SWEET ENEMY

Judul : Sweet Enemy Part 3

Author : Barbie (ot12barbiegirl)

Rate : T sampai M?

Casts : SUDO couple

Suho EXO

DO Kyungsoo

EXO Member

yang lain menyusul.

Warning : GS for some character,typo,crack!pair,OOC,don't like don't read.

STORY DON'T BELONG TO ME

REMAKE DARI NOVEL SANTHY AGATHA DENGAN JUDUL YANG SAMA

Jadi,di cerita aslinya ada empat cerita dari seriesnya.

Sweet Enemy ini cerita yang ke – 2.

Ini link cerita yang Perjanjian Hati (Xiuhan couple) :

s/12317589/1/PERJANJIAN-HATI

link You've Got Me From Hello (CHANKAI Couple)

s/12321743/1/YOU-VE-GOT-ME-FROM-HELLO

link FF Pembunuh Cahaya (Krishun couple) :

s/12335647/1/PEMBUNUH-CAHAYA

Soundtrack :

Thinking Of Elder Brother (Korean Children Song)

Shinee – Island Baby (Korean Lullaby Song)

"Mimpi adalah manifestasi dari kenangan yang terlupakan di masa lalu."

PART 3

Tidurnya begitu lelap. Suho menggumam dalam hati. Duduk di tepi ranjang dan mengamati Kyungsoo. Dan dia nampak begitu polos, seperti anak kecil. Lelaki itu lalu mengangkat alisnya dan mengalihkan pandangannya ke bagian bawah tubuhnya dengan kesal.

Kalau memang baginya Kyungsoo seperti anak kecil, kenapa dia bisa terangsang seperti ini?

Suho menatap Kyungsoo lagi dan menggeram kesal. Kesal pada dirinya sendiri. Terlalu berbahaya berada di sini. Dia takut lupa diri dan menyerang Kyungsoo dalam tidurnya. Lalu menyesalinya. Dengan hati-hati, dilepaskannya pegangan jemari Kyungsoo di jemarinya, dan berdiri dari ranjang. Dia lalu membungkuk untuk menyelimuti Kyungsoo. Wajah Kyungsoo begitu dekat dengannya, napasnya berembus ringan dan teratur. Dan Suho tidak dapat menahan diri. Dikecupnya bibir Kyungsoo lembut. Sebelum kemudian melangkah pergi, meninggalkan kamar itu, meninggalkan Kyungsoo yang masih tertidur pulas.


Pagi harinya Kyungsoo terbangun dengan kepala pening. Hujan sudah reda, tetapi masih menyisakan rintikannya yang membuat pagi hari ini gelap dan berkabut.

Setidaknya sudah tidak ada guntur...

Kyungsoo terduduk dan menyadari selimutnya melorot ke pinggang. Dia meraih selimut itu dan menaikkannya lagi ke dadanya karena hawa dingin langsung menyengatnya. Selimut itu tadinya terpasang rapi di tubuhnya. Siapa yang telah menyelimutinya ketika tidur. Ingatan Kyungsoo berputar, dan kemudian pipinya langsung terasa panas ketika mengingat kejadian kemarin malam, ketika dia menghambur ke dalam pelukan Suho tanpa malu.

Oh ya ampun! Dengan begitu saja dia memeluk Kim Joonmyeon yang sangat angkuh dan terkenal galak itu - meski sekarang Suho tidak pernah bersikap buruk padanya, tetap saja image itu melekat pada pembawaannya - Dan anehnya, Suho tidak menolaknya. Dia sangat ingat bahwa Suho membalas pelukannya, menenangkannya, membawanya kembali ke ranjang dengan lembut dan menemaninya sampai dia tertidur…

Kenapa Suho begitu baik kepadanya?

"Kau takut dengan petir?" Jongdae menatap Kyungsoo sambil tersenyum geli, dia lalu menyesap cangkir cokelatnya berusaha menyembunyikan tawanya, "Kyungsoo, hanya anak kecil yang takut dengan petir."

"Yah, aku sebenarnya malu dengan ketakutan tidak wajarku itu." Kyungsoo tersenyum sambil menatap perempuan cantik di depannya. Oh astaga, Jongdae memang benar-benar cantik. Kulitnya memang agak pucat, tetapi Jongdae pernah cerita bahwa dia menderita sakit yang lama sehingga harus terus di dalam rumah. "Sepertinya aku punya trauma masa lalu di waktu kecil."

"Trauma apa?" Jongdae menyipitkan matanya dan meletakkan cangkirnya di meja. Mereka berdua sedang duduk di Garden Cafe pagi itu, kebetulan dosen memundurkan waktu kuliah agak siang karena ada acara wisuda, jadi sambil menunggu jam kuliah, Kyungsoo mengajak Jongdae ke Garden Cafe yang biasa dia kunjungi setiap pagi… Jongdae ternyata penggemar kopi, katanya kopi bisa membuatnya lebih segar menghadapi hari.

"Entahlah…" Kyungsoo berusaha mengingat-ingat, "Aku dulu sering bermimpi. Hujan badai, petir, dan teriakan-teriakan keras… Aku bersembunyi di lemari ketakutan…" Kyungsoo menarik napas karena usahanya mengingat itu membuat kepalanya sakit, "Aku tidak tahu apakah itu mimpi atau kenyataan. yang pasti aku selalu mengasosiasikan hujan petir dengan rasa takut yang amat sangat."

"Mungkin kau harus mencoba hipnotis untuk mengembalikan ingatanmu."

"Apa?"

Jongdae terkekeh, "Aku pernah melihatnya di film, ada seseorang yang begitu takut akan darah, dia lupa kenapa, sesuatu terjadi di masa kecilnya tetapi dia tidak bisa mengingatnya, seolah-olah otaknya membentengi ingatan itu dan hanya menyisakan trauma. Dia datang ke ahli hipnotis dan alam bawah sadarnya dibimbing untuk mengingat semuanya. dan hasilnya mengejutkan." Jongdae tersenyum misterius,

"Mungkin kau harus mencobanya."

"Mencoba menonton film itu? Atau mencoba datang ke ahli hipnotis?"

Jongdae tertawa lagi, "Dasar. Tentu saja ke ahli hipnotis, siapa tahu kau seperti tokoh di film itu, otakmu memblok ingatanmu, dan kau punya hal mengejutkan yang kau lupakan."

"Oh ya, mungkin aku harus mencobanya. Setidaknya aku tidak harus menahan malu lagi kalau bertemu dengan Suho nanti." tatapan Kyungsoo menerawang dan pipinya memanas lagi mengingat kejadian semalam.

"Kenapa harus menahan malu kepada Suho?"

"Karena semalam aku melemparkan diri ke dalam pelukannya karena ketakutan." Kyungsoo mengusap pipinya, berusaha menghilangkan rasa panas di sana. "Tetapi setidaknya Suho berlaku baik padaku, dia menenangkanku dan menjagaku sampai aku tertidur. Mungkin itu ya rasanya memiliki seorang kakak lelaki."

Ekspresi wajah Jongdae tak terbaca. Tetapi kemudian dia tersenyum lembut."Iya Kyungsoo, beruntung sekali dirimu."

Pipi Kyungsoo memerah, dia berusaha memusatkan pandangannya kepada oreo milkshake yang sangat menggiurkan di depannya, mencoba menghilangkan bayangkan bahwa dia memeluk Suho erat-erat.

"Aku memang sangat beruntung, karena keluarga Kim mau menanggungku dan memperlakukanku dengan baik." Kyungsoo menghela napas, "Karena itu aku akan berusaha sebaik-baiknya supaya tidak mengecewakan mereka."

Kyungsoo berjalan sendirian di trotoar, tadi Jongdae sudah dijemput supir pribadinya dan mengajak Kyungsoo menumpang mobilnya, tetapi Kyungsoo menolak karena sebelum pulang dia ingin mengunjungi toko buku tua di sudut kota. Sekarang setelah berhasil membawa beberapa buku hasil buruannya, dia ingin segera pulang karena tanpa disadarinya, waktu sudah beranjak sore. Mama Suho, Nyonya Kim menyediakan supir dan mobil untuk mengantar jemput Kyungsoo, tetapi Kyungsoo menolak fasilitas itu dengan halus, selama ini Kyungsoo selalu menggunakan bus untuk pulang dan dilanjutkan dengan jalan kaki. Kyungsoo ingin segera sampai ke halte bus, dia tidak ingin ketinggalan bus, karena kalau sampai terlambat, dia harus menunggu bus berikutnya dua jam lagi. Itu berarti dia harus menunggu di halte sendirian sampai malam.

Tiba-tiba sebuah mobil berjalan lambat di sampingnya, semula Kyungsoo tidak memperhatikan, tetapi ketika mobil itu semakin mengikutinya, Kyungsoo menoleh dan menatap waspada. Mobil itu berwarna hitam legam, jenis mobil sport yang cukup bagus, dengan kacanya yang gelap.

Apakah ini penculikan? Mobil itu mirip mobil mafia-mafiadi film. Kadang Kyungsoo kesal dengan imaginasinya sendiri yang membuatnya ketakutan. Lalu kaca mobil itu terbuka sebelum Kyungsoo sempat panik lebih jauh. Yang ada di balik kemudi adalah Baekhyun. Lelaki yang memainkan biola waktu itu. Kyungsoo tak akan pernah lupa wajahnya. Langkahnya langsung terhenti.

Baekhyun ikut mematikan mobilnya dan tersenyum lembut, "Aku pikir aku tadi salah orang, ternyata kau benar-benar Kyungsoo. Kenapa kau berjalan sendirian di sini Kyungsoo-ya?"

"Aku… Eh… Aku sedang menuju halte bus."

"Menuju halte bus? Memangnya tidak ada mobil dan supir yang menjemputmu?" Baekhyun mengerutkan kening, tampak tidak suka dengan ide Kyungsoo berjalan sendirian dan pulang dengan naik bus.

Kyungsoo tersenyum, "Bukan Baekhyun-ah, bukannya tidak ada, mama Kim menyediakannya untukku, tetapi aku menolaknya… Kupikir terlalu berlebihan kalau harus diantar jemput setiap hari."

Baekhyun mengangkat alisnya, "Tidak terlalu berlebihan, apalagi untuk seseorang yang sudah menjadi bagian dari keluarga Kim. Sangat berbahaya berjalan sendirian, karena banyak orang dengan pikiran negatif yang bisa saja memutuskan menculikmu demi uang."

Kata-kata Baekhyun membuat Kyungsoo takut, dia menatap sekelilingnya dengan waspada, "Tetapi aku bukan bagian dari keluarga Kim…" gumamnya pelan, "Mereka tidak akan tertarik menculikku."

Baekhyun mengangkat bahunya, "Yah, siapa tahu. Banyak orang putus asa dan nekad di dunia ini." lelaki itu membuka pintu mobilnya, "Ayo, aku akan mengantarmu pulang."

Sejenak Kyungsoo berdiri ragu. Dia teringat akan kata -kata Suho kemarin kepadanya, kalau dia harus berhati-hati dan jangan terlalu dekat kepada Baekhyun, karena Baekhyun adalah penghancur hati perempuan dan membenci perempuan. Tetapi dilihat dari manapun, dia pasti bukanlah tipe yang diincar oleh lelaki sekelas Baekhyun, jadi tidak mungkin dia dijadikan target oleh lelaki itu. Lagipula Baekhyun tampak baik dan tulus kepadanya, tidak apa-apa mungkin kalau dia ikut lelaki itu.

Setelah menghela nafas ragu untuk terakhir kalinya. Kyungsoo melangkah masuk ke mobil Baekhyun.


"Kau duduk dengan begitu tegang. Tenanglah Kyungsoo, aku tidak akan memakanmu." Baekhyun akhirnya bergumam dengan geli setelah beberapa lama mereka berdua dalam keheningan.

Kyungsoo merasa begitu malu, apakah ketegangannya sangat terbaca? Dia dipenuhi kekhawatiran akibat peringatan Suho kemarin, padahal Baekhyun sepertinya benar-benar berniat baik kepadanya.

"Maafkan aku," gumam Kyungsoo pelan, mengalihkan pandangannya ke arah jendela luar. Langit malam sudah makin menggelap, dan kemacetan di jalan raya membuatnya semakin terlambat pulang. Ponselnya mati karena kehabisan baterai dan dia tidak bisa menghubungi mansion. Tetapi sepertinya mansion juga tidak akan menunggunya pulang. Nyonya Kim sedang berada di luar negeri dan Kyungsoo yakin Suho sedang sibuk dengan urusannya sendiri sehingga tidak memikirkan kepulangan Kyungsoo.

"Aku mengerti kok. Suasana memang terasa canggung karena kita belum begitu kenal," Baekhyun terkekeh, "Dan mungkin kau mendengar tentang reputasi jelekku. Reputasiku memang jelek kepada beberapa perempuan, tetapi sepertinya berlebihan kalau aku dikatakan suka membuat patah hati perempuan. Aku menjalin hubungan dengan beberapa perempuan dan tidak berhasil. Itu saja." perkataan Baekhyun itu seolah menjawab semua pertanyaan yang ada di benak Kyungsoo, meskipun Kyungsoo bertanya-tanya dalam hatinya, Baekhyun sahabat Suho bukan? Kalau begitu kenapa Suho memperingatkannya tentang Baekhyun? Bukankah para sahabat biasanya saling mendukung?

"Aku tidak mempertanyakan reputasimu." Kyungsoo bergumam pelan, "Aku juga tidak takut kepadamu. Aku hanya cemas karena pulang terlambat."

"Pulang terlambat bersamaku." Baekhyun tertawa geli, "Mari kita lihat bagaimana reaksi Suho."

Suho tidak akan peduli, gumam Kyungsoo dalam hati. Lagipula kenapa Suho harus peduli?


Sepertinya Suho memang peduli. Itu yang ada di benak Kyungsoo ketika melangkah turun dari mobil Jason dan menemukan Suho bersandar di pilar teras mansion itu. Gaya tubuhnya tampak santai, tetapi tidak bisa menipu. Tatapannya terasa membakar.

Lelaki itu marah. Batin Kyungsoo dalam hati.

"Darimana saja kau Kyungsoo?" suara Davin berdesis lirih. "Dan kenapa ponselmu mati?"

Kyungsoo menatap Suho penuh rasa bersalah, lelaki itu memperlakukannya seperti ayah memarahi anaknya yang masih kecil. Kyungsoo bukan anak kecil lagi bukan? Seharusnya Suho tidak memperlakukannya seperti itu.

"Aku… Tadi pulang kuliah aku bersama Jongdae, lalu aku mampir ke toko buku di sudut kota sampai lupa waktu… Aku… Aku terlambat pulang jadi…"

"Dan bagaimana kau bisa pulang bersama Baekhyun?" Suho mengangkat alisnya mengamati Baekhyun yang menyusul dengan tanpa rasa bersalah di belakang Kyungsoo.

"Eh… Aku bertemu Baekhyun di…"

"Sudahlah Suho. Kyungsoo tidak harus diintimidasi seperti itu. Tadi aku kebetulan berpapasan di jalan dengannya, jadi aku menawarkan untuk mengantarnya pulang karena hari sudah malam. Itu saja."

Tatapan Suho tampak tajam kepada Jason, "Di antara sejuta kesempatan setiap detiknya, dan kau kebetulan bertemu Kyungsoo?"

Baekhyun mengangkat bahunya, "Mau bagaimana lagi? memang begitu kejadiannya. Ya kan Kyungsoo?"

Kyungsoo menatap Suho dan Baekhyun berganti-ganti dengan gugup, lalu menganggukkan kepalanya. "Ya… Memang begitu kejadiannya."

Suho menghela napas kesal, "Lain kali kalau kau pulang terlambat, telepon aku. Mengerti?"

Kyungsoo sebenarnya ingin membantah. Suho tampak begitu arogan dan memaksakan kehendaknya, dan Kyungsoo tidak suka diperlakukan seperti itu. Tetapi kemudian dia mengurungkan niatnya. Lelaki di depannya ini tampak begitu marah, entah kenapa. Seakan-akan sudah siap meledak kalau dipancing. Kyungsoo pikir lebih baik dia diam dan membiarkan Suho mereda dengan sendirinya.

"Otte, Kyungsoo?"

"Arraseo." jawab Kyungsoo datar kemudian setengah terpaksa. Suho tentu saja mengetahui nada terpaksa itu, tetapi dia tidak mempedulikannya. Lelaki itu melemparkan tatapan memperingatkan kepada Baekhyun yang hanya tersenyum datar dan melangkah pergi keruangan santai tempat biasanya dia duduk kalau sedang datang ke rumah ini.

Setelah Baekhyun menghilang, Suho menatap Kyungsoo memperingatkan. "Bukankah aku sudah memperingatkanmu supaya menjauhi Baekhyun?"

"Aku tidak pernah berusaha mendekati Baekhyun, kami bertemu dan dia mengantarku pulang. Kenapa kau membesar-besarkan masalah ini oppa?" gumam Kyungsoo agak keras, lalu menatap Suho marah, "Ah. Sudahlah." Kyungsoo membalikkan tubuhnya dan meninggalkan Suho yang tercenung sambil menatap punggung Kyungsoo.

Suho sendiri tidak bisa menjawab pertanyaan Kyungsoo. Kenapa melihat Baekhyun mengantarkan Kyungsoo pulang terasa sangat mengganggunya?

Sambil menghela napas panjang, dia melangkah ke ruangan santai menyusul Baekhyun.


"Jangan dia Baek." Suho membanting tubuhnya di sofa dan menyesap minuman di gelas kristal bening yang dipegangnya, dia tampak begitu frustrasi.

Baekhyun yang sedari tadi duduk sambil membaca buku di sofa seberangnya mengangkat kepalanya. "Mwo?"

"Jangan. Jangan Kyungsoo."

Baekhyun terkekeh dan meletakkan buku di tangannya, lalu menyandarkan tubuhnya di sofa, "Apa yang membuatmu berpikir kalau aku sedang mengincarnya?"

"Tatapanmu. Kau tidak melepaskannya dari pandanganmu."

Baekhyun mengusap rambutnya pelan dan menatap Suho penuh spekulasi, "Lalu kenapa kau melarangku?"

"Karena," Suho menghela nafasnya frustrasi. "Karena aku sudah berjanji akan menjaganya. Dia adalah satu-satunya gadis yang tak akan kubiarkan untuk kau hancurkan."

"Kalau aku tidak mempedulikan peringatanmu?" nada suara Baekhyun tampak tenang dan tidak terpengaruh oleh tatapan Suho yang menajam, seolah ingin membunuhnya.

"Maka kau akan berhadapan denganku."

Baekhyun tertawa dan menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kenapa kau ini Suho, sebelumnya kau tidak peduli dengan sepak terjangku dengan siapapun. Dan tentang Kyungsoo, dulu kau membencinya dan ingin mengusirnya. Lalu tiba-tiba saja kau membawanya kembali ke rumah ini dan bertingkah seperti malaikat penjaganya. Sesuai dengan nama panggilanmu, Suho."

"Sebenarnya itu bukan urusanmu."

"Ah nde." Baekhyun tersenyum santai, "Itu memang bukan urusanku… Tetapi setidaknya bisa menjadi pertimbanganku untuk tidak mengincar Kyungsoo."

"Dia bukan tipemu."

"Aku tidak punya tipe khusus. Kau sudah berteman denganku sejak lama, kau pasti tahu kalau aku tidak pilih-pilih."

Suho mengacak rambutnya kesal, "Kau sahabatku. Dan aku tidak suka harus bertentangan denganmu. Tetapi Kyungsoo adalah pengecualian. Kau tidak boleh mengganggunya, kau dengar itu? Dan kalau kau bertanya-tanya kenapa, itu adalah karena aku punya hutang yang sangat besar kepadanya."

"Hutang?" Baekhyun mengerutkan keningnya, ekspresinya tidak lagi bercanda. "Bagaimana mungkin seorang Kim Joonmyeon mempunyai hutang kepada gadis biasa seperti Kyungsoo?"

"Bukan hutang uang. Aku berhutang nyawa kepada Kyungsoo, ah bukan… Kepada ayah Kyungsoo."

"Apa maksudmu?"

"Kau seorang pemain biola profesional, mungkin kau pernah mendengar namanya, Robert Samuel? Itu nama panggungnya dulu kalau tidak salah."

Baekhyun mengetuk-ngetukkan jemarinya, tampak berfikir. "Ah, ya… Aku ingat… Robert Samuel adalah pemain biola yang sangat hebat dulu. Guru-guru musik kami menyebutnya jenius. Terakhir dia menerima tawaran yang sangat menarik di Austria. Tetapi entah kenapa ternyata dia batal mengambil tawaran itu lalu menghilang begitu saja. Sejak itu dia tak pernah muncul seolah-olah ditelan bumi." Baekhyun terkekeh, "Guru biolaku adalah salah satu penggemarnya, dia selalu mengulang-ngulang kisah tentang Robert Samuel yang jenius dan betapa sayangnya karena dia menghilang. Sebuah kehilangan besar di dunia musik klasik, katanya."

"Dia menghilang karena dia tidak bisa bermain biola lagi."

"Apa? Kenapa kabar itu tidak pernah terdengar?" Baekhyun menatap Suho tajam, "Dan darimana kau tahu?"

"Karena aku yang menyebabkan dia tidak bisa bermain biola lagi. Lelaki itu menyelamatkanku dari penculikan waktu aku masih kecil, dan melukai tangannya. Luka itu mengenai saraf pentingnya dan dia tidak bisa bermain biola lagi." Suho mengatupkan kedua jemarinya di bawah dagu, "Dan dia mempunyai seorang puteri."

Baekhyun mengamati ekspresi Suho lalu wajahnya memucat ketika menemukan kebenaran di depannya.

"Kyungsoo…? Apakah maksudmu, putri dari Robert Samuel adalah Kyungsoo?"

"Ya." Suho mendesah, "Orangtuaku berusaha mencari-cari Robert, dan mereka menemukannya memiliki seorang putri, hidup dalam kemiskinan. Putri dari Robert Samuel adalah Kyungsoo." Suho menatap Baekhyun letih, "Sekarang kau tahu kenapa aku harus menjaga Kyungsoo."

Baekhyun menatap Suho dalam-dalam, "Dan apakah Kyungsoo tahu kisah ini?"

"Anni." Suho mengangkat bahu. "Aku tidak ingin dia tahu. Mama sudah ingin memberitahu Kyungsoo, tetapi aku melarangnya."

"Wae?"

Karena dia pasti akan langsung membenciku. Itulah yang dipikirkan Suho pertama kali. Tetapi dia menatap Baekhyun dengan pandangan tanpa ekspresi.

"Karena aku ingin menjaga supaya hubungan kami tetap seperti ini. Aku akan menjaganya dengan sepantasnya. Kau tahu, bisa saja begitu Kyungsoo mengetahui bahwa kami mempunyai hutang budi kepadanya. Dia akan meminta lebih dan memanfaatkan kekayaan kami. Yah, aku tidak menuduh Kyungsoo mata duitan. Tetapi hati orang siapa yang tahu?" Suho merasa mulutnya pahit mengucapkan kebohongan dan penghinaan kepada Kyungsoo. Tetapi di tahannya perasaannya. Baekhyun tidak boleh tahu kalau Suho sangat takut dibenci oleh Kyungsoo.

Baekhyun menghela napas, lalu menyandarkan tubuhnya ke sofa. "Well, tidak kupungkiri, kisahmu ini sangat mengejutkan." dia memasang ekspresi kosongnya yang biasa. "Jangan khawatir kawan, kisahmu ini sudah pasti membuatku mengurungkan niat untuk merayu Kyungsoo. Kau tidak usah khawatir."


Mimpi itu datang lagi. Kyungsoo tahu kalau dia sedang bermimpi. Teriakan-teriakan keras, pertengkaran dan adu mulut panas terdengar di luar kamar, diselingi dengan hujan badai dan kilatan petir lengkap dengan suara guntur yang memekakkan telinga. Membuat Kyungsoo merasa sangat ketakutan, dia masih kecil di mimpi itu, mungkin empat tahun, duduk di lantai sambil menutupi telinganya, memejamkan matanya. Mencoba tidak mendengarkan teriakan-teriakan itu.

Siapa yang berteriak-teriak itu? Kenapa? dimana ayahnya?

Lalu sebuah tangan meraihnya, lembut. Kyungsoo kecil tersentak dan berseru ketakutan. "Sttt… Jangan takut ini aku." Kyungsoo kecil mengenali aroma itu, aroma menenangkan yang sangat akrab. Dan suara itu juga terdengar akrab. "Mereka akan berhenti bertengkar nanti. Sini biar kupeluk dirimu dan kunyanyikan lagu untukmu."

eommaga seomgunure gul ddareo gamyeon

agiga honja nama jibeul bodaga

badaga bulreo juneun jajang norae e

phalbego seureureureu jami deumnida

agineun jameul gonhi jago itjiman

galmaegi ureum sori mami seolre eo

da motchan gulbaguni meorie igo

eommaneun moraetgireul dalryeo omnida

Yang memeluknya adalah seorang anak lelaki. Lebih tua darinya. Tidak dikenalnya tetapi terasa akrab. Akrab tetapi dia tidak dapat mengingatnya. Kenapa dia tidak dapat mengingatnya?

Anak lelaki itu bernyanyi, suaranya terdengar lembut. Dia bernyanyi untuk mengalihkan perhatian Kyungsoo dari suara petir yang menggelegar di luar, mengalihkan Keyna dari suara teriakan-teriakan pertengkaran di luar.

Lambat laun Kyungsoo hanya mendengarkan suara nyanyian anak lelaki kecil itu. Tidak ada lagi suara guntur, tidak ada lagi suara teriakan pertengkaran. Kamar itu terasa begitu damai…

Hanya ada Kyungsoo dan anak lelaki kecil itu…

Kyungsoo terbangun kemudian, dengan tubuh basah kuyup dan napas terengah-engah. Mimpi itu sudah lama tidak datang. Dan sekarang datang lagi menghantuinya. Mimpi yang sama, kamar yang sama, anak lelaki yang sama…

Kenapa?

TO BE CONTINUE

Ok author kembali dengan FF ini

Semoga suka ya.

Oh iya, author butuh banyak review buat ngelanjutin FF ini. Kurang lebih 30 review cukuplah. Hmm.

Ok, jangan lupa klik review, follow dan favorite.

Annyeong ^^