Ia dulu memang tertarik dengan Holly. Ia mengakui hal itu. Tapi, sekejap perhatiannya langsung tersedot oleh pemuda itu, oleh gesturnya. Oleh bola mata berwarna hijau cemerlang itu. Seolah ia dan pemuda itu memang ditakdirkan untuk bertemu, untuk saling mengenal. Untuk saling bersama.
Tanpa sadar Artemis tersenyum. Bukan seringai menyebalkannya, bukan seringai liciknya. Bukan seringai sombongnya. Tapi, benar-benar tersenyum. Senyuman hangat yang tulus.
"Sepertinya, tahun ini akan menjadi lebih menarik..."
.
.
.
BIZARRE
Harry Potter to J.K Rowling
Artemis Fowl to Eoin Colfer
.
.
.
A Friendship, Romance and Adventure fict.
WARNING for SLASH, OOC, Underage Relationship, Commander Julius Root ga mati alias pas buku 4 berhasil selamat uyeeeeee~ banyak canon yang gua ubah dari buku AF, a lil' bit manipulative Dumbledore, a strong!Harry.
Artemis at age 17, Harry at age 14.
A/N: Mungkin terfokus dengan relashionship-nya? Tidak tau -_- Artemis OOC karena gua sendiri bingung Artemis itu karakternya kayak gimana. Berubah-ubah sih, kadang baik, kadang 'nakal', kadang perhatian, kadang gapedulian #authorcurhat #plak hehehe tapi yang penting bocah itu tuh jenius, saking jeniusnya sampe bikin iri huahahahahahaha… plus HP canon sampe buku 3, AF sampe buku 5 (maybe) gua gatau banyak karena baru baca bukunya nomer 4 dan baca fict-nya #ininamanyanekat. Buat musuh? Cuma tau si Opal, dan Mafia Russia. Pick one! #oke, ini bukan twitter!
Terinspirasi dari fict Fairy Dust by excentrykemuse, untuk bagian romance-nya, dan Second Change at Life by Miranda Flairgold untuk bagian ritual dan demon-demonnya, dan novel Nicholas Flamel karya Michael Scott untuk makhluk-makhluk asingnya.
Main pair AFHP, slight SBRL, AFHS, DMHP, TRHP(maybe) – terlalu, kebanyakan -_-
Don't Like Don't Read!
But yeah, ENJOY!
.
Chapter 2 – The Beginning was Always Extraordinary
.
Harry terduduk di meja Gryffindor dengan Hermione dan Ron di seberangnya, dan tanpa sadar matanya menjelajahi Aula Besar.
Sedari tadi ia mengedarkan pandangan, menghela nafas, dan lalu mengacak rambutnya. Berulang-ulang. Membuahkan sebuah tatapan tanya dari Hermione dan Ron, juga dari banyak anak yang duduk di jajarah meja para singa itu. Tapi Harry hanya tersenyum kecut, dan kemudian mengalihkan pandangannya ke depan, di mana Proffesor McGonagall sedang memanggil nama 'McDonald, Natalie' ("Gryffindor").
"Dia pasti tidak ada..." gumam Harry, lirih, hampir tak terdengar.
"Tadi kau bilang apa?" Hermione mengalihkan perhatiannya ke sahabat di depannya yang tiba-tiba membuka mulutnya, bergumam sesuatu. Memang, sedari tadi sejak mereka turun dari kereta, Harry tidak mengatakan apapun. Ia hanya mengatakan 'Sampai nanti' kepada pemuda berambut hitam yang terlihat sekitar dua atau tiga tahun di atas mereka. Hermione tidak melihat lambang di jubahnya, dan ia ragu ia pernah melihat sosok itu di Hogwarts.
"Oh ya Harry, ngomong-ngomgon tadi di kereta kau berada di mana?"
Pertanyaan ketiga yang diajukan temannya hari ini, dan Harry menghela nafas.
"Hermione, sudah kukatakan, aku berada di kompartemen yang berbeda dengan kalian tadi." Ucap Harry dengan nada sakrastik. Oh tidak. Sepertinya ia sudah tertular pemuda itu. Nada bicaranya sakrastik sekali sekarang.
Hermione memajuka bibirnya, cemberut. "Bukan itu maksudku, dan kau tahu itu!"
"Lalu?"
"Maksudku adalah, kau bersama siapa tadi?"
Harry mendengus. "Lah, siapa dan di mana mempunyai perbedaan yang sangat jauh, Hermione. Kupikir kau sudah mempelajari tata bahasa yang baik dan benar di sekolah dasar dulu." Katanya sambil menyeringai, menikmati perubahan mimik wajah Hermione yang makin ditekuk.
"Oh, sudahlah!"
Dan Harry menyeringai karena telah berhasil membuat sahabatnya kesal.
Seleksi terakhir sudah di sebutkan, 'Whitby, Kevin' yang terseleksi masuk Hufflepuff, dan Harry memperhatikan saat Profesor McGonagall menggulung perkamennya, mengangkat kursi beserta topi Seleksi dengan tongkatnya dan berjalan pergi.
Harry juga memperhatikan kalau sang kepala sekolah, Albus Dumbledore, tidak ada di tempat duduknya di tengah meja guru. Dan ia juga merasakan anak-anak lain menyadarinya.
Tepat saat benaknya –sekali lagi- menyuruhnya mengedarkan pandangan untuk mencari seseorang, pintu di samping Altar Depan terbuka, dan berjalanlah Dumbledore dan diikuti seseorang yang sudah Harry kenal, yang tanpa sadar ia cari sedari tadi.
Dan tanpa sadar pula, Harry menahan nafasnya melihat pemuda itu berjalan. Aura sihirnya pekat, dan tanpa Harry ketahui sama pekatnya dengan dirinya. Sayangnya, potensi sihirnya tertimbun di dalam dirinya –terima kasih kepada paman dan bibinya- dan lagi Harry baru berusia empat belas tahun.
Harry melihat Artemis berjalan tegap, pandangan matanya dingin dan datar, tapi ada daya tarik di sana. Atau hanya ilusi-nya saja? Harry tidak tahu. Yang ia tahu, ia telah terhisap oleh pemuda itu. Belum lagi, wajahnya yang terpahat sempurnya membuat Harry kembali terhipnotis untuk terus menatap pemuda itu.
"Siapa dia?" Harry mendengar Seamus –yang berada di sebelah kirinya- berbisik.
"Tidak tahu," jawab Ron, dan kemudian anak lelaki bungsu di keluarga Weasley itu melirik Harry. "Yang kutahu hanya namanya Artemis apalah, dan ia tadi berada satu kompartemen dengan Harry."
"Apa?" kali ini Hermione-lah yang bersuara. "Jadi di sana kau berada, Harry?"
Harry hanya mengangguk, tapi ia tidak fokus. Kedua manik matanya hanya menatap pemuda itu –dan entah kenapa perutnya bergejolak saat ia merasakan pemuda itu menoleh kepadanya, menatap kedua matanya dalam.
Tapi sayangnya, kontak mata diam-diam itu harus diputus saat Dumbledore bersuara.
"Selamat datang kembali kepada para murid, dan selamat datang kepada para murid kelas satu," ia memulai, tersenyum. "Tapi sebelumnya, setelah seleksi murid kelas satu, untuk tahun ini kita kedatangan tamu istimewa," Dumbledore menggeser ke samping, dan Artemis maju selangkah. Ia memang berwajah datar di sana, tapi sebenarnya ia merasa bosan setengah mati. Ia benar-benar tidak suka perhatian, dan masuk bersama kepala sekolah dan dikenalkan di depan Aula itu berarti benar-benar sebuah perhatian.
Sedari tadi, mata Artemis yang berwarna biru itu menjelajahi aula besar itu, mencari sosok yang sudah ia kenal. Dan ia menyadari keberadaannya di meja penuh dengan murid dengan dasi merah dan emas. Ia sendiri belum memakai dasi dengan sebuah warna, walau dirinya sudah diseleksi tadi. Dan Artemis menyeringai, mengetahui ia memasuki asrama yang menarik.
Tanpa sadar kedua mata Artemis terfokus kepada pemuda itu –Harry- pemuda yang berada di sebagian buku yang ia baca.
Dan tanpa sadar Artemis tersenyum kepada pemuda itu, dan melihat reaksinya. Untungnya, sepertinya tidak ada seorangpun yang menyadari kontak mata diam-diam itu.
Artemis kembali ke dunia nyata sekarang, sesaat setelah orang tua di sebelahnya angkat bicara.
"Pada tahun ini, Hogwarts menerima seorang murid pindahan. Selama ini, ia belajar secara home schooling-" Artemis menyeringai mendengarnya, "-dan ia berhasil masuk Hogwarts dengan hasil tes yang sempurna." Ucap Dumbledore dengan nada ceria, hal yang membuat Artemis melengos sendiri. Tapi ia melihat, banyak murid –hampir semua, malah- mengerjap tidak percaya, yang dibalas Artemis dengan sebuah senyum dingin. Seorang gadis berambut ikal cokelat mengembang di sebelah Harry juga mengerjap tidak percaya, dan ada sedikit rasa senang di dalam diri Artemis saat ia melihat Harry tersenyum ke arahnya. Entah kenapa.
"Karena usianya, ia akan dimasukan ke kelas enam, dan mengenai asramanya, ia telah diseleksi secara pribadi tadi-," para gadis di salam ruangan menatap Dumbledore dengan penuh harap, dan Artemis merasa geli sendiri. Ada apa sih, dengan para gadis? Dan ada secercah rasa senang saat Artemis tahu Harry menahan nafas. Ia yakin pemuda dua tahun dibawahnya itu berharap dirinya satu asrama dengannya. "-dan ia akan masuk Slytherin!"
Sorak sorakan terdengar dari arah Slytherin, dan suara menghela nafas kecewa terdengar di tiga meja yang lain. Artemis memang sudah mengantisipasinya –ia bukan tipe Gryffindor yang pemberani dan nekat, karena seluruh pengalamannya selalu ia lakukan secara hati-hati dan penuh pemikiran, walalu beberapa diantaranya terjadi tanpa pikir panjang. Atau tipe Hufflepuff. Tidak, ia bukan dermawan apalagi royal. Ingat, Artemis Fowl II adalah tipe orang yang: selfish, greedy, alone. As always. Dan sifat greedy-nya banyak berubah sejak ia berteman dengan Holly dan Mulch –walaupun begitu ia bukan tipe Hufflepuff. Definitly not. Lalu, pilihannya tinggal Ravenclaw dan Slytherin. Ia memang jenius, dan ingat. Yang bisa menandingi kejeniusannya di dunia muggle hanya Minerva Paradizo. Dan tidak, Artemis tahu Minerva tidak mempunyai banyak hal yang ia punya. Tapi ia tahu, ia bukan tipe yang sangat tekun belajar –ia menyerap apa yang ia pelajari secara instan, otaknya bereaksi dengan cepat terhadap suatu masalah, dan mengeluarkan banyak solusi secara cepat. Ia tidak suka duduk diam lama dan membaca buku. Yang ia lakukan hanya membaca sebuah buku sekali, dan dengan instan ia menyerapnya. Cukup sekali.
Dan omong-omong mengenai Slytherin, dengan gelarnya sebagai bocah kriminal genius yang namanya sudah banyak terdengar baik ayahnya ataupun dirinya sendiri, Artemis memang berfikir layaknya seorang Slytherin. Ia memang licik, toh caranya mengangkap Opal tidak sepenuhnya bersih. Ia dan Holly dan juga Butler memikirkan banyak rencana dengan sedikit tujuan: menangkap Opal sementara diri mereka sendiri tidak tertangkap. Dan well, dengan kehadiran ia di sini dengan ingatan penuh mengenai Kaum Peri cukup menjadi bukti bahwa ia berhasil lolos dengan sempurna, lagi.
Jadi, dirinya terpilih masuk asrama Slytherin sama sekali tidak mengejutkannya. Ia sudah memprediksikan ini, sekitar 78% lah. Hahaha. Serinci itu. Dasar jenius. Terlalu Rajin.
Sementara itu, Harry mendapat banyak death glare, terutama dari kedua sahabatnya.
"Harry." Nada yang digunakan Hermione cukup berbahaya, sebenarnya. Harry sedikit bergidik, memang. Tapi ia berniat menghiraukan. "Kenapa kau bisa satu kompartemen dengan seorang Slytherin?"
Harry hanya menaikan kedua bahunya. "Tidak tahu. Takdir?" Haha. Andai saja itu benar.
"Jangan bercanda, mate." Sekarang gantian Ron yang bersuara, nadanya tidak percaya. "Kenapa kau bisa nyasar di kereta dengan ular itu? Bagaimana kalau kau-"
"Aku tidak diapa-apakan olehnya, Ron." Potong Harry cepat. "Aku ada di sini, sehat, right? Jadi, jangan permasalahkan hal itu sekarang."
"Tapi Harry, kau bahkan baru mengenalnya."
Harry tidak bisa berkata jujur mengenai hal yang ia rasakan, setidaknya belum. Bahkan ia sendiri ragu dengan perasaannya. Dan jangan sekarang. Banyak kuping yang menunggu berita masuk. Jadi Harry menggeleng, lemah.
"Hermione, aku bahkan tidak tahu ia seorang Slytherin." Ucap Harry sakrastik, membuat Hermione mendelik.
"Dan siapa namanya?"
"Ia-"
"Ah, tidak sopan sekali, belum menyebutkan namanya," ucap Dumbledore ceria, seolah-olah ia sengaja melupakannya. Perkataan Harry terpotong, dan ia sepenuhnya melihat ke altar depan, menunggu. Hermione juga menunggu, penasaran.
Harry bahkan masih merasa penasaran walau dirinya sudah tahu nama pemuda itu.
"Namaku Artemis Fowl II." Kata Artemis datar, angkat suara. Suaranya yang datar membuat Harry menahan nafas, entah kenapa. Dan Harry mendengar Hermione mengerjap kaget, entah kenapa. "Aku berasal dari Irlandia, dan seperti yang kalian tahu, anak asrama Slytherin." Jeda. Artemis kemudia melirik ke arah Harry, dan mata mereka bertemu. Artemis menyeringai, penuh tantangan. Dan Harry hanya menaikkan kedua alisnya. "And for your information, I'm a muggleborn."
Sunyi.
Waw.
Waw.
Waw.
Satu aula membelalakkan mata tidak percaya, bahkan guru-guru.
A declaration of WAR. . The biggest mistake that someone had ever made.
Dumbledore bahkan membulatkan matanya, walau sedikit. Guru-guru pun bahkan terkejut, dan Harry dapat melihat Snape menyerngit terkejut.
Dan Harry dan Artemis memutuskan kontak mata mereka, kedua mata mereka mengalihkan perhatian ke meja para ular tersebut. Dan yeah, benar. Para bocah hijau itu membelalakkan matanya, kaget.
Tapi bukan Artemis namanya kalau ia meremehkan tantangan. Bukan dirinya kalau ia tidak mendeklarasikan sebuah perang antar dirinya dan para penghuni asrama.
Artemis tahu, selama setahun nanti, ia akan melihat banyak topeng di dalam asrama bawah tanah itu. Maka, daripada ia nanti capek sendiri menghadapi topeng-topeng itu, ia ingin membukanya. Menunjukan diri mereka kepadanya, yang jelas-jelas the black sheep di asramanya.
Dan Trio Emas Gryffindor mengerjapkan matanya tidak percaya. Terutama Harry. Heck, berani sekali orang ini mendeklarasikan perang. Perang! Yeah, walau perang itu perang pribadi di dalam asrama Slytherin, mereka tetap tidak percaya betapa bodohnya Artemis berkata blak-blakan seperti itu.
Hermione membulatkan matanya tidak percaya, meneliti gestur Artemis sekali lagi. "Artemis Fowl yang itu?"
"Apa maksudmu dengan yang itu, Hermione?" tanya Ron, dan Harry akhirnya mengembalikan perhatiannya ke sahabat di depannya.
"Kalian tidak tahu siapa keluarga Fowl itu?" tanya Hermione balik, nadanya sarat ketidak percayaan.
"Heck, kalau ia terkenal di dunia muggle, jangan salahkan aku yang tidak tahu!" seru Ron, kesal.
Hermione menggelengkan kepalanya, kesal. Ia beralih mendelik kepada Harry, yang tentu saja, mengangkat kedua bahunya.
"Kalian tidak tahu bahwa Artemis Fowl II, yang berada di depan itu, adalah pewaris perusahaan Fowl?"
"Apa lagi itu perusahaan Fowl?"
Hermione menghela nafas, kesal. "Keluarga Fowl! Dia, Artemis Fowl, bocah ter-genius yang pernah ada. Yang dengan hanya satu-dua tahun mengembalikan kejayaan perusahaan keluarganya, yang awalnya hancur karena ayahnya adalah kriminal dan menghilang. Dia, Artemis Fowl II, seorang millionare asal Irlandia yang mempunyai ibu yang sering ada di koran, dan ayah yang terkenal karena perusahaannya. Bahkan ia sendiri menangani banyak anak perusahaan keluarganya saat ia berusia dua belas tahun dan mengembalikan kehormatan keluarganya saat ia berusia sebelas tahun. Namanya sangat terkenal!"
Berita ini mengejutkan meja Gryffindor. Beberapa muggleborn yang mengikuti berita juga mengetahui mengenai nama Artemis Fowl, tapi mereka belum pernah melihat secara langsung yang mana bocah yang disebut-sebut sebagai bocah tergenius itu. Dan menyadari melihat orang itu berada di altar depan, berdiri dengan wajah datar dan postur biasa-biasa saja, membuat mereka langsung bergumam 'betapa beruntungnya Slytherin'.
"Aku benar-benar tidak tahu bahwa ia seorang penyihir!" lanjut Hermione, sekarang kembali meneliti sosok Artemis yang berjalan santai ke meja Slytherin. "Dan yah, memang ia seorang yang licik, tapi ia jenius."
"Akhirnya ada juga orang yang mengungguli kejeniusanmu, Hermione," gumam Ron, yang dengan cepat mendapat hadiah berupa jitakan manis di kepalanya oleh Hermione.
"Auch!-" Ron mengumpat perlahan sembari memegang kepalanya, mendelik kepada sahabatnya di sebelah yang balas menatapnya tajam. "Apa-apaan, Hermione?"
"Tidak." Kata Hermione cuek, dan kembali menatap altar depan.
Harry menahan tawa, lalu sedetik kemudia ia kembali meneliti Artemis. Heck, ia baru tahu kalau pemuda yang tadi satu kompartemen dengannya sehebat itu! Dan Harry hanya bisa menatap dari jauh, dan mengutuk dalam hati akan betapa beruntungnya bocah-bocah ular itu, dan para gadis ular itu. Entah kenapa ia merasakan hal itu, cemburu mungkin?
Dengan cepat Harry menggeleng kepalanya. Tentu tidak! Demi celana Merlin, ia baru kenal pemuda itu kurang dari sepuluh jam, dan sangat tidak masuk akal apabila ia merasakan hal seperti ini!
Harry akhirnya kembali memusatkan pikirannya kepada Dumbledore, yang sekarang mengucapkan "Selamat makan!" dan diiringi seruan senang dari seluruh aula, piring-piring kosong di meja mulai terisi.
Makan berlangsung seperti biasa, bedanya sekarang banyak mata yang meneliti Artemis, yang duduk di sebelah Prefek Slytherin dan mulai makan dalam diam. Terlihat sekali tata krama makannya, dan Harry mendengus. Tentu saja ia tahu banyak tata krama! Wajar saja.
Dengan cepat piring emas itu tandas isinya, lalu semua tiba-tiba menghilang dan berganti dengan makanan penutup. Harry meraih puding cokelatnya dan terdiam mendengarkan perdebatan Hermione dengan hantu Nick si-kepala-nyaris-putus dan Ron tentang peri rumah. Ah, rupanya insiden saat Piala Duni Quidditch membuat Hermione sedikit sensitive dengan peri rumah.
Segera setelah puding terakhir habis, piring emas itu menghilang. Harry memperhatikan kalau Hermione sama sekali tidak makan, sepertinya ada hubungannya dengan perdebatan yang tadi terjadi. Tapi sekarang Harry tidak peduli –yang ia pedulikan hanya Artemis, yang sedang diam di tempat duduknya, seperti memikirkan sesuatu. Siku kanannya ia tumpukan di meja, dan telapak tangannya ia taruh di pipinya. Sepertinya ia sedang mendengarkan ocehan Prefek Slytherin.
Dan sekejap, Harry menemukan Artemis menatapnya balik, dan ia tersenyum. Ya, senyum. Aneh sekali Artemis merasa dirinya tersenyum, tapi ia melakukannya dengan tulus. Sama tulusnya dengan senyum yang ia hadiahkan kepada Holly saat mereka berada di rumah sakit, saat elf itu mengetahui bahwa Komandan Julius Root berhasil diselamatkan dari ledakan Opal, walau harus dirawat selama bulanan. Dan Artemis dengan sukarela –tumben- membayarkan biaya pengobatan, walau Komandan Root sudah menolak. Tapi, sekali lagi Artemis berhasil meyakinkan elf yang ia hormati itu bahwa ia memang berhutang nyawa kepadanya. Dan akhirnya Komandan Root menerimanya.
Artemis kembali fokus terhadap pemuda di sebelahnya, yang rupanya seorang Prefek. Artemis hanya menyeringai –penjelasan dijelaskan pemuda itu tidak banyak berguna, sebagian besar sudah ia baca. Tapi lumayanlah, untuk memudahkannya beradaptasi setidaknya ia harus mengetahui kastil ini dari orang yang sudah lama berada di dalamnya.
Perhatian mereka kembali ke altar depan, saat Dumbledore berdiri dari kursinya. Artemis sudah mengetahui hal apa yang akan ia bicarakan. Hal yang pasti akan berlangsung setahun ini, yang membuat Artemis sangat beruntung memilih tahun ini untuk melakukan percobaan, penelitian, atau apalah maksudnya.
"Untuk tahun ini-" Dumbledore memulai, dan suaranya langsung membuat seisi aula fokus terhadapnya, "-dengan berat hati aku harus menyampaikan bahwa pertandingan antar-asrama untuk memperoleh Piala Quidditch terpaksa ditiadakan."
"Apa?"
Jeritan kaget terdengar, dan dari ujung matanya, Artemis melihat Harry terpekik kaget, lalu memandang dua orang berambut merah yang terlihat kembar, dan mereka bertiga benar-benar terkejut. Artemis langsung mengetahui bahwa Harry dan dua orang itu pasti adalah anggota tim Quidditch asrama Gryffindor. Dan yah, Artemis memang merasa sedikit menyayangkan ia tidak akan melihat permainan yang katanya merupakan olahraga favorit penyihir. Dan sepertinya melihat Harry bermain melawan tim asramanya terlihat menarik.
Sekali lagi Artemis menggelengkan kepalanya. Tidak. Heck, pikirannya melantur lagi!
"Itu karena-" Dumbledore memulai lagi setelah berhasil mengatasi , "-tahun ini, sekolah kita akan kedatangan-"
BRAK!
Malangnya Dumbledore. Sekali lagi ucapannya terpotong oleh sesuatu, tsk tsk tsk.
Perhatian seluruh aula langsung tertuju ke pintu. Pintu aula yang besar, yang terbuka lebar, dan terlihat sosok pria tua yang berjalan tertatih-tatih.
Tok, tok.
Kentara sekali suara tongkat kayu yang menghantam lantai.
Deg!
Sama seperti saat pria itu masuk, secara tiba-tiba, Artemis juga merasakannya. Secara tiba-tiba. Ia merasa... merinding. Sungguh. Aura sihir pekat menyentuh kulitnya, bereaksi terhadap sihirnya. Dan sihir ini... berbeda. Penuh ambisi. Tapi bukan ambisi semacam apa yang berada dalam diri Artemis, bukan. Ambisi ini berbeda. Terlihat... hitam.
Dan Artemis langsung menyadarinya. Orang ini, berbahaya.
Apa sih yang dipikirkan sekolah, menempatkan orang berbahaya?
Pria itu berjalan. Pria itu memegang tongkat kayu. Wajahnya mengerikan. Penuh luka sihir. Dan bahkan hidungnya hilang sedikit! Artemis bergidik. Ia tahu Butler sering terlibat banyak pertempuran. Bahkan dengan troll. Tapi yang seperti ini... tidak. Wajahnya penuh bongol-bongol. Bahkan mata satunya merupakan mata palsu.
Sekejap Artemis merasa bahwa sihir pekat itu mengikis pertahanan sihir yang ia buat di sekeliling tubuhnya.
Pria itu berjalan ke altar depan, menghiraukan bisikan-bisikan yang muncul di sekelilingnya. Dan bahkan, di meja Slytherin, Artemis mendengar nama seseorang yang sudah ia baca di salah satu buku.
"Alastor Moody?" Artemis bertanya kepada pemuda di sebelahnya.
"Yap." Pemuda itu mengangguk. "Alastor Moody, Auror."
Artemis mengangguk. Ya, ia pernah mendengar namanya. Salah satu nama yang menjadi legenda, salau satu orang yang ikut berjuang melawan Voldemort. Dan yang berhasil selamat.
'Tapi,' Artemis kembali berkutat dengan otaknya, 'Kenapa orang ini mempunyai aura sihir hitam? Bukankah ia ada di pihak Dumbledore?'
Itu, adalah salah satu jawaban yang Artemis tidak ketahui jawabannya.
"Ah, sebelumnya, aku belum mengenalkan guru Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam kalian yang baru. Alastor Moody!"
Kali ini, yang bertepuk tangan hanyalah Dumbledore. Bahkan para guru pun melongon melihat penampilan Moody yang, wah. Aula sunyi, dan beberapa detik kemudian mereka tersadar dari trans-nya, dan mulai bertepuk tangan.
Artemis memperhatikan Moody duduk di sebelah Kepala Asrama-nya, Severus Snape. Ia memperhatikan Moody yang minum dari tempat minumnya. Ia terus memperhatikan, mencoba menggali sebuah jawaban, sampai suara Dumbledore menyita perhatiannya –lagi.
"Ah, ya. Untuk tahun ini, mulai bulan Oktober dan sepanjang tahun, aku umumkan bahwa sekolah kita akan menjadi tuan rumah dari Turnamen Triwizard!"
Kali ini, pekik kaget terdengar di seluruh penjuru ruangan, dan aura kembali dipenuhi dengan kegembiraan. Tapi, sesuai perkiraan, banyak bocah yang tidak tahu menahu mengenai Turnamen Triwizard, termasuk Harry. Bocah itu menoleh ke arah teman-temannya, yang rupanya memandang kepala sekolah tidak percaya. Tapi ekspresinya sendiri biasa-biasa saja. Hey, ia kan sama sekali tidak mempunyai petunjuk mengenai Turnamen Triwizard! Memangnya ia harus menampakan ekspresi seperti teman-temannya –walau itu hanya pura-pura? No!
"Anda BERGURAU!" dan Harry sekarang dapat mendengar salah satu dari si kembar, Fred, berseru keras dan Dumbledore tersenyum.
"Aku tidak bergurau, Mr. Weasley," katanya, "Walaupun setelah kau menyebut kata itu, aku memang mendengar lelucon seru waktu liburan musim panas tentang Troll, hantu nenek jahat, dan Leprechaun yang bersama-sama ke bar-"
Profesor McGonagall berdeham.
"Er –tapi mungkin sekarang bukan saat yang tepat, bukan..." Dumbledore berkata, menggaruk jenggotnya yang kelewat panjang. "Sampai di mana aku tadi? Ah, ya, Turnamen Triwizard... nah, sebagian dari kalian mungkin belum tahu turnamen apa ini, maka kuharap mereka yang sudah tahu memaafkanku yang akan memberikan penjelasan singkat, dan kuizinkan mereka melayangkan pikiran ke mana-mana.
"Turnamen Triwizard pertama kali diselenggarakan kira-kira tujuh ratus tahun yang lalu sebagai kompetisi persahabatan di antara ketiga sekolah sihir terbesar di Eropa: Hogwarts, Beauxbatons, dan Durmstrang. Seorang juara dipilih untuk mewakili masing-masing sekolah, dan ketiga juara ini bersaing dalam menyelesaikan tiga tugas sihir. Ketiga sekolah ini bergiliran menjadi tuan rumah turnamen ini lima tahun sekali, dan kegiatan ini disepakati sebagai cara paling luar biasa untuk membina tali persahabatan di antara para penyihir muda yang berbeda bangsa –sampai, angka kematiannya menjadi tinggi sekali, sehingga turnamen ini tidak diteruskan."
Dumbledore terdiam, lalu melanjutkan. "Selama seratus tahun ini telah beberapa kali diusahakan untuk mengadakan kembali turnamen ini, sayang satu pun tidak berhasil. Meskipun demikian, Departemen Kerjasama Sihir Internasional dan Depertemen Permainan dan Olahraga Sihir memutuskan sudah saatnya kita mencoba lagi.
"Kepala sekolah Beauxbastons dan Durmstrang akan tiba bersama calon-calon mereka di bulan Oktober dan seleksi ketiga juara akan berlangsung pada malam Halloween. Juri tidak memihak akan memutuskan pelajar mana yang paling layak bertanding untuk memperebutkan Piala Triwizard, piala yang akan mengharumkan nama sekolahnya, dan hadiah pribadi sebesar seribu Galleon."
Gumaman bersemangat terdengar, dan yang paling dominan adalah meja Griffindor. Bahkan Harry dapat mendengar salah satu dari si kembar, George, mendesis bersemangat bahwa ia akan ikut turnamen. Harry hanya menggelengkan kepala. Mempunyai tiga tahun bersekolah di Hogwarts tanpa setahun mengalami yang namanya 'masa damai' membuatnya mempunyai keinginan untuk menjauhkan masalah tahun ini.
"Meskipun aku tahu kalian semua bersemangat untuk memenangkan Piala Triwizard bagi Hogwarts," lanjut Dumbledore, tersenyum melihat betapa antusias para murid, "para kepala sekolah yang muridnya akan ambil bagian, dan juga Menteri Sihir, telah sepakat untuk menerapkan pembatasan umur untuk para peserta tahun ini. Hanya pelajar yang telah cukup umur –dengan kata lain sudah berusia tujuh belas tahun atau lebih- yang diizinkan mengajukan nama mereka untuk dipertimbangkan. Ini-" suara Dumbledore mengeras saat mendengar banyak protes yang terdengar di mana-mana, "-adalah tindakan pengamanan karena mengingat tugas-tugas turnamen sangat berbahaya dan sulit, dan walaupun kami mengambil tindakan pengamanan, sangat tidak mungkin pelajar dibawah kelas enam dan tujuh sanggup menanganinya. Aku sendiri yang akan memastikan bahwa tidak ada pelajar di bawah umur yang memperdayakan juri agar memilihnya." Matanya bercahaya ketika ia memandang wajah Fred dan George yang jelas-jelas murka mendengar pernyataan itu.
Teriakan protes terdengar dari mereka yang masih berada di bawah umur, dan Artemis hanya menyeringai. Ia akan berusia tujuh belas tahun dalam kurun waktu dua minggu... masih ada waktu. Tapi sayangnya, ia tidak berminat. Lagi pula, hadiahnya emas. Ia merasa dirinya sudah cukup mempunyai emas. Bukan maksudnya sombong, serius. Tapi yah... kalau ia sudah punya uang sebanyak itu, untuk apa lagi coba?
Dan tantangannya itu. Artemis merasa dirinya sudah cukup mendapatkan tantangan mendebarkan sepanjang hidupnya, terutama yang berkaitan dengan dunia peri. Tidak, tidak. Ia hanya ingin hidup tenang akhir-akhir ini.
"Baik, baik." Suara Dumbledore sekali lagi menenangkan aula yang sudah penuh akan protesan. "Hutan Terlarang tidak boleh dimasuki. Mr. Filch berkata bahwa Frisbee Bertaring, Yo-Yo Menjerit, dan Bumerang Menampar."
"Ah, hari sudah malam. Selamat tidur!"
Walaupun terdengar protes di mana-mana, tapi tetap terdengar kursi kayu yang terdorong, bergesekan dengan lantai porselin. Harry mengikuti Ron dan Hermione, yang juga langsung berdiri dan berjalan keluar Aula Besar, mengikuti anak Gryffindor yang lainnya.
Tapi, anehnya, dalam suasana yang ripuh dan ricuh seperti ini pun, Harry masih bisa mengedarkan pandangan untuk mencari sepasang bola mata biru beserta pemiliknya –dan itu dia! Harry melihatnya. Artemis, sedang berdiri dan merapihkan jubahnya yang sedikit terlihat.
Dan kembali, mata mereka berdua kembali bertemu, dan Harry merasakan darahnya berdesir saat ia melihat pemuda itu tersenyum kearahnya.
Artemis membuka mulutnya, dan berkata tanpa suara.
Tersentak, Harry menaikan kedua alisnya tinggi-tinggi. Ia tidak menyangka! Dan akhirnya, Harry berhasil mengatasi shock-nya, dan kemudian tersenyum. Membalas kata itu tanpa suara juga.
Dan Artemis tersenyum, lalu mengangguk sopan. Harry balas mengangguk dengan canggung, lalu mereka berdua memutuskan kontak mata.
"Ada apa, mate?" ah, rupanya Ron dan Hermione sudah menunggu Harry di luar pintu Aula, menyerngit bersamaan.
Harry tersenyum. "Tidak, tidak apa-apa."
Walau masih bingung, Ron dan Hermione akhirnya mengangguk juga, dan mereka bertiga berjalan bersisian menuju Menara Gryffindor, dengan lukisan Fat Lady menunggu mereka.
Setelah menggumamkan password, Harry dan Ron berpisah dengan Hermione. Mereka bertiga sudah terlalu capek untuk melakukan hal yang lain, dan akhirnya Harry dan Ron berjalan menuju kamar tidur mereka, di mana Neville sudah ada dan menggumamkan 'Selamat Malam' kepada mereka.
Harry dengan cepat berganti pakaian, dan lalu merebahkan diri di kasurnya dan menutup kelambu mengelilingi dirinya.
Baru saja ia menaruh kepalanya di atas bantal yang empuk, Harry kembali teringat kontak singkatnya dengan anak baru itu.
Artemis Fowl...
Tanpa sadar, ia tersenyum. Dan ia akhirnya tertidur, dengan sebuah perasaan hangat yang menjalari tubuhnya...
.
.
.
.
Artemis merenggangkan tubuhnya di atas karpet di sebelah tempat tidurnya, hanya memakai kaus putih tipis dan celana biasa. Ia tidak terbiasa memakai baju ini, ya. Tapi ini lebih baik daripada piama yang ibunya paksa ia bawa: piama polos berwarna biru tua dengan lambang keluarga Fowl di dada. Heck, ia tidak suka memakai suati benda yang benar-benar mencerminkan keluarganya. Mendengar namanya saja orang Eropa banyak bereaksi, apalagi kalau ia benar-benar memasang tanda 'Keluarga-Fowl-lewat'?
Akhirnya ia menaruh kedua kakinya di ujung tempat tidur, dan mulai melakukan push up ringan. Hanya beberapa kali, sampai ia merasakan keringat menjalari pelipisnya, dan ia lalu duduk. Kembali merenggangkan tubuhnya, Artemis akhirnya merebahkan tubuhnya di tempat tidur dan menarik kelambu agar menutupi tempat tidurnya –memutuskan batas pandangan orang lain.
Ia meraih ranselnya yang berada di ujung tempat tidur, lalu menarik keluar salah satu koran, dan mulai membacanya.
Sepuluh menit, lima belas, lalu dua puluh menit berlalu. Tapi sayanngya, pikiran Artemis tidak berada di tempat –sekarang otaknya sudah sibuk me-review kejadian yang ia alami sepanjang hari.
Tadi, seperti perkiraannya, sesaat setelah ia berjalan menuju daerah bawah tanah bersama anak Slytherin yang lain, tatapan mencemooh mengikuti dirinya. Tapi bukan Artemis Fowl II namanya kalau merisaukan tatapan orang kepadanya. Yang ada, ia mengangkat dagunya dan berjalan mengikut anak kelas tujuh lainnya.
Tapi hambatan kembali ada. Kali ini dari seorang bernama Draco Malfoy –Artemis baru saja meneliti mengenai keluarga mereka di kereta api. Yah, sepanjan perjalanan panjang itu ia tidak hanya membaca koran dan memperhatikan Harry secara diam-diam (benar-benar bukan dirinya!), tapi ia juga mencari tahu mengenai keluarga penyihir terkenal.
Dan naman Malfoy berada di urutan-urutan teratas.
Mengeluh tertahan, Artemis akhirnya menyender di dinding terdekat saat ia dihadang oleh sang pewaris keluarga Malfoy itu.
"Ha, bisa-bisanya ada seorang mudblood di sini." Seperti biasa, salam cemooh dari Malfoy.
Artemis hanya terdiam, lalu melihat tangannya di dada. "Lalu? Any problem with that?"
Malfoy mendengus, dan kembali berakting seolah-olah ia pemilik tempat ini. Hey, Artemis always hate while someone act like that.
"Tidak pantas seorang mudblood berada di asrama Slytherin seperti ini."
"Hmph, apalah katamu. Memang kau siapa? No one." Kembali Artemis menggunakan senyum mencemoohnya yang terakhir ia pakai berhasil membuat Opal Koboi naik darah dan akhirnya mengirimnya dua tembakan roket.
Artemis dapat melihat Malfoy membelalakan matanya, lalu berkacak pinggang. "Hey. I'm the one who should told that. Who are you?" katanya mencemooh, matanya menyiratkan sebuah kepuasan. "No one."
Artemis kemudian menaikan bahunya, tanda tak peduli. "Hey, at last I am a Fowl. And Fowl always had their own rule."
Malfoy mendengus, kentara sekali tidak suka. "So do Malfoy's."
"Yeah. But you, Malfoy's, only get the pride on the witch side. At muggle side? Sorry, but Fowl gets everything." Balas Artemi sambil menyeringai, puas melihat wajah pucat Malfoy kembali memucat.
"Yeah, but-"
"But what?" potong Artemis, kentara sekali malas melanjutkan percakapan lebih jauh. "If you had nothing to tell, let go of my way. I had something more important to do." Dan dengan sekali gerakan, Artemis dapat berkutat dari ketiga orang itu –Malfoy dan dua pengawalnya- dan berjalan menuju kamar dengan petunjuk bahwa kamar itu milik anak kelas tujuh cowok.
Dan mengingat kembali bahwa ia sudah membuat pernyataan 'perang' dalam asramanya sendiri mengenai status kedua orangtuanya, ia yakin makin banyak saja halangannya menjalani hidup tenang. Tapi, Artemis sudah mengambil 'kesenangan' di awal tahun ajaran, ia tinggal menikmati saja apa yang ia panen dari 'kesenangan'nya itu.
Setelah mandi sebentar, ia akhirnya berada di sini: di dalam kelambu di atas tempat tidur, membaca Irish Time. Tapi sekali lagi, pikirannya melayang kepada pemuda yang ia temui di kompartemen kereta, yang sekali lagi akhirnya menyita perhatiannya. Selama tadi ia bersama sang kepala sekolah yang sekali lagi mengingatkannya mengenai statusnya, Artemis tidak bisa 100% fokus.
Ini aneh.
Biasanya, se-menarik apapun orang yang Artemis temui, ia tidak pernah tidak fokus. Tidak pernah sampai menyita perhatiannya sejauh ini.
Tapi kali ini berbeda.
Artemis merasa dirinya pernah menemui orang ini. Ia tahu, kalau ia pernah bertemu, setidaknya ia akan mengingat. Ia mempunyai ingatan yang luar biasa kuat, kecuali kalau ingatannya dihapus Foaly seperti waktu itu. Tapi, ia tetap bisa meningatnya, bukan? Hanya dengan pemicu.
Tapi ini?
Artemis merasakan perasaan hangat dan familier menjalari tubuhnya saat tadi ia berkontak mata dengannya. Dengan Harry Potter. Legenda dunia sihir. The-Boy-Who-Lived. Orang yang Artemis akui mempunyai kekuatan melebihi dirinya yang sering disebut sebagai sang jenius.
Selama ia mendengar atau membaca mengenai orang yang mengalahkan Voldemort itu, ia selalu membayangkannya berwatak seperti dirinya: greedy, selfish. Tapi, sejak ia melayangkan pandangannya kepada pemuda itu, ia tahu satu hal. Pemuda itu hanyalah seorang anak biasa. Naif, polos. Tidak terlalu mengetahui mengenai kerasnya dunia luar, tidak seperti dirinya.
Dan satu lagi. Di saat ia bertemu pandang dengan pemuda itu, dan menyelami matanya, ia tahu. Pemuda itu sama dengannya: membutuhkan kasih sayang, cinta, seorang teman.
Dan langsung ada keinginan liar dari dalam dirinya untuk menjadi orang yang selalu ada untuknya. Untuk Harry.
Artemis langsung berguling di tempat tidurnya, kentara tidak nyaman.
'Apa yang kupikirkan tadi?'
Artemis menggerutu dalam hati, mengucapkan beberapa makian.
Heck. Dia baru berada di tempat ini kurang dari dua puluh empat jam. Demi apa ada seseorang yang mencuri hatinya lagi?
Artemis kembali menggelengkan kepalanya. Tidak, tidak. Ia harus berfikir jernih sebelum mengaitkan apapun.
Tapi, pikirannya kembali ke percakapan sangat singkat saat ia berada di aula tadi.
Saat pandangan mata mereka bertemu, Artemis seolah terhipnotis oleh kedua bola mata hijau cerah itu. Dan tanpa sadar ia menyunggingkan senyuman, senyuman yang sangat bukan dirinya. Senyuman tulus. Ia merasakan Harry terperangah sedikit dan kemudia tersenyum. God, itu senyum termanis yang pernah Artemis lihat! Dan lalu ia membuka mulutnya. Mengatakan sesuatu tanpa suara.
'Good night and have a nice sleep... emeralds,'
Heck, ia bahkan tidak tahu kenapa ia bisa berkata seperti itu! Dan akhirnya, hampir saja ia berhasrat ingin melayangkan obliviate kepada Harry, pemuda dengan bekas luka di dahi itu membalas perkataannya.
Kata yang membuat Artemis lalu tertidur dengan sempurna, mengabaikan korannya yang terletak tidak rapih di ujung tempat tidurnya. Kata yang membuatnya tertidur dengan senyuman terpatri di wajahnya.
'Good night and have a nice sleep to...Artemis...'
XOXOXOXOXOXOXO
TBC
XOXOXOXOXOXOXO
ADA APA INIIII?
Kenapa jadi gaje banget?
Dasar! Mentang-mentang sang auhor sedang jatuh cinta, jadinya... -_-
God damn it!
Okelah, abaikan -_-
buat para reviewers, thanks a lot :)))
lia: thanks yaa :))) oh yaa? sip deh kalau begitu XD ini udah update, semoga sukaaa XD
Sumpah kenapa Harry bisa OOC gini? KENAPA ARTIE BISA OOC GINI? Haaaaa Artie, maafkan aku karena sudah membuatmu bertingkah sangat-tidak-fowk -,- oiya, Draco juga, maaaaf kamu jadi jahat di siniii DX
Tenang, tenang. Draco ada perannya sendiri :D #oke, author mulai gila dengan mengomong sendiri.
Heck, chapter 3 sudah mulai dibuat kok, hehehe XD
Hemm, sekali lagi maap yaa kalo misalnya ade typo ato kesalahanku yang lain dll dll dll -_-
Fine. REVIEW please?
