SWEET ENEMY

Judul : Sweet Enemy Part 9 and 10

Author : Barbie (ot12barbiegirl)

Rate : T sampai M?

Casts : SUDO couple

Suho EXO

DO Kyungsoo

EXO Member

yang lain menyusul.

Warning : GS for some character,typo,crack!pair,OOC,don't like don't read.

STORY DON'T BELONG TO ME

REMAKE DARI NOVEL SANTHY AGATHA DENGAN JUDUL YANG SAMA

Jadi,di cerita aslinya ada empat cerita dari seriesnya.

Sweet Enemy ini cerita yang ke – 2.

Ini link cerita yang Perjanjian Hati (Xiuhan couple) :

s/12317589/1/PERJANJIAN-HATI

link You've Got Me From Hello (CHANKAI Couple)

s/12321743/1/YOU-VE-GOT-ME-FROM-HELLO

link FF Pembunuh Cahaya (Krishun couple) :

s/12335647/1/PEMBUNUH-CAHAYA

Oh iya di chapter ini ada cast tambahan yaitu Kang Sora (actress), Minhyuk BTOB sama Park Chorong A Pink

Enjoy ^^

PART 9

Darah lebih kental dari air… benarkah?

"Bagaimana mungkin kita bisa kehilangannya? dia ada di depan kita?" Suho mengacak rambutnya dengan frustrasi. Polisi sudah dihubungi dan mereka sudah memberikan keterangan. Suho juga sudah mengerahkan seluruh pegawainya untuk membantu pencarian. Mereka sudah melakukan pelacakan kepada semua teman Kyungsoo dan tidak ada titik terang. Lagipula Kyungsoo tidak punya teman, dia hanya dekat dengan Jongdae dan saat ini Jongdae masih belum bisa dihubungi.

Semua sudah dilakukan, tetapi Kyungsoo benar-benar tidak terlacak. Dia seperti lenyap di telan bumi tanpa sengaja.

Bagaimana kalau ada yang melukai Kyungsoo? Suho tiba-tiba merasakan ketakutan yang sangat dalam dari hatinya. Tidak! dia tidak bisa kehilangan Kyungsoo... entah kenapa di saat seperti ini, Suho baru menyadari bahwa dia... dia mungkin memiliki perasaan lebih kepada Kyungsoo.

Dan sekarang dia tidak tahu nasib Kyungsoo seperti apa dan dimana. Apa yang dilakukan penculik itu terhadapnya? Apakah mereka menginginkan uang? Kalau memang menginginkan uang, Suho pasti akan memberikannya, berapapun itu, demi Kyungsoo.

Dengan cemas dia menatap ke arah pesawat telepon. Polisi tampak lalu lalang di mansion itu, menunggu. Ya mereka menunggu telepon yang meminta tebusan. Biasanya kasus-kasus seperti ini akan disusul dengan telepon yang meminta tebusan. Tetapi mereka sudah menunggu beberapa jam. Dan telepon itu tak kunjung tiba.

Suho meringis, menahan nyeri yang tiba-tiba menyerang kepalanya. Seluruh pikiran buruk berkecamuk di benaknya. Bagaimana... bagaimana kalau ternyata para penculik itu tidak meminta uang tebusan? Bagaimana kalau yang diinginkan oleh penculik itu hanyalah mencelakai Kyungsoo?

Suho tersentak ketika ada yang menepuk bahunya, dia menoleh dan mendapati Baekhyun disana, lelaki itu tampak pucat pasi dan frustrasi seperti dirinya. Kenapa Baekhyun juga tampak begitu cemas? Apakah Baekhyun juga mempunyai perasaan lebih kepada Kyungsoo?

"Jongdae sudah bisa dihubungi."

Kata-kata Baekhyun itu membuat Suho lupa dengan kecurigaannya kepada Baekhyun, dia langsung berdiri, mendekati Baekhyun yang memasang loudspeaker pada ponselnya.

"Yeoboseyo?" suara Jongdae tampak menyahut di seberang sana

"Jongdae, ini aku Baekhyun. Apakah mungkin Kyungsoo datang padamu atau menghubungimu?"

Suara Jongdae tampak bingung, "Tidak. Kami tidak bertemu hari ini. Bukankah Kyungsoo sedang pergi ke taman hiburan bersama Suho?"

"Dia hilang Jongdae, sepertinya dia diculik."

"Mwo?" Jongdae terdengar terperanjat, "Bagaimana mungkin? Kenapa itu bisa terjadi?" Jongdae hampir berteriak, "Tadi pagi aku baru saja bercakap-cakap dengannya di telepon!"

"Dia diculik di kamar mandi, kami lengah dan sepertinya penculik itu menyergapnya di kamar mandi." Baekhyun menjelaskan dengan gelisah, "Saat ini kami semua sedang berkumpul di rumah Suho, bersama para polisi, kami menantikan kalau-kalau ada telepon meminta tebusan."

"Oh Astaga. Aku akan bergegas kesana." Jongdae berseru dengan nada panik, lalu menutup teleponnya.


Jongdae datang dengan segera. Perempuan itu tampak panik. Suho yang pertama kali melihatnya dan mengedikkan bahunya kepada Baekhyun.

"Kenapa dia ada di sini?"

Baekhyun melirik dari jendela ke arah Jongdae yang baru turun dari mobil dan melangkah menaiki tangga mansion, "Tadi aku meneleponnya untuk mengetahui dimana Kyungsoo berada... dia tidak tahu dan mencemaskan kondisi Kyungsoo, jadi dia ke sini untuk ikut menunggu perkembangan dari kepolisian."

Suho menatap Jongdae yang baru memasuki ruangan. Hujan rintik-rintik di luar dan membuat rambutnya yang berkilauan basah oleh air bagaikan berlian-berlian yang menghiasinya. Jongdae tampak cantik, dan dia juga baik kepada Kyungsoo.

Sebelumnya Suho sempat berprasangka buruk kepada Jongdae, mengira perempuan itu mempunyai rahasia terselubung dengan mendekati Kyungsoo apalagi mengingat sejarah masa lalu dia dan Jongdae dan segala hal tentang pembatalan perjodohan itu. Tetapi semakin lama Jongdae tampak semakin akrab dengan Kyungsoo dan mereka tampak baik-baik saja. Hingga Suho berkesimpulan bahwa mungkin Jongdae bahkan tidak tahu bahwa dia sempat dijodohkan dengan Suho dan kemudian dibatalkan oleh papa Suho. Mungkin Jongdae memang benar-benar tulus berteman dengan Kyungsoo.

Jongdae mendekati Suho, tampak panik. "Bagaimana ? apakah sudah ada kabar?"

Suho menggelengkan kepalanya, lalu mempersilahkan Jongdae duduk, 'Belum ada kabar... kami semua menunggu kalau-kalau ada telepon dari penculik itu meminta uang tebusan." Suho tersenyum pada Jongdae, "Terimakasih sudah datang, Jongdae."

Jongdae tersenyum lembut kepada Suho, "Kyungsoo adalah temanku, aku sangat mencemaskannya.'

Suasana kemudian penuh kegelisahan. Polisi sudah menelusuri kepada para saksi mata di taman hiburan. Tetapi penculik ini sepertinya profesional dan berhasil untuk tidak meninggalkan jejak apapun. Tidak ada sidik jari, tidak ada saksi mata, semuanya nihil

Suho sudah menelepon mamanya yang sedang berada di luar negeri, dan sang mama mengatakan akan segera pulang. Kyungsoo adalah anggota keluarga, dan keluarga Kim akan berusaha sebaik mungkin demi Kyungsoo.

Dada Suho terasa sesak dan pedih. Rasanya waktu seperti berjalan begitu lambat dan menyiksanya. Hanya duduk di sini menanti dan tak berdaya rasanya sungguh-sungguh menyakitkan. Kyungsoo mungkin saja sudah terluka di luar sana.

Kenapa penculik itu tidak menelepon?

Suho mengacak rambutnya frustrasi, menutup wajahnya dengan kedua tangannya.

Saat itulah ada tangan lembut yang meremas pundaknya, membuat Suho menoleh. Jongdae sudah pindah ke sofa di sebelahnya, meremas pundaknya lembut dengan senyum penuh dukungan,

"Aku tahu kita semua cemas. Tetapi kita harus kuat dan percaya bahwa Kyungsoo akan baik-baik saja. Jangan memikirkan hal-hal yang buruk dulu yah...kita berdoa sambil menunggu." bisiknya penuh pengertian.

Suho tersenyum muram dan menganggukkan kepalanya. "Gomawo Jongdae-ssi..."

Baekhyun memilih menyendiri di sudut yang lain. dia luar biasa panik, tetapi berhasil menyembunyikannya di balik sikap tenang dan topeng datarnya.

Kyungsoo, adiknya sendiri yang baru dia temukan, dan sekarang penculik kurang ajar itu malahan merenggut Kyungsoo dari sisinya. Baekhyun bersumpah, kalau dia bisa menemukan penculik itu dia akan menghajarnya habis-habisan.

Tetapi dimana? Baekhyun mengernyitkan dahinya. Sebenarnya dia sudah mempunyai firasat. Ketika dulu dia diam-diam mengamati Kyungsoo, dia selalu melihat ada mobil yang mengawasi dari kejauhan, semula dia berpikir bahwa itu adalah pengawal dari keluarga Kim yang mengawasi diam-diam. Tetapi lama kelamaan dia curiga. Karena itulah waktu itu dia selalu mengawal Kyungsoo sepulang dari kuliah dan menjaganya. Sayangnya ketika dia berusaha mengawasi dan melacak mobil misterius itu, dia kehilangan jejak. Lalu Kyungsoo sudah diantar jemput oleh supir pribadi keluarga Kim sehingga Baekhyun lengah.

Dan dia kehilangan Kyungsoo...

Baekhyun menghela napas panjang, dia tidak bisa berdiam diri terus di sini. Dia bisa gila. Dia harus melakukan sesuatu. Paling tidak dia tidak hanya duduk seperti orang bodoh dan menyerah kepada nasib.

Jongdae tersenyum dalam hatinya sambil mengamati Suho yang ada di dekatnya. Dia bisa memasuki mansion keluarga Kim, dan Suho telah menerimanya dengan baik. Dulu dia selalu merasakan kecurigaan Suho kepadanya, tetapi sepertinya sekarang kecurigaan itu sudah pudar, dan Jongdae akan lebih leluasa tanpa pengawasan dari Suho. Jongdae menahan seringai mengerikan yang muncul di mulutnya. Sekarang rencananya akan berjalan mulus...

Tetapi dia dulu harus mengatasi masalah ini. Hilangnya Kyungsoo harus diselesaikan dulu. Kalau tidak semuanya akan hancur dan rencananya yang disusunnya rapi akan berantakan...


Kyungsoo membuka matanya. Kepalanya terasa pusing dan berat, dan matanya terasa silau ketika langsung menatap cahaya lampu yang menerpa matanya, di atas ranjang.

Dia ada dimana...?

Kyungsoo berusaha menormalkan pandangannya yang remang-remang, Dan juga berusaha mengumpulkan kembali ingatannya. Kepalanya terasa berat sehingga pada awalnya dia agak kesulitan tetapi kemudian samar-samar dia menemukan gambaran itu di kepalanya.

Taman hiburan... kamar mandi... perempuan dengan baju yang terlalu rapi... lalu...Oh Astaga!

Kyungsoo terperanjat dan langsung duduk. Dia berada di kamar yang tidak dikenalinya... dimana dia? Matanya berputar dan langsung bertatapan dengan mata perempuan itu, yang duduk di kursi tak jauh dari ranjang. Perempuan itu masih memakai pakaian rapi yang sama, Kyungsoo baru sadar kalau pakaiannya mirip jas laki-laki, perempuan itu berdandan seperti pengawal pribadi atau bodyguard,

"Well... akhirnya kau bangun juga." Seringai yang tidak menyenangkan muncul di bibir perempuan itu. "Saatnya untuk reuni."

Lalu tanpa berkata-kata perempuan itu melangkah berdiri meninggalkan Kyungsoo. Ketika dia datang lagi, dia tidak sendrian tetapi bersama seseorang.

Kyungsoo menatap orang itu dengan tatapan bingung dan ketakutan. Menyadari bahwa dia disekap di sebuah ruangan asing oleh orang-orang yang tak dikenalnya. Menyadari bahwa dia mengalami apa yang dibicarakan semuanya, dia diculik!

Orang yang masuk bersama perempuan berbaju pengawal itu menatap Kyungsoo dan tersenyum manis, mengamati Kyungsoo dari atas ke bawah,

"Hello Kyungsoo." bisiknya lembut, "Sudah lama aku menunggu pertemuan ini."


Baekhyun akhirnya berdiri dengan kesal dari kursi itu, dia sudah tidak tahan lagi. Dia harus berbuat sesuatu atau detik demi detik itu akan menghancurkan kewarasannya dan membuatnya menjadi benar-benar gila.

Ketika dia berjalan dengan langkah cepat ke pintu, Suho sudah berdiri di belakangnya, menahan langkahnya, "Mau kemana Baekhyun?"

Suho sudah merasakan hal yang aneh dari tingkah laku Baekhyun, lelaki itu tampak kalut luar biasa, seakan hilangnya Kyungsoo sangat memperngaruhinya, tetapi kenapa? bukankah Baekhyun dan Kyungsoo tidak dekat?

Kecurigaan Suho muncul lagi, curiga bahwa Baekhyun jangan-jangan menyimpan perasaan lebih kepada Kyungsoo.

"Mau kemana?" Suho menyipitkan matanya, mengamati Baekhyun dengan seksama.

Baekhyun tampak gelisah, "Aku butuh berjalan-jalan sebentar."

Suho masih mengamati Baekhyun dengan dingin. "Kalau aku yang mencemaskan Kyungsoo itu wajar, karena dia sudah bagaikan anggota keluarga kami. Tetapi kau? Kau tampak begitu kalut Baekhyun, Apakah kau... menyimpan perasaan lebih kepada Kyungsoo?"

"Seharusnya kita tidak perlu membahas itu" Baekhyun mendesis. Membuat Suho semakin yakin, rasa cemburu merayapinya. Berani-beraninya Baekhyun menyimpan perasaan kepada Kyungsoo? Setelah Suho memperingatkan Baekhyun agar menjauhinya? Baekhyun adalah penghancur hati perempuan, dan Suho tidak mau Kyungsoo menjadi korbannya.

"Kalau aku berhasil menemui Kyungsoo nanti, aku tidak akan mengizinkan kau mendekatinya lagi."

Detik itu juga sebuah tinju melayang ke rahang Suho, tidak terduga hingga Suho tersentak mundur beberapa langkah. Dia menatap Baekhyun dengan marah, hendak menyerang, tetapi Jongdae berlari dengan panik dan memegangi Suho, mencegah Suho balas memukul.

"Sudah kalian hentikan! Aku tahu kalian panik dan bingung tetapi kalian harus bisa menjaga emosi kalian!" Jongdae berteriak, memegangi Suho kuat-kuat.

Suho bisa saja menyingkirkan Jongdae dan menyerang Baekhyun, tetapi kemudian dia mengurungkan niatnya. Dia memang marah Baekhyun memukulnya tanpa sebab, tetapi Jongdae benar, dia harus tenang karena saat ini mereka harus memprioritaskan Kyungsoo.

"Aku tidak tahu kenapa kau memukulku." Suho bergumam dingin. "Tetapi bagiku itu adalah pernyataan darimu. Mulai sekarang kau keluar dari kehidupan aku dan tidak berteman lagi."

Baekhyun malah terkekeh, membuat Suho mengernyitkan keningnya, "Menjauh dari Kyungsoo katamu? Siapa kamu sehingga berhak membuat keputusan itu? Kau bukan kakaknya." Nafas Baekhyun sedikit terengah ketika mengungkapkan kebenaran itu. "Aku kakak Kyungsoo. Kakak kandungnya. Dulu gara-gara kau keluarga kami tercerai berai. Dan sekarang hampir terjadi lagi... Aku bersumpah, Suho. Kalau Kyungsoo kembali, kau yang keluar dari kehidupan kami."

Suho terperangah, terkejut atas info yang sama sekali tidak disangkanya itu. Dia menatap Baekhyun dengan terkejut, berusaha mencari kebenaran di mata itu, dan menemukan sinar tegas di sana.

Suho baru akan bersuara ketika langkah-langkah panik mendekatinya, dia menoleh dan mendapati polisi yang menunggu di telepon mendatanginya,

"Tuan Kim! Penculik nona Kyungsoo menelepon, dia ingin berbicara langsung dengan anda!"


Perempuan cantik itu menutup telepon dan tersenyum dengan licik kepada pengawal perempuannya. Dia memang benar. Kyungsoo akan menjadi ladang yang subur untuk menghasilkan panen kekayaan baginya.

Dia minta dua milyar, dan tuan muda sombong di seberang sana langsung menyetujuinya tanpa membantah. Mungkin Kyungsoo memang mempunyai bakat menarik lelaki-lelaki kaya, sehingga Suho yang terkenal sangat sombong itu begitu panik dan seakan bersedia melakukan apa saja agar Kyungsoo dikembalikan. Hal itu mengingatkan dirinya pada masa-masa jayanya dulu, di waktu mudanya dimana semua lelaki kaya bertekuk lutur dikakinya, bersedia memberikan segalanya untuknya.

Dua milyar mungkin tidak berarti bagi keluarga Kim yang kaya raya itu... Pikiran tamaknya mengembara. Mungkin dia bisa menahan Kyungsoo sementara, demi untuk mendapatkan penawaran yang lebih tinggi.

Senyumnya makin melebar ketika menatap Kyungsoo yang sekarang sebelah lengannya diborgol di ranjang. Anak ini benar-benar akan menjadi ladang emasnya. Dia akan amat sangat kaya dan mendapatkan harta yang banyak.

Selama ini dia melupakan anak ini, anak kurus yang dibawa pergi suaminya ketika mereka berpisah. Dia menjalani kehidupan di luar negeri, berfoya-foya dengan kekayaannya hasil menjual Baekhyun dan melewatkan hidupnya dengan bersenang-senang, mengeruk harta dari lelaki-lelaki kaya yang berlomba-lomba untuk menjadi kekasihnya. Tetapi lama kelamaan, gaya hidupnya membuat bisnis yang dibangunnya di sana bangkrut usianya semakin menua sehingga tidak mampu lagi menarik hati lelaki, dan dia terpaksa kembali ke negara ini dalam kondisi pailit.

Lalu secara tidak sengaja dia menemukan halaman artikel tentang Kyungsoo, yang langsung dikenalinya. Kyungsoo sudah begitu beruntung sudah menjadi bagian dari keluarga Kim yang sangat kaya. Apalagi dari pengawasannya hubungan Kyungsoo dengan keluarga Kim, terutama dengan Suho, anak tunggal keluarga Kim, sangat baik. Otaknya langsung berpikir cepat. Kyungsoo bisa membantunya mendapatkan kekayaan kembali. Dia menjalankan rencananya dengan hati-hati, meski pada awalnya sempat terhalang oleh Baekhyun, anak lelakinya yang ternyata diam-diam menjaga Kyungsoo.

Baekhyun menjadi alternatif keduanya setelah Kyungsoo, kalau dia tidak berhasil dengan Kyungsoo dia sudah berniat menghubungi Baekhyun dan meminta uang, toh Baekhyun diadopsi keluarga kaya dan bisa hidup mapan juga berkat jasa-jasanya. Baekhyun seharusnya rela memberinya uang untuk membalas budi.

Dan ternyata rencananya berhasil. Suho akan memberinya uang. Uang yang banyak, cukup untuk berfoya-foya sebelum dia meminta lagi dan lagi.

Well...Tidak percuma dia dulu melahirkan Kyungsooo ternyata...


PART 10

Kyungsoo menatap perempuan itu yang sedang berdiri sambil tersenyum aneh kepadanya. Perempuan itu sangat cantik, tentu saja, meskipun sudah setengah baya. Pakaiannya berwarna merah mencolok dan dandanannya lumayan berani dengan warna-warna tak kalah terang.

Saat ini pengawal perempuan itu sudah memborgol tangannya di ranjang hingga Kyungsoo tidak bisa bergerak. Dia hanya diam tak berdaya di bawah tatapan perempuan itu.

"Kau tumbuh menjadi perempuan mungil yang cantik, Kyungsoo." Perempuan itu tersenyum manis sambil mengawasi seluruh penampilan Kyungsoo.

Sementara itu Kyungsoo mengernyitkan matanya, kenapa perempuan itu mengetahui namanya? dan dari kata-katanya yang mengatakan bahwa Kyungsoo tumbuh menjadi perempuan yang cantik... seolah-olah dia tahu tentang masa kecil Kyungsoo.

Tetapi siapa dia? Kyungsoo bahkan tidak punya ingatan sama sekali tentang perempuan ini. Kalau benar perempuan ini mengenal Kyungsoo di masa kecilnya, mungkin saja memang Kyungsoo tidak ingat. Kyungsoo melupakan semua kenangan tentang masa kecilnya, entah kenapa. Ayahnya juga tidak pernah menanyakan tentang itu, seolah ada tembok pembatas yang menutup antara Kyungsoo kecil dengan Kyungsoo yang sekarang, ingatan pertamanya di masa kecilnya adalah ketika ayahnya membawanya ke rumah mereka yang sederhana. Sejak saat itu, di dunia ini hanya ada Kyungsoo dan ayahnya. Ayahnya bilang mereka hanya tinggal berdua karena ibunya telah meninggal.

"Apakah kau mengenalku di masa kecilku?" Kyungsoo menatap perempuan itu dengan berani, "Kata-katamu seolah tahu bagaimana aku di waktu kecil."

Perempuan itu agak terkejut ketika mendengar pertanyaan Kyungsoo, dia lalu mengamati Kyungsoo dengan seksama, "Well... kau tidak ingat masa kecilmu ya? Kau tidak ingat aku?" perempuan itu menggeleng-gelengkan kepalanya, "Sungguh suatu kebetulan yang menguntungkan."

Apa maksud perempuan ini? Kyungsoo mengerutkan keningnya bingung, Tetapi rupanya perempuan itu tidak ingin membantu menjelaskan kebingungannya, dia malah berdiri, masih dengan senyum manisnya,

"Mungkin lebih baik kalau kau tidak ingat siapa aku, aku jadi lebih leluasa." dikedipkannya sebelah matanya, "Sementara kau bisa memanggilku Sora sampai kau ingat."

Lalu Sora pergi, meninggalkan Kyungsoo di kamar itu terkurung dan terborgol, tak bisa kemana-mana.


Setelah menerima telepon dari orang yang meminta tebusan itu, Suho menatap Baekhyun yang duduk di depannya dengan tajam, polisi sedang berkumpul di sisi yang lain mencoba melacak telepon itu dan juga suara peneleponnya, sementara Jongdae tadi meminta izin untuk ke kamar mandi. Sementara itu Minho ada di bandara untuk menjemput mama Suho yang sebentar lagi mendarat.

"Apa maksud kata-katamu tadi?"

Baekhyun hanya melirik ke arah Suho, lalu memalingkan mukanya, "Bukan apa-apa."

"Kau bilang kalau Kyungsoo adalah adikmu."

Mata Baekhyun menatap dengan tajam, "Dia memang adikku."

"Bagaimana bisa?" Suho memajukan tubuhnya, "Kau berasal dari keluarga kaya, dan Kyungsoo..."

"Aku adalah anak angkat." Baekhyun menjelaskan dengan dingin. "Kyungsoo adalah adik kandungku. Ya, kalau kau bertanya, Minjoon adalah ayahku, dari dialah aku menuruni bakat bermain biola. Kami dulu satu keluarga yang utuh, ayahku, ibuku, aku dan Kyungsoo." Tatapan Baekhyun berubah penuh kebencian. "Sampai kemudian ayah menyelamatkan seorang anak kecil dan kariernya hancur... dia tidak bisa bermain biola lagi, dan semua rencana masa depan keluarga kami musnah... ibuku meninggalkan ayahku dan membawaku pergi, memisahkan aku dari Kyungsoo yang dibawa oleh ayahku."

"Apa?" wajah Suho memucat mendengar penjelasan Baekhyun, matanya masih bersinar tidak percaya, "Oh.. Astaga..."

"Kau terkejut Suho?" Baekhyun tersenyum sinis, "Apalagi aku. Sejak awal aku sudah curiga Kyungsoo adalah adikku, dan aku mencari tahu. Semuanya jelas ketika kau menjelaskan bahwa kau berhutang budi kepada Kyungsoo karena ayah kami menyelamatkanmu." Baekhyun menyipitkan matanya, "Secara tidak langsung, kaulah yang memecahkan keluarga kami menjadi tercerai berai."

Suho meremas rambutnya dengan frustrasi, informasi ini sama sekali tidak disangka-sangkanya, Bagaikan hantaman yang mengejutkan.

"Dan aku bersumpah, Suho. Kau tidak akan bisa membuat kami terpisah lagi. Keyna adalah adikku, dan sudah saatnya aku mengklaim hak-ku sebagai kakaknya. Akulah yang berhak melindungi dan menjaganya, bukan kau. Dan kalau Kyungsoo kembali nanti, aku akan menjauhkan Kyungsoo darimu."

Suho masih tidak mampu berkata-kata. Tetapi bayangan Baekhyun akan menjauhkan Kyungsoo darinya membuat jantungnya terasa diremas. Tidak! dia tidak akan mau dijauhkan dari Kyungsoo. Tetapi... bagaimana kalau Kyungsoo yang pada akhirnya menjauhinya? Bagaimana kalau sama seperti Baekhyun sekarang, setelah mengetahui bahwa dialah yang menyebabkan mimpi dan karier Minjoon hancur hingga meninggal dalam kemiskinan, Kyungsoo akan membencinya dan menyalahkannya?

Suho belum sempat bersuara ketika polisi mendatanginya untuk memberikan informasi,

"Kami sudah mencoba melacak telepon itu, tetapi belum berhasil karena penculik menggunakan telepon sekali pakai, yang sekarang sudah tidak aktif lagi... sementara itu dari analisis suara, penculik mengubah suaranya tetapi kami bisa pastikan bahwa suara itu adalah suara seorang perempuan."

Suho dan Baekhyun sama-sama tertegun. Perempuan?


Jongdae berjalan pelan-pelan menelusuri lorong di lantai dua. Semua orang tampaknya sibuk di lantai bawah, sehingga lantai dua mansion ini tampak lengang. Dia membuka handel pintu dan mengintip, dari tadi dia belum menemukan kamar yang dicarinya.

Di pintu ketiga inilah dia menemukan kamar yang dicarinya, seringainya melebar dan setelah menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan bahwa tidak ada yang melihatnya, Sefrina melangkah masuk dan menutup pintu di belakangnya dengan hati-hati.

Di pandangnya seluruh area kamar itu dengan haus, lalu dia mengeluarkan kamera untuk memotret setiap sudutnya, siapa tahu pada malam-malam sepinya dia ingin melihat-lihat gambar kamar-kamar ini dan membayangkan pemiliknya.

Matanya mengarah ke arah lemari pakaian, dengan bersemangat dibukanya lemari pakaian itu, baju-baju tertumpuk rapi di sana. Jongdae menyentuhkan jemarinya ke seluruh pakaian itu, kemudian matanya melirik jaket yang tersampir di kursi. Diraihnya jaket itu dan dipeluknya, dihirupnya aroma itu dengan sepenuh kenikmatannya.

Lalu dia duduk di kursi itu dan menemukan parfum sang pemilik kamar. Dengan penuh gairah, diambilnya parfum itu dan dioleskannya ke leher, dan di antara buah dadanya.

Sekarang aroma mereka akan sama. Jongdae mencatat nama parfum itu dalam hati, berjanji akan membelinya nanti

Setelah itu dia melangkah keluar dari kamar dengan seringai puas, karena telah berhasil memasuki area paling pribadi orang yang sangat sangat diinginkannya...


Minhyuk datang beberapa saat kemudian menemui Sora. Minhyuk adalah pemuda dengan usia 15 tahun di bawah Sora, dia bekerja sebagai bartender di klub tempat Sora sering datang dan mereka akhirnya menjadi sepasang kekasih yang sangat cocok dalam memuaskan gairah masing-masing. Minhyuk jugalah yang memberinya ide untuk menculik Kyungsoo dan kemudian mereka akan membagi hasilnya bersama,

"Kau bisa pergi Chorong." Sophia mengayunkan tangannya menyuruh pengawal perempuannya pergi. Dia mendapatkan Chorong dari rekomendasi Minhyuk juga, meskipun perempuan, Chorong sangat ahli bela diri dan sangat mahir melakukan pekerjaan kotor lainnya seperti penculikan itu misalnya. Chorong bersedia bekerjasama kalau dia dibayar gajinya senilai 20% dari hasil penculikan itu, dan tentu saja Sora menyetujuinya, karena kalau dikurangi 20% pun, hasil penculikan itu masih cukup banyak kalau dibagi antara dia dan Minhyuk.

Setelah Chorong pergi, Sora menyilangkan kakinya dnegan menggoda, membuat Minhyuk meliriknya dengan bergairah, yah meskipun jauh lebih tua, tubuh Sora masih menggiurkan bagi setiap laki-laki yang melihatnya.

"Jadi kau sudah meminta uang seperti yang kita bicarakan kemarin?" mata Minhyuk masih melirik ke arah paha Sora, membuat Sora tersenyum puas,

"Aku memintanya dan mereka menyetujuinya tanpa protes, kita akan mendapatkan uang itu lusa."

Minhyuk terkekeh, "Jadi benar kalau Kim Joonmyeon sangat tergila-gila kepada anakmu ya?" matanya mengedip genit, "Tidak heran. Kau ibunya, juga selalu bisa membuat para lelaki tergila-gila, mungkin bakat itu menurun darimu."

Sora tertawa genit, "Mungkin juga. Tetapi aku jelas lebih cantik dari anak itu." Sora menyulut rokoknya dan duduk dengan santai, "Semua berjalan lancar, dan kita akan kaya sebentar lagi."

"Ya..." Minhyuk memajukan tubuhnya, "Tidakkah terpikir olehmu kalau kau bisa mendapatkan uang lebih?" matanya bersinar licik.

"Uang lebih?" Sora tampak tertarik, apapun yang berhubungan dengan uang dan kekayaan selalu menarik baginya, "Bagaimana caranya?"

"Baekhyun." gumam Minhyuk penuh arti, "Katamu dia sekarang jadi anak kaya dan pewaris tunggal ... tentu saja dia menginginkan adiknya kembali bukan?"

Sora mengerutkan keningnya, "Baekhyun memang selalu ada bersama Kyungsoo, itu dari pengintaianku.. tetapi sepertinya mereka tidak menyadari kalau mereka adalah kakak beradik."

"Kau bisa meneleponnya diam-diam, atau aku yang akan melakukannya supaya dia tidak curiga bahwa kaulah dalang di balik semua ini." Minhyuk menatap dengan membujuk, "Aku akan memberikan informasi kepadanya bahwa Kyungsoo adalah adiknya, dan melarangnya memberitahu Suho kalau aku menelepon, kemudian aku akan meminta sejumlah besar uang darinya untuk informasi keberadaan Kyungsoo, tentu saja aku akan mengatur agar dia mengetahuinya sama dengan Suho, jadi dengan begitu kita mendapatkan pemasukan ganda dari dua lelaki ini." Minhyuk terkekeh, "Ideku cukup bagus bukan?"

Sora mengernyitkan keningnya dan tercenung, dihisapnya rokoknya dalam-dalam, lalui dia membunuh rokok itu di asbak, dahinya mengernyit tidak setuju. "Tidak Minhyuk, aku tidak akan melakukannya, itu sama saja bunuh diri, Baekhyun akan menyadari bahwa dalangnya adalah aku dan rencana kita akan gagal."

Minhyuk menghela napas panjang dan mengangkat bahu, "Oke, aku tidak akan melakukannya kalau kau tidak setuju, sayang, aku cuma usul kok."

Sora menatap Minhyuk mesra, "Terimakasih sayang, lagipula uang tebusan kita sudah cukup banyak untuk kita bersenang-senang." matanya berubah sensual, "Kita bisa menyewa tempat pribadi dan bercinta seharian di sana."

Minhyuk balas tersenyum dengan sensual, tetapi benaknya berkecamuk.

Tidak. Uang itu tidak cukup, Minhyuk masih harus membaginya dengan Sora dan si pengawal itu. Dia harus mendapatkan uang lebih itu. Dan jikalau Sora tidak mau bekerjasama dengannya, dia akan bertindak sendiri, dia akan menghubungi Baekhyun dan meminta uang sebanyak mungkin, meskipun itu harus mengorbankan Sora...


"Kalian harus makan." Jongdae memarahi Suho dan Baekhyun yang menolak untuk makan, padahal koki mansion telah menyiapkan sejumlah makanan besar untuk menjamu mereka dan team polisi yang masih bertugas di rumah itu, menanti telepon selanjutnya. "Dalam kondisi seperti ini kalian harus kuat, kalau kalian tidak makan, kalian akan lemah dan mungkiin jatuh sakit."

Baekhyun tetap tak bergeming, hanya melemparkan tatapan dingin kepada Jongdae tetapi Suho tersenyum dan menatap Jongdae dengan berterimakasih,

"Terimakasih Jongdae, aku akan makan nanti."

Jongdae menganggukkan kepalanya dengan manis, "Kau tidak keberatan kan kalau kau menginap di sini? aku ingin mengetahui perkembangan kabar tentang Keyna secepat mungkin."

Suho balas menganggukkan kepalanya, "Tentu saja tidak, Jongdae, kau tinggal bilang kepada kepala pelayan dan mereka akan menyiapkan kamarmu."

"Aku tidak mau merepotkan.." suara Jongdae tampak ragu, "Bolehkah aku tidur di kamar Kyungsoo saja?"

Baekhyun langsung menegakkan tubuh dan menatap Jongdae curiga, tetapi tidak berkata apa-apa. Sementara itu Suho menatap Jongdae sambil mengerutkan alisnya, "Kenapa kau memilih tidur di kamar Kyungsoo?"

Mata Jongdae tampak sedih, "Aku merindukan Kyungsoo, dan aku mencemaskannya, mungkin dengan berada di kamarnya aku bisa lebih tenang, dan berdoa untuknya."

Suho masih menatap Jongdae bingung, tetapi kemudian dia menemukan ketulusan di mata perempuan itu, dia mengangkat bahunya, "Terserah kamu Jongdae, yang penting kau merasa nyaman."

"Terimakasih Suho." Mata Jongdae melebar dan berbinar, hal itu tak luput dari perhatian Baekhyun yang menatap curiga. Tetapi pikirannya terlalu kalut sehingga dia kemudian hanya memalingkan matanya ke arah lain dan menunggu.

Penculik itu menelepon beberapa jam setelahnya, menginformasikan cara pemberian uang itu. Uang itu harus tunai, dengan nomor seri acak dan dimasukkan ke dalam ransel warna hitam bermerk khusus, merk yang sangat terkenal di kalangan anak muda akhir-akhir ini.

Suho sendiri yang harus membawa ransel berisi uang itu, dan meletakkannya di sudut taman kota, dekat area olahraga, di sebuah tong sampah yang ada di sana.

Penyerahan uang itu lusa, tepat pukul sembilan pagi, dan tidak boleh ada polisi. Kalau penculik tahu ada polisi, maka Kyungsoo akan dibunuh,

Suho menyetujui semua itu, sehingga ketika polisi hendak mengiringinya untuk menyergap penculik itu, Suho menolak,

"Uang ini tidak masalah bagiku, yang penting Kyungsoo kembali."

"Tapi bagaimana kalau anda menyerahkan uang itu, ternyata penculik mengubah pikirannya dan tidak melepaskan nona Kyungsoo? sampai sekarang kita juga tidak tahu kondisi nona Kyungsoo bagaimana...apakah dia masih hidup, apakah kondisinya baik... setidaknya izinkan saya memasang pelacak di ransel itu."

Suho mengerutkan keningnya, bayangan Kyungsoo dilukai atau bahkan meninggal membuatnya ketakutan, "Lakukan apapun yang menurut anda perlu, tetapi berjanjilah anda tidak akan membahayakan keadaan Kyungsoo."


Gadis itu sedang tertidur pulas, Minhyuk mengintip dari pintu yang rupanya lupa dikunci, tadi pelayan mengirimkan makanan ke kamar ini, dan yang pasti lupa menguncinya, karena kuncinya masih tergantung di luar pintu, menggoda Minhyuk untuk membukanya. Lagipula pintu ini tidak perlu dikunci, kata Sora toh Kyungsoo sudah di borgol di ranjang sehingga kemungkinannya melarikan diri kecil.. Hari sudah menjelang malam dan ruangan ini sedikit temaram, tetapi mata Minhyuk masih bisa melihat kecantikan di wajah Kyungsoo yang sedang tertidur kelelahan karena seharian ini mencoba melepaskan diri dari borgol dan berteriak-teriak minta dilepaskan, tetapi sia-sia.

Dengan hati-hati dia melangkah masuk dan makin dekat di sisi ranjang. Wow... Kyungsoo memang cantik, dan masih ranum dan tubuhnya sangat muda dan segar.

Pikiran mesum langsung melintas di otaknya, Dia sangat ingin mencicipi tubuh ranum ini sebelum dikembalikan, rasanya pasti nikmat...

Dengan penuh nafsu Minhyuk duduk dipinggir ranjang, tangannya mengelus betis Kyungsoo.

Kyungsoo yang sedang tertidur langsung terjaga dan waspada. Matanya membelalak ketakutan ketika melihat lelaki yang tidak dikenalnya sedang duduk di tepi ranjangnya dan menyeringai mesum, dan jemari lelaki itu menggerayangi betisnya.

"Apa yang kau lakukan?" Kyungsoo berteriak panik, membuat lelaki itu ikut panik, dia berusaha membekap mulut Kyungsoo tetapi Kyungsoo meronta-ronta dan mencoba berteriak sekeras mungking, membuat lelaki itu kewalahan,

"Ada apa ini?" Sora muncul di depan pintu menatap curiga ke arah Minhyuk dan Kyungsoo, dia memakai jubah tidurnya dan tampaknya terbangun dari tidurnya.

Minhyuk tersenyum kepada Sora, "Aku hanya ingin melihatnya Sora... dan perempuan bodoh ini meronta-ronta entah kenapa..."

"Kau menggerayangi kakiku!" Kyungsoo berteriak keras membuat Sora menatap Minhyuk yang pucat dengan tatapan menuduh.

"Keluar dari kamar ini Minhyuk!" serunya marah, dan langsung dituruti Minhyuk yang segera keluar dari kamar itu.

Setelah itu Sor bearkacak pinggang dan menatap Kyungsoo dengan cemburu, "Kau memang lebih muda dariku. tapi kau tidak lebih cantik dariku, akulah yang paling cantik, jadi jangan seperti perempuan murahan yang menggoda kekasihku, mengerti?" Sora berteriak marah sebelum melangkah keluar dan membanting pintu itu dengan suara berdebum.

Ketika mengunci pintu itu dari luar, dia menatap Minhyuk yang menunggu di sana dengan tatapan bersalah.

"Kuharap kau tidak marah sayang, aku hanya ingin menggodanya." jemari Minhyuk terulur dan menelusuri pipi Sora dengan lembut.

Sora langsung mengibaskan tangan Minhyuk dengan marah, "Kau keterlaluan Minhyuk, menggoda anak itu hanya karena dia lebih muda." matanya menyala-nyala. "Kalau kau tidak bisa menjaga tanganmu, aku akan mengeluarkanmu dari rencana ini, aku akan menendangmu dan kau akan pergi tanpa sepeser uangpun!"

Lalu dengan langkah berderap, Sora pergi dan meninggalkan Minhyuk yang termenung dan menatap sampai sosok Sophia hilang di belokan lorong.

Tidak mendapatkan sepeserpun? Minhyuk menyeringai jahat, melirik ke arah kamar Kyungsoo yang sekarang terkunci rapat. Sora sangat bodoh berani-beraninya mengancamnya. Dia semakin berbulat tekad untuk mengambil jalannya sendiri.

Minhyuk lebih cerdik dan licik daripada Sora. Dia akan mengorbankan Sora dan yang pasti dia akan mendapatkan banyak uang.

Tengah malam ketika ponsel Baekhyun berbunyi. Dia dan Suho yang rupanya tertidur di ruang tamu tergeragap bersamaan.


Nomor itu tidak dikenal, Baekhyun mengernyit sementara Suho memperhatikannya dengan tegang Baekhyun lalu mengangkatnya,

"Halo Baekhyun." suara di sana terdengar licik dan menyebalkan, suara seorang laki-laki, "Kau mungkin kaget kalau mendapatkan informasi ini, tetapi Kyungsoo adalah adik kandungmu."

"Siapa ini?" Baekhyun langsung menyambar marah, membuat Suho memperhatikannya dengan seksama.

Suara di seberang sana terkekeh, "Kau tidak perlu tahu tentang aku...kalau kau ingin menyelamatkan adikmu, aku punya informasi yang berguna untukmu, tetapi tentu saja kau harus membayarnya di muka."

"Apa maksudmu?"

"Aku minta uang." Suara diseberang sana masih penuh senyuman, "Dan akan kuberitahukan dimana lokasi adikmu diculik. Aku akan mengubungimu lagi nanti."

Lalu telepon itu ditutup.

Baekhyun termangu, tetapi Suho menyadarkannya dengan pertanyaannya.

"Siapa?"

Baekhyun mengernyit. "Penelepon misterius, dia berkata akan memberitahukan posisi Kyungsoo asal aku memberinya uang."

Suho langsung menegakkan tubuhnya. "Apa?"

"Ya..." Baekhyun tercenung, "Dan anehnya dia memberiku info bahwa Kyungsoo adalah adikku.. tidak pernah ada orang yang tahu tentang hubungan kami ini, orangtua kami tidak punya saudara, bahkan tidak ada yang bisa melacak keberadaanku setelah aku diambil sebagai anak angkat, namakupun berubah... tidak ada yang bisa melacakku sebagai kakak Kyungsoo, kecuali..." Matanya menajam menatap Suho sungguh-sungguh, "Kurasa Suho... penculikan ini ada hubungannya dengan... ibuku."

TO BE CONTINUE