Ceritakan tentang satu kala
Di mana kretayuga berarti sapunika
Di mana jaran panolèh tak diperlukan lagi untuk mendapat hardana
Arnawa bukan milik Baruna, melainkan penuh kagungan kita
Lantang tergaung ahwaya Sang Nusantara Pertama
Tetapi satemah, terbakar samudaya tanpa sisa
. . .
TRISANGHARAKALPA
Eka—basma
Disclaimer:
Hetalia © Hidekaz Himaruya
Warning:
OC. More OCs. Gore. Character's death.
. . .
Dapunta Hyang hampir goyah dalam berdirinya. Rasa lelah serasa menguasai. Tetapi tak bisa menyembunyikan senyum puas diri yang terkembang daim-diam di wajahnya. Tanah lapang terhampar menyambutnya dengan kedua belah telapak yang terbuka. Sejuta takdir tersimpan dalam sorotan matanya yang penuh misteri. Tetapi hanya satu yang terus saja terngiang di pikirannya—
—kerajaan ini akan jadi besar. Penguasa tanah Malaya.
Negeri inilah yang kelak akan mereka sebut Imperium Pendahulu.
Sang Eka—Nusantara Pertama.
Tergiur kejayaan yang terbeli tanpa sepeserpun emas. Terngiang denting kekayaan yang akan menghiasi setiap raga bersamanya. Terbersit kekuasaan politik yang akan memerintah tanah yang ini dari genggaman tangan mereka. Manis janji-janji mulai membutakan. Dan setiap janji butuh pengorbanan untuk mewujudkannya.
Darah yang tumpah tak pernah terasa semanis ini di lidahnya. Dan aroma lumpur merah tak pernah lebih harum baunya.
Oh, hanya untukmulah gemilang kemenangan ini. Untukmu seorang, Sriwijaya.
. . .
Sang Agni membara perih
Abang murka membakar gadhu yang tersepuh kumala Dewi Sri
. . .
Sri Jayanasa tersenyum lebar dalam damainya. Menyaksikan seorang bocah laki-laki yang di dalam dirinya mengalir darah Swarnadwipa paling murni—tertawa-tawa, berlarian mengitari taman istana. Bocah yang akan jadi besar bersama keras tempaan kekuatan sagara. Untuk Sang Raja hanyalah alat untuk mencapai cita-cita dan keinginan tinggi bocah itu. Tak pernah terbersit ia akan bertemu dengan sosok sesungguhnya dari kerajaannya. Wujud pertama dari sari sukma negeri ini. Nusantara.
Nusantara—nama untuk penggenggam Zamrud Khatulistiwa. Batu bulat hijau nan jernih yang berkilauan ketika ditimpa matahari, tertanam di telapak tangan sang bocah. Meskipun berukuran kecil, tetapi begitu indah di matanya—begitu nyata. Tanda akan takdir kejayaan di masa yang akan datang.
Dan bocah itu jugalah penanda dari lingkaran takdir paling awal dari negeri ini. Napas pertama dari Nuswapada hijau yang membentang di sela biru. Penuh harta, penuh kejayaan. Tak perlu dicari, tak perlu dikejar. Karena semua hanya tinggal mengeruk dari dalamnya tanah. Semua hanya tinggal memetik dari dahan pohon yang tumbuh begitu saja.
Sang Eka. Sang Nusantara Pertama—Sriwijaya.
Puas diri, ia membayangkan masa depan gemilang yang akan dibawa anaknya. Ia sematkan nama agung padanya—Sang Kemenangan Gemilang—merefleksikan bayangannya tentang sang bocah. Ya, ia akan menanti sampai masa itu tiba—dengan jiwa yang sama, meskipun raga berbeda. Tetapi yang terpenting, ia telah menunaikan janjinya. Jawadwipa kini telah bergabung dengan Nusantara Pertama.
Matanya tertutup. Napasnya terhembus untuk terakhir kalinya. Pandangan ditemani gelap yang abadi. Tak pernah ia sadari dua mata besar dan gelap yang berkaca karena sedihnya. Sang bocah yang menyandang takdir besar menyaksikan dirinya mangkat dari dunia.
. . .
Sang Agni menyolot pedih
Bergema prawara prasetya anjaya yang terdengar bagai seonggok dhesthi
. . .
Sang Kala tak pernah lelah berputar. Berbilang-bilang Saka terus bertambah. Raja berganti dengan raja, ia tumbuh besar sebagaiman diinginkan oleh Dapunta Hyang. Ditempa samudra, diayun lautan, diterpa angin—sampai luar lembut seorang kanak menulang keras oleh pukulan-pukulan derita dan ancaman, lalu diantarkan pada gerbang kedewasaan. Telah ia saksikan berliter darah tertumpah di tanahnya. Tetapi ia tahu, darah dan daging adalah pengorbanan yang setimpal untuk kejayaan.
Berdiri gagah ia menantang cakrawala, di haluan bahtera yang membawanya menyusuri lautan. Matanya yang gelap tak goyah dari arah yang mereka tuju. Biru bertemu biru yang lain dengan gradasi berbeda, dipisahkan oleh segaris fana menandai apa yang tak mungkin dilewati manusia. Buih putih terombang-ambing dalam tarian memuakkan air asin. Ia tak sabar ingin segera sampai ke tujuannya. Samaratungga telah memanggilnya ke Jawadwipa untuk melihat apa yang akhirnya diselesaikan oleh Syailendra.
Perlahan namun pasti, sesosok kabur yang sedari tadi ia temukan di antara biru yang menipu semakin lama semakin terlihat jelas. Jawadwipa sudah di depan mata. Lautan semakin tenang seiring dengan kapalnya yang mendekat ke daratan. Sauh dilempar dan kakinya terjejak di atas tanah berbutir milyaran pasir putih nan basah.
Seorang lelaki paro baya mendekati dirinya dan membimbingnya ke suatu tempat yang ia tak tahu pasti. Seorang Syailendra. Tanpa memberikan kata-kata, ia mengikuti lelaki itu dan segera diajak untuk berkuda jauh ke arah selatan. Lama perjalanan hampir tak ia rasakan begitu kelu menyerang pikir. Dari matahari yang naik sepenggalah, sampai saat mega merah telah membayang di langit barat—barulah ia sampai di tempat yang dimaksudkan lelaki itu.
Pertama kali memandang bangunan itu, kekaguman langsung tercermin di kedua bola mata yang gelap namun cemerlang itu. Tinggi, besar, gagah—berdiri di atas hamparan tanah yang luas. Objek megah nan kokoh berwarna gelap membentuk kekontrasan di tengah-tengah hamparan hijau terang dengan latar sandyakala. Sesuatu yang kuat menarik dirinya lebih dekat ke bangunan itu—Borobudur, para Syailendra itu menyebutnya.
Beginilah seharusnya cermin Sriwijaya—ia membatin. Oleh kekuatan. Oleh keagungan. Oleh kejayaan.
Sayangnya saat itu ia tak tahu kalau Borobudur yang megah itu akan ikut menyaksikan drama titik balik kejayaan imperium Nusantara Pertama.
. . .
Sang Agni membakar jerih
Diiringi tembang dan beksa penghapus suprih, pun setiap tetes marta pergi
. . .
Mega baru saja terbenam kala itu. Hanya lintang panjer sore yang bertengger di langit, menemani suara langkah kakinya yang hampir tak terdengar di tengah surup yang sunyi. Lelaki itu muncul begitu saja di hadapannya.
Sepasang bola mata dengan warna yang jauh lebih gelap dari miliknya sendiri, tajam bak pedang yang baru diasah, menusuk langsung ke dalam nurani—menjauhkannya dari akal. Napasnya terasa berhenti di tenggorokan. Seakan lelaki itu menggenggam jiwanya di telapak tangan. Itulah untuk kali pertama Sang Imperium merasa lemah di hadapan negara lain.
Tapi itu tidak mungkin—ia menolak. Ialah Sang Nusantara, penggenggam Zamrud Khatulistiwa. Ia Sang Eka. Ia tak bisa merasa takut, apalagi lemah.
Siapa kau—ia bertanya dengan suara tertahan. Berusaha keras ia tak menunjukkan ketakutannya.
Kau harus tahu namaku, wahai Nusantara Pertama. Aku Dhamasraya. Akulah yang akan segera memiliki semua yang kau miliki sekarang—lelaki itu menjawab dengan dada terbusung. Begitu yakin akan dirinya bisa mengalahkan Sang Nusantara Pertama.
Tidak mungkin, hai orang asing—ia membalas, mencoba menekan rasa itu yang terus mencekik kerongkongannya. Meskipun ia tak pernah tahu apa yang disimpan masa depan untuknya.
Tetapi tak perlu waktu lama untuknya mengetahui garis yang telah ditulis masa depan dalam lembaran sejarah Sang Nusantara Pertama.
Ia memahami takdirnya—ketika hari itu tubuhnya mendadak terasa berkecamuk. Begitu dahsyat. Liar mengaum, berdenyut. Setiap bekas luka yang ia dapat saat mempertahankan Jawadwipa meradang hebat. Ia mengerang keras, mengaduh kesakitan.
Tubuhnya bergetar. Rasa sakit menjalari setiap bagian dirinya. Tulang-tulang seakan dipatahkan, otot-otot seakan diputuskan, dan daging-daging seakan dirobek. Lemas mulai memerintahkan otaknya untuk segera menjatuhkan raga ke lantai. Jawadwipa terasa berguncang hebat di dalam nadinya.
Tiba-tiba saja sepasang mata hitam yang begitu menusuk itu kembali menghantuinya. Meski hadir hanya di dalam angan, tetapi sorot gelap itu masih bisa membuatnya merasa lemah. Dhamasraya. Seperti menarik dirinya ke dalam mulut harimau yang telah tersamar, lalu mencekik nyawanya sampai hanya tertinggal raga yang hampa. Sementara setiap kata yang diucapkan Dhamasraya kembali memantul-mantul di dalam tengkoraknya—seperti sebuah mantra sendhal mayang.
Akulah yang akan segera memiliki semua yang kau miliki sekarang, wahai Nusantara Pertama—
Dan ia jatuh dalam hitam ketidaksadaran.
Ketika ia bangun, ia merasakan sesuatu yang pergi dari dalam dirinya. Menguap, musnah begitu saja. Tetapi ia tahu—Sriwijaya tak lagi menggenggam Jawadwipa. Lepas dari dirinya. Nusantara Pertama mulai berguncang dalam luruhnya. Runtuh.
Tertandailah goresan pertama yang akan mengukir diorama kejatuhan Imperium Pendahulu.
. . .
Sang Agni meraung miris
Grobog murca dan sisanya ditiup maruta habis
. . .
Ia berlari. Terus menjejak tanah yang solid, melompat lagi, lalu melayang. Menyeberang bumi yang dirimbuni pepohonan. Belantara Swarnadwipa menyembunyikan sosoknya dari mereka yang tengah memburunya. Mencarinya, menemukannya, lalu mereka pasti akan membunuhnya. Dan Sang Nusantara Pertama akan runtuh sepenuhnya begitu hidup berhenti mengirimkan napas. Karena memang itulah yang mereka inginkan.
Sejak saat itu ketika ia kehilangan Jawadwipa, entah mengapa terus saja ia merasa Dhamasraya mengawasi setiap geraknya. Sepasang mata gelap itu selalu saja hadir dalam mimpi buruk. Tutur kata itu juga masih terus mengambang dan memenuhi setiap sudut angannya. Seakan lelaki itu tahu segalanya yang akan terjadi.
Barat telah lebih dulu menentukan takdir dengan mengirimkan utusan untuk menyerang Swarnadwipa. Mereka membawa nama rajanya, Chola, dan angkat tombak untuk membumihanguskan anjaya Nusantara Pertama. Dengan keadaan yang terus saja memburuk, ia tak punya pilihan selain mematuhi perintah rajanya untuk lari ke hutan. Belukar menghapuskan jejak langkah yang ia tinggalkan dan pohon-pohon yang berdiri tinggi menjadi bayang perlindungan.
Satu, dua—ia menghitung seberapa jauhnya ia berada dari Ibukota. Semakin jauh semakin bagus. Ia tak mungkin kembali ke Ibukota—yang artinya menyerah. Tunduk. Dan untuk Penggenggam Zamrud Khatulistiwa, tunduk pada negara lain adalah sebuah wirang. Aib.
Ia bisa merasakan tubuhnya semakin lemah. Semakin susah untuk melangkah. Semakin sulit untuk melihat arahnya. Semakin berat untuk bernapas. Tetapi ia masih memaksakan kakinya untuk berlari. Terus. Terus. Terus—
Namun segalanya tak terhindarkan. Ketika sampailan ia pada batasnya. Dengan napas yang telah dipotong jadi sangat pendek, tubuh limbung. Berdebam jatuhnya saat bertemu dengan lantai hutan belantara. Kelelahan memenangkan pertarungan itu dan membawanya ke alam bawah sadar.
. . .
Sang Agni berkobar lirih
Akhiri kala, tandya sampyuh sekali
. . .
Menyesallah ia telah membuka mata. Karena wajah yang selalu menghantuinya itu kembali. Tidak dalam angan, tapi dalam senyatanya sebuah realitas. Tepat di depan matanya. Di tengah hutan yang disamarkan bayangan kala tengah malam, kedua punggawa Swarnadwipa berdiri berhadapan. Saling menantang. Tetapi ia tahu dirinya tak mungkin bisa menghadapi lelaki ini—dengan keadaannya yang seperti ini.
Dhamasraya. Nama yang selalu ia ingat dengan perasaan teraduk-aduk. Pusaran benci, ketakutan, kekhawatiran—
Akhirnya kita bertemu lagi, wahai penggenggam Zamrud Khatulistiwa —suara Dhamasraya yang berat menyerang gendang telinganya.
Ia tak membalas. Mulut terkunci rapat. Hanya kontak mata yang mampu ia lakukan dengan sepasang mata yang main. Sepasang mata yang selalu berhasil memerangkapnya dalam medan misterius yang aneh.
Sudah tiba untuk takdirmu, Sriwijaya—
Matanya membesar seketika. Ia tak pernah mendengar namanya disebut oleh Dhamasraya sebelumnya. Hanya Nusantara Pertama atau penggenggam Zamrud Khatulistiwa. Kecuali sekarang—ia tahu ada sesuatu yang akan segera terjadi.
Pun ia segera tahu sesaat sesudahnya—ketika bayu bertiup lebih kencang sehingga mengarahkan sinar rembulan di antara celah bayangan pohon untuk menimpa sesuatu di tangan lelaki itu. Napasnya tersedak di leher.
Mengkilat ditimpa sinar keperakan Sang Arutala, adalah sebilah belati sepanjang setengah lengan. Tajam. Seakan sorot mata gelap Dhamasraya ditanamkan dengan mantra di dalam metal itu. Dua ketajaman bertemu dengan matanya. Tetapi ia tak tahu apa bisa lolos dari goresan Sang Widi, atau berakhir meninggalkan raga.
Begitu cepat sampai tak ia sadari, Dhamasraya berpacu ke arahnya dalam satu hentakan kaki. Belati teracung mengarah tepat ke jantungnya. Ia tak sempat menghindar. Namun tusukan itu melenceng sedikit dari arahnya semula. Hanya berjarak satu kuku jari dari organ vital yang terus berdetak di dalam dada.
Sangat dekat. Begitu dekat juga ia dengan lelaki yang lain—sampai ia bisa melihat setiap detail yang ada di wajah Dhamasraya. Mata gelap, setajam belati yang tertancap di dadanya. Napas lembab yang menyapu wajahnya sendiri. Dan seringai itu, sinis tapi juga bernada lali jiwa.
Lelaki ini sudah gila—ia membatin—dan aku… akan mati.
Dhamasraya terkekeh. Lelaki itu menikmati kemenangannya atas Sang Nusantara Pertama. Darah mulai mengucur dari tempat pisau itu menusuk dadanya. Rasa sakit mulai menyergap dengan hebat, akibat paru-paru yang robek oleh tebasan metal tajam.
Matilah kau, Nusantara!—Dhamasraya berteriak tepat di depan wajahnya. Pisau tertarik dari dadanya, hanya untuk menghujam lagi untuk kedua kalinya. Kali ini, tepat mengenai jantung.
Ia bisa merasakan seketika saat Ibukota luluh lantak. Jantung yang robek. Perlahan darah mengucur dari sudut bibirnya. Ia terbatuk hebat segera, memuntahkan cairan merah kental nan anyir yang menodai wajah Dhamasraya. Tubuhnya limbung, jatuh berdebum bertemu dengan bumi.
Seringai kemenangan Dhamasraya di wajah yang terciprat darah—itu adalah hal terakhir yang ia lihat sebelum gelap menguasai setiap inderanya dan menculiknya ke dalam keabadian pati.
Sang Nusantara Pertama telah jatuh. Luruh. Runtuh.
Sementara Dhamasraya, begitu menyadari Sang Imperium telah mati, mengangkat tangannya dan melihat kristal hijau itu—Zamrud Khatulistiwa. Tetapi hanya menemukan kekecewaan. Karena saat jiwa Sang Nusantara berpisah dengan raganya, pun kristal hijau bulat itu ikut menghilang. Menguap begitu saja, tak sedikitpun bekas tertinggal.
Huh, hanya tinggal jantungnya saja sekarang—lelaki itu bergumam.
Tanpa banyak kata, ia mengarahkan pisaunya ke dada Imperium yang telah jatuh itu. Tebasan demi tebasan memotong daging dan tulang yang merangkai kerangkeng khusus untuk melindungi bagian paling vital—jantung. Ibukota. Dhamasraya menyeringai, mengulurkan tangan untuk meraih jantung Sang Nusantara Pertama dan mencopotnya paksa dari tempatnya melekat. Warnanya yang merah segar telah berubah jadi kehitaman. Robekan dari tusukan pisaunya masih ada—tetapi benda itu tetaplah jantung Sriwijaya.
Begitu ia mendapat apa yang ia inginkan, ditumpuknya rerantingan kering dan daun-daun yang telah berguguran ke atas tubuh Sang Nusantara Pertama. Api tersulut dan menyambar tumpukan kering itu. Agni berkobar dalam kebanggaannya—membakar serta raga dari Imperium yang telah jatuh. Dhamasraya memandang tubuhnya menghitam karena hangus terbakar. Lalu melangkah pergi tanpa menoleh lagi, dengan jantung Sriwijaya berada di genggaman tangannya.
Saatnya mengambil milikku—Dhamasraya berkata pada cakrawala yang tak terlihat.
. . .
Sandyakala menyaksikan
Di kala Sang Widi telah ngandika
Dwaya kari, sajuga séda
Nusantara tinggal menanti takdirnya
.
.
.
(akhir dari Eka—basma)
Glossary Sansekerta
Basma – hangus, terbakar | Kretayuga – Zaman Keemasan | Sapunika – sekarang | Jaran panolèh – mantra untuk mendapat kekayaan | Hardana – harta, kekayaan | Kagungan – milik | Baruna – dewa laut | Arnawa – Lautan | Ahwaya – nama | Satemah – akhirnya | Samudaya – semuanya | Abang murka – merah menyala | Gadhu – sawah yang ditanami padi saat kemarau | Kumala – emas | Dewi Sri – dewi kesuburan, dewi padi | Swarnadwipa – pulau Sumatra | Nuswapada – pulau-pulau yang berjajar, nama lain untuk Nusantara | Prawara – berita, kabar | Prasetya – janji | Anjaya – kejayaan | Dhesthi – dusta, bohong | Saka – maksudnya adalah penanggalan Saka yang lazim digunakan pada masa kerajaan kuno | Jawadwipa – pulau Jawa | Sandyakala – guratan merah di langit senja | Tembang – lagu | Beksa – tarian | Suprih – harapan | Marta – hidup | Lintang panjer sore – bintang kejora | Surup – petang hari | Sendhal mayang – pencabut nyawa | Grobog – lumbung padi milik keluarga | Murca – musnah | Maruta – angin | Wirang – aib, malu | Tandya – segera | Sampyuh – mati bersama | Widi – takdir | Arutala – rembulan |Lali jiwa – gila | Pati – kematian | Ngandika – berkata | Dwaya kari – dua tertinggal | Sajuga séda – satu mati
. . .
Duh, glossary-nya membengkak orz. Ah, maklumlah – gara-gara saya yang terlalu menikmati belajar bahasa Sansekerta walau modalnya cuma kamus abal-abalan. Mungkin karena saya orang Jawa—dan Sansekerta termasuk salah satu akar bahasa Jawa, jadi jangan heran kalau banyak kata yang sama.
Dan selamat untuk yang tebakannya benar! Yap, Agni adalah Sriwijaya. Dan yang kedua juga banyak yang benar—Banyu adalah Majapahit. Tetapi yang ketiga masih belum benar. Jadi hadiahnya buat author sendiri ;p #plakplak
Oke, saya bocorkan sajalah. Lagian yang rahasia perusahaan adalah resep tempe #wot #abaikan. Part Bantala bukan kerajaan. Bukan kesultanan, apalagi komunitas manusia purba prasejarah (?) meski author geblek ini mendamba untuk belajar evolusi #gakpenting. Tetapi Republik kita sekarang—Indonesia. Tanya kenapa bisa? Tunggu tanggal mainnya! #dibantai
Dhamasraya? Itu adalah nama kerajaan lain yang muncul di Sumatra di akhir kejayaan Sriwijaya. Lalu ketika Sriwijaya lemah setelah serangan dari Rajendra Chola I dari India, Dhamasraya menguasai daerah-daerah kekuasaan Sriwijaya. Dan berakhirlah kekuasaan Sriwijaya di tanah Sumatra.
Terakhir, review please? ._.
-knoc
