Disclaimer: Bleach ©Tite kubo
(Saya hanya pinjam karakter-karakter yang ada di dalamnya sebagai karakter dalam fanfik saya, tanpa berniat mengambil keuntungan apa pun selain kesenangan semata)
.*.
Kanade
By
Ann
Terinspirasi dari lagu Kanade – Sora Amamiya.
.*.
Warning: AU, OOC, typos.
Jika tidak suka, silakan arahkan kursor ke sudut kiri atas, atau tekan tombol kembali pada ponsel Anda,
dan
selamat membaca.
.*.
Teruntuk gadis kelinci yang kurindukan.
.*.
Ketika aku mendongak dan melihat kelopak sakura yang berguguran seperti ini seorang diri, pikiranku berkelana ke masa itu. Pertemuan pertamaku denganmu, yang mengawali kenangan kau dan aku.
Hei, kau ... gadis mungil pecinta kelinci, masih ingatkah kau akan hari itu? Ingatkah kau pada kenangan kita? Ingatkah kau padaku? Ataukah kenangan tentangku telah tergerus dari ingatanmu?
.*.
Aku terus menatapnya, murid baru yang sedang memperkenalkan diri di depan kelas. Dia cantik, dengan kulit seputih salju dan rambut sekelam malam. Namun, yang tak terlupakan darinya adalah matanya. Tatapan mata beriris violet itu tajam, terkesan angkuh, tapi memesona. Seketika aku langsung tertarik padanya.
"Baiklah, Kuchiki. Silakan duduk di bangku kosong di dekat jendela itu."
Aku mengikuti arah yang ditunjuk wali kelas kami. Bangku kosong tepat di samping kiriku, yang sejak awal semester tak ditempati siapa pun.
"Saya harap kalian semua bisa berteman baik dengan Kuchiki," pesan wali kelas kami.
"Ya, Sensei ...!" Kuserukan jawaban yang sama seperti murid lainnya.
Rukia Kuchiki, murid baru itu berjalan menuju ke arahku setelah memberi hormat pada Sensei. Bahkan gerakan hormat yang simpel itu terlihat anggun dilakukan olehnya. Aku menduga dia seorang keturunan bangsawan yang dididik dengan tata Krama yang amat baik. Ada apa denganku? Tak biasanya aku peduli pada seorang gadis seperti ini.
Dia mendekat dan jantungku berdegup kencang. Saat dia semakin mendekat dan mata kami berserobok, aku lupa caranya bernapas. Untunglah itu hanya terjadi sesaat, dan aku bisa tersenyum padanya, walau dengan canggung, yang dia balas dengan senyum yang amat manis.
Hei, inikah yang dikatakan orang cinta pandangan pertama? Entahlah, aku tak mengerti. Ini benar-benar terasa aneh.
"Kau beruntung, Ichigo. Kau harus bicara dengannya, ajak kenalan," bisik Keigo yang duduk di depanku.
"Hah? Oh, entahlah ... dia tidak kelihatan seperti gadis yang gampang didekati," sahutku dengan suara pelan.
"Kelihatannya memang begitu, tapi dia sangat cantik. Aku tak akan melewatkannya."
"Ah, bagimu semua gadis cantik."
Peringatan dari Sensei membuat percakapanku dan Keigo terhenti. Keigo kembali menghadap papan tulis dan fokus di sana, walau aku ragu dia benar-benar memperhatikan pelajaran, paling tidak dia tak lagi menggangguku.
Selama di kelas tak jarang aku curi-curi pandang pada si murid baru. Dia terlihat sangat serius. Namun, itu justru membuatnya terlihat semakin cantik. Astaga, apa yang kulakukan? Ini pertama kalinya ada gadis yang begitu mempengaruhiku. Ichigo, fokus! Kau ke sekolah untuk belajar. Meski sudah memperingatkan diriku, aku tetap mencuri pandang padanya.
Bel istirahat menggema. Sensei mengakhiri pelajaran. Aku segera membereskan mejaku, berniat pergi ke kantin sekolah untuk membeli roti setelahnya. Namun, aku tak jadi pergi, karena dia mendekatiku. Dia, gadis bernama Kuchiki itu. Gadis yang mampu membuat jantungku jumpalitan.
"Aku tahu apa yang kau lakukan selama pelajaran tadi."
Aku meliriknya sekilas. Hanya sekilas, karena jika berlama-lama menatapnya aku takut tak bisa berhenti. "Memangnya apa yang kulakukan?" sahutku secuek mungkin.
"Kau curi-curi pandang padaku."
Skakmat! Rupanya dia tahu apa yang kulakukan.
"Ti-tidak." Aku berusaha mengelak.
"Aku Rukia, senang berkenalan denganmu," ucapnya sambil mengulurkan tangan.
Sepertinya aku sedang beruntung. Dia yang mengajak berkenalan lebih dulu, walau perkenalan ini diawali dengan kalimat yang tak biasa.
"Senang berkenalan denganmu, Rukia. Aku Ichigo," jawabku. Karena dia memakai namanya bukan nama keluarga, aku juga melakukan hal yang sama.
"Kuharap kita bisa berteman baik, Ichigo," balasnya sambil tersenyum. Seketika itu juga aku tahu bahwa aku sudah jatuh cinta padanya. Cinta pertamaku.
.*.
Beberapa bulan berlalu setelah perkenalan itu. Aku dan Rukia menjadi kawan baik. Kami belajar bersama, tertawa bersama, dihukum bersama, bernyanyi bersama, dan melakukan banyak hal lain bersama. Tak ada hari yang kulakukan tanpa Rukia. Jika tak dapat bertemu, kami akan saling bertukar kabar lewat pesan. Bahkan terkadang menghabiskan waktu hingga larut malam hanya untuk berbalas pesan tentang sesuatu yang tak penting. Kehadirannya bagai angin segar dalam kehidupanku yang monoton.
Kami berbagi tentang segala hal, pemikiran, cita-cita, dan rahasia. Aku menceritakan padanya tentang ibuku. Tentang duka dan rasa bersalah yang kupendamkan setelah kematian wanita yang sangat kucintai itu. Aku jarang menceritakan tentang Kaa-san, bahkan pada keluargaku. Karena mengingat Kaa-san selalu membuka ingatan lama tentang bagaimana beliau meninggal. Kaa-san menukar merelakan hidupnya untukku, beliau menyelamatkanku dari sebuah sedan yang melaju kencang ke arahku ketika usiaku enam tahun. Namun, dengan Rukia aku bisa terbuka. Tak ada rasa segan maupun malu. Aku nyaman bersama. Dia pun membagi rahasianya, tentang rasa yang ia simpan kepada seseorang. Rahasia yang menghancurkan hatiku, karena orang yang disukainya bukan aku.
Laki-laki itu bernama Kaien Shiba. Usianya lima tahun lebih tua dari kami. Laki-laki itulah yang menjadi alasan Rukia pindah ke Karakura. Nyatanya, walau terlihat dewasa dan tenang, Rukia begitu naif. Dia percaya bahwa cinta pertama harus diperjuangkan. Makanya, dia rela pindah sekolah di tahun keduanya di SMA demi mengikuti mantan guru privatnya.
Ah, jika memang cinta pertama patut diperjuangkan, aku juga harus berjuang, bukan?
Rukia sangat bersemangat setelah tahu bahwa Kaien adalah pamanku. Sepupu ayahku, yang sempat menjadi guru privatku juga saat di Sekolah Menengah Pertama. Namun, sekarang kami jarang bertemu, karena Kaien pindah ke Soul Society dan baru kembali ke Karakura dua bulan lalu. Bahkan di masa dua bulan ini, aku baru bertemu dengan Kaien sekali. Gadis pecinta kelinci itu mengira bahwa aku bisa menjadi jembatan pemersatunya dengan Kaien.
"Kau harus memberikannya!" ujar Rukia sambil memasukkan amplop merah muda ke tasku.
"Eh? Kenapa harus aku? Bukannya kau yang suka padanya?" protesku. Hatiku sudah sakit karena cintaku bertepuk sebelah tangan, malah ditambahnya dengan menjadikanku perantara cinta. Rasanya, aku ingin berteriak dan menyampaikan padanya kalau aku menyukainya. Namun, aku takut Rukia akan menjauh jika aku melakukannya.
"Ayolah, Ichigo. Jangan pelit padaku, kita teman, kan?" Rukia mengeluarkan puppies eyes no jutsu, dan aku tak mampu berkata tidak. Aku selalu lemah jika dia memohon seperti ini.
Walau dengan berat hati, kuemban tugas menyebalkan itu. Mencoba menyampaikan perasaan Rukia pada Kaien. Namun, sebelum kusemprot menyerahkan surat itu sebuah undangan datang lebih dulu. Undangan pernikahan Kaien dengan seorang rekan kerjanya memupuskan harapan Rukia, menghancurkan hatinya. Pun perasaanku.
Di depanku Rukia berusaha terlihat tegar, tapi aku tahu apa yang tersembunyi di hatinya. Tak sekali-sekali kulihat dia termenung lalu menangis sendiri. Hatiku koyak, perasaanku tak keruan melihatnya seperti itu.
Sambil menggenggam surat Rukia, kudatangi Kaien. Aku benar-benar bersikap kurang ajar pada pamanku sendiri hari itu. Aku marah padanya, memakinya, bahkan hingga meninjunya. Ayahku yang biasanya tak terlalu mempermasalahkan kelakuanku yang cuek dan suka melawan, sampai menghukumku karenanya. Namun, aku tak peduli. Aku hanya ingin membela Rukia. Aku ingin mencoba memenuhi harapnya. Hanya saja, aku gagal dan semua sia-sia.
Aku tidak masuk sekolah selama dua hari, dan Rukia muncul di depan kamarku di hari kedua. Dengan masih berbalut seragam dan sekotak donat, dia datang.
"Kau tidak terlihat sakit," ujarnya.
"Memang tidak," sahutku sembari memberinya jalan agar bisa masuk ke kamarku.
Dia duduk dengan santai, jika di depanku dia memang melepas topeng anggun dan tenangnya, dia menjadi gadis yang berbeda dari yang ditunjukkannya di sekolah. Bagiku itu bukan masalah, karena aku menyukai semua yang ada dalam dirinya.
"Akan kuambilkan jus." Aku membuka pintu kamar berniat ke dapur.
"Kemarin Kaien menemuiku."
Kalimat Rukia membuatku urung beranjak. Jantungku memacu seketika. "Apa yang dia katakan?"
Rukia menarik napas dalam sebelum menjawab, "Dia mengembalikan suratku dan bilang terima kasih serta maaf."
Peganganku pada kenop pintu mengencang. Kucoba membayangkan perasaan Rukia saat itu dan rasa nyeri merayapi hatiku seketika.
"Dia juga menceritakan tentangmu." Suara Rukia pelan, hampir seperti bisikan. "Kenapa kau lakukan itu?"
Aku mendesah. "Apa pun yang kulakukan jangan kau pikirkan."
"Kau melakukannya untukku, kan? Karena kau menyukaiku."
Aku tak berani menatap Rukia. Sebenarnya, aku ingin menyimpan rasa ini. Menunggu waktu yang tepat untuk menyatakannya. Namun, orang lain membocorkannya lebih dulu.
"Terima kasih atas perasaanmu, tapi aku─"
"Aku tahu. Tak perlu kau jelaskan." Kuputar kenop pintu kemudian ke luar. Aku tahu kalau Rukia tak menyukaiku, tapi tak sanggup mendengar pengakuannya langsung. Ah, bagaimana mungkin aku bisa selemah ini.
.*.
Setelah hari itu tak ada lagi pembahasan tentang perasaan. Kami kembali berteman seperti biasa. Berbagi hari-hari kami seperti sedia kala. Lalu perpisahan itu tiba. Rukia memutuskan kembali ke kota asalnya setelah kenaikan kelas.
Aku mengantarnya ke stasiun hari itu. Menggandeng tangannya di depan loket penjualan karcis. Aku ingin memintanya untuk tidak pergi, tapi tak bisa. Tak sanggup membuatnya harus memilih antara sahabat atau keluarga. Namun, aku pun tak sanggup mengiringi kepergiannya dengan senyum. Rasanya ... menyakitkan.
Pemberitahuan dari pengeras suara menyatakan kereta Rukia akan segera tiba. Kueratkan genggaman tanganku di tangannya, sebuah isyarat agar dia tidak pergi. Namun, dia melepas tanganku dan melangkah pergi dengan mudahnya.
"Rukia!" Panggilanku membuatnya berhenti. Dia berbalik dan aku langsung memeluknya. "Katakan ini bukan sebuah perpisahan. Katakan bahwa kau akan kembali."
Dia tak menjawab, hanya membalas pelukanku dengan erat.
Peringatan bahwa kereta akan segera berangkat menggema. Rukia melepas pelukanku dan berucap, "Sampai jumpa, Ichigo."
Setelah perpisahan di stasiun itu, Rukia tak memberiku kabar dan aku pun enggan menanyakan kabarnya. Entah mengapa, aku merasa hatiku terkunci. Aku merasa dia meninggalkanku. Dia pergi dan aku di sini menunggunya kembali.
.*.
Hei, kau ... gadis mungil pecinta kelinci, bagaimana keadaanmu? Apakah kau merindukanku? Di sini, setiap hari aku merindukanmu. Kapan kau akan kembali?
.*.
fin
.*.
Yuhuuu ... long time no see. Apa kabar?
Kali ini lagu Kanade yang menjadi ide dasar chapter ini, permintaan Ruichi15. Mungkin karena lama sekali baru saya bikin, teman-teman yang sempat ngasih saran lagu untuk drabble-drabble di fanfik ini, udah pada nggak baca lagi. Namun, akan saya usahakan menyelesaikan semua permintaan yang masuk di review chapter 1. Untuk yang review selain di chapter pertama, saya nggak bisa janji bikinin, tapi akan saya usahakan.
Terima kasih untuk kalian yang sudah baca fanfik ini. Next chapter saya bakal bikin pesanannya IchiRuki HF, lagu David Archuleta yang judulnya a Thousand Miles.
See ya,
Ann *-*
.*.
Omake~
.*.
Sakura selalu membawa kenangan lama. Kenangan tentang kau dan aku. Tentang pertemuan pertama, pertemanan, juga perpisahan kita.
Sudah setahun berlalu dari terakhir kali aku melihatnya. Pemuda yang membuatku tak pernah kesepian walau berada di kota asing. Dia temanku, sahabatku, dan orang yang menyukaiku. Meski kata suka itu tak pernah meluncur langsung dari bibirnya.
Hei, pemuda nyentrik berambut jingga, masih ingatkah kau akan hari itu? Ingatkah kau pada kenangan kita? Ingatkah kau padaku? Ataukah kau masih marah karena aku pergi?
"Rukia!" Aku menoleh dan menjawab panggilan itu. "Ya, Nee-chan?"
"Mobinya sudah siap dan tasmu sudah dimasukkan ke dalam bagasi. Kau siap berangkat?"
Aku mengangguk. Lalu bersama kakak Perempuanku, kususuri lorong mansion Kuchiki yang menjadi tempat tinggalnya selama setahun terakhir. Hari ini aku akan pergi meninggalkan tempat ini. Rasanya sedih, tapi juga senang. Sebab perjalanan ini akan membawaku ke tempat di mana aku ingin berada.
"Kenapa Karakura, Rukia? Bukankah setahun lalu kau sudah meninggalkan kota itu?" tanya Nee-chan.
Aku tersenyum. "Karena ada seseorang yang ingin kutemui di sana."
"Kaien?"
Kugelengkan kepala sebagai jawaban.
"Lalu siapa? Orang yang kau tunggu selama setahun ini?"
Aku mengangguk. "Si bodoh yang tak mau datang mencariku, bahkan tak mau mengabariku sedikit pun."
"Kau juga tak mau mengabarinya."
Aku meringis. Itu adalah egoku. Aku ingin dia mengirimiku pesan lebih dulu, menanyakan kabarku, dan datang mencariku. Kini, aku menyesal karena sudah begitu egois dan tak mencoba memahami perasaannya. Luka di hatinya.
"Aku akan memperbaiki kesalahanku."
Kukeluarkan ponsel dan mengirimkan pesan ke nomor yang tak pernah kuhubungi selama dua belas bulan.
"Aku akan datang. Bersiaplah."
.*.
