Minna! ^^ Akhirnya, Last Chapter...dan maaf sebesar-besarnya ceritanya berakhir di sini! DX *sembunyi di belakangnya Al*

Maaf telat update ya, *bungkuk* habis ulangan nih soalnya, belum ikut remidial pula...*sweat*

Selain itu, saya sibuk menggambar fan-art Fullmetal Alchemist! XD Kalau ada waktu silahkan cek Deviantart saya ya. :D Alamatnya ada di profil saya kok. XD (promosi) Soalnya susaaah banget ketemu Fan Fullmetal Alchemist Indonesia. D; Saya kepingin banget kenalan sama banyak fans FMA Indonesia.( TwT)

At all, silahkan dinikmati kegajean fanfic ini ya! d(^0^)b

All character belong to Hiromu Arakawa-sensei *\(*∀*)/*

Summary :

Aku melihat ke jendela. Rasanya...aku memang tidak tega memanfaatkan bocah Elric itu demi ambisiku. Tapi, ini demi mereka juga. Sebagai superior, sudah tugasku untuk melindungi anak buahku kan?

Cerita Sebelumnya :

Aku menemani Edward yang mengikuti tes penerimaan State Alchemist. Dia melakukan hal menakjubkan yang tak pernah kulihat sebelumnya.

Aku teringat akan sesuatu, janji yang kukatakan, dan tujuan utama Edward untuk menjadi seekor anjing militer.

"Di East nanti akan kuberitahu bagaimana caranya agar kau bisa mendapatkan tubuhmu kembali, Elric." bisikku. Edward melihatku dengan kaget, lalu melompat dari sofa dan keluar dari ruanganku.

"Ayo! Lelet sekali kau, brengsek!" teriaknya dari luar.


Chapter 6

Fullmetal Alchemist

"Bagaimana jika setelah sampai di East kita jalan-jalan sebentar?"

"Haaah?"

Edward melihatku dengan tampang shock-nya. Sementara kereta terus berjalan, aku melihat ke luar jendela sambil nyengir.

"Kenapa? Kau tidak mau? Kau bilang belum pernah ke East City kan?" tanyaku dengan senyum deadly yang makin membuat tampang Edward curiga.

"Kau memang orang ter-brengsek yang pernah aku temui." jawabnya ketus. Aku melihatnya dengan tampang sedih (yang kubuat-buat).

"Aku menawarkan sesuatu yang bagus dan kau terus memanggilku brengsek..." kataku sambil melipat tangan dan melihat ke arah jendela lagi.

"Jika kau tidak brengsek aku tak akan memanggilmu begitu." ucapnya dengan cepat.

"Berarti jika kau kecil aku boleh memanggilmu..."

"Siapa yang kau bilang KECIL?" teriak Edward dengan bodohnya.

"Iya...ya, ." tutupku sambil melihat kepalan automail Edward. "Tadi itu tontonan yang sangat menarik sekali." pujiku.

"...Diamlah!"jawabnya ketus. "Nanti kuminta bayaran penonton kalau begitu!"

"Hahahaha! Nasibmu bagus sekali bisa keluar dari tempat itu setelah menhunuskan spear-mu itu pada Fuhrer!"tawaku. "Walaupun itu cuma gertakan..."

"Aku hanya memperingatkan Fuhrer Bradley itu untuk ingat umurnya..."jawabnya jengkel.

"Kalau bisa memperolah sertifikat nanti, kau akan jadi orang militer..."kataku sambil melihatnya. "Tapi kalau kau melakukan hal seperti tadi lagi, bisa-bisa sertifikatmu ditarik lho, jagalah sikapmu sedikit!"

"Huh...seharusnya aku yang bilang begitu." katanya sambil menatapku serius.

"Maksudmu?"

"Waktu aku menyerang Fuhrer...semua penonton meneriakiku seperti orang bodoh...hanya kau orang brengsek yang tidak bereaksi."lanjutnya curiga. "Benar-benar pengabdian yang kuat pada Fuhrer ya..." ejeknya.

Aku melihatnya, setengah terkejut. Anak ini benar-benar sensitif dengan keadaan sekitarnya. Aku terkekeh sambil melipat tanganku.

"Sebenarnya...kalau kau membunuh Fuhrer tadi, ada satu kursi kosong di atas nanti..."bisikku.

"HAAAAAH?" teriaknya. "Oi...oi, aku mendengar hal yang bagus sekali, nih...apa aku laporkan saja ya pada orang-orang di atas..."kekehnya. Aku hanya melihat ke arah jendela kereta sambil tersenyum girang.

"Hahaha! Tapi yang sebenarnya gawat itu kau 'kan?" ancamku.

"Maksudmu?"

"3 janji terbesar State Alchemist. 'Dilarang membuat emas', 'Bersumpah untuk mengabdi pada militer', dan yang terakhir...'Dilarang menciptakan manusia'."

"Walau tak sempurna...kau telah melakukan transmutasi manusia...dan kalau ketahuan itu akan jadi kasus besar lho..." kataku sambil menatap wajah Edward yang berkeringat. "Bisa-bisa adikmu akan diseret ke Laboratorium karena kasus langkanya bisa diteliti." tutupku.

"K—kau!"

"Sadar tidak? Kamu masuk tes dengan menutupi semua itu seakan tidak terjadi apa-apa. Kalau aku sih...reputasiku naik karena membawa Alchemist berkemampuan rata-rata sepertimu."lanjutku. "Kalau aku tidak keceplosan...semua akan berjalan mulus...jadi jangan macam-macam denganku ya." kataku sambil tersenyum senang sekali pada Edward yang wajahnya tegang.

"Kau breng-!"

"Eh? Sudah sampai di East nih, ayo turun!" kataku sambil berdiri dan meninggalkan Edward yang sepertinya tertahan oleh kata-kataku.

Aku keluar dari kereta dan Edward mengikutiku dari belakang. Jika diperhatikan, keberadaanku memang memcolok di stasiun ini. Apa yang dilakukan seorang kolonel siang bolong di tempat sesak ini?

Tapi jujur saja, yang jauh lebih mencolok itu anak kecil berjubah merah ini. Rambutnya yang dikepang, dan matanya yang tak bisa diam melihat hal-hal baru disekitarnya.

"Lebih banyak tentara di sini ya..."komentarnya sambil melihat kerumunan tentara lain yang memberi hormat padaku.

"Jenderal disini lebih memfokuskan keamanan pada jalur keluar-masuk." jawabku.

"Yo. Colonel!" Havoc datang sambil memberi hormat. "Baru saja bertemu di Central, kita bertemu lagi ya..."

"Iya sampai aku rasanya bosan sekali melihatmu." jawabku sambil pergi menuju tempat parkir mobil.

"Ngo-ngomong-ngomong siapa bocah cebol itu?" bisiknya sambil melihat Edward yang menahan marah.

"Oh? Itu gadis yang aku rekomendasikan." jawabku. "Lebih cantik dari Hawkeye ya?"

"Kau ngelindur ya ,Colonel?" tanyanya mual. "Itu cowok."

"Hahaha! Bagaimana keadaan pacarmu itu, Havoc?"

"Putus tadi pagi. Ia bilang aku lebih memilih pekerjaan daripada kencan dengannya." jawabnya kesal. "Entah kenapa rasanya aku selalu putus dengan pacarku setelah bertemu dengan anda, Sir."

"Perasaanmu saja..."jawabku enteng. "Ohya, kau belum kenalan dengan anak ini kan? Elric, perokok ini anak buahku." kataku sambil menunjuk Havoc.

"2nd Lieutenant, Jean Havoc. Salam kenal ya." kata Havoc sambil menjabat tangan pada Edward.

"Pasti menderita memiliki atasan seperti orang ini..." kata Edward sambil melihatku dengan kesal.

"Benar sekali..." bisik Havoc.

"Ahahahah! Elric, masuk ke mobil!"


Setelah tiba di kantor, aku duduk di kursi dekat meja dan Edward mengikutiku lalu duduk di sofa sambil memegang jus jeruknya. Aku melihatnya menunduk sambil mengumpat—sesekali menyedot jusnya.

"Nih..." kataku sambil melempar buku padanya. "Biar tidak bosan."

"Ou." katanya sambil menangkap buku itu.

"Lalu...apa kau sudah memikirkan sesuatu selama setahun ini, Elric?"

"Tentu saja." katanya dengan pandangan tajam. "Kau kira aku ini bisa bersantai-santai ya?"

"...tidak juga."

Edward menatapku sebentar lalu meletakkan jusnya di meja dan mulai membuka buku itu. Aku melihatnya sambil tersenyum sinis.

"Pandanganmu itu berbeda sekali saat aku bertemu denganmu setahun lalu...tepatnya kau seperti orang mati." kataku. Edward tidak bereaksi.

"Aku hanya pendosa yang sudah membunuh Ibuku dua kali." katanya sumbang sambil terus membolak-balikkan buku yang kuberikan tadi.

Pendosa?

Saat ini kau sedang berhadapan dengan seorang pendosa, Edward...

"Tapi aku senang kau bisa hidup kembali, Elric."

"Ini demi janjiku pada Al, kami akan mendapatkan tubuh kami kembali." jawabnya. "Lalu secepatnya aku akan angkat kaki dari kandang militer ini." lanjutnya jengkel.

"Bagaimana..." bisikku.

"Apa?"

"Apa kau sudah memikirkan caranya?"

Edward menutup buku yang kuberikan lalu memnundukkan kepalanya. Ia terlihat ingin mengatakan sesuatu yang sangat penting padaku.

"Kau pasti tahu kan, benda itu." katanya setengah berbisik.

"Oh...Philosopher Stone-kah?"

"Batu legenda yang katanya kekuatannya tidak bisa dibandingkan dengan apapun..."kata Edward tajam. "Bahkan tak ada equivalent exchange-nya. Kekuatannya berbeda dengan Alchemist." tutupnya lagi.

"Aku dengar juga begitu."jawabku santai. "Tapi aku dengar pula batu itu cuma legenda."

"Biar legenda-pun aku yakin bisa mendapatkannya!" kata Edward dengan suaranya yang nyaring.

Aku terdiam sejenak melihat Edward yang berdiri serta tangan automail-nya yang terkepal. Sorot matanya yang tajam itu mengingatkanku pada sesuatu.

"hahahahahaah!"

"C-colonel sialan! Kenapa kau tertawa?"

Aku terkekeh. "Lucu saja. Aku senang punya bawahan yang bodoh sepertimu." kataku lagi.

"A-awas kau co-!"

TOK TOK!

"Ada apa?"

"Colonel Mustang! Ada surat dari Central!"

"Oh! Akhirnya yang ditunggu-tunggu!" kataku sambil membuka pintu lalu mengambil sebuah amplop besar dan kotak hitam kecil.

"Apa?" Edward menengok dari sofa coklat di ruanganku.

"Ini..."aku membuka surat yang datang dari Central. "Sertifikat! Selamat ya, sekarang kau sudah resmi jadi anjing militer!"

"Aku tidak senang sama sekali." jawabnya kesal. "Cepatlah, aku ingin balik ke Resembool nih.."

"Kau sudah dapat sertifikat negara lho...setidaknya mari kita rayakan ini dengan minum teh."

"Apa asyiknya minum teh sama cowok brengsek sepertimu?" teriaknya.

Aku membuka amplop besar itu dan mengeluarkan benda-benda di dalamnya. Jam perak itu berkilauan saat kubuka dari kotaknya.

"Ini...lambang state alchemistmu!" kataku sambil melempar jam perak itu.

"Ini cuma jam kuno biasa." timpalnya sambil menangkap silver watch itu.

"Lalu...dokumen perjanjian yang harus ditanda-tangani, sertifikat, surat-surat...ini rumit dan membosankan jadi nanti kau baca sendiri saja ya." kataku sambil sibuk melihat-lihat isi amplop besar itu.

"Kerja yang benar dong...dasar tukang makan gaji buta..." keluhnya.

"Nah! Ini yang penting..." kataku sambil mengeluarkan selembar sertifikat tipis. "...Wah-wah, tega juga ya Fuhrer memberi julukan seberat ini untuk bocah sepertimu..."

"Apaan?"

"Nih." kataku sambil memberikan sertifikatnya pada Edward.

"Apaan nih, Fullmetal?"

"Itu, nama keduamu sebagai State Alchemist. Julukanmu sekarang 'Fullmetal Alchemist'." kataku pada Edward yang terlihat kaget dan bersemangat secara bersamaan. "Baja ya...tidak cocok...terlalu berat untukmu." kekehku padanya.

"Hahaha, aku suka. Perasaan yang berat itu akan kupegang mulai sekarang." katanya dengan mata berapi-api. "Yak! Ini sudah semua 'kan? Aku mau balik ke Resembool nih! Dadah!"

"Hei! Kenapa terburu-buru begitu? Kita belum minum teh untuk merayakan ini nih...Fullmetal." kataku sambil menyerahkan amplop itu padanya.

"Sudah kubilang kan apa asyiknya minum teh berdua dengan seorang Colonel mesum?" teriaknya kesal sambil membuka pintu ruanganku. "Lain kali saja, brengsek." kata Edward keluar ruangan sambil melambaikan tangan kanannya.

Aku masih duduk di kursi ruanganku sambil melihat keluar matahari terbenam sore ini. Aku mulai berpikir yang tidak-tidak nih...

"Sir, ini aku."

"Oh, masuklah!"

Havoc datang ke ruanganku sambil membawa setumpuk kertas yang kutahu apa saja itu. Menaruhnya di atas mejaku lalu meregangkan otot leherku.

"Tadi aku lihat bocah itu keluar ruangan anda,lho. Ia pamer silver watch saat berpapasan denganku tadi...dasar bocah norak."kata Havoc sambil mengisap rokoknya.

"Bukan sembarang bocah lho, sekarang kan dia sudah berpangkat Mayor...atasan barumu." kekehku pada havoc yang terkejut.

"I-iya juga ya." katanya lagi.

"Anak itu hebat, kalau dia banyak membantuku, tak lama lagi impianku terwujud nih...hahahah!" kataku sambil terbahak-bahak.

Havoc melihatku lagi dengan tampang jijiknya. "Tega sekali memanfaatkan anak kecil...ya sudah deh...semoga cepat terwujud ya, Sir."

Aku melihat ke jendela lagi. Rasanya...aku memang tidak tega memanfaatkan bocah Elric itu demi ambisiku. Tapi, ini demi mereka juga. Sebagai superior, sudah tugasku untuk melindungi anak buahku kan?

"Benar-benar deh...mengurus anak kecil itu repot tidak ya..."gumamku sendiri. "Lama-lama aku mengerti deh, bagaiman repotnya Hawkeye mengawasiku selama ini." Kekehku sendiri, Havoc lalu memandangiku sambil setengah tersenyum.

"Setidaknya anda berterima kasihlah pada takdir, kolonel."

The End

...END!

Ini sudah end! Fanfic pertama dan ter-gaje yang pernah saya buat! Terima kasih untuk pembaca sekalian yang mau meluangkan waktu penting kalian untuk membaca fanfic ini ya, terima kasih buanyaaaak buat yang sudah review atau comment, saya merasa terbantu sekali dan merasa senang sekaligus!

Walaupun endingnya seperti ini, saya mohon sangat agar pembaca sekalian tidak membunuh saya (TwT) *sembunyi di belakang Roy*

Untuk kedepan nanti saya berencana untuk membuat Fanfic pairing RoyEd tapi Ed saya genderbent jadi female, hehehe XD Semoga nanti bisa membuat yang lebih baik dari fanfic ini!

Kalau ada hal yang ingin dibicarakan sama saya *halah* silahkan kontak, semua lengkap ada di Bio Profil saya. ^^

Sekian dan Arigatou semuanya!