Halo minna, ketemu lagi! (^U^)/

Sudah chapter 3 lho...chapter 3! (*O*)7 *trus kenapa coba?* XD

Pokoknya ini chapter based on true story, cuma diamplas sedikit..(,;;)

Dari pada banyak bac*t, mending baca aja yuk langsung.. (^^)b

Ohya lupa nih...and of course all character belong to Hiromu Arakawa-sensei *\(*∀*)/*

Terimakasih buat senpai yang sudah kasih saran ya, saya merasa terbantu sekali! XDD

Warning : OOC,Typo, Serious, Mungkin sedikit ada RoyEd-nya ;D

Summary :

Aku salah mengira, Alchemist bukan soal umur…

mereka sudah pernah melihat neraka lebih dulu dariku!

Cerita Sebelumnya :

Roy Mustang POV

Aku memutuskan untuk pergi mencari 'Elric Bersaudara' dan menawarkan gelar State Alchemist untuk mereka. Aku mempelajari satu hal penting tentang Elric Bersaudara itu...

"Dimana..."

"Sir, ini kan..."

"Dimana Elric bersaudara itu?"


Chapter 3

His Eyes

"Dimana Elric bersaudara itu?"

"Sir…"Riza melihatku dengan bingung.

Aku emosi, kemarahanku tak tertahankan lagi...apa mereka berdua masih hidup…?

Sial!


"Saya melihat rumah di dekat sini tadi."Riza menutup kembali pintu rumah itu. "Di sana..."tunjuknya. Aku bisa melihat kepulan asap yang keluar dari cerobong asap rumah yang ditunjuknya.

"…kita kesana."

Riza berjalan di belakangku. Ia diam, tak mengatakan sepatah katapun...sepertinya dia mengerti kalau aku sedang fokus memikirkan apa yang kulihat tadi.

Lingkaran Human transmutation…

Itu jelas-jelas! Di setiap buku...hampir semua buku Alchemist yang pernah aku baca, itu terlarang! Human transmutation...manusia, hanya Tuhan yang boleh tahu rahasia manusia. Walaupun aku tidak begitu percaya dengan hal semacam itu, namun aku tetap berpegang teguh bahwa human transmutation itu tidak boleh dilakukan!

Dan bagaimana mungkin anak berumur 10 dan 11 tahun melakukannya?

Aku makin mempercepat langkahku dan membuat Riza tertinggal. Tidak sabar…

Apa yang anak kecil lakukan dengan human transmutation, hah? Itu bukan permainan!

"…Rockbell? Sepertinya pernah dengar..."Riza berhenti di depan plat rumah sederhana itu yang bertuliskan 'Automail Rockbell'.Aku tidak peduli dan segera mengetuk pintu rumah itu secepatnya. Aku bisa mendengar suara wanita tua datang.

"Diamlah, Den..berisik sekali dirimu..!"seorang nenek tua pendek membukakan pintu. "Maaf telah membuat anda menung—"aku membuka paksa pintu rumah itu dan melihat sekelilingnya. "H-hei, apa yang tentara lakukan di sini?"lanjut nenek itu marah.

Aku tidak peduli, aku yakin sekali mereka ada di...

"…"

Seorang anak kecil, berambut blonde yang menutupi wajahnya duduk di sebuah kursi roda, dibelakangnya berdiri seseorang dengan baju zirah besar. Aku melihat mata anak itu, sangat...

Cih!

Aku langsung menuju anak kecil itu dan langsung mengcengkeram bajunya. Ringan...dan kecil...aku bahkan lupa jika anak ini berumur 11 tahun. Tapi tetap saja...

"Kau…aku baru saja ke rumahmu! Dan apa 'itu', hah? Apa yang kalian lakukan?" aku menatap tajam mata Elric itu.

Warna matanya yang indah keemasan, namun menatapku seperti orang mati. Ia menunduk, lalu menyembunyikan wajahnya. Aku terdiam, masih mengcengkeram baju anak itu, bingung ingin mengatakan apa, lalu tangan orang berbaju zirah itu berusaha melepaskan tanganku.

"Maafkan kami…"

"Hah...?"

"To-tolong..."

Tangan baju zirah itu melepaskan cengkeramanku. Lalu tangannya... seluruh baju zirah itu bergetar.

"Tolong maafkan kami…"

"Kau..."

Kata-kata itu terus diucapkannya. Aku lalu melepas cengkeramanku. Baju zirah itu mengulurkan tangannya.

"Aku Alphonse...Alphonse Elric. Ini kakakku Edward Elric."katanya sambil kembali memegang kursi roda itu. "Beri aku kesempatan unuk menjelaskan semua ini, tuan tentara..."lanjutnya lagi.

"...Roy Mustang."jawabku.

Aku, Elric bersaudara dan nenek tua yang bernama Pinako itu duduk di meja makan. Riza kusuruh untuk menunggu di ruangan lain.

"Kami melakukakan itu untuk menghidupkan ibu kami kembali.."kata Alphonse."Aku tidak tahu setelah itu...tubuhku tersedot oleh rebound yang tercipta dari human transmutation itu, oleh karena itu..."Alphonse membuka helmnya. Aku terkejut.

Kosong?

Ada suatu segel di baju zirah itu, yang membuatku semakin takjub lagi...

"Ini, kakakku yang membuat segel ini."katanya. Karena sudah melakukan hal itu, ia kehilangan kaki kanannya, lalu ia menarik rohku dan menyegelnya di baju zirah ini, ia bayar dengan tangan kanannya."tutup Alphonse.

"Kau sudah puas...Tuan Mustang?"nenek tua itu memandangku dengan kesal.

Aku melihat wajah Edward Elric itu. Mata emasnya disembunyikan dibalik rambut. Inikah yang disebut dengan jenius?

"Aku masih tidak percaya..."kataku lalu melihat nenek Rockbell itu. "Ini sangat mengejutkan..."lanjutku.

"Aku datang ke sini karena mendengar adanya Alchemist hebat, dan aku tidak menyangka...walaupun belum sempurna, anak-anak ini bisa melakukan human transmutation..."aku menoleh ke arah Edward yang masih menunduk. "...dan hal rumit seperti menyegel roh."

"Dengan kemampuan ini, aku sangat yakin mereka bisa menjadi State Alchemist, bahkan lebih."

"Menjadi State Alchemist, sewaktu-waktu akan mengharuskan seseorang untuk bertarung dan melakukan tugas sebagai seorang prajurit. Namun dalam waktu yang sama pula, seseorang bisa melakukan penelitian dengan level tinggi dimana orang biasa dilarang untuk melakukannya...ini mungkin bisa menjadi kesempatan untuk anak-anak ini agar bisa mengembalikan tubuh mereka lagi—"

CTAK!

Nenek itu memukul pipanya di meja.

"Setelah anak-anak ini datang ke rumahku dengan tubuh beralirkan darah mereka, kau tahu...aku datang ke rumahnya."nenek itu menaikkan alisnya."Itu...yang mereka buat itu bukan manusia!"

"Apa..?"

Aku sangat terkejut. Alphonse tidak itu masih menundukkan kepalanya.

"Apa Alchemy selalu membuat hal mengenaskan seperti itu, hah?"katanya lagi. Aku menyilangkan tanganku. "Aku tidak menyetujui hal ini! Apa kau ingin menyeret mereka kembali ke jalan itu?"

Aku mulai memutar otak. Hal seperti ini tidak boleh aku sia-siakan.

"Aku tidak akan memaksa mereka."kataku. "Aku hanya menawarkan sebuah kesempatan."

"Apa kalian ingin menghabiskan hidup kalian seperti ini? Atau akan mencoba kesempatan ini dan menundukkan kepala pada Army?"aku berdiri dan menatap anak-anak itu. "Jika ada kesempatan untuk mengembalikan tubuh kalian lagi, kalian harus mencobanya dan berpikir untuk melangkah ke depan."aku menatap Edward itu, lalu tersenyum. "Aku akan pergi sekarang, pikirlah ini matang-matang, hubungi aku bila kalian berubah pikiran."

Aku keluar dari ruangan itu meninggalkan mereka bertiga lalu memanggil Riza.

"Riza, kita kembali."kataku singkat.

"Ya, Sir!" Riza berdiri dan memberikan jasku.

Aku keluar dan memanggil sebuah kereta kuda yang ada di dekat rumah itu. Setelah Riza pamit dengan seorang anak perempuan kecil, ia menyusulku naik. Aku bisa melihat nenek itu dan Alphonse keluar rumah juga. Aku memandang tajam Alphonse dari kereta.

Aku salah mengira, Alchemist bukan soal umur…

Mereka sudah pernah melihat neraka lebih dulu dariku!


"Akankah mereka bergabung..."Riza menanyaiku dengan hati-hati.

"Apa? Tentu saja, dia pasti akan bergabung dengan kita."

"Kenapa anda bisa se-optimis itu, Sir?" Riza melihatku dengan wajah bingung. "Anda lihat tadi, matanya seperti orang yang sudah kehilangan harapan..."

"Benarkah?"kataku sambil tersenyum. "Matanya sangat berapi-api tadi. Aku yakin tak lama lagi mereka akan menelponku dan mengatakan kalau mereka berubah pikiran."


"Mood anda terlihat lebih baik dari sebelumnya,Sir."Havoc membawa berkas yang telah diselesaikannya ke mejaku. "Apa yang anda lakukan tadi siang di Resembool?"

"Bertemu gadis cantik."kataku singkat sambil tetap menulis. "Rambutnya pirang lurus dan matanya berwarna keemasan, berbeda sekali dengan gadis-gadis di sini."kataku sambil melihat Havoc yang muak.

"Hah? Anda bersama 2nd Lieutenant Hawkeye dan menemui gadis cantik? Benar-benar..."Havoc menerima berkas barunya. "Kelihatannya ini hampir selesai ya, aku ada janji dengan pacar baruku jam 8 nanti."

"Ada apa dengan pacar lamamu?"

"Putus karena kau membawaku ke tempat Christmast itu..."jawab Havoc marah sambil membawa pergi berkasnya.

Aku melihat ke arah telpon. Kenapa anak itu tidak kunjung menelponku?

"Oh ya, Sir, ada pesan dari staff penerimaan telepon. Sesaat tadi, ada yang mencoba menelpon dari telepon umum yang ingin berbicara pada anda, katanya dari seseorang yang bernama Elric..."lanjut Havoc.

"Bo—bodoh! Kenapa tidak disambungkan padaku?"aku melompat dari kursiku dan membentaknya.

"Apa anda gila? Mana pernah Army mau menyambungkan telepon dari seseorang yang tidak dikenal kepada anda?"Havoc benar-benar jengkel sekarang.

Sial! Aku lupa! Bodohnya aku ini...

"Aku keluar sebentar..."kataku sambil mengambil jas. Breda, Falman dan Fuery terlihat bingung. "Katakan pada 2nd lieutenant Hawkeye aku hanya pergi sebentar."

"...baiklah, Sir. Jangan kabur ya."jawab Havoc sambil menghela nafasnya.

Aku mencari phone-booth terdekat. Kenapa aku dengan bodohnya menyuruh orang luar menelpon ke Army?

"Halo, kediaman Rockbell..." suara gadis kecil menjawabku. Sepertinya ini gadis yang bersama Riza tadi siang.

"Ini dari Army, Roy Mustang. Siang tadi aku yang datang ke rumahmu."

"...ah, Tuan Mustang. I-iya, ada perlu apa?"

"Maaf mengganggumu, bisa aku bicara dengan Edward?"

"Te-tentu saja...akan kupanggilkan sebentar—Ed!"

Apa dia sudah mengubah pikirannya secepat ini? Anak kecil memang sangat plin-plan..

"..aku Edward.."

Suaranya terdengar serak...namun penuh dengan semangat.

"Jadi, bagaimana Elric? Apa kau sudah mengubah keputusanmu?"aku berkata sambil tersenyum.

"...seperti aku punya pilihan lain saja...Aku akan mencobanya, tapi perlu satu tahun untuk kembali pulih.."

"...satu tahun? Itu terlalu cepat...Bukankah perlu waktu 3 tahun lebih untuk rehabilitasi tubuhmu—"

"Kau kira aku bisa menunggu selama itu untuk mendapatkan tubuhku dan adikku kembali, hah?"

Aku terdiam. Anak ini jauh lebih menarik dari yang aku duga sebelumnya.

Benar-benar bodoh..

"Baiklah, setahun lagi aku akan datang ke tempatmu, pastikan sudah memakai automail yang bagus. Tempatmu itu membuat automail, bukan?"

"..ya. Aku akan bertambah kuat saat itu dan akan memukulmu karena sudah bicara seenaknya tadi..ingat itu..Lieutenant Colonel sial.."

"Setahun lagi aku akan jadi Colonel, bodoh. Baiklah, selamat malam."

"...ya, selamat malam."

Aku menutup gagang telepon itu dan tersenyum senang sekali.

Setahun lagi..aku akan mendapatkan bawahan yang sangat hebat.

To be Continued...

Masih ada chapter 4, jadi mohon ditunggu ya! (,^b)

Next Chapter : Second Meeting

Tolong di-review ya, onegai! *bungkuk* ^o^