Sapunika, sang Kala nulis seratnya

Carita tentang negeri éwoning nusa

Nusantara Ketiga—di mana setiap atma berharap memilikinya

Berteduh ia di bawah gema kidung Nusantara Pendahulu

Namun lali akan pralagi dan purwaduksina priyangga

Jagatnya retak dan jatuh ia ke jeroning rasatala

. . .

TRISANGHARAKALPA

Tri—rugol

Disclaimer:

Hetalia © Hidekaz Himaruya

Warning:

OC. More OCs. Character's death.

. . .

Samudra biru kehijauan terbentang luas, menemaninya dalam kisah yang akan digoreskan sejarah. Tentang sebuah perjalanan mengarungi samudra lepas. Diayun ombak dan dibuai bayu. Siang dan malam tak menghalangi setiap langkah. Dengan hanya berbekal cerita tentang jagat Timur yang penuh kekayaan dari mulut para pedagang rempah-rempah, mereka berangkat melawan ganasnya Baruna. Percaya kelak suatu ketika akan memenangkan permainan nasib dan menemukan tanah India tempat rempah-rempah itu tumbuh subur bak ilalang liar.

Berbulan-bulan setelah diterpa asinnya angin laut, di suatu pagi buta ketika fajar baru menampakkan diri, tiba-tiba saja seorang awak kapalnya berteriak—Pulau! Pulau!—dari haluan. Ia keluar dari dalam geladak kapal. Angin kencang segera bertiup keras mengacak rambutnya dalam sambutan khas bumi yang asing. Matanya yang tajam menyaksikan sebuah objek berwarna suram yang mulai tampak dari balik tirai-tirai ultramarin ombak laut.

Semakin lama semakin dekat jarak antara kapalnya dengan objek itu—yang tak lama kemudian terlihat bentuknya sebagai sebuah pulau. Dadanya terkembang dengan napas yang panjang lalu turun perlahan. Pulau tropis yang sebelumnya hanya sekadar berita dari mulut ke mulut dan belum pernah terungkap kehadirannya ke dunia luas. Perlahan terlihat warnanya yang gelap menjadi lebih terang—cemerlangnya hijau. Hijau oleh banyaknya pepohonan yang tumbuh subur. Hijau seperti jernihnya sebongkah zamrud yang belum pernah terasah.

Ia terkesima. Sebuah senyum terkembang di bibirnya. Mungkin inilah tanah kaya dari Timur yang banyak dinarasikan para pedagang dan tersohor ke antero Eropa.

Sesaat setelah kapalnya tertambat di pantai, ia meloncat keluar dan mendarat pertama kali di tanah yang jauh dari Barat, dari tempatnya berasal. Pasir di bawah sepatunya terasa tak familier. Tanah yang begitu asing, namun juga tak menolak kedatangannya. Matanya terarah ke sekeliling. Begitu pasir berakhir, pepohonan rimbun menyambung, akar terhujam dalam tanah dan batang membumbung seakan hendak menyundul angkasa. Tumpang sari menghampar sampai entah ke mana.

Tiba-tiba napasnya terhenti, saat sepasang bola mata cemani yang besar menatapnya dari balik sebuah pohon. Tanpa komando, kakinya melangkah mendekati pemilik bola mata itu dengan cepat. Seorang anak lelaki kecil dengan usia tak lebih dari lima tahun mengawasinya dengan tatapan penasaran dan sedikit takut.

Ia berjongkok sampai sejajar dengan anak itu. Perlahan mengulurkan lengannya dan membuka tangannya. Senyum merekah semakin lebar di bibirnya. Pandangannya melembut. Anak itu dengan ragu-ragu mengulurkan tangan dan menyambut tangannya sendiri yang lebih besar. Sudut-sudut bibir kecil itu tertarik ke atas. Ia bisa melihat gelimang kristal bulat berwarna hijau yang tertanam di telapak tangan anak itu. Tangan besarnya yang lain mengusap telapak tangan si kecil. Mata mereka beradu.

"Namaku Portuguesa. Siapa namamu, kecil?"

Dari balik cakrawala, matahari perlahan mengungkapkan wajahnya. Nusa dan samudra mulai bermandikan curahan eksesif cahaya. Ikut mengungkapkan wajah seorang Nusantara pada dunia yang lebih luas dari dunianya. Tetapi anak polos itu tak tahu, bahwa Barat telah datang untuk mengambil.

. . .

Sang Bantala bervibrasi atirodra

Goncangkan jalma dan titah yang hendak menanggalkan dirinya

. . .

Ia tumbuh dengan cepat, anak lelaki itu yang dulu ditemukan oleh Portugal. Sang Kala lewat tergesa-gesa saat mereka memperebutkan si kecil. Portugal, Spain, England, Netherlands—mereka semua sama saja. Sama-sama serakah dan menginginkan meski hanya secuil dari tanahnya. Sampai Netherlands menetapkan dirinya sebagai kusumayuda. Kolonial Verenigde Oostindische Compagnie bertengger di puncak Nuswapada, dengan intimidasi dan ketakutan selama berabad waktu. Memaksa pribumi untuk bekerja padanya dengan jaminan yang tak bisa dikatakan manusiawi.

Selama itu pula, si kecil tak pernah tahu bagaimana dunia yang kejam telah menggariskan nasibnya. Tubuhnya yang masih lemah sering sakit oleh derita yang ditanggung tanah dan orang-orangnya. Tetapi ia dibutakan oleh kebaikan pria itu—Netherlands—yang merawatnya seakan darahnya sendiri.

Pada akhirnya, si kecil harus menerima kenyataan pahit—ketika matanya telah terbuka akan dunia yang lebih luas dan lebih kejam—bahwa sebenarnya lelaki yang telah merawatnya selama berabad, adalah seorang penjajah. Seorang kolonial—licik—yang telah mencuri kekayaan Nuswapada sementara ia masih terlalu lemah untuk mempertahankan diri. Seorang pengkhianat.

Matanya yang obsidian penuh luapan kebencian dan bertemu dengan sepasang mata lain yang berwarna hijau menatap dingin padanya—berseberangan sisi di sebuah medan pertempuran penuh kecamuk. Ah, mata yang sama biasanya terasa menenangkan dan selalu datang padanya setiap saat ia membutuhkan.

Tetapi itu masa lampau. Dan masa lampau, untuknya kini hanya tertinggal sebagai sebuah dongeng.

Ia berteriak marah, spontan maju sambil mengacungkan bambu yang telah diruncingkan ujungnya. Dari arah lain, Netherlands telah mengarahkan senapan kepada dirinya. Namun peluru panas yang ditunggunya tak kunjung meluncur—jadi kakinya tetap berpacu. Maju melangkah, tubuhnya melayang cepat melewati setiap jengkal jarak di antara kedua bayangan mereka. Sampai bambu itu hanya tinggal satu sentimeter saja dari tubuh Netherlands.

DOR!

Seketika saja salah satu proyektil metal itu menembus kulit bahunya dan memutuskan barisan otot yang berada di jalurnya, lalu menembus kulit punggung sebelum berakhir tergeletak di tanah. Ia terkesiap. Hampir karena refleks tangannya mendorong bambu. Dalam sekejap batang itu merobek perut Netherlands.

Napasnya terengah-engah. Napas Netherlands juga sependek miliknya. Dua pasang mata yang sama dingin, dua pasang yang saling membenci, bertemu dalam harmoni perang yang acak.

Menyerahlah, Indië. Kau terlalu muda seabad untuk menang melawanku—desah Netherlands.

Tidak akan sebelum aku bebas!—sergahnya.

Kalau begitu tidak ada pilihan lain

Netherlands dengan susah payah mengangkat senapannya dan membidik tepat di tengah kening nation muda itu.

Segera saja sepasang mata cemani membesar. Dengan cepat ia bangkit dan berlari ke balik rimbun pepohonan. Berusaha keras menghindari setiap peluru yang dimuntahkan moncong senapan itu sambil mengatur napasnya. Tangannya mencengkeram erat bahunya yang terluka, berusaha menghentikan aliran darah. Tenang. Ia harus tetap tenang kalau ingin pertempuran ini tak berakhir sia-sia.

Omong kosong kalau ia akan menyerah. Ia sang Nusantara Ketiga—yang menggenggam Zamrud Khatulistiwa. Artinya ia harus mempertahankan tanah ini—Nuswapada—dari segala ancaman yang mungkin akan menghancurkannya. Termasuk membebaskannya dari belenggu Compagnie, walaupun nyawanya sendiri menjadi taruhan.

Tetapi bagaimanapun—ia masih sangat muda dan sangat jauh dalam hal pengalaman jika dibandingkan dengan Netherlands. Di dalam dadanya meruap perasaan teraduk. Betapapun inginnya ia bebas, tetapi melukai pria yang telah merawatnya sekian lama—tetap saja membuatnya marah pada dirinya sendiri. Pengkhianatan mungkin bisa jadi alasan untuk justifikasi, tetapi pilu tetaplah sebuah eksistensi nyata di dalam hatinya. Ada paranoia yang menghantui sang penggenggam Zamrud Khatulistiwa akan kemungkinan bahwa ia tak bisa melepaskan diri dari cengkeraman Netherlands.

Semua telah terjadi—ia tak bisa mundur. Demi nama Nusantara Ketiga yang tersemat pada personanya, apapun akan ia lakukan untuk membebaskan tanah ini.

Ialah Indonesia, sang Republik—dalam perjuangannya, yang direka puisi ironi dalam lingkaran takdir ketiga.

. . .

Sang Bantala lolor dan jantar

Antaboga gardaka, meraung marah

. . .

Ia tersenyum dan memandang penuh kebanggaan pada sosok lelaki itu. Soekarno telah siap membacakan teks di tangannya.

Perlahan bendera merah putih—Dwiwarna warisan Nusantara Pendahulu—dikibarkan ke atas, seakan ingin menandingi luasnya hamparan langit biru dengan segala kegagahannya. Tubuhnya tak sekalipun bergoyah. Sepasang obsidian dalam soketnya menikmati tarian Dwiwarna yang berlatar angkasa Agustus 1945. Dadanya bergetar ketika syahdu nada-nada Indonesia Raya bergema di telinganya, membangkitkan kembali kebanggaan akan ribuan nusa di antara dua samudra.

Segera setelahnya, Soekarno mulai membacakan teks di tangannya dengan penuh keyakinan. Keyakinan yang sama bisa ia rasakan di dalam dadanya sendiri. Membuncah. Seperti manis madu sebuah kemenangan yang telah lama dirindu hati yang selalu ditemani pilu.

Proklamasi—

Tak bisa ia bendung air mata saksi harunya yang perlahan terbentuk di pelupuk mata. Tanpa ia sadari, setetes yang bening jatuh dengan meninggalkan goresan jejak basah di sepanjang pipinya dan berakhir di dagu.

Tidak ada lagi kolonialisme. Tidak ada lagi belenggu. Ia bebas sekarang.

Ia merdeka.

Dan inilah titik baliknya—sebuah awal baru untuk sang Nusantara Ketiga—menandai kebangkitan sebenarnya dari sang Republik. Indonesia—dengan bangga nama itu ia sandang, bersama segala beban yang ditindihkan di bahunya. Dengan membawa spirit dari para pendahulu, menorehkan ceritanya bersama relief Garuda bernyawa Bhinneka Tunggal Ika.

. . .

Sang Bantala karsa yang tak tertantang

Datapitara namun tak terhentikan, bergerak di bawah dlamakan

. . .

Malam gelap masih melingkupi jagat. Bayang kelam menguasai tiap sudut. Sementara hawa dingin yang menusuk dan mencekam membuat bulu kuduk berdiri. Atmosfer yang benar-benar berbeda.

Ia terbangun dengan perasaan teraduk. Dingin merayap, menggerayangi setiap jengkal kulitnya. Sementara di dalam dirinya sendiri ada sesuatu yang menariknya, seakan-akan ingin mengoyak jiwanya dari dalam. Dadanya berdentum cepat dan keras bersama hambusan napas yang terengah-engah. Tetapi di saat yang sama ia merasa takut. Seperti belenggu yang menghantui dirinya dari belakang dan ketakutan sewaktu-waktu akan ada peluru panas yang menembus jantungnya.

Sebuah pergeseran. Sebuah perubahan telah ditetapkan untuknya. Namun tidak ada yang tahu siapa yang mengorkestrasikan—itulah mengapa ia merasa takut.

Dari balik bayangan kegelapan, ia seakan membayangkan sosok raksasa menakutkan dari utara yang dingin, mengamatinya sepanjang malam dengan sepasang mata violet yang menyembunyikan intuisi berbeda dari sorotnya yang bagai senyum kekanak-kanakan. Terus mengawasi, menunggu waktu untuk memaksanya bertekuk lutut. Namun saat ia melihat melalui kegelapan itu, seakan sosok itu tak pernah ada di balik tirai bayangan.

Seperti hantu yang menyolidifikasi ketakutannya dalam bentuk substansial. Tetapi juga seperti sebuah imaji di dalam cermin yang mudah retak.

Realistis, namun juga imajiner. Adalah enigma yang tak pernah ditemukan jawabannya, namun mengubah segalanya dalam diri Sang Republik.

. . .

Sang Bantala bergemuruh dalam murkanya

Arga meletus, bledug menyesak berhamburan

. . .

Setelah malam itu, perubahan besar tertoreh dalam tubuh sang Republik. Sebuah revolusi, begitu mereka mengatakannya. Namun ia tak percaya pada kata mereka.

Ketika yang baru menggeser yang lama, seorang pria dari kluster militer muncul ke permukaan, menandai pergeseran itu, dengan berbekal klaim dari Supersemar—selembar surat perintah yang juga dipenuhi enigma, namun mampu membuat riak-riak pergantian kekuatan dalam diri sang Republik. Pria itu yang mereka elu-elukan sebagai pahlawan dalam memadamkan kudeta, tetapi tak ada yang benar-benar tahu intensinya.

Semua enigma itu membentuk periode baru yang akan berlangsung begitu lama, dengan pemerintahan demokratis yang quo berpuluh tahun. Sebuah tirani tersamar. Ketika orang-orangnya didiamkan lewat tatapan ancaman dan intimidasi dari pemerintah, hingga setiap protes terbungkam. Ia sendiri tak mampu protes, kecuali tersimpan rapat di dalam hatinya.

Setiap kali ia memandang ke mata pria itu, ada sebuah kontradiksi yang ia rasakan dalam sorot gelapnya. Ada masa depan yang tersimpan di sana, sebuah janji dan harapan akan kemakmuran. Namun juga ada sesuatu yang lain—tak terlihat, bahkan ia sendiri tidak yakin. Tetapi tanpa bantahan, ada dan gelap.

Hanya saja ia begitu pintar menipu dirinya sendiri. Dengan mudah menyingkirkan perasaan aneh itu. Lagipula setiap kali ia melihat pada orang-orangnya, mereka selalu tersenyum dan menyorotkan kebanggan serta kepercayaan pada pemimpin barunya—walaupun terpaksa. Dan kembali ia akan mengungkapkan retorika itu pada dirinya sendiri—kalau mereka bahagia karena Presiden, mengapa aku tidak?

Karena pria itu, perlahan-lahan ia membuka dirinya kepada dunia. Barat mulai datang dengan janji-janji akan bantuan. Presiden menyambut mereka dengan sepenuh hati. Perjanjian ditandatangani, uang dikucurkan, lalu satu per satu korporasi milik Barat perlahan berdatangan. Mereka berlomba mengeruk sedikit demi sedikit kekayaan Zamrud Khatulistiwa. Ia masih tak tahu apa itu tidakan yang benar untuk membiarkan mereka masuk begitu mudahnya.

Sementara di dalam dirinya, sang Republik merasakan sedikit demi sedikit ada kapitalisme yang menggerogoti dirinya. Namun ia mengabaikan perasaan itu begitu saja.

. . .

Sang Bantala menyeringai dalam culikanya

Menyimpan waka membara di dalam lautan waluka

. . .

Tangannya erat memegang senapan. Tremor yang ia rasakan di seluruh tubuhnya ikut menggetarkan senjata itu. Keringat dingin yang keluar dari telapak tangannya semakin melekatkan kulitnya di permukaan metal. Mata hitamnya penuh keraguan, namun ia tak bisa menolak perintah atasan. Hutan yang terasa asing melingkupi atmosfer. Sementara di depannya berdiri sosok lain, seorang anak kecil dengan kulit hitam dan rambut keriting khas seorang Australoid memandangi dirinya dengan mata besar yang berkaca-kaca. Tubuh anak itu kotor oleh debu dan lumpur. Baju yang ia kenakan sudah terkoyak, entah karena apa.

Ketika ia bertemu dengan anak itu, ia segera mengenalinya sebagai Timor. Koloni Portugal yang tersisa. Namun ia mendengar tentang gejolak di negara Iberia itu, membuat Portugal meninggalkan si kecil ini sendirian.

Ketika ia bertemu dengan anak itu, ia kembali teringat pada dirinya di masa lampau. Ketika ia hanya Nusantara Ketiga, ketika ia belum menjadi sang Republik. Ketika ia hanya mampu menerima apa yang digoreskan sang widi, tanpa mampu berbuat apa-apa.

Iba terbentuk perlahan dalam dirinya. Rasa bersalah datang memuncak. Di sisi yang lain, ia melihat sisi liar dari seorang negara dan personifikasinya pada dirinya sendiri. Mungkin warisan dari pendahulunya—yang mereka kenal sebagai Penakluk. Namun sesungguhnya ia berbeda. Ia tidak ingin menaklukkan negara lain. Ia tidak ingin menjadi kolonial seperti Netherlands dulu, seperti Portugal, England, Japan, Spain—

Apa ia sudah jatuh sejauh itu? Apa ia akan menjadi pengkhianat sekarang?

Oh,tidak—

Ia menarik napas panjang dan menahan tubuhnya dari bergetar lebih jauh. Perlahan ia turun sampai sejajar dengan tinggi anak itu. Dihapusnya jejak air mata di pipi tirus Timor. Ia meraih tubuh kecil itu ke dekapannya dan menggendongnya. Seragamnya mulai basah oleh darah yang mengalir dari luka-luka Timor—dan ia tahu, ialah yang menyebabkan luka-luka itu. Namun ia tak tahu seberapa banyak orang Timor yang menjadi korban dari merekahnya seroja di tanah ini.

Berbisik pelan dirinya di dekat telinga Timor, memberikan sedikit jaminan keamanan—Ayo. Ikut aku, Timor.

Di dalam dirinya, ia ingin menangis. Gejolak hebat beradu—karena ia bisa merasakan refleksi sosok seorang Netherlands, seorang kolonial, yang mendadak terbentuk di dalam dirinya. Dan ia membenci dirinya sendiri—ia yang selalu mengutuk kolonialisme, malah menjadi salah satu dari mereka.

Namun ia berhasil menahan dirinya dan mengambil langkah tegap. Terus menyusuri hutan sampai bayangan kedua sosok itu tak berbaur dengan bayangan rimbun pepohonan.

. . .

Sang Bantala mengalir dalam brahwa laharnya

Seakan banawi yang diam namun penuh wuhaya

. . .

Telah dibuai Barat, dirinya, selama berpuluh tahun. Di saat yang sama Barat menggerogoti dirinya sedikit demi sedikit. Perlahan tanpa ia sadari, ia mulai melupakan arti dari dirinya. Arti dari kebanggaan jiwa Bhinneka Tunggal Ika. Arti dari identitas seorang Nusantara Ketiga. Garuda terbang melayang setiap hari dalam imajinya, namun ia sendirilah yang selalu menembaknya jatuh dengan proyektil pengabaian.

Terbuai oleh uang mudah, tanpa sadar sebuah gunung telah ia buang begitu saja. Zamrud Khatulistiwa tak lagi bersinar sejernih sebelumnya, tapi telah dikikis dari dalam hingga hampir menjadi sepotong kaca yang hampir tak berharga lagi. Nusantara Ketiga mulau terlampau oleh kekuatan Barat.

Ketika ia sadar akan keadaannya, bukanlah di saat yang tepat. Semua yang ia anggap hanya kebohongan kini terbukti sebagai kenyataan. Keadaannya sendiri begitu memiriskan hati. Tubuhnya kurus oleh paceklik buruk yang menyerang Nuswapada. Ia sendiri sering dilanda demam dan sakit perut oleh inflasi. Mata uangnya jatuh, sehingga makanan jadi begitu sulit untuk didapat dengan uang di kantong. Krisis ekonomi telah memutuskan untuk membelenggunya dalam dimensi kesengsaraan.

Presiden yang telah memimpin selama berpuluh tahun mulai terdesak. Orang-orangnya yang sadar akan keterpurukan ini mulai menyuarakan protes mereka selama berhari-hari, memaksa pria itu untuk mundur. Pembungkaman kini tak lagi bisa mendiamkan suara-suara yang terus memuncak. Awalnya pria itu menolak—ia tahu, pria itu masih ingin merasakan manis uang yang membuat kantongnya menggelembung. Namun semakin lama keinginan orang-orangnya semakin tak terbendung. Ia sendiri juga bisa merasakan keinginan besar itu menggerakkan dirinya.

Tuan Presiden, orang-orangku sudah tidak sabar. Sebaiknya Tuan mengundurkan diri—

Ketika sang Republik mengatakan itu pada sang Presiden, pria itu hanya terdiam sambil memandangi massa manusia yang terus bergolak dari balik jendela yang ditutupi tirai, namun masih cukup transparan untuk melihat keluar. Ia menanti jawabannya, namun pria itu tak kunjung memberikan kata-kata. Napasnya terhela dan ia memutuskan untuk keluar dari ruangan itu. Membiarkan sang Presiden berpikir seorang diri.

Setelah hari-hari panjang dipenuhi gaung menantang, mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan. Sebuah reformasi telah diumumkan. Sebuah perubahan telah diukir di wajahnya. Pria itu menanggalkan gelarnya dan meninggalkan tahtanya. Orang-orangnya tersenyum dalam kepuasan. Bibirnya sendiri terkembang dalam sapuan gelombang kebahagiaan dan kemenangan yang dirasakan mereka.

Namun ia tak bisa bersenang-senang terlalu lama. Warisan kebobrokan harus segera dibentuk ulang menjadi sesuatu yang baru. Garuda Bhinneka Tunggal Ika akan terbang melayang tanpa belenggu lagi. Tanpa ada paranoia yang mungkin akan menghantui dirinya lagi.

Untuk sesaat ia menemukan kembali arti dari menjadi seorang Penggenggam Zamrud Khatulistiwa.

. . .

Sang Bantala berevolusi bersama kala

Dilahap kerakusan jalma, tetapi pinasthi menuntut balasan atma

. . .

Dari yang baru, terlahir sebuah pembentukan kembali karena keinginan orang-orangnya. Sang Wakil Presiden naik sementara untuk mengisi kekosongan sebelum Presiden yang baru terpilih. Tetapi yang awalnya manis selalu diikuti dengan pahit.

Candhik ala telah mulai menghilang ditelan kabut malam ketika kedua sosok itu berhadapan. Ia menatap dingin jauh ke dalam sepasang mata yang sama gelapnya dengan matanya sendiri, tetapi berada di dalam soket yang bukan miliknya. Anak itu tak bisa menghentikan derai air mata yang terus membanjiri pelupuk matanya.

Mereka—Timor tersengguk—Mereka ingin aku merdeka, Kak. Mereka ingin aku bisa berdiri sendiri tanpa Kakak.

Bibirnya tergambar dalam sudut 180 derajat. Wajahnya vakum oleh emosi. Namun sebenarnya di dalam diri, ia bisa merasakan kesedihan dan kekecewaan yang hendak mengoyaknya menjadi bagian-bagian kecil. Di sisi lain, suara hatinya berbisik pelan—inilah yang terbaik, pada akhirnya kau harus melepaskannya pula—menentukan jalan yang telah disiapkan untuk kedua negara mereka.

Mungkin memang kita tak pernah ditakdirkan tinggal di bawah satu atap—ia mengulum senyum pahit untuk dirinya sendiri.

Kakak—Timor memanggil dengan suara bergetar yang menyayat dirinya.

Tatapannya pada anak itu berubah jadi lembut. Perlahan ia mendekati tubuh kecil itu dan mendekapnya di dalam pelukan erat. Ia menyadari Timor yang sekarang tingginya sudah mencapai bahunya. Berbisik pada dirinya sendiri—Adikku Timor, dia benar-benar sudah dewasa.

Pergilah, Timor. Aku tak bisa menahanmu lagi—bibirnya menggumam lirih. Air mata mulai membanjiri matanya.

Untuk beberapa saat hanya terdengar tangisan Timor yang semakin keras dan terbungkam oleh dadanya. Seragam Angkatan Darat yang ia kenakan terasa basah dan hangat. Ia terdiam sambil terus memeluk adiknya yang akan segera memotong tali persaudaraan mereka.

Begitu tangisan Timor reda, ia mengangkat wajah bundar yang kecoklatan itu. Dengan ibu jari dihapusnya jejak-jejak air mata di pipi Timor yang ia sadari tak lagi setirus dulu.

Pergilah kepada mereka, Timor—ia berpesan—Pergi dan berdirilah di sisi mereka. Kita pasti akan bertemu kembali.

Timor mengangguk pelan dan ia melepaskan pelukannya. Ia menyaksikan punggung Timor yang berjalan semakin menjauh darinya, sampai menghilang di bawah kaki langit. Tanpa sadar air mata yang lama ia tahan tak lagi bisa dibendung. Setetes yang bening meluncur membasahi pipinya. Sepotong dari dirinya telah pergi, meninggalkan kehampaan yang tak dapat diisi kembali.

Seroja yang dulu merekah dan menghubungkan mereka berdua—seroja yang kelopaknya penuh dengan noda darah, seroja yang kembangnya merefleksikan bagian dirinya yang ia benci dengan sepenuh hati—kini layu dan gugur dari tangkainya. Namun sajak-sajak yang disisakan seroja tak akan pernah terlampau masa.

. . .

Sang Bantala luruh menganga

Kuburkan atma yang bukan lagi kayuning arcapada

. . .

Warisan dari masa baru memaksanya untuk bekerja keras.

Dengan semua hutang yang besarnya tak bisa dianggap remeh, ia terengah-engah untuk membayar satu per satu dari mereka. Seiring dengan berputarnya kala, seiring dengan bergantinya Presiden, perlahan nominal itu—jeratan mimpi buruk itu—bertambah kecil.

Orang-orangnya bekerja keras demi dirinya. Dan ia juga harus bekerja keras untuk mereka. Untuk kembalinya kejayaan Nusantara Ketiga.

Tetapi sayang nasib berkehendak lain untuknya.

Barat tak mau melepaskan dirinya. Berbagai taktik dilancarkan untuk terus menjeratnya. Ia tak bisa berontak. Ia tak bisa melawan. Mereka tak tanggung-tanggung, tanpa ragu terus mengikis Zamrud Khatulistiwa dari dalam. Tawa mereka yang mengerikan, membuatnya ingin melepaskan diri dan lari bersembunyi. Tetapi ia tak bisa. Ia tak bisa meninggalka Nuswapada. Bukankah untuk Nuswapada dirinya ada?

Semakin ia menyaksikan mesin-mesin berat itu—yang mengeruk emasnya tanpa ambang yang berarti, yang mengambil emas hitamnya tanpa kira, yang mengikis emas hijaunya tanpa pilih—semakin tidak berdaya saja untuk dirinya. Inilah untuk apa ia berjuang. Inilah untuk apa ia hidup. Namun ia tak bisa berbuat apa-apa.

Semakin lama ia bisa merasakan dirinya semakin lemah karena tanahnya yang dikuruskan tanpa pertimbangan. Seiring dengan Barat yang mengerosi Nuswapada, orang-orangnya mulai mengenal Barat. Salah. Ini salah.

Mereka—orang-orangnya—malah mengikuti apa yang dibawa Barat. Dan karena orang-orangnya itu, ia dalam keputusasaan, juga mulai melupakan dirinya sendiri sebagai Penggenggam Zamrud Khatulistiwa. Semakin Barat menjejak ke tanahnya, semakin orang-orangnya terbawa. Dirinya ikut dibuai dalam pemikiran-pemikiran asing yang berpenetrasi ke dalam otak Pancasila, lalu mulai menggesernya perlahan dengan paham yang malah akan menggerogoti tubuh Garuda.

Mengapa?—ia bertanya—Mengapa mereka tak mau sadar? Dan siapa diriku? Apa itu Indonesia? Apa itu Nusantara?—saat ia mulai merasakan dirinya ditenggelamkan.

Semua sudah terlambat. Ia tak berhasil menyusun kembali warisan dari masa sebelumnya. Kebobrokan itu malah menjebaknya. Tangan-tangan Barat terus saja semakin mengeratkan genggaman mereka di jiwanya. Sementara Tuan Presiden—Oh, Tuan Presiden apa kau tak peduli dengan diriku? Aku akan jatuh jika terus begini—mengapa bersikap seolah ia tunarungu?

Bertahun-tahun terlewat, sampai ia kehilangan jejak kala. Namun tak satupun suaranya didengar. Tak satupun keinginannya untuk melepaskan diri dari belenggu monopoli licik mereka dipenuhi.

Frustasi mulai mengambil alih pikirannya. Orang-orangnya telah buta dan tuli. Sudah tidak ada gunanya berbicara dan memohon. Barat semakin memuncakkan aksinya. Kilatan dari Zamrud Khatulistiwa kini hanya tinggal setitik cahaya di dasar kristal yang melompong.

Tubuhnya bergetar oleh rasa sakit yang hebat. Dengan sisa tenaga terakhirnya, ia memaksa tubuhnya bangkit di atas kedua kaki. Setiap surai ototnya digerayangi lemas. Tetapi ia mencoba membohongi dirinya lagi—Itu bukan apa-apa. Kelemahan itu hanyalah ilusi.

Namun ia tak lagi bisa berbohong pada dirinya. Pedih semakin mengayunnya. Namun ia tahu harus bergegas. Hanya tertinggal secuil emas di dalam tanahnya. Bisikan terdengar dari hatinya yang paling dalam—bahwa ia harus mempertahankannya. Sisa napas terakhir dari Zamrud Khatulistiwa.

Apa itu Zamrud Khatulistiwa—

Kakinya yang lemas segera berpacu di atas tanah yang kerontang. Perih merambati setiap bagian tubuhnya, namun ledakan emosinya telah membawanya lebih jauh dari batasnya. Di atas tanah Nuswapada yang tak lagi bisa dikatakan merefleksikan kejayaan, ia berpacu dengan kala dan berlomba bersama angin.

Ketika ia bisa merasakan napas terakhir itu, tangannya mulai menggali tanah kerontang—mencakari hamparan bumi dengan sepasang tangan kosong yang tampak hanya sebagai tulang berbalut kulit. Dari sepasang cemani yang kini muram, derai air panas dan asin meluncur deras. Ia tak pernah merasa begitu tanpa daya seperti ini. Frustasi mendorongnya lebih jauh, memang. Namun tubuhnya jauh lebih jujur tentang batasan itu.

Tangannya bergetar, kuku-kuku patah dan darah membanjir deras dari sepasang tangan yang disiksanya sendiri. Tetapi di sana, terlihat siluet dari sebongkah terakhir yang belum mereka ambil. Bibirnya bergetar. Kelegaan perlahan merambati. Ia meraihkan tangannya ke dalam lubang untuk meraih napas terakhir itu.

Namun ia tak pernah mengira betapa tanahnya telah rapuh. Tepat ketika ia berhasil menyentuh kilau terakhir itu, tanah di bawah kakinya luruh. Matanya membesar ketika ia merasakan tubuhnya melayang langsung ke dasar bumi. Bongkahan emas terakhir, ia genggam dengan erat dengan kedua tangannya. Reruntuhan tanah mengikuti jatuhnya.

Tanah bergetar oleh ambruknya. Perlahan, rekahan timbul di sekitar lubang itu. Rekahan menjadi patahan. Dan batu-batuan terlepas dari tempatnya. Dengan cepat batu-batuan besar ikut jatuh. Menimpa dirinya yang tergeletak di dasar.

Siapa aku—

Tubuh yang lemah dan terperangkap. Dadanya tertekan oleh bebatuan besar. Satu per satu tulangnya remuk oleh beban.

Tak ada lagi Garuda. Tak ada lagi Nusantara Ketiga. Hanya ironi rekaman lingkaran takdir ketiga Nusantara—di mana sang Republik hanya tinggal nama dalam lembaran sejarah yang terlupakan.

. . .

Samudra diam namun miyarsa

Sanak telah habis dikungkung kala

Wuragil dipanggil lunga

Nusantara terlupa oleh jagat semesta

.

.

.

(akhir dari Tri—rugol)

(akhir dari Trisangharakalpa)

Glossary Sansekerta

Carita – cerita | éwon – ribuan | pralagi – masa lampau | purwaduksina – asal muasal | priyangga – sendiri | rasatala – dasar bumi | rugol – luruh | Tumpang sari – tanaman berjenis-jenis | Bantala – tanah | atirodra – hebat | jalma – manusia | titah – makhluk | kusumayuda – pemenang perang | lolor – lepas | jantar – retak | Antaboga – naga penjaga bumi | gardaka – mengamuk | karsa – keinginan | dlamakan – telapak kaki | bledug – debu | culika – licik | waka – panas | waluka – pasir | brahwa – bara api | banawi - sungai | wuhaya – buaya | pinasthi – dipastikan | miyarsa – melihat | lunga – pergi | Wuragil – anak terakhir.

. . .

A/N: Akhirnya, chapter final dari fic ini selesai juga :'D. Tidak disangka ternyata words-nya membludak hampir empatribuan orz. Dan ini ada fanfiksi, jadi jangan take offense dengan kata-kata yang terangkai di sini ja?

Untuk yang mau ikutan IHAFest, waktu submit fic masih ada. Tapi juga jangan diolor-olor karena dateline semakin mendekat. Ayo, semangat!

Terakhir, selamat hari merdeka, NKRI! Meski apapun yang terjadi padamu, tetapi wajah ini masih berlabel WNI :)

Terakhir dari yang mengakhiri, sisihkan 30 detik untuk review chapter terakhir fic ini? Suwun~

-knoc