Pan-pankapan! Ini dia Chapter 2! (^O^)7

Selamat membaca, semua! (^U^)/

All character belong to Hiromu Arakawa-sensei *\(*∀*)/*

Summary :

Mereka hanya anak-anak, jangan jadikan mereka senjata. Jangan perlihatkan 'neraka' lebih awal kepada mereka.

Cerita sebelumnya :

Roy Mustang POV

Aku, Roy Mustang, seorang Lieutenant Colonel biasa, mencoba untuk menghapus dosaku yang begitu besar, bahkan tidak bisa ditebus dengan apapun, menyesalinyapun juga tak berguna.

Suatu hari, aku mendapat tugas untuk mencari State Alchemist yang hebat, yang dalam visualku, berarti sama dengan mencari seorang bawahan yang dapat kupercayakan.

Apakah takdir akan membawaku bertemu dengan orang yang tepat? Does fate ever exist?


Chapter 2

Brotherhood

"Hughes..."

"Iya Roy?" Hughes mengalihkan pandangannya dan melihatku.

"Sebenarnya untuk apa kita ke sini?"

Aku melihat sekelilingku, semuanya bunga dan bunga..dan bunga. Ia bilang akan membicarakan sesuatu hal yang penting dan mengajakku keluar, tapi kenapa toko bunga?

"Apa kau ingin menghabiskan hari Mingguku yang indah untuk hal bodoh ini hah..?"aku melihat Hughes dengan wajah sesuram mungkin, ia kaget dan mundur satu langkah dariku.

"..ti-tidak! Aku sudah bilang kan, aku akan berbicara sesuatu yang sangat genting..!"wajah Hughes berkeringat dan berusaha menenangkanku. "Aku perlu bantuanmu Roy, aku mohon.." Hughes menatapku dengan pandangan memaksa (dari visualku), aku hanya mengeluh dan tak bisa menolaknya.

"Apa yang harus aku lakukan..?"tanyaku, sambil meraih silver watch yang ada di kantong. "Aku ada janji jam 4 nanti, buat hal ini cepat."lanjutku gusar.

"Ayolah Roy..apa sikapmu begini pada teman seperjuanganmu, hah.."Hughes menatapku dan kubalas dengan tatapan tajamku yang tidak bisa diajak kompromi. "Ba-baiklah..aku tahu kau sangat populer dengan banyak wanita, Roy..walaupun hingga sekarang kau tidak bisa memilih satu yang pasti.."aku menjadi sangat jengkel mendengar hal itu. Hughes tersenyum dan bicara lagi. "Aku ingin melamar Gracia malam ini tapi aku benar-benar gugup bahkan tidak tahu apa yang harus kubawa nanti!" Hughes mengepalkan tangannya sambil berteriak. Hal itu cukup untuk membuat semua pengunjung toko bunga tersebut melihat ke arahnya.

"Jadi apa hubungan semua hal itu dengank—"

"Please!" Hughes menarik bajuku dan mengambil sesuatu dari kantongnya. Sebuah kotak kecil berwarna biru yang aku yakin isinya adalah sebuah cincin. "Aku tidak yakin ini cukup.."bisiknya. "Aku diberitahu Havoc, semua wanita menyukai bunga,kau tahu.."

"Lalu, apa yang—"

"Bantulah aku memilih bunga yang tepat, bodoh! Aku tidak pernah membeli bunga sebelumnya!" Hughes mengcengkeram jasku dan berteriak seperti orang bodoh. Benar-benar aneh orang ini, pikirku.

"Masalah kecil seperti itu tak usah dibesar-besarkan, Hughes!"aku menatapnya jengkel. "Lavender, Mawar Pink, Zinnia, Anyelir belang..dan sentuhan terakhir..Anemone." kataku lalu berjalan dan meninggalkan Hughes. Hughes tersenyum senang sekali.

"Kau memang sahabat terbaikku, Ro—"

"Mawar Pink dan Zinnia lambang persahabatan." Lanjutku, sambil melewatinya. "Lavender lambang ketidak percayaan, Anyelir belang lambang penolakan lalu Anemone.."aku masuk kedalam mobil dan menutup pintunya. "...lambang mudahnya kehancuran terjadi.." aku tertawa terbahak-bahak sambil meninggalkan Hughes yang mengumpatku di toko bunga itu.

Kemarin malam, aku mendapatkan telpon dari Madam Christmas tentang pencariannya. Aku benar-benar penasaran hingga tak bisa tidur kemarin. State Alchemist seperti apa yang ia temukan untukku..

" Selamat sore, Madam." Aku membuka pintu bar dan melihat Madam Christmas sedang minum anggur di meja bar.

"Ah..Roy-chan.."ia menaruh botol anggurnya dan mengambil berkas-berkasnya dari meja. "Kau benar-benar membuatku bekerja super keras minggu ini.."lanjutnya sambil mebolak-balikkan berkas tersebut.

"Maafkan aku, Madam. Hal ini penting sekali untukku. Akan kutambahkan bayarannya nanti."kataku sambil tertawa.

"Kau memang tambang emasku,Roy! Hohohoho!"tawanya lalu melihat berkas yang dibawanya. "Albert Christopher, 53 tahun dari south, mampu memproduksi senjata, spesialis dalam menembak dan membunuh."

"Aku sudah punya satu."jawabku datar.

"..hmm, Karina Beatrice dari south-east, Alchemist listrik, dalam catatan ini dikatakan ia pernah membakar seluruh rumah tetangganya." Kata Madam.

"Tidak masalah, umurnya?"

"72 tahun."

"..."

Tak terasa sudah 2 jam berlalu, entah sudah berapa nama yang dibacakan Madam Christmas. Selalu saja ada kekurangan dari kemampuan Alchemist itu semua!

"Apa kau gila, Roy? Kau selalu bilang 'terlalu tua!', 'terlalu lemah!','dia tidak cocok jadi bawahanku!','Apa orang itu benar-benar Alchemist?'..apa kau ingin mencari yang benar-benar sempurna,hah? Semua yang hebat sudah keluar dari Army kau tahu!" Madam berteriak kesal lalu meneguk anggurnya.

"...tolong bacakan lagi madam, itu belum semua, bukan?"aku yakin pasti ada satu orang yang hebat dari semua nama itu.

"...ini..." madam melihat kertas itu sejenak dengan tatapan senang.

"Apa? Ada apa dengan yang itu?"aku berusaha mengambil berkas yang ia pegang namun Madam menghindari jangkauanku.

"Yang ini umurnya tak jauh beda denganmu, Roy!"Madam Christmas lalu akhirnya memberikan kertas itu padaku. "Itu yang terakhir, maaf saja, Alchemist hebat di negeri ini sudah banyak yang pensiun dari Army!"katanya sambil melempar berkas itu. Aku lalu membacanya.

"Edward Elric, 31 tahun, Resembool.."aku mengepalkan tanganku. "Ini umurnya beda jauh denganku! Aku belum kepala tiga! "

"Tapi wajahmu itu seperti sudah 30-an lho, Roy-chan.."kata Madam Christmas terkekeh. "Tapi...apa kau yakin? Kudengar Resembool adalah tempat yang sangat damai dan indah..akan butuh perjuangan untuk membujuk mereka menjadi state alchemist.."

"Tidak ada salahnya mencoba.."aku mengambil berkas itu, memberi amplop uang padanya, lalu bersiap pergi. "Terima kasih, madam..oh ya, titip salamku untuk Vanessa dan yang lainnya!"

"Vanessa dan yang lainnya sudah melupakanmu!" jawab madam Christmas jengkel


"Boleh saya tahu kenapa anda memanggil saya selarut ini, Sir?" Riza melihatku dengan tampang datar..datar sekali hingga aku bisa melihat urat nadinya berkerut.

Semoga ia tidak membawa senjatanya..

"I-iya...hahaha, ma-maafkan aku, Riza..! Kita bukan di kantor jadi, tolong..Mustang saja."

"Baiklah, Mustang. Sebelumnya aku ingin memberi peringatan kepadamu karena ini sudah pukul 10 malam lewat dan kau memaksaku untuk bangun dari tidurku dan pergi ke kafe bodoh ini.."katanya dengan cepat lalu meneguk tehnya. "Apa ini sesuatu yang penting?"

"Aku ingin kau menemaniku pergi ke Resembool besok."jawabku sambil meminum latte. "Kita akan bertemu calon State Alchemist termuda yang akan menjadi junior baruku!" Riza bahkan tidak berekspresi apapun setelah aku dengan bangganya mengatakan itu.

"Kelihatannya kau senang sekali, Mustang."wajah Riza benar-benar datar dan aku baru sadar kalau ia sedang badmood. "Baiklah, setelah semua dokumen di kantor selesai, kita berangkat ke Resembool."

Te-tega sekali wanita ini

"Te-tentu, Riza.."aku menelan ludahku dan mengangguk. "Kau tidak akan pernah mendapat teman kencan jika sifat mu seperti itu terus.."

"Hmm..benarkah.."Riza berdiri dan merapikan rambut blonde pendeknya. "Buktinya ada yang mengajakku satu malam ini.."lanjutnya lagi. "Terima kasih sudah mentraktirku, Mustang..selamat malam."

"Ini bukan kencan dan aku tidak akan pernah menyukai wanita dingin sepertimu, Hawkeye!" jawabku sewot.


"Havoc, apa kau ingin mengurangi umurku hah? Matikan rokokmu yang bau itu!"

"I-iya, Sir..!" Havoc lalu mengambil rokoknya dan menginjaknya.

"Jangan kotori lantai kantorku dengan benda itu!"

"I-II-IYA ,SIR! MAAF..!"Havoc buru-buru mengambil rokoknya lalu kabur dari ruanganku sambil membawa berkas-berkas yang kuberikan.

"A-ada apa dengan Lieutenant Colonel hari ini.."bisik Breda pada Falman.

"Bad mood karena tugasnya menumpuk hah—"

"AKU BISA MENDENGAR KALIAN BERDUA! KERJAKAN TUGAS KALIAN ATAU..."aku mengambil glovesku yang ada di kantong. "...aku bisa membakar kalian kapan saja..."

"MA-MAAF SIR!" Breda dan Falman lompat dari kursi mereka dan mengambil berkas apapun yang bisa mereka raih lalu kabur keluar ruangan. Riza dan Fuery hanya geleng-geleng kepala.

"Yo! Roy! Aku lihat anak buahmu lari ketakutan di lorong tadi..kau pasti menakut-nakuti mereka lagi, kan? Ohya, ngomong-ngomong aku belum membalas apa yang kau perbuat di toko bunga waktu itu..tapi kupikir-pikir..kau tahu sendiri 'kan kalau Gracia menerima cintaku walau tanpa bunga..ah! Aku belum menceritakan bagaimana dia menerimaku..kau tahu, waktu itu—"

A...ahahaha, semua memang ingin melihat api-ku hari ini...

"Sir Hughes, datanglah lain hari...mari kita keluar sebentar.."Fuery menarik Hughes yang kebingungan keluar.

SIIIIIIIIIIIIIIIIIIIING

Hanya ada aku dan Riza di kantor.

"..."

"Jika anda benar-benar ingin ke Resembool, anda bisa menyimpan ini untuk besok, Sir.."

Ah..! Kata-kata itulah yang ingin kudengar dari tadi...!


Resembool! Resembool!

"Dimana tadi rumah mereka, hmm..dari sini ke bukit selatan.."

"Anda kelihatan antusias sekali, Sir.."kata Riza sambil keluar dari kereta.

"Bagaimana aku tidak antusias.."jawabku jengkel. "Menurut gosip yang beredar, dua bersaudara Elric ini hebat lho, bisa jadi pangkatku naik setelah mencalonkan mereka jadi state alchemist!"kataku dengan senangnya dan Hawkeye membalasnya dengan tampang mual.

"Ya, ya, Sir..."

Kami menumpang sebuah kereta kuda yang akan menuju ke selatan Resembool, tempat ini dipenuhi bukit yang indah, rumput-rumput segar dan pemandangan yang sangat berbeda dengan di East maupun Central City.

Bagaimana rupa Elric Bersaudara itu ya...

"Maaf ya tuan, di desa kecil seperti Resembool ini tidak ada mobil."kata kusir kereta itu tiba-tiba.

"Ah..tidak apa, setidaknya dengan kereta ini kita bisa sampai ke sana."kataku sambil tersenyum melihat anak-anak desa lewat dan menyapaku.

"Syukurlah.."kata kusir itu lagi. "Lalu..sebenarnya ada perlu apa tuan mengunjungi keluarga Elric ini?"

"Aku dapat informasi kalau ada dua bersaudara alchemist di tempat ini, mengeceknya sendiri bukan hal buruk 'kan?"jawabku sambil melihat kertas yg diberikan Madam Christmas kemarin.

"Wah wah..apa mereka akan dijadikan state alchemist—begitu namanya? Hebat sekali!"kata kusir itu tersenyum. "Tapi kenapa tentara dengan jabatan seperti anda ini sendiri yang melakukannya, tuan?"lanjutnya lagi.

"Ahahah,menilai serta merekomendasikan alchemist yang cakap sebenarnya memang salah satu tugasku juga. Tapi..jujur saja, setelah perang kami ini kekurangan orang.."kataku tertawa.

"Hohohoho, sampai orang penting dari Militer menjemput mereka berdua, bocah-bocah itu pasti senang sekali nanti.."

SIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIING...

"Bo-bocah?"kataku kaget setengah mati.

"Iya, bocah."

Aku membaca kembali dengan sangat baik-baik berkas milik Madam Christmas. Tidak mungkin ada kesalahan!

"Edward Elric..31 tahun, Resembool.."

"Tidak-tidak..Edward itu umurnya 11 tahun dan adiknya 10..aku pernah minta tolong pada mereka untuk perbaiki kereta ini lho.."lanjut kusir itu.

"Sepertinya informan anda kurang lihai,Sir."bisik Hawkeye.

"Hohoho, setidaknya temui saja mereka dulu!"tawa kusir itu melihat wajahku yang kebingungan.


"Rumah sederhana, namun terlihat sangat damai ya.."kataku.

Rumahnya tidak terlalu kecil, sederhana namun nyaman menurutku. Aku bisa melihat sebuah ayunan yang diikat di dekat rumah. Kehidupan kakak adik ini mungkin sangat-sangat damai.

Apa mereka akan menolak tawaranku untuk menjadi state alchemist..

"Sir, tidak ada yang membuka pintunya."kata Riza setelah berulang kali menarik lonceng kecil dekat pintu masuk rumah itu. "P-permisi...astaga.."Riza membuka pintu itu dan...

Ti-tidak dikunci?

"Permisi, apakah ada orang?"

"Elric, Edward Elric! Alphonse Elric!"

Kenapa tidak ada yang menjawab?

"Sir, saya akan mencoba mencari dibelakang rumah, mungkin mereka diluar.."

"Aku akan cari di atas.."kataku, lalu mulai menaiki tangga rumah itu.

"Baik!"

Aku naik ke atas rumah itu dan..aku yakin Elric bersaudara tidak ada di sini. Aku melihat foto sepasang anak kecil berambut golden yang dipeluk oleh wanita berambut coklat. Ini pasti Ibu mereka..

Aku kembali berjalan dan melihat sebuah kamar di ujung koridor itu. Pintunya terbuka.

"Tempat apa ini-.."

?

A—apa? Ini kan...

Aku melihat sebuah lingkaran transmutasi yang besar yang sebagiannya tertutupi darah kering..dan aku yakin sekali ini bukan sebuah lingkaran biasa! I-ini...

"Sir..aku tidak menemukan mereka di belakang rumah." Kata Riza, lalu ia menoleh ke lingkaran yang aku lihat. "I—ini..."

"Dimana..."

"Sir, ini kan..?"

"Dimana Elric bersaudara itu?"

To be continued..

Wahahaha, sudah mulai masuk ke cerita asli, tapi maaf ya Edward-nya belom muncul nih.. (O;;)7

Masih ada chapter 3! Ayo, semangat..semangat! (*_*)b

Next chapter : His Eyes

((*^O^))7

RnR ya minna.. (/3)/