SWEET ENEMY

Judul : Sweet Enemy Part 13 END

Author : Barbie (ot12barbiegirl)

Rate : T sampai M?

Casts : SUDO couple

Suho EXO

DO Kyungsoo

EXO Member

yang lain menyusul.

Warning : GS for some character,typo,crack!pair,OOC,don't like don't read.

STORY DON'T BELONG TO ME

REMAKE DARI NOVEL SANTHY AGATHA DENGAN JUDUL YANG SAMA

Jadi,di cerita aslinya ada empat cerita dari seriesnya.

Sweet Enemy ini cerita yang ke – 2.

Ini link cerita yang Perjanjian Hati (Xiuhan couple) :

s/12317589/1/PERJANJIAN-HATI

link You've Got Me From Hello (CHANKAI Couple)

s/12321743/1/YOU-VE-GOT-ME-FROM-HELLO

link FF Pembunuh Cahaya (Krishun couple) :

s/12335647/1/PEMBUNUH-CAHAYA

PART 13 END

Lama setelah mereka menumpahkan perasaan, Kyungsoo mendongakkan kepalanya dan menatap Baekhyun, matanya penuh air mata, tetapi kemudian Baekhyun mengusapnya dengan jemarinya, dengan penuh rasa sayang.

"Apakah Sora itu adalah ibu kandung kita?" Kyungsoo teringat perempuan cantik yang selalu berdandan dan pergi ke pesta-pesta, tidak pernah ada di rumah dan meninggalkan Kyungsoo dan Baekhyun kecil di tangan para pembantu. Dia tahu bahwa ibunya dulu tidak mempedulikan mereka, tetapi dia tidak menyangka kalau ibunya setega itu menculiknya hanya demi harta.

"Dia memang bukan ibu yang punya hati." Baekhyun mengernyit sedih. "Kau tahu kenapa aku membenci perempuan? Karena aku membencinya. Dia menjualku hanya demi uang untuk bersenang-senang di luar negeri. Aku harap setelah ini kita tidak akan perlu berurusan dengannya lagi."

Kyungsoo menutup mulutnya dengan tangannya dengan jemarinya, dia tidak pernah menyangka ibunya sekejam itu, hari itu dia dan Baekhyun dipisahkan dengan paksa. Kyungsoo berpikir bahwa ibunya memang ingin membawa Baekhyun, tetapi ternyata ibunya hanya menganggap Baekhyun sebagai aset yang bisa mendatangkan uang untuknya.

Suho yang sejak tadi hanya diam dan mengamati pun mengernyit ketika mendengar kisah itu lagi. Ibu macam apa yang tega menjual anaknya demi uang? Ibu macam apa yang tega menyandera anaknya sendiri demi tebusan? Well Suho memang belum pernah menemui hal semacam ini, tetapi dia menemukannya dalam kasus Kyungsoo dan Baekhyun. Tiba-tiba saja dia merasa beruntung, meskipun ibunya selalu sibuk dan jarang punya waktu, setidaknya ibunya selalu menjaganya.

Suho berpikir mungkin ini waktu yang tepat untuk menyela,

"Aku tidak mau mengganggu reuni kalian." Suho memilih menatap Baekhyun, masih tidak berani menghadapi kenyataan di mata Kyungsoo, dia tidak siap kalau perempuan itu ternyata menatapnya penuh kebencian. "Apakah kau datang kemari untuk menjemput Kyungsoo?"

Baekhyun mengangguk, dan meskipun sudah melepaskan pelukannya, dia tetap merangkul Kyungsoo dengan posesif,

"Aku sudah berbicara dengan orang tuaku. Orang tua angkatku." Gumamnya mengoreksi dengan senyum miris, "Mereka tidak keberatan aku membawa Kyungsoo tinggal di rumahku, mereka malah senang karena selama ini tidak ada anak perempuan di rumah. Dan aku pikir, aku adalah satu-satunya keluarga Kyungsoo yang tersisa, kami harus tinggal bersama."

Suho menghela napas panjang, "Aku tidak berhak melarang sebuah keluarga untuk bersatu." Gumamnya pedih, "Maafkan aku atas semua kejadian di masa lalu yang memporak-porandakan keluarga kalian."

Baekhyun menatap Suho lama, lalu tersenyum kecut, "Tidak apa-apa Suho, tanpa adanya kejadian itu, keluargaku mungkin tetap akan porak poranda, ibuku adalah manusia jahat, entah bagaimana caranya dialah yang menjadi penyebab utama hancurnya keluarga kami, bukan kau."

Sebuah maaf. Suho memejamkan matanya, lega mendengarkan jawaban Baekhyun itu. Lalu kemudian dia melirik ke arah Kyungsoo, perempuan itu menunduk dan tidak menatap matanya, membuat Suho kecewa.

"Kurasa kau mungkin ingin mengemasi pakaianmu." Baekhyun menyentuh siku Kyungsoo lembut, membuat Kyungsoo mengangguk dan melangkah pergi dari ruangan itu.

Lama kemudian Baekhyun dan Suho saling bertatapan,

"Dia membenciku. Aku menceritakan semuanya tadi pagi, dan dia membenciku." Gumam Suho pedih, menatap ke arah pintu dimana tubuh Kyungsoo menghilang.

"Pada awalnya pasti begitu." Baekhyun bergumam memaklumi, "Aku juga begitu pada awalnya, tetapi kemudian aku memahami bahwa semua itu bukan karena salahmu, seperti yang kukatakan tadi, dengan atau tanpa adanya dirimu, keluarga kami pasti akan hancur." Baekhyun tersenyum tenang dan mengulurkan tangannya, "Kuharap setelah ini kita bisa berdamai dan bersahabat seperti semula."

Suho membalas uluran tangan itu, "Pasti Baekhyun."

Lalu mereka melangkah duduk di sofa, dan Baekhyun mengamati kegelisahan Suho.

"Kau memikirkan Kyungsoo?"

"Dia bahkan tidak mau menatapku." Suho merenung.

Baekhyun terkekeh, "Sepertinya kau jatuh cinta kepada adikku."

Suho tidak menjawab, tetapi tidak juga membantah, dia menatap Baekhyun dengan tatapan menantang, "Apakah kau akan menghalanginya?"

"Tergantung."

"Tergantung apa?" sela Suho penasaran

"Tergantung seberapa besar niatmu untuk membahagiakannya."

"Sangat." Suho menjawab dengan tulus, "Aku tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya dengan perempuan manapun."

"Dan aku tidak pernah melihatmu seperti ini dengan wanita manapun." Baekhyun tersenyum, menyadari ketulusan Suho. "Kalau begitu semua tergantung Kyungsoo."

Baekhyun dan Suho tidak menyadari, bahwa Kyungsoo masih berdiri di balik pintu. Mendengarkan percakapan mereka dengan jantung berdegup kencang.

Apakah maksud dari percakapan ini? Apakah Suho mencintainya? Pemikiran itu membuat dadanya membuncah oleh perasaan hangat.

Setelah tas Kyungsoo siap, pelayan memasukkannya ke mobil Baekhyun. Nyonya Kim sedang ada urusan bisnis sehingga Kyungsoo berpamitan dan mengucap terimakasih melalui telepon, berjanji akan berkunjung segera setelah urusan bisnis Nyonya Kim selesai.

Baekhyun berdiri di depan Suho di pintu, mengamati betapa kikuknya Suho dan Kyungsoo, lalu mengangkat bahunya geli.

"Well, aku akan menunggu di mobil kalau kalian ingin berpamitan." Gumamnya pelan sambil tersenyum dan melangkah menuju mobil hitamnya di parkiran.

Sementara itu Suho menatap Kyungsoo dalam-dalam,

"Hati-hati, ya." Gumamnya pelan, sepenuh perasaannya, ada yang hilang di dalam hatinya ketika mengetahui bahwa Kyungsoo tidak akan tinggal di rumahnya lagi, tidak akan pulang ke rumahnya lagi.

"Iya." Kyungsoo menjawab kaku, "Selamat tinggal." Gumamnya cepat-cepat, lalu membalikkan tubuhnya dan setengah berlari ke mobil, meninggalkan Suho.

Suho sendiri hanya terperangah ditinggalkan begitu saja, dia menatap Kyungsoo dengan pedih, lalu membalikkan tubuhnya hendak memasuki rumah, tidak tahan melihat punggung Kyungsoo makin menjauh.

Sementara Kyungsoo setelah beberapa langkah merasa ragu. Dia membalikkan tubuh, dan melihat punggung Suho yang sudah berbalik hendak memasuki rumah,

"Suho!" serunya, lalu sebelum Suho sempat membalikkan tubuhnya, Kyungsoo berlari ke arah Suho dan menubruk tubuhnya dari belakang, memeluknya erat-erat, membuat Suho terpana.

"Terimakasih sudah menjagaku selama ini." Bisik Kyungsoo pelan, membuat jantung Suho berdegup liar. Lelaki itu langsung membalikkan tubuhnya, dan memeluk Kyungsoo erat-erat.

"Kau memaafkanku? Kau tidak menyalahkanku karena semuanya?" Suho berbisik di atas puncak kepala Kyungsoo, jemarinya lalu mendongakkan kepala Kyungsoo supaya menghadapnya, Kyungsoo sedang tersenyum, menatapnya dengan malu-malu,

"Semula aku memang terkejut." Kyungsoo tersenyum ragu, "Tetapi kemudian aku sadar bahwa itu semua bukan salahmu."

Suho memejamkan matanya lega, "Syukurlah." Dengan lembut di sentuhnya dagu Kyungsoo dengan jemarinya, "Tahukah kau bahwa setiap waktu yang kuhabiskan bersamamu, membuatku semakin mencintaimu?"

Kyungsoo menggelengkan kepalanya, pipinya merona merah, "Aku tidak tahu... bagaimana mungkin seorang kau bisa jatuh cinta kepadaku?"

Suho memutar bola matanya, "Seorang aku?" gumamnya geli, "Kau seolah menganggap aku ini alien atau apa. Aku semula bertekad menjadi kakakmu, yang bisa menjagamu dengan baik. Tetapi kemudian aku menyadari ada sesuatu yang lebih." Pelukan Suho makin erat, "Apakah kau juga merasakan hal yang sama untukku?"

Apakah dia merasakan hal yang sama? Kyungsoo terpaku. Ya. Dia selalu merona kalau membayangkan Suho. Bukankah itu artinya dia memiliki perasaan yang lebih kepada lelaki ini?

"Aku tidak tahu... tetapi sepertinya aku menyukaimu."

"Menyukaiku?" Suho mengernyit menggoda, "Aku mengatakan bahwa aku mencintai dan tergila-gila kepadamu, tetapi kau mengatakan bahwa kau hanya menyukaiku?"

"Eh... aku tidak tahu." Kyungsoo mengalihkan tatapannya, tidak tahan dengan pandangan tajam yang dilemparkan Suho. Sikap itu membuat Suho merasa gemas, dia lalu mengecup dahi Kyungsoo, turun ke hidungnya, lalu ke bibirnya,

"Mungkin ini bisa membuatmu memutuskan." Suho menundukkan kepalanya, lalu melumat bibir Kyungsoo dengan penuh cinta. Kyungsoo otomatis merangkulkan lengannya di leher Suho, membalas ciumannya.

Mereka berciuman dengan penuh perasaan di teras rumah itu, lupa akan sekeliling mereka, dan baru terpisah ketika klakson mobil Baekhyun berbunyi,

"Apakah kalian akan terus-menerus berciuman dan membuatku menunggu di sini?" teriak Baekhyun jengkel dari jendela mobilnya.

Suho dan Kyungsoo tertawa, masih berdekatan dengan bibir terasa panas bekas ciuman mereka. Suho mengecup dahi Kyungsoo lagi dengan lembut, lalu melirik ke arah mobil Baekhyun.

"Sebaiknya dia tidak usah pindah dari sini."

Baekhyun langsung mengeluarkan kepalanya dari jendela, "Dengan kau yang mencintainya? Tidak, aku tidak akan membahayakan kesucian Kyungsoo dengan membiarkannya tinggal di sini, siapa yang tahu kalau kau memutuskan akan menyerangnya malam-malam?"

Suho merengut mendengar perkataan Baekhyun, "Aku tidak akan melakukan hal serendah itu." Nada tersinggung dalam suaranya membuat Kyungsoo tertawa.

Tetapi rupanya Baekhyun sudah bertekad bulat, "Kau boleh mengajak Kyungsoo tinggal bersamamu setelah kau menikahinya. Sebelum itu dia tinggal bersamaku, dan kau hanya bisa mengunjunginya dengan sopan di ruang tamu." Jawab Baekhyun keras kepala.

Kyungsoo tertawa, menatap Baekhyun dalam senyuman, "Sebaiknya aku pergi."

Suho menganggukkan kepalanya, mengecup jemari Kyungsoo sebelum melepaskannya, "Aku akan datang berkunjung. Setiap hari." Bisiknya mesra sambil menatap Kyungsoo penuh tekad, membuat pipi Kyungsoo memerah. Ketika Kyungsoo meninggalkan rumah itu, hatinya sungguh berbunga-bunga.


"Suho menyatakan cinta kepadamu dan sekarang kalian berpacaran?" suara Jongdae agak meninggi di seberang sana dan membuat Kyungsoo mengernyit. Dia tadi segera menelepon Jongdae untuk mengabarkan bahwa dia sudah pindah ke rumah Baekhyun, kemudian karena perasaannya begitu bahagia, dia menceritakan semuanya kepada Jongdae, ingin berbagi kepada sahabatnya.

Tetapi tanggapan Jongdae sama sekali tidak diduganya, dia mengira Jongdae akan tertawa dan menggodanya, alih-alih yang didengarnya adalah nada tinggi seperti... Kemarahan?

"Apakah... Kau tidak setuju, Jongdae?" tanya Kyungsoo hati-hati.

Sejenak suasana di seberang sana terdengar hening, lalu kemudian Jongdae tertawa, "Aku cuma kaget Kyungsoo, aku sangat bahagia mendengarnya. Selamat ya," gumamnya dalam gelak tawa, membuat Kyungsoo merasa lega.

Dilain pihak, ketika Jongdae menutup percakapan dengan Kyungsoo, dia sudah tidak bisa menahan diri lagi, matanya nyalang membakar dan hidungnya kembang kempis terengah-engah. Dia berteriak keras-keras memenuhi seluruh rumah. Dengan marah dibantingnya seluruh barang di kamarnya, membuat suara gaduh yang menakutkan, apalagi diiringi dengan jeritan dan teriakan-teriakan yang mengerikan.

"Aku akan membunuhmuuuuu...!"


Suho sedang menyelesaikan pekerjaannya di depan komputer ketika salah seorang pelayan mengetuk pintunya, dia mengernyit.

"Ada tamu untuk anda Tuan, Nona Jongdae ingin bertemu anda di ruang tamu."

Kerutan di dahi Suho semakin dalam. Jongdae? Ingin menemuinya? Mungkin pelayannya salah dengar, mungkin yang ingin ditemui oleh Jongdae adalah Kyungsoo, apakah Jongdae belum tahu bahwa Kyungsoo sudah pindah dari mansion ini?

Benak Suho langsung menghangat ketika membayangkan Kyungsoo. Dia sudah merindukan Kyungsoo padahal baru setengah hari mereka berpisah. Tetapi tidak apa-apa, beginilah pasangan yang sehat seharusnya. Saling merindukan.

Suho tiba-tiba teringat tentang Jongdae dan memutuskan untuk menemui perempuan itu.

Sesampainya di ruang tamu, dia melihat Jongdae sudah duduk di sana. Jongdae tampak sangat cantik dengan pakaian yang sangat rapi dan dandanan yang sempurna, penampilannya tenang dan anggun, tetapi sayang, dia bukan tipe Suho, hati Suho sudah terpikat pada Kyungsoo dan dia bersyukur ayahnya dulu membatalkan pertunangannya dengan Jongdae.

"Hai." Suho duduk di depan Jongdae, menatap perempuan itu dengan ramah, "Pelayanku bilang kau ingin menemuiku, mungkin dia salah dengar? Kalau kau mencari Kyungsoo dia sekarang tinggal di rumah Baekhyun, kau pasti tahu kalau Kyungsoo adalah adik kandung Baekhyun bukan?"

"Aku tahu." Jongdae tersenyum samar, "Kyungsoo pasti bercerita kepadaku, dia selalu berbagi semua denganku. Aku kesini untuk menemuimu Suho."

"Menemuiku? Tentang apa?"

"Kau pasti tahu bahwa kita sudah ditunangkan sejak kecil." Jongdae tersenyum lembut, "Lalu pertunangan itu dibatalkan secara sepihak oleh ayahmu. Aku bukannya ingin menyalahkan ayahmu atau apa, lagipula aku tidak merasakan pengaruhnya ada atau tidak ada pertunangan itu. Bahkan ketika aku kembali ke negara ini aku sama sekali tidak peduli dan tidak memikirkanmu, sampai kemudian aku bertemu dengan Kyungsoo dan baru tahu bahwa dia tinggal bersamamu, tetapi itupun tidak masalah untukku, kuharap kau jangan merasa tidak enak."

Suho tersenyum hangat, "Aku senang kau membahasnya Jongdae, pembatalan pertunangan itu memang terasa mengganjal di antara kita, apalagi kau adalah sahabat Kyungsoo... Dengan begini mungkin kita bisa meluruskan semuanya dan menghilangkan rasa tidak enak."

Jongdae menganggukkan kepalanya, "Oke. Tapi masih ada satu hal lagi, aku pikir kau pasti tidak tahu kenapa ayahmu membatalkan pertunangan itu secara sepihak."

"Kenapa?" Suho mengernyitkan keningnya, merasa ingin tahu.

Tiba-tiba senyum Jongdae tampak mengerikan, perempuan itu mengeluarkan benda berkilau dari tas tangannya yang ternyata adalah sebuah pisau daging ukuran kecil yang tampak sangat tajam.

"Karena aku gila." Jongdae menyeringai sambil mengacungkan pisau itu. "Aku didiagnosa menderita kegilaan turunan, seperti ibuku yang mati bunuh diri karena gila, ibuku bukan mati karena kecelakaan, dia mati karena kegilaannya mendorongnya melompat di tangga. Aku tidak sakit, selama ini papa mengurungku ke luar negeri karena malu kepadaku. Tetapi aku pandai berakting dan bersikap baik, sehingga akhirnya papa luluh dan membiarkanku pulang ke negara ini dan bersekolah di sekolah umum." mata Jongdae menyala, "Lalu aku melihat Kyungsoo dan jatuh cinta pada pandangan pertama, aku mendekatinya dan yakin bahwa dia juga mencintaiku. Dia mencintaiku!" Jongdae mulai menjerit, "Tapi kau lalu datang mengganggu. Kalian semua laki-laki hanya pengganggu, aku akan membunuhmuuuuu...!" Jongdae berteriak keras seperti auman hewan liar, lalu berdiri dan mengacungkan pisaunya ke arah Suho yang masih duduk terperanjat.


Kyungsoo sedang berusaha menyesuaikan diri di rumah Baekhyun. Kedua orangtua Baekhyun sangat baik dan menyempatkan diri menyambut Kyungsoo, tetapi mereka juga orangtua yang sibuk, sama seperti papa dan mama Suho. Baekhyun mengantarkannya ke sekeliling rumah supaya dia terbiasa, dan ternyata sudah menyiapkan kamarnya, kamar yang cantik dan feminin yang sangat Kyungsoo sukai.

"Kuharap kau kerasan tinggal di sini." Baekhyun tersenyum lembut sambil menyiapkan biolanya. Dia selalu berlatih setiap hari. Bedanya dulu dia berlatih dalam kesendirian, sekarang ada Kyungsoo yang menungguinya.

Tiba-tiba telepon di rumah mereka berbunyi. Baekhyun yang mengangkatnya, dia tampak bercakap-cakap, lalu mendadak wajahnya berubah serius, ketika menutup telepon, dia langsung mengajak Kyungsoo.

"Kyungsoo kita harus ke rumah Suho segera, ada hal serius di sana."

Baekhyun tidak mengatakan apa-apa tentang Suho, membuat Kyungsoo panik setengah mati, benaknya panik memikirkan segala kemungkinan. Apakah ada kebakaran? Ada perampokan? Ada kejahatan? Apakah Suho sakit?

Akhirnya mereka sampai di rumah Suho, di sana tampak ramai banyak mobil diparkir, salah satunya ambulans dan mobil polisi, Kyungsoo dan Baekhyun langsung berlari menghambur ke mansion itu segera setelah mereka turun dari mobil.

"Kyungsoo! Sayangku!" teriakan yang sangat dikenal Kyungsoo mbuatnya terpaku bingung. Itu Jongdae, tetapi bukan Jongdae yang biasanya. Perempuan itu dipegangi oleh dua orang paramedis yang setengah berusaha menyeretnya keluar, Jongdae yang ini tampak berantakan, rambutnya acak-acakan dan matanya nanar, dia menatap Kyungsoo seperti orang mabuk, "Aku sudah membunuh Suho, dia penghalang cinta kita, sekarang kita bisa saling mencintai... Sekarang kita bebaaass..." paramedis itu berhasil menyeret Jongdae keluar dibantu rekannya, sementara Jongdae masih terus mengoceh tidak karuan.

Kyungsoo merasa ngeri atas pemandangan di depannya. Kenapa Jongdae seperti itu? Dan dia bilang dia sudah membunuh Suho? Jantung Kyungsoo berdebar kencang tidak karuan, dengan langkah tergesa dia menuju ke dalam mansion.

Napasnya langsung lega melihat Suho duduk di sofa, sedang dirawat oleh paramedis, sementara Baekhyun ada di sampingnya. Lengannya tampak terluka oleh bekas sayatan dan sedang di perban.

"Suho!" Kyungsoo bergumam cemas, berjongkok di depan Suho, "Kau tidak apa-apa? Dan kenapa Jongdae seperti itu? Diakah pelaku semua ini?"

Suho terkekeh, "Ternyata dia gila, dia gila dan dia berhasil menyembunyikannya dengan baik." Suho menatap Kyungsoo lembut, "Sebenarnya aku sudah curiga sejak lama ketika mengetahui bahwa Jongdae mendekatimu." Dia berdehem pelan, " Jongdae eh... adalah mantan tunanganku di masa kecil..."

"Tunangan?" Kyungsoo dan Baekhyun bergumam bersamaan, merasa bingung.

"Ya.. tetapi entah karena alasan apa, papaku membatalkan pertunangan itu... kurasa dari kata-kata Jongdae tadi, sepertinya papaku membatalkan pertunangan itu karena tahu tentang penyakit Jongdae." Mata Suho tampak sedih, "Dia bilang dia gila... karena itulah dia diasingkan di luar negeri oleh papanya."

Karena itulah Jongdae tidak suka membicarakan penyakitnya. Kyungsoo langsung terkenang ke percakapan mereka waktu itu.

"Apakah dia kembali karena ingin menemuimu? Bekas tunangannya?" Kyungsoo langsung menarik kesimpulan, "Aku.. karena merasa Jongdae sahabatku langsung meneleponnya dan menceritakan hubungan kita." Pipinya kali ini benar-benar merah padam. "Mungkinkah Jongdae cemburu dan memutuskan untuk menyerangmu?"

Suho tampak geli sendiri, "Jongdae memang cemburu, tetapi tidak seperti yang kau pikirkan. Dia bilang dia bahkan tidak memikirkan pertunangan kami di masa kecil, Jongdae jatuh cinta kepadamu Kyungsoo. Dan dia merasa aku ini penghalang, jadi dia berusaha menyerangku. Beruntung aku dibekali ilmu bela diri yang cukup, hasil usaha papaku untuk menghindarkanku dari percobaan penculikan, dan ternyata kemampuan itu terpakai juga." Suho menatap menyesal ke arah luka di lengannya, "Tetapi memang susah menghadapi perempuan gila yang nekad.

"Jongdae jatuh cinta pada Kyungsooo?" Kali ini Baekhyun yang berseru, lelaki itu tampak begidik, "Pantas aku selalu merasa ada yang aneh tentangnya, aku tidak pernah menyukainya meskipun dia selalu berusaha tampil manis di luarnya. Ada sesuatu di dalam dirinya yang membuatku merinding. Apalagi ketika dia meminta tidur di kamar Kyungsoo malam itu. Aku merasakan sesuatu yang ganjil."

"Aku juga, tetapi aku melupakannya begitu saja, aku pikir dia benar-benar mencemaskan Kyungsoo." Suho menghela napas panjang,

Kyungsoo masih tertegun, shock atas semua yang terjadi. Jongdae... dia tidak menyangka kalau Jongdae seperti itu. Oh Astaga. Jongdae mencintainya? Jongdae sebenarnya gila? Dia bahkan tidak punya firasat sedikitpun tentang hal itu.

"Lain kali hati-hati kalau memilih teman." Goda Suho lembut ketika melihat Kyungsoo masih merenung karena shock, hal itu membuat Baekhyun yang mendengarnya ikut terkekeh.

Kyungsoo tersenyum malu, "Aku pikir... aku terlalu senang sehingga tidak waspada, karena hanya Jongdae yang mau berteman denganku. Lagipula selama persahabatan kami dia benar-benar baik... aku tidak menyangka bahwa dia ternyata seperti ini." Gumam Kyungsoo dengan nada menyesal.

"Aku tahu." Suho mengulurkan tangannya dan memberi isyarat supaya Kyungsoo mendekat, Kyungsoo langsung melakukannya. "Mungkin memang pada awalnya Jongdae ingin berteman denganmu, tetapi kemudian semuanya berubah menjadi kegilaan yang mengerikan, menurutku dia memang labil dan harus dirawat."

"Semoga dia baik-baik saja." Kyungsoo mendesah, bayangan Jongdae yang ditarik petugas paramedis ke dalam mobil membuatnya merasa kasihan. Jongdae begitu cantik, begitu sempurna penampilan luarnya, kenapa dia harus berakhir seperti itu?

"Tenang saja, mamaku sudah menelepon papa Jongdae, dia akan menjemput Jongdae di rumah sakit. Aku rasa papa Jongdae akan membawanya kembali ke luar negeri."

"Mungkin itu yang terbaik." Baekhyun menggumam, "Menurutku dia belum sepenuhnya sembuh, sangat berbahaya kalau dia berinteraksi dengan orang-orang dan kemudian tidak dapat menahan emosinya seperti kejadian barusan." Baekhyun melirik luka di lengan Suho, "Untung saja kau tidak apa-apa."

"Aku akan meminta mama untuk mendesak papa Jongdae agar membawanya kembali ke luar negeri," Suho menyetujui, "Kalau tidak bisa berbahaya bagi Kyungsoo." Suho menatap Kyungsoo dengan lembut. Pipi Kyungsoo memerah menerima tatapan itu, tatapan penuh cinta yang intens dan tidak disembunyikan lagi, dulu dia bahkan tidak bisa menebak apa yang ada di dalam benak Suho , lelaki itu selalu memasang tampang datar dan tidak terbaca tetapi kemudian, ketika memutuskan untuk membuka hatinya, Suho tidak tanggung-tanggung, lelaki itu dengan terang-terangan menatap Kyungsoo penuh cinta, hingga membuat Kyungsoo salah tingkah.

"Jangan menatapnya seperti itu." Baekhyun yang bergumam, "Kau akan membuatnya makin memerah seperti kepiting rebus."

Suho tertawa, tetapi Kyungsoo benar-benar memerah seperti kepiting rebus. Lalu lelaki itu memeluk Kyungsoo dengan sebelah tangannya yang tidak terluka, tidak mempedulikan Baekhyun yang cemberut melihatnya,

"Aku tidak melihatmu baru sebentar dan sudah merindukanmu."

Kyungsoo menatap Suho sambil tersenyum, "Aku juga, Suho."

"Aku tidak merindukanmu sama sekali Suho." Baekhyun menyela, berusaha mengganggu pasangan itu, membuat Suho meliriknya dengan mencela

"Apakah kau tidak punya kegiatan lain selain mengganggu kami?" gumam Suho ketus.

"Tidak." Baekhyun mendongakkan dagunya, menantang,

Suho mendengus, lalu dia memutuskan mengabaikan Baekhyun dengan memeluk Kyungsoo erat-erat.

"Semoga setelah semua musuh dikalahkan, tidak ada lagi yang menghalangi kita."

Baekhyun mengeluarkan suara mencibir yang sengaja dikeraskan, membuat Kyungsoo tersenyum geli.

Berapa bahagianya dirinya, memang banyak musuh yang mengintai diam-diam, dia juga hampir celaka dan sedih memikirkan bahwa pelakunya adalah ibunya sendiri. Tetapi setidaknya semua kejadian itu membawanya kepada ujung yang membahagiakan, Kyungsoo bisa bertemu kakak kandungnya yang tak bisa dibantah lagi amat sangat menyayanginya, dan dia bisa menemukan Suho, lelaki yang sangat dicintai dan mencintainya.

Dia punya Suho, dia punya Baekhyun, Rasanya hidupnya begitu lengkap, dan dia tidak ingin apa-apa lagi.

THE END