SWEET ENEMY
Judul : Sweet Enemy Part 11 and 12
Author : Barbie (ot12barbiegirl)
Rate : T sampai M?
Casts : SUDO couple
Suho EXO
DO Kyungsoo
EXO Member
yang lain menyusul.
Warning : GS for some character,typo,crack!pair,OOC,don't like don't read.
STORY DON'T BELONG TO ME
REMAKE DARI NOVEL SANTHY AGATHA DENGAN JUDUL YANG SAMA
Jadi,di cerita aslinya ada empat cerita dari seriesnya.
Sweet Enemy ini cerita yang ke – 2.
Ini link cerita yang Perjanjian Hati (Xiuhan couple) :
s/12317589/1/PERJANJIAN-HATI
link You've Got Me From Hello (CHANKAI Couple)
s/12321743/1/YOU-VE-GOT-ME-FROM-HELLO
link FF Pembunuh Cahaya (Krishun couple) :
s/12335647/1/PEMBUNUH-CAHAYA
Nyonya Kim datang menjelang pagi, dan mereka berkumpul bersama di ruang keluarga dengan tegang. Jongdae tampaknya belum bangun, lagipula ini masih jam empat pagi.
"Ibumu?" tatapan nyonya Kim melembut kepada Baekhyun, selama ini dia hanya tahu Baekhyun adalah anak rekan bisnisnya, dia tidak pernah tahu bahwa Baekhyun adalah anak angkat, dan kejutan terbesarnya adalah bahwa Baekhyun adalah kakak kandung Kyungsoo. "Sebelumnya aku ingin minta maaf kepadamu Baekhyun...sedikit banyak semua hal yang terjadi ini, yang membuat kau terpisah dengan keluargamu adalah karena Minjoon ayahmu menyelamatkan Suho dari usaha penculikan."
Baekhyun memalingkan muka, tampak murung.
"Kalau boleh saya tidak ingin membahas hal itu sekarang." Gumamnya tenang. "Tentang ibu kandung saya. Dia adalah perempuan yang tamak, sangat menyukai uang dan akan melakukan segalanya demi mendapatkan uang. Saya pikir dia pasti mendapat kabar bahwa Kyungsoo diangkat sebagai anak dari keluarga Kim. Sehingga dia pikir dia bisa mengambil keuntungan darinya. Saya yakin bahwa dialah dalang dari penculikan ini."
Para polisi sudah bertugas berdasarkan informasi Baekhyun ini untuk melacak keberadaan ibu kandung Baekhyun, sehingga mansion keluarga Kim tampak lengang. Hanya ada beberapa polisi yang berjaga, menanti kalau-kalau lelaki misterius yang barusan menelepon Jason memutuskan untuk menelepon lagi.
"Apakah ibumu sama sekali tidak pernah mencoba menemuimu?" tanya Nyonya Kim hati-hati.
Baekhyun tersenyum samar, "Menghubungi? Dia menjual saya demi uang, yang dia pakai untuk bersenang-senang di luar negeri. Waktu itu saya masih kecil dan tidak berdaya, tetapi setidaknya saya bersyukur karena keluarga angkat saya sangat baik." Suara Baekhyun hilang, ada kesedihan yang pekat di matanya.
Sementara itu Suho menatap Baekhyun dan menyadari karena itulah Baekhyun sangat membenci perempuan. Lelaki itu selalu bersikap lembut dan tenang, tetapi dia selalu menghancurkan hati perempuan manapun yang dipacarinya, semuanya pada awalnya selalu dibuai dengan kebaikan dan kelembutannya sehingga akhirnya tergila-gila, lalu kemudian Baekhyun menghancurkannya hingga hati para perempuan itu patah berkeping-keping. Suho bisa memahami perasaan Baekhyun, memiliki ibu kandung sekejam itu memang menyakitkan, Suho tidak bisa membayangkan kalau dialah yang dijual oleh ibunya sendiri.
Dan ternyata Baekhyun adalah kakak kandung Kyungsoo seperti yang dikatakannya tadi. Informasi itu sudah diterimanya sejak tadi tetapi baru bisa dicernanya sekarang. Diliriknya Baekhyun, dan menyadari ada kemiripan yang tak kentara diantara Baekhyun dan Kyungsoo, tiba-tiba hati Suho terasa sakit. Selama ini dia yang memposisikan diri sebagai kakak Kyungsoo dan menikmatinya. Sekarang seolah-olah posisi itu direnggut oleh orang yang benar-benar berhak dan dia kemudian dilempar begitu saja.
Rasa mencengkeram yang menyesakkan dada ini... Apakah dia cemburu?
Petugas polisi kembali dengan membawa kabar gembira, mereka telah berhasil melacak sebuah rumah yang disewa atas nama Sora, ibu kandung Baekhyun. Mereka sudah mengirimkan tim pengintai untuk mengawasi aktivitas rumah itu. Rumah itu adalah rumah sederhana yang terletak di ujung jalan, jauh dari tetangga, saat ini kondiri rumah itu sepi, dan sepertinya tidak ada kegiatan yang mencurigakan. Orang-orang nampaknya berada di dalam rumah. Dari hasil pengintaian, seorang lelaki tampak keluar masuk di pintu untuk merokok. Sora dipastikan ada di dalam rumah itu, dia terlihat dari jendela sedang menikmati sarapan yang sedang dihidangkan oleh pegawainya. Sepertinya hanya ada tiga orang di dalam rumah itu.
Baekhyun mengernyitkan kening ketika mendengar semua informasi itu, "Anda harus menyergap ke dalam rumah itu, saya yakin Kyungsoo ada di sana."
Petugas polisi itu menatap Jason dengan pandangan ragu, dia tentu saja tidak mau menyerbu dengan gegabah dan pada akhirnya menyerang orang yang tidak bersalah, "Bagaimana anda bisa yakin?" tanyanya.
Baekhyun tersenyum sinis ketika membayangkan ibunya, "Ibuku bukanlah orang yang mau tinggal di sebuah rumah sederhana, dengan hanya satu dua pelayan." Meskipun lama tidak bertemu ibunya, Baekhyun cukup yakin watak lama ibunya tidak akan berubah, sebenarnya dia merencanakan pembalasan, dia pernah mengirim detektif swasta untuk melacak ibunya. Dan detektif itu melaporkan bahwa ibunya terdampar di Las Vegas, hidup berfoya-foya meskipun hampir bangkrut. Setelah itu Baekhyun kehilangan jejak ibunya. Ternyata ibunya sudah ada di negara ini. "Kalau dia tinggal di rumah sederhana seperti itu, hanya ada satu kemungkinan, dia sedang bangkrut dan kalau dia bangkrut dia akan memikirkan segala cara untuk mendapatkan uang, Keyna adalah jalan termudah baginya." Dengan tak sabar Baekhyun bangkit dari kursinya, "Aku akan mengunjungi rumah itu kalau kalian tidak segera melakukannya."
"Aku ikut." Suho segera berdiri dari kursinya.
Petugas polisi itu menatap kedua lelaki di depannya berganti-ganti lalu menghela napas, "Saya akan mengatur strategi dulu dengan team kami untuk berjaga-jaga. Kalau memang nona Kim diculik dan disekap di sana, ada kemungkinan kalau penculik itu bersenjata. Dan anda berdua boleh ikut ke sana kalau anda berdua berjanji akan tinggal di dalam mobil demi keselamatan kalian."
"Kau harus makan. Kalau kau mati kami tidak akan mendapatkan uang." Chorong meletakkan mangkok makanan itu dengan kasar di meja dekat ranjang, lalu melirik tangan Kyungsoo yang tidak diborgol, "Makanlah."
Kyungsoo memajukan dagunya keras kepala, "Tidak." Dia tidak mau menerima makanan dari para penjahat ini, siapa yang tahu kalau makanannya mungkin sudah diracun atau yang lain? Kemarin saja dia dibius untuk dibawa kemari, siapa yang tahu apa yang akan dilakukan perempuan itu kepadanya? Lagipula Kyungsoo harus tetap waspada, dia merinding memikirlah lelaki berwajah mesum yang meraba-raba kakinya kemarin.
Chororong menatap Kyungsoo dengan marah, "Huh, dasar kau menyusahkan!" dengan marah dia membanting pintu kamar itu dan meninggalkan Kyungsoo sendirian di dalam.
Tak lama kemudian Kyungsoo mendengar suara gaduh yang membuatnya bingung, suara itu seperti barang beradu dan juga teriakan-teriakan yang bercampur aduk. Jantung Keyna berdegup kencang.
Ada apa di luar?
Lalu kenop pintunya diputar. Kyungsoo memandang pintu itu dengan waspada, melirik ketakutan ke arah pergelangan tangannya yang diborgol. Dia tidak akan bisa melarikan diri ke mana-mana...
Lalu pintu terbuka dan seorang lelaki berpakaian polisi masuk, membuat Kyungsoo lega luar biasa.
"Nona Kyungsoo?"
Kyungsoo langsung mengangguk dengan bersemangat, hampir saja dia berdiri dan hendak menubruk polisi itu saking leganya, tetapi kemudian mengaduh ketika pergelangan tanggannya tertahan oleh borgolnya.
Polisi itu mengerutkan keningnya ketika melihat tangan Kyungsoo diborgol, dia lalu membungkuk di sana dan mencoba membuka borgol itu dengan sebuah kawat kecil yang tersimpan di sakunya,
"Keadaan sudah terkendali, para penculik sudah berhasil diringkus, anda sudah aman." Polisi itu sudah berhasil melepaskan borgol Kyungsoo, "Anda bisa berjalan sendiri?"
Kyungsoo mengangguk, lalu dengan sempoyongan, dibantu oleh polisi itu mereka berjalan menuju ke bagian depan rumah.
Bagian depan itu sudah ramai, dengan beberapa mobil polisi di sana. Lelaki berwajah mesum itu, Chorong dan Minhyuk sudah ditangkap dan diletakkan di belakang mobil polisi. Sementara perempuan cantik bernama Sora itu masih berdiri diborgol di dekat mobil polisi, sedang dimintai keterangan. Kyungsoo menatap mereka semua dengan ketakutan, tetapi para penculik itu tampaknya sudah tidak bisa melukainya lagi.
"Kyungsoo-ya!"
Itu suara Suho yang memanggilnya, Kyungsoo menoleh dan mendapati Suho dengan tergesa keluar dari mobil, dengan disusul oleh Baekhyun di belakangnya.
"Suho oppa!" Kyungsoo lega luar biasa, setelah disekap dan ketakutan, melihat orang yang dikenalnya terasa sangat menyenangkan.
Suho setengah berlari menghampirinya, dan setelah didekatnya lelaki itu berdiri ragu, menatap seluruh diri Keyna seolah ingin menyerapnya.
"Kau tidak apa-apa?"
Kyungsoo menganggukkan kepalanya, dan sedetik kemudian, bahkan sebelum Kyungsoo menyadarinya, dia sudah dipeluk erat-erat oleh Suho. Aroma maskulin parfum Suho memenuhinya, dadanya yang hangat melingkupinya, sejenak Kyungsoo membeku dipeluk seerat itu oleh Suho.
"Oh Astaga aku mencemaskanmu." Suho bergumam lirih, lalu sejenak dia menjauhkan Kyungsoo dari tubuhnya, "Kau tidak apa-apa kan? Kau benar-benar tidak apa-apa?"
Kyungsoo menyelipkan rambutnya ke balik telinganya, masih merasa bingung akan pelukan dan kelembutan Suho, "Aku tidak apa-apa..."
"Tanganmu." Baekhyun yang tiba-tiba saja sudah ada di sebelah Suho dan Kyungsoo bergumam, tatapan matanya menajam menatap tangan Kyungsoo, dia meraih pergelangan tangan Kyungsoo dan menelitinya, "Pergelangan tanganmu merah dan luka."
Suho ikut melihat ke arah pergelangan tangan Kyungsoo dan matanya bersinar marah, "Apa yang mereka lakukan kepadamu, Kyungsoo?"
"Mereka memborgolku di ranjang." Kyungsoo meringis, "Laki-laki yang disana itu sempat meraba-raba kakiku, tetapi selebihnya mereka tidak berbuat apa-apa kepadaku."
"Apa?" Suho dan Baekhyun berseru bersamaan dengan marah, kedua lelaki itu bertatapan lalu melirik Minhyuk yang sudah siap di bawa ke kantor polisi,
"Aku akan membunuhnya." Suho mendesis tajam, membuat Baekhyunmengangguk tanda setuju.
"Kita bunuh dia nanti bersama-sama."
Kyungsoo menatap Suho dan Baekhyun berganti-ganti. Kenapa kedua lelaki ini mendadak jadi begitu perhatian kepadanya? Ada apa sebenarnya?"
"Kyungsoo! Baekhyun!" suara perempuan cantik itu berteriak memanggil, dia diborgol dan berusaha meronta dari pegangan polisi dan mencoba mendekati mereka, "Mama merindukan kalian sayang! Tidakkah kalian merindukan mama? Tegakah kalian melihat mama diperlakukan kejam seperti ini?" Sora berusaha berteriak-teriak menarik perhatian mereka.
Ekspresi wajah Baekhyun berubah dingin luar biasa ketika mengalihkan tatapannya kepada Sora. Tetapi perempuan itu tampaknya tidak peduli,
"Baekhyun? Kau ingat mama nak? Kau berhutang budi kepada mama, mamalah yang membuatmu bisa menikmati hidup berkecukupan seperti sekarang, sekaranglah saatnya kau membalas budi kepada mama."
Baekhyun hanya menatap Sora dengan pandangan merendahkan dan tidak peduli, lelaki itu mengalihkan tatapannya begitu saja membuat Sora panik dan sadar bahwa dia tidak akan bisa menarik perhatian Baekhyun, karena itu Sora mengalihkan pandangannya kepada Kyungsoo,
"Kyungsoo, sayang, ingat mama nak. Ini mama. Kakakmu Baekhyun memang tidak tahu terimakasih, tetapi kau tidak mungkin berbuat begitu kepada mama kan? Ini mama sayang, mama kandungmu!"
Kyungsoo terpaku mendengarkan kata-kata Sora. Mama kandungnya? Apa maksud Sora bahwa Baekhyun adalah kakak kandungnya? Dia menatap Baekhyun dan Suho berganti-ganti, berusaha mencari jawaban. Tetapi Baekhyun tetap memasang wajah dingin dan seolah menulikan telinganya dari teriakan-teriakan Sora, sementara Suho tampak diam dan tak tahu harus berkata apa.
Sora lalu dimasukkan paksa ke mobil polisi, perempuan cantik itu masih meronta-ronta dan berteriak mencoba menarik perhatian mereka, tetapi polisi tetap memasukkannya. Setelah itu mobil polisi itupun pergi membawa Sora.
Kyungsoo menatap ke arah Suho dan Baekhyun, memberanikan diri untuk bertanya,
"Apa maksudnya tadi itu?"
Baekhyun menghela napas, berusaha menyingkirkan kebencian di matanya ketika membayangkan Sora, "Apa yang dikatakan perempuan tadi benar." Baekhyun bahkan menolak menyebut nama Sora, "Dia adalah ibu kandung kita, dan kau adalah adik kandungku." Tatapannya menajam, "Dan sebagai kakakmu, aku berhak menentukan yang terbaik untukmu."
Baekhyun lalu menatap Suho dengan tatapan menantang, "Kyungsoo akan pulang ke rumahku."
PART 12
"Ikut denganmu?" Kyungsoo menatap bingung pada Baekhyun yang memasang tampang keras kepala. Suho sendiri tampak tersentak dengan kata-kata Baekhyun.
"Jangan main-main Baekhyun, Kyungsoo tinggal di rumahku dan akan kembali ke sana seperti semula." Suho merenggut tangan Kyungsoo dan setengah menyeretnya meninggalkan Baekhyun.
"Kyungsoo." Baekhyun tidak mengejar, hanya memanggil pelan. "Aku kakakmu. Tidakkah kau ingin mendengar kenangan masa kecil kita? Seluruh kenangan yang kau lupakan karena trauma mendalammu? Aku bisa membuatmu mengingat semuanya."
Kyungsoo tertegun. Membuat Suho berhenti menariknya. Mata Suho membara melihat keraguan Kyungsoo. "Jangan mimpi." Suho memberi isyarat kepada supir keluarga yang langsung mendekatkan mobilnya, dengan cepat di dorongnya Kyungsoo masuk ke dalam mobil, "Kau tetap pulang denganku."
Mobil itupun melaju, meninggalkan Baekhyun berdiri sendirian di sana.
Ketika mereka pulang, Jongdae ada di sana sedang bercakap-cakap dengan Nyonya Kim di ruang tamu, ketika menyadari Kyungsoo sudah dibawa pulang oleh Suho, Nyonya Kim langsung berdiri dan menyambut Kyungsoo.
"Kyungsoo." Dengan lembut Nyonya Kim memeluk Kyungsoo, "Polisi mengabarkan bahwa semuanya sudah selesai, syukurlah semuanya baik-baik saja."
Jongdae ikut berdiri dan menghampiri Kyungsoo lalu memeluknya erat-erat dengan cemas, "Kyungsoo syukurlah... aku cemas sekali." Wajah Jongdae pucat pasi, dia tampak benar-benar senang karena Kyungsoo pulang dengan selamat. "Mereka tidak memperbolehkanku ikut, jadi aku menunggu di sini."
"Terimakasih Jongdae." Kyungsoo tersenyum lembut. Dia ingin berterimakasih kepada semua orang yang mencemaskannya, tetapi saat ini dia sangat lelah, amat sangat lelah.
Suho sepertinya mengetahui bahwa Kyungsoo harus beristirahat, dihelanya tubuh Kyungsoo,
"Aku akan mengantarkan Kyungsoo ke kamar untuk beristirahat dulu."
"Biarkan aku saja..." Jongdae mencoba mengambil tangan Kyungsoo, tetapi Suho menepiskannya.
"Tidak Jongdae, terimakasih sudah ikut memberikan dukungan di sini. Mungkin kau juga lelah dan ingin beristirahat, ada kamar tamu yang tersedia untukmu. Aku yang akan mengantar Kyungsoo beristirahat."
Kyungsoo sudah terlalu lelah untuk berkata apapun, dia hanya menurut saja ketika Suho menggandengnya ke kamarnya. Tidak disadarinya tatapan Jongdae yang membara, menatap punggung mereka berdua dengan marah.
Suho mendudukkan Kyungsoo ke tepi ranjang dan mengambil kursi untuk duduk di hadapannya, diraihnya jemari Kyungsoo dengan lembut, dahinya mengernyit ketika melihatnya.
"Ini pasti terasa sakit." Gumamnya setengah marah. Kyungsoo hanya tersenyum lemah menanggapinya, dan dia menguap.
Suho terkekeh melihatnya, "Tunggu ya, jangan tidur dulu, biarkan kuobati dulu lukamu." Dia mengambil kapas dan antiseptik yang sudah disiapkan oleh pelayan, lalu mengoleskannya dengan lembut di pergelangan tangan Kyungsoo yang memerah, "Sakit ya?" bisiknya lembut ketika melihat Kyungsoo mengernyit, "Tapi ini akan sembuh dengan cepat."
"Terimakasih Suho." Kyungsoo mencoba tersenyum. Lalu dia merenung, "Perempuan yang menculikku itu, apakah dia benar-benar ibuku?"
"Jangan pikirkan itu dulu."
"Dan Baekhyun... benarkah dia kakak kandungku?"
Mata Suho langsung bersinar cemburu ketika Kyungsoo menyebut nama Baekhyun. Dia terdiam dan menunggu.
Sementara itu Kyungsoo tetap bergumam, tidak menyadari api yang menyala di mata Suho.
"Kakak kandungku... kenapa aku bisa melupakan bahwa aku mempunyai kakak lelaki? Kenapa kami dulu terpisah?" Kyungsoo mengangkat bahunya dengan malu kepada Suho, "Bahkan kaupun mungkin tidak akan menyangka kalau orang seperti aku bisa mempunyai kakak setampan Baekhyun..."
Suho langsung menarik Kyungsoo, tangannya yang masih menggenggam pergelangan tangan Kyungsoo menariknya supaya menempel di tubuhnya, dan tanpa peringatan, Suho mencium Kyungsoo. Lelaki itu mengecup bibirnya dengan lembut, dan ketika Kyungsoo masih terperangah kaget, Suho melumat bibirnya dengan sepenuh perasaan, menikmati manis dan lembutnya bibir Kyungsoo.
Lama setelahnya, Suho melepaskan ciumannya. Matanya bersinar lembut ketika menatap mata Kyungsoo yang melebar dan ternganga bingung. Jemarinya menyentuh bibir Kyungsoo yang memerah karena ciumannya yang bergairah,
"Kau cantik. Baekhyun pasti bangga memiliki adik secantik dirimu." Suho bergumam serak, lalu mengecup dahi Kyungsoo dengan lembut. Lelaki itu lalu menghela tubuh Kyungsoo supaya berbaring di ranjang dan menyelimutinya.
"Tidurlah sayang, lupakan semua kejadian kemarin, mulai sekarang aku akan menjagamu." Bisik Suho pelan, mengantarkan Kyungsoo ke dalam tidurnya.
Tidak mereka sadari bahwa semua kejadian itu dilihat oleh Jongdae yang mengintip di pintu. Matanya menyala penuh kebencian. Dia tadi datang pura-pura membawakan teh hangat untuk Kyungsoo, tetapi pemandangan inilah yang didapatnya.
Kurang ajar! Batinnya penuh kemarahan. Ini tidak boleh terjadi, ini semua melenceng jauh dari rencananya. Dia harus bisa memisahkan Suho dari Kyungsoo!
Pagi harinya Kyungsoo terbangun dengan kebingungan dan ingatan yang bercampur aduk. Semua kenangan kembali kepadanya secara serentak, penyelamatannya dari penculikan, Teriakan Sora yang mengatakan bahwa dia adalah ibu kandung Kyungsoo, kenyataan bahwa Baekhyun adalah kakak kandungnya. Semuanya berpadu menjadi satu... lalu... ciuman Suho
Apakah itu benar-benar terjadi atau jangan-jangan itu hanyalah khayalannya saja?
Tetapi kenapa Suho menciumnya? Kyungsoo menyentuh bibirnya dan pipinya terasa panas. Bibir Suho sudah menyentuh bibirnya... melumatnya...
Tanpa diduga pintu kamarnya terbuka, dan lelaki yang sedang dibayangkannya sudah berdiri di sana.
"Hai." Suho tersenyum lembut.
"Hai." Kyungsoo tersenyum, tiba-tiba dia teringat akan Jongdae yang menyambutnya kemarin tetapi Kyungsoo sudah terlalu lelah untuk menanggapinya, dia merasa menyesal karena sudah tidak sopan kepada Jongdae,
"Apakah.. apakah Jongdae masih menginap di sini?"
"Semalam dia berpamitan pulang..." Suho mengernyit dan memandang ke sekeliling, "Ketika kami masih menanti kabar tentangmu Jongdae menginap di rumah ini... tetapi meskipun ada banyak kamar tamu di mansion ini, Jongdae memilih tidur di kamarmu."
"Di kamar ini? Kenapa?"
"Aku tidak tahu. Suho mengangkat bahunya tiba-tiba baru menyadari akan keanehan perilaku Jongdae itu, "Dia bilang dia akan lebih tenang mendoakanmu kalau tidur di sini."
Jongdae tidur di kamar ini? Kyungsoo mengerutkan dahi dan merasa sedikit aneh. Tetapi kemudian dia berpikir bahwa apa yang dikatakan Jongdae mungkin ada benarnya, sahabatnya itu pastilah amat sangat mencemaskannya.
"Kau merasa lebih baik?" tanya Suho kemudian.
Kyungsoo berusaha menyembunyikan pipinya yang merona, dia menganggukkan kepalanya, "Aku sudah merasa lebih baik." Jawabnya pelan.
"Bagus." Suho melangkah duduk di kursi yang didudukinya kemarin, membuat ingatan akan ciuman itu menyerbut benak Kyungsoo, membuatnya semakin salah tingkah. Lelaki itu duduk dalam posisi yang sama, dihadapan Keyna yang sedang duduk di ranjang.
"Aku tahu ini terlalu pagi. Tetapi Baekhyun tadi menelepon dan mengatakan bahwa dia akan kemari untuk menjemputmu." Mata Suho bersinar sedih, "Dan aku tidak berhak melarangnya, semalaman aku berpikir keras, dan aku menyadari bahwa aku tidak boleh memisahkan kakak beradik yang sudah terpisah sekian lama, kalian pasti ingin bersama." Suho menghela napas panjang, "Tetapi sebelumnya ada yang ingin kukatakan kepadamu, kenyataan yang mungkin akan membuatmu menyalahkanku. Aku pikir aku harus mengungkapkannya kepadamu sebelum Baekhyun yang melakukannya."
Kyungsoo memandang Suho dengan bingung, "Kenyataan tentang apa? Dia menyuarakan pertanyaan di dalam benaknya.
"Tentang masa laluku, tentang masa lalu kita." Suho menatap mata Kyungsoo dalam-dalam. "Aku pernah mengatakan padamu bukan bahwa aku pernah mengalami percobaan penculikan di waktu kecil? Dan kemudian ada seorang lelaki yang menyelamatkanmu? Lalu aku mengatakan bahwa lelaki itu sudah meninggal?"
Suho memang pernah mengatakannya, tetapi apa hubungan itu semua dengan...
"Orang yang menyelamatkanku adalah ayahmu." Suho mengatakan dengan jantung berdetak kencang, "Ayahmu dulu adalah seorang pemain biola terkenal dan jenius, kau lihat bahwa bakatnya menurun kepada Baekhyun... sedang ayahku sangat tertarik dengan bidang musik klasik, mereka bersahabat... sampai kemudian seorang penculik berpisau mencoba membawaku dan ayahmu menyelamatkanku."
Ayahnya seorang pemain biola terkenal? Kyungsoo mencoba memahami informasi itu, berusaha menyatukan semua bayangannya dengan kenangannya tentang ayahnya, seorang buruh bangunan kasar dengan tangan penuh luka dan kapalan. Mana mungkin ayahnya pemain biola terkenal?
"Usaha menyelamatkan diriku telah merenggut bakat ayahmu." Suho seolah tahu apa yang ada di benak Kyungsoo, "Pisau penculik itu mengenai sarafnya sehingga dia tidak bisa bermain biola lagi..." Suho menghela napas panjang. "Dan ayahmu kehilangan masa depannya. Dia kehilangan keluarganya... semuanya berawal dari diriku."
Selesailah sudah. Suho mengernyitkan keningnya, mengamati wajah Kyungsoo yang pucat pasi. Apakah Kyungsoo akan membencinya? Apakah Kyungsoo akan menuduhnya sebagai penghancur keluarganya? Bisakah Kyungsoo memaafkannya?
Berbagai pikiran berkecamuk di benak Suho, membuatnya merasa ngeri. Perasaannya kepada Kyungsoo telah bertumbuh menjadi sesuatu yang asing dan takut untuk dia akui. Tetapi setelah ciuman semalam itu dia tidak bisa menyangkalnya lagi. Suho mencintai Kyungsoo, dan dia takut kehilangannya, dia tidak akan tahan kalau Keyna membencinya.
"Kyungsoo?" Suho akhirnya bertanya ketika Kyungsoo hanya diam dan terpaku. "Apakah kau membenciku?"
Kenapa Kyungsoo tidak mengatakan sesuatu kepadanya? Jantung Suho makin berdebar, menanti apapun reaksi dari Keyna. Apapun reaksi itu dia akan menerimanya, dia sudah siap menerima cacian, tamparan bahkan mungkin ditinggalkan, tetapi sikap diam Kyungsoo ini bukanlah apa yang diharapkannya.
Kemudian seorang pelayan mengetuk pintu dengan hati-hati, membuat Suho menoleh dengan kening berkerut,
"Ada apa?"
"Tuan Baekhyun menunggu di bawah." Gumam pelayan itu memberitahu.
Suho langsung beranjak, menatap Kyungsoo yang masih terdiam, dengan sedih dia menyentuhkan jemarinya di pipi Kyungsoo, "Kau boleh marah padaku kalau kau mau." Gumamnya lembut, "Aku tunggu di bawah ya."
Lalu Suho melangkah pergi, meninggalkan Kyungsoo yang masih termenung dalam kebingungannya.
Semua kenangan itu tiba-tiba menyeruak kembali di dalam benaknya, kejadian di malam hujan dan badai itu ternyata bukan mimpi. Semua itu nyata. Teriakan-teriakan di tengah hujan itu adalah teriakan ibunya yang mencaci maki ayahnya, mengancam akan meninggalkannya. Dan lalu... anak lelaki kecil itu.. itu Baekhyun kakaknya, yang kemudian direnggut paksa oleh ibunya. Kyungsoo berteriak-teriak memanggil kakaknya, tetapi dia didorong oleh ibunya sampai terjatuh dan ditolong ayahnya. Baekhyun menjerit-jerit memanggil Kyungsoo dalam gendongan ibunya, tetapi sang ibu tetap tidak menghiraukan teriakan mereka. Baekhyun dan Kyungsoo dipisahkan dengan paksa.
Kenangan akan masa itu begitu traumatis sehingga Kyungsoo kecil menenggelamkan semua ingatannya dalam-dalam, menyimpannya jauh di dalam memorinya dan menganggapnya tidak pernah terjadi. Ayahnya mengetahui itu dan membiarkannya, berpikir bahwa lebih baik Kyungsoo lupa semuanya sehingga bisa melangkah ke kehidupan baru tanpa kenangan masa lalu yang menyakitkan.
Lalu semua kenangan itu kembali secara samar ketika Kyungsoo bertemu dengan Baekhyun untuk pertama kalinya, mendengarkan permainan biola lelaki itu. Sekarang setelah ingat semuanya, Kyungsoo tahu kakaknya sangat berbakat bermain biola, menuruni bakat ayahnya. Kyungsoo kecil selalu menunggui Baekhyun ketika kakaknya itu berlatih biola, Baekhyun selalu memainkan lagu apapun yang diminta Kyungsoo setelahnya. Hidup mereka dulu terasa begitu bahagia, bisa berdua.
Sampai kemudian pertengkaran itu terjadi dan ibunya memutuskan bahwa ayahnya tak pantas lagi pemicu pertengkaran itu pastilah kecelakaan yang mematikan saraf jemari ayahnya, yang membuatnya tidak bisa bermain biola lagi dan kehilangan masa depannya yang cerah.
Dan semua itu terjadi karena ayahnya menyelamatkan Suho... Kyungsoo merenung, mencoba menelaah semua kenyataan itu di dalam benaknya. Lalu setelah menghela napas panjang, Kyungsoo melangkah turun menuju ke arah Suho dan Baekhyun.
Ketika Kyungsoo masuk, Suho dan Baekhyun langsung menoleh bersamaan, kedua lelaki itu tampak sedang berbincang-bincang dengan serius.
"Kyungsoo?" Baekhyun bertanya lembut, menatap adiknya dengan penuh kasih sayang, "Kau sudah merasa baik?"
Kyungsoo menatap wajah Baekhyun, untuk pertama kalinya menyadari bahwa lelaki ini adalah kakaknya, untuk pertama kalinya dia menatap wajah Baekhyun sebagai wajah kakaknya, wajah yang sama, hanya versi dewasa dari kakak kecilnya dulu yang sangat menyayanginya. Mata Kyungsoo berkaca-kaca.
"Baekhyun...oppa... " suara Kyungsoo terdengar serak
Seketika itu juga Baekhun menyadari bahwa Kyungsoo sudah ingat, bahwa seluruh kenangan mereka di waktu kecil sudah bisa Kyungsoo ingat, Baekhyun langsung melangkah tergesa, sejenak berdiri ragu di hadapan Kyungsoo, lalu menarik Kyungsoo ke dalam pelukannya,
"Kyungsoo...adikku." Dipeluknya Kyungsoo erat-erat seolah akan meremukkannya. Oh ya Tuhan. Setelah sekian lama, setelah mencari dan putus asa, akhirnya Baekhyun bisa memeluk Kyungsoo lagi dalam rengkuhan lengannya. Matanya terasa panas, dan kemudian ikut larut dalam air mata haru yang ditumpahkan Keyna di dadanya.
Semua kenangan menyakitkan tentang perpisahan mereka yang dipaksakan itu musnah sudah, digantikan oleh kebahagiaan karena pertemuan indah itu, pertemuan kakak dan adik yang sudah lama terpisah.
Sementara itu Suho menatap Baekhyun dan Kyungsoo yang sedang berpelukan itu dengan perasaan campur aduk.
TO BE CONTINUE
