Title : Truly YOU
Author : DesySeungho ShawolShinee
Genre : Romance, Comedy
Cast : Park Ji Yeon (T-ara), Yoo Seung Ho (actor), Lee Hong Ki (FT. Island), Jung Yong Hwa (CN Blue), Kim So Eun (actress)
Length : chaptered
Main Backsound: Breathless by Shayne Ward
Chapter 3 :: Don't You Miss Me, Mom? Dad?
-author pov-
"You leave me breathless... Drrt.. drrt... You're everything good in my life... Drrt.. drrt," suara dering ringtone dan vibrate handphone Ji Yeon mengagetkannya yang sedang tidur pulas. Ji Yeon terduduk.
"Aighoo~! Jam berapa ini? Siapa yang menelponku?" Ji Yeon mengangkat telpon dari Hong Ki.
"Yobosseo Ji Yeon ah~ ! Kau udah bangun?" kata Hong Ki dengan riang di seberang sana.
"Hong Ki ya~ ! Ini baru jam berapa?" Ji Yeon merajuk sambil mengkucek-kucek matanya. *yang bener mengucek-kucek atau mengkucek-kucek sih? xD*
"Cepat buka pintunya Ji Yeon ah~ !" seru Hong Ki lagi.
"Baiklah," Ji Yeon berjalan terhuyung-huyung ke arah pintu dan membukanya.
Ckrekk.. Tapi bukan wajah Hong Ki yang muncul. Sebuah boneka kelinci super besar ada di depan Ji Yeon.
"Annyeong," boneka itu berbicara dan tangannya bergerak-gerak. Ji Yeon yang masih setengah sadar kaget dan menutup pintu.
"Ji Yeon ah~ ! Ini aku Hong Ki !" Hong Ki menggedor-gedor pintu dengan panik. Ji Yeon segera membukanya kembali. Benar saja, di depannya kini berdiri Hong Ki dengan senyum lebar. Boneka kelinci tadi ada di pelukan Hong Ki.
"Waaaa… Ji Yeon ah~! Kenapa matamu? Waeyo Ji Yeon ah~?" Hong Ki menarik tangan Ji Yeon dan mendudukkan Ji Yeon di sofa. Boneka kelinci super besar itu hanya terduduk pasrah di lantai.
"Kau beneran nggak kenapa-kenapa?"
"Gwaenchanna, beneran kok," kata Ji Yeon yakin. Hong Ki menyodorkan cermin yang ada di dekatnya.
"Matamu udah kayak mata panda begini, kau bilang nggak ada apa-apa?" mata Hong Ki terlihat sangat cemas.
"Ne, Hong Ki ya~ ! Aku mandi dulu. Tunggu ya?" Ji Yeon beranjak ke kamar mandi sambil menutupi matanya.
"Baiklah, aku masakan makanan untukmu ya?" Hong Ki mulai sibuk membuat kimchi untuk Ji Yeon. "O, Ji Yeon ah~! Jangan lupa kompres matamu."
"Aratso," seru Ji Yeon dari dalam kamar mandi.
'Aku tau Ji Yeon.. Aku tau semalam kau menangis. Kau nggak akan bisa membohongiku,' kata Hong Ki lirih. Mata Hong Ki tertuju pada foto Uppa dan Umma Ji Yeon yang terpasang di dinding. 'Ahjussi, ahjumma… apa kalian nggak kangen dengan anak kalian? Kalian nggak tau kan betapa kesepiannya Ji Yeon karena harus hidup sendirian?' kata Hong Ki dalam hati.
-000-
Ji Yeon keluar dari kamar dengan seragam lengkap.
"Ji Yeon ah~ ! Makanlah. Ini aku buatkan kimchi," Hong Ki menyodorkan kimchi kepada Ji Yeon.
"Gomawo…," Ji Yeon melahap kimchi itu dengan lahap.
"O iya, boneka ini untukmu," Hong Ki menyodorkan boneka kelinci itu pada Ji Yeon.
"Hong Ki ah~ ! Jeongmal gomawoyo… Kenapa kau selalu berbuat baik padaku," Ji Yeon berkaca-kaca.
"Uri neun chinguya.. Iya kan? Gajja," Hong Ki menarik Ji Yeon keluar apartemen. Saat berjalan menuju ke sekolah, Hong Ki nggak berani memandang Ji Yeon. 'Karena aku…. Aku tidak hanya menganggapmu sahabatku. Saranghaesso, mianhae Ji Yeon a~!" batin Hong Ki. *Backsound :: because I love you, cause I love you… (Because I'm Weary-Ernest)*
-000-
Di kelas 2-1, kelas Hong Ki dan Ji Yeon…
"Annyeong, anak-anak semua," guru Kim Han Bong menyapa muridnya di depan kelas.
"Annyeong songsaengnim," kata anak-anak serempak.
"Gurrae, besok akan diadakan pertemuan dengan wali murid untuk membahas kegiatan pembelajaran. Tolong berikan undangan ini pada orang tua kalian," guru Han Bong menunjuk salah satu murid untuk membagikan undangan. Hong Ki melihat ke arah Ji Yeon. Setelah menerima surat undangan itu, Ji Yeon menunduk. Hong Ki sedih melihatnya.
"Baiklah anak-anak. Kita mulai pelajaran hari ini, buka buku halaman 27. Kumpulkan pula PR kalian yang kemarin."
"Ne.."
-000-
"Na..na..na..," Hong Ki masuk ke kelas sambil bersenandung. "Ji Yeon ah~! Ke kantin—" Hong Ki terhenti melihat bangku Ji Yeon yang kosong. "Dimana dia?"
"Hei, kau liat Ji Yeon?" tanya Hong Ki pada yeoja yang duduknya berdekatan dengan Ji Yeon.
"Tadi dia keluar kelas sambil berlari dan membawa handphone, tapi aku nggak tau dia kemana," kata yeoja itu kemudian meneruskan membaca komik. Hong Ki segera keluar dari kelas, mencari Ji Yeon.
Di taman belakang, Ji Yeon memandangi handphonenya. Terlihat called list, baru sekitar satu menit yang lalu Ji Yeon mendial nomor ayahnya. Ji Yeon membuka kontak dan mendial nomor ibunya. Wajahnya terlihat girang saat telponnya diangkat.
"Park Hae In disini, maaf saya sedang sibuk. Silahkan tinggalkan pesan jika penting."
"Ternyata masuk mailbox. Ku pikir kau mau menerima telponku umma," kata Ji Yeon lirih dan kembali murung. Sekali lagi Ji Yeon mencoba menelpon ayah dan ibunya. Tapi nggak ada hasilnya karena telponnya nggak pernah diangkat oleh mereka. "Umma, Uppa, kalian nggak pernah peduli padaku."
Ji Yeon duduk bersandar di pohon akasia kemudian memeluk lututnya. "Tidakkah kalian memikirkanku? Hidup sendiri disini. Apa kalian nggak mengkhawatirkanku? Aku benar-benar kesepian di rumah." Ji Yeon hampir menangis.
"Gaseumi yokae, Saranghandan maljocha motanigga. Nunmuli teojyeo, Geuriumi heureugo heureunigga" sayup-sayup terdengar suara petikan gitar klasik dan lantunan lagu dari balik pohon akasia. Ji Yeon mendengarkan dan ikut bernyanyi. Sang pelantun lagu *halah* tersadar ada orang yang mengikuti lagunya kemudian dia berhenti.
"Siapa?" suara seorang namja terdengar di balik pohon akasia.
"O? Mianhae. Mianhae penghuni pohon akasia, mianhae. Aku benar-benar nggak tau kalau di pohon ini ada penghuninya." Ji Yeon membungkuk pada pohon dan hendak lari.
"Penghuni?" seorang namja berdiri di depan Ji Yeon. Namja itu kelihatan gagah sambil membawa gitarnya. Ji Yeon mendangak melihat namja itu.
"Kau?" Namja itu terkejut melihat Ji Yeon.
"O! Mian.. Aku sempat mengira kalau kau adalah penghuni pohon ini," Ji Yeon membungkukkan badannya lagi.
"Haha. Nggak apa2 kok.. Boleh aku duduk disini?" Tanya sang namja. Namja itu duduk dan meletakkan gitarnya
"Ne," kata Ji Yeon sambil tersenyum. "Hmm.. kau siapa ya? Hehe."
"Yong Hwa imnida. Kau anak kelas 2 ya?" kata Jung Yong Hwa menatap Ji Yeon. 'Tuhan, gangsahamnida.. Kau telah mengizinkan aku duduk berdekatan dengan orang yang ku sukai selama ini,' kata Yong Hwa dalam hati.
"Ne, kau tau? O, Ji Yeon imnida. Kau kelas berapa memangnya?" kata Ji yeon lagi.
"Tentu saja. Aku kelas 3. Kau—,"
"Ji Yeon imnida," Ji Yeon menyela perkataan Yong Hwa. "Ah, mian. Tadi kau mau bilang apa?"
"Aniya.. Haha," Yong Hwa memetik gitarnya. "Hmm, matamu sembab Ji Yeon ah~, kau habis menangis?"
"Mwo? A.. aniya Yong Hwa ya~," Ji Yeon memalingkan muka dan mengusap wajahnya.
"Ini," Yong Hwa menyerahkan sebuah sapu tangan.
"Ah, gomawo.." Ji Yeon tertunduk.
Agak lama mereka terdiam. Hanya mendengarkann kicauan burung-burung dan suara petikan gitar Yong Hwa.
"Kau suka bermain gitar?" Ji yeon memulai percakapan lagi.
"Ne. Aku selalu merasa gitar adalah kekasihku. Haha." Yong Hwa tersenyum hangat.
Hong Ki sedang berlari menuju taman belakang. Larinya terhenti melihat Ji Yeon dan Yong Hwa yang sedang menyanyi bersama. Hong Ki hanya tersenyum dan melangkah ke kelasnya.
-Yong Hwa pov-
"Kau mau ku nyanyikan sebuah lagu?" kataku. Senang sekali bisa duduk bersamanya. Memandang senyumnya dari dekat.
"Waaa.. Gomawo… Boleh.. boleh," Ji yeon tersenyum. Aku pun menyanyikan lagu 'My Heart is Calling'. Ji yeon pun bernyanyi bersamaku.
"Ya~! Kau salah pada lirik itu. Pasti pencipta lagu itu akan marah jika ada orang yang salah menyanyikan lagunya," aku mengacak-acak rambut Ji Yeon. Aku melihat Ji Yeon terkejut dan menyembunyikan wajahnya.
"Mianhae. Aku.. aku telah berbuat salah," aku merasa bersalah telah menyentuhnya.
"Bukan. Kau nggak salah. Hehe," kata Ji Yeon. Wajahnya memerah.
Kriiing… Bel masuk kelas berbunyi. Ahh… aku harus segera mengakhiri pertemuanku dengan Ji Yeon. Aku beranjak dari dudukku.
"Masuklah ke kelas Ji Yeon ah~. Oyaa,, Kau bisa memanggilku oppa," aku berpamitan dan berjalan menuju ke kelasku.
"Gomawo Yong Hwa oppa," kata Ji Yeon mengakhiri percakapan. Aku melangkah ke kelasku dengan senyum senang.
*Pulang sekolah*
Ji Yeon melangkah ke luar gerbang. Sekelompok anak nakal menjahilinya. Anak nakal itu meminta tas Ji Yeon. Ji Yeon yang ketakutan hanya menutup matanya. Seseorang menarik tangan Ji Yeon dan menyelamatkannya.
.tbc.
Apa yah yang terjadi dengan JiYeon? Tunggu di chap selanjutnya ^^
Mind to reviews?
