Tersebutlah loh jinawi sebuah negara

Bertunjang di wetaning Jawadwipa

Bermula dari Alas Tarik, dhapuk suryaning Sumatra ke Papua

Dwiwarna bergelora oleh raga Nusantara Kedua

Lalu hanyut disapu gedhe kula sentaning yudha

"Sirna ilang kretaning bumi," katanya

. . .

TRISANGHARAKALPA

Dwi—karut

Disclaimer:

Hetalia © Hidekaz Himaruya

Warning:

OC. More OCs. Character's death.

. . .

Pepohonan rimbun, mencuat terhampar di depannya. Raden Wijaya, asma lelaki itu. Tercurah dari sepasang bola mata gelap itu tekad kuat, semangat yang tak luntur, keberanian, dan… hidup—yang hampir saja putus saat Jayakatwang menahan dirinya, tetapi tersulut kembali oleh tinutur Aria Wiraraja.

Arit dan celurit menetak berbatang kayu, menebas rimbunnya dedaunan semak belukar. Ranting demi ranting berguguran ke atas tanah, dahan-dahan berjatuhan dan terguling disingkirkan oleh tangan-tangan tak menginginkannya. Akar dicabut dari tempatnya menghujam bumi dan dihanyutkan ke sungai. Alas Tarik dibersihkan oleh lelaki itu bersama para pengikutnya—sampai yang tertinggal hanyalah teba.

Bersih. Hanya bumi yang ia butuhkan.

Ia masih bisa tersenyum meski kelelahan mulai merengkuh tubuh sang lelaki—yang telah beranjak dari masa mudanya. Dalam diam membayangkan kebesaran negeri yang akan ia pimpin. Kejayaan tersimpan untuknya, dalam masa depan yang enigmatik. Untuk masa depan kerajaannya.

Dan untuk Jayakatwang—yang akan menyesal telah membunuh maratuwanya. Hebat ludira Wijaya bergejolak saat mengingat lelaki itu. Adipati Kediri yang akan tinggal nama begitu ia selesai.

Begitu selesai.

. . .

Sang Banyu beriak pelan

Datapitara leksana sambil menyimpan sejuta sula

. . .

Tangan-tangan besar merekah, terbuka hanya untuknya. Ia yang telah diharapkan—ia yang telah dimimpikan. Seorang anak lelaki murni berdarah bumi Jawadwipa—tampak tak lebih dari usia lima tahunnya dan masih buta dengan keras dunianya. Para lelaki yang mengerumuninya mengagumi hijau jernih batu zamrud yang mengkilat—kecil bundar, tertanam di telapak tangan yang masih suci nan lembut.

Ia, Sang Penggenggam Zamrud Khatulistiwa—dalam lingkaran iringan generasi. Sang Nusantara Kedua—dengan memanggul goresan takdir yang tak lelah menyerta.

Sang Imperium Penakluk. Majapahit—pun ia diberi nama.

Wilwatikta—Getirnya waos yang menyimpan sejuta jaya kawijayan.

Ia tertawa saat salah seorang lelaki menghiburnya. Namun tawa itu tak berlangsung lama.

Karena tepat saat itu, Nambi datang tiba-tiba membubarkan kerumunan para lelaki dan menyambar pemilik tubuh kecil itu pergi. Dibawa ia keluar dari istana dan dinaikkan kuda, dengan bertengger di pangkuan Mahisa, menyeberangi dataran kerajaannya. Sayup-sayup di antara suara angin ia mendengar Mahisa berbisik—kau akan belajar berperang, anak muda. Bersiap-siaplah menghadapi Ranggalawe.

Ia hanya mengangguk saat itu. Pun kepalanya hanya bisa terangguk saat Mahisa menjelaskan kalau Ranggalawe adalah pemberontak—pemberontak adalah orang yang berniat menghancurkanmu dan kau harus membunuhnya. Tapi tak satupun dari kata-kata Mahisa yang dapat ia mengerti.

Tanpa ampun, anak muda. Tak boleh ada sedikitpun rasa kasihan—bisik Mahisa di telinganya ketika mereka telah sampai di medan perang.

Kedua pihak berhadapan, dengan masing-masing pemimpinnya—sang patih Nambi dan Ranggalawe—berdiri di punggung kudanya, saling menantang. Gagah, kebanggaan, arogansi terpancar dari kedua sosok itu, mewarnai aliran air Tambak Beras.

Kekacauan di mana-mana. Kecipak air terpenuhi oleh darah yang keluar, potongan tubuh yang tertebas, dan nyawa yang melayang. Ketakutan mulai menyergapnya, tak memberikan kesempatan padanya untuk bernapas lega. Berbasuh peluh dinginlah ia. Satu per satu jalma manungsa jatuh limbung dan tenggelam. Sementara di dalam tubuhnya sendiri, sesuatu yang terasa berkecamuk liar—membuat perutnya melilit dan dadanya bergetar hebat. Untuk seorang yang masih sangat muda, semua sensasi dan perasaan itu terasa hendak menenggelamkan dirinya sendiri.

Kecipak air semakin lama semakin terdengar berkurang. Sampai yang tersisa hanya satu—Ranggalawe mengacungkan kerisnya, berhadapan langsung dengan Mahisa di tengah sungai. Pertarungan itu begitu mencuri perhatiannya sampai ia melupakan kecamuk liar yang tengah berlangsung di dalam tubuhnya sendiri. Tebasan demi tebasan tajam dilancarkan oleh kedua lelaki—aroma prawasa tercium jelas dari kedua keris di genggaman tangan mereka. Tetapi lama kelamaan, terlihat siapa yang lebih dominan dalam pertarungan itu.

Mahisa menyergap cepat. Ranggalawe terlambat untuk mengelakkan dirinya. Tajam tertancap di tubuhnya. Berkali-kali menghujam. Berkali-kali erang kesakitan meluncur cepat dari mulutnya. Lalu semuanya habis. Sang bupati Tuban tewas di tangan seorang Mahisa Anabrang.

Si kecil menyaksikan drama itu dengan mulut menganga. Napas tertahan di dada. Paru-parunya seakan baru mampu mengembang kembali begitu Mahisa berenang kembali ke tepi. Berdiri lelaki itu dengan baju kuyup oleh air yang berbaur dengan merah darah manusia. Seringai besar tertoreh di mulutnya, memperlihatkan deretan gigi. Ia bisa mendengar lelaki itu bicara padanya—Itulah, anak muda. Kau harus tahu bagaimana rasa darah.

Majapahit muda hanya tertegun saat Mahisa tertatih berjalan ke kudanya—kuda yang juga tengah ia naiki. Dengan napas terengah, Mahisa kembali berkata padanya—Nusantara, kau akan jadi besar dan hebat.

Tetapi begitu mulutnya terkatup, mendadak mata Mahisa membelalak. Wajahnya memucat. Mulutnya mendadak memuncratkan darah—yang menghujani tubuh kecil Wilwatikta. Tubuhnya terlihat melemas—lalu jatuh ia ke lututnya sebelum benar-benar tak berdaya di atas bumi. Tak lagi bergerak.

Anak kecil itu terkejut saat Mahisa memuntahkan darah, lalu jatuh tergeletak. Dari belakangnya, Sora memandang dingin pada tubuh kaku Mahisa. Walau napasnya terengah karena kelelahan, tetapi sorot matanya masih bisa membekukan. Di salah satu tangan tergenggam sebilah keris yang tertutup warna merah anyir nan kental—darah Mahisa Anabrang. Sang Imperium muda mengalihkan matanya pada Sora. Lelaki yang lain bisa merasakan ketakutan dan kekhawatiran dari kedua bola mata kecilnya. Tetapi hanya satu yang ia katakan, dengan suara begitu tenang seakan ia tak pernah membunuh—

Ayo pulang, Tuan Majapahit.

Ia hanya mengangguk. Terdiam sang Wilwatikta muda di sepanjang perjalanan pulangnya. Dalam dirinya, semua terasa menguap—menyisakan perasaan dingin yang quo. Hatinya terbekukan oleh pemberontakan pertama dalam lembaran babad hidup di usia semuda itu. Emosi menjauh pergi dari sosoknya. Jiwa sang kerajaan besar telah dikuasai dingin.

Sang Imperium Penakluk yang kidungnya dipenuhi tumpahan darah kadang sentana.

. . .

Sang Banyu mengalir tercacah

Tak bebeg walau siladri menghadang

. . .

Dingin telah menguasai sosoknya. Membekukan bagai es. Tak terampuni.

Wajahnya seakan tak pernah mengenal sesuatu bernama emosi. Pemberontakan bergolak—tetapi meski ia masih muda, tak ada lagi rasa takut yang menghantui sosoknya. Beku begitu menyumsum dalam dirinya. Dalam setiap kecamuk, tak sekalipun provokasi berhasil menyulutnya. Sang Imperium tak pernah bergeming.

"Sira Gajah Mada pepatih amungkubumi tan ayun amukti palapa, sira Gajah Mada: Lamun huwus kalah nusantara ingsun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seram, Tañjungpura, ring Haru, ring Pahang, Dompu, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana ingsun amukti palapa."

Kala terus berputar—dan kini sang Ratu Wijayatunggadewi menunjuk Mahapatih baru. Gajah Mada, wiséka yang disandangnya. Sumpah yang keluar dari mulutnya tatkala dinobatkan, membuat sang Imperium merasakan gelitik aneh di dalam dirinya. Demi Palapa—ia tak akan melupakan kata-kata itu.

Dan pria itu—lebih berhasrat dari siapapun untuk menaklukkan Nuswapada.

Perang berkecamuk—dari Semenanjung Malaka sampai Seram, darah tertumpah—tetapi itu adalah sebuah keharusan, sampai pada akhirnya satu per satu negeri jatuh ke dalam genggaman Wilwatikta. Terus maju, bersama Mahapatihnya yang baru. Terus—sampai ekuator hanya menggaungkan satu nama kerajaan yang berada di puncak. Satu asma yang terdengar ke seluruh arah—namanya sendiri.

Surya diancam dari luar dan dari dalam. Dwiwarna berkibar liar dalam amukanbadai. Namun tak pernah ada yang berhasil menurunkannya dari atas. Ia tetap bergerak, perlahan namun pasti tumbuh menjadi sosok pengenggam Zamrud Khatulistiwa yang sesungguhnya.

Sang Nusantara Kedua, dalam sorot dingin mata gelap nan tajam dan keris majakaya yang tak sungkan mengayun untuk beratus rananggana.

. . .

Sang Banyu menerpa bergejolak

Deburan menanda acala yang tersibak

. . .

Pesanggrahan Bubat adalah padang penuh warna jragem.

Tak akan ada yang mengira sebelumnya bahwa rencana sang Rajasanagara meminang Dyah Pitaloka dari kerajaan seberang berubah jadi pertempuran besar yang akan menyisakan cerita. Segalanya karena gardajita sang Mahapatih untuk menaklukkan Nusantara.

Tak ada yang ganjil ketika rombongan keluarga kerajaan Sunda datang mengantarkan sang putri untuk dinikahkan dengan sang Raja di ibukota Majapahit. Tetapi sang Mahapatih memiliki pikiran yang lain.

Maospait—sang Mahapatih berucap. Masihkah kau ingin menguasai Sunda?

Bestu, Mapatih—jawabnya. Namun ia sedikit tertegun karena pertanyaan sang Mahapatih

Kalau begitu ikutlah denganku—

Ia tak pernah membantah kata-kata sang Mahapatih.

Tanpa diduga, Mahapatih membawanya untuk menemui Maharaja Sunda, Linggabuana sendiri. Dan ia lebih terkejut lagi saat melihat sang Mahapatih memaksa sang Maharaja untuk tunduk dan menyerahkan sang putri sebagai persembahan pengakuan.

Tidak! Aku menolak!—ujar sang Maharaja Sunda. Kami datang ke sini untuk sebuah pernikahan, bukan untuk menyerah pada Majapahit, wahai Mahapatih adiluhung.

Namun belum sempat sang Rajasanagara mengetahui tentang hal ini, sang Mahapatih telah mengambil tindakan lebih dahulu. Bhayangkara di bawah Dwiwarna mendadak datang dengan jumlah besar—lengkap bersenjata dan langsung menyerang ke Bubat.

Tiba-tiba saja ia menemukan dirinya berada di tengah medan pertempuran lainnya, dengan keris terayun. Menebas, merentas daging-tulang-darah dan turut mewarnai tanah jadi merah. Dentingan metal beradu, desing keris yang terhunus dan tertancap, teriakan kesakitan mereka yang menumpahkan darah—memenuhi udara dengan suasana mencekam. Namun ia adalah Wilwatikta—tak sekalipun mundur dari pertempuran.

Ia menyaksikan dari sudut matanya saat sang Mahapatih mulai bertanding melawan Linggabuana. Namun itu tidak jadi perhatiannya sekarang. Karena—

Cling. Ctang.

—sang Sunda sendiri datang padanya untuk beradu keris.

Wahai dhatulaya adiluhung—ujar sang kerajaan seberang—Apakah kau sudah kehilangan akalmu, Nusantara?

Mata gelapnya menyolot tajam pada sosok Sunda. Pun ia membalas—Tidak!

Lalu mengapa kau melakukan ini semua,wahai pengenggam Zamrud Khatulistiwa?—dari nadanya terlihat jelas kalau Sunda menyimpan dendam berbaur amarah—Apa kau jadi begitu ngangsa sekarang? Apa kau tak puas dengan semua yang kau miliki?

Ini perintah Mapatih!—ia cepat berdalih.

Ctang. Ctang. Ctang.

Dengan cepat ia mengayun menebas udara, mencoba mengenai Sunda. Namun lawannya bukan sembarangan. Sunda begitu gesit, tak mudah untuk dikalahkan—lagipula sudah berapa lama ia mendamba Sunda, namun tak kunjung bisa menaklukkannya?

Tiba-tiba Sunda menjadi kaku tubuhnya di tengah pertarungan mereka. Sang Imperium terheran sejenak sebelum menyadari kesempatannya.

Crash.

Keris tertancap tepat di bahu Sunda—metal tajam bertemu tulangnya, memotong daging dan memuncratkan darah yang membanjir, turun sampai menodai pergelangan tangan sang Imperium sendiri.

Senyum sinis muncul di wajah pemilik asma Nusantara Kedua. Jadi kau memutuskan untuk menyerah—

Tidak akan pernah!—potong Sunda cepat. Dari wajahnya, tampak menahan rasa kesakitan. Tetapi mata Sunda tak lagi terarah padanya, melainkan di sisi lain padang peperangan—memancarkan sendu dan penyesalan. Oh, Maharaja. Dyah Pitaloka…

Saat itulah ia menyadari, sang Mahapatih telah membunuh sang Maharaja Sunda. Di sisi lain, sang Dyah mengarahkan sebilah keris tepat ke kerongkongannya sendiri.

Semua napas seakan tertahan ketika perlahan keris itu mendekati leher Pitaloka. Pun yang tak terelakkan akhirnya terjadi—bela pati. Warna merah berkembang mewarnai leher jenjangnya dari tempat otot terpotong dan kulit langsat terobek oleh kerisnya sendiri. Tubuhnya jatuh limbung, tergeletak beralaskan tanah yang telah menjadi saksi bisu pertempuran yang tak seimbang. Begitu berharganya sebuah kaurmatan—sampai nyawa tak lagi punya berarti.

Begitu sang Imperium beralih kembali kepada Sunda, sosok kerajaan itu telah pergi menghilang entah ke mana—dengan meninggalkan jejak ceceran darah. Namun tak lagi ia merasa perlu untuk mengejarnya. Ada sesuatu yang bergeser dalam dirinya. Seakan awal untuk sebuah revolusi…

. . .

Sang Banyu membanjir menghadang

Tenggelam arga oleh berombak samudra

. . .

Ia menatap kosong dengan wajah tanpa emosi pada candhik ala di atas langit barat, merah mencampuri warna gelap malam. Tetapi di dalam dirinya sendiri, kesenduan timbul bersama purnama merah yang perlahan timbul dari balik awan. Tak lain itu karena punggung sang Mahapatih agung—yang terlihat oleh matanya semakin kecil, semakin menjauh dari ibukota. Lelaki itulah yang telah mengantarkannya menjadi penggenggam Nusantara—namun sekarang, tak akan lagi masa silam terulang.

Sang Rajasanagara masih tak bisa menerima sikap Mapatih di kala Bubat. Tampaknya sang Raja kini terbuka matanya akan betapa ambisius Mahapatih untuk mewujudkan sumpahnya dahulu.

Namun tak ada lagi yang bisa dilakukan untuk menghapus noda darah yang telah kering dalam lembaran yang telah kotor—semua sudah terjadi, semua sudah terlanjur.

Pun kini, sang Raja merasa Mahapatih tak lagi tepat untuk berada di istana kerajaan bersamanya. Mandakaripura dianggap sang Raja lebih tepat untuk Mahapatih. Maka pergilah Mahapatih ke sana—sesuai dengan keinginan Rajasanagara.

Mungkin ia tak akan pernah melihat sosok Mapatih lagi dalam sisa hidupnya.

. . .

Sang Banyu datang menerjang

Bandhang memula kala yang akan terlupa

. . .

Ia tak pernah menyangka akan mengenal lagi rasa itu setelah berabad waktu terlewat—setelah Rajasanagara benar-benar lalis dari hidupnya. Rasa yang telah terlupa oleh sosoknya—ajrih.

Wirabhumi dengan gagah menantang sang Pangeran dalam sahnya tahta. Wikramawardhana menolak untuk menyerah. Pun terjadilah apa yang telah digariskan sang Widi untuk terjadi—kidung kedua dalam lingkaran takdir dinasti sosok Nusantara.

Namun ia tak sanggup untuk menghadapi realitas. Kenyataan bahwa darah yang sama berebut kekuasaan dan begitu tega menumpahkan darahnya sendiri membuatnya—

Tidak. Tidak mungkin.

—takut.

Yang menurutnya sendiri adalah sebuah kelakar. Sesuatu yang mustahil. Perasaan ini adalah sebuah kebohongan—selalu sang Imperium meyakinkan dirinya seperti itu. Ia tak pernah menyadari akan betapa nyata rasa takut yang ia hadapi.

Kala berputar tanpa menunggunya untuk ikut serta—Wirabhumi dipancung. Mati. Tetapi di saat Paregreg itulah ia merasakan jiwanya mulai kosong. Potongan pertama telah jatuh dan hancur, menyisakan lubang yang tak dapat diisi kembali. Titik balik untuk sang Imperium—di mana kejayaan akan melepaskan diri darinya.

Perlahan ia bisa merasakan dirinya melemah. Satu per satu taklukan mulai melepaskan diri darinya—membuatnya merasa terbuang, tak lagi berharga.

Darah yang menumpahkan merahnya sendiri—tak terjadi sekali. Bukan hanya Wirabhumi dan Wikramawardhana, tapi juga Kertabhumi dan Ranawijaya.

Sepanjang generasi yang berganti, sepanjang dinasti yang berguguran—di dalam dirinya ia merasakan dua dendam yang terus berkecamuk. Seakan sebuah Baratayudha yang menjadi nyata—namun ia buta pada siapa yang menjadi Pandhawa atau siapa yang menjadi Kurawa.

Satu per satu kepingan jiwanya luruh dan hancur. Kekosongan terbentuk dalam diri sang Imperium yang telah ditinggal anjaya. Realitas tak lagi mampu ia bedakan dengan khayal. Hanya bias yang terefleksi di balik tatapan matanya—ya, mata gelap yang dahulu tajam dan menantang, kini hanyalah sepasang kristal cemani yang majal karena tak pernah diasah.

Keris tak lagi dapat menebas untuk menaklukkan, tetapi hanya sebuah aji-aji pelindung diri. Sosok Imperium Penakluk telah berubah drastis—badannya semakin kurus dan lemah. Tak pernah dalam satu malam ia tak merasakan paranoia—yang terus hidup sebagai hantu di setiap mimpi-mimpinya.

Ia mendengar tentang Malaka, ia mendengar tentang Demak—ia mendengar tentang kasultanan-kasultanan dari Barat yang datang bersama panji-panji baru yang dibawa dari tanah Arab dan menyebar dengan cepat di antero Nusantara.

Ia melihat segalanya berubah—terlalu cepat—dan ia tak siap untuk semua perubahan itu. Ia tak siap untuk melihat wajah baru yang akan segera memenuhi Jawadwipa. Ia tak siap untuk turun dari puncak Nuswapada.

Setelah kematian Bhre Kertabhumi, ia merasa tak sanggup lagi. Seorang penggenggam Zamrud Khatulistiwa merasa tak lagi kuasa dengan keadaannya yang terus seperti ini. Ketika Demak datang dari Barat untuk menyerang, bukannya menghadapi dengan gagah seperti seharusnya seorang Nusantara—ia malah miruda dari pertempurannya. Kaurmatan telah terlupa—begitu ingin ia meloloskan diri dari bayang ketakutannya. Terus kakinya melangkah, melayang di atas bumi, seakan ia dikejar oleh hantu Mapatih.

Tidak lagi. Semua tak bisa ia terima.

Lari. Terus ia berlari sampai ibukota tak lagi terlihat dari belakang punggungnya. Ia berlari sampai tak seorangpun akan melihat dirinya pergi. Dan segalanya menjadi terlambat untuk diputar kembali saat—

"AAAH!"

—tanpa ia ketahui, sebuah jurang menganga tepat di hadapannya.

Tubuh sang Nusantara Kedua terjunam langsung ke dasar jurang, di mana sebuah sungai besar penuh jeram telah siap untuk menangkapnya. Limbung tubuhnya memecah tirta, lalu tengkoraknya pecah oleh hantaman karang-karang tajam yang tersusun di dasar. Tanpa ragu memotong tulangnya, menutup lembaran demi lembaran yang tertulis padanya kisah kedua pengenggam Zamrud Khatulistiwa. Surya kini tenggelam oleh jebakan masa. Terhanyut badannya oleh banyu yang beriak.

Sirna ilang kretaning bumi—akhir kidung yang digoreskan takdir untuk sang Imperium Penakluk.

. . .

Ratri mengalir tenang

Menyuluh dalam bayangan

Ketika panggulu diambil pulang

Tinggallah wuragil untuk wisana

.

.

.

(akhir dari Dwi—karut)

Glossary Sansekerta

Loh jinawi – subur makmur | Wetan – timur | Dhapuk – menjadi | Gedhe – besar | Kula sentana, kadang sentana – sanak saudara | Yudha – perang | Karut – hanyut | Teba – tanah lapang | Maratuwa – mertua | Ludira – darah | Datapitara – diam, hening | Leksana – berjalan | Sula – senjata tajam | Wilwatikta, Maospait – Majapahit | Waos – maja | Banyu, tirta – air | Jaya kawijayan – kemenangan | Jalma manungsa – manusia | Prawasa – bunuh | Bebeg – terbendung | Siladri – gunung batu | Wiséka – gelar | Rananggana – peperangan | Acala, arga – bukit, gunung | Jragem – merah kehitaman | Gardajita – keinginan | Bestu – tentu | Mapatih – Mahapatih | Adiluhung – agung | Dhatulaya – kerajaan | Ngangsa – ambisius | Kaurmatan – kehormatan | Candhik ala – merah langit senja | Bandhang – banjir besar | Ajrih – takut | Lalis – mati, hilang | Miruda – melarikan diri | Ratri – malam | Panggulu – anak kedua | Wuragil – bungsu | Wisana – penghabisan | Surya – matahari, surya lambang negara Majapahit | Dwiwarna – dua warna, bendera merah putih yang menjadi lambang Majapahit | Bhayangkara – nama pasukan Majapahit | Bela pati – bunuh diri demi kehormatan | Sirna ilang kretaning bumi – candrasengkala yang menandakan berakhirnya Majapahit, yaitu 1400 Saka atau 1478 Masehi; arti harfiahnya sirna hilanglah kemakmuran bumi

. . .

A/N: Akhirnya setelah ditinggal authornya yang geblek untuk angkat buku dan handout menghadapi ujian, fic ini bisa selesai juga huhuhu :'D – maaf bagi yang menunggu lama, silakan hajar saya sekarang. Dan saya lebih suka pada chapter ini dari pada yang sebelumnya, karena riset yang lebih matang. Ahaha~ #pentingya

Ada yang merasa chapter ini terlalu samar-samar dan tidak jelas lalu butuh penjelasan? Karena penjelasan historis agak terlalu panjang, maka saya pisahkan di tempat lain. Silahkan kopi link di bawah dan hapus spasinya kalau ingin membaca penjelasan historisnya ~

Link desu~— http: / / gkitsu. livejournal. com/ 8214. html

Terakhir—review, please? m(-,_,-)m

-knoc