ketemu lagi dengan Ann di sini. Maafkan karena fanfik ini baru saya lanjutin setelah sekian lama. Salahkan saja ide yang mandek di lagu The Ghost of You-nya MLTR, padahal lagunya bagus tapi idenya emang nggak muncul-muncul. Jujur aja, chapter ini selesai setelah beberapa kali rombak isi cerita.
Untuk Eueu semoga kamu suka dengan apa yang saya tulis, meski endingnya rada-rada gimana gituh. Hahaha ...
Untuk kalian yang sudah baca, ripiu, fav, dan follow, makasih banyak ya. Maaf nggak bisa balas review kalian satu per satu.
Chapter berikutnya, lagu Kana Nishino yang Still Love You, pesenannya Uzuki71. Semoga kali ini nggak makan waktu banyak buat bikinnya.
See ya,
Ann *-*
