'Good night and have a nice sleep... emeralds,'
Heck, ia bahkan tidak tahu kenapa ia bisa berkata seperti itu! Dan akhirnya, hampir saja ia berhasrat ingin melayangkan obliviate kepada Harry, pemuda dengan bekas luka di dahi itu membalas perkataannya.
Kata yang membuat Artemis lalu tertidur dengan sempurna, mengabaikan korannya yang terletak tidak rapih di ujung tempat tidurnya. Kata yang membuatnya tertidur dengan senyuman terpatri di wajahnya.
'Good night and have a nice sleep to...Artemis...'
.
.
BIZARRE
Harry Potter to J.K Rowling
Artemis Fowl to Eoin Colfer
.
.
.
A Friendship, Romance and Adventure fict.
WARNING for SLASH, OOC, Underage Relationship, Commander Julius Root ga mati alias pas buku 4 berhasil selamat uyeeeeee~ banyak canon yang gua ubah dari buku AF, a lil' bit manipulative Dumbledore, a strong!Harry, strong!Voldemort.
Artemis at age 17, Harry at age 14.
A/N: Mungkin terfokus dengan relashionship-nya? Tidak tau -_- Artemis OOC karena gua sendiri bingung Artemis itu karakternya kayak gimana. Berubah-ubah sih, kadang baik, kadang 'nakal', kadang perhatian, kadang gapedulian #authorcurhat #plak hehehe tapi yang penting bocah itu tuh jenius, saking jeniusnya sampe bikin iri huahahahahahaha… plus HP canon sampe buku 3, AF sampe buku 5 (maybe) gua gatau banyak karena baru baca bukunya nomer 4 dan baca fict-nya #ininamanyanekat. Buat musuh? Cuma tau si Opal, dan Mafia Russia. Pick one! #oke, ini bukan twitter!
Mulai dari chapter ini akan ada variasi magic seperti wandless magic, blodd magic, rune magic, Necromancy, Sorcery, Alchemy. Demon juga mulai dikaitkan, dan sekali lagi, a strong!Voldemort.
Terinspirasi dari fict Fairy Dust by excentrykemuse untuk bagian romance-nya, dan Second Change at Life by Miranda Flairgold untuk bagian ritual dan demon-demonnya, dan novel Nicholas Flamel karya Michael Scott untuk makhluk-makhluk asingnya, terus fict Harry Potter and The Descent Into The Darkenss karya Aya Macchiato buat penggambaran strong!Harry-nya.
Main pair AFHP, slight SBRL, AFHS, DMHP, TRHP(maybe)– terlalu, kebanyakan -_-
Don't Like Don't Read!
But yeah, ENJOY!
.
Chapter 3 – Nodus, commencing from Prelude
.
Minggu-minggu pertama di awal semester memang berjalan lambat, ya.
Sarapan hari ini, hari Jum'at yang mendung, Harry berada di kursinya di meja Gryffindor, sedang mengamati satu titik di meja di ujung. Eh, bukan satu titik deng. Satu orang.
Harry memperhatikannya. Orang itu menerima pos burung hantu setiap pagi, dan memasukan uang koin ke kantong di kaki burung hantu itu. Harry menyadari kemudian kalau pemuda itu berlangganan Daily Prophet –dan ia tahu isinya tidak terlalu menarik, karena Artemis Fowl selalu menutup korannya setelah ia membaca sekitar lima menit sehingga Harry mengansumsikan bahwa Artemis tidak tertarik dengan berita apapun yang ada di koran.
Tunggu.
Kenapa ia sekarang jadi memperhatikan anak baru itu?
Harry menggeleng-gelengkan kepalanya, pusing sendiri.
Sudahlah. Jangan dibahas lagi.
Harry akhirnya melayangkan pandangannya kepada siapapun yang ada di seberang tempat duduknya –dan hari ini Ginny yang sedang mengunyah roti bakarnya sambil menatap Harry dengan pandangan aneh. Merasa dirinya di perhatikan, Harry memfokuskan matanya ke arah Ginny dan menaikan sebelah alisnya.
Tapi Ginny tetap memandang Harry aneh sambil mengambil roti keduanya.
"Ada apa sih?"
Harry akhirnya bersuara, dengan tanpa sadar tangan kanannya menusuk-nusukan garpu ke makanan apapun yang berada di atas piringnya.
Harry memperhatikan Ginny yang menelan rotinya lalu menegak teh-nya, lalu kembali memandang Harry. Kali ini pandangannya kesal –atau semacamnya lah.
"Ada apa?"
"Ada apa katamu?" hardik Ginny pelan, membuat Harry meringis perlahan dan mengeluh dalam hati. Apa lagi sih salahnya sekarang? "Apa kau tidak memperhatikan bahwa kentangmu tidak bisa disebut kentang lagi?"
Kali ini Harry menaikan kedua alisnya. Apa maksudnya? Dan akhirnya Harry menundukan kepalanya, untuk menemukan bahwa sarapannya yaitu kentang yang ia taru di atas piring tidak lagi pantas disebut kentang. Lebih pantas disebut... bubur. Hancur. Berantakan. Tak berseni(?)
"Err..." tanpa sadar Harry malah menggaruk kepalanya, wajahnya menyeringai canggung. "Aku tidak... sadar?"
"Hmph, dasar."
Harry hanya menyeringai, dan tepat pada saat Ginny akan membuka suara lagi, Hermione datang dan duduk di sebelahnya.
"Ada apa, Harry?" tanyanya, lalu ia memandang Ginny. "What's wrong with you, Gins?"
"Don't call me that way..."gumam Ginny kesal dan lalu kembali menegak teh-nya. "Lihat saja sahabatmu, Hermione."
Hermione menaikan salah satu alisnya sementara Harry mengeluh tertahan. Hermione menoleh dan memperhatikan sahabatnya itu –yang sekarang kembali mengaduk-aduk kentangnya dengan sendok dan mulai mengambil bubur kentang itu dengan sendok, menimang-nimang sendoknya, lalu menyuap sendok itu ke mulutnya dan menyerngit- dan akhirnya duduk di sebelah Ginny.
"What's wrong again now, Harry?"
"Nothing, 'Mione, nothing."
Hermione mendesah, lalu mulai membalikan piringnya dan memasukan beberapa roti, telur, dan daging asap. "If you say nothing but you act like that, I can't take your answer serious."
Harry menghela nafasnya, akhirnya mengambil pialanya yang sekarang berisi jus labu dan menegaknya perlahan. Lalu ia meletakan kedua sikunya di meja, dan menaruh kepalanya di kedua telapak tangannya, kembali menerawang ke meja ujung.
Hermione dan Ginny saling berpandangan, lalu saling menaikan kedua alis. Bertanya dalam diam.
"Harry-"
"Hey, mate!"
Harry diselamatkan dari pertanyaan apapun yang akan dilontarkan Hermione dengan kedatangan Ron, dan Harry berjanji dalam hati bahwa ia akan membelikan cokelat di Honeydukes untuk Ron saat kunjungan ke Hogsmade yang pertama. "Hey, Ron."
Dan sambil menggerutu karena hari ini kembali mendung dan lagi mereka akan melewatkan hari dengan gabungan pelajaran menyebalkan: blok pertama Transfigurasi, dilanjut dengan Sejarah Sihir satu blok, makan siang, lalu Ramuan dua blok dengan Slytherin, Ron mengambil beberapa sosis dan kentang, lalu menaruh saus banyak-banyak di piringnya dan mulai melahap sarapannya dengan ganas sementara Harry dan Hermione juga Ginny yang tidak terlalu peduli menatap mereka sambal geleng-geleng.
Akhirnya, Harry kembali menatap seseorang di seberang ruangan, di ujung meja.
Heck, sekarang Harry merasa dirinya seperti seorang gadis yang sedang jatuh cinta.
Tunggu.
Harry kembali menggelengkan kepalanya. Tidak, tidak mungkin!
Tidak mungkin kan, ia jatuh cinta kepada orang yang baru ia kenal sekitar seminggu, kurang lebih?
Tapi… perasaan aneh yang ia rasakan beberapa hari ini-
"Hoy! Kenapa lesu begitu-"
"-ayolah, besok akhir pekan-"
"-kita bisa bebas seharian-"
"-bergembiralah!"
Harry sudah terbiasa dikejutkan seperti itu sehingga ia tidak terlonjak sekarang –tidak seperti Dean yang berada sekitar dua meter di sebelahnya. Ia sekarang sudah tidak terkejut lagi saat mendengar dua suara yang sangat mirip satu sama lain terdengar, dua tepukan identik di bahunya dan juga dua orang yang saling menyambung kata dengan nada semangat dan cengiran jail di wajah.
Dan beruntung, sapaan mendadak itu membuyarkan lamunannya, sehingga untuk sementara ia tidak perlu memikirkan hal-hal aneh yang terjadi belakangan ini. Hanya sementara.
"Morning Fred," ia menghela nafas, dan mengambil pialanya. "George."
"Pagi Harry-"
"-kenapa lesu?-"
"-hari ini hari terakhir sekolah kan?-"
"-besok kita bisa main quidditch-"
"-bergembiralah!"
Harry kembali menghela nafas, antara ingin menenggelamkan kepalanya karena ia harus bolak-balik menatap Fred dan George bergantian saat mereka berdua bergantian berbicara, ataukah karena pikirannya terbebani dengan mendadak.
"Ah, besok akhir pekanya,"gumam Harry, mendadak harinya terasa lebih berarti.
Hari ini ada ramuan, dan bukan rahasia lagi kalau Harry tidak menyukai pelajaran itu.
Eh, bukan tidak suka lagi deng. Mungkin sudah sampai ke tahap membenci.
"Oh ya, ngomong-ngomong tentang murid baru itu…"
JLEB! Waduh! Baru pertama kalinya Harry merasa sangat membutuhkan Jubah Gaibnya, atau tidak men-charm dirinya sendiri mantra Notice-Me-Not, karena tadi ia sedikit –sedikit lho!- menyemburkan minum yang sedang–akan- ia telan. Sekejap ia merasa satu meja para singa menatapnya –malah mungkin dari meja sebelah juga ada- tapi ia, akhirnya, dengan gaya cuek bebek meraih serbet dan mengusapnya ke bibirnya yang basah, lalu memutarkan kepalanya ke arah Fred yang tadi bersuara.
"Ya? Memang ada apa dengannya?" Sok cool, Harry merasa dirinya seperti si Malfoy, padahal dirinya sekarang sedang mati-matian menahan blushing menguasai wajahnya karena dari sudut matanya ia manangkap gerakan si anak baru yang sudah selesai makan dan sekarang sedang menerima pos burung hantu berisi koran –lagi. Merlin, ntu anak langganan berapa koran sih?
Dan untungnya –atau sayangnya?- Harry tidak melihat tatapan si kembar yang saling menatap satu sama lain dan menyeringai identik –dengan suatu arti di dalam seringai itu.
"Kemarin saat pelajaran Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam-"
"-dan kau tahu kan, Gryffindor selalu dapat pelajaran dengan Slytherin?"
"Ya," gumam Hermione lambat-lambat –rupanya gadis itu mendengarkan. "Lalu?"
"Dia tanpa takut membalas tatapan dan ucapan Moody!"
"Apa?" buset dah, batin Harry. Artemis katanya jenius, tapi kok– ?
"Dan bukannya marah, Moody malah memberinya poin karena telah membuatnya terkesan dengan bantahan-bantahannya yang masuk akal!"
"Tidak adil!" sekarang suara Ron-lah yang terdengar. Beruntung, makanan yang berada di mulutnya tidak menyembur keluar. Ckckck, jorok sekali si rambut merah yang satu itu.
"Yup." Kembar yang sebelah kiri, Fred, menyahut. "Tapi, harus kuakui, ia berbeda dari bocah ular lainnya. Yeah, arogan sih, tapi beda."
"Apa maksudmu? Bukannya setiap ular itu sama?" Ron melontarkan tanggapannya –atau mungkin hinaan - dengan mulut penuh, membuat Ginny dan Hermione yang berada di seberang melontarkan death glare mematikan.
"Maksud Fred," George yang sekarang bersuara mengabaikan piringnya yang sudah berisi beberapa kentang, melingkarkan salah satu lengannya di bahu Harry –yang merasa dirinya mendapat tatapan menusuk dari ujung ruangan besar itu. "Dia tidak menghina darah lumpur –tapi ia menghina semua yang menjengkelkannya, seperti Warrington dari Slytherin itu."
"Idiot sih, menentang anak-anak Slytherin, berperang dengan asrama sendiri-"
"-tapi kita berdua jadi tahu alasannya masuk Slyterhin alih-alih Ravenclaw-"
"-padahal, well, he's bloody genius!"
"Memang alasannya apa?"
Sunyi.
Hey, apakah Harry sudah mengatakan suatu hal yang salah? Kalau tidak, kenapa ia mendapat firasat buruk sekarang?
Tanpa ia tahu, Fred dan George yang berada di sebelahnya saling berpandangan dan menyeringai… menakutkan. Otak mereka saling memunculkan ide yang identik, membuat mereka menyeringai.
"Kau tahu tidak ia mengetahui banyak kutukan lebih dari satu kelas ketahui?"
"Bloody hell!"
"Yup. Licik pula. Kalian tidak tahu sih siasat apa saja yang ia lakukan di kelas, atau kata-kata apa yang ia ucapkan."
"Tahun ini kan kelas enam mempelajari duel, dan kebetulan Fowl itu berpasangan dengan Darius Roland dari Ravenclaw, dueler terjago di angkatan kami."
"Ya, aku pernah mendengar namanya." Ucap Hermione, sekarang perhatiannya sepenuhnya tercurah kepada apapun yang akan diucapkan si kembar. "Salah satu keluarga darah murni. Katanya setiap liburan ia mendapat pelatihan khusus dari guru duel kan?"
"Yah, begitulah yang kami dengar."
"Lalu?" Harry berkata dengan suara tidak sabar, membuat si kembar, Ron, Hermione dan Ginny menoleh. Dan kembali, Harry serasa ingin membenturkan kepalanya ke meja atau menghilang dari sini saja –yang manapun boleh, asal jangan ditatap dengan tatapan ada-apa-denganmu yang menusuk dari teman-temannya!
"Apa kau yakin kau tidak-"
Duk! Suara jedukan di bawah kaki dilanjut dengan suara 'Aduh' keras dari seberang Harry –dari Hermione tepatnya- terdengar, membuat Harry menatap sahabatnya itu dengan pandangan kenapa-berteriak-seperti-itu, tapi kemudian ia tahu dari cengiran Fred bahwa pelakunya berada di sebelah kirinya, ia menghela nafas dan mengambil pialanya, mendengarkan lanjutan ceritanya.
Tapi, yang ia dapatkan malah lima orang di dekatnya saling berpandangan, dan salah satu membuka suara, bertanya satu hal yang tidak Harry harapkan.
"Jadi, Harry, rencana akhir pekanmu besok apa?"
.
.
.
.
Sial.
Artemis baru saja menerima koran Daily Prophet dan membayar beberapa sickle, dan saat matanya menangkap kepala berita harian utama tidak menarik minat, ia langsung membalikan halaman dan mencari-cari berita. Damn. Semuanya membosankan.
Dan baru saja ia akan mengambil pialanya yang berisi kopi hitam –minuman khas-nya di pagi hari, salah satu kebiasaan yang tetap tidak bisa ia tinggalkan begitu saja- matanya mengangkap sosok burung hantu berwarna cokelat khas yang terbang dengan membawa koran, menuju ke arahnya.
Artemis terhenyak di tempat duduknya. Burung hantu itu miliknya –tepatnya milik Butler yang bisa digunakan untuk mengirimkan pesan mengenai kemajuan di dunia Peri, dan kejadian penting apapun yang mengaitkan nama Fowl di dalmanya.
Dengan cepat ia menarik surat kabar dari kaki burung hantu beserta dua surat yang terselip di dalamnya. Ia melirik tulisan pengirimnya: Holly dan ibunya.
Hhh. Kadang ia merasa dirinya masih diperlakukan seperti anak berumur tujuh tahun oleh ibunya. Dan yang anehnya, sang ibu tidak berperan layaknya seorang ibu di saat datangnya momen dimana Artemis membutuhkannya.
Kembali ia menggelengkan kepalanya. Tidak, tidak. Jangan berfikir mengenai ibunya, tidak untuk sementara ini. Hanya rasa bersalah-lah yang akan memenuhi pikiran dan hatinya.
Tidak, ia masih ada misi di sini.
Akhirnya ia membaca koran Irish Time yang dikirimkan Butler, lalu beberapa artikel mengenai keluarga Fowl dan laporan dari Minerva mengenai munculnya kegiatan-kegiatan demon. Tidak ada perubahan yang signifikan, begitulah yang dilaporkan oleh Minerva. Tapi Artemis sedikit curiga, sesuatu yang besar akan terjadi, karena ia bisa merasakannya.
Kembali Artemis menggelengkan kepalanya. Tenang, tenang. Besok ia akan menyelinap ke Hogsmade dan akan mengadakan beberapa penyelidikan mengenai hilangnya beberapa orang di dekat tempat-tempat yang dicurigai merupakan sarang para demon. Ia akan ber-apparate ke sebuah restoran di Inggris, dimana ia akan mengadakan rapat dengan Minerva dan beberapa rekannya mengenai apapun yang akan mereka lakukan dengan aktifitas demon yang memang tidak mencolok, tapi tetap saja ada.
Semoga tidak terjadi hal-hal yang mengerikan.
Artemis kembali fokus ke surat dari Holly. Peri itu berkata bahwa ia akan muncul sekali-dua kali dengan Komandan Root, karena Turnamen Triwizard kali ini sedikit spesial: akan ada perwakilan dari kaum Peri, karena banyak keluarga penyihir terutama darah murni yang mengetahui eksistensi kaum bawah tanah itu. Dan kedatangan Komandan Root –yang notabane sekarang naik pangkat menjadi salah satu Komandan Tertinggi karena perannya membantu penangkapan musuh bebuyutan kaum Peri, Opal- beserta Holly –yang sekali lagi, banyak mengambil peran di berbagai kasus besar yang melibatkan manusia karena peri itu mengenal dan berteman dengannya- sebagai perwakilan Kaum Peri yang sepertinya, menurut insting Artemis, akan terlibat banyak hal mengenai turnamen kali ini.
Kembali Artemis menghela nafas. Sepertinya pikirannya kembali terbebani. Tapi tidak, sarapan akan berakhir lima belas menit lagi, kelas akan dimulai dua puluh lima menit lagi, dan pelajaran pertama nya adalah Arithmancy, dan selanjutnya blok kosong –beruntung, sebagai anak kelas enam, ia mempunyai banyak waktu kosong yang bisa ia isi dengan pencariannya- lalu dilanjut dengan makan siang dan blok kosong lagi.
Sepertinya hari ini ia bisa santai, sedikit.
Akhirnya, Artemis melipat korannya tepat pada saat ujung matanya mengangkap seseorang di meja ujung ruangan: Anak-Yang-Bertahan-Hidup itu sepertinya sedang mengobrol-entah-apa dengan si kembar yang ia ketahui sebagai salah satu dari anggota keluarga Weasley, dengan tiga orang di seberangnya: gadis yang berambut merah mencolok panjang yang Artemis asumsikan sebagai keluarga Weasley, lalu ada bocah yang waktu itu datang ke kompartemennya dengan Harry, dan lagi ada gadis yang Artemis tidak familier, tapi ia tahu dekat dengan Harry –sepertinya pernah di sebut kepala sekolah… ah! Hermione Granger. Muggleborn seperti dia, tapi jenius di angkatannya. Hmm… sepertinya menarik.
Artemis tanpa sadar terus memperhatikan mereka, sampai… hey! Apa-apaan itu? Salah satu dari si kembar melingkarkan lengannya di pundak Harrynya, dengan gaya kasual tanpa rasa bersalah?
Artemis merasa ia akan meledak sekarang juga: hey, tidak ada seorangpun yang boleh menyentuh milik Fowl!
Jleb.
Tapi, sejak kapan Harry menjadi miliknya? Memangnya ada apa dengan dirinya sehingga merasa begitu possessive dengan seseorang?
Artemis kembali menggelengkan kepalanya. Tidak, tidak. Ia tidak mau melibatkan hatinya, ataupun perasaannya dalam misi kali ini. Sepertinya, sesaat setelah ia berhasil menyelesaikan misinya dan –kalau beruntung- menamatkan pendidikannya di Hogwarts, ia akan menghilang. Kembali ke rutinitasnya yang membosankan sebagai seorang pewaris perusahaan Fowl, atau mungkin bekerja sama dengan Holly.
Atau mungkin ia bisa kembali menjadi kriminal?
Kembali Artemis menghela nafasnya. Banyak hal yang bisa ia lakukan setelah misi ini selesai, setelah seluruh urusannya dengan para demon selesai, dan kontraknya dengan Minerva terlaksana. Masih banyak waktu yang bisa ia habiskan dengan berlibur, atau mungkin berpetualang menjelajahi dataran di muka bumi yang belum ia datangi, dan masih banyak jam yang bisa ia habiskan dengan menyusun rencana penangkapan, penyergapan, ataupun pencurian. Masih banyak menit dan detik yang bisa ia habiskan dengan merencanakan rencana kriminalnya dengan sempura.
Masih banyak waktu. Setidaknya masih ada kalaupun ia berhasil selamat dalam misi ini, misi yang menurutnya paling banyak menyita waktunya dalam penyelidikan, dan banyak waktu lagi yang akan ia habiskan demi menuntaskannya.
Semoga saja ia masih hidup untuk melihat kilau hijau di mata itu….
Tanpa sadar ia masih terpaku, bahkan sesaat setelah Harry menjedukkan kepalanya ke meja, dan mengeluh. Membuat dua orang kembar di sampingnya menyeringai, membuat Harry kembali mengeluh dan dengan cepat meneguk minuman dari pialanya dan berdiri cepat, dengan wajah cemberut.
Dan… déjà vu.
Mata mereka kembali bertemu, dan kali ini Artemis tidak heran kalaupun ada kilat aneh yang terpancar di matanya. Ya, Artemis bisa merasakannya kalau tubuh dan otaknya bereaksi aneh saat mata mereka bertemu, saat ia melihat senyumnya yang seketika terbentuk saat mereka bertumbuk pandang. Yang ia tidak tahu, Harry juga merasakan yang sama. Bahwa ia tahu, ada hal lain yang terjadi, ada hal lain yang terasa saat mata mereka bertemu, saat sepasang mata biru menyelami apapun sang mata emerald rasakan, pikirkan. And so the vice versa.
Mereka berdua tersadar dari trans-nya, bersamaan. Mereka masih tidak memutuskan kontak mata –masih saling bertemu, masih saling menyelami, masih saling mencoba mengerti satu sama lain. Tapi mereka sudah bisa menguasai tubuh dan pikiran masing-masing.
Artemis-lah yang pertama kali beraksi. Ia langsung membuka mulutnya, mengatakan tanpa suara. 'Hope you enjoy your class today, emeralds.'
Artemis tidak mengharapkan jawaban, ya. Walau dalam hati, ia merasa dirinya membutuhkan jawaban –respon, atau apapun. Apapun yang setidaknya membuat balasan ucapannya pada awal tahun ajaran bukanlah sebuah ilusi.
Tapi ia melihat Harry menyeringai, lalu menaikan satu bahunya. Membuka mulutnya, dan bergerak, 'Nah, I don't think so. Today I have history of magic, poison and transfiguration. Bad day, actually.'
Jawaban yang membuat Artemis tersenyum. Sangat tipikal. Tapi bukannya menjawab, ia malah berdiri dan memperbaiki posisi tasnya –kebiasaannya. Ia tidak mau kebiasaannya makan dengan lama berimbas dengan dirinya yang telat masuk kelas karena harus ke asrama dan mengambil tas. Ia lalu mengangguk sopan kepada sang perfect yang berada di sebelahnya, lalu berjalan menuju pintu Aula Besar. Bisa ia ketahui dari sudut matanya, Harry menatapnya kaget dan… sakit hati? Aneh.
Sepertinya banyak tatapan yang pernah dilontarkan orang lain kepada Artemis, tapi… sakit hati?
Artemis menghela nafas. Ia melirik ke arah Harry, dan ia tahu bocah dua tahun di bawahnya itu sedang memperhatikanya. Perlahan, ia mengedikan kepalanya ke arah pintu, dengan harapan Harry mengetahui sinyalnya, tandanya.
Dan beruntung, Harry mengangguk. Tanpa seluruh Aula Besar sadari, mereka berdua berjalan sejajar –satu garis.
Dan mereka bertemu di pintu, berpura-pura seolah tidak kenal, tapi kemudian Harry berjalan berbelok ke kiri, sementara Artemis mengikutinya.
Akhirnya mereka sampai di salah satu koridor sepi, menuju ke dungeon. Pastinya tidak ada seorang pun yang akan lewat sini, kecuali Profesor Snape telat bangun dan baru keluar sekarang. Dan yeah, suatu ketidakmungkinan hal itu akan terjadi.
Harry duduk di kursi batu di dinding, menyender ke dinding batu yang sepertinya hanya Merlin yang tahu sudah seberapa tua usianya. Kedua matanya memandang, menembus kedua mata biru yang menatapnya intens.
"Jadi, Artemis. Ada apa?"
Artemis menyeringai, lalu mengambil tempat di sebelah Harry. Hampir meniadakan jarak. Tidak, mungkin bahkan jarak pun enggan memisahkan mereka. Bahkan pundak mereka saja bersentuhan.
"Akhirnya kau mendapat tandaku, Mr. Potter. Kupikir kau tidak akan mengerti kalau aku hanya berdiri dan berjalan keluar."
"Hey, Mr. Fowl. Mungkin semua orang juga tidak mengerti kalau tandanya seperti itu!"
Artemis terkekeh, lalu menyeringai. Tanpa sadar, ia sudah setengah menyeder kepada pemuda yang lebih pendek sekian inci darinya itu. Kemudian ia menghela nafas, memandang ke depan.
"Bagaimana kelasmu?"
Bisa ia rasakan Harry sedikit tersentak, tapi kemudian kembali relax. "Yah, tipikal. Sejarah sihir membosankan, Mantra sedikit susah, Transfigurasi hem…. Kupikir aku belum mendapat pelajarannya. Lalu Ramuan," Harry terdiam sesaat. Memang bukan sebuah rahasia lagi ia dan guru Ramuan itu tidak sejalan pemikirannya. "Sepertinya tahun ini akan kembali seperti neraka."
Artemis kembali terkekeh, lalu mengacak rambutnya sendiri. "Tenang, tenang saja. Besok akhir pekan, setidaknya kau bisa bersantai."
"Yeah, bersantai." Harry muram sendiri mendengar kata itu. Entah kapan terakhir kali ia benar-benar bersantai. "Tanpa quidditch tahun ini, aku kehilangan pengalih perhatianku."
"Quidditch ya…"
"Err, kau tentu pernah mendengarnya, kan?" tanya Harry hati-hati, tidak ingin menyinggung orang yang entah bagaimana caranya sudah membuatnya nyaman seperti ini. "Kupikir, karena kau berasal dari keluarga muggle…"
"Tapi bukan berarti aku tidak mempelajari banyak hal sebelum aku memasuki dunia yang sama sekali belum aku kenal, Harry." Ucap Artemis, sekarang sedikit menjauh dari Harry dan duduk menyamping, bersila menghadap sosok kuat-tapi-rapuh menurut penglihatannya itu. "Setidaknya aku tahu pengertian dan dasar-dasarnya, mengingat aku sudah membeli buku Quidditch dari Masa ke Masa."
"Kau punya? Wah, aneh sekali. Kupikir kau bukan orang yang, yah…."
"Just split it out, that's fine."
"Bukan tipe orang yang suka olahraga?"
Artemis kembali terkekeh mendengarnya. "Yeah, kau pengamat yang baik, Harry. Benar, aku bukan tipe yang suka olahraga, tapi setidaknya aku tahu, no?"
"Yeah, yeah. Maybe you right."
"Fowl always right, remember that."
"Whatever you say, then."
Kembali sunyi. Tapi sepertinya mereka berdua cukup nyaman dengan keadaan ini, mengingat Artemis bukan tipe yang suka mengobrol dan Harry bukan tipe yang cukup baik dalam membuka obrolan.
Artemis kembali mengubah posisi duduknya, kembali ke awal. Di mana ia hampir menyenderkan dirinya kepada pemuda di sebelahnya, dengan pundak yang bersentuhan.
Dalam hati mereka masing-masing saling berfikir… apakah mereka merasa cukup nyaman dengan keadaan ini?
"Jadi," kali ini Artemis yang memecahkan kesunyian. "Apa yang kau lakukan di akhir pekan ini?"
Harry tersenyum, lalu membetulkan letak kacamatanya. "Tidak banyak. Mungkin mengerjakan essai Mantra, dan mungkin mengerjakan essai-apapun-itu yang diberikan oleh Snape, Binns, ataupun Profesor McGonagall hari ini. Mungkin bermain quidditch sebentar, adu menangkap snitch, dan semacamnya. Kau?"
Sunyi. Artemis berada di keinginan antara ingin meneritakan yang sebenarnya atau tidak. Akhirnya ia menghela nafas. Kembali ke awal. Ia akan menceritakan setengah-setengah, half truth, half lie. "Aku mungkin akan mengunjungi rekan bisnisku besok, membicarakan apapun-itu hal yang berada di laporan yang baru saja ia berikan tadi pagi, lalu bersantai sebentar dan kembali ke sini. Yah, tipikal lah."
Bisa dirasakannya bahu di sebelahnya bergetar sedikit, dan Artemis mengasumsikan bahwa pemilik luka sambaran petir di dahi itu sedang tertawa.
"What so funny with that?"
"No, nothing."
"Hey, split it out!"
"Nah, nah. I just think that you may really bore of your activity."
"Hh, I though that way too. Yeah, kind of bore here."
Tapi sayangnya, sepertinya apapun yang akan dikatakan Harry terpotong segera dengan dentingan loncengt yang menandakan sudah waktunya pelajaran pertama mulai, dan Harry beserta Artemis langsung berdiri dan merapihkan posisi tas dan baju mereka.
"Well, nice to see you here."
Harry tersenyum mendengarnya. "You force me to be here."
Artemis menyeringai. "But yeah, you follow me."
"Okay, okay, whatever you say."
"Loose again?"
"Maybe this time, but not next time."
Kata-kata itu… cukup membuat Artemis mendapat harapan. Next time? Bukankah berarti, Harry 'mengizinkan' ia untuk kembali mendatanginya dan mengobrol, seolah-olah perbedaan asrama mereka dihiraukan?
"Okay then, next time. See you again, emeralds."
Dan Artemis berbalik tanpa menunggu jawaban. Andai ia berbalik kembali, ia dapat melihat senyum seorang Harry yang sangat tulus, like it was every problem in this world disappear.
"See you at lunch, Artemis!"
Dan Artemis tersenyum. Ya, tersenyum.
Semoga esok tidak seburuk kedengarannya. Semoga.
.
.
.
.
Oke. Rupanya harapan Artemis tidak terwujud sama sekali.
Akhir pekannya sama buruknya dengan yang sudah-sudah, terutama tentang berita apapun yang dibawa oleh Minerva.
Hari ini, Sabtu. Sejak pagi, setelah sarapan dan sedikit kontak mata dengan Harry, Artemis mengirim pos burung hantu dengan burung hantu cokelat khas-nya, mengenai acaranya hari ini. Sesegera setelah ia mendapat konfirmasi dari Butler bahwa Minerva dan rekannya sedang dalam perjalanan menuju tempat mereka akan rapat, Artemis langsung berdiri dan mengatakan 'See you Sunday afternoon' tanpa suara ke meja seberang, dan dijawab dengan anggukan Harry.
Lalu dengan cepat ia berjalan menuju asramanya, mengucapkan kata sandinya ("Spuriousness") dan bergegas bergerak menuju kamarnya, mengambil ranselnya yang sebenarnya adalah koper berisi data lengkap sesuai apa yang ia butuhkan.
Ia berganti pakaian dengan pakaian formalnya, tapi tetap jubah hitam khas penyihir menyelimuti dirinya, menutupi identitasnya sebagai Fowl.
Ia sudah siap sekarang. Yang merupakan kendala adalah, bagaimana ia mendapat izin dari Kepala Sekolah.
Menelan ludah, Artemis berjalan cepat menyusuri koridor meuju patung gargoyle terletak, dan menarik nafas untuk memberikan keberanian. Tapi ia sudah cukup yakin ia berani. Seorang Fowl tidak pernah takut, ataupun panik.
"Kerumunan Kecoak."
Itu password-nya, seingatnya. Dan untung benar, karena patung gargoyle itu bergeser dan tangga pun muncul. Ia melompat ke tangga itu, dan dengan tidak sabar berlari menuju pintu. Tepat pada saat ia mengetuk, terdengar suara dari dalam.
"Masuk, nak."
Perlahan, Artemis mendorong pintu, dan langsung berhadapan dengan sang Kepala Sekolah yang duduk di belakang mejanya, menghirup teh.
"Ah, Artemis." Ucapnya sambil tersenyum, lalu berdiri. "Masuk, masuklah. Duduk, silahkan."
Artemis dengan gerakan ragu masuk, lalu duduk di kursi di depan meja Dumbledore. Sejak masuk sekolah ini, ia merasa ada yang salah dengan Kepala Sekolah ini.
Tidak, ia tidak merasakan aura hitam pekat. Tidak seperti dari apa yang ia rasakan dari Moody. Tidak, ini berbeda. Auranya jelas putih, menggambarkan dirinya yang jelas-jelas Light Wizard. Tapi… tetap aja ada yang mengganjal.
"Permen Lemon?"
"Ah, tidak sir, terima kasih."
"Baiklah," Dumbledore memperbaiki letak kacamatanya dan menatap pemuda di depannya. "Ada perlu apa kau ke sini begitu pagi, nak?"
"Ah, Profesor, seperti apa yang anda dengar –mungkin-, Miss Paradizo akan mengadakan rapat mengenai beberapa hal tentang perusahaan, yang sayangnya hanya bisa dihadiri olehku, tidak bisa diwakilkan baik oleh ayah maupun Butler."
"Hmm, lalu apa ada kendala, nak?"
"Begini Profesor, saya hanya ingin minta izin untuk keluar akhir pekan ini –mungkin sampai esok siang, untuk mengadakan rapat dengan Miss Paradizo."
"Ah, baiklah." Dumbledore tersenyum. "Izin diberikan, andaikan kau bisa kembali besok siang untuk meminimalisirkan kecurigaan."
"Akan saya usahakan, sir."
"Ada lagi yang kau butuhkan, nak?"
"TIdak, sir, terima kasih."
"Baiklah kalau begitu. Hati-hati selama perjalanan, nak."
"Terima kasih, sir, saya permisi dulu."
Dan tanpa melakukan kontak mata lagi, Artemis berbalik, membuka pintu ruang Kepala Sekolah, dan melangkah pergi.
Tanpa mengetahui adanya kilat aneh yang muncul di kedua manik milik penyihir legenda itu…
.
.
Artemis berlari sepanjang koridor, melompati anak tangga, dan melesat menuju Aula Depan. Dari sudut matanya, ia melihat gerombolan pemakai badget merah-emas berjalan beramai-ramai menuju lapangan Quidditch. Dan salah satunya, si rambut acak-acakan dengan kacamata itu.
Artemis tersenyum. Masih ada waktu baginya untuk mengenal pemuda itu. Masih banyak waktu baginya untuk mengerti perasaan aneh apa yang menjelajahi dirinya. Tapi sekarang, yang terpenting adalah urusannya dengan Minerva.
Artemis kembali berlari, menuju Gerbang Hogwarts. Ah, terbuka. Sepertinya Dumbledore sudah memberi perintah agar ia bisa lewat. Bagus.
Begitu kulitnya merasakan sihir pengaman yang menyelimuti kastil mencapai batanya, ia berhenti berlari. Terengah-engah, ia lalu menarik nafas dalam-dalam, ia menyeka peluh yang memenuhi dahinya.
Bagus. Ia sudah melewati pengamanan kastil, sepenuhnya. Berarti, tidak ada dinding anti apparate dan ia bisa ber-apparate.
Dan ia berdiri, membetulkan letak tas-nya, dan berputar di tempat sambil membayangkan titik lokasi di depan pintu apartemen Butler.
Dan dengan 'pop' pelan, ia muncul di sebuah pintu di daerah kumuh di ujung jalan utama. Ia kemudian merapihkan jubahnya, dan lalu menarik nafas dalam-dalam. Membiarkan sensasi ber-dissaparate menghilang dari tubuhnya.
Ia memang masih belun terbiasa dengan apparate dan diss-apparate, terutama sensasinya. Tapi tetap saja, berpergian dengan cara seperti itu lebih praktis.
Ia lalu mengetuk pintu, dua kali.
"Siapa?" suara khas Butler terdengar, dan Artemis menyeringai.
"Ini aku, Artemis."
Pintu terbuka sedetik kemudian, dan Butler memandangnya sekian detik dan lalu akhirnya menghela nafas, menggeser kesamping. Gesturnya mengisyaratkan agar Artemis masuk.
Pintu tertutup, dan Artemis berjalan masuk. Kedua maniknya menjelajahi ruangan, dan menyeringai melihat kamar itu begitu rapi, seolah tidak ada yang menghuninya. Khas Butler sekali. Sangat bersiap untuk pergi dengan sekejap, tanpa jejak. Mempersiapkan kemungkinan terburuk.
"Kau siap?"
"Ya. Peralatan dan dokumen yang kau minta untuk dibawa sudah ada di koper. Semua sudah siap."
"Bagus," gumam Artemis. Ia kemudian menaruh ransel di punggungnya ke atas tempat tidur, membuka jubahnya, melipatnya rapi, mengayunkan tongkat sihirnya dan mengecilkannya, lalu menaruhnya di ransel. Lewat sudut matanya, ia melihat sang Butler yang tidak bisa menyembunyikan kekagetannya.
"Ayolah, kawan lama. Kau harus terbiasa dengan ini."
Sebuah helaan nafas. "Aku tahu, Artemis. Kalau aku bisa menerima fakta bahwa Kaum Peri itu ada, kupikir aku bisa menerima kenyataan bahwa kau seorang penyihir." Entah itu maksudnya menyindir atau bukan, tapi Artemis menyeringai dan mengangkat bahunya.
"Itulah yang kumaksud. Ayo!"
Butler mengangguk dan meraih kopernya, sementara Artemis kembali memakai ranselnya.
"Ayo."
Artemis menjentikan tongkatnya, membuat lampu kamar seketika mati. Satu jentikan lagi, pintu dan jendela terkunci. Ia kemudian menaruh tongkatnya di sarung tongkat yang melilit pergelangan tangannya, dan menutupinya dari pandangan orang lain dengan jas hitam khas-nya yang memang di desain untuk menyembunyikan tongkat sihir di bagian lengan. Artemis mengangguk, membiarkan Butler mencengkeram lenganya, dan kemudian ia berputar, menghilang di kegelapan dengan suara 'pop' lirih.
Mereka muncul di gang kecil, di sebelah sebuah rumah sedang. Butler menarik nafas, lalu mengangguk ke arah Artemis yang juga membalas. Artemis memperhatikan Butler yang menghilang memasuki halaman rumah itu, sementara ia menunggu di kegelapan.
Ini adalah salah satu rumah milik Butler dengan memakai nama samarannya, walau tentu saja yang membeli Artemis. Rumah ini hanya untuk jaga-jaga, dan tempatnya menaruh banyak barang-barang yang akan menguatkan alibinya selama ia berada Hogwarts.
Tepat beberapa menit kemudian, pintu gerbang otomatis terbuka dan munculah mobil Mustang Hitam keluaran terbaru, dengan Butler menduduki tempat di belakang kemudi. Dengan cepat Artemis membuka pintu belakang, dan lompat masuk. Sedetik kemudian, mobil itu sudah berada di jalan besar, berbaur dengan mobil lainnya.
Mana mungkin kan? Artemis memasuki salah satu hotel termewah di London dengan berjalan kaki? Walaupun ia ber-apparate, tapi tetap saja ia butuh alibi untuk menutupi kepergiannya.
Mobil itu baru saja ia beli di London dalam rangka meyempurnyakan alibinya kalau ia rapat di London. Kalau Artemis berjalan kaki menuju hotel... bakal ada skandal yeuh!
Jalanan London hari itu cukup padat, mengingat hari itu adalah hari Sabtu. Tapi, setidaknya mereka berhasil sampai hotel dengan cepat.
Setelah check-in –tentu saja ia memesan kamar teratas yang paling bagus, dengan kamar Butler di sebelah suit -nya- Artemis memasuki kamarnya, hanya menutupnya –agar Butler bisa masuk setiap saat. Lagian, suit ini pribadi, lho!- dan mengeluarkan barang-barang dari ranselnya, menggelarnya di lantai berkarpet merah itu. Sekarang, di atas karpet sudah ada bergulung-gulung perkamen, tumpukan buku-buku yang terlihat termakan usia. Ia harus menyelesaikan essai Ramuan tentang Felix Felicis serinci-rincinya, juga essai Sejarah Sihir yang sangat-sangat panjang mengenai Pemberontakan Goblin.
Entah sudah berapa lama waktu mengalir, ia tidak tahu. Ia hanya kemudia mendengar ketukan di pintu.
"Masuk."
Ah, rupanya Butler.
"Artemis? Sedang apa kau? Miss Paradizo sudah datang dan check-in ke kamarnya, dua suit dari sini. Dua jam lagi, rapat akan dimulai."
"Ini, Bulter, adalah tumpukan pekerjaan rumah yang kudapat dari sekolah, masing-masing harus dikumpulkan Rabu dan Kamis. Dasar Snape dan Binny. Tidak tanggung-tanggung mengasih tugas. Bayangkan, dua meter perkamen!"
Jawdrop. Butler bereaksi seperti itu setelah mendengarnya. Walaupun itu tidak terjadi secara nyata, hanya virtual di kepalanya. Dua meter? Pajang sekali.
"Lalu, aku juga harus meneruskan eksperimen dengan Rune dan bloodmagic –mencari tahu apakah ada cara permanen untuk menghancurkan demon yang sedang menunjukan tanda-tanda bangkit."
"Sepertinya, bergerakan kali ini terlihat lebih aktif daripada yang sebelumnya."
"Ya, kau benar. Aku curiga kalau ada seseorang mengontrol di balik semua ini. Pergerakan yang tiba-tiba, serentak, dan merata."
"Maksudmu-"
"Yah, ada yang bekerjasama dengan mereka."
"Tapi, ini demon yang kita bicarakan. Rasanya tidak mungkin,"
"Kalau penyihir itu ada, kalau dark magic itu ada dan pemiliknya berkeliaran di jalanan dengan bebas, aku bahkan tidak ragu kalau demon bisa bekerja sama dengan penyihir."
"Kira-kira, siapa yang kau curigai?"
"Tidak tahu. Goblin... kurasa tidak. Goblin di sini tidak ingin ikut campur dengan perang penyihir maupun perang muggle. Sedangkan Kaum Peri... kurasa tidak ada yang cukup bodoh atau pasrah dengan bekerja sama dengan para demon, kecuali ada orang seperti Opa. Kemungkinan terbesar ya, penyihir.
"Penyihir yang cukup kuat, baik Light Wizard maupun Dark Wizard, yang bisa memanggil demon dan juga membasminya hanya sembilan yang tercatat sejarah. Bahkan empat diantaranya masih diragukan, karena sepertinya tidak ada catatan ataupun bukti yang cukup kuat untuk membuktikannya, walau tetap mereka berempat adalah penyihir-penyihir legenda. Godric Gryffindor, Salazar Slytherin, Rowena Ravenclaw, dan Helga Hufflepuff. Dan untuk lima lagi... Merlin, Morgan LeFay, Albus Dumbledore, Gellert Ginderwalt, dan Tom Marvollo Riddle atau yang lebih dikenal dengan Lord Voldemort.
"Merlin dan Morgan sudah tiada... jadi otomatis nama mereka dicoret. Kecuali kalau ada keturunannya yang mewarisi darah mereka cukup kuat, dan sadar dengan kekuatan mereka. Untuk Ginderwalt, ia sudah dikalahkan oleh Dumbledore tahun 1945 dan sekaranag terkurung di penjaranya sendiri. Sedangkan untuk Dumbledore..." diam. Ada sedikit keraguan di benak Artemis. Dumbledore... dengan kemampuan yang entah bagaimana sudah berada di dalam darahnya, Artemis dapat merasakan aura seseorang. Dark, Light, and Neutral. Dan aura Dumbledore mungkin adalah aura ter-light yang pernah ia tahu. Tapi... tetap ada keraguan, keganjalan. "Dumbledore adalah salah satu Light Wizard terkuat yang tidak mungkin meminta tolong demon untuk mengejar apapun tujuannya.
"Sedangkan Voldemort... tiga belas tahun yang lalu, Harry mengalahkannya dengan apapun-caranya aku tidak tahu. Ia menghilang, memang. Tapi tidak ada yang tahu apakah dia sudah mati ataupun sedang berkeliaran di luar sana, menyusun waktu yang tepat untuk bangkit. Tidak ada yang tahu. Tapi, setidaknya hal itu membuatnya menjadi tersangka terkuat.
"Baru itu hipotesis-ku, tapi hal itu tetap bisa berganti sesuai dengan laporan apapun yang akan di bawa Minerva. Mungkin saja pergerakan ini hanya suatu kebetulan? Tapi, kuharap ini hanya kebetulan. Bukan apa, tapi aku sendiri sudah cukup sibuk dengan tugas sekolah."
Butler menyeringai, walau dalam hati ia mengagumi kemampuan tuannya untuk menganalisa. "Baiklah, kerjakan saja tugas dan penelitianmu. Aku akan kembali satu jam lagi."
Artemis mengangguk, dan kemudian memperhatikan Bulter pergi dan berbalik. Kemudan, ia kembali meraih ranselnya yang sudah ia mantrai dengan Mantra Peluas-Tak-Terdeteks' dan Mantra Peringan Bulu. Ia mengeluarkan buku-buku Rune yang ia dapatkan dengan memesan ke seluruh dunia, dengan koneksinya yang luas tentu. Bahkan Rune versi Afrika dan Australia saja ia punya.
"Ini akan jadi satu jam yang melelahkan..." gumam Artemis, meraih satu buku dan mulai membaca.
.
.
Artemis menerima laporan dari Minerva dengan kesal.
Laporan itu tidak seperti apa yang ia harapkan. Malah, isi laporan itu menunjukan aktifitas demon yang makin meningkat, secara bersamaan. Membuat kecurigaan Artemis meningkat. Walau tidak mencolok, sih. Orang-orang menghilang juga belum terjadi. Tapi tetap saja, yang namanya meningkat pasti berakhir buruk, untuk kasus ini.
Rapat yang terjadi dari makan siang sampai petang itu berlangsung membosankan. Minerva berkali-kali mengerling ke arahnya. Yeah, bukan rahasia umum lagi gadis jenius itu ada crush dengan si bocah kriminal jenius yang satu ini.
Tapi, namanya juga si hati-dingin, Artemis menanggapi seluruh perhatian Minerva dengan satu penolakan. Walau begitu, Artemis masih berlaku sopan dengan mengajaknya makan malam bersama, mengingat Minerva sangat dekat dengan ibunya disaat ia menghilang tanpa kabar ke dunia bawah tanah.
Makan malam berlangsung formal, walau tetap ada kecanggungan. Setelah selesai, Minerva undur diri untuk langsung terbang ke Irlandia. Walau Artemis sudah menawarkannya agar pulang besok, tapi setidaknya penolakan Minerva membuatnya menghela nafas lega. Ia punya waktu semalaman untuk mempelajari Rune.
Malam tiba, dan akhirnya ia sudah mengerti cara kerja rune: tulisan-tulisan kuno itu akan dituliskan oleh sebuah tinta khusus di seluruh tubuh –kadang darah, tapi tergantung untuk apa Rune itu digunakan. Lalu, dengan pisau khusus, tulisan rune itu akan terkelupas, lalu setelah selesai akan melekat di tubuhnya. Sakit, memang. Dan membutuhkan banyak waktu untuk beristirahat, mengingat saat proses pengelupasan akan banyak darah yang keluar. Tapi saat selesai, Rune itu akan berwarna emas transparan. Tidak akan begitu terlihat sih, untungnya. Tapi, apabila sihirnya meledak atau muncul dalam skala besar, rune itu otomatis akan muncul.
Setiap orang mempunyai rune khas sendiri-sendiri, dan hanya bakatlah yang membuatnya bekerja maksimal.
Artemis tidak tahu darah siapa atau apa yang mengaliri nadinya, tapi ia tahu satu hal. Sihirnya kuat, pekat. Dark.
Salah satu alasan yang membuatnya masuk Slytherin adalah aura sihirnya yang memang Dark sedari awal.
Malam itu ia lewatkan dengan kembali meneliti, lalu keesokan harinya ia mandi dan turun ke restauran di bawah untuk sarapan. Butler sudah menunggunya, dan Artemis mengangguk sebagai sapaan pagi. Pukul sepuluh, ia akan check-out dan kembali ke Hogwarts. Lebih cepat lebih baik, agar makin sedikit orang yang mencurigai menghilangnya ia.
Pukul sepuluh datang dengan cepat, dan Artemis serta Butler kembali ke rumah itu, dan ber diss-apparate menuju kamar Butler di Hogsmeade.
Setelah beberapa instruksi, Artemis akhirnya keluar dari sana, dan dengan satu tarikan nafas, ia kembali ber-apparate menuju Hogwarts.
Pintu sudah terbuka, dan ia masuk. Kembali, ia merasakan sihir-sihir yang menyelimuti kastil bereaksi dengan kulitnya, tapi Artemis mengabaikan. Yang ingin ia lakukan hanya kembali ke asramanya, dan tidur.
Tapi, sepertinya pikiran itu harus ia tinggalkan, karena begitu ia berjalan menuju Aula Depan, ia melihat sosok berambut hitam acak-acakan dengan bekas luka sambaran petir di dahinya sedang duduk, menikmati pagi hari yang cerah.
"Hey."
Pemuda yang ia sapa terlonjak, lalu segera menoleh. Sedetik kemudian, senyum menghampiri wajahnya... dan gosh, Artemis feel like melting.
"Hey. Sudah pulang dari perjalanan-apapun-itu?"
"Yah," Artemis mengambil tempat di sebelah Harry, lalu mengistirahatkan bahunya di bahu pemuda itu. "Melelahkan, menyebalkan, dan sebagainya, dan sebagainya."
Bisa ia rasakan bahu pemuda itu bergetar –tertawa lagi. "Kalau begitu, kau masih punya sekitar tiga belas jam lagi sampai hari esok tiba."
"Hmm, kupikir aku butuh waktu lebih banyak?"
"Hahaha. Pakai saja time-turner, beres."
"Kau punya?"
"Tentu saja tidak!"
"Kalau begitu, cara itu tidak masuk."
"Baiklah, baiklah."
Sunyi, lagi.
"Bagaimana akhir pekanmu?"'
Harry akhirnya tersenyum dan menatap Artemis, sebelum ia membuka mulutnya dan menjawab dengan sempurnya.
Dalam hati, Artemis tersenyum.
Ternyata akhir pekannya tidak seburuk yang ia kira. And honestly, it ends with a smile.
XOXOXOXOXOXOXO
TBC
XOXOXOXOXOXOXO
AKHIRNYA AKHIRNYA AKHIRNYA!
Berhasil beres dengan selamat, sodara-sodara! Yehaaa!
Duh, kayaknya banyak miss typos deh, ampuni aku ._.
Terus, balesan review buat yang gapake akun:
yuumee: thanks a lot buat reviewnya yaaaa :D buat bersaingnya Drake sama Artie... gatau sih, soalnya fict ini juga ga terfokus sama bagian romance-nya, tapi seimbang sama bagian adventure-mysterynya :))) oh ya, thanks banget yaaaa ini udah update, semoga sukaaaa
Kayaknya segitu aja? Soalnya besok sakola, masuk pagi, IPS pula, dan sekarang udah jam 10-an -_- Sampai ketemu di chapter4!
Oh ya, REVIEW pleaseeeee ~(ˇ▼ˇ~)ƪ(ˇ▼ˇ)ʃ(~ˇ▼ˇ)~
