"Bagaimana akhir pekanmu?"'
Harry akhirnya tersenyum dan menatap Artemis, sebelum ia membuka mulutnya dan menjawab dengan sempurnya.
Dalam hati, Artemis tersenyum.
Ternyata akhir pekannya tidak seburuk yang ia kira.
BIZARRE
Harry Potter to J.K Rowling
Artemis Fowl to Eoin Colfer
A Friendship, Romance and Adventure fict.
WARNING for SLASH, OOC, Underage Relationship, Commander Julius Root ga mati alias pas buku 4 berhasil selamat uyeeeeee~ banyak canon yang gua ubah dari buku AF, a lil' bit manipulative Dumbledore, a strong!Harry, strong!Voldemort.
Artemis at age 17, Harry at age 14.
A/N: Mungkin terfokus dengan relashionship-nya? Tidak tau -_- Artemis OOC karena gua sendiri bingung Artemis itu karakternya kayak gimana. Berubah-ubah sih, kadang baik, kadang 'nakal', kadang perhatian, kadang gapedulian #authorcurhat #plak hehehe tapi yang penting bocah itu tuh jenius, saking jeniusnya sampe bikin iri huahahahahahaha… plus HP canon sampe buku 3, AF sampe buku 5 (maybe) gua gatau banyak karena baru baca bukunya nomer 4 dan baca fict-nya #ininamanyanekat. Buat musuh? Cuma tau si Opal, dan Mafia Russia. Pick one! #oke, ini bukan twitter!
Mulai dari chapter ini akan ada variasi magic seperti wandless magic, blood magic, rune magic, Necromancy, Sorcery, Alchemy. Demon juga mulai dikaitkan, dan sekali lagi, a strong!Voldemort.
Terinspirasi dari fict Fairy Dust by excentrykemuseuntuk bagian romance-nya, dan Second Change at Life by Miranda Flairgolduntuk bagian ritual dan demon-demonnya, dan novel Nicholas Flamel karya Michael Scott untuk makhluk-makhluk asingnya, terus fict Harry Potter and The Descent Into The Darkenss karya Aya Macchiato buat penggambaran strong!Harry-nya. Semua bisa dilihat di list favourite stories ku, dan beberapa di list favourite authors :)
Main pair AFHP, slight SBRL, AFHS, DMHP, TRHP(maybe)– terlalu, kebanyakan -_-
Don't Like Don't Read!
But yeah, ENJOY!
Chapter 4 – Light, Neutral, Dark
.
"-ry, Harry!"
Tersentak mendengar namanya disebut, Harry langsung mengangkat kepalanya dan menemukanRon mengguncang bahunya.
"Ya?"
"Kau dari tadi melamun terus,mate. Ada apa?"
Menghela nafas, Harry meraih piala-nya."Tidak apa-apa."
Di depannya, Hermione memicingkan matanya."Bohong."
"Mione-"
"Jangan mulai lagi, Harry James –kami- tahu kalau kau sedang memikirkan sesuatu yang berat. Dan hal itu membuatmu bingung, perhatianmu teralih. Ada apa?"
Menggeleng, Harry mengalihkan perhatiannya ke meja di ujung ruangan –meja Slytherin, mana lagi? Di sana, ia bisa melihat Artemis yang duduk dan berbicara pelan dengan Prefek Slytherin, dan sepertinya serius. Ada apa?
"Harry!"
Ogah-ogahan, Harry mengalihkan kembali perhatiannya kepada Hermione."Ya?"
"Ada apa lagi sih?Kemana kau melihat?" dengan cepat, Hermione berbalik tanpa sempat Harry cegah, dan kedua mata gadis itu melebar saat tahu sedari tadi perhatian Harry teralihkan ke mana.
"Harry, kau memperhatikan meja Slytherin?"
Menggerutu dalam hati, Harry langsung berdiri. "Kalau iya?"
"Damn Harry, mereka Slytherin!" seru Ron kesal, membuat sebagian anak di meja Gryffindor berbalik menatap mereka.
"Pelankan suaramu, Ron! Lalu kenapa? Salah?"
"Harry, mereka Slytherin! Anak-anak para Death Eaters! Kalau-"
"Kau pikir mereka semua berkeinginan untuk menjadi Death Eaters, Ron?" potong Harry, suaranya mendatar. "Kau pikir mereka semua akan menjadi Death Eaters? Kau pikir, hanya karena mereka Slytherin, mereka semua sama-sama hitam?"
"Tapi-"
"No buts, Ron. This world isn't only Black and White!"
Dengan satu kata itu, Harry berjalan cepat ke arah pintu Aula, meninggalkan Ron yang masih terbengong dengan kata-katanya dan Hermione yang men-death glare dirinya.
Masa bodo dengan pemikiran mereka yang jelas-jelas hanya melihat dunia sebagai hitam dan putih!
Berjalan cepat tanpa memperdulikan tatapan satu Gryffindor –karena tumben, seorang Harry Potter yang sangat sangat jarang terlihat marah di depan umum bisa berkata sedingin itu- dan mengangguk saat Neville berjalan di sebelahnya, Harry segera keluar, dan berjalan cepat menjahui Aula dengan Neville yang berjalan tergesa di sebelahnya.
"Ada apa, Harry?"
Berhenti dan menghela nafas, Harry akhirnya menyender ke tembok di sebelahnya –tempat di mana ia berbicara kepada Artemis hari Minggu lalu. "Ron. Dan Hermione."
"Oh," gumam Neville, mengerti. " dibesarkan di keluarga Light, sewajarnya pemikirannya seperti itu."
"Benar sih…" gumam Harry, meneliti pemandangan halaman kastil di depannya. "Tapi tetap saja… childish sekali mereka menilai anak-anak Slytherin tidak secara individual, melainkan melihat mereka sebagai satu kesatuan yang 'sama'.Tidak semua Slytherin jahat, kan?"
Neville mengangguk." tidak jahat seperti beberapa, tidak keseluruhan. Begitu-begitu, Slytherin kan tidak semuanya pure blood. Anak-anak yang masuk Slytherin terpilih karena sifat mereka yang licik, tak terbaca, dan karena mereka pure blood atau anak dari Death Eaters."
"Ya, kau benar, Nev."
Kesunyian melanda mereka, sampai bel masuk terdengar.
"Well, thanks Nev."
"Anytime, Harry."
"Ke kelas yuk, dari pada kita tidak mendapat tempat duduk."
Mengangguk, Neville mengikuti Harry berjalan menuju ruang kelas Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam. Di sana, anak-anak Gryffindor dan Slytherin sudah berkumpul dan segera masuk. Harry mengambil tempat duduk ketiga dari depan bersama Neville, sementara Ron dan Hermione, yang memberikan death glare kepadanya, duduk di kursi paling depan.
Segera setelah kelas penuh dan pintu tertutup, bunyi kaki kayu yang terkena lantai terdengar. Segera saja Harry merasakan hawa yang… aneh.
Selalu saja. Setiap kali ia berada di jarak sedekat ini dengan Moody, ia selalu merasakan hawa aneh yang… berbahaya. Insting tubuhnya menyuruhnya untuk lari, tempat perlindungan.
Orang ini berbahaya.
Entah bagaimana Harry bisa merasakan aura orang lain. Ia memang bisa merasakannya… sedari dulu. Sejak ia bisa mengingat. Tapi dulu, ia baru bisa merasakan samar-samar. Sejak ia masuk Hogwarts, kemampuannya meningkat. Mungkin karena ia berinteraksi dengan sihir lebih lama dari pada saat ia bersama para Dursley.
Sayangnya, tidak semua murid ia bisa rasakan aura-nya. Hanya beberapa… dan kebanyakan ia tahu adalah siswa dengan potensial sihir besar.
Satu-satunya murid dengan aura yang bisa ia bandingkan dengan para guru adalah Artemis.
Tentu saja, dari jajaran para guru, Dumbledore-lah yang mempunyai aura putih yang kuat, sedangkan McGonagall tidak se-kuat Dumbledore, tapi tetap besar. Selanjutnya Snape… dan Harry tidak kaget bahwa yang ia rasakan adalah aura hitam, walau kenyataannya tidak sepekat Moody.
Dari sekian banyak orang, kenapa harus Moody?
Kelas Moody dimulai dengan pengabsenan, dan berjalan dengan , Moody berbalik dan menjentikan tongkatnya, membuat tulisan mulai muncul di papan tulis.
"Light, Neutral, and Dark."
Moody berbalik, kedua matanya menjelajahi seisi bisa merasakan aura yang berada di kelas ini… yang paling menonjol adalah aura Potter. Potter yang duduk di tengah ruangan. Si penyelamat dunia sihir itu, sudah sangat jelas mempunyai aura .
Ironis. Seluruh dunia sihir Inggris bergantung kepada seorang bocah yang auranya mungkin sama dark-nya dengan musuhnya sendiri, Dark Lord.
"Kali ini, kita akan mempelajari tiga macam .."
"Light. Sudah jelas, segala sesuatu yang bisa dikaitkan dengan baik, benar, putih. Auranya putih; atau orang yang cukup kuat untuk terlihat. Hanya ada beberapa orang dalam sejarah yang auranya bisa dirasakan orang lain. Untuk Light, jelas Merlin; Albus Dumbledore.
"Neutral biasa disebut tidak memihak antar Light ataupun Dark, dalam setiap perang antara Light dan Dark biasanya tidak akan berpartisipasi dalam salah satu kubu, tidak memihak. Hewan sihir bisa dikategorikan sebagai Neutral, antara Veela, centaurus, goblin, dan sebagainya. Sepanjang sejarah, tidak ada penyihir yang diketahui sebagai Neutral yang cukup kuat untuk terlihat auranya; mungkin karena mereka lebih memilih tetap berada di luar perang sama sekali, dan prejudice itu sendiri.
"Sedangkan untuk Dark, sangat jelas. Aura-nya bisa disembunyikan dengan baik, dan untuk orang dengan aura dark, sangat sedikit yang benar-benar pekat. Yang tidak terlalu pekat, biasanya masih bisa tercampur dengan sedikit neutral. Contoh lebih jelasnya untuk itu adalah Morgana LeFay, Gellert Ginderwalt, dan Dark Lord sendiri. Vampire dan werewolf adalah salah satu contoh makhluk sihir yang termasuk dark; bagaimanapun sifatnya sebagai seorang manusia, sudah menjadi habitat aslinya untuk berkerumun dengan kaum Dark lainnya.
"Ada pertanyaan?"
Setengah dari kelas mengangkat tangannya, tapi Harry mengejutkan dirinya sendiri dengan tidak mengangkat tangan sama sekali. Ia bahkan sudah mengerti semuanya.
Pelajaran tentang Dark, Light dan Neutral ini entah kenapa begitu masuk akal di pikirannya, dan bahkan ia sudah mengerti lebih daripada yang Moody bicarakan.
"Ms. Granger?"
"Bagaimana caranya membedakan penyihir yang dark, neutral ataupun light?"
Moody terdiam sejenak. "Pertanyaan bagus. Dengan melihat aura-nya. Tapi sayangnya, hanya beberapa orang yang kuat sajalah yang bisa melihat aura. Tidak semua orang juga mempunyai aura; dengan kata lain tidak semua orang cukup kuat untuk bertahan hidup di perang."
"Apa anda bisa melihat aura?"
"Bisa, Ms. Granger. Sayangnya… hanya ada satu murid di ruangan ini yang beraura cukup kuat, yang bisa kulihat."
Semua mata memandang Moody.
"Siapa?" seru Ron bersemangat, mewakili teman-temannya yang jelas-jelas penasaran dengan siapa yang cukup sakti sampai aura-nya dapat terlihat.
Moody terdiam, tapi mata asli-nya menatap Harry, secara hati-hati tidak ingin terlihat oleh murid lainnya.
Harry menelan dia, satu-satunya murid di kelas yang terlihat aura-nya?
Oh tidak.
"Tidak bisa ku katakan diluar keinginan orang yang bisa kukatakan… aura ini tercampur antara Dark dan Neutral."
Harry merasakan wajahnya memucat. Oh tidak…
Gawat.
Bisik-bisik mulai terdengar, sampia Moody berbicara lagi, suaranya terdengar bosan."Ada lagi?"
Kelas terdiam.
"Bagaimana caranya membedakan mantra dark dan light?" suara bersemangat Ron terdengar, sementara beberapa anak Gryffindor mengangguk.
Pertanyaan bagus.
"Satu contoh mantra. Wingardium Leviosa. Salah satu mantra-"
"Light." Satu kelas menjawab.
Moody mengangguk sambil menyeringai dalam , murid-murid jaman sekarang melihat dunia hanya dari sisi hitam dan putih. Mereka tidak memperkirakan adanya sisi lain bernama abu, yang berada di tengah-tengah, menjembatani antara sisi hitam dan putih.
Sayang sekali mereka tidak memperkirakan adanya sosok hitam di dalam putih, ataupun sosok putih di dalam hitam.
"Mantra itu terbilang mantra yang cukup 'ringan'. Tidak berbahaya, bukan? Karena definisi mantra itu adalah mantra yang membuat benda melayang. Tapi di sanalah kuncinya. Melayang."
"Maksud anda, sir?" tanya Hermione, masih belum menangkap maksudnya. Begitu juga hampir seluruh kelas. Mengherankan memang, nona-tahu-segala tidak menangkap apa yang dimaksudkan oleh guru.
Sayangnya, Harry langsung mengerti apa yang ingin disampaikan oleh Moody, dan langsung menatap professor-nya shock. Apa benar-
"Maksudnya adalah, dari sekian banyak mantra hitam; sebut saja salah satu Kutukan Tak Termaafkan. Avada Kedavra. Mantra yang dapat membunuh secara instan, tidak ada kontra kutukan, tidak bisa dihalangi dengan mantra bisa Tak Termaafkan? Karena tadi satu, alasannya tidak ada kontra kutukan. Tapi sayangnya, tidak semua orang bisa menggunakan mantra itu. Membutuhkan keinginan yang kuat, dan sihir yang besar.
"Kalian semua bisa saja melontarkan mantra itu, tapi kujamin tergorespun tidak."
"Jadi intinya, sir?" tanya Dean.
"Bayangkan dalam suatu dihadapkan dengan dua musuh. Tidak ada lagi cara lain untuk kabur selain dengan membunuh mereka. Dengan Avada Kedavra, dua kali, tentu kalian bisa lolos, kan? Tapi, karena mantra itu tidak bisa sembarang orang ucapkan dan lakukan, dan lagi karena mantra itu terlalu panjang untuk diucapkan, akan ada banyak waktu bagi musuh untuk melontarkan mantra lainnya.
"Tapi, dengan menggunakan Wingardium Leviosa, dilontarkan kepada salah satu musuh, menaikannya ke udara dengan ketinggian yang cukup, lalu diposisikan di atas musuh yang lain, kalian lalu menarik mantra itu. Bayangkan apa yang terjadi ketika musuh terjatuh di atas rekannya, dari ketinggian tertentu. Kalau beruntung, mereka akan mengalami patah tulang ringan. Kalau tidak… mungkin tulang belakang mereka akan patah.
"Jadi, kalian bisa bayangkan kerusakan apa yang bisa dilakukan hanya dengan satu mantra sederhana, yang bahkan dipelajari oleh anak kelas satu? Tidak semua mantra dibedakan dari sisi gelap dan terangnya, tidak semua mantra dinilai dari apa yang kelihatannya. Semua tergantung dari niatnya."
Kelas terdiam, mencerna apa yang dijejalkan oleh Moody, sementara Harry terdiam di tempatnya. Pikirannya sudah mengelana jauh, memikirkan beberapa hal.
Terlihat dari mimik muka para Gryffindor, Harry tahu mereka masih tetap sulit mencerna apa yang Moody perlihatkan kepada mereka. Kebanyakan dari mereka tetap memegang prinsip Slytherin sama dengan Dark.
Menggeleng kepala, merasa kesal dengan prejudice mereka, Harry menyenderkan punggungnya ke tempat duduk, memandang Moody lurus.
Apa yang ingin disampaikan Moody sebenarnya?
"Tugas, buat essai mengenai tokoh-tokoh Dark, Light dan Neutral menurut perilaku mereka, bukan dari Aura mereka, sepanjang dua meter, dikumpulkan minggu depan. Class dismiss."
Dengan cepat mereka mencatat tugas, dan membereskan perkamen. Harry, dengan sekali gerakan memasukan perkamen, pena bulu dan botol tinta ke dalam tasnya dan berdiri, dengan cepat berjalan keluar kelas, mengabaikan seruan Hermione dan gerutuan Ron.
Memang sih, sejak dulu iatertarik dengan pelajaran Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam, dan baru tahun lalu dan tahun ini ia mendapat guru yang layak untuk mengajar. Dari Remus, ia berhasil mempelajari mengenai makhluk-makhluk sihir. Dengan sedikit penelitian selama liburan –ia, selama berada di The Burrow meminjam buku makhluk-makhluk sihir yang ia minta dari Charlie lewat pos burung hantu- ia berhasil mengetahui banyak hal yang mungkin ia butuhkan untuk kedepannya. Siapa yang bisa memprediksikan kalau Voldemort tidak akan membawa makhluk sihir ke medan perang?
Dalam hati, Harry mengeluh. Dumbledore memang tidak memberitahukannya apa yang ia butuhkan; mengapa Voldemort berusaha membunuhnya pada malam Halloween hampir tiga belas tahun yang lalu? Apa yang terjadi dengan tubuhnya sekarang? Apa benar ia akan kembali?
Dengan kejadian yang terjadi pada malam pertandingan Quidditch, Harry merasa Voldemort akan kembali tahun ini. Juga dengan adegan yang sering ia mimpikan…
Walau ia berfirasat tahun ini tidak akan semulus tahun-tahun lalu –karena tahun lalu juga penuh dengan petualangan yang tidak biasa, di tambah dengan firasatnya ini ia merasa bahwa tahun ini benar-benar bencana- ia masih belum tahu bagaimana caranya Voldemort akan kembali… atau bahaya apa yang akan ia hadapi tahun ini.
Sepertinya Dumbledore benar-benar banyak merahasiakan hal penting ?
Tidak memperhatikan kemana ia berjalan, karena kaki dan tubuhnya memang sudah hafal kastil ini dan ia yakin kalau ia pasti sampai di perpustakaan. Sayangnya ia tidak memprediksikan adanya seseorang yang berjalan di depannya, ataupun akan menabrak.
"Ah-!"
Hup! Sebuah tangan kekar menangkap lengannya sebelum ia terjatuh. Merasa tubuhnya ditarik sampai berada dalam posisi berdiri, Harry mendongkak dan menatap orang yang menyelamatkannya. Manik hijaunya bertemu dengan manik lain yang berwarna biru, dan entah kenapa Harry dilanda keinginan kuat untuk tersenyum.
Dan ia tersenyum.
"Hey,"
Senyum Harry makin lebar sebelum ia membalas sapaan itu. "Hey."
"Terburu-buru sekali. Mau kemana?"
Menatap Artemis lekat dan memperhatikan bahwa pemuda itu baru keluar dari kelas dan akan ke perpusakaan juga, Harry menunjuk pintu yang berada tak jauh dari tempat mereka berdiri. "Perpustakaan."
Mengangguk, Artemis lalu melepaskan Harry dan mengambil posisi berdiri di sebelah Harry yang sedang membetulkan letak jubahnya. "Ayo."
Mengangguk, Harry dan Artemis berjalan beriringan menuju pintu perpustakaan, dan segera mencari buku yang mereka butuhkan. Sementara Harry pergi ke bagian sejarah, Artemis berkeliling di bagian Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam bagian pojok –biasanya banyak buku yang tidak biasa yang mungkin bisa ia gunakan untuk mencari informasi lebih lanjut mengenai pergerakan demon yang begitu serentak di seluruh Eropa.
Memperhatikan bahwa Artemis sudah mendapat bukunya, Harry menggesturkan pemuda yang lebih tua dua tahun darinya itu (menurut perkiraannya) untuk mencari tempat jubah Harry dan membawa pemuda itu ke tempat pojok yang cukup terhindar dari pintu perpustakaan, Artemis duduk di meja diskusi, sementara Harry duduk di seberangnya.
Mereka bekerja dalam diam; Harry dengan buku sejarahnya dan Artemis dengan buku PTIH-nya. Setelah beberapa saat dan akhirnya Harry menemukan apa yang dicarinya, ia mengeluarkan perkamen, pena bulu dan botol tintanya, tidak menyadari bahwa Artemis memperhatikan gerak-geriknya.
Setelah satu paragraf ia tulis, akhirnya Artemis mendongkak dari bukunya dan bertanya. "Pelajaran apa?"
Harry mendongkak dari perkamennya, menatap Artemis. "Ah, ini. Tugas Moody."
Mengerti apa yang kira-kira Moody berikan kepada para anak kelas empat, Artemis mengangguk. "Guru tahun ini kelihatannya lebih kompeten dari tahun-tahun sebelumnya."
"Tapi Remus lebih baik daripada Lockhart atau bahkan Quirrel."
"Itu sudah jelas,"
Sunyi lagi. Setelah beberapa paragraf, Harry menutup buku dan menutup botol tintanya, dan menatap Artemis sambil menunggu tintanya mongering. "Kau tau dari mana guru sebelum Moody?"
Artemis tersenyum misterius dan menjawab tanpa mengalihkan perhatiannya dari buku di depannya. "Aku mencari tahu mengenai guru-guru di Hogwarts, Harry. Dan mendapati bahwa setiap tahun sejak Voldemort meminta pekerjaan sebagai professor PTIH di Hogwarts tapi ditolak gurunya selalu mengajar tidak lebih dari satu tahun, ku pikir ia memantrai jabatan itu dengan suatu mantra khusus."
Harry terdiam selama beberapa saat, mengedip beberapa kali. "Kau… tahu dari mana?" tanyanya lambat-lambat, suaranya tanpa emosi.
Merasa kalau ia berkata yang salah akan membawa bencana, Artemis akhirnya menjawab hati-hati. "Aku melakukan beberapa… penelitian sebelum aku masuk ke Hogwarts. Salah satunya adalah mengenai Voldemort. Kau tahu kan aku tinggal dan besar di Irlandia? Di sana, separah apapun teroris yang ada, tidak pernah seburuk Voldemort. Dan lagi, ia sudah tiga belas tahun menghilang. Sepertinya tidak ada ancaman berarti di sekitar Irlandia," 'kecuali mungkin para demon, goblin, dan Opal' batin Artemis, tapi ia tidak menyeruakannya keras-keras.
Harry mengangguk perlahan, mencerna. Kemudian ia menaruh kedua lengannya di meja, dan menaruh dagu di telapak tangannya. Matanya menatap Artemis, lurus.
"Say, Artemis. Boleh aku melihat hasil penelitianmu tentang Voldemort?"
Artemis menatap pemuda bermata emerald di depannya, mencoba mencari tahu apa yang sedang dipikirkan pemuda yang akhir-akhir ini mengkorupsi pikirannya. "Ya, boleh-boleh saja."
Harry terus menatap Artemis, sampai beberapa saat kemudian menghela nafas. Mengistirahatkan lengannya di meja dan kepalanya di lengannya, Harry bergumam pelan.
"…Apa?"
"Banyak hal yang Dumbledore tidak beritahukan kepadaku," gumam Harry pelan, tidak mendongkak sama sekali. "Kenapa Voldemort mencariku? Kenapa harus aku? Apa yang sebenarnya terjadi pada malam Halloween itu?"
Nada putus asa terdengar, dan Artemis menutup bukunya. Kenapa? Artemis yakin kalau Harry bagian penting dari perang ini… key player mereka. Artemis bisa merasakannya… aura yang sangat kuat datang dari pemuda di hadapannya.
"Harry…"
Harry tetap menunduk, menutup matanya.
Berdiri dan memutari meja, Artemis berada di belakang Harry, dan tangannya mengusap pundak Harry. "Ayo, kembali ke ruang rekreasi."
"Aku tidak mau… Ron dan Hermione,"
Menghela nafas lagi, Artemis akhirnya menarik tangan Harry. "Baiklah kalau begitu. Bagaimana kalau di luar, di halaman?"
Mengangguk, akhirnya Harry berdiri dan membawa bukunya kembali ke tempat ia mengambilnya, sementara Artemis berjalan untuk meminjam bukunya. Setelah membereskan perkamennya –yang tintanya dikeringkan oleh Artemis- Harry dan Artemis berjalan beriringan keluar dari perpustakaan.
Sepanjang perjalanan, mereka berdua tidak bersuara, tapi entah kenapa Harry merasa nyaman mengenai hal itu…
Sampai suara yang kemudian terdengar membuatnya terdiam di tempat; membeku.
"HARRY!"
Menarik nafas panjang, Harry merasa tubuhnya menegang. Di sebelahnya, Artemis berheti berjalan, memandang Harry bingung sebelum kemudian menatap koridor dan melihat sosok berambut merah berlari mendekat. Menyadari apa yang akan mereka hadapi, Artemis tetap berdiri di sana, menyandar ke tembok dan menatap, menunggu.
Harry berbalik, menatap dua sahabatnya yang sekarang sudah berdiri di depannya, dan tersenyum paksa.
"Ron, Hermione."
"Harry, dari mana saja kau?" tanya Hermione, berkacak pinggang. "Kau langsung menghilang setelah pelajaran Profesor Moody, kemana saja kau?"
"Perpustakaan?"
"Kau, dari perpustakaan," mata Ron menatap Artemis, mendelik, "Dengan seorang Slytherin?"
Uh-oh, Harry mengeluh dalam hati. Ini dia…
"Ron, memang ada salahnya?"
"Tapi dia seorang Slytherin! Kau tidak mendengar pelajaran Moody tadi? Mereka dark!"
Helaan nafas terdengar, dan Harry memijat dahinya. "Ron, sepertinya kau yang tidak memperhatikan pelajaran Moody. Tidak semua orang yang terlihat dark adalah dark itu sendiri. Yang mereka lakukanlah yang mencerminkan siapa mereka sebenarnya!"
"Tapi kebanyakan Slytherin itu dark, Harry!"
"Itu dia!" seru Harry tertahan, matanya menatap kesal Ron, dan bahkan mengabaikan Artemis di sebelahnya. "Itu kata kuncinya! Kebanyakan, Ron, bukan keseluruhan! Kalau kebanyakan Slytherin itu dark dan jahat, bukan berarti Artemis juga kan!"
"Tapi-"
"Ron," Hermione memegang lengan Ron, mengehentikannya dari apapun perkataan yang ingin ia lontarkan. "Jangan."
"Tapi, 'Mione-"
"Siang, Mr. Fowl,"
Artemis menatap Hermione penuh selidik, sebelum mengangguk lagi, "Siang, Ms. Granger."
Hermione tersenyum kecil. "Maafkan Ron yang menginterupsi jalan anda dengan Harry,"
"Tidak, tidak apa-apa. Bukan masalah,"
"Kalau begitu, kami duluan," kata Hermione sopan, sekali lagi, dan menatap Harry dengan tatapan 'kau-harus-cerita-semua' dan menarik tangan Ron, menjauh.
Menghela nafas, Harry menyenderkan tubuhnya ke dinding di belakangnya, memposisikan diri di sebelah Artemis, dan memijat dahinya."Mereka itu…"
Bisa ia rasakan pemuda di sebelahnya menyeringai. "Kau tetap ingin jalan-jalan?"
"Hell yes! Tidak mungkin aku kembali ke ruang rekreasi setelah hal tadi."
.
.
Beberapa minggu kemudian, Harry mendapat surat balasan dari Sirius… yang bertuliskan bahwa godfather-nya itu akan segera terbang ke Utara… kembali ke Hogwarts.
'Sial', batin Harry saat ia membaca suratnya dan mengantonginya, 'Bagus Potter, hanya karena satu mimpi, kau mengambil resiko Sirius kemungkinan akan tertangkap!'
Tidak bisa tidur, malamnya Harry menulis balasan kepada Sirius, berbohong mengenai mimpinya. Dan pagi-pagi sekali, ia berjalan menuju kandang burung hantu, memanggil Hedwig, mengirim suratnya, dan baru saja akan keluar saat ia mendengar orang berjalan menuju Kandang Burung Hantu, sedang berbicara.
"… Kau akan datang kapan?"
Suara itu! Harry kenal suaranya… siapa lagi kalau bukan Artemis?
Sunyi lagi beberapa saat, sebelum Artemis bersuara lagi. "Siapa saja yang datang?"
Terdiam lagi. Dan sekarang, karena Harry yakin tidak ada suara lain atau sosok lain di luar Kandang Burung Hantu, Harry merasa kalau Artemis sedang berbicara di telepon… tapi bukannya barang-barang elektronik muggle tidak bisa bertahan di tempat-tempat sihir, terutama yang pekat sihirnya seperti Hogwarts.
Jadi?
"Kau yakin Root sudah sehat?"
"…"
"Aku tahu ia tangguh, kau sendiri saksinya-"
"…"
"Iya iya, Holly. Tidak ada apa-apa. Jadi, hanya kau dan Root yang datang?"
"…"
"Ya, ya, mum, aku tidak mencari masalah di sini."
Harry tanpa sadar menahan nafas, merasa kesal karena Artemis berbicara dengan seorang cewek –dilihat dari namanya- dan terdengar begitu… dekat.
Tunggu. Jangan bilang dia cemburu.
Merlin…
Entah kenapa merasa kesal mendadak, Harry membuka pintu dan langsung berhadapan dengan Artemis yang baru saja akan memegang gagang pintu. Saling menatap sejenak, Artemis tersenyum menyapa sementara Harry hanya mengangguk.
Merasa ada yang tidak beres, Artemis segera berkata, "Holly, aku tahu kau sibuk mengurusi masalah untuk nanti, jadi sampai bertemu lagi." Dan langsung mematikan teleponnya ('Ah, benar rupanya itu telepon muggle, tapi bagaimana caranya itu dapat beroperasi di sini?' Batin Harry) dan mengantonginya, lalu menatap Harry intens. "Ada apa?"
Merasa bahwa kekesalannya yang tanpa alasan itu berhasil diketahui oleh Artemis, Harry langsung menggeleng cepat. "Tidak, tidak apa-apa."
Menaikan satu alisnya, -ia tahu Harry sedang berbohong, tapi kalau orangnya sendiri tidak mau bicara, apa boleh buat- akhirnya Artemis menggeser ke samping, membiarkan Harry lewat. Lalu, dengan satu gerakan yang hampir kebiasaan –mengambil posisi di sebelah Harry- mereka berdua berjalan beriringan menuruni tangga.
"Apa yang kau lakukan sepagi ini?"
Harry menatap Artemis dengan tatapan 'sudah-jelas-kan'.
"Ah iya, pasti mengirim surat."
Mengangguk, Harry kembali menatap ke depan. "Kau sendiri? Sedang apa di sana?"
"Mencari tepat sepi untuk menelpon."
"Oh,"
Mereka kembali berjalan beriringan, tanpa membuat suara. Harry yang biasanya mengajaknya mengobrol… entah kenapa Artemis merasa Harry sedikit diam pagi ini.
Mereka sampai di depan Aula Besar, di mana mereka berdua masuk bersama dan akhirnya berpisah untuk pergi ke meja masing-masing. Di meja Gryffindor sendiri baru ada sedikit anak, kebanyakan anak perempuan –aneh, kenapa mereka rajin sekali bangun pagi?- dan beberapa anak kelas bawah. Rupanya mereka masih takut untuk melanggar peraturan.
Mengingat masa-masanya sebagai anak kelas bawah yang terlalu sering melanggar pelaturan, Harry tersenyum sendiri. Mengambil tempat di sebelah Fred dan George yang tumbenya sudah bangun, Harry mulai mengambil sosisnya, dan mulai makan saat akhirnya ia menyadari Hermione dan Ron berjalan ke arahnya.
Mengetahui bahwa ia akan banyak menjelaskan, Harry mengambil minumnya dan meneguknya perlahan.
Benar saja. Sesaat ketika dua sahabatnya itu melihatnya, mereka langsung datang dan bertanya-tanya kepadanya, yang untungnya bisa Harry jawab dengan sabar.
Segera setelah mereka selesai sarapan dan sedikit berbincang di Aula, Trio Gryffindor yang diikuti oleh teman-teman seangkatan mereka segera berjalan menuju ruang kelas PTIH, di mana Moody akhirnya menjelaskan lagi definisi Dark, Neutral dan Light dengan lebih jelas, karena rupanya masih banyak anak yang tidak mengerti dan masih tetap melihat dunia hanya hitam dan putih saja; mereka tidak melihat dan menilai secara individu.
Menggerutu kesal karena banyak sekali dari mereka yang masih membeda-bedakan Slytherin dan asrama lainnya –Harry sendiri tidak tahu mengapa ia bersikukuh mengatakan bahwa tidak semua Slytherin itu jahat. Ya jawabannya jelas sih, karenya sepertinya hanya dia yang bisa berbicara dengan seorang Slytherin secara bebas. Tapi ini Artemis, dan apabila yang pemuda itu katakana benar, ia seorang muggle born. Perbedaan yang diajarkan di keluarga darah murni mungkin tidak pernah masuk ke dalam otaknya.
Akhirnya, setelah sekali lagi berargumentasi dengan Ron mengenai kedekatannya –yang entah bagaimana mulai menjadi berkelanjutan- dengan Artemis, Harry berjalan menuju kelas Transfigurasi bersama Dean dan Seamus alih-alih Ron dan Hermione. Ia juga lebih memilih duduk dengan Hermione di kelas, dan itu membuat Ron akhirnya duduk dengan Neville dan terus menggerutu sampai akhir kelas.
Sayangnya, setelah itu mereka ada pelajaran Ramalan. Yang berarti Harry akan tinggal dengan Ron, sementara Hermione pergi ke kelas Rune.
Dan akhirnya, Harry duduk dengan Ron yang menggerutu sepanjang pelajaran, bahkan ketika mereka menyerahkan PR tentang membaca pergerakan bintang, dan menadapat nilai tertinggi –cara mereka mengerjakan sama, tentunya. Ngasal.
Setelah makan siang, pelajaran Sejarah Sihir. Sekali lagi, Harry duduk dengan Neville; beruntung ia bisa menghindar dari Ron yang terus menggerutu. Tentu saja, seperti biasa selama pelajaran yang diajar oleh hantu itu, hampir satu kelas jatuh tertidur.
Tapi, ketika yang diangkat adalah topik mengenai dunia sihir pada jaman abad pertengahan, jaman Raja Arthur; yang berarti melibatkan nama Merlin dan Morgana LeFay, Harry langsung duduk tegak. Semenjak pelajaran PTIH dengan Moody yang mengangkut nama Dark dan Light Lord terkuat yang pernah ada, Harry menjadi lebih tertarik mendengar sejarah –yang berkaitan dengan mereka berdua, tentu saja.
Setelah hanya satu jam pelajaran Sejarah Sihir, bel berbunyi dan Gryffindor bersama –sayangnya- Slytherin berjalan menuju pinggir hutan terlarang, di mana Hadgrid menunggu mereka.
Setelah satu jam pelajaran yang penuh dengan gerutu dari Malfoy –sayangnya, Harry berada di dekatnya- mereka bertiga kembali ke Aula. Sayangnya, ada pengumuman besar yang didirikan di kaki tangga pualam. Ron, yang akhirnya melupakan pertengkaran sesaat mereka dan sebagai yang paling tinggi diantara mereka bertiga, berjingkak dan membaca pengumuman keras-keras.
"Turnamen Triwizard
Delegasi dari Beauxbatons dan Durmstrang akan tiba pada pukul 18.00 sore hari Jumat, 30 Oktober. Pelajaran akan diakhiri setengah jam lebih awal.
Para murid diminta menyimpan tas dan buku-buku mereka di kamar masing-masing dan berkumpul di depan kastil untuk menyambut tamu kita sebelum pesta dimulai."
"Tinggal seminggu lagi!" Hermione berseru gembira.
"Yeah, dan beruntungnya, hari Jum'at pelajaran terakhir itu Ramuan! Snape tidak akan sempat meracuni kita!" seru Harry, sekali lagi menatap pengumuman dari jauh.
Munculnya pengumuman itu membawa dampak ke seisi sekolah, selama seminggu para murid hanya berbicara tentang Turnamen Triwizard. Harry sendiri sih, tidak terlalu peduli. Walau hadiahnya sebanyak itu juga. Dilihat dari sejarah turnamennya saja sepertinya sudah berbahaya. Cukup sudah hidup Harry penuh dengan hal yang berkaitan dengan masalah dan bahaya, tidak perlu ditambah lagi.
Sayangnya, para guru malah semakin memforsir mereka untuk belajar lebih. Mungkin karena gugup? Bayangan Snape yang pucat karena gugup saja sudah membuat Harry merasa… iyuks.
Harry juga memperhatikan keadaan kastil yang sepertinya makin lama makin bersih. Mungkin ia merasa kasihan dengan para peri rumah yang bekerja ekstra keras untuk para tamu. Melihat para baju zirah yang dulunya selalu berdebu dan sepertinya sangat tidak mungkin dibersihkan menjadi kinclong, Harry setuju dengan pemikirannya sendiri.
Anehnya –dan kenapa juga ia memperhatikan?- seminggu ini Harry sering mempergoki Artemis sedang menelpon seseorang di pojokan kastil, dan dilihat dari percakapannya, sepertinya dengan orang yang sama. Holly.
Cewek misterius yang menelpon Artemis itu… entah kenapa Harry menjadi kesal kepadanya.
Hey! Dan rasa kesalnya itu tidak masuk akal! Kenapa ia harus merasa kesal kepada seseorang yang perhatian kepada Artemis, dan telah mengenal pemuda yang menurutnya menarik itu lebih lama daripada dirinya?
Harry merutuki dirinya sendiri yang entah kenapa akhir-akhir ini bertingkah seperti gadis yang cemburu.
Merlin.
Tapi faktanya, di sinilah ia, berdiri di depan Ron, di sebelah Hermione, menunggu delegasi dari Beauxbatons dan Durmstrang datang. Sayangnya, pikirannya tetap tertuju kepada Artemis yang sekarang berdiri di tempat paling belakang di barisan Slytherin.
Entah kenapa, pemuda itu sedari tadi melirik sekitar depan sekolah lewat sudut matanya. Seperti menunggu… sesuatu?
Menggelengkan kepalanya berusaha menghilangkan sosok Artemis dari kepalanya, Harry akhirnya kembali menaruh perhatiannya kepada teman-temannya yang sekarang menunjuk titik hitam di angkasa.
Detik kemudian, kereta raksasa yang ditarik oleh kuda terbang mendarat, dan delegasi Beauxbatons turun. Diawali oleh kepala sekolah mereka, yang sosok fisiknya sama seperti Hadgrid… lebih tinggi daripada orang lain. Seorang wanita bernama Madam Maxime.
Setelah Madam Maxime dan anak-anak Beauxbatons masuk ke dalam kastil, Harry melirik dari sudut mata. Artemis masih meneliti halaman sekolah; yang berarti 'Holly' yang dikenal Artemis bukan anak Beauxbatons.
Sekarang, ia mengalihkan perhatiannya kepada para Gryffindor yang menunjuk arah danau; di mana kapal raksasa perlahan-lahan muncul dari danau.
Rupanya delegasi dari Durmstrang.
Kepala sekolah mereka turun; Igor Karkaroff. Dan Harry merasa aura-nya… hitam pekat. Sama seperti Moody. Tapi entah kenapa… terkesan lebih lemah? Harry tidak tahu detailnya, tapi walaupun sama-sama hitam pekat seperti Moody, ada yang berbeda dari aura Karkaroff.
Dan kemudian, turun Victor Krum. Pemain Quidditch Internasional yang diidolakan Ron. Yang penampilannya baru saja ia lihat beberapa bulan yang lalu.
Mata Krum, Harry perhatikan, menangkap sosok Artemis, dan entah kenapa mata itu melebar. Terkejut? Lalu, keluar dari barisan, Krum berjalan menuju Artemis yang rupanya juga keluar dari barisan. Mereka berdua berjabat tangan… seperti rekan. Saling bertukar sapa sopan, sepertinya.
Karkaroff, setelah berbicara dengan Dumbledore, berjalan menuju Krum, dan sama terkejutnya melihat Artemis. Mereka juga bersalaman… tapi entah kenapa muka Karkaroff berubah. Mimiknya berubah. Lebih… waspada?
Kenyataan menghantam Harry. Rupanya, ia tidak mengenal Artemis sebaik yang ia kira.
Dan kenyataan itu, entah bagaimana caranya, menggerogotinya. Membuatnya merasa kesal. Bukan kesal terhadap Artemis atau orang lain, lebih tepatnya kesal kepada… dirinya sendiri.
Damn! Apa yang terjadi kepada dirinya?
Harry melihat lagi, setelah Dumbledore menggiring Karkaroff ke dalam kastil dan McGonagall menyuruh mereka kembali masuk, mata Artemis memandang lurus ke pintu kastil.
Di mana Dumbledore, Karkaroff dan Madam Maxime berhenti untuk berbicara kepada dua orang yang… kenapa mereka terlihat begitu pendek?
Artemis, tanpa berfikir lagi, langsung berjalan menuju kerumunan lima orang yang berada di depan Aula Besar itu, dan langsung menyapa.
Harry, yang untungnya sudah cukup dekat, bisa mendengar mereka.
Harry melihat satu sosok, berkulit hijau yang bercahaya, bertelinga runcing dan berambut merah cepak berbalik dan menatap Artemis.
"Artemis!"
"Holly," sapa Artemis, tidak terkejut melihat dua kenalannya sedang berbicara dengan tiga kepala sekolah. "Komandan Root,"
Orang yang di panggil Komandan Root mengulurkan tangannya dan menjabat Artemis. "Fowl. Lama tak bertemu, eh?"
Artemis menyeringai mendengarnya. "Sepertinya, yang saya jarang bertemu itu anda, Komandan. Mengingat anda harus dirawat beberapa bulan di rumah sakit."
Rahang Root mengeras. "Itu insiden, Artemis."
"Dan untungnya anda berhasil selamat, Komandan."
"Hentikan basa-basi itu," potong Holly, menyeret lengan Artemis. "Aku tahu kalian sudah saling memanggil nama depan, Julius, Artemis."
Dumbledore tertawa kecil. "Suatu kehormatan anda berada di sini, Komandan Tinggi Root, Ms. Short."
Karkaroff dan Madam Maxime menatap mereka dengan penuh perhitungan… dan Artemis menyeringai. Kaum peri sudi naik ke permukaan saja sudah langka, apalagi ada manusia yang akrab dengan peri?
Dumbledore, yang merasa menghalangi jalan, langsung menggesturkan agar tamunya masuk ke dalam.
Para kepala sekolah masuk, diikuti oleh Komandan Root dan akhirnya Holly, yang menyeret lengan Artemis.
Dan Artemis, yang melihat ke kerumunan, menangkap sepasang mata hijau cemerlang yang sedari tadi menatapnya dari kejauhan, secara diam-diam.
Dan mata itu menatapnya dengan kesal, sedih, dan… apa itu cemburu?
Uh-oh, sebuah kesalah pahaman telah terjadi.
XOXOXOXOXOXOXO
TBC
XOXOXOXOXOXOXO
AKHIRNYAAAAAA!
Beres mamen! Widiih, pendek bener yak, kalau dibanding sama yang kemaren-kemaren? Ini juga ngerjainnya udah semalem suntuk (╥_╥)
Oh iya, buat para reviewer yang penasaran sama mukanya si Artemis, mutte dapet tuh salah satu gambarnya di deviantart(dot)com. Keren loh gambarnya, mirip sama deskripsi di buku! Ini link-nya:
http : / / cat-catz . deviantart . com / art / Artemis – Fowl – II - 76109489?q = boost % 3Apopular % 20artemis % 20fowl & qo = 0
Hapus spasinya kawan, semangat!
El: Oke, thanks yaa sarannya. Mutte bakalan coba ngedalemin karakter tokoh yang lain. Thanks yaaa masukannya :DDD buat pemunculan masalah, bakalan muncul sedikit-sedikit karena fict ini bakalan jadi panjaaaaang hehehe. Ini udah update, semoga suka yaaa ))
REVIEW please! Saran sangat dibutuhkan kawaaaaan ~(ˇ▼ˇ~)ƪ(ˇ▼ˇ)ʃ(~ˇ▼ˇ)~
