SWEET ENEMY

Judul : Sweet Enemy Part 4

Author : Barbie (ot12barbiegirl)

Rate : T sampai M?

Casts : SUDO couple

Suho EXO

DO Kyungsoo

EXO Member

yang lain menyusul.

Warning : GS for some character,typo,crack!pair,OOC,don't like don't read.

STORY DON'T BELONG TO ME

REMAKE DARI NOVEL SANTHY AGATHA DENGAN JUDUL YANG SAMA

Jadi,di cerita aslinya ada empat cerita dari seriesnya.

Sweet Enemy ini cerita yang ke – 2.

Ini link cerita yang Perjanjian Hati (Xiuhan couple) :

s/12317589/1/PERJANJIAN-HATI

link You've Got Me From Hello (CHANKAI Couple)

s/12321743/1/YOU-VE-GOT-ME-FROM-HELLO

link FF Pembunuh Cahaya (Krishun couple) :

s/12335647/1/PEMBUNUH-CAHAYA

Gak banyak bacot. Enjoy ^^

"Tidak ada yang lebih berbahaya daripada seorang musuh yang berpura-pura manis di depanmu"

PART 4

"Pulang sendirian lagi?"

Kyungsoo menoleh mendengar sapaan yang akrab itu. Dia mendapati Baekhyun sedang bersandar pada mobil hitam legamnya, tersenyum menatapnya. Senyumnya lebar dan ramah, sama sekali tidak tampak kalau dia adalah penghancur wanita seperti yang dikatakan oleh Suho.

Kalaupun dia memang seorang penghancur wanita, sepertinya sah-sah saja, Kyungsoo membatin, mengamati ketampanan Baekhyun yang halus. Lelaki itu bisa dibilang sangat tampan sampai mendekati cantik. Matanya sendu tapi bening, seolah menarik siapapun yang tergoda untuk tenggelam bersamanya.

"Nde." Kyungsoo menjawab dan mengerutkan keningnya, apa yang dilakukan Baekhyun sore-sore begini di depan kampusnya?

"Kau harus membiarkan supir pribadimu menjemput, sudah kubilang, berbahaya kalau seorang perempuan berjalan-jalan sendirian malam-malam, apalagi kampusmu terkenal sebagai kampus anak-anak kaya. Siapa tahu ada yang mengawasi dan mencari kesempatan, lalu melihatmu sedang jalan sendirian? Kau akan diculik."

Baekhyun mengulangi lagi peringatannya, sama seperti kemarin ketika berpapasan dengan Kyungsoo di jalan. Lelaki itu begitu serius dengan kata-katanya sehingga Kyungsoo merasa takut. Tetapi perkataan lelaki itu memang ada benarnya.

"Kau sendiri apa yang kau lakukan di sini?"

Baekhyun mengangkat bahu dan tertawa, "Mungkin aku sedang mengawasi kampus ini, mencari kesempatan kalau-kalau ada anak orang kaya berjalan sendirian yang bisa kuculik." lelaki itu membuka pintu mobilnya, "Mau masuk?"

Sejenak Kyungsoo ragu. Tetapi Baekhyun tampak begitu tulus. Dan dia kan sahabat Suho, meskipun Suho sudah memperingatkannya tentang kebencian Baekhyun kepada perempuan. Kyungsoo yakin dia bukan termasuk salah satu tipe yang Baekhyun incar untuk dibuat patah hati.

"Suho bercerita kalau kau selalu mendapatkan nilai-nilai tinggi di sekolah, begitulah cara Mama Suho menemukanmu, dengan penyaringan anak-anak cemerlang untuk mendapatkan beasiswa." Baekhyun memulai percakapan, sambil menyetir mobilnya dengan tenang.

Kyungsoo menganggukkan kepalanya, "Nde, waktu itu perwakilan yayasan Nyonya Kim menemuiku dan menawarkan beasiswa, waktunya tepat sekali karena kondisi keuangan kami sedang sulit." Kyungsoo menatap Baekhyun sambil tersenyum, "Ayahku seorang tukang bangunan, dan meskipun dia mengupayakan segala cara untuk menyekolahkanku, membiayai kuliahku akan terlalu berat untuknya."

Baekhyun menoleh sebentar dan menatap Kyungsoo dengan tatapannya yang bening.

"Lalu ayahmu meninggal ya? Aku turut berduka Kyungsoo."

Suara itu benar-benar tulus sehingga Kyungsoo melemparkan senyum lembut kepada Baekhyun.

"Ya, appa mengalami kecelakaan di tempatnya bekerja. Setelah appa meninggal, Nyonya Kim menawariku beasiswa sepenuhnya dan aku boleh tinggal di rumahnya, jadi di sinilah aku sekarang."

"Kau tidak pernah curiga kenapa Nyonya Kim begitu baik kepadamu? Banyak anak lain yang juga cemerlang dan hidup dalam kemiskinan. Tetapi kenapa kau? Kenapa kau yang dipilih?" tatapan Baekhyun yang memandang jauh ke depan terlihat kelam dan misterius.

Kyungsoo mengangkat bahunya, "Yah… Mungkin karena aku ada di saat yang tepat dan tempat yang tepat. Kebetulan seperti itu akan selalu ada kan?"

Baekhyun tersenyum muram, "Tidak ada yang namanya kebetulan, Kyungsoo-ya. Semua hal terjadi pasti ada alasannya." Dia lalu menghentikan mobilnya. Mereka ternyata sudah sampai di ujung jalan dekat mansion keluarga Kim.

"Mian. Aku menurunkanmu di sini." Baaekhyun tersenyum meminta maaf, "Suho melarangku mendekatimu. Yah. Kau pasti sudah diperingatkan tentang reputasiku." senyumnya berubah serius, "Tetapi selama kau masih tidak mau menggunakan supir pribadimu itu, aku akan menjemputmu setiap hari sepulang kuliah."

"Aku tidak perlu dijemput setiap hari." Kyungsoo menoleh kaget mendengar kata-kata Baekhyun, "Gwenchana."

"Anni. Aku sudah memutuskan. Kau terlalu polos dan menganggap semua orang di dunia ini baik hati. Kau akan mudah ditipu dan dimanfaatkan orang. Harus ada seseorang yang menjagamu."

"Aku bisa menjaga diriku sendiri." sela Kyungsoo keras kepala, "Terima kasih sudah mengantarku," dengan sopan Kyungsoo melangkah pergi dan berjalan menuju mansion.

Setelah beberapa langkah, dia merasa ingin tahu. Dengan sembunyi-sembuyi dia menoleh dan mendapati mobil Baekhyun masih terparkir di sana, mengawasinya. Dan mobil itu baru pergi setelah Kyungsoo memasuki gerbang rumah dengan aman.


"Dia bilang dia akan menjemputku setiap hari." Kyungsoo setengah berbisik saat berbicara di ponselnya, Jongdae tadi meneleponnya dan mengatakan bahwa besok pagi dia belum bisa masuk karena sakit. Mereka bercerita-cerita tentang hari itu, dan Kyungsoo pun teringat akan Baekhyun.

"Aneh…" Jongdae tampak tercenung di seberang sana, "Kenapa dia repot-repot melakukan itu? Kau harus hati-hati Kyungsoo, jangan-jangan dia mengincarmu sebagai korban berikutnya."

"Perempuan - perempuan yang menjadi korban Baekhyun adalah perempuan kaya dan semuanya cantik. Aku sama sekali bukan tipenya." Kyungsoo membantah, "Lagipula aku merasa aneh, dia berkali-kali mengingatkanku tentang bahayanya berjalan sendirian karena aku bisa diculik, dia tampak serius dengan perkataannya."

"Tapi dia ada benarnya juga Kyungsoo. Bahaya kalau kau selalu pulang sendirian. Kita tidak tahu siapa orang jahat yang mengincar di luar sana. Kami anak-anak orang kaya selalu diawasi setiap saat dengan ketat oleh kedua orangtua kami, supir pribadi kami dibekali kemampuan bela diri juga, untuk menghindari insiden itu, karena dari pengalaman, banyak sekali kejadian penculikan itu." Jongdae tampak berpikir di seberang sana. "Demi keselamatanmu juga Kyungsoo… Kalau kau mau aman dan terhindar dari penculikan, sekaligus mengindari Baekhyun, gunakan fasilitas supir pribadi yang diberikan oleh keluarga Kim."

Kyungsoo termenung mendengar nasehat Jongdae. Mungkin memang ada benarnya juga…


Dia tadi mengawasi dengan kesal ketika lelaki itu ternyata menunggui Kyungsoo pulang. Dia sudah menyiapkan pisau di tangannya, dengan beberapa pegawainya yang kekar dan ahli. Rencananya untuk menculik Kyungsoo sudah hampir berhasil. Karena dari pengamatannya, Kyungsoo selalu pulang dari kampus sendirian, tanpa ada supir pribadi yang menjemputnya. Perempuan bodoh! Dia seperti mengumpankan dirinya kepada para penjahat. Lalu lelaki pengganggu itu muncul dan menjemput Kyungsoo Dan rencana penculikannya hancur berantakan. Lelaki itu sepertinya akan terus mengganggu. Dia harus mencari cara lain…


Pagi itu Kyungsoo mampir di Garden Cafe seperti biasa dengan segelas besar oreo milkshake di tangannya, ketika dia menghirupnya, Lay sudah ada di depan counter bar itu dan menyapanya.

"Sepertinya suasana makin membaik ya." gumamnya dalam senyum, "Kulihat kau sudah memiliki seorang teman."

Pasti Jongdae yang dimaksud oleh Lay. "Namanya Jongdae, dan dia anak orang kaya, tetapi dia baik kepadaku berbeda dengan yang lainnya."

"Jadi tidak semua orang kaya berpikiran sempit bukan?" Lay tertawa, "Setidaknya sekarang hari-harimu menyenangkan."

"Iya… Sangat menyenangkan memiliki teman di kampus, selama ini aku selalu sendirian sehingga setiap detiknya terasa lama, tetapi aku tetap harus berjuang menyelesaikannya dengan nilai yang baik supaya bisa membalas budi kepada keluarga Kim."

"Ternyata menjadi anak angkat keluarga kaya cukup berat ya?" gumam Lay dengan ironis.

Kyungsoo tersenyum menyetujui, "Sangat berat. Dulu aku hidup dengan sederhana, tidak memikirkan apakah kita akan punya musuh atau tidak, kami tidak sempat memikirkan hal semacam itu karena pikiran kami sudah tersita tentang kecemasan memikirkan apa yang akan kami makan esok hari." Kyungsoo mengangkat bahu, "Sedangkan orang kaya, mereka semua sibuk memikirkan cara melindungi diri dari musuh-musuhnya, kemudian saling mencurigai dan berpikir siapa yang menjadi musuh terselubung."

Lay tertawa. "Seperti halnya sahabat, musuh itu ada di mana-mana Kyungsoo, tidak peduli kita orang kaya ataupun orang miskin. Seperti minumanmu. Lihat, dia berwarna putih bersih, bayangkan itu adalah dirimu dan sahabat-sahabatmu, satu pikiran, sama-sama berwarna putih. Tetapi lalu ada butiran-butiran remah oreo itu, berwarna hitam dan banyak, menodai warna putihnya hingga menjadi abu-abu, bayangkan itu adalah musuh-musuhmu, selalu ada di sekitarmu, mengincarmu, tidak menyukaimu, mempunyai rencana terselubung."

Lay mengedipkan sebelah matanya, "Yang perlu kau lakukan adalah melalui mereka semua, kau tidak akan bisa mengalahkannya karena mereka terlalu banyak, kau hanya bisa melaluinya, selaras bersamanya, dan kemudian kau bisa membuat musuh-musuhmu itu menghilang dengan sendirinya, kalah oleh dominasi rasa susu yang manis dan segar, sehingga kemudian hanya menjadi pelengkap yang manis."

Kyungsoo tertawa mendengar filosofi Lay, "Jadi pada intinya aku harus bisa membuat musuh-musuhku menjadi manis?"

Lay tergelak, "Nde. Tetapi sebelumnya kau harus bisa menemukan mana yang bisa diubah menjadi manis, mana yang memang pahit dan tak bisa diperbaiki, dan mana yang berpura-pura menjadi manis, yang terakhir itulah yang paling berbahaya."

"Berbahaya?"

"Nde. Tidak ada yang lebih berbahaya selain seorang musuh yang berpura-pura manis di depanmu."


"Bagaimana harimu?" Suho mengetuk pintu kamar Kyungsoo dan mendapati Kyungsoo sedang belajar di mejanya. Dengan langkah elegan, lelaki itu duduk di pinggir ranjang Kyungsoo. Suho masih memakai jas dan dasinya sudah dilonggarkan. Lelaki itu tampak lelah.

"Baru pulang kerja?" Kyungsoo meletakkan buku pelajarannya dan mengernyit, Suho tampak pucat. "Oppa gwenchanayo?."

"Sepertinya aku sedikit flu. Aku batuk-batuk dari tadi dan tenggorokanku sakit." lelaki itu berdeham, "Tapi aku sudah minum obat flu, sebentar lagi juga sembuh."

"Oh." Kyungsoo melirik Suho dengan cemas, "Sepertinya kau harus ke dokter. Tidak biasanya orang flu di musim panas"

"Ya! Aku kehujanan kemarin. Hujannya sangat deras. Lagipula aku sudah minum obat flu" tiba-tiba lelaki itu membaringkan tubuhnya di ranjang Kyungsoo

Kyungsoo menoleh kaget, hampir berdiri dari duduknya. "Oppa?"

"Please. Jangan berteriak." lelaki itu mengernyit, membuat Kyungsoo tertegun, padahal dia sama sekali tidak berteriak, Suho berbaring dan menutup matanya dengan sebelah lengannya, "Kepalaku pusing seperti berdentam-dentam, biarkan aku berbaring sebentar di sini."

Kyungsoo terdiam, merasa kasihan kepada Suho, sepertinya lelaki itu benar-benar sakit. Ya sudah, biarlah. Lagipula Kyungsoo masih belum ingin tidur, dia harus belajar sampai larut malam untuk persiapan ujian minggu depan.

Waktu berlalu, dan Kyungsoo larut dalam kegiatan belajarnya. Diiringi suara dengkuran halus Suho yang sepertinya jatuh lelap ke dalam tidurnya, mungkin karena pengaruh obat flunya.

Kyungsoo menguap dan melirik jam di dinding, sudah jam dua pagi, dan dia mengantuk. Dengan bingung diliriknya Suho yang masih pulas di atas ranjangnya.

Lalu dia harus bagaimana?

Dengan bingung Kyungsoo memutar kursinya dan menghadap ke arah ranjang. Suho sedang tidur pulas. Dan ketika tidur lelaki itu tampak sangat tampan. Gurat-gurat sinis di wajahnya tidak tampak dan lelaki itu kelihatan begitu polos seperti bayi, bibirnya sedikit terbuka dan napasnya teratur.

Kyungsoo larut dalam kenikmatan memandangi maha karya Tuhan di depannya. Tuhan pasti sedang tersenyum ketika menciptakan sosok ini.

Mata itu terbuka. Seketika itu juga langsung menatap tajam ke arah Kyungsoo Membuat Kyungsoo berjingkat dari duduknya karena kaget.

Lelaki itu tampaknya tipikal orang yang langsung sadar ketika bangun, dia mengerutkan keningnya menatap Kyungsoo.

"Kenapa kau menatapku?"

Kyungsoo merasa pipinya memerah, "Aku tidak menatapmu." dipalingkannya wajahnya, tidak mampu menahankan tatapan tajam Suho kepadanya.

Lelaki itu beranjak duduk di ranjang, memandangi sekeliling dan menatap Kyungsoo lagi.

"Kenapa aku tidur di kamarmu?" gumamnya menuduh.

Kyungsoo menaikkan alisnya jengkel. "Kau yang datang kesini ketika aku sedang belajar lalu tiba-tiba tidur di ranjangku. Coba tanya dirimu sendiri."

"Oh." Suho tampak mencoba mengingat-ingat, "Mianhae."

Lelaki itu tampak sakit, Kyungsoo menatapnya dengan cemas,

"Gwenchanayo? Bagaimana pusing dan flumu?"

"Aku masih pusing." lelaki itu tampak terhuyung, "Aku akan kembali ke kamarku. Pintu tertutup di depan Kyungsoo, meninggalkan Kyungsoo yang menatap cemas.


Suho terserang flu keesokan harinya. Suara batuknya terdengar ke seluruh penjuru rumah saking kerasnya. Batuknya terdengar kering dan itu pasti menyakitkan. Kyungsoo memutuskan untuk tidak masuk kuliah untuk menunggui Suho, Nyonya Kim sedang ada di luar negeri.

"Pergilah." Suho terbatuk-batuk dan mengusirnya, dokter sudah memeriksanya dan memberikan obat. Dan sekarang Kyungsoo sedang mencoba membantu Suho meminum obatnya. Tetapi lelaki itu dengan kasar menolak bantuannya.

"Pergilah, kenapa kau tidak masuk kuliah?"

"Aku harus menungguimu, aku tidak mungkin meninggalkanmu sendirian dengan kondisi seperti ini."

"Aku sudah biasa seperti ini." tatapan Suho tampak sedih, "Sakit sendirian dan hanya ditemani pelayan sementara kedua orang tuaku pergi entah kemana."

Kyungsoo menatap Suho dan menyadari kepedihan di mata lelaki itu. Kasihan lelaki ini, dia hidup bergelimang harta, tetapi kehilangan kasih sayang orangtuanya. Kini Kyungsoo mengerti apa yang menyebabkan Suho selalu bersikap sinis dan penuh kebencian.

"Sekarang berbeda, kau mempunyai seorang adik, dan adikmu akan merawatmu." Kyungsoo menyerahkan pil-pil obat dari dokter ke arah Suho bersama dengan segelas air putih, "Ini minumlah obatmu."

Suho menatap Kyungsoo, tampak tertegun dengan perkataan Kyungsoo tadi, sejenak dia ingin membantah, lalu dia menghela napas dan menerima obat itu dan meminumnya, ditatapnya Kyungsoo dengan kesal setelahnya.

"Sudah kuminum. Puas?"

"Puas. Sekarang tidur."

Lelaki itu menggerutu, tetapi tidak membantah. Mungkin tubuhnya sudah terlalu sakit. Dia masuk ke dalam selimutnya, terbatuk-batuk sebentar, dan tak lama kemudian, mungkin karena pengaruh obat langsung tertidur pulas.

Kyungsoo menghela napas panjang. Semoga obat itu bisa meredakan sakit Suho. Lelaki itu tampak begitu tersiksa ketika batuk, meskipun demikian tatapan sinis dan kejamnya tidak hilang, Kyungsoo tersenyum, dasar Suho…

Suara bel dipintu mengalihkan perhatian Kyungsoo, tampak pelayan membuka pintu dan terdengar percakapan-percakapan di sana.

Kyungsoo beranjak dengan hati-hati, merapikan selimut Suho lalu melangkah keluar ruangan. Dia menengok ke lobby mansion di lantai bawah.

Baekhyun ada di sana. Lelaki itu mendongak dan menatapnya dengan tatapan mata yang bening,

"Aku dengar kau tidak masuk kuliah. Tadi aku menjemputmu di kampus." Baekhyun bergumam pelan sambil menaiki tangga, "Maaf aku cemas, jadi aku datang kemari."

Kyungsoo menganggukkan kepalanya, "Untunglah kau datang Baekhyun. Aku tidak bisa masuk karena aku merawat Suho."

Baekhyun mengerutkan keningnya, "Suho sakit? Sakit apa?"

"Sepertinya dia sedang flu dan batuk… Dia sedang tidur di atas."

"Dokter sudah memeriksanya?"

"Sudah, dan aku juga sudah memberinya obat."

Lelaki itu menganggukkan kepalanya, "Geogjong hajima, Kyungsoo-ya, aku akan menginap di sini, untuk menemani kalian."

Kyungsoo menghembuskan nafasnya lega. Setidaknya kalau ada lelaki dewasa lain di rumah ini, dia bisa tenang kalau nanti Suho kenapa-napa. Baekhyun adalah sahabat Suho dia pasti akan menjaganya.

TO BE CONTINUE

Author kembali dengan FF ini. Semoga masih ada yang inget ya.

Selamat datang juga buat yang baru baca.

Jangan lupa tinggalkan review, follow dan favorite.

Ok deh, sampai jumpa di chapter selanjutnya. Annyeong ^^