Mohon maaf sebelumnya. Sebenernya fic ini seharusnya ada di fandom Naruto Crossover. Tapi, berhubung takut nantinya jadi sulit ditemukan jadi Sun publish di fandum Naruto aja. Mohon maaf sekali lagi. silahkan membaca. ^.^
Balesan riview.
Mrs. King sen : seharusnya emang Crossover, tapi takutnya gak ada yang baca karena jarang dicari, hehehe. Kamu suka BBM an sama Kakashi? Sama dong# plak.
The portal Transmision-19 : Makasih ya klo suka.
HakuZuka : Maaf ya ga ngajak-ngajak Haku. Tapi udah aku salamin ke Kakashi sensei, katanya salam balik.
Arisa-Yuki-Kyutsa: Makasih udah suka. Silahkan riview lagi #Plak.
Riku94 : makasih ya udah di kasih tau. Aku juga ragu waktu nulisnya, hehehe.
Mayra gaara: Udah update nih. Riview lagi ya.
Chapter 2: Lomba dimulai!
Title : Kumpul Bareng Chara Anime
Sun : Sun SetSuna
Disclaimer Naruto: Masashi Kishimoto
Hunter x hunter : Yoshihiro Togashi
Bleach : Kubo Tite
Inuyasaha : Rumiko Takahashi
Eyeshield 21 : Riichiro Inagaki dan Yusuke Murata
Warning : Gaje, Typo(s), OOC, Abal
Sumamary : Sun mengumpulkan chara-chara anime untuk melakukan suatu permainan atau perlombaan. Siapa sajakah yang akan datang? Permainan apakah yang akan mereka lakukan?
Dikamar no. 3 (Gon dan Mirroku)
"Aku kan ingin satu tim dengan Killua," ucap Gon rada kecewa karena tidak bisa satu tim dengan Killua. Bocah berambut jabrik itu sedang tidur-tiduran diatas kasurnya sambil memikirkan apa yang sedang dilakukan Killua. "Apa aku cat saja ya rambutku menjadi warna putih?" tanya Gon pada dirinya sendiri sambil meraba-raba rambutnya yang berwarna hitam. "Tapi kalau aku melakukannya, Bibi Mito bisa memarahiku." Gon pun akhirnya mengurungkan niatnya setelah membayangkan dirinya dimarahi habis-habisan oleh orang yang merawatnya dari kecil tersebut.
"Hah~ Kenapa aku harus satu tim dengan anak kecil? Lagipula, kenapa semuanya pria?" Keluh Miroku sambil membersihkan tongkat Budhanya dengan malas.
"Tuan pendeta, siapa nama anda? Namaku Gon." Gon mulai membuka pembicaraan sambil mengambil posisi duduk disamping Miroku.
"Jangan panggil aku pendeta, panggil aku Miroku saja," balas Miroku malas.
"Pendeta Miroku!" Panggil Gon sambil menunjukan senyum polosnya.
"Miroku saja, tidak usah pakai pendeta!" ucap Miroku setengah kesal. "Lagi pula aku merasa kurang pantas disebut pendeta," tambahnya yang menyadari perbuatannya yang suka menggoda gadis-gadis muda.
"Baiklah, tuan Miroku Saja,"
"Tidak usah pakai 'saja!'" teriak Miroku sweatdrop.
"Hehe.." bukannya takut, Gon malah ketawa gajelas.
'Dasar anak kecil,'
"Hei tuan Miroku, apa benar yang tadi kau sedang berada wanita-wanita cantik?" tanya Gon penasaran dan agak blushing.
"Iya, memangnya kenapa?"
"Setahuku, bukannya pendeta tidak boleh main perempuan?"
"Mangkanya jangan panggil aku pendeta!" Teriak Miroku frustasi menghadapi kepolosan Gon.
"Tapi kau kelihataanya orang baik," ucap Gon sambil tersenyum.
"Hn?" Miroku berhenti mengelap tongkat Budhanya. Menatap pada bocah didepannya sambil termenung. "Baru kali ini aku dibilang orang baik. Benar-benar anak yang polos ini," pikir Miroku sambil tersenyum. "Ngomong-ngomong bocah,"
"Namaku Gon!" sungut Gon rada manyun karena dipanggil bocah.
"Iya dah Gon," balas miroku cuek. "Apa anak berisik berambut putih itu temanmu?"
"Iya, namanya Killua. Dia teman baikku," ucap Gon dengan semangat.
"Kau tahu. Aku juga punya teman berambut putih di duniaku. Tapi dia lebih berisik dari Killua mu itu,"
"Wah sama! "ucap Gon kagum. Apa yang dikagumin coba?
"Ayo kita berusaha memenangkan permainan bodh ini," ucap Miroku.
"Hem!" balas Gon bersemangat.
Di kamar no.4(Renji dan Hisoka)
"Namaku Renji Abarai wakil kapten divisi ke 6, siapa namamu?" tanya Renji memulai pembicaraan.
"Tidak bisa dijawab," jawab Hisoka seenaknya dan tetap fokus pada kegiatannya, menyusun menara kartu.
"Hei! Kutanya siap namamu?" Renji kembali bertanya. Kali ini dengan nada lebih tinggi dari sebelumnya.
"Tidak bisa dijawab, khukhu." Jawab Hisoka lagi. Urat-urat di kepala Renji mulai bermunculan bagai rumput disiram hujan. (?)
"Katakan siapa namamu?" ucap Renji sambil menodongkan pedangnya. Ya ampun~ sepenting itukah nama bagimu Renji~?
"Mau berkelahi rupanya." Hisoka mulai mengeluarkan Nen dan hawa membunuhnya dan membuat Renji ketakutan.
"Ha-hawa macam apa ini? Apa orang ini memiliki Riatsu juga." Pikir Renji yang kakinya mulai gemeteran. "Kapten Kuchiki tolong aku!" Teriak Renji dalam hati.
"Namaku Hisoka," ucap Hisoka dan menghentikan hawa membunuhnya karena melihat Renji sudah gemetaran. "Aku tidak suka buah yang terlalu matang, khe khe khe." Hisoka tertawa kecil dan membuat lawan bicaranya bingung.
'Apa maksudnya dengan buah yang terlalu matang?'
Akhirnya mereka berduapun bersalaman. Dengan terpaksa sepertinya.
Di kamar no.5 (Sun dan Doraemon)
"Eh Emon," panggil Sun watados.
"Doraeman!" teriak doraemon yang gak terima namanya disingkat-singkat dan jadi terdengar seperti tokoh banci era 80 an.
"Dora,"
"Aku bukan Dora! Tapi doraemon!" lagi-lagi doraemon kesel karena disamain sama tokoh anak yang sering kesasar itu.
"Hehe.. bercanda. Gitu aja marah," tawa Sun sambil nyolek-nyolek pinggang doraemon. "Aku pinjam alat pemanggil tadi dong," pinta Sun pada Doraemon.
"Untuk apa? bukannya semua peserta sudah terkumpul?" tanya Doraemon.
"Bukan untuk peserta ,tapi untuk pembawa acara," jawab Sun menjelaskan pada rekan dadakannya itu.
"MC maksudnya?"
"Iya MC atau apalah sama saja. Aku malas jika harus teriak-teriak untuk membawakan acara ini," ucap Sun sambil ngupil.
"Dasar pemalas," batin doraemon yang teringat akan nobita. "Nih." Doraemon lalu mengeluarkan alat yang tadi.
"Um… Aku butuh seorang MC yang cantik dan juga pintar," ucap Sun sambil memikirkan nama yang tepat untuk ditulis.
"Kau ini mau cari MC apa istri sih?" tanya doraemon swetdrop.
"Klo bisa dua-duanya juga ga apa-apa,hihihi." Setelah berpikir beberapa tahun-ralat- beberapa menit, akhirnya ia mendapatkan nama yang tepat. "Dia saja." Dan ditulislah sebuah nama pada kertas yang sedang dipegangnya.
Klik!
Bowsh
Munculah..
Jeng jeng jeng
"Selamat datang Mamori," ucap Sun menyapa gadis tersebut.
"Ini dimana?" tanya Mamori sambil melihat sekelilngnya. Ruangan yang tentunya sangat asing baginya.
"Ini di rumah kami. Perkenalkan, aku Sun Set–" Belum selesai Sun ngomong, Mamori langsung nyekik Sun.
"Kembalikan aku! Kau pasti ingin memisahkan aku dari Sena dan mengerjainya saat aku tidak adakan! Ayo cepat jawab!" teriak Mamori sambil terus nyekik Sun.
"Do-ra-e-mon. Ban-tu-a-ku." ucap Sun dengan suara yang kepotong-potong karena cekikan Mamori.
"Apa? Aku tidak dengar!" teriak doraemon. Dari mukanya terlihat klo dia sengaja gak denger.
"Apa?" tanya doraemon sambil siul-siul.
"Dor-Dor-mon-e-mon,"
"Aku kok tiba-tiba ngantuk," bukannya nolongin, robot kucing itu malah tidur-tiduran.
"To-long!" ucap Sun dengan napas tinggal sedikit.
"Baiklah." Doraemon lalu memakai mahkota raja dan memakainya. "Mamori-san, lepasin makhluk aneh itu!" perintah doraemon pada Mamori.
"Iya." Mamori patuh dan mulai melepaskan cekikannya.
"Kenapa lama sekali? Kau sengaja ingin membuatku mati ya!" teriak Sun pada Doraemon. "Dan hei! Apa maksudmu dengan menyebutku makhluk aneh?" tanya Sun emosi.
"Mau melawan raja!" doraemon berbalik memarahi Sun.
"Ma-maafkan aku," ucap Sun sambil membungkukkan badan. "Kenapa jadi aku yang minta maaf!"
"Hhehe.. ini pembalasan untuk yang tadi," tawa doraemon sambil tersenyum puas. "Ehem. Begini Mamori." Sun mulai kembali mengarahkan perhatiannya pada Mamori. "Aku menculik, maksudnya membawamu kesini karena aku butuh seorang MC untuk acara ku. Kau bersedia kan?"
"MC katamu?" tanya balik Mamori.
"Ti-tidak mau ya?" tanya Sun dengan nada takut dan khawatir kalau Mamori menolah tawaran tersebut.
"Mau! Mau! Mau!" ucap Mamori dengan semangat. 'Sudah lama sekali aku ingin menjadi MC. Aku bosan jadi manager,' Batin Mamori dengan curhatannya.
'Syukurlah,'
"Tapi, bagaimana dengan Sena?" tanya Mamori khawatir dengan adik kelas yang disayanginya tersebut.
"Tenang aja. Diakan sudah besar, pasti bisa menjaga dirinya sendiri." Sun mencoba menenangkan Mamori.
"Aku harap seperti itu."
Di tempat lain
Dor! Dor! Dor!
Suara senapan terdengar di sebuah lapangan football
"Mamori niichan! Tolong aku!" teriak Sena sambil berlari dan berlinang air mata.
"Cepat lari anak pendek!" Perintah hiruma tanpa perasaan sambil terus menembaki dengan senapan kesayangannya. "Selagi tidak ada manager sialan itu, aku akan menyiksanya terus, khe khe khe," ucap hiruma disertai tawa licik khasnya.
Kembali ke cerita
"Ini nama-nama peserta dan susunan acaranya." Sun memberikan profil para peserta dan susunan acara yang sudah disusun dengan rapi. Mamori mulai membacanya halaman demi halaman.
1 detik
10 detik
60 detik
"Sudah selesai. Nih aku kembalikan," ucap Mamori yang membuat Sun dan Doraemon langsung cengo di tempat.
'Busyet dah, baru juga 1 menit.'
'Coba Nobita bisa pinter kayak dia, pasti aku tidak perlu repot-repot membantunya mengerjakan PR. Tapi itu tidak akan pernah terjadi. Hah~." Batin doraemon disertai helaan napas panjang.
"Kau memang hebat Mamori, tidak salah aku memintamu jadi MC," Puji Sun sambil menjabat tangan Mamori. Sambil menyelam minum air.
"Terima kasih." Balas Mamori disertai senyuman manisnya.
"Eh doraemon, kau sudah menyebar pengumuman ke seluruh konoha kan?" tanya Sun sambil bisik-bisik kedoraemon.
"Sudah," jawab doraemon sambil mengacungkan jempolnya. Emang punya ya?
"Kau juga sudah membajak seluruh stasiun tv untuk menayangkan acara kita kan?"
"Beres."
"Kalian bisik-bisik apaan sih?" tanya Mamori penasaran.
"Bukan apa-apa kok, hehe." Sun dan doraemon tertawa garing.
"Mamori, silahkan kau istirahat dulu. Satu jam lagi kita akan berkumpul disini," ucap Doraemon mempersilahkan Mamori yang terlihat berkeringat. Sepertinya menjadi manager tim American Football cukup melelahkan.
"Dimana kamarnya?" tanya Mamori yang bingung melihat banyaknya kamar yang tersedia.
"Yang di ujung sana," ucap Sun menunjuk sebuah kamar yang berada diujung ruangan. Kamar yang paling luas.
"Oh, yang itu ya," tanggap Mamori paham dan berjalan menuju kamar tersebut.
"Bukankah yang itu kamarmu Sun?" tanya doraemon sambil menatap curiga kerekannya tersebut. "Apa yang kau rencanakan?"
"Eh? Begitu ya?" tanya Sun sambil masang tampang bodoh dan pura-pura tidak tahu.
"Dasar kau ini," ucap doraemon sweatdrop.
Robot berwarna biru itu lalu berniat menyusul Mamori untuk memberikannya kamar yang lain tapi ditahan oleh Sun.
"Jangan melakukan hal yang tidak-tidak," ucap doraemon mengingatkan.
"Kita ganti kamar saja," ucap Sun sambil tersenyum.
"Ha? Maksudmu?" tanya doraemon tidak mengerti.
"Kita pindah ke kamar yang lain saja. Biarkan Mamori menggunakan kamar itu."
"Tapi, bukannya kau sangat senang dengan kamar yang itu?" doraemon mengingat kembali betapa senangnya Sun saat memasuki kamar tersebut.
"Tidak apa-apa. Dia itu wanita dan satu-satunya disini. Biarkan dia mendapatkan pelayanan yang lebih baik."
"Baiklah aku mengerti," ucap doraemon paham dan keduanya menuju kamar lain yang masih kosong.
.
.
.
1 jam waktu istirahat dan perkenalan telah habis. seluruh peserta telah bangun dan berkumpul diruang tengah.
"Doraemon," panggil Sun pada robot kucing berwarna biru itu. "Apa Mamori belum bangun?" tanyanya yang tidak melihat sosok Mamori diruangan tersebut.
"Entahlah," jawab doraemon yang juga tidak tahu.
"Biar aku lihat dulu," pemuda itu bergegas menuju kamar Mamori dengan senyum menyeringai dibibirnya. "Siapa tahu saja dongeng putri tidur akan terjadi padaku, ufufufu.."
"Aku ikut!" teriak doraemon yang merasa curiga dan langsung menyusul kekamar Mamori.
"Tidak kusangka pikiranmu mesum juga doraemon," ucap Sun sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Aku tidak mesum sepertimu! Aku cuma mau memastikan kau tidak melakukan hal yang tidak-tidak!" teriak doraemon dengan muka memerah.
"Woo fitnah~ sapa bilang aku ini mesum~" ucap Sun dengan nada seolah –GUE-gak-MESUM.
"Sudah lupakan saja. Ayo kita bangunkan dia,"
"Baik~"
Tok tok tok
"Mamori, apa kau sudah bangun?" tanya Sun dengan harapan nama orang yang dipanggilnya masih tertidur.
"Sudah!" ucap suara dari dalam dan meruntuhkan angan-angan Sun.
"Boleh kami masuk?"
"Silahkan,"
Kedua orang itu pun masuk kedalam dan mendapati Mamori yang lagi frustasi.
"Ada apa denganmu Mamori?" tanya Sun dengan tatapan heran.
"Huwaa! Sun!" teriak Mamori dan langsung memeluk Sun sambil menangis. "Huwa! Aku tidak bisa jadi MC!" jeritnya dan semakin mengeratkan pelukannya pada Sun dan sukses membuat wajah pemuda itu memerah sempurna.
"Mamori-san! Kau membuatnya pingsan!" teriak doraemon panik dan membuat Mamori tersadar akan apa yang sedang dilakukannya.
"Maafkan aku!" diapun melepaskan pelukannya pada Sun yang sekarat.
"Kau tidak apa-apa?" tanya doraemon membangunkan Sun.
"Aku serasa sedang ada disurga~," ucap Sun setengah sadar.
"Menyesal aku bertanya padamu." Doraemon sweatdop melihat kelakuan temannya itu.
"Ada apa denganmu Mamori? Kenapa kau tidak bisa menjadi MC?" tanya Sun rada cemas. Takut Mamori berubah pikiran. Waktu acara sudah hampir dimulai. Tidak mungkin mencari pengganti yang sepertinya secara mendadak begini. "Apa kau tidak tahu cara membawakan acara?"
"Bukan seperti itu," jawab gadis itu sambil mengelap air matanya. "Aku tahu, tapi..."
"Tapi?" tanya Sun bisa sedikit bernapas lega mengetahui Mamori masih bersedia menjadi MC.
"Aku…"
"Iya?" Sun dan menatap Mamori dengan penasaran. Menunggu alasan apa yang membuatnya menangis. 'Apakah ini ada hu
"Aku… Aku tidak bisa menjadi MC dengan penampilan seperi ini!" teriak Mamori dan membuat kedua orang didepannya bergubrak ria. "Aku tidak mau terlihat seperti ini!" tambah Mamori sambil menundukkan pandangannya, mengamati dirinya yang masih berseragam sekolah.
"Memangnya penting ya?" tanya doraemon menggaruk-garuk belakang kepalanya.
"Tentu saja. Ini adalah debut pertamaku menjadi seorang MC. Aku tidak mau tampil dengan pakaian seperti ini,"
'Dasar wanita,' batin doraemon dan Sun bersamaan.
"Baiklah, serahkan saja padaku," ucap doraemon sambil menunjuk dadanya dan mulai merogoh kantung ajaibnya.
"Kamera pengganti baju"
Jeng jeng jeng
Doreaemon mengeluarkan sebuah kamera dari kantong ajaibnya, tentunya bukan sekedar kamera biasa.
Dia mulai mulai mengarahkan kamera ajaib tersebut kearah Mamori.
"Bersiap~"
Cklik.
Dalam sekejap saja baju Mamori telah berubah setelah doraemon memfotonya. Sekarang dia menggunakan daleman tank top berwarna pink dilapisi blazer berwarna putih, dan rok mini berenda berwarna putih. Sepatu hak tinggi berwana hitam dan sarung tangan berwarna putih menghiasi bagian terujung dar tubuhnya. Tak lupa, ada telinga kelinci sebagai pemanis tersemat dikepalanya.
"Kawai!" ucap Sun dan doraemon bersamaan disertai air liur yang mulai keluar. Jorok
"Sekarang aku siap!" teriak Mamori dengan semangat.
Setelah memakai mahkota rajanya, Sun, doraemon, dam Mamori menemui para peserta yang sudah menunggu. Kemudian mereka menuju panggung yang sudah disiapkan dilapangan.
Di luar sudah banyak penonton yang berkumpul. Kebanyakan adalah warga konoha. Mulai dari warga biasa, Genin, Chunin, Jounin, bahkan hokagepun ikut datang. Terima kasih berkat alat doraemon yang telah membuat merka datang kesini.
Para peserta mulai berbaris menghadap penonton. Mamori muncul dari bawah panggung dan menyapa mereka semua.
"Selamat pagi semua!" Sapa Mamori dengan senyum hangat.
"Pagi!" Balas penonton serempak.
"Wah! Mamori nii-chan cantik sekali!" ucap Monta yang lagi nonton tv bersama anggota tim Demon yang lain.
"Monta, hidung mu berdarah!" ucap Sena disebelahnya.
"Sudah tidak usah dipikirkan." Monta malah semakin mendekati tv nya dan membuat anggota yang lain tidak dapat melihat.
Dug!
Monta ditendang Hiruma yang baru masuk keruangan tersebut.
"Minggir kau anak pendek! Kau pikir kau saja yang mau nonton tv!" ucap Hiruma sambil memamerkan senjatanya.
"Perkenalkan semuanya, namaku Mamori Anezaki, panggil Mamori saja yach~" ucap Mamori sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Iya Mamori!" teriak penonton riuh.
"Suit-suit!"
"Guk..guk..guk.." Klo ini Kiba dan Akamaru.
"Kami mengucapkan terimakasih karena telah datang kemari untuk menyaksikan Game Show terhebat abad ini. Sebelum memulai acara, terlebih dahulu akan saya perkenalkan para peserta yang kan bertanding."
Kamera mulai menorot para peserta.
"Tim pertama, terdiri dari dua orang berambut putih, Jounin terhebat konoha, Hatake Kakashi!" Teriak Mamori dan kamera memperbesar wajah Kakashi.
Kakashi lalu melambai-lambaikan tangannya kepada penonton dilapangan.
"Yea! Yea!" Teriak warga konoha mendukung Kakashi.
"Dia memang benar-benar saingan ku." ucap Gai sambil mengelus-elus dagunya. PD nya dikau Gai sensei.
"Dan rekannya, seorang pembunuh cilik dari keluarga Zaoldyeck, Killua Zaoldyec!" tambah Mamori.
"Kenapa pakai kata-kata cilik segala sih. Bikin gak keren kan." Killua cemberut sambil tetap melambaikan tanganya ke penonton.
"Manisnya!"
Di tempat lain.
"Kenapa bukan aku sih yang di ajak, rambutku kan juga putih!" Inuyasa teriak-teriak sambil mengguncang-guncangkan tv dirumah Kagome.
"Inuyasa! Nanti tv ku bisa rusak!" Teriak Kagome pada inuyasaha.
"Aku ini kan character utama! Inuyasha! INUYASHA!" Teriak Inuyasha tanpa memperdulikan ucapan Kagome.
"Inuyasha Hentikan!"
"Kenapa ninja bertampang bodoh dan anak kecil yang berlagak sebagai pembunuh itu yang di ajak!" ucap Inuyasha yan masih gak terima.
Kagome terlihat mulai kehilangan kesabaran dan...
"Inuyashaaa! JATUH!"
Bruak!
Kata terakhir Kagome berhasil menyingkirkan inuyasa dari depan tv.
"Sa-sakit sekali,"
"Tim kedua, terdiri dari dua orang brambut kuning. Yang pertama, seorang ninja berisik dari konoha,Uzumaki Naruto!"
"Aku tidak berisik!" Teriak Naruto yang malah membuktikan dirinya sebagai ninja yang berisik. -.-
"Dan rekannya, seorang pria cantik bernama Kurapika Kuruta!"
"Eh, tadinya aku kira dia wanita lho," bisik salah seorang penonton ke temannya.
"Aku kira juga wanita, hampir saja aku pelet." Balas temannya yang ternyata adalah Orochimaru. What the hell!
Di kota Karakura.
"Apa-apaan tuh, kenapa ninja berisik dan seorang banci yang menjadi tim kuning, kenapa tidak aku saja?" Teriak Ichigo Kurosaki ga jelas.
"Rambutmu kan oranye." ucap Ishida sinis.
"Diam kau Ishida!" teriak ichigo pada ishida dan kembali menatap layar tv. "Dasar kalian kepala jeruk!" Ichigo malah ngata-ngatain Naruto dan Kurapika. Gak nyadar klo kepalanya juga kayak jeruk.
"Sudahlah Kurosaki, kita doakan saja biar Abarai menang." Orihime yang tadi diam mencoba menenangkan Ichigo.
"Itu benar," ucap Sado singkat.
"Mudah-mudahan saja begitu." balas Ichigo ragu.
"Tim ketiga, terdiri dari dua orang berambut hitam. Seorang pendeta genit bernama Miroku, dan rekannya seorang anak berambut landak bernama Gon!"
"Aku tidak genit kok Mamori. Ini fitnah," Sangkal Miroku sambil mendekati Mamori.
"Aii!" Mamori terkejut karena merasa ada yang mengelus-elus pantatnya, dan tidak lain pelakunya adalah Miroku yang langsung kena tamparan Mamori.
"Berani-beraninya dia melakukan itu, dasar pendeta kurang ajar!" Geram Monta yang lagi-lagi menutupi tv dengan badannya.
"Minggir!"
Duak!
Monta ditendang oleh Hiruma (lagi.)
"Sudah ku bilang jangan menghalangi pandangan ku!"
"Awas kau ya Miroku, akan ku bunuh kau nanti!" Teriak Sango yang lagi ikutan nonton tv di rumah Kagome. Hampir aja tu tv dibelah dua klo aja dia gak dipegangin sama Kagome.
"Tim ke 4, terdiri dari dua orang berambut merah. Seorang pesulap berpenampilan nyentrik bernama Hisoka, dan seorang Shinigami berambut nanas, Abarai Renji!"
"Wah, ternyata mereka semua ada di sana, Gon, Killua, Kurapika, sampai Hisoka juga. Kenapa aku tidak diajak?" Kesal Leorio yang ditinggal sendirian di hotel.
"Hei Mamori, dari tadi kok memperkenalkan kami (peserta) sambil dihina-hina gitu sih?" Protes Renji gak terima dan mendapatkan anggukan dari peserta lain.
"Eh...aku hanya menyampaikan yang ditulis oleh Sun kok, klo mau marah ke Sun aja." Mamori menunjuk ke Sun yang lagi duduk santai bareng Doraemon.
"Sun!" Teriak mereka mau protes.
"Apa? Berani sama raja?"
"Nggak," jawab mereka sambil menundukkan kepala.
'Hehehe, selama pake mahkota ini aku aman,' Batin Sun seneng.
"Kok kita gak jadi marah sama dia ya?" Para peserta tampak bingung.
"Baiklah saya teruskan." Sambung Mamori yang tadi sempat kepotong karena protes Renji dan para peserta lainnya.
"Permainan ini akan memperebutkan hadiah menginap 7 hari 7 malam di Bali, transport, makan, dan biaya penginapan ditanggung Sun. Dan setiap peserta boleh mengajak 2 orang lainnya."
Layar LCD di belakang panggung mulai menampilkan panorama yang indah di Bali, mulai dari pantai, persawahan , lautan dan berbagai macam kemewahan lainnya.
"Wah!" Para peserta, penonton yang datang maupun penonton yang di rumah, termasuk Sun, mereka semua kagum melihat panorama Bali yang indah.
"Lho, emang kau belum pernah kesana?" tanya Doraemon.
"Boro-boro, memangnya aku ini orang kaya apa?" Ketauan dah miskinnya.
"Lah, Bukannya kamu yang ngedanain hadiahnya?" tanya Doraemon tambah bingung.
"Ya enggak lah, buat apa coba ada kamu disini,hihihi." Sun ngerangkul pundak Doraemon.
'Pantesan firasat ku tidak enak dari tadi,' Batin Doraemon sweatdrop.
"Baiklah penonton sekalian! Langsung saja kita mulai permainan pertama! Lomba memadamkan api!" Teriak Mamori dengan semangat.
.
.
.
"Mana apinya?" Para peserta celingukan mencari api yang sama sekali gak keliatan.
"Emm...anu...Sun ...apinya mana?" tanya Mamori yang juga bingung.
"Oh iya lupa, hehehe." Sun cengengesan inocent.
Gubrak!
"Dasar Sun payah!"
"Pikun."
"Tulalit."
"Gw keburu-buru tau, jadi belum sempat menyiapkan apinya." Bantah Sun mencak-mencak.
"Yamato-sensei!" Panggil Sun ke Yamato yang lagi nonton sambil meraut pensil (?).
"Eh...aku?" Yamato nunjuk ke dirinya.
"Iya kau. Tolong buatin 4 buah rumah, yang besa ya. Agak berjauhan." Perintah raja jadi-jadian alias Sun.
"Baik." Jawab Yamato patuh.
"Mokuton, Renchuka no Jutsu."
Yamato marapal jurusnya.
Brak brak gruak Zuorr!
muncul 4 buah rumah dari tanah dengan letak yang cukup berjauhan seperti yang Sun mnta sebelumnya.
"Hosh..hosh..hosh." Yamato kelelahan setelah menggunakan sebagian besar cakranya untuk membat keempat rumah tersebut. "Bagaimana, sudah cukup?" tanya Yamato sambil tersenyum puas.
"Ya, Terima kasih Yamato sensei." Sun berterima kasih ke Yamato. "Sekarang, bakar rumah itu! Whahaha!" Perintah Sun kepada chunin-chunin konoha yang lagi ngopi dipojokan.
"Kampret! Udah Cape-cape bikin rumah malah dibakar!" rutuk Yamato tidak terima.
Para chunin tidak bisa menolak perintah Sun yang mengenakan topi raja dari doraemon dan mulai menyemburkan api dari mulutnya. Tidak berapa lama, api pun mulai membakar seluruh rumah dan semakin lama semakin besar.
"Kreasiku!" ratap Yamato berlinang air mata.
"Nah semuanya. Apinya sekarang sudah siap! Setiap peserta boleh melakukan cara apapun untuk memadamkannnya! Waktu yang di berikan 30 menit! Perlombaan babak pertama, DIMULAI!" Teriak Mamori dengan semangat.
"YEAA!"
"YEAA!" teriak para penonton.
TBC
Chapter 2 selesai. Kira-kira cara apa ya yang bakal mereka gunain buat madamin api? Dan sipakah yang akan gugur di babak pertama ini? Tunggu di chapter depan.
Jangan lupa Riview ya...
