Chapter 4 datang teman-teman! (;^O^)/ maaf telat update ya :(
Sekali lagi, jangan sungkan kasih saya comment ;p
Warning : Typo, OOC, sedikit RoyEd mungkin :p
All character belong to Hiromu Arakawa-sensei *\(*∀*)/*
Summary :
Roy Mustang POV
Aku menjemput Edward di Resembool untuk tes ke Central. Aku tak pernah membayangkan bahwa perjalanan ke Resembool untuk kedua kalinya itu akan sangat penuh dengan kejutan.
"Per-permisi, Nona kecil...apa anda tahu dimana kediaman Rockbell—"
"APAAAA?"
"Ma-maaf...!Maksudku—"
"SIAPA YANG KAU BILANG NONA KECIL HAH?"
Cerita sebelumnya :
Roy Mustang POV
Aku mengetahui bahwa Elric bersaudara sudah melihat 'neraka' lebih dulu dariku. Edwardpun setuju untuk menjadi State Alchemist, walaupun sebelumnya Pinako menolak keras hal itu. Ia berjanji setahun lagi akan bergabung dengan State Alchemist. Tentu saja aku tidak sabar...
Ini sungguh menarik...Edward Elric...
Chapter 4
Second Meeting
"Ah, sudah lama aku tidak melihatmu...Lieutenant Colonel—ah...maksudku, Colonel Roy!" Hughes masuk ke kantorku dengan membawa kotak kecil.
"Kau harus lebih menjaga sikap pada seniormu sekarang, Hughes." aku menatapnya sambil setengah tertawa. Bagaimanapun kuberitahu, tetap saja Hughes tidak akan menganggapku sebagai seniornya.
"Ah...sungguh tega dunia ini, bagaimana mungkin orang malas seperti kau mendahuluiku naik pangkat...?" katanya sambil menghela nafas.
"Jika kau datang ke sini hanya untuk mengeluh silahkan kembali ke Central." jawabku dingin.
"Dasar...padahal aku ke sini untuk memberi selamat, tapi kau mengusirku..." katanya gusar."Ini dari Gracia, pai apel, katanya sebagai ucapan selamat." lanjutnya lagi sambil tersenyum. "Aku akan membunuhmu jika kau tidak memakannya, Colonel."
"...untuk apa aku menyia-nyiakan makanan enak ini?"jawabku kesal. "...Katakan terima kasih padanya nanti, Hughes."
"Tentu! Lalu kapan kau berniat untuk menikah,hah? Mempunyai istri itu sangat menyenangkan, ada yang memasak untukmu tiap pagi, ada yang menyiapkan pakaianmu tiap pagi...lalu! Tiap malam—"
"Sudahi pembicaraan ini dan kembali ke Central!" teriakku jengkel sekali. Hughes tertawa terbahak-bahak.
"Oh ya, bagaimana dengan calon State Alchemist yang kau rekrut itu? Apa benar umurnya 11 tahun? Aku tetap tidak percaya saat kau menelponku!" lanjutnya.
"Tahun ini dia 12 , nanti aku akan menjemputnya. Siang ini akan ada semacam tes penerimaan, dan aku sangat terkejut saat mengetahui Fuhrer akan ikut melihatnya, kau tahu..." kataku sambil berdiri, lalu menatap ke jendela.
"Terkejut? Bukannya kau harusnya senang? Alchemist yang kau rekrut akan ditonton oleh Fuhrer! Bisa jadi pangkatmu naik lagi, bukankah begitu?"
Ah iya, Hughes tak tahu tentang apa yang anak-anak itu sudah lakukan...bodohnya aku...
"Be-benar juga, aku harusnya senang ya...ahahah..." kataku tertawa sambil sedikit berkeringat. Hughes melihatku dengan sangat curiga.
"Kau tidak menyembunyikan sesuatu dariku, 'kan?" Hughes melihatku dengan tampang sewotnya.
"T-tentu tidak! Apa yang kau bicarakan, Hughes?" jawabku sambil tersenyum dan membuatnya tambah curiga. "Ce-cepatlah kembali ke Central sebelum 2nd Lieutenant Riza melihatmu!" kataku sambil mendorong keluar Hughes yang tampaknya semakin curiga.
"Haah...hampir saja..." kataku menghela nafas.
Aku kembali melihat silver watch-ku, sudah jam 8, aku berjanji akan menjemputnya jam 10 nanti.
Jangan terlambat karena aku tidak sabar menghantammu dengan automail baruku, Colonel brengsek!
Itulah yang ia katakan kemarin saat aku menelponnya. Aku tersenyum kecil mengingat kata-katanya itu.
Edward Elric...
Benar-benar anak yang menarik.
"Apa? Riza dipanggil ke utara?" kataku terkejut.
"I-iya, tadi aku mendapat pesan darinya, 'tolong katakan ke Colonel kalau aku dipanggil ke utara untuk melatih prajurit disana untuk beberapa hari, katakan maaf padanya jika aku tak bisa mengantarnya ke Resembool' begitu..." ucap Breda.
"Apa aku harus pergi sendiri sekarang..." bisikku. Pergi ke Resembool seorang diri pasti sangat membosankan..
"Apa aku bisa menemanimu, Sir? Lagipula dulu kau katakan bertemu gadis cantik bermata emas disana..." Havoc muncul dan menawarkan dirinya.
Tentu saja tidak...
"Tidak, terima kasih, gadis itu milikku..." kataku jengkel lalu pergi. Breda dan Havoc terlihat bingung.
Resembool! Resembool!
Aku keluar dari kereta, dan melihat banyak orang melihatku dan membicarakanku diam-diam selama aku berjalan.
Tentara? Dia seorang colonel!
Apa yang dia lakukan di sini?
Aku harap tidak terjadi apa-apa di sini...
Apa dia ingin mengacaukan keadaan Resembool yang tenang ini ya?
"..."
Aku terus berjalan tanpa menghiraukan ocehan bodoh itu dan mencari kereta kuda. Setelah perjalanan 15 menit, aku sampai di rumah Elric itu. Namun, ada yang membuatku sedikit bingung...
"...dimana aku?"
Aku lupa tempat ini! Bagaimana tidak, ini sudah setahun dan yang mengantarku ke rumah Rockbell dulu adalah Riza!
Aku terus berjalan entah kemana dan melihat seorang gadis, dengan rambut blonde terkepang, berdiri di depan sebuah kuburan.
Aku selamat...
"Per-permisi, Nona kecil...apa anda tahu dimana kediaman Rockbell—"
"APAAAA?"
"Ma-maaf!Maksudku..."
"SIAPA YANG KAU BILANG NONA KECIL HAH?"
Gadis kecil itu berbalik dan ternyata...bukan perempuan! Itu anak laki-laki dengan rambut blonde dan mata emasnya yang bersinar...dia!
"El-Elric!" kataku terkejut.
"Kau...Kau colonel brengsek itu 'kan?" kata Edward kaget setelah melihatku. "Apa yang kau lakukan disini? Rumahku di sebelah sana, kau tahu!" lanjutnya kesal.
"Jika aku tidak tersesat aku tidak akan pergi kemari!" lawanku.
"..dan apa maksudmu memanggilku nona kecil,hah?" teriaknya lagi.
"Siapapun akan mengiramu gadis kecil jika melihat orang berambut kepang dan memakai jas merahmu yang kebesaran itu dari belakang!"
"Cih! Kau benar-benar brengsek..." katanya lagi. "Ini masih jam 9, aku sudah bilang jemput aku jam 10!"
"Jika aku terlambat kau bilang akan memukulmu dengan automail barumu 'kan? Dan aku tidak menginginkan hal itu terjadi..." kataku sambil melihat automail barunya.
"Oh...ini? Bagaimana menurutmu?" katanya sambil memperlihatkan tangan barunya itu. Aku hanya tersenyum.
"Pasti sakit jika dipukul dengan itu."
"Silahkan dimakan." kata nenek Pinako.
"...uh...terima kasih..."jawabku.
Entah bagaimana ceritanya aku ikut makan pagi bersama mereka. Edward memakan lahap makanannya, begitu juga dengan gadis bernama Winry itu. Nenek itu terlihat menghindari kontak denganku, sementara Alphonse hanya terdiam karena tidak bisa makan.
"Ed...jadi kau akan ke Central hari ini untuk mengikuti tes itu, ya?" tanya gadis kecil itu.
"...um."jawab Edward singkat.
"Apa aku boleh menemani kakakku, Colonel?" tanya Alphonse.
"Maaf, Alphonse. Lebih baik jangan sekarang, Fuhrer akan melihat Edward nanti. Aku takut bila ia nanti tahu tentang rahasia kalian." jawabku.
"Begitu ya..."kata Alphonse yang terlihat kecewa.
"Tenang saja, Al! Begitu aku menjadi State Alchemist aku akan menjadikanmu partnerku!" kata Edward semangat. Alphonse mengangguk. Aku tersenyum kecil lalu mulai makan.
"Ed..minum susumu!" Pinako memarahi Edward yang melahap habis makanannya, kecuali susu.
"Aku sudah mengatakan beratus kali kalau aku benci susu!" jawabnya ketus.
"Apa kau ingin pendek terus, hah, chibi?"
"Kau pun tetap pendek walaupun minum susu, nenek mini!"
"Maaf Colonel, mereka memang terus seperti itu tiap makan..."kata Alphonse sementara Pinako dan Edward masih terus saling ejek.
"...ahaha, tidak apa-apa..."jawabku sambil tertawa. Aku tidak pernah ikut acara makan siang seramai ini sebelumnya, jadi terus terang saja, aku senang.
Setelah pamit dengan nenek Pinako, gadis bernama Winry dan Alphonse, aku membawa Edward ke stasiun Resembool.
"Sudah pernah ke kota lain sebelumnya?" kataku pada Edward yang daritadi bertampang ketus.
"Pernah sekali, Dublith..."jawabnya malas.
Kami berdua lalu duduk dan aku bisa melihat tampang edward yang tak nyaman dengan keadaan ini. Terpaksa aku harus memulai percakapan.
"Apa yang kau lakukan di Dublith dulu?"
"...guruku tinggal disana."
"Hoo...jadi kau punya guru ya...Apa Alphonse juga berguru disana?"
"...ya."jawabnya singkat.
"Siapa nama guru—"
"Kenapa kau cerewet sekali, brengsek?" tanyanya sangat kesal.
"Karena aku ini walimu nanti di Central. Setidaknya aku tahu beberapa tentang dirimu sebelum aku ditanyai macam-macam nanti oleh orang-orang disana." jawabku tegas. "Jika tidak suka, aku bisa berhen-"
"Nama guruku Izumi. Puas?"
"Kau tak perlu memaksakan dirimu seperti itu, Elric."jawabku sambil tersenyum.
"Aku tak bisa menahan diriku karena kau Colonel yang sangat brengsek..."jawabnya.
Aku hanya tersenyum kecil melihatnya. Ia terlihat sangat berbeda dengan pertama kali aku menemuinya. Dulu matanya seperti orang mati, tapi sekarang sudah bersinar-sinar seperti ini. Dasar anak-anak...
"Aku dengar kau yatim piatu. Tapi dari info yang kudapat dari Pinako, hanya ibumu yang sudah meninggal. Dimana Ayahmu sekarang?" tanyaku serius.
"...mungkin sudah mati. Aku tidak tahu dan tidak ingin mengetahuinya..."jawabnya sambil melihat keluar jendela.
"Kenapa kau jawab seperti itu? Siapa tahu ia..."
"...dia tidak pernah pulang. Ia meninggalkan ibuku ketika aku dan Al masih sangat kecil. Ia penyebab meninggalnya ibuku." jawabnya lirih. "Tolong jangan bicarakan dia lagi, aku muak."
Aku terdiam melihat Edward. Lalu aku berpikir untuk sekedar menghibur saja. Sebenarnya keadaankupun tak jauh berbeda dengannya.
"Kau tahu, Elric...aku yatim piatu."
Edward lalu melihatku dengan kaget.
"Kedua orang tuaku meninggal saat aku kecil. Aku dirawat oleh tanteku seorang diri. Aku besumpah untuk menjadi kuat, lalu berlatih dibawah seorang guru. Setelah itu, aku bergabung dengan Army dan menjadi state alchemist. Jadi, keadaan kita kurang lebih sama." kataku lagi sambil tersenyum.
"...huh, jangan menyamakan dirimu yang brengsek itu denganku dan... jangan bersimpati padaku!" teriaknya kesal.
"Baik...baik."jawabku sambil tertawa. "Ah...aku hampir lupa, jika ada yang menanyaimu tentang automailmu itu, katakan itu karena kecelakaan pada perang di East, ya."
"...ya,ya"jawabnya singkat. "Aku mengantuk, jangan ganggu aku." Katanya sambil merebahkan badannya pada kursi.
Aku melihat ke arah jendela. Aku teringat apa yang kuperbuat di Ishval. Aku membuat banyak anak-anak menjadi yatim piatu—tidak, bahkan membunuh satu keluarga. Bagaimana aku bisa bangga dengan julukan 'Hero' itu? Aku hanya seorang pembunuh..
"Edward, kita hampir sam—"
Aku melihatnya...tertidur pulas. Rambut blonde menutupi wajahnya.
Jika dia perempuan, pasti aku sudah tertarik dengannya..
Aku lupa...lupa sekali kalau umurnya 12 tahun dan ia masih anak-anak. Aku bergabung dengan Army di umur 20, dan dia...12? Dia memang berbeda denganku...
"...hah? Kenapa kau melihatku seperti itu, brengsek?" Edward ternyata terbangun saat aku melamun melihatnya.
"...A—apa? Kau sudah bang—maksudku...kita sudah sampai di Central..!" jawabku gagap.
Kenapa ia harus bangun disaat aku melihatnya seperti itu?
"K-kau berbahaya! Ja-jangan dekati aku!" kata Edward lalu berlari keluar dari kereta.
"HAH? Tunggu-Edward?"
Begitulah, lalu aku dan Edward berlarian di stasiun hingga semua tentara yang melihatku kebingungan.
To be continued...
Gimana nih? Sudah Chap 4! Sejujurnya saya bingung banget mau buat end kayak gimana.. ( ;*O*)7
Tapi tenang aja, ini belum end-nya kok, minna! (^U^;)b
Penasaran bagaimana tingkah Edward di Central? Tunggu next chap-nya ya!
Next Chapter : Speciality
T etep RnR ya minna~
