SWEET ENEMY
Judul : Sweet Enemy Part 7 and 8
Author : Barbie (ot12barbiegirl)
Rate : T sampai M?
Casts : SUDO couple
Suho EXO
DO Kyungsoo
EXO Member
yang lain menyusul.
Warning : GS for some character,typo,crack!pair,OOC,don't like don't read.
STORY DON'T BELONG TO ME
REMAKE DARI NOVEL SANTHY AGATHA DENGAN JUDUL YANG SAMA
Jadi,di cerita aslinya ada empat cerita dari seriesnya.
Sweet Enemy ini cerita yang ke – 2.
Ini link cerita yang Perjanjian Hati (Xiuhan couple) :
s/12317589/1/PERJANJIAN-HATI
link You've Got Me From Hello (CHANKAI Couple)
s/12321743/1/YOU-VE-GOT-ME-FROM-HELLO
link FF Pembunuh Cahaya (Krishun couple) :
s/12335647/1/PEMBUNUH-CAHAYA
Ok, ga banyak bacot
Enjoy ^^
PART 7
"Kemarahan yang jauh tersimpan dalam dirimu, bisa menjadikanmu gila suatu saat nanti"
Baekhyun sangat tampan. dengan tubuhnya yang ramping, matanya yang selalu tampak sendu, menyimpan kesedihan tersendiri. Membuat para perempuan selalu ingin mengasihinya. Sayangnya para perempuan itu tidak tahu kebencian Baekhyun kepada perempuan, dan pada akhirnya para perempuan itulah yang menjadi korbannya.
Hari ini Baekhyun sedang mengunjungi mansion Suho membawakan buah-buahan untuk menengok si sakit. Sayangnya yang dicarinya tidak ada, dari pelayannya dia tahu bahwa Suho sudah masuk kerja. Membuat Baekhyun menunggu hampir selama dua jam.
Akhirnya Suho pulang dari kantor, dan sepertinya kondisi kesehatannya belum pulih benar.
Baekhyun memandang ke arah Suho yang masih terbatuk-batuk dan mengangkat alisnya melihat wajah Suho yang masih pucat,
"Seharusnya kau tidak masuk kerja dulu." gumamnya
Suho cemberut, "Aku bosan di rumah. Tidak ada yang bisa kulakukan."
"Kau bisa tidur dan beristirahat." Baekhyun terkekeh, "Itu yang biasanya dilakukan oleh orang sakit."
Suho menghela napas panjang, lalu membanting tubuhnya dan berbaring si sofa besar di depan Baekhyun. Lalu dia menoleh dan menatap Baekhyun dengan tajam,
"Malam itu...saat hujan petir waktu itu."
"Ya?" Baekhyun tampak tidak peduli, dia menghirup teh chamomile yang tadi diseduhkan oleh pelayan Suho.
"Aku memintamu untuk melihat Kyungsoo karena dia takut petir."
"Ya. dia memang ketakutan dengan petir." Baekhyun membolak-balik majalah yang ada di depannya dengan tidak peduli.
"Lalu apa yang kau lakukan pada Kyungsoo? kau tidak kembali ke kamar malam itu."
Baekhyun mengangkat matanya dari majalahnya, mengawasi Suho lalu tersenyum, "Cemburu, Suho?"
Muka Suho sedikit merona. Tetapi bibirnya menipis kesal. "Kata Kyungsoo kau memasangkan earphone di telinganya, lalu dia tidak ingat apa-apa lagi."
"Kau sangat perhatian padanya." Baekhyun memilih tidak menjawab pertanyaan Suho, membuat Suho makin kesal.
"Dia sudah seperti keluargaku."
"Tetapi dia bukan adikmu." Suara Baekhyun menajam, tetapi dia kemudian menguasai diri dan senyumnya muncul kembali, "Jangan cemas Suho, aku tidak melakukan sesuatu yang salah kepadanya. Dia memakai earphoneku dan aku menungguinya sampai tidur. Aku menyelimutinya, dan kemudian karena aku mengantuk aku tidur di kamar tamu."
Suho mengawasi Baekhyun tak percaya. "Benarkah?"
"Kau bisa bertanya kepada pelayan yang membereskan kamar tamumu." Baekhyun tersenyum dan menatap Suho, "Kalau aku tidak mengenalmu, aku akan menduga bahwa kau sedang cemburu."
"Aku tidak cemburu." Suho menyela keras kepala, "Aku hanya cemas kau berubah pikiran dan mengincarnya. Kau tahu aku punya hutang budi yang besar kepada Kyungsoo dan karena itu aku bertekad menjaganya..." Suho mengernyit, "Para perempuan itu, mereka yang menjadi korbanmu.. mereka patah hati dan hancur... aku tidak ingin Kyungsoo berakhir seperti itu."
Ekspresi Baekhyun mengeras mengingat para perempuan yang disakitinya. Berbeda dengan Suho, tidak ada penyesalan di dalam hatinya ketika mengingat mereka. Mereka semua mendekatinya karena Baekhyun adalah anak keluarga kaya, dengan kemampuan main biola yang luar biasa. Mereka semua sama seperti Ibunya, yang menjualnya demi kekayaan. Baekhyun senang menghancurkan mereka semua. Membuat mereka patah hati dan tak berharga lagi...
"Kau tidak akan melakukannya kepada Kyungsoo kan?"
Pertanyaan Suho membuat Baekhyun tersentak dari lamunannya, dia segera mengembalikan ekspresinya dan menjawab, "Tidak Suho. Kau boleh tenang. Kyungsoo bukan tipeku."
Suho menyipitkan matanya, "Karena kalau kau melakukan sesuatu yang melukainya, kau harus berhadapan denganku."
Perasaan cemburu tiba-tiba merayapi hati Baekhyun. Dialah, sebagai kakak kandung Kyungsoo yang berhak mengatakan itu semua, bukan Suho. Suho telah merenggut keluarganya bertahun lalu, kini, setelah Baekhyun berhasil menemukan Kyungsoo, akankah Suho juga merenggut Kyungsoo darinya?.
"Tadi Baekhyun kemari." Suho bergumam ketika Kyungsoo bergabung dengannya di ruang makan untuk makan malam bersama.
"Oh Ya?" Kyungsoo langsung teringat pada earphone Baekhyun yang masih dibawanya. Dia berniat mengembalikannya. Seharian ini dia mendengarkan lagu di pemutar musik Baekhyun berusaha mengenang. Tetapi Kyungsoo tidak berhasil mengingat apa-apa. "Earphone Baekhyun masih ada padaku, aku belum mengembalikannya."
Suho mengangkat alisnya, "Kenapa kau membawa-bawanya kemana-mana? Sini berikan kepadaku, biarkan aku yang mengembalikannya kepada Baekhyun."
"Shirreo." Kyungsoo menggeleng keras kepala, "Aku ingin mengembalikannya sendiri dan berterimakasih karena bantuannya malam itu."
Suho melirik Kyungsoo dengan curiga, "Jangan-jangan kau hanya ingin bertemu Baekhyun ya? Apakah kau punya perasaan lebih kepadanya? Aku sudah memperingatkanmu bukan akan reputasi Baekhyun?"
"Suho oppa." Kyungsoo berseru agak marah, pipinya merona, "Aku tidak punya maksud apapun, aku hanya ingin mengembalikan earphone ini kepadanya." Dan aku ingin menanyakan langsung tentang lagu itu. Lagu kenangan yang selalu ada di mimpinya, Kyungsoo bergumam dalam hatinya, mungkin saja Baekhyun tahu sesuatu bukan?
Suho mengamati ekspresi Kyungsoo yang penuh rahasia, lalu memutuskan dengan arogan.
"Mulai sekarang kalau kau mau bertemu dengan Baekhyun, kau harus bersamaku."
"Mwo?" Kyungsoo membelalak tak percaya dengan kata-kata Suho barusan.
"Kau harus bersamaku. Aku akan menjagamu dari Baekhyun."
Pipi Kyungsoo merah padam, "Aku tidak perlu dijaga, oppa. Lagipula sudah kukatakan bahwa aku bukan tipe Baekhyun."
"Terserah, aku tetap akan menjagamu." Suho melipat kedua tangannya dan mengangkat alisnya, menantang Kyungsoo untuk membantah.
"Kau.. Kau..." Kyungsoo ingin marah atas sikap arogan Suho, tetapi tidak ada kata-kata yang keluar dari bibirnya. "Terserah padamu." Semburnya kemudian dan membalikkan diri hendak meninggalkan Suho.
Tetapi tangan Suho menyambarnya, menahan kepergiannya, membuat langkah Kyungsoo terhenti.
"Maafkan aku. Aku hanya mengkhawatirkanmu." Suaranya lembut meski ekspresi Suho tetap dingin.
Kyungsoo mengamati Suho dan tiba-tiba merasa jantungnya berdegup kencang. Suho memang tampan, tetapi dari jarak dekat lelaki itu luar biasa tampannya. Siapapun yang melihatnya sedekat ini pasti akan meleleh... seperti halnya Kyungsoo.
"Aku mengerti." Kyungsoo bergumam cepat-cepat supaya Suho melepaskan pegangannya. Dan Suho memang melepaskan pegangannya, sehingga Kyungsoo bisa menggumamkan alasan yang tidak jelas dan kemudian melarikan diri.
"Mau pergi bersamaku?"
Kyungsoo menoleh, hari ini hari minggu dan Suho tampak tampan mengenakan sweater abu-abu dan celana jeans warna hitam. Lelaki itu tampak lebih sehat dari beberapa hari kemarin.
"Kemana?"
"Kemana saja. Memangnya orang biasa seperti kalian akan kemana kalau hari minggu begini?"
Kyungsoo mengernyit mendengar istilah yang dipakai Suho. Orang biasa seperti dia? Oh astaga, lelaki ini memang terbiasa hidup berkelimpahan kekayaan sehingga tidak tahu gaya hidup orang biasa.
"Kalau aku tidak pernah kemana-mana di hari minggu. Dulu aku menghabiskan hari mingguku untuk memasak di rumah." Kyungsoo tersenyum dan mengingat, "Tapi orang-orang... yang kau bilang orang biasa itu, mereka kebanyakan bersenang-senang di taman hiburan atau taman bermain di hari minggu."
"Taman bermain?" Suho mengernyitkan keningnya, "Tempat yang ada kincir angin dan roller coasternya?"
"Yup dan permen kapas yang sangat besar dan berwarna pink. Dengan membayar tiket masuk, kita bisa puas memainkan semua permainan di sana seharian." Mata Kyungsoo berkilat, "Dulu ayahku menabung gajinya berbulan-bulan, dan ketika aku naik kelas dengan nilai bagus, kami pergi ke taman hiburan bersama. Waktu itu aku masih kecil."
"Dan berapa kali kemudian kau kesana lagi?" Mata Suho tampak sedih, mengamati Kyungsoo.
Kyungsoo tersenyum lucu. "Tidak pernah. Appa tidak pernah punya uang lagi. Uang tabungannya dipakai untuk mencukupi kebutuhan kami yang makin bertambah... tetapi tidak apa-apa setidaknya aku pernah ke taman hiburan."
Suho tersenyum, "Kau lebih beruntung dariku, aku tidak pernah ke taman hiburan."
"Apa?" Kyungsoo membelalakkan matanya, "Tidak mungkin."
"Tidak ada yang sempat membawaku ke sana." Mata Suho tampak sedih, "Mama dan papa selalu sibuk ke kantor dan keluar negeri. Aku terbiasa sendirian bersama para pelayan, ingat? Lagipula taman hiburan terlalu ramai, dan papa sangat ketat dalam hal keamanan."
"Karena takut kau diculik?'
Suho mengangguk. Sejak kejadian percobaan penculikannya dulu, papanya sangat ketat menjaganya, dia tidak boleh pergi ke tempat umum sendirian, semuanya diawasi. Hanya ketika dia beranjak dewasalah papanya mulai bersikap longgar dan memberinya kebebasan. Percobaan penculikan itu...
"Aku pernah hampir diculik waktu kecil."
"Benarkah?" Mata Kyungsoo membelalak.
"Benar. Tetapi ada seseorang yang menyelamatkanku. Sampai sekarang aku masih berhutang budi kepadanya." Suho masih belum punya nyali untuk menceritakan kisah Minjoon kepada Kyungsoo, dia masih belum siap menerima reaksi Kyungsoo. Bagaimana perasaan Kyungsoo ketika tahu bahwa ayahnya, Minjoon kehilangan kariernya karena dia, dan kemudian berakhir menjadi buruh bangunan yang miskin? Kyungsoo seharusnya berhak mendapatkan hidup yang lebih baik. Tetapi dia tidak mendapatkannya, semua karena Suho.
"Dan kau pasti bersahabat dengan orang yang menyelamatkanmu itu." Kyungsoo tersenyum, "Mengerikan membayangkan pernah mengalami penculikan."
"Sesungguhnya aku tidak ingat, aku masih kecil waktu itu." Suho mengangkat bahu, "Dan penyelamatku, yah, dia sudah meninggal."
"Oh." Kyungsoo menutup mulutnya kaget, "Mianhae. Aku tidak bermaksud mengungkitnya"
Aku yang seharusnya minta maaf. Suho membatin, ditatapnya Kyungsoo dan tersenyum,
"Jadi? Ayo ganti pakaianmu."
"Ganti pakaianku?" Kyungsoo mengerutkan alisnya bingung.
"Kita ke taman hiburan sekarang."
"Kyungie." Suara Jongdae terdengar ketika Kyungsoo sedang berganti pakaian dan langsung mengangkat ponselnya begitu melihat nama Jongdae tertera di sana.
"Ada apa Jongdae-ya?"
"Aku ingin mengajakmu ke Cafe cokelat yang kemarin kuceritakan." Jongdae kemarin telah menceritakan tentang Cafe baru yang menjual berbagai jenis cokelat dalam berbagai hidangan, ada kue, cupcakes, minuman, dan berbagai bentuk cokelat yang cantik, "Aku bosan di hari libur sendirian. Kita jalan yuk, kalau kau mau aku akan menjemputmu."
Kyungsoo termenung bingung, "Aku sangat ingin Jongdae... tapi aku tidak bisa."
"Kenapa?" terdengar suara bingung Jongdae di seberang sana.
"Aku..eh.. Suho oppa mengajakku keluar."
"Suho mengajakmu keluar?"
"Iya... dia mengajakku ke taman hiburan hari ini."
"Dia mengajakmu ke taman hiburan?" Jongdae tampak membeo perkataannya, membuat Kyungsoo tertawa,
"Hei kau menirukan kata-kataku Jongdae." Kyungsoo masih tertawa, "Dan kau tahu tidak, Suho tidak pernah ke taman hiburan sebelumnya."
"Jinjja?" Jongdae menyahut, "Tapi kalau diingat, aku juga belum pernah ke taman hiburan."
"Apakah kau mau ikut? Aku bisa bilang pada Suho, kita bisa bertemu di sana."
"Anniya." Jongdae menjawab pelan. "Sepertinya aku tidak akan kuat menghadapi taman hiburan, mereka terlalu ramai dan penuh orang."
"Oh..."
"Mungkin lain kali saja yah kita jalan ke cafe cokelat itu... semoga kau bersenang-senang Kyungsoo di taman hiburan itu."
Kyungsoo menghela napas merasa tidak enak, "Maafkan aku Jongdae... kau ingin aku membatalkan ke taman hiburan itu? Aku bisa bilang pada Suho kalau aku ada janji denganmu."
"Tidak... jangan." Jongdae mencegah di seberang sana, "Lagipula tiba-tiba aku merasa tidak enak badan...pergilah Kyungsoo... kita bisa ke cafe cokelat besok pagi."
"Oke... Jongdae, kau istirahat ya?"
"Iya Kyungsoo. Selamat bersenang-senang." Jongdae tertawa, kemudian menutup telepon.
Kyungsoo mematut dirinya di cermin dan untuk pertama kalinya dia menyesali koleksi bajunya yang sedikit. Dulu Kyungsoo tidak pernah peduli pada penampilannya, apalagi pakaiannya. Baju baginya hanyalah sesuatu yang sepantasnya menutupi tubuhnya.
Tetapi mengingat penampilan Suho tadi. Lelaki itu tampak luar biasa tampan dengan sweater abu-abu, jeans hitam, tubuh tinggi rampingnya, rambut yang begitu modis, dan wajahnya yang sangat tampan. Kyungsoo takut Suho merasa malu terlihat berjalan bersamanya.
Akhirnya dia mengambil celana jeans hitam dan t-shirt sederhana warna hijau, mengikat rambutnya ke belakang seperti kucir kuda. Lalu Kyungsoo menatap dirinya di cermin dengan masam.
Penampilannya seperti anak remaja umur belasan tahun.
"Kyungsoo-ya?" suara Suho mengetuk di pintu, "Kau lama sekali. Apakah kau sudah siap?"
Kyungsoo bergegas ke pintu dan membukanya, Suho berdiri di sana, mengamati penampilan Kyungsoo dari atas ke bawah lalu terkekeh geli, "Aku seperti membawa anak SD jalan-jalan ke taman hiburan.'
Kyungsoo menatap Suho dengan pandangan mencela, "Ejeklah semaumu, memang begini penampilanku."
'Hei, aku tidak memprotesmu lho... lagipula sangat cocok ke taman hiburan dengan anak SD." Suho makin tergelak. Membuat Kyungsoo meliriknya marah dan berjalan berderap mendahuluinya.
Ketika pintu terbuka, mereka berhadapan dengan Baekhyun dan Minho yang sedang berdiri di pintu, hendak masuk.
"Kenapa kalian kemari?" Suho mengerutkan keningnya.
Baekhyun tersenyum tampak tidak terpengaruh dengan sikap ketus Suho, "Aku mengantar Minho, kemarin dia sedang di London, dan sekarang dia ingin menengokmu."
"Kata Baekhyun kau sakit parah kemarin." Minho mengangkat alisnya menatap Suho, "Tampaknya kau sembuh dengan cepat.'
"Well aku sudah sembuh, jadi kalian tidak perlu repot-repot menengokku. Pulanglah." gumam Suho ketus.
Baekhyun tertawa, sudah biasa dengan sikap ketus Suho, "Kami kan baru datang, tega-teganya kau mengusir kami." Mata Baekhyun terhenti di Kyungsoo yang ada di belakang Suho, "Annyeong, Kyungsoo!"
"Annyeong." Kyungsoo tersenyum malu-malu, teringat pelukan Baekhyun waktu itu, "Aku masih membawa earphonemu." Kyungsoo amat sangat ingin bertanya tentang lagu itu. Tetapi waktunya sepertinya tidak tepat.
"Ambil saja, itu untukmu. Jadi kalau ada badai petir lagi, kau tinggal memasangnya di telingamu dan menikmati musiknya" Baekhyun tersenyum lembut pada Kyungsoo,
Sementara itu Minho mengalihkan perhatiannya kepada Suho, dan mengamatinya "Melihat penampilan kalian, sepertinya kalian mau pergi ya?"
"Bukan urusanmu." Jawab Suho ketus, dan langsung mendapatkan sikutan pelan dari Kyungsoo di rusuknya.
"Kami akan ke taman hiburan." Jawab Kyungsoo sambil tersenyum.
"Oh bagus, Kau mengatakan kepada mereka, dan mereka sekarang pasti akan ikut." Suho melirik Kyungsoo mencela lalu menatap Baekhyun dan Minho bergantian, "Katakan kalian punya kesibukan lain."
"Aku tidak punya kesibukan." Minho mengangkat bahunya tanpa rasa bersalah, "Bagaimana dengan kau, Baek?"
Baekhyun tersenyum, sengaja membuat Suho kesal. "Aku juga tidak punya kesibukan, Dan taman hiburan terasa menyenangkan.
Kyungsoo tertawa melihat tingkah ketiga sahabat ini. Apalagi ketika Suho menggerutu dan marah-marah, tetapi tetap membiarkan kedua sahabatnya naik ke mobilnya, mengikuti mereka ke taman hiburan.
Nafas Jongdae terengah-engah, dadanya terasa panas terbakar.
Berani-beraninya Kyungsoo pergi bersama Suho ke taman hiburan dan menolak ajakannya pergi ke cafe bersamanya. Berani-beraninya mereka!
Jongdae melotot memandang sekeliling kamarnya yang hancur lebur. Kaca-kaca dipecahkan. Buku-buku dilempar, semua peralatan lain berhamburan di lantai, berserakan dan sebagian pecah. Spreinya lepas dari kasurnya, setengah sobek karena ditarik paksa. Kamar itu benar-benar berantakan, seperti terjadi pergumulan dan perang di dalamnya.
Begitulah Jongdae kalau sedang marah, tidak ada yang berani mengganggunya kalau sedang marah. Semua orang di rumah langsung menjauh dari kamarnya, tidak berani mendekat.
Semua barang sudah dihancurkan dan dilemparkannya. Tetapi dada Jongdae masih mendidih oleh perasaan marah dan murka. Dia sangat marah hingga kepalanya seperti mau pecah.
Dengan keras Jongdae lalu menjerit, dan berteriak-teriak sekeras-kerasnya.
Teriakannya memenuhi lorong rumah, membuat merinding seluruh penghuni rumah yang mendengarnya.
PART 8
"Bukankah menyedihkan? Dia ada dalam jangkauan tanganmu tapi kau tidak bisa merengkuhnya"
Berjalan bersama tiga lelaki tampan ternyata sedikit mengintimidasi...
Kyungsoo melirik ketiga lelaki yang berjalan beriringan bersamanya, sibuk bercanda. Mereka melewatkan tatapan kagum para perempuan yang berpapasan dengan mereka di taman hiburan itu.
Dan beberapa perempuan itu, setelah menatap ketiga laki-laki tampan itu, lalu melemparkan tatapan 'siapa sih perempuan itu' kepada Kyungsoo. Kyungsoo memutar bola matanya. Hanya dia satu-satunya yang tampak tidak pas di gerombolan ini.
"Aku mau naik itu." Suho menunjuk ke sebuah wahana permainan yang tampak mengerikan. Sebuah tiang tinggi dengan kursi-kursi di ujung-ujung kicir angin, dimana kursi itu hanya dipakukan di satu titik.
Kyungsoo langsung merinding. Mereka akan diputar ke segala arah kalau naik wahana itu.
"Aku tidak mau." memikirkannya saja sudah membuat Kyungsoo mual karena takut.
Suho tertawa dan melirik Kyungsoo dengan tatapan mencemooh, "Pengecut."
"Aku bukan pengecut, aku punya akal sehat." Kyungsoo membelalakkan mata, "Silahkan naiki wahana itu dan buat dirimu muntah sesudahnya,"
Baekhyun tertawa mendengar jawaban Kyungsoo untuk Suho, membuat Suho langsung memelototinya. Lelaki itu menatap Kyungsoo, seolah akan membantah, tetapi kemudian memutuskan menyerah.
"Oke kalau begitu, kita naik wahana yang membosankan saja. Mungkin kau bisa mencoba komedi putar di sana itu, sepertinya cocok dengan penampilanmu yang seperti anak SD."
Kyungsoo menatap Suho dengan pandangan mencela, lalu memelengoskan muka dan berjalan menjauhi Suho. Baekhyun buru-buru mengikuti Kyungsoo, mengajaknya bicara tentang sesuatu sementara Suho mengamati mereka, lalu mau tak mau berjalan mengikuti Kyungsoo dan Baekhyun di belakangnya.
Minho mendekat ketika mereka berjalan mengikuti Kyungsoo.
"Kenapa denganmu sobat?" Minho setengah berbisik
Suho mengernyitkan keningnya, "Kenapa apa? Apa maksudmu?"
"Kau. sikapmu aneh."
"Aneh? Aku biasa saja." Suho mengedikkan bahunya bingung.
Minho terkekeh, "Sikapmu kepada Kyungsoo. Aku belum pernah melihatmu bersikap begitu kepada perempuan lain. Seolah-olah kau sedang... kebingungan."
"Aku? Kebingungan menghadapi Kyungsoo? itu tidak mungkin Minho. Memangnya apa yang dilakukan Kyungsoo sampai bisa membuatku bingung?"
"Itu yang harus kau tanyakan pada dirimu sendiri. Ayolah Suho, aku temanmu sejak kecil. Kau seperti buku yang terbuka di depanku. Sikapmu itu sangat kontradiktif, kau seolah-olah ingin menarik Kyungsoo mendekat tetapi sekaligus ingin mendorongnya jauh-jauh. Dan hal itu membuatmu tampak defensif di depan Kyungsoo. Mungkin kau harus tentukan, sebenarnya apa yang kau rasakan untuk Kyungsoo?"
Suho membeku. Menatap bagian belakang tubuh Kyungsoo yang sedang berjalan di depannya. Lalu menghela napas. Bahkan dia sendiri bingung dengan perasaannya. Bagaimana mungkin dia bisa menjawab pertanyaan Minho?
"Sepertinya Suho berperan sebagai kakak yang baik untukmu." Baekhyun tersenyum lembut ketika mereka duduk di cafe di tengah taman hiburan itu. Mereka sudah naik roller coaster, mencoba wahana kereta gantung, dan juga rumah hantu. Sekarang mereka sedang makan siang, Cafe itu menyediakan makanan-makanan sederhana untuk pengisi perut.
Kyungsoo melirik Suho yang sedang berada di luar cafe bersama Minho, lelaki itu tadi melihat Kyungsoo memandang terpesona kepada pedagang permen kapas berwarna pink yang lewat. Dan meskipun bersungut-sungut serta mengejek Kyungsoo yang kekanak-kanakan, Suho akhirnya keluar dan membelikannya untuk Kyungsoo.
Kyungsoo tersenyum dan menatap Baekhyun, "Dia berusaha bersikap sangat baik untukku." Kyungsoo teringat betapa Suho sudah benar-benar merubah sikapnya kepadanya, dan itu membuat hatinya hangat.
Baekhyun menatap Kyungsoo dengan tatapan menyelidik, "Apakah kau pernah ingin punya kakak lelaki sebelumnya?"
"Tentu saja. Selama ini aku hanya hidup berdua dengan ayahku, kadang aku ingin tinggal di keluarga besar." Kyungsoo menatap Baekhyun, berpikir bahwa ini adalah saat yang tepat untuk bertanya mengenai lagu itu, "Baekhyun... aku ingin bertanya."
"Tentang apa?"
"Tentang lagu yang ada di pemutar musik milikmu yang kau berikan padaku di malam berhujan petir itu..." Kyungsoo merasakan jantungnya berdegup, "Aku... aku pernah merasa mendengarnya dalam mimpiku."
"Mimpi?" Baekhyun nampak tertarik.
"Ya... aku sering bermimpi... mungkin itu ingatan samar... atau entahlah... aku masih sangat kecil waktu itu dan aku mungkin menyimpan kenangan itu dalam-dalam karena terlalu menakutkan." Kyungsoo menatap Baekhyun dengan bingung, "Aku bahkan tidak tahu itu mimpi atau kenyataan."
"Mimpi tentang apa?"
"Tentang hujan badai dan petir... aku menangis ketakutan, lalu ada seorang anak lelaki datang... dia... dia menyanyikan lagu yang sama dengan yang ada di pemutar musikmu.." Kyungsoo menelan ludah, "Dan baru kusadari kalau mungkin saja mimpi itu adalah kenangan tentang kejadian nyata."
"Lagu di pemutar musikku adalah lagu klasik lama, Kyungsoo, aku mencoba memainkannya dengan versi biola.. itu lagu Lullaby... "
Kyungsoo menatap ragu, "Anak lelaki kecil di mimpiku juga menyanyikan lagu itu..."
"Itu semacam lagu pengantar tidur." Tatapan Baekhyun tampak aneh. "Apakah kau sama sekali tidak ingat tentang anak lelaki kecil itu? Sama sekali?"
"Aku punya ingatan samar." Kyungsoo mengangkat bahunya sedih, "Bahkan seperti kubilang tadi... aku tidak yakin apakah itu benar-benar ingatan samar, atau hanya mimpi..."
Baekhyun tampak akan mengatakan sesuatu, tetapi kemudian mengurungkan niatnya karena Suho dan Minho datang mendekat.
Suho menyerahkan permen kapas yang sangat besar dan berwarna pink itu kepada Kyungsoo, "Aku tahu kau menginginkannya." Suho bergumam kaku.
Kyungsoo menerimanya dengan senang, ditatapnya Suho penuh rasa terimakasih, "Terimakasih oppa, aku senang sekali."
Suho hanya menggumam tak jelas, lalu duduk di sebelah Kyungsoo,
"Permainan apa lagi yang akan kita mainkan?" dia melirik jam tangannya. "Kita masih punya banyak waktu."
Kyungsoo menoleh ke sekeliling, lalu menunjuk permainan berperahu melewati wahana air terjun yang berkelak-kelok, "Sepertinya itu menyenangkan."
"Tapi kita akan basah." Kening Suho sedikit berkerut, tetapi kemudian lelaki itu tersenyum, "Tapi sepertinya itu layak dicoba."
"Mereka terus mengiringinya, kita harus menunggu sampai dia terpisah dari ketiga laki-laki itu."
Anak buahnya melapor kepadanya. Membuatnya mengkerutkan dahi. "Kyungsoo bersama Suho, Baekhyun dan Minho?"
"Ya."
Dia mengerutkan dahinya. Baekhyun... terutama Baekhyun. Lelaki itu sepertinya punya insting bahwa Kyungsoo dalam bahaya. Dia telah sangat mengganggu rencananya dari kemarin, dengan menjemput dan menjaga Kyungsoo ketika pulang kampus. Mungkin kalau ingin penculikannya terhadap Kyungsoo berhasil, Dia harus menyingkirkan Baekhyun duluan.
"Ikuti terus. Tunggu sampai semua lengah dan Kyungsoo terpisah dari mereka."
"Baik," Anak buahnya membungkukkan tubuh dan melangkah pergi.
Mereka benar-benar basah akibat permainan itu. Air muncrat dimana-mana membasahi pakaian dan rambut mereka, tetapi permainan itu benar-benar menyenangkan hingga mereka tertawa-tawa ketika turun dari perahu.
"Aku harus ke kamar mandi." Kyungsoo menoleh ke arah kamar mandi tak jauh dari situ. Ada area khusus untuk kamar ganti dan kamar mandi perempuan. "Di situ."
Suho masih berusaha mengusap rambutnya yang basah, begitupun Baekhyun dan Minho yang sibuk menghenta-hentakkan sepatu mereka yang basah.
"Hati-hati Kyungsoo, kami menunggu di sini ya." gumamnya sambil lalu.
Dan Kyungsoopun berjalan ke arah kamar mandi itu.
Kamar mandi itu sepi. Mungkin karena sudah menjelang sore dan orang-orang sibuk bermain. Kyungsoo berdiri di depan kaca besar dan mencuci tangannya di atas wastafel.
Seorang perempuan berpakaian rapi ada di sebelahnya. Kyungsoo mengernyit, pakaiannya terlalu rapi untuk bermain ke taman hiburan... tetapi Kyungsoo menggelengkan kepalanya dan mengusir pemikirannya. Setiap orang punya selera sendiri-sendiri, mungkin perempuan ini merasa nyaman berpakaian seperti itu.
"Ahgassi?"
Sapaan perempuan berpakaian rapi itu membuat Kyungsoo mengernyit, dia menolehkan kepalanya.
"Ya?"
Perempuan itu tersenyum, "Maaf ya."
Lalu sebuah jarum suntik di tusukkan di tubuhnya. Kyungsoo masih sempat terperangah dan terkejut, sebelum kemudian matanya berkunang-kunang dan kesadarannya hilang.
Perempuan berpakaian rapi itu menarik kursi roda lipat yang sudah disiapkan di kamar mandi. Lalu meletakkan tubuh mungil Kyungsoo yang tak sadarkan diri di sana. Dipakaikannya kacamata hitam besar, dan kain untuk menutup kepalanya, serta selimut untuk menutupi tubuhnya.
Dia mendorong kursi roda itu keluar, ke arah keramaian.
Tidak ada yang curiga. Dia melirik ke arah tiga lelaki yang bersama Kyungsoo tadi. Ketiga lelaki itu sedang bercakap-cakap dan membelakanginya.
Dengan cepat dia mendorong kursi roda itu dan membawa Kyungsoo menjauh,
Begitu berada di tempat aman dan tidak terjangkau, dia mengangkat ponselnya dan menelepon.
"Ya?" suara di seberang sana menyahut cepat.
"Aku sudah mendapatkannya."
"Bagus." Ada senyum di suara itu. "Bawa ke tempat yang sudah ditentukan."
Ketika mereka lama menunggu dan Kyungsoo tak kunjung keluar, Suho mulai curiga. Dia melirik Baekhyun dengan gelisah. Melempar tatapannya ke arah kamar mandi perempuan itu.
Orang-orang lalu lalang dan keluar masuk, tetapi tidak ada Kyungsoo di sana.
Baekhyun sendiri mulai menyadari ada yang tidak beres. Tatapannya menajam. "Kita sudah menunggu terlalu lama." gumamnya,
"Mungkin Kyungsoo sedang sakit perut atau apa?" Minho berusaha menenangkan teman-temannya.
Tapi Suho menghela napas tak sabar, dia mengambil ponsel dan menelepon nomor Kyungsoo. Wajahnya memucat. "Ponselnya tidak aktif."
Dengan gerakan cepat dia melangkah ke arah kamar mandi perempuan itu. Tidak dipedulikannya seruan-seruan para perempuan yang sedang ada di sana.
"Maafkan saya." Suho menatap panik ke sekeliling ruangan. "Adakah yang melihat adik saya di sini?"
Tetapi Kyungsoo tidak ada. Pintu kamar mandi itu terbuka. Kosong. Dan hanya ada dua orang perempuan tak dikenal di depan wastafel, menatapnya mencela karena berani-beraninya melongok ke kamar mandi khusus perempuan.
Suho bergegas keluar, menghampiri Baekhyun dan Minho, jantungnya berdebar kencang,
"Kyungsoo tidak ada di kamar mandi itu. Dia tidak ada di mana-mana!"
Tubuh Kyungsoo yang tak sadarkan diri dibaringkan di atas ranjang.
Dia mengamati Kyungsoo, lalu menoleh ke arah anak buahnya. "Kapan dia akan sadar?"
"Mungkin sekitar satu atau dua jam lagi."
Dia tersenyum, "Bagus. Kau tunggui dia di sini. Begitu dia sadar, hubungi aku. Aku ingin ada di sini ketika dia membuka matanya."
TO BE CONTINUE
Huwaaa~
Maafkan author updatenya jadi lama banget.
Itu udah diupdate ya. Semoga suka.
Jangan lupa klik review, follow dan favoritenya.
Semoga update ke depannya bisa cepet
See you next chapter.
