SWEET ENEMY
Judul : Sweet Enemy Part 5 and 6
Author : Barbie (ot12barbiegirl)
Rate : T sampai M?
Casts : SUDO couple
Suho EXO
DO Kyungsoo
EXO Member
yang lain menyusul.
Warning : GS for some character,typo,crack!pair,OOC,don't like don't read.
STORY DON'T BELONG TO ME
REMAKE DARI NOVEL SANTHY AGATHA DENGAN JUDUL YANG SAMA
Jadi,di cerita aslinya ada empat cerita dari seriesnya.
Sweet Enemy ini cerita yang ke – 2.
Ini link cerita yang Perjanjian Hati (Xiuhan couple) :
s/12317589/1/PERJANJIAN-HATI
link You've Got Me From Hello (CHANKAI Couple)
s/12321743/1/YOU-VE-GOT-ME-FROM-HELLO
link FF Pembunuh Cahaya (Krishun couple) :
s/12335647/1/PEMBUNUH-CAHAYA
Soundtrack :
Coldplay - Brothers and Sisters
Ok, ga banyak bacot
Enjoy ^^
"Pelukan, adalah hadiah dari Tuhan bagi manusia yang mampu menyayangi sesamanya."
Part 5
"Tak kusangka seorang Kim Joonmyeon bisa sakit juga."
Baekhyun tersenyum sambil melipat lengannya, dia menatap Suho dan tersenyum lucu, "Kupikir kau bukan manusia. Ternyata kau manusia biasa."
"Kau datang kesini hanya untuk mengejekku?" Suho menatap tajam, terbatuk-batuk sebentar.
Baekhyun terkekeh dan mengangsurkan segelas air kepada Suho untuk meredakan batuknya, "Wah, aku datang untuk menjagamu, kebetulan tadi siang aku mampir dan begitu masuk, Kyungsoo datang dengan cemas mengatakan kalau kau sakit."
"Kyungsoo mencemaskanku?" Suho bergumam, membayangkan Kyungsoo. Tatapan lembut Suho itu tidak lepas dari pengamatan Baekhyun yang tajam.
"Yah siapapun juga akan cemas kalau mendengar suara batukmu yang keras dan kering itu."
"Aku tertular salah satu staffku mungkin." Suho mengerang, "Sial, mungkin aku lelah dan daya tahanku turun."
"Yang penting kau minum obatmu. Sakitmu akan sembuh kalau kau banyak istirahat."
"Aku memasak sup." Kyungsoo mengintip di pintu, sambil membawa nampan.
Suho melirik Kyungsoo dan mendengus. "Aku tidak mau sup-mu, rasanya pasti tidak enak."
Kyungsoo berdiri mematung sambil membawa nampan dengan bingung. Lelaki ini memang sangat ketus, tetapi ketika dia sakit, sikap ketusnya berubah menjadi menjengkelkan, Kyungsoo menghela napas panjang, dia harus sabar menghadapi Suho, lelaki ini sedang sakit.
Kyungsoo memasak sup jagung, sosis dan ayam. Kuah kaldunya menguarkan aroma harus ke seluruh penjuru ruangan, membuat Suho merasakan perutnya keroncongan, tetapi dia memalingkan mukanya, berpura-pura bersikap dingin.
Baekhyun yang melihat pemandangan itu tersenyum geli, dia berdiri dari kursinya dan menghampiri Kyungsoo, mengambil nampan itu darinya.
"Tidak apa-apa Kyungsoo, aroma supmu sangat harum, aku jadi lapar."
Kyungsoo menatap Baekhyun dengan menyesal, "Eh… Tapi aku hanya membuat satu mangkuk." Dia membuat sup itu khusus untuk Suho. Dia tidak berpikiran kalau Baekhyun juga ingin makan, karena di ruang makan, koki telah menyiapkan makan malam untuk Baekhyun. Oh astaga dia sungguh tidak sopan kepada Baekhyun…
Baekhyun terkekeh melihat penyesalan di mata Kyungsoo, dia meletakkan nampan itu di meja, "Gwenchana. Suho tidak menginginkannya, jadi aku pasti boleh mencicipinya. Benar kan Suho?" Baekhyun melirik ke arah Suho yang tetap diam.
Dengan gaya ala pencicip makanan, Baekhyun menghirup aroma sup itu, "Hmm harum sekali, rasanya pasti seenak aromanya," diraihnya sendok hendak mencicipi.
"Jangan!" Suho berseru tiba-tiba, membuat gerakan Baekhyun terhenti.
"Ada apa Suho?" Baekhyun terlihat geli, Kyungsoo bisa melihat itu di matanya.
"Aku harus minum obat, jadi kupikir aku akan memakan sup itu."
Kali ini Baekhyun benar-benar tampak menahan tawa, "Kau mau disuapi siapa? Aku atau Kyungsoo?"
Suho memandang Baekhyun dan Kyungsoo berganti-ganti dengan muram, lalu mendengus, "Tidak, aku bisa makan sendiri."
Kyungsoo berusaha menyembunyikan senyum gelinya ketika bertanya, "Apakah kau ingin dibuatkan susu vanila hangat Suho oppa? Itu akan membuat badanmu lebih enak. Aku bisa mencampurkan remahan oreo di dalamnya seperti dulu."
"Susu dengan remahan oreo?" Baekhyun menyela, tampak tertarik, "Bagaimana bisa?"
"Rasanya enak, aku sering minum setiap pagi di cafe langgananku, milkshake oreo... Kemudian aku mencobanya di rumah dengan susu hangat dan vanila, ternyata enak." jawab Kyungsoo bersemangat.
Baekhyun tersenyum lembut melihat betapa bersemangatnya Kyungsoo ketika menceritakan minuman favoritnya, "Mungkin kapan-kapan aku harus mencobanya, di mana cafe itu?"
"Namanya Garden Cafe, aku bisa mengantarmu kalau…"
Suho yang dari tadi hanya diam, menatap bergantian antara Kyungsoo dan Baekhyun yang bercakap-cakap dan seolah melupakan kehadirannya di ruangan ini akhirnya memutuskan untuk menyela.
"Kurasa aku mau susu vanila dan oreo itu Kyungsoo-ya."
"Aku juga mau satu." Baekhyun bergumam cepat, tidak mempedulikan Suho yang langsung melemparinya dengan tatapan tajam.
"Aku akan membuatkannya." jawab Kyungsoo senang. Kalau begitu aku keluar dulu, nanti akan kubawa minumannya ke sini kalau sudah jadi." Kyungsoo tersenyum dan mundur ke pintu.
"Gomawo Kyungsoo." gumam Baekhyun pelan. Ketika Kyungsoo melirik Baekhyun, lelaki itu mengedipkan matanya dan tersenyum. Membuat Kyungsoo membalas senyumannya dengan senyuman lebar.
Malam itu hujan turun dengan begitu derasnya. Dan petir menyambar-nyambar. Sambaran petir diikuti suara gemuruh membuat jendela kaca bergetar dengan begitu kerasnya.
Suho terbangun mendengar suara berisik itu, dan langsung teringat kepada Kyungsoo, dia ingat betapa takutnya Kyungsoo terhadap petir, betapa tubuhnya gemetaran seakan menanggung rasa sakit yang amat sangat.
Dengan panik, Suho mencoba bangun, tetapi kepalanya pening, membuatnya jatuh lagi ke atas ranjang. Dipanggilnya Baekhyun yang tampaknya tertidur di sofa dengan suara keras, Baekhyun mengenakan earphone di telinganya untuk mendengarkan musik, sehingga suara keras itu tidak langsung membuatnya bangun.
"Baek! Baekhyun! Bangun!" Suho akhirnya berteriak dengan lebih keras, lengannya menggapai dan berhasil menyentuh Baekhyun, mengguncangnya keras.
Baekhyun menggeliat, setengah terjaga mendengar panggilan Suho, dia melepaskan earphone-nya dan mengerutkan kening bingung, tetapi kemudian langsung terjaga ketika petir menyambar lagi, menimbulkan suara yang luar biasa kerasnya.
Lelaki itu langsung tegak berdiri.
"Baek! Kyungsoo! Kyungsoo takut akan suara petir…"
"Aku tahu." Baekhyun setengah melompat dan berlari keluar dari kamar Suho.
Petir datang lagi menyambar-nyambar, menimbulkan bayangan cahaya yang menakutkan di kamar. Kyungsoo bersembunyi di pojok, bersandar di kaki ranjang, kakinya dilipat di atas karpet dan tangannya menutupi kedua telinganya. Seluruh tubuhnya gemetar ketakutan. Keringat dingin membasahi tubuhnya, membuatnya ingin pingsan.
Lalu suara petir menyambar lagi. Dan lagi. Dan lagi
Kyungsoo memekik ketakutan setiap petir itu berbunyi. Dia mulai menangis. Oh ya ampun. Apa yang harus dia lakukan? Petir ini sepertinya tidak akan berhenti menyambar dalam waktu yang lama, karena hujan masih turun dengan derasnya. Kaki Kyungsoo terlalu lemah untuk berdiri, dan dia tidak bisa mengharapkan Suho datang kepadanya, memeluknya seperti malam itu. Petir menyambar lagi. membuat Kyungsoo menjerit kencang.
Pada saat itulah pintu terhempas dengan kasar, Baekhyun berdiri di sana, terengah-engah karena setengah berlari. Dan mereka berdua bertatapan.
Kaki Kyungsoo terlalu lemas untuk berdiri menghampiri Baekhyun, dia tetap menutup kedua telinganya ketika petir itu menyambar lagi dan lagi, menimbulkan suara keras yang memekakkan telinganya.
Baekhyun melangkah pelan, dan berjongkok lembut di sebelah Kyungsoo.
"Hei… Jangan takut, ada aku di sini."
Seluruh tubuh Kyungsoo gemetaran dan berkeringat dingin, Kyungsoo menangis dan Baekhyun mengusap air matanya dengan lembut. Ketika petir menyambar lagi, Kyungsoo memekik dan menenggelamkan wajahnya di dada Baekhyun. Lelaki itu langsung memeluknya erat, mengusap punggungnya, mencoba menenangkannya.
Baekhyun mengecup puncak kepala Kyungsoo lembut, lalu melepas earphone yang masih tergantung di lehernya. Dipakaikannya earphone itu ke kedua telinga Kyungsoo.
eommaga seomgunure gul ddareo gamyeon
agiga honja nama jibeul bodaga
badaga bulreo juneun jajang norae e
phalbego seureureureu jami deumnida
agineun jameul gonhi jago itjiman
galmaegi ureum sori mami seolre eo
da motchan gulbaguni meorie igo
eommaneun moraetgireul dalryeo omnida
Suara musik yang familiar mengalun di telinganya. Nadanya… Ini nada yang dinyanyikan anak kecil itu di mimpinya… Ini… Ini adalah rekaman permainan biola Baekhyun. Kyungsoo merasakan aroma yang familiar itu melingkupinya. Dia mendongak dan menatap Baekhyun dengan bingung.
Baekhyun tersenyum kepada Kyungsoo. Lalu memeluk Kyungsoo erat-erat.
"Sekarang petir tidak akan menakutimu lagi," dipeluknya Kyungsoo dan dibuainya dalam pelukannya sampai Kyungsoo tertidur lelap
Ketika bangun keesokan harinya, Kyungsoo sendirian. Dia tertidur di karpet, tetapi selimut menyelubungi tubuhnya dan membuatnya hangat. Di telinganya masih mengalun earphone yang mengalunkan lagu itu dari pemutar musik warna hitam yang tergeletak di lantai. Kyungsoo tercenung. Lagu ini. Dia tidak mungkin salah, ini adalah lagu yang selalu muncul di dalam mimpi-mimpinya.
Apakah Baekhyun anak lelaki kecil di mimpinya itu? Tetapi kenapa? Bagaimana bisa?
Seorang anak adalah kumpulan butiran kasih sayang, dia hanya bisa membenci ketika dia tidak punya pilihan lain."
Part 6
Kyungsoo menatap earphone di tangannya dengan ragu. Diputarnya ipod mini itu, pemutar musiknya masih memainkan lagu yang sama, permainan biola yang pastinya dimainkan oleh Baekhyun, ini adalah lagu yang dinyanyikan anak kecil itu dalam mimpi-mimpi yang sering sekali muncul akhir -akhir ini. Apakah ini ada hubungannya ataukah hanya kebetulan semata?
Kyungsoo beranjak dari lantai dan melangkah duduk ke atas ranjang, dilipatnya selimutnya dan diletakkannya di dekatnya.
Semalam sangat mirip dengan mimpinya… Petir yang sama… Pelukan yang sama… Tetapi bagaimanapun Kyungsoo mencoba, dia tidak bisa mengingat siapa anak laki-laki itu dan kenapa dia memimpikan kejadian itu.
Kyungsoo melangkah ke kamar mandi, dan mandi. Dia melirik ke arah jam dinding. Ini waktunya Suho sarapan, dia harus ke dapur mengambil makanan untuk Suho… dan semoga dia bisa berbicara dengan Baekhyun, menanyakan kebingungannya, semoga Baekhyun punya jawaban untuknya…
Kyungsoo membawa nampan berisi mangkuk sup daging dan telur serta kentang panggang. Lalu mengetuk pintu kamar Suho sambil berusaha menyeimbangkan mangkuk itu di tangannya.
Suho sendiri yang membukakan pintu kamarnya, lelaki itu tampak pucat, tetapi kondisinya sudah membaik. Suho mengangkat alisnya melihat Kyungsoo, lalu meraih nampan makanan itu dari tangan Kyungsoo.
"Biarkan aku saja yang membawanya." lelaki itu masih memakai piyama, dia melangkah masuk ke kamarnya dan meletakkan nampan itu di meja.
Kyungsoo mengikuti masuk, lalu berdiri canggung di tengah ruangan kamar. Tidak ada orang lain di kamar itu, hanya ada Suho.
"Kemana Baekhyun?"
"Sudah pulang." Suho duduk di kursi, "Duduklah Kyungsoo-ya, kau sudah makan?"
"Aku sudah makan di bawah sana." Kyungsoo berusaha mengatasi kekecewaannya karena Baekhyun sudah pulang, padahal tadi dia sangat berharap bisa mendapatkan keterangan dari Baekhyun. Sekarang dia bahkan tidak bisa menghubungi Baekhyun karena dia tidak punya nomor kontaknya. Yang bisa dia lakukan adalah menunggu Baekhyun menemuinya.
"Bagaimana kondisimu oppa?" Kyungsoo bertanya kepada Suho yang mulai mencicipi supnya.
"Lapar." Suho mengernyit sambil menatap supnya, "Tetapi tidak bisa menikmati makanan, aku tidak bisa mencium aroma apapun."
Kyungsoo tertawa, lalu duduk di kursi di depan Suho.
"Tetapi kondisimu sudah jauh lebih baik. Kau sudah bisa berdiri, kemarin jangankan berdiri, bangun dari ranjang saja sepertinya kau kesakitan."
Suho tersenyum, "Yah… Aku harus mengucapkan terima kasih kepadamu Kyungsoo."
"Sama-sama."
Suho agak tercekat, "Maafkan aku, sikapku buruk kalau sedang sakit."
"Kalau sedang sakit?" Kyungsoo mengangkat alisnya menahan geli, membuat Suho menatapnya dengan kesal.
"Oke sifatku memang buruk, sepanjang waktu. Mau apa lagi? Begitulah aku."
"Aku tidak protes kok," Kyungsoo tersenyum.
"Benarkah?" Suho membalas senyum Kyungsoo ketika perempuan itu mengangguk, "Kyungsoo, malam kemarin ada petir. Aku tahu kau ketakutan. Aku ingin menolong tetapi tidak bisa bangun dari tempat tidur. Aku meminta bantuan Baekhyun, apakah Baekhyun menolongmu?"
"Nde." Kyungsoo tersenyum. "Dia memasangkan ini ditelingaku." Kyungsoo menunjukkan earphone dan pemutar musik itu kepada Suho, semula dia ingin mengembalikannya kepada Baekhyun, tetapi karena Baekhyun tidak ada, dia memutuskan untuk menyimpannya dulu sampai nanti dia bisa bertemu Baekhyun lagi.
"Baekhyun tidak kembali ke kamar sampai lama." pandangan Suho berubah menyelidik, "Apakah dia memelukmu dan tidur di kamarmu?"
Pipi Kyungsoo memerah menerima tatapan menyelidik Suho, "Dia memelukku." Kyungsoo mengangkat bahunya, "Lalu aku tidak ingat apa-apa lagi, musik di sini memenuhi telingaku, aku tidak mendengar apa-apa lagi, bahkan suara petir sekalipun, dan sepertinya aku langsung jatuh tertidur."
Suho menarik napas panjang. Menahan dorongan cemburu membayangkan adegan Baekhyun yang memeluk Kyungsoo.
"Kenapa kau begitu takut petir Kyungsoo?"
"Aku tidak tahu." Kyungsoo tersenyum malu. "Begitu mendengar pertir seakan semua mimpi burukku berkumpul jadi satu, aku mulai gemetaran dan tubuhku kaku tidak bisa bergerak lagi."
"Mungkin ada trauma di masa kecilmu?"
"Aku tidak ingat." Kyugsoo mendesah frustrasi, "Seandainya saja aku bisa mengingatnya, mungkin bisa membantuku menyembuhkan ketakutanku."
Kyungsoo takut petir. Baekhyun membatin sambil mengelus biolanya dalam kegelapan kamarnya. Sepertinya kenangan malam itu telah membawa trauma buruk bagi Kyungsoo, malam perpisahan itu.
Mereka ada di rumah. Ibunya sedang berteriak-teriak kepada ayah mereka yang telah menghancurkan semua rencana masa depan mereka. Ayahnya telah kehilangan kesempatan menjadi orang terkenal dengan menyelamatkan anak orang kaya dari penculikan. Saraf utama di tangan ayahnya luka permanen, sehingga dia tidak bisa bermain biola lagi.
Baekhyun yang waktu itu masih kecil, mendengarkan percakapan kedua orangtuanya yang penuh pertengkaran dan maki-makian kasar… Well, sebenarnya yang mendominasi makian kasar adalah ibunya. Ibunya menghina ayahnya, mengatakan tidak mau hidup miskin selamanya bersama ayahnya, dia sudah muak dan lelah, dibebani oleh dua orang anak, dan hidup serba pas-pasan. Kesempatan karier ayahnya di luar negeri terlanjur membuatnya senang membayangkan bahwa mereka akan kaya. Tetapi ternyata kesempatan itu hancur begitu saja.
"Aku akan meninggalkanmu. Aku lelah hidup miskin bersamamu!" begitulah teriakan ibunya waktu itu. Kemudian hujan turun dengan derasnya, diiringi suara guntur yang menakutkan. Baekhyun teringat akan adiknya yang tertidur di kamar. Ditinggalkannya kedua orang tuanya yang masih sibuk berperang mulut, masuk ke kamar mencari adiknya.
Saat itulah dia melihat adiknya sedang duduk gemetaran di lantai, menutup kedua telinganya dan menangis. Suara guntur dan petir telah bercampur dengan jeritan pertengkaran kedua orang tua mereka, membuatnya berpadu menjadi melodi yang mengerikan. Adiknya ketakutan…
Baekhyun langsung memeluknya, membisikkan kata-kata menghibur dan membujuknya agar tidak menangis lagi. Baekhyun sangat mencintai adiknya. Hanya Kyungsoo satu-satunya harta yang dimilikinya. Tetapi bujukannya tidak berhasil, Kyungsoo tetap menangis. Dan kemudian Baekhyun menyanyikan lagu itu, sebuah lagu kanak-kanak yang diajarkan oleh pengasuh mereka. Dan selalu Baekhyun nyanyikan untuk Kyungsoo sebelum Kyungsoo tidur. Kyungsoo selalu mengantuk kalau Baekhyun menyanyikan lagu itu.
Dan rupanya lagu itu berhasil, Kyungsoo mulai mengantuk di dalam pelukannya. Tetapi kemudian pintu itu terbuka dan seluruh mimpi buruk itu terjadi. Ibunya masuk dan merenggut tangan Baekhyun, hendak membawanya pergi.
Kyungsoo terbangun dan menangis lagi. Dia memegang tangan Baekhyun erat-erat, berteriak-teriak memanggil - manggil kakaknya, memohon supaya tidak dipisahkan. Tetapi sayang ibu dengan kasar merenggut pegangan Kyungsoo dan menghempaskan adik kecilnya itu ke lantai, dengan kasar mengatakan bahwa Kyungsoo harus ikut ayahnya, dan Baekhyun ikut dia. Ibunya lalu setengah menyeret Baekhyun pergi, tidak mempedulikan permohonan Baekhyun yang menangis tidak mau pergi. Tidak mempedulikan teriakan-teriakan Kyungsoo kecil di lantai yang merengek-rengek ingin bersama kakaknya. Mereka dipisahkan dengan begitu kejam, di bawah hujan dan suara petir yang menggelegar.
Tidak heran kalau Kyungsoo takut dengan suara petir. Baekhyun mengernyitkan dahi dengan suara pedih. Hujan yang berpadu dengan petir, penuh dengan kenangan buruk bagi mereka berdua.
Sejak perpisahan itu, Baekhyun tidak pernah mendengar kabar tentang Kyungsoo dan ayahnya. Mereka telah pindah ke luar kota. Sementara itu, ibunya ternyata memilih membawa Baekhyun bukan untuk merawatnya. Baekhyun punya bakat biola sejak kecil, dan sang ibu melihatnya sebagai aset berharga. Ibunya melakukan tindakan keji. Menjualnya kepada keluarga kaya, yang mengetahui bakat bermain biola Baekhyun, dan bersedia memberikan uang pengganti kepada ibunya karena mereka tidak bisa mempunyai anak kandung sendiri. Ibunya menerima uang dalam jumlah yang banyak. Lalu pergi entah kemana, yang pasti sang ibu tidak pernah muncul lagi.
Keluarga angkat Baekhyun memperlakukannya dengan baik. Mereka berasal dari kalangan pemusik handal, dan mereka sangat menyayangi Baekhyun. Apalagi mereka tidak punya anak kandung sendiri. Tetapi Baekhyun tidak pernah memaafkan tindakan ibunya yang begitu keji, memisahkannya dari adik dan ayahnya, untuk kemudian menjualnya hanya demi kekayaan dan segepok uang.
Kebenciannya kepada ibunyalah yang menyebabkan dia begitu benci kepada perempuan. Dia selalu mempermainkan perempuan, terutama yang silau akan hartanya. Kemudian menghancurkannya begitu saja. Dia akan sangat puas ketika para perempuan itu menangis di kakinya, memintanya untuk tidak meninggalkan mereka.
Pertama kali dia melihat Kyungsoo dia tahu. Tetapi dia ragu. Namanya sama. Tetapi mereka sudah lama sekali tidak bertemu. Baekhyun bahkan hanya bisa mengingat samar-samar wajah adiknya karena waktu itu dia sendiri masih kecil. Tetapi kemudian Suho menceritakan hutang budinya kepada Ayah Kyungsoo, kepada ayahnya. Membuat Baekhyun mengetahui semuanya.
Kyungsoo adalah adik kandungnya, dan Suho adalah anak itu, anak lelaki kaya yang diselamatkan oleh ayahnya, yang bertanggung jawab terhadap hancurnya keluarga mereka.
"Aku senang akhirnya kau masuk, aku merindukanmu."
Jongdae tersenyum girang ketika melihat Kyungsoo datang.
Kyungsoo tersenyum, "Suho oppa sudah baikan, jadi aku bisa kuliah lagi."
"Syukurlah." Jongdae menatap Kyungsoo, "Kau pasti kerepotan merawatnya sendirian."
"Tidak juga." Kyungsoo tertawa. "Banyak pelayan yang membantuku, dan ada Baekhyun juga."
"Baekhyun datang?"Jongdae menatap Kyungsoo penuh arti, "Tampaknya dia sedang berusaha mendekatimu Kyungsoo, kau harus berhati-hati. Jangan-jangan dia sedang mengincarmu sebagai korban berikutnya."
"Tidak mungkin, aku bukan selera Baekhyun." Kyungsoo tertawa lagi, "Setahuku deretan mantan kekasih Baekhyun semuanya cantik-cantik."
"Kau juga cantik Kyungsoo-ya, hanya saja kau tidak menyadarinya." Jongdae tersenyum lembut, "Menurutmu apakah Baekhyun akan menjemputmu lagi sore ini? Dia bilang dia akan terus menjemputmu sampai kau mau menggunakan jasa sopir pribadi bukan?"
"Aku rasa Baekhyun tidak perlu repot-repot." Kyungsoo menghela napas, "Aku sudah bilang kepada Suho oppa, seperti usulanmu waktu itu, aku menggunakan jasa supir pribadi."
Jongdae tertegun, lalu mengangguk-anggukkan kepala setuju, ditepuknya pundak Kyungsoo sambil memuji, "Keputusan bagus. Setidaknya keamananmu terjamin Kyungsoo."
"Yah, meskipun aku ragu apakah ada orang yang mau menculikku."
Jongdae tertawa, "Kau akan terkejut Kyungsoo, mungkin banyak orang yang ingin menculikmu, kau adalah orang yang paling dekat dengan keluarga Kim."
"Tetapi aku bukan bagian dari mereka."
" Tetapi orang-orang jahat itu mungkin berpikir kalau mereka menahanmu, keluarga Kim akan menolongku."
Jongdae mengangguk-anggukkan kepalanya, "Dan menurutku, kalau ada yang menculikmu Suho-lah yang pertama kali akan berusaha menyelamatkanmu. Dia tampaknya sangat menyayangimu, kau beruntung Kyungsoo."
Pipi Kyungsoo memerah mendengar kata-kata Jongdae, "Jangan mengarang. Suho tidak mungkin menyayangiku. Dia hanya merasa bersalah karena telah memperlakukanku buruk dulu."
Jongdae tertawa, "Tetapi pipimu memerah," gumamnya menggoda. "Tidak… Pipiku tidak merah." Kyungsoo membantah, "Ayo masuk, kita sudah terlambat ke kelas." Merekapun berjalan melalui lorong menuju kelas perkuliahan.
Sepertinya rencananya harus dimodifikasi. Dia mengamati sore itu. Ketika Kyungsoo sepulang kuliah keluar dari gerbang dan memasuki mobil pribadi yang menjemputnya. Kyungsoo memutuskan memakai mobil dan supir pribadi untuk menjemputnya, itu berarti dia tidak akan bisa melakukan usaha penculikannya dari tempat kuliah Kyungsoo. Dia harus bisa memancing Kyungsoo supaya bisa berada di tempat yang rentan, dan dia bisa dengan leluasa menculik gadis itu…
TO BE CONTINUE
Itu dia tadi updatenya
2 update sekaligus
Semoga suka ya. Hehe
Jangan lupa tinggalkan review, follow dan favoritenya.
Makasih buat yang udah review di part sebelumnya
Selamat datang buat yang baru baca
See you next chapter ^^
