Disclaimer: Bleach ©Tite kubo

(Saya hanya pinjam karakter-karakter yang ada di dalamnya sebagai karakter dalam fanfik saya, tanpa berniat mengambil keuntungan apa pun selain kesenangan semata)

.*.

Stay With Me

By

Ann

Terinspirasi dari lagu Stay With Me yang dipopulerkan Chanyeol EXO feat Punch, yang merupakan Ost. drama seri korea Goblin.

.*.

Warning: AU, OOC, typos.

Jika tidak suka, silakan arahkan kursor ke sudut kiri atas, atau tekan tombol kembali pada ponsel Anda,

dan

selamat membaca.

.*.

Kita tak dapat mengulang masa lalu, tapi kita dapat memperbaiki masa depan.

.*.

Ini miliknya. Hanya miliknya. Berkas kepemilikan sudah ditandatangani dan kini hotel tiga puluh lantai yang sebelumnya dimiliki Aizen Enterprise sudah menjadi hak Kurosaki Internasional. Akhirnya, Ichigo berhasil mengambil bangunan yang dahulu direnggut Aizen dari orangtuanya. Mengembalikan hotel bernama Masaki Paradise itu ke pemilik aslinya.

"Kaa-san, Otou-san, aku sudah mendapatkan kembali milik kalian," bisiknya, berharap orangtuanya di atas sana mendengar dan ikut berbahagia bersamanya.

"Aku akan meninggalkan berkas-berkasnya di sini, siapa tahu kau ingin membacanya sekali lagi." Pria berkacamata di depan Ichigo mulai merapikan berkas-berkas di meja, memasukkan sebagian ke tas kerja sedang sebagian lain ditumpuk dan diletakkan di depan Ichigo.

"Kau ingin pergi, Ishida?"

"Ya. Aku punya seorang istri yang tengah hamil besar di rumah, yang sewaktu-waktu bisa saja melahirkan," jawab Uryuu sembari menarik risleting tas kerjanya. "Maaf, tak bisa menemani merayakan kemenangan ini."

"Aku mengerti. Pulanglah. Sampaikan salamku pada istrimu, dan kalau kau perlu bantuan kau tahu bagaimana menghubungiku."

"Tentu." Uryuu menegakkan tubuh, lalu mengulurkan tangan yang disambut Ichigo dengan jabat erat. "Sekali lagi, kuucapkan selamat, usahamu selama bertahun-tahun akhirnya mencapai tujuannya."

"Kau cukup banyak membantu usahaku. Terima kasih."

Dengan satu senyuman tipis, Ichigo mengantar kepergian Ishida. Surat-surat pengesahan kepemilikannya atas Masaki Paradise masih ada di meja. Ichigo meraihnya membaca setiap kata yang tertuang di dalamnya. Secara formal ia belum memperkenalkan diri kepada setiap karyawan hotel, tapi ia yakin semua orang sudah tahu mengenai pemindahan hak milik ini. Ia telah keluar-masuk kantor manajer selama hampir seminggu, mengatur pertemuan dengan pemegang saham utama yang tidak punya pilihan selain menyerahkan kekuasaan kepemimpinan hotel karena tak ada pembeli lain yang berminat mengambil alih hotel tersebut. Ah, bukannya tidak ada yang berminat, tapi Ichigo mengusahakan agar minat mereka hilang. Yah, menjadi salah satu penguasa dalam bisnis perhotelan membuatnya memiliki kemampuan itu.

Masih Ichigo ingat wajah Aizen, ketika pria itu menandatangani surat penyerahan aset. Akhirnya, ia bisa melihat kekalahan Aizen, kejatuhan pria itu, dan ia melakukannya dengan cara yang fair, tak seperti yang dilakukan Aizen kepada orangtuanya. Tidak ada tipu muslihat, hanya ada sedikit tekanan agar tak ada pembeli potensial yang menawar untuk Masaki Paradise.

Ichigo melangkah ke brangkas yang tersembunyi di balik panel geser. Brangkas itu baru dipasang tadi sore dengan kombinasi password yang hanya diketahui oleh Ichigo. Setelah menyimpan surat berharganya, Ichigo meninggalkan ruangan yang mulai sekarang adalah kantornya menuju deretan lift gemerlap lalu menekan tombol menuju penthouse. Saat itu hampir pukul sembilan malam, Ichigo berpapasan dengan beberapa staf hotel yang langsung berdiri tegak dan menyapanya. Benar dugaannya, berita tentang pengambilalihan sudah menyebar.

Saat melejit menuju lantai teratas hotel dan memandangi panorama kota nan gemerlap, Ichigo tahu dirinya terlalu bersemangat dan gelisah sehingga tidak bisa tidur. Tidur, menjadi sebuah keistimewaan baginya. Sering kali ia hanya bisa tidur selama dua-tiga jam semalam, dan itu pun tidak selalu terus-menerus. Sisa waktunya ia habiskan dengan bekerja atau berolahraga, apa pun untuk membuat tubuh dan otaknya bergerak.

Pintu lift langsung membuka ke suite yang mencakup seluruh lantai teratas. Ichigo melangkah masuk, matanya menyipit memandangi detail-detail yang begitu mewah; lantai marmer, kandelir kristal, barang antik, dan karya seni mahal. Lampunya diredupkan dan sekilay ia melihat rangjang besar di kamar utama. Selimut sutra merah yang tersibak memperlihatkan seprai mewah yang ada di bawahnya.

Ichigo meletakkan kartu kunci di nakas, lalu melonggarkan dasi dan melepas jas. Ia merasakan serangan awal sakit kepala, denyut di pelipis yang mengatakan dirinya akan mengalami migrain beberapa jam lagi. Selain insomnia, migrain adalah harga mahal yang harus ia bayar atas kerja kerasnya dalam bekerja, untuk semua yang ia peroleh kini. Sukses, berkuasam dengan kemampuan untuk mendapatkan segala hal yang ia inginkan.

Ia berjalan melintasi kamar, lampu kota terlihat berkilauan dari jendela besar. Ruang duduknya elegan, tapi membosankan menurutnya. Terlalu berlebihan dengan beberapa kursi dan meja kecil berpelitur serta jambangan besar berisi bunga mawar. Hal pertama yang akan ia lakukan besok adalah memperbaiki seluruh dekorasi hotel. Ia akan membuat kamar-kamar di Masaki Paradise berkelas tapi tetap memberi kenyamanan bagi penghuninya.

Ia merasa resah tanpa sebab yang jelas, dengan kepala yang mulai berdenyut-denyut hebat, lalu melanjutkan berkeliling kamar, menyadari dirinya tidak bisa tidur, tapi juga enggan duduk dan bekerja. Lagi pula, sekarang malam kemenangannya. Ia harus merayakannya. Sayangnya, tidak ada yang bisa ia ajak untuk merayakan. Selama delapan belas tahun kehidupannya di Karakura, Ichigo memiliki banyak teman. Namun, mereka berangsur-angsur pergi ketika dirinya berada di titik terendah. Hanya beberapa yang tetap tinggal dan mengulurkan tangan padanya, salah satunya Ishida Uryuu. Satu-satunya teman yang ia pikir akan berbagi kemenangan ini. Teman terbaiknya Chad juga sedang tak berada di Karakura karena tengah mengikuti sebuah turnamen tinju.

Kau punya seorang teman lagi.

Pemikiran itu meluncur ke dalam benaknya, terasa mengejutkan dan manis. Ichigo menghentikan langkah resahnya.

Rukia. Ia mencoba untuk tidak memikirkan gadis itu, karena memikirkan Rukia membuatnya mengingat, mengingat membuatnya bertanya-tanya. Berharap. Menyesal.

Padahal ia tidak pernah menyesali apa pun. Ia tidak akan menyesali satu malam yang ia habiskan dalam pelukan Rukia, mengubur dirinya dalam dekapan gadis itu demi melupakan penderitaan yang ia rasakan.

Selama beberapa jam ia terlupa akan hotel yang dirampas dari tangan keluarganya, pada kematian tragis kedua orangtuanya. Kala itu ia merasa bahagia dalam pelukan Rukia. Mata violet yang menakjubkan yang mencerminkan hati gadis itu, telah membuat Ichigo melupakan semua amarah, kepedihan, dan kekosongan yang pernah ia rasakan.

Dan kemudian Ichigo pergi diam-diam sementara Rukia tertidur, menuju kehidupan baru di New York, menjadi pria yang memiliki tujuan, tekad, dan amarah seperti dirinya seharusnya, karena ia memerlukan semua itu untuk melakukan pembalasan dan merebut kembali semua yang menjadi haknya.

Ichigo merasa lebih resah lagi sekarang, mengingat Rukia dan bagaimana ia meninggalkan gadis itu membuat amarah lama bergelora di dalam dirinya. Membelokkan langkah memasuki kamar utama, Ichigo menemukan bahwa dirinya tidak sendirian. Seorang wanita tengah meletakkan seember es dengan sebotol sampanye dingin di dalamnnya di samping tempat tidur.

Wanita berseragam staf pelayanan itu menggumamkan sebuah kata yang tidak Ichigo dengan dengan jelas. Mungkin permisi, karena wanita itu melangkah cepat menuju pintu.

"Tunggu."

Wanita itu bergeming.

"Begini, aku sedang merayakan," kata Ichigo, entah dorongan dari mana yang membuatnya menghentikan staf pelayanan itu. Mungkin ia terlalu putus asa menemukan seorang teman sehingga memaksa orang asing untuk menemaninya. "Bagaimana kalau kau ikut merayakan bersamaku?"

"Maaf, saya tidak bisa."

Kini, Ichigo mendengar jelas suara wanita itu. Ia membeku untuk beberapa detik, dan tersadar di saat yang tepat untuk menahan langkah wanita itu, membalik wanita itu ke arahnya

"Rukia?" Jemari Ichigo mengcengkeram lengan Rukia, begitu erat sehingga membuat wanita itu meringis.

"Hai, Ichigo, lama tak bertemu." Rukia terdengar dingin.

"Apa yang kau lakukan di sini?" Ichigo tercengang menemukan Rukia di sini sebagai seorang staf pelayanan. Yang benar saja? Kuchiki Rukia yang ia kenal tidak mungkin berakhir sebagai seorang staf pelayanan hotel. Rukia adalah siswa cerdas di SMA-nya dulu, selalu mendapat peringkat pertama dan berhasil mendapat beasiswa di Universitas Tokyo, juga seorang putri dari keluarga bangsawan. Masa depan gadis itu jelas cemerlang.

Dagu Rukia terangkat sedikit dan mata violetnya berkilat-kilat menjadi lebih gelap, disentaknya tangan dari Ichigo, lalu membuat jarak di antara mereka. "Bekerja."

Itu salah satu yang tak dapat Ichigo lupakan, sikap angkuh dan kuatnya Rukia. Ichigo tiba-tiba dilanda kenangan yang sangat jelas ketika Rukia berkata, "Kau lebih kuat dari ini Ichigo. Kau bukan anak cengeng yang akan bersembunyi di bawah meja. Kau adalah seorang petarung dan seseorang yang dilahirkan untuk menang."

"Bagaimana bisa kau bekerja di sini?" Ichigo kebingungan. Ada banyak tanya di kepalanya tentang apa yang terjadi pada Rukia. Mungkinkah keluarga Kuchiki mengalami kebangkrutan sehingga Rukia harus menjadi pekerja kasar? Tidak. Itu tidak mungkin. Ia baru saja membaca berita tentang Kuchiki Byakuya, kakak Rukia, yang menjadi anggota parlemen. Jadi, itu adalah hal yang mustahil.

"Aku melewati tahapan rekruitmen seperti yang biasanya dilalui pelamar kerja," jawab Rukia, suaranya benar-benar datar, tanpa ekspresi.

Ichigo menekankan kepalan ke pelipis, memejamkan mata sejenak melawan rasa sakit yang begemuruh di kepala dan hatinya. "Bukan itu yang kumaksudkan. Yang kumaksud adalah bagaimana bisa kau berakhir sebagai staf pelayanan sementara ..."

"Sebenarnya, Ichigo, untuk apa kau peduli. Jadi apa diriku sekarang sama sekali bukan urusanmu."

"Sebagai seorang teman─"

"Teman? Hubungan kita hanya sebatas teman?" tanya Rukia datar, dan Ichigo membuka mata, menekankan kepalan tangan lebih keras ke kening. Kepalanya sakit. Kemunculan Rukia membuat rasa sakit itu menjadi berkali-kali lipat. Ia kembali memejamkan mata.

"Kau terkena migrain," kata Rukia tenang.

Ichigo membuka mata, menurunkan tangannya. Ichigo sering mengalami sakit kepala bahkan sejak masih kecil, dan Rukia akan memberinya aspirin, memijat dahinya sembari memangku kepalanya.

"Itu tidak penting."

"Apanya yang tidak penting? Bahwa kau mengalami sakit kepala, atau bahwa kau menganggap hubungan kita hanya sebatas teman?"

"Kita tidak pernah hanya sekadar teman, Rukia."

Rukia membelalak selama satu detik penuh. "Lalu kenapa kau pergi tanpa mengatakan apa pun? Kau meninggalkanku, Ichigo!"

"Lalu apa yang harus kulakukan? Membawamu ke New York dan hidup tanpa kepastian. Setahun pertama aku di New York, aku bekerja sebagai pegawai magang dan berbagi tempat tinggal dengan empat orang di apartemen kecil. Aku tak ingin kau hidup seperti itu, sementara di sini kau punya kamar tidur seorang putri yang dipenuhi boneka chappy." Ichigo mendengar Rukia menarik napas pelan.

"Kau benar," kata Rukia setelah terdiam sejenak. "Tapi setidaknya kau bisa memberitahuku, bukannya meninggalkanku dengan ketidaktahuan dan─"

"Dan?"

"Itu sama sekali tidak penting. Dan pembicaraan ini tak akan mengarah ke mana pun."

"Pembicaraan ini akan mengarah ke satu hal kemudian ke hal lainnya," jawab Ichigo sementara sakit kepalanya bertambah parah.

"Di mana obatmu?" tanya Rukia tenang.

"Ada di bagian depan koperku."

Rukia berjalan melewati Ichigo, dan Ichigo duduk merosot di sudut tempat tidur. Samar-samar melalu dentaman di otaknya, Ichigo mendengar Rukia membuka kopernya, kemudian keluar ruangan.

Satu menit kemudian Rukia kembali dan berlutut di sebelahnya. "Minum obatmu," kata Rukia, lalu menyerahkan dua butir tablet dan segelas air pada Ichigo. "Aku sudah memeriksa dosisnya. Dua butir, kan?"

Ichigo mengangguk, dan merasakan tangan Rukia membungkus tangannya ketika wanita itu medekatkan gelas ke bibirnya. Bahkan melalui rasa sakit yang berdentam di kepalanya, Ichigo menyadari kehadiran Rukia dan kalimat gantung yang belum wanita itu selesaikan. "Dan apa, Rukia?" tanyanya setelah meneguk obat.

"Kita bicarakan nanti, sekarang istirahatlah." Rukia membimbing Ichigo agar berbaring, kemudian tangan lembut wanita itu memijat dahinya.

.*.

Malam itu, Ichigo tidur lebih dari tiga jam. Ia terbangun pukul enam pagi dan tak menemukan keberadaan Rukia. Ia bergegas menuju ruang kerja setelah mandi dan berpakaian, kemudian menelusuri daftar nama karyawan hotel melalui komputer. Ia menemukan nama Rukia sebagai karyawan tetap yang sudah bekerja di hotelnya selama lima tahun terakhir. Semakin banyak pertanyaan yang muncul di kepala Ichigo tentang apa yang terjadi pada Rukia.

Ia bergegas mendatangi alamat apartemen Rukia setelah memastikan wanita itu tidak mendapat shift kerja pagi ini.

Rasa bersalah mengusik Ichigo ketika memikirkan malam itu, bagaimana ia menyelinap pergi dari ranjang Rukia sebelum fajar tanpa satu pun kalimat perpisahan. Seharusnya, ia mengucapkan selamat tinggal. Mengingat sejarah mereka, masa SMA yang mereka lalu bersama. Rukia berhak mendapatkannya. Bahkan jika hal itu tampaknya tidak berarti lagi pada Rukia. Yang sangat mengganggu, hal itu justru sungguh berarti bagi Ichigo. Setidaknya, ia ingin mendapat maaf Rukia untuk apa yang sudah ia lakukan. Dan, ia ingin membantu Rukia. Tak akan ia biarkan Rukia menjadi seorang pekerja sementara ia bisa memberikan pekerjaan yang lebih baik.

Walau di hati ada keinginan Rukia akan kembali ke sisinya, Ichigo tak berani berharap. Ia sudah menyakiti Rukia sedemikian hebat, rasanya tak pantas jika menginginkan wanita itu kembali padanya. Namun, bagaimana jika ini takdir? Ichigo jelas masih menyimpan Rukia dalam hatinya, dan Rukia masih peduli padanya. Masih ada asa, jika Ichigo ingin mencoba dan ia memang ingin mencoba. Sebelum itu, ia harus memastikan bahwa tak ada seseorang istimewa dalam kehidupan Rukia saat ini.

.*.

Gedung apartemen yang Rukia tinggali cukup bagus, tapi Ichigo akan mencarikan tempat yang lebih bagus lagi. Orang-orang mengamati ketika mobil sport keluaran terbaru Ichigo menepi di halaman apartemen, dan ketika Ichigo turun ia langsung menjadi pusat perhatian. Mata Ichigo langsung terpaku pada seorang bocah yang baru saja sampai di anak tangga terbawah. Anak laki-laki itu berusia sekitar enam tahunan beriris violet dengan rambut sewarna matahari senja.

Ichigo membeku.

"Hikaru!"

Ichigo bergerak bersama bocah itu ke arah suara. Melihat Rukia melangkah menuruni tangga.

"Kau meninggalkan─"

Rukia bergeming. Menatap Ichigo dengan mata membelalak.

"Bekalku! Maaf, Kaa-san, aku melupakannya." Bocah itu mengambil kotak bekal dari tangan Rukia. "Aku berangkat."

"Hati-hati di jalan."

Tak ada suara yang keluar dari mulut Ichigo. Ia hanya memandangi kepergian Hikaru.

"Kau pasti punya banyak pertanyaan." Suara Rukia mengambalikan tatapan Ichigo pada wanita itu.

"Lebih dari pertanyaan, aku berhutang permintaan maaf padamu. Maukah kau menerimanya?"

"Kalau aku tidak memaafkanmu bagaimana mungkin aku mau memijat kepalamu semalam."

Tatapan Ichigo menyapu Rukia perlahan. "Setelah apa yang kulakukan dan yang kau dapatkan bertahun-tahun ini, kau mau memberiku maaf?"

"Ya. Jika kau memintanya."

"Bagaimana kau melakukannya? Bagaimana bisa kau punya hati sebesar itu?"

Rukia mengangkat bahu. "Kau tahu, Ichigo. Hidup terlalu singkat untuk mendendam. Lagi pula, aku sudah lelah berkelit dari pertanyaan Hikaru mengenai keberadaan ayahnya. Kau bisa melakukannya, bukan? Menjadi ayah Hikaru?"

"Kupikir aku bisa melakukan itu." Sambil tersenyum, Ichigo memeluk Rukia. "Stay with me, kali ini aku tak akan meninggalkanmu."

.*.

fin

.*.

Yuhuuu ... akhirnya selesai fic yang saya buat dari lagu yang disaranin Lucya Namukaze. Saya pilih lagunya Chanyeol EXO ft Punch, ya, padahal yang Ailee juga nggak kalah bagus, tapi Stay With Me lebih ngena di saya.

Next, lagu Kimi ni Uso atau Kanade, pesanannya Ruichi15.

Makasih untuk teman-teman yang sudah baca dan review. Maaf, saya nggak bisa balas review kalian satu per satu. Tetaplah jadi penyemangat saya dalam berkarya.

See ya,

Ann *-*