Apa kabar, teman-teman? (^O^)7

Chapter 5 sudah dataaaang! \( *O*/) *teriak gaje* #dilemparin

Ayo...dibaca-dibaca! (^,^)

Terimakasih atas review senpai-senpai sekalian ya, saya jadi senang ada yang memperhatikan cerita hancur kayak gini...hiks! ( TwT) At all, selamat membaca, have fun! (^.^)/

All character belong to Hiromu Arakawa-sensei *\(*∀*)/*

Warning : OOC, Typo, sedikit RoyEd :p , kata-kata khasnya Edward -_-;;

Summary :

Edward menepuk kedua tangannya lalu menyentuh lantai ruangan itu. Langsung saja—suatu benda...seperti tombak terbentuk dari lantai yang disentuh Edward.

"…tanpa lingkaran transmutasi?"

Cerita Sebelumnya :

Roy Mustang POV

Aku menjemput Edward di Resembool dan berhasil membawanya ke Central. Di perjalanan kereta, aku menceritakan sedikit tentang history perjalanan hidupku.

Sebenarnya...keadaankupun tak jauh berbeda dengan anak ini...


Chapter 5

Speciality

"…tidak perlu berjalan jauh di belakangku, Elric. Kau bisa tersesat nanti."

"I-ini karena kau orang yang berbahaya, brengsek!" lawannya dengan wajah berkeringat.

Apa yang dipirkan anak ini? Image-ku hancur seketika dimatanya.

Aku berjalan sambil melihat sekelilingku. Sedikit sekali tentara yang berjaga. Hari ini stasiun Central terlihat tidak terlalu ramai. Jika di East, prioritas si kakek tua Grumman adalah keamanan jalur datang dan pergi, jadi stasiun pasti akan ramai dengan seragam Army...

"C-co-colonel Mustang!"

Seorang laki-laki dengan rambut blonde dan seragam army memberi hormat padaku. Wajahnya berkeringat, kelihatannya sangat gugup.

"Sa-saya Sergeant Brosh! Saya diperintahkan untuk menjemput anda, Sir!" katanya, sambil memberi hormat padaku.

"Oh, suruhan Hughes?" kataku sambil tersenyum melihat tingkahnya.

"I-iya! Lieutenant colonel Hughes sedang pergi ke North untuk kepentingan Army, maka dari itu saya diberi perintah untuk menjemput anda,Sir!" lanjutnya.

"Baiklah...Elric a—"

Hah?

Aku melihat ke belakang, namun yang kulihat hanya kerumunan orang. Tidak ada anak kecil berambut kepang dengan jas merahnya...

Dimana si bodoh itu?

"Ma-maaf, Sir...apa ada yang tertinggal?" tanya Brosh hati-hati.

"…aku pergi sebentar, tunggulah disini dulu." kataku jengkel, lalu pergi meninggalkannya.

"Ba-baik!"

Benar-benar…dimana anak itu? Tes nanti dimulai jam 12 dan ia menghilang ketika aku tak melihatnya sebentar saja...

Aku melihat silver watch-ku yang menunjukkan pukul 11.20. Aku berlari mencarinya dan lagi-lagi menarik perhatian orang-orang disana.

Sialan! aku seorang Colonel, bukan seorang babysitter!

"…Wah...keren! Keren! Keren!"

Suara itu…

Sekelompok orang-orang berkerumunan di ujung stasiun kereta...sepertinya ada sebuah pertunjukan.

"Ini adalah Leopard terpintar di Amestris! Rudolf! Berapa hasil dari 3 + 2?" tanya pawang itu. Leopard bernama Rudolf itu lalu mengambil papan bertuliskan angka 5.

"Bagaimana penonton? Pintar sekali, 'kan?" kata pawang itu lagi sambil mengambil satu persatu uang yang diberikan penontonnya.

"...keren! Ini hebat seka-!"

Aku langsung menarik Edward dari kerumunan itu. Ia melawanku sambil berteriak-teriak.

"B-brengsek! Lepaskan aku!"

"Jika aku melepasmu, kau akan hilang lagi." jawabku kesal sambil menyeret jas merahnya. "Lagipula apa yang kau lakukan? Tes akan dimulai setengah jam lagi, bodoh."

"Tidakkah aku bisa bersenang-senang sebentar? Ini untuk pertama kalinya aku ke Central, sialan!" katanya sewot.

Aku menoleh ke arahnya. Benar juga, ia bilang hanya pernah ke Dublith saja. Tak apalah...lagipula dia masih anak-anak...wajar saja.

"Setelah tes selesai kau bisa pergi kemanapun kau mau."

"...aku yakin kau akan mengawasiku brengsek, jadi tak ada gunanya."

"Maksudku, setelah kau menjadi State Alchemist...kau bebas." kataku. Edward melihatku dengan tampang senang. "Tapi setidaknya sekarang aku akan terus mengawasimu sebelum hari itu tiba, nona kecil..."

"SIAPA YANG KAU BILANG NONA KECIL?" teriak Edward kesal.


Kami tiba di Central HQ. Aku melihat silver watch-ku, pukul 11.48, belum terlambat. Aku segera keluar dari mobil dan masuk ke dalam HQ sambil menyeret Edward.

"Brengsek! Kau tidak perlu menyeretku seperti ini! Aku punya kaki!" teriaknya kesal, lalu aku melepaskannya.

"Ah..."aku melepaskan tanganku dan menatapnya serius. "Apa kau sudah siap, Elric?"

"Guk! Guk!"jawabnya sambil meniru suara anjing. "Apa setelah ini aku harus mengibaskan ekorku juga?" lanjutnya lagi. Aku hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala.

"Baguslah." kataku sambil terkekeh melihat tingkahnya. "Ingat Elric, nanti kau akan diawasi oleh orang lain, aku hanya menonton. Lakukan yang terbaik." kataku serius lalu mengambil jas merahnya. "...dan ingat pesanku di kereta tadi."

"…ya." katanya singkat lalu melepas jasnya.

Beberapa tentara Central yang tidak kukenal menghampiriku lalu memberi hormat.

"Selamat siang, Colonel Mustang. Apa ini calon State Alchemist berumur 12 tahun yang anda rekomendasikan?"

"Ya. Edward Elric." jawabku.

"Kami akan membawanya ke ruang tes nanti. Anda bisa melihatnya dari lantai 2, Sir."

"Baiklah..." kataku lalu melihat Edward yang sama sekali tak terlihat gugup. "Semoga berhasil, Elric."

"Tentu saja, brengsek." Jawabnya sambil terkekeh.

Aku naik tangga menuju lantai 2 bangunan itu. Flashback, aku mengingat kejadian 6 tahun lalu, ketika aku juga di tes di tempat ini. Aku nyaris membakar seluruh bangunan dengan bangga, seluruh orang yang melihatku dan tentunya, Fuhrer sendiri melihatku dengan takjub.

Bagaimana dengan Edward itu ya...

Aku melihat di ruangan bawah, Fuhrer sudah datang. Setahuku, Fuhrer hanya datang untuk melihat tes bila orang yang akan dites mempunyai kelebihan khusus atau kemampuan yang lebih, dalam kasus Edward mungkin karena umurnya.

"Oh, Automail dari baja?" tanya Fuhrer itu pada Edward. Semoga ia tak berpikir macam-macam.

"…yah, ini terjadi saat perang di East." jawab Edward sambil memegangi automailnya.

"Ah...iya. Kita memang pernah perang di Ishval." jawab Fuhrer lagi.

Edward berbisik pada tentara yang mengawasinya dibelakang dan menunjuk Fuhrer, sepertinya ia bertanya siapa orang itu. Bodohnya aku, lupa memberitahukannya orang penting yang akan menonton tes-nya hari ini...

" Nah, sekarang kita mulai tes-nya." kata Fuhrer.

Edward melihatku, tersenyum sinis, sepertinya ia berkata 'Lihat ini, brengsek!' dalam hati. Aku hanya membalasnya dengan senyum.

"Kau tidak usah gugup ya, Dik." kata pengawas Edward.

"Untuk apa aku gugup!" teriaknya kesal.

"Ohya, apa kau membawa alat untuk menulis lingkaran transmutasinya?" tanya salah seorang pengawas Edward lainnya.

"Aku tidak perlu...benda semacam itu."

Edward menepuk kedua tangannya lalu menyentuh lantai ruangan itu. Langsung saja—suatu benda...seperti tombak terbentuk dari lantai yang disentuh Edward.

"…tanpa lingkaran transmutasi?" kataku kaget.

Fuhrer melihatnya dengan tajam. Edward sekarang sudah memegang sebuah tombak—spear panjang yang ia baru saja ciptakan tanpa menggunakan lingkaran transmutasi. Edward melihat Fuhrer dengan tampang jengkel.

"Lumayan." kata Fuhrer Bradley itu.

Apa yang dipikirkannya?

Langsung saja, tiba-tiba—dengan sangat cepat Edward itu berlari dan mengacungkan spear-nya ke arah Fuhrer.

"S—sir!" teriak beberapa tentara yang menonton disebelahku.

Tentu saja, keempat—keenam pengawal Fuhrer mengacungkan pistolnya ke kepala Edward. Ujung Spear Edward sudah ada di depan wajah Fuhrer yang menaikkan tanganya.

"Hanya dengan ini...seseorang yang penting bisa terbunuh." katanya. "Apakah kau setidaknya memikirkan ulang bagaimana tes ini dilakukan?" lanjut Edward.

"Ho...benar juga, sepertinya aku harus meninjau ulang hal ini..." jawab Fuhrer enteng.

Sungguh, anak itu nyalinya kuat juga...

Fuhrer menaiki tangannya dan seluruh pengawalnya menaikkan senjata. Edward menarik spear-nya dari wajah Fuhrer.

"Kau! Apa yang kau lakukan? Kau tidak lulu-!"

"Jangan seenaknya memutuskan." potong Bradley pada pengawas Edward.

"Kau punya nyali yang besar." kata Fuhrer. "Tapi kau tak tahu seberapa luas dunia ini..." katanya lagi sambil berjalan keluar ruangan.

Aku bisa melihat Edward terbengong-bengong melihat Fuhrer yang pergi, tapi tiba-tiba saja...

KLONTANG!

"Haaah?"

Spear Edward terbelah menjadi 2.

"Lakukan yang terbaik pada tes selanjutnya, Alchemist muda...hahahaha." tawa Fuhrer sambil pergi.

"Ka-kapan dia menarik pedangnya?" tanya Edward kesal sambil membuang spearnya. "Apa masih ada tes lagi?" katanya pada pengawas ruangan itu.

"Masih ada tes tulis, selanjutnya ikut aku..."jawab pengawas itu.

"Elric!" teriakku nyaring. Edward melihatku di atas.

"Ada apa , brengsek?"

"Aku tidak boleh ikut kesana! Jika sudah selesai, cari aku di ruanganku!"

"Ya!" jawabnya.

Aku melihat Edward berlalu bersama pengawas-pengawasnya itu. Dari gelagat takjub para pengawas itu, aku yakin dia pasti bisa menjadi state alchemist.


"Yo. Colonel." Havoc tiba-tiba masuk ke ruanganku.

"2nd lieutenant Havoc? Apa yang kau lakukan disini?" tanyaku sebal. Rasanya ia hampir selalu muncul dimanapun aku berada.

"Mengumpulkan berkas kasus dari East." katanya singkat. "Lalu, anda?"

"Mengantar gadis." jawabku terkekeh. Ia membalasku dengan tampang kesal.

"Anda bisa bebas hanya selama 2nd lieutenant Hawkeye tidak disini." balasnya. "Ohya, aku dengar tadi, beberapa orang membicarakan ada gadis kecil berumur 12 tahun yang mengikuti tes penerimaan state alchemist!" katanya bersemangat. "Anda tahu, orang-orang bilang ia menyerang Fuhrer! Gadis kecil jaman sekarang berbahaya ya..." tutupnya sambil mengambil rokok baru.

"Aku suka gadis kecil yang ekstrim." jawabku sambil tersenyum. Havoc melihatku dengan tampang muaknya lagi.

"...sejak kapan anda pedofil, Sir?" tanya Havoc serius. "Sudahlah, saya akan kembali ke East. Permisi, Colonel!" kata Havoc memberi hormat, lalu pergi.

"Ya...hati-hati, 2nd lieutenant. Kuharap kau langgeng dengan pacar barumu." kataku dengan senyum sinis. Havoc lalu keluar dari ruanganku dan mengumpat.

Aku melihat ruanganku di Central ini. Untungnya, Fuery dan Falman sering ke Central, jadi tempat ini cukup terurus. Aku membuka laci dan mengambil foto yang kusimpan di bawah tumpukan berkas tak penting.

Foto ini diambil oleh Bibi Christ 10 tahun lalu. Ada anak perempuan berambut pirang pendek membawa keranjang makan, laki-laki tua yang kelihatan sedang marah-marah pada anak laki-laki tinggi berambut gelap yang berusaha memukulnya. Itu aku.

Saat itu aku berumur 16 tahun dan sedang berlatih menjadi Flame Alchemist di bawah asuhan Berthold-sensei. Berkali-kali tanganku terbakar, pernah hingga rambutku terkena api, Riza selalu menyiapkan kain basah di dekatku, hingga sekarang aku menganggap Riza sebaggai adikku karena aku sendiri tidak punya saudara.

Soal saudara...tiba-tiba aku teringat Alphonse. Aku benar-benar terkejut ketika mengetahui Edward bisa melakukan transmutasi roh ke baju zirah itu. Ia pasti benar-benar menyayangi adiknya itu. Aku pernah berjanji, pasti ada cara untuk mengembalikan tubuh mereka. Tapi bagaimana...

"Co-colonel brengse—hah! K-kau—hah!"Edward memasuki ruanganku dengan keringat bercucuran. Aku spontan melempar foto itu kembali ke laci.

"Oh, sudah selesaikah tes-nya?" tanyaku dengan tersenyum dan membuatnya benar-benar kesal.

"Kau benar-benar sialan! Kenapa kau bilang pada mereka aku perempuan hah? Semua tentara bodoh itu menyuruhku—bahkan memanggilku nona kecil dan membelikanku permen dan jus...dan boneka ketika aku menunggu hasil tes!" amuknya.

"Hahaha, tidak apa-apa, kan? Kau memang manis sih..." kataku sambil melempar jas merahnya...dan itu membuat wajah Edward itu merah padam tidak karuan.

"Aku LAKI-LAKI, BRENGSEK!"

Menyenangkan sekali mengejek anak ini...

"Daripada kau mengumpatku terus..."aku melihat silver watch yang menunjuk angka 4 sore. "Bagaimana jika kita ke East? Ada yang ingin kubicarakan denganmu." kataku sambil melihat Edward yang duduk di sofa.

"Kenapa tidak di sini saja, hah?" tanyanya ketus.

"Markasku di East. Nanti kau akan jadi bawahanku dan bekerja di sana, bukan disini." kataku sambil bersiap pergi. "Ayo, atau aku perlu menggendongmu?"

"Dasar laki-laki tua mesum dan brengsek." katanya sambil berdiri dengan malas.

"Di East nanti akan kuberitahu bagaimana caranya agar kau bisa mendapatkan tubuhmu kembali, Elric." bisikku. Edward melihatku dengan kaget, lalu melompat dari sofa dan keluar dari ruanganku.

"Ayo! Lelet sekali kau, brengsek!" teriaknya dari luar.

Aku melihatnya sambil geleng-geleng kepala. Dasar anak kecil, dihasut sedikit saja pasti mau melakukan apapun. Aku akan berusaha membantunya sebisaku, bagaimanapun dia calon juniorku yang paling bodoh.

To Be Continued..

Agak gaje ya chapter ini, saya sendiri bingung waktu ngebuatnya (-_-")

Yah, pokoknya saya tetep tunggu comment dari teman-teman! (^.^b)

Next Chapter : Fullmetal Alchemist

Semoga semuanya masih niat baca sampai ini fanfict end ya.. (T_T)7

Arigatou! T etep RnR ya minna~ (/3)/