(Warning: shonen-ai, rada gombal, garing, gaje)

(Disclaimer: Amano Akira's. But the story is mine.)

###

Many Ways

Telephone.

Telefon genggam merupakan barang wajib hampir bagi semua orang didunia. Alat komunikasi ini bisa membuat koneksi antar seseorang menjadi berbeda. Yang jauh menjadi dekat, dan yang dekat bisa saja menjadi jauh, tergantung orang yang menanggapinya...

###

Seorang Hibari Kyouya tidak menduga akan sampai ke tempat ini, sentra penjualan telefon genggam disebuah mall. Berkat orang yang kini berada disampingnya, Dino Cavallone, yang telah tidak sengaja menjatuhkan telefon genggam miliknya ke kubangan lumpur (dan dengan bodohnya masih sempat membersihkannya lagi dengan air mengalir), ia mendapatkan ganti sebuah telefon genggam baru yang akan dibelikan oleh sang tersangka. Dino mengajak (lebih tepatnya memaksa) dirinya untuk ikutserta membeli bersama supaya dia bisa memilih merk dan model apa yang cocok sesuai keinginannya. Walau pada dasarnya Hibari tak perduli, yang penting bukan dia yang mengeluarkan uang.

Setelah berkeliling hampir 2 jam, mereka memilah – milah ratusan counter, akhirnya mereka membeli telfon genggam disalahsatu counter. Hibari memilih telefon genggam tipe flip (yah, telefon genggam di Jepang memang umumnya bertipe flip) berwarna hitam dengan sedikit aksen merah dibeberapa tempat.

Setelah transaksi jual – beli usai, mereka berdua turun kelantai bawah yang lebih ramai dengan pengunjung karena lantai itu adalah wilayah foodcourt.

"Haneuma, berapa total ini semua?", tanya Hibari pada Dino.

Dino mengangkat kepalanya, berusaha berfikir, "Ng... Kira – kira 95000 Yen."

Hibari hanya menanggapi dengan anggukkan.

Lama mereka berdiam diri masing – masing.

Hibari berbicara setengah berbisik, "Hei, Haneuma... Aku ingin berterimakasih... padamu."

Diam. Masih tetap diam.

"Hei, katakan sesuatu.", dengan kesal ia membalikkan tubuhnya.

Namun lawan bicaranya lenyap. Dan sepanjang waktu tadi, ia berbicara sendirian seperti orang idiot.

###

"Halo?", sahut suara yang sudah akrab di telinga Hibari.

"Haneuma, dimana kau?", tanya Hibari dengan nada gusar. Ia tampak menyerah untuk mencarinya bolak - balik sedari tadi.

"Oh, kau mencariku ya?", jawab Dino disebrang sana, nadanya menunjukkan bahwa ia senang karena dicari oleh si kepala komite kedisiplinan.

Hibari menggeram rendah, "Maksudmu kau sengaja meninggalkanku disini?"

Tawa renyah segera menggema di ujung sana, "Tentu saja tidak, Kyouya. Aku tidak sejahat itu kok, tenang saja."

"Katakan saja dimana lokasimu. Kalau kau tak mau kemari, aku yang akan datang ketempatmu.", ujar Hibari setelah menghela nafas sedikit. Entah karena ia tahu bahwa ia tidak ditinggal begitu saja, atau ingin menenangkan hatinya yang ingin segera mencincang habis tubuh Dino karena menelantarkannya.

Jeda sebentar. Dino tak menyahut omongannya.

"Kau dengar tidak? Katakan saja kau berada dimana. Aku akan kesana.", ulangnya kepada Dino.

"Hng? Kau tidak tahu aku berada dimana?", tanya Dino.

Hibari kembali menggeram, "Bagaimana aku bisa tahu kalau kau pergi diam – diam? Orang idiot sekalipun tahu hal itu!", nada bicaranya sedikit meninggi karena kesabarannya yang sedikit demi sedikit terkikis perlahan – lahan.

"Kau benar – benar tidak tahu aku ada di mana, Kyouya?", Dino mengulang pertanyaannya dengan nada yang terdengar menyebalkan dipendengaran Hibari.

Helaan nafas yang dikeluarkan Hibari dengan gusar menimbulkan bunyi gemuruh di telefon. "Dengar, Haneuma, jangan main – main, aku lelah.", nada bicaranya kembali normal, namun menunjukkan sikap pasrah menghadapi tingkah Dino.

Tawa renyah kembali terdengar disebrang sana, "Baik, baik. Kau bertanya aku dimana?"

"Hng.", balas Hibari yang bisa disama artikan dengan kata 'ya'.

Dino terdiam sebentar, dan melanjutkan kembali apa yang ingin dia katakan, "Aku berada tidak jauh darimu, Kyouya..."

Ia menggantung kalimatnya, sehingga Hibari sedikit bertanya – tanya dan juga penasaran.

"Karena aku ada dihatimu."

CTAK! Tuut... tuut... tuut...

Dengan satu hentakkan, Hibari memutuskan sambungan telefon dari Dino, dan menyebabkan telefon genggam yang baru dibelinya itu sedikit cacat fisik (baca: sedikit kebeset. Karena nutup flipnya gak nyantai).

Sementara itu Dino memperhatikan telefon genggamnya dengan menghela nafas didepan toilet pria. "Wah, wah, kasar sekali... Sepertinya dia marah. Sebaiknya aku langsung kembali saja.", iapun melenggang meninggalkan toilet pria, dan segera menyusul Hibari.

###

END

###

A/N: Lagi ngetrend nih yang kayak gini di sekolah saya. Kalo misalnya ada yang nanya, "eh si (nama seseorang) kemana sih?" pasti temen – temennya bakal nyaut "dihatiku!" atau "dihatimu!". Dan itu gaje banget. Dan saya secara tidak langsung udah ketularan... *sigh*

Saya tau ceritanya rada gaje dan juga gombal. But please be nice to me. :)

Mind to review?