(Warning: shonen-ai, rada gombal, garing, gaje)

(Disclaimer: Amano Akira's. But the story is mine.)

###

Many Ways

Truth.

Sebuah lagu memiliki lirik lagu seperti ini:

Tolong dan terima kasih, harus kita ucapkan.

Tolong dan terima kasih, jangan di lupakan.

Tolong dan terima kasih, ucapkan setiap hari.

Apa kalian sudah melakukannya?

###

"Hei, kodok,"

Fran menoleh, mendapati Bel memanggilnya.

"Shishishi... Kau cantik sekali...", Bel berkata, entah itu maksudnya mengejek atau malah memuji.

Fran terdiam sebentar, lalu ia menjawab pernyataan aneh tersebut, "Terima kasih."

Bel merengut tidak senang, ia menyandarkan punggungnya ke dinding, "Apa? Kenapa kau mengatakan 'terima kasih'? Barusan aku mengejekmu."

"Tapi, itu terdengar seperti pujian.", Fran menjawab dengan lambat – lambat.

Kini giliran si bocah tiara yang terdiam. Ia cukup terkejut dengan pernyataan juniornya itu. "Shishishi... Kalau begitu, semua kata – kataku bohong.", ia tersenyum.

"Oh...", ia memberi respon pada pernyataan Bel, singkat, padat, namun kurang jelas. Selanjutnya ia melanjutkan perjalanannya yang tertunda menuju ruangannya.

Bel melekatkan pandangan pada Fran yang meninggalkannya. Senyumnya yang menyebalkan hilang, "Cih! Membosankan!", ia langsung meninggalkan koridor itu dan melangkah menjauh.

###

Bel tidak habis pikir, juniornya itu bisa membuatnya jengkel. Ia ingin sesuatu yang menyenangkan, respon yang menarik. Bukannya ditimpali dengan sesuatu yang tidak jelas seperti yang didapat dari Fran. Namun sepertinya itu yang membuatnya istimewa dimata si bocah tiara. Perasaan yang berbeda terasa didada Bel, rasa yang sebelumnya belum pernah didapatinya. Tapi, ini apa ya? Bel berfikir keras.

Namun dari arah kamar boss besarnya, datang Squalo dengan wajah mengkerut. Sudah bisa ditebak kalau ia baru saja melalui perseteruan berdarah dengan Xanxus. Seketika Bel nyengir bahagia, kini ia mendapat kesenangannya yang tertunda.

"Shishishi, ribut lagi, Squally?", Bel bertanya saat Squalo lewat didepan wajahnya melewati koridor panjang.

Alis Squalo berkedut, menahan amarah masih tersisa dari pertengkarannya dengan si bos brengsek, "Kau masih tanya, hah? Dasar bocah bodoh!", umpatnya kesal.

"Shishishi...", Bel terkikik. "Kalian ini ya... Pagi yang cerah seperti ini seharusnya tidak boleh dirusak dengan dentangan pecahnya piring, atau suara teriak – teriak dari kalian berdua, itu mengganggu pagiku yang sempurna sebagai pangeran... Kalian itu apa memang tidak bisa tenang sehari saja ya? Bisa tidak kalian rukun? Shishishi... Kalau diperhatikan dengan seksama, kalian itu sudah seperti suami dan istri yang mau cerai – tentu saja kau ada dipihak istri, Squally – dan sudah ada disituasi talak tiga...", ia berhenti untuk menghela nafas. Setelahnya, dengan cengiran yang lebar, ia mendongak menatap Squalo yang terdiam, "Lalu, kali ini apa yang luka? Itu?", ia bertanya dan menunjuk bahu kanan Squalo yang sedari tadi disentuh oleh tangan kirinya.

"Bukan urusanmu, bocah tiara sialan!", raungan Squalo menggema disepanjang koridor. Amarahnya yang tertimbun dipikirannya membuat raungan itu terdengar mengerikan. "Daripada kau tidak ada kerjaan, bereskan bekas – bekas alat makan yang dirusak si boss berengsek itu dikamarnya!", sambil mengatakan itu ia berlalu dan menjauh dari Bel dengan gusar.

Bel melambai – lambaikan tangannya yang seakan hilang dibaju yang ia kenakan, lengannya kepanjangan dan menutupi telapak tangannya. "Shishishi... tidak boleh, tidak boleh. Seorang pangeran tidak boleh bersih – bersih, walaupun untuk si boss."

Setelah Squalo lenyap dari pandangannya, senyumnya hilang. Ia terdiam cukup lama, merenungi sesuatu. Apa perasaan yang saat ini menyelubunginya sama seperti perasaan Squalo pada Xanxus? Perasaan benci kah? Bukan kok. Kalau benci, tiap orang di sini pasti merasakan yang seperti itu kepadanya yang usil ini. Jadi... Apa? Bel masih berkutat dalam pikirannya.

Ia menggeleng, apa yang ia pikirkan bisa membuatnya gila kapan saja. Ia mulai memusatkan pikirannya pada kejadian tadi, "Shishishi, Squally lucu sekali. Malu – malu... Mungkin dalam hati dia begitu mencintai si boss sampai – sampai rela mau meladeni...".

Ia berhenti. Kalimatnya tergantung begitu saja. Ia tertegun dengan kalimatnya sendiri. Cinta... Kalau kata – kata itu ditujukan untuk dirinya sendiri, mungkin akan jadi seperti ini: 'Mungkin dalam hati aku begitu mencintai Fran sampai – sampai rela mau meladeni dan memusingkan hal – hal tentang dirinya.'.

"Ya... Ternyata itu...", Bel bergumam, lalu tawa khasnya terdengar di sepanjang koridor. "Shishishi... Sekarang aku tahu apa yang harus kulakukan...", iapun meninggalkan tempat itu, dan mencari kesenangan baru yang sudah ia rencanakan.

###

"Hei, kodok,"

Fran menoleh, mendapati Bel memanggilnya kembali.

Bel nyengir kearah juniornya itu, "Shishishi... Kau cantik sekali..."

Lain seperti sebelumnya, ia langsung menimpali pernyataan itu, "Terima kasih."

Bel merengut tidak senang seperti sebelumnya, karena tidak ada perubahan dari balasan Fran, "Apa? Kenapa kau mengatakan 'terima kasih'? Barusan aku mengejekmu."

"Sudah ku bilang itu terdengar seperti pujian. Memang apa salahnya mengucapkan 'terima kasih' kepada orang yang telah memuji?"

Bel terdiam, Namun senyumnya yang mengerikan masih terukir di wajahnya, "Semua kata – kataku bohong, kau tahu?"

"Ya, aku tahu. Dan ini seperti deja vu...", Fran membalikkan tubuhnya, hendak meninggalkan Bel.

"Shishishi... Kalau begitu, kalimatku yang terakhir itu bohong."

Fran terdiam, dia kembali menatap Bel, "Aku bingung.", ia berkata. Jujur sekali.

"Shishishi...", Bel tertawa. "Maksudku, aku tidak berbohong tentang kecantikanmu. Seseorang yang cantik sepertimu cocok untuk menjadi kekasih seorang pangeran sepertiku."

"Terima kasih.", jawab si junior lagi.

Cengiran Bel makin lebar, "Kau tahu, aku juga menyukaimu.", ia berkata tanpa basa basi. "Aku menyukai orang – orang yang cantik sepertimu."

Fran kembali terdiam, ia tetap menatap Bel tepat di bola matanya. "Ya, aku juga suka."

Terkejut, seketika bocah tiara itu kehilangan senyumannya, digantikan dengan ekspresi tercengang.

"Kalau kau tanya apa aku berbohong, jawabannya tidak.", Fran tersenyum, ia berjalan meninggalkan Bel sekali lagi.

Dibelakangnya, Bel masih terkejut. Perasaan aneh melanda lelaki tersebut. Niatnya mengerjai, malah balik kena dikerjai.

Sepertinya ia mendapatkan kesenangan yang berbeda dari yang sebelumnya pernah ia dapatkan...

###

END

###

A/N: yup, drabble paling membingungkan yang pernah saya buat. Terkesan pointless... Fran juga rada OOC di sini... Terus, ini ngomong – ngomong mana yang seme, mana yang uke sih? (Saya aja bingung! #tentukansajasendiri) Yah... gagal lagi... *desperado* Yah, mudah – mudahan anda tidak kapok baca drabbles saya... tcuss!

Saya tau ceritanya rada gaje dan juga gombal. But please be nice to me. :)

Mind to review?