Disclaimer: Bleach ©Tite kubo
(Saya hanya pinjam karakter-karakter yang ada di dalamnya sebagai karakter dalam fanfik saya, tanpa berniat mengambil keuntungan apa pun selain kesenangan semata)
.*.
Still Love You
By
Ann
Terinspirasi dari lagu Still Love You yang dipopulerkan Kana Nishino.
.*.
Warning: AU, OOC, typos.
Jika tidak suka, silakan arahkan kursor ke sudut kiri atas, atau tekan tombol kembali pada ponsel Anda,
dan
selamat membaca.
(note: italic for flashback)
.*.
Ketika selamat tinggal telah terucap, adakah kesempatan untuk kembali bersama?
.*.
Hujan reda dengan perlahan. Orang-orang yang semula berteduh di bawah atap stasiun mulai beranjak ke tujuan masing-masing. Namun, gadis berambut hitam itu tak lantas melakukan hal yang sama. Ia masih terdiam di tempatnya semula, larut dalam kenangan masa lalunya. Mengingat masa di mana dirinya sering menghabiskan waktu di depan stasiun ini untuk menunggu seseorang.
.
"Aku minta maaf karena kau harus menungguku lagi, Rukia," ucap pemilik rambut jingga itu.
Rukia mengedikkan bahu. "Apa boleh buat, sekolahmu jam pulangnya lebih lambat," ujarnya mengerti.
"Tapi tetap saja rasanya tidak nyaman membuatmu terus menungguku," kata pemuda itu.
"Jadi, kau tak ingin aku menunggumu?" tanya Rukia. "Kau tidak ingin bertemu denganku, Ichigo?"
"Bukan begitu," sahut Ichigo. "Maksudku adalah aku yang ingin menunggumu."
Rukia menggeleng pelan. "Kau ini ada-ada saja. Terima saja keadaan ini," ujarnya. "Aku senang kok melihatmu berlari menghampiriku lalu berucap maaf."
"Ekh?!"
.
Sembari menghela napas, Rukia melanjutkan langkah. Menggerakkan kakinya di trotoar yang masih dihiasi bercak-bercak basah. Ia kembali ke jalan yang sudah tak ia lalui hampir lima tahun. Jalanan kota yang pernah menjadi tempat tinggalnya selama dua tahun lebih. Tak banyak yang berubah, jalanan beraspal itu masih selebar sebelumnya dengan berbagai toko mengisi sisi jalan. Trotoar siang ini tak terlalu ramai sehingga Rukia bisa leluasa menikmati kenangan yang mengalir di setiap langkah yang ia pijakkan.
Jalanan ini membawa begitu banyak kenangan. Mengalirkan rindu yang meremas jantung Rukia. Ia mengira setelah lima tahun berlalu kenangan itu tak akan terasa begitu menyakitkan, nyatanya tajamnya masih menusuk ulu hati.
Di jalanan ini Rukia menemukan cinta pertamanya. Seorang pemuda bernama Kurosaki Ichigo yang mengisi hari-hari di tahun kedua dan ketiga masa SMAnya.
Pertemuan takdir yang klise. Pemuda itu menabrak Rukia, membuatnya jatuh terjerembab di atas trotoar.
.
"Aku minta maaf. Benar-benar minta maaf." Pemuda itu langsung membantu Rukia berdiri. "Aku sangat ceroboh, aku berlari terlalu cepat. Maafkan aku."
Bukannya marah, permintaan maaf yang berlebihan itu malah membuat Rukia geli. "Aku baik-baik saja," ujar Rukia sembari menepuk-nepuk debu dari roknya.
"Syukurlah kalau kau─kau terluka!"
Rukia mengikuti arah yang ditunjuk pemuda itu. Memandang ke lututnya yang terdapat luka yang mengeluarkan darah, hanya sedikit. Tadi ia sama sekali tak merasakan sakit, sekarang baru ia merasa sakit, tapi hanya sedikit. Namun, si pemuda yang menabraknya malah heboh dan memaksanya untuk pergi ke sebuah klinik.
.
Pertemuan itu menjadi awal perkenalannya dengan Ichigo. Perkenalan yang membuat hubungan pertemanan terjalin, lalu perasaan Rukia berkembang, pun milik Ichigo. Dari teman menjadi pasangan kekasih. Mereka mengisi hari-hari satu sama lain. Stasiun menjadi tempat pertemuan. Di mana Rukia menunggu Ichigo sepulang sekolah agar mereka bisa bertemu.
Kedai takoyaki yang berjarak beberapa langkah di depan Rukia juga menguatkan kenangannya bersama Ichigo. Mengingatkannya pada hari festival budaya di sekolah. Ketika itu, kelas Rukia membuka keda takoyaki. Ichigo datang untuk berkunjung, berdiri di depan stand kelas Rukia sembari menunggu Rukia memasak takoyaki untuknya. Hasilnya tak terlalu buruk untuk seorang yang baru pertama kali memasak takoyaki, tapi tetap saja menurut Rukia takoyaki yang ia hasilkan tak layak makan karena gosong dan bentuknya awut-awutan. Namun, Ichigo dengan santai mengatakan bahwa takoyaki buatan Rukia enak dan menghabiskan semuanya dengan lahap.
Sepotong demi sepotong kenangan datang, beberapa membawa senyum ke bibir Rukia, tapi tak jarang membuatnya meringis menahan pedih luka hatinya. Nyatanya, waktu tak dapat membuyarkan rasa itu. Tak mampu mengubur kenyataan bahwa jauh di lubuk hati Rukia cinta itu masih bersemi.
.
Rukia menyembunyikan diri di balik mesin minuman otomatis, ketika langkah pemuda yang ia buntuti terhenti. Dengan hati-hati diintipnya pergerakan pemuda berambut jingga itu, agar ia tak kehilangan jejak. Pemuda itu berbelok di pertigaan, menuju jalan yang dipenuhi kedai makanan dan pertokoan. Rukia bergegas keluar dari tempat persembunyian, mengejar langkah cepat pemuda itu. Namun ia terlalu lamban, pemuda itu menghilang. Rukia celingukan berusaha menemukan pemuda jangkung dengan rambut nyentrik tersebut di antara puluhan pejalan kaki. Nihil. Pemuda itu benar-benar menghilang sekarang.
"Ke mana perginya?" Rukia menggumam sembari mencoba menerka kedai atau toko mana yang dikunjungi si pemuda. Ia terus melangkah sambil terus mencari, sedikit meragu apakah jalan yang dipilihnya mengarah kepada pemuda itu atau sebaliknya. Di depan sebuah toko buku ia berhenti, instingnya mengatakan pemuda itu berada di sana. Namun, ia abaikan instingnya dan terus melaju sampai seorang melompat di depannya.
"KENA KAU!"
Rukia melompat mundur selangkah, terkejut dengan kehadiran si pemuda yang semula ia buntuti. "K-kau ..." Jantung Rukia memacu, menjadi detak cepat tak beraturan.
"Kenapa mengikutiku, hah?" Pemuda itu bersidekap, matanya menyipit ke arah Rukia.
"A-aku tidak─" Rukia berusaha berkilah, namun tak menemukan alasan yang tepat.
"Kau memang mengikutiku, mengaku saja," cecar pemuda bernama Ichigo itu.
Rukia pun bersidekap. "Itu karena kau. Kau menolak ajakanku untuk pergi bersama dan malah pergi sendiri, tanpa bilang-bilang pula. Aku kan ..." Ia tak mampu melanjutkan kata-katanya. Tak sanggup mengakui bahwa dirinya cemburu karena berpikir Ichigo pergi menemui gadis lain. Statusnya sebagai pacar Ichigo tak mampu membuat Rukia merasa tenang, karena seperti yang semua orang tahu Ichigo pemuda yang populer.
"Aku hanya ingin membeli buku," jelas Ichigo.
"Sendirian?" selidik Rukia.
Jemari Ichigo menggaruk bagian belakang kepalanya, terlihat salah tingkah.
"Kau mau menemui siapa?" cecar Rukia.
Ichigo terlihat kaget. "Tidak. Kenapa kau berpikir begitu?"
"Lalu mengapa tidak mau mengajakku? Kita kan bisa pergi bersama. Kau pasti ingin menemui seorang gadis, ya kan?" tuduh Rukia. "Siapa yang ingin kau temui?"
Mendengar kata-kata Rukia pemuda itu malah tersenyum. "Ayo." Pemuda itu meraih tangan Rukia, menggenggamnya erat, lalu menariknya masuk ke toko buku.
"I-ichigo, kita mau ke mana?"
"Temani aku."
"Kau pikir bisa mengelak begitu saja?" ujar Rukia sambil mencoba menarik tangannya dari Ichigo. Genggaman Ichigo yang begitu erat membuat ia tak bisa melepaskan diri dengan mudah. "Kau belum menjawab pertanyaanku."
"Ikut saja, dan kau akan dapat jawabannya. Dan jangan memaksa melepas tanganku, nanti tanganmu sakit," ujar Ichigo.
"Kalau begitu, jangan menggenggamnya terlalu erat," sahut Rukia.
"Aku tak ingin melepaskanmu," tukas Ichigo sembari menarik Rukia untuk mengikuti langkahnya.
Mereka berhenti di depan meja kasir yang juga merangkap customer service.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang pramuniaga yang berdiri di belakang meja.
"Saya ingin mengambil pesanan." Ichigo menyerahkan nota.
"Sebentar saya cek dulu." Si pramuniaga memasukkan nomor nota pemesanan ke komputer, kemudian berkata, "Pesanan Anda sudah selesai. Sebentar saya ambilkan." Pramuniaga itu melangkah ke ruangan dalam.
"Sebenarnya, apa yang kau pesan?" tanya Rukia penasaran.
Ichigo menoleh pada Rukia. "Sesuatu yang ingin kuberikan padamu."
"Eh? Untukku?"
Ichigo mengangguk. "Aku ingin memberikannya sebagai hadiah, makanya aku tidak ingin kau tahu. Tapi kau malah menuduhku janjian dengan gadis lain," papar Ichigo.
Rukia menunduk malu. "Maaf ...," gumamnya.
"Lain kali, jangan meragukanku," pinta Ichigo.
.
Namun, Rukia tetap meragukannya. Tak dapat menguatkan hati untuk percaya kepada pemuda yang dicintai. Keraguan dan ketidakpercayaan antara satu sama lain memicu pertengkaran demi pertengkaran. Tak peduli seberapa besar cinta yang dimiliki, perlahan tapi pasti hubungan merenggang, ikatan menjadi rapuh kemudian terputus.
.
Ichigo menyandarkan punggung di dinding stasiun. Rukia memerhatikan pemuda itu dalam diam, sementara jemarinya menggenggam erat jemari Ichigo. Perlahan Ichigo menoleh ke arahnya. Mata cokelat itu memandang Rukia cukup lama, tak ada binar kebahagiaan di sana. Hanya sinar redup nan sendu. Peluk erat Ichigo menyampaikan segalanya. Sebuah kalimat yang tak mampu diucap oleh lisan. Rukia menyadarinya, inilah akhir dari kisah mereka. Setelah seminggu lalu Rukia mengatakan bahwa dirinya akan melanjutkan studi di kota lain, Ichigo telah mengambil keputusan untuk melepasnya. LDR tak menjadi pilihan bagi dua orang yang tak lagi bisa saling memercayai, sehingga perpisahan adalah jalan terbaik.
"Apa kau akan mengucapkan selamat tinggal?" Rukia bertanya dengan bibir bergetar. Ia ingin menangis, tapi menahan air mata sekuatnya.
"Apakah perlu untuk mengucapkannya?" Ichigo balas bertanya.
Rukia menggeleng pelan. "Aku tak ingin mengucapkannya."
"Terlalu sulit untuk mengucapkan selamat tinggal padamu."
"Maaf ... maaf ... maaf ..." Meski mengatakannya berulang kali, tapi Rukia masih merasa kurang. Permintaan maafnya tak akan pernah cukup untuk memperbaiki keadaan, maupun membatalkan perpisahan.
"Ssshhh ... Jangan menangis. Kumohon." Ichigo mengecup puncak kepala Rukia, dan Rukia terisak.
Perlahan pelukan terurai. Genggam tangan sedikit demi sedikit terlepas. Masing-masing mengambil langkah mundur menjauh, meski tatap masih saling bertemu. Pandangan Rukia mengabur oleh air mata. Perih. Baru ia menyadari, ini pertama kalinya. Ia kehilangan cinta, dan tak mungkin bisa menggapainya lagi.
.
Setelah perpisahan itu, Rukia tak pernah bertemu Ichigo lagi. Bahkan sebuah kata hai tak bisa Rukia kirimkan kepada Ichigo. Ia tak merasa berhak menyapa pemuda itu lagi, apalagi untuk menemuinya. Karena ialah yang pergi dari Ichigo, meninggalkan pemuda itu ke seberang samudera. Namun, disinilah dirinya sekarang. Kembali menapaki kenangan bersama Ichigo. Setelah kembali ke Jepang, Karakura menjadi tempat pertama yang muncul dalam pikirannya. Menjadi tempat pertama yang ia datangi. Karena di kota ini orang yang sangat ingin ia temui berada.
Setelah memuaskan diri berkeliling kota, Rukia kembali ke stasiun. Sebenarnya, dalam hati ia berharap secara tak sengaja bertemu dengan Ichigo atau menemukan seseorang yang bisa memberitahunya kabar Ichigo. Sayang, nasibnya tak sebaik itu. Tadi ia memang bertemu salah satu adik Ichigo, Yuzu, saat berada di toko oleh-oleh, tapi Yuzu hanya bisa memberitahunya bahwa Ichigo tak ada di sana. Walau ia ingin mengorek lebih banyak tentang Ichigo, Rukia harus menahan diri karena Yuzu tengah sibuk melayani pembeli yang datang ke toko, keberadaannya hanya menambah repot Yuzu. Lagi pula, sikap Yuzu tak terlalu bersahabat kepadanya, bahkan cenderung dingin. Hal itu wajar mengingat apa yang sudah Rukia lakukan kepada kakak gadis itu. Akhirnya ia kembali ke stasiun dengan hanya kantong plastik berisi takoyaki yang ia beli di kedai tadi.
Dengan langkah gontai ia semakin dekat dengan stasiun. Langit di atas kepalanya kembali gelap, pertanda hujan akan kembali menyapa bumi. Namun, Rukia tak mempercepat langkah. Tidak menyegerakan diri untuk mencapai stasiun. Ia masih ingin tinggal, setidaknya sampai ia bisa menemukan Ichigo. Ada satu kata yang ingin Rukia ucap. Sebuah pengakuan yang dulu tak sempat ia ungkapkan. Waktu mungkin sudah berlalu lima tahun, tapi tak pernah ada kata terlambat, bukan?
Ya, tidak ada kata terlambat untuk mengungkapkan cinta yang ia pendam, rindu yang tersimpan. Walau mungkin Ichigo tak menginginkannya lagi, Rukia akan tetap mengatakan pada Ichigo bahwa sampai saat ini ia masih mencintai Ichigo.
Rukia hampir mencapai stasiun, tapi ia berputar arah, berniat kembali ke toko Yuzu. Entah dengan memohon atau memaksa, ia akan membuat Yuzu memberitahu di mana Ichigo berada.
Baru selangkah, ia menghentikan gerak. Perlahan kepalanya tertoleh ke kiri. Ia ingat tempat itu, tepat di samping papan pengumuman depan stasiun. Tempat itu selalu menjadi tempatnya menunggu Ichigo sepulang sekolah. Dan kini ... di tempat itu─
"Ternyata menunggu bukanlah sesuatu yang menyenangkan, ya, Rukia."
Rukia membeku di tempat selama tiga detik lamanya. Barulah saat pemuda─ah, salah, pria itu─menghampirinya barulah Rukia menyadari bahwa dirinya tak sedang bermimpi. Pria yang kini berdiri satu meter di depannya memanglah orang yang menjadi alasannya kembali ke Karakura. Ichigo.
Pikiran Rukia blank seketika. Sebuah kalimat terucap begitu saja dari bibirnya. "Aku masih mencintaimu."
Ichigo tersenyum dan mengulurkan tangan kanannya pada Rukia. Tanpa ragu Rukia menyambutnya. "Aku kalah cepat, padahal aku berencana ngomong duluan."
Senyum menular ke bibir Rukia. Dengan satu langkah lebar ia bergerak ke arah Ichigo, memeluk erat pria yang sudah lama ia rinduan.
.*.
Sangat sulit untuk mengucap kata selamat tinggal padamu. Jadi, kuputuskan untuk tidak pernah mengucapkannya.
.*.
Fin
.*.
Fiuh~ akhirnya kelar juga fanfik pertama di 2018. Butuh sebulan lebih untuk menyelesaikan chapter ini. Sepertinya, saya tambah payah sekarang. Hehe ...
Untuk yang request, Uzuki71, semoga berkenan dengan tulisan gaje saya. Dan untuk yang baca terima kasih banyak sudah mampir. Doain semoga tetap bisa ngetik chapter selanjutnya.
Banjarmasin, 08 Februari 2018
See ya,
Ann *-*
