(Warning: shonen-ai, rada gombal, garing, gaje)
(Disclaimer: Amano Akira's. But the story is mine.)
###
Many Ways
Harsh.
Hal apa yang paling menyenangkan disaat pagi yang cerah menyambut kita? Begitu bangun dari tidur, membuka jendela kamar, dan mendapatkan aroma pagi hari menyeruak ke indra penciuman kita. Setelahnya kita mandi dan mengisi perut kita yang kosong dengan sarapan pagi hari yang nikmat. Pokoknya kita menyukai hal – hal yang wajar terjadi saat kita membuka mata. Namun benarkah semua orang merasakan hal itu?
###
Pagi hari yang cerah...
CRASH!
Di dalam Varia HQ...
DUAK!
Tepatnya dari dalam sebuah ruangan...
PRANG!
Keributan yang sudah menjadi rutinitas sehari – hari terjadi...
"VOOII! Apa yang kau lakukan, boss sialan?", seorang lelaki berambut perak panjang berteriak dan menuding – nudingkan jarinya kearah seorang berirish merah. Sebelah tangannya berada dikepala dan melindungi bagian yang terkena lemparan gelas kaca sebelumnya, sehingga mengantisipasi untuk tidak terkena lemparan susulan lagi.
Sang lawan bicara mendekat sedikit demi sedikit dengan piring kaca ditangannya, bersiap untuk melempar benda itu kemanapun ia mau, "Diam kau, sampah."
Squalo menyeringai menyindir, "Heh. Kalau aku tidak diam memangnya kau mau apa?"
SHUUT... PRANG!
"VOOOIII!"
"Aku akan melakukan itu.", Xanxus bergumam dengan suaranya yang rendah.
Piring bekas sarapan itu langsung melayang kearah pundak Squalo. "Brengsek kau!", Squalo meringis, merasakan nyeri yang dalam di area tulang selangkanya.
Sang lelaki bermata merah itu menatap dalam Squalo sebentar, lalu 3 detik kemudian ia berbalik menuju meja kerjanya, "Bereskan semua itu, sampah. Sampai kau tidak melakukannya, aku akan membuatmu mati."
Squalo menggertakkan giginya. Ia paling tidak suka disuruh – suruh, apalagi oleh boss brengsek macam Xanxus. "Aku tak peduli apa katamu, boss sialan! Kau saja yang mati!", ia berteriak dan melangkah keluar dari ruangan bossnya, meninggalkan bunyi bedebam pintu dibelakangnya.
###
"Shishishi, ribut lagi, Squally?", Bel bertanya saat Squalo lewat didepan wajahnya melewati koridor panjang.
Alis Squalo berkedut, tak percaya ada sesuatu yang menyebalkan datang secara beruntun menghantam moodnya yang hancur hari ini. "Kau masih tanya, hah? Dasar bocah bodoh!", umpatnya kesal.
"Shishishi...", Bel terkikik. "Kalian ini ya... Pagi yang cerah seperti ini seharusnya tidak boleh dirusak dengan dentangan pecahnya piring, atau suara teriak – teriak dari kalian berdua, itu mengganggu pagiku yang sempurna sebagai pangeran... Kalian itu apa memang tidak bisa tenang sehari saja ya? Bisa tidak kalian rukun? Shishishi... Kalau diperhatikan dengan seksama, kalian itu sudah seperti suami dan istri yang mau cerai – tentu saja kau ada dipihak istri, Squally – dan sudah ada disituasi talak tiga...", ia berhenti untuk menghela nafas. Setelahnya, dengan cengiran yang lebar, ia mendongak menatap Squalo yang terdiam, "Lalu, kali ini apa yang luka? Itu?", ia bertanya dan menunjuk bahu kanan Squalo yang sedari tadi disentuh oleh tangan kirinya.
"Bukan urusanmu, bocah tiara sialan!", raungan Squalo menggema disepanjang koridor. Amarahnya yang tertimbun dipikirannya membuat raungan itu terdengar mengerikan. Ia muak mendengar Bel yang berkicau dengan topik 'pagi yang cerah', 'tidak bisa rukun', dan sindiran 'suami – istri' itu. Ditambah lagi dengan 'shishishi'-nya yang berulang – ulang terdengar seperti desisan yang menurutnya sangat menjijikan. "Daripada kau tidak ada kerjaan, bereskan bekas – bekas alat makan yang dirusak si boss berengsek itu dikamarnya!", sambil mengatakan itu ia berlalu dan menjauh dari Bel dengan gusar. Ia ingin mengistirahatkan mentalnya yang terusik hari ini.
Bel melambai – lambaikan tangannya yang seakan hilang dibaju yang ia kenakan, lengannya kepanjangan dan menutupi telapak tangannya. "Shishishi... tidak boleh, tidak boleh. Seorang pangeran tidak boleh bersih – bersih, walaupun untuk si boss..."
###
Sekali lagi, pagi yang cerah menghampiri Varia HQ. Dan kebetulan, hari itu adalah hari minggu, terlihat menyenangkan bila didukung oleh pagi yang cerah seperti ini.
Derap langkah menggema di sepanjang koridor. Squalo melangkah santai menuju ruang makan untuk menyantap sarapannya.
"Hallo~ Squalo~! Pagi yang cerah, ya?", dengan tiba – tiba Lussuria menyapa dari arah yang berlawanan.
Squalo sedikit berjingat, terkejut dengan kedatangan Lussuria yang mendadak. "Kau gila ya? Mau membuatku mati karena serangan jantung?", omel Squalo sesaat kemudian.
"Oh, tentu saja tidak!", Lussuria menyangkal. "Oh ya, boleh minta tolong? Panggilkan si Boss untuk sarapan bersama dong! Mau ya, mau ya~?", dia bertanya kepada Squalo.
"Kenapa harus aku? Kenapa tidak lakukan saja sendiri?", Squalo bertanya balik, sekaligus menolak permintaan Lussuria.
Lussuria menggeleng dan mendecak, "Oh, Squalo. Kalau kau tidak panggilkan Boss, kau tidak akan dapat sarapan!"
"Apa? Peraturan macam apa itu?", Squalo makin kesal karena syarat itu, dan ditambah lagi perutnya sudah minta diisi sejak bermenit – menit yang lalu.
"Yang lain sudah membantu menyiapkan sarapan hari ini dan hanya kau saja yang tidak berpartisipasi. Jadi, inilah kerjaanmu. Lagi pula hanya memanggil si Boss saja kok.", Lussuria menjelaskan. Ia tahu bahwa ia akan dicekik Squalo sampai mati. Namun, inilah kebijakannya.
"Argh! Baik, baik! Aku panggilkan!", Squalo menggeram sembari memutar badannya dan berjalan berlawanan dari arah ruang makan menuju ruangan Xanxus.
###
Kini pintu besar yang terbuat dari kayu tua berkualitas sudah berhadapan tepat di depan wajah Squalo. Dengan enggan tangannya menggedor pintu itu dengan keras. "Hoi, boss sialan! Cepat keluar, sarapannya sudah siap!", sekuat tenaga ia berteriak, berusaha membuat bossnya yang paling kejam abad ini mendengar suara pemuda itu.
Tidak ada reaksi.
Alis Squalo berkedut. Diacuhkan seperti ini memang menyebalkan. Dan tambah diperparah lagi dengan perutnya yang lapar terus menerus memberinya sinyal untuk di isi. Dengan segenap kekuatannya dia kembali menggedor pintu dihadapannya dan berteriak lagi, "Heh, kau dengar tidak sih? Kau tuli ya?"
"Masuk."
Suara Xanxus yang dalam terdengar dari balik pintu, suaranya teredam jarak batas antar ruangan.
Tanpa basa – basi, Squalo masuk kedalam ruangan bossnya. Disana ia melihat Xanxus, tengah berdiri didepan meja kerjanya yang penuh dengan berkas ini – itu yang tidak jelas. "Apa perlumu kesini?", tanya boss bermata ruby itu pada Squalo.
Squalo tertegun sesaat, tidak ada makian dari mulut bossnya. Biasanya isi omongannya hanya 'sampah' dan 'sampah'. Kemana semua 'sampah' itu? Entahlah, itu tidak penting. Tapi dibalik semua ini pasti akan ada yang lebih buruk lagi. "Sarapannya su..."
DUG!
"Argh!", Squalo melolong begitu merasakan asbak kristal mengantuk bagian lengan kirinya. "Kau?"
"Berisik. Aku tak mau mendengarkan seonggok sampah meracau. Kau sudah mengganggu dengan gedoran pintu dan juga teriakanmu didepan pintu ruanganku...", ucap Xanxus enteng, tanpa menatap bawahannya, tetap sibuk dengan pekerjaannya.
Gigi lelaki berambut perak itu bergemeretak. Tangannya sudah tak merasakan sakit lagi. Moodnya sudah berantakan.
"Keluar. Aku tak mau melihat sampah sepertimu berada di ruanganku.", lanjut Xanxus.
Diam. Yang terdengar hanya deru nafas berat dari Squalo.
Squalo gusar. Kali ini ia benar – benar gusar kepada boss besarnya ini. Tangannya mengepal disisi tubuhnya erat – erat, giginya bergemeretak. Segera ia menyambar penindih kertas yang berada diatas meja disebelahnya.
PRANG!
Meleset.
Xanxus terdiam, ia memandangi meja kerjanya yang kini pecah terkena lemparan penuh amarah Squalo. Ia membalikkan badannya, lalu melayangkan pandangannya langsung kebola mata bawahan berambut perak itu.
DEG! Squalo merasa hatinya goyah, sesaat dia merasa keberaniannya untuk menentang boss yang menyebalkan ini hilang seketika. Namun ia segera memalingkan wajahnya, berusaha kabur dari tatapan dingin Xanxus.
"Apa yang kau lakukan?", suara rendah Xanxus mengudara.
Dengan segenap keberaniannya, Squalo menatap mata berwarna ruby itu, "Aku muak! Memangnya aku bukan manusia! Berkacalah! Siapa sebenarnya yang sampah, dasar brengsek! Daripada kau terus – terusan merendahkanku lebih baik kau mati saja...", ia menelan air liurnya sesaat, lalu tertawa hambar, "atau aku saja yang meninggalkan tempat ini dan terjun ke neraka yang terdalam? Itu terdengar menarik."
Pandangan mata Xanxus makin melekat erat kearah Squalo. Ia maju selangkah demi selangkah mendekati pemuda itu. Hingga ia benar – benar bisa mendaratkan nafasnya yang hangat didekat wajah Squalo, "Begitu? Coba ulang lagi kalimat terakhirmu."
Dengan menahan gemetar, ia menjawab, "Kau tuli ya? Ku bilang aku akan pergi da..."
Xanxus membungkam mulut Squalo sebelum lelaki berambut perak itu menyelesaikan kalimatnya, sehingga bagian belakang kepala Squalo membentur dinding.
Squalo terbelalak. Rasa nyeri dibelakang kepalanya membuatnya pusing setengah mati. Ia benar – benar tidak menyangka bahwa Xanxus akan melakukan itu. Seakan ia lupa sesaat bahwa orang yang diajak ribut olehnya adalah Xanxus, boss paling brengsek dan kejam di seluruh dunia.
"Dengarkan ini, sampah.", lelaki bermata ruby itu mendesis tepat didepan wajah Squalo, sehingga deru nafas Xanxus terasa jelas di pori – pori wajah lelaki rambut perak itu. "Seberapa inginnya kau menjauh dariku atau pergi dari tempat ini, kau tidak akan pernah bisa. Walau kau mengabdi kepada setan manapun, kau tak akan pernah bisa! Memang siapa lagi yang mau menampung sampah macam dirimu? Hanya aku!"
Squalo terbelalak, kalimat terakhir Xanxus menggema dibenaknya.
Setelah disambut hening beberapa detik, Xanxus melepaskan tangannya dari mulut bawahannya. Lalu ia berjalan meninggalkan Squalo yang tertegun dan syok. "Untuk apa kau ingin terjun ke neraka paling dalam dan mati di sana?", boss besar itu menghampiri mejanya yang kacau, tangannya memainkan pecahan kaca yang berserakkan, "Tempat ini adalah neraka terdalam untukmu, jadi matilah disini. Aku menunggu saat – saat itu, kau akan mati ditempatku. Di sisiku..."
Sekali lagi, hening merengkuh ruangan itu. Bahkan deru nafas keduanya seakan tak terdengar.
Tangannya diam, sekeping pecahan kaca pun terjatuh dengan bunyi dentingan, "Aku serius.", Xanxus menambahkan.
Diam sekali lagi. Tidak ada sangkalan yang mengudara. Namun setelah itu Xanxus hanya mendengar suara bedebam pintu yang ditutup.
Squalo kabur, layaknya pengecut.
"Apa – apaan dia? Sampah itu... Membuat mejaku berantakan...", Xanxus berkata gusar, seakan tidak sadar apa yang ia katakan tadi membuat bawahannya terguncang.
###
"Lho? Squally, boss sudah kau panggil belum?", Bel bertanya pada Squalo yang lewat didepan matanya.
"Bukan urusanmu, bocah tiara sialan!", teriak Squalo didepan wajah Bel. Lalu ia lanjut berjalan menyusuri koridor dengan langkah cepat yang kaku.
"Shishishi... Ada – ada saja.", Bel terkekeh melihat tingkah Squalo. "Tapi kok rasanya deja vu, ya?"
Sementara Bel bingung tentang deja vu, Squalo makin mempercepat langkahnya supaya bisa mencapai ruangannya. Saat sampai, ia membuka pintu dan menutupnya dengan kasar. Lalu yang terdengar hanya...
"AAAARGH! APA – APAAN SIH SI BRENGSEK ITU?"
###
END
###
A/N: Ah, finally, jadi juga XS saya. Tapi... Fail! Gagal banget nih drabble! Udah panjang banget (buat ukuran drabble), gaje, gak romantis sama sekali... Xanxus malah keliatan kayak lagi 'ngancem' dibanding 'mengutarakan perasaan'... Mudah – mudahan readers masih pada sudi ngebaca drabble saya selanjutnya. *mojok* *desperado*
(Bagi anda yang jeli, drabble ini adalah spin off dari chapter kemaren. Jadi, selamat bagi anda yang udah lumayan ngerasa ada yang gak beres... *gaje* *kena amuk massa*)
Saya tau ceritanya rada gaje dan juga gombal. But please be nice to me. :)
Mind to review?
