Dan Artemis, yang melihat kekerumunan, menangkap sepasang mata hijau cemerlang yang sedari tadi menatapnya dari kejauhan, secara diam-diam.
Dan mata itu menatapnya dengan kesal, sedih, dan… apa itu cemburu?
Uh-oh, sebuah kesalah-pahaman telah terjadi.
BIZARRE
Harry Potter to J.K Rowling
Artemis Fowl to Eoin Colfer
A Friendship, Romance and Adventure fict.
WARNING for SLASH, OOC, Underage Relationship, Commander Julius Root ga mati alias pas buku 4 berhasil selamat uyeeeeee~ banyak canon yang gua ubah dari buku AF, a lil' bit manipulative Dumbledore, a strong!Harry, strong!Voldemort.
Artemis at age 17(physically) age 19(mentally), Harry at age 14.
A/N: Mungkin terfokus dengan relashionship-nya? Tidak tau -_- Artemis OOC karena gua sendiri bingung Artemis itu karakternya kayak gimana. Berubah-ubah sih, kadang baik, kadang 'nakal', kadang perhatian, kadang gapedulian #authorcurhat #plak hehehe tapi yang penting bocah itu tuh jenius, saking jeniusnya sampe bikin iri huahahahahahaha… plus HP canon sampe buku 3, AF sampe buku 5. Gua gatau banyak karena baru baca bukunya nomer 1 dan 4 dan baca fict-nya #ininamanyanekat. Buat musuh? Cuma tau si Opal, dan Mafia Russia. Pick one! #oke, ini bukan twitter!
Mulai dari chapter ini akan ada variasi magic seperti wandless magic, blood magic, rune magic, Necromancy, Sorcery, Alchemy. Demon juga mulai dikaitkan, dan sekali lagi, a strong!Voldemort.
Terinspirasi dari fict (terutama yang ini) Fairy Dust by excentrykemuse untuk bagian romance-nya (karena fict ini Artemis/Harry) dan Second Change at Life by Miranda Flairgold untuk bagian ritual dan demon-demonnya, dan novel Nicholas Flamel karya Michael Scott untuk makhluk-makhluk asingnya, terus fictHarry Potter and The Descent Into The Darkenss karya Aya Macchiatobuat penggambaran strong!Harry-nya. *lirik ke atas* Banyak banget sumpah -_- semua bisa dilihat di list fave storiesku kawaaaaan!
Main pair AFHP, slight SBRL, AFHS, DMHP(maybe), TRHP(maybe)– terlalu, kebanyakan -_-
Don't Like Don't Read!
But yeah, ENJOY!
Chapter 5 – Feel Like Pieces
.
Setengah sadar Harry memasuki Aula Besar diseret oleh Hermione, dan ia bahkan tidak mengingat kalau ia sudah duduk di meja Gryffindor. Tanpa sekalipun memandang meja lainnya, Harry melipat tangannya di meja dan mengistirahatkan kepalanya.
"Harry?"
Harry hanya ber-'hm' ria dan kembali menutup matanya.
"Kau tak apa-apa?"
'Hmm' lagi.
Menyerah karena tahu Harry tidak akan mengatakan apa-apa, Hermione akhirnya kembali berbicara dengan Ginny di sebelahnya. Di depan, Dumbledore mempersilahkan kedua kepala sekolah baru itu duduk, sementara di ujung meja tiga orang sedang berbicara.
Ginny melirik meja depan, lalu terkesiap.
"Merlin! Apa itu benar kaum peri?"
Suaranya yang cukup keras membuat satu meja Gryffindor menatap ke arah tatapan anak bungsu Weasley itu. Beberapa orang terkesiap, dan langsung heboh berbisik-bisik.
Sementara Hermione memucat.
"Harry!" bisiknya cepat, "Kenapa Fowl bisa kenal dan akrab dengan kaum Peri?"
Yang terdengar hanya gumaman tidak jelas, tapi Hermione bisa menangkap sedikit 'teman-lama-dengan-Holly'
"Kau tahu kan kalau Kaum Peri asli itu tidak pernah mau muncul di dunia manusia secara umum? Kaum sihir tahu karena mereka memang makhluk sihir, tetapi mengenal mereka saja sudah langka apalagi akrab!"
Harry hanya bergumam kesal. Jelas sekali ia kesal, Artemis membiarkan Holly melingkarkan lengannya di bahu Artemis.
Sial!
"Harry?"
"Hn?"
"Ada apa denganmu- oh, sudahlah." Mengibaskan tangannya tanda kesal, Hermione akhirnya memberinya tatapan kesal dan kembali menatap interaksi Artemis dan kedua peri. Jelas-jelas peri wanita yang dekat dengan Artemis itu sedang berbicara akrab dengannya. Satu peri lagi yang jelas-jelas memakai seragam itu menyeringai sedikit. Kemudian Dumbledore berbincang dengan kedua kepala sekolah, dan Madam Maxime serta Karkaroff sedang melirik-melirik sedikit ke arah Artemis dan Holly yang masih berbincang-bincang.
"Sepertinya tahun ini akan lebih menarik daripada tahun-tahun sebelumnya." Hermione berbisik kepada Harry, tapi Harry menaikkan kepalanya dan menapat Hermione kesal.
"Apa?" gadis berambut cokelat itu melipat kedua lengannya di depan dada, menatap Harry menantang.
Harry hanya mendengus kesal. "Lebih menarik? Lebih? Hermione, apa tidak cukup petualangan kita selama tiga tahun di sini? Oh god, no more wicked things to me this year!"
Ron menyeringai dan memukul lengan Harry main-main. "Sepertinya kau yang selalu terkena masalah eh, Harry?"
Ginny mengikuti ekspresi kakaknya dan juga nada suaranya dibuat serius. "Kupikir Ron benar, Harry. Sepertinya kau selalu mencari masalah, eh?"
Harry memberi death glare terbaiknya kepada duo Weasley di depannya, dan ditambahdengan mood-nya yang tidak baik –coret, buruk , nada suaranya meninggi saat ia berbicara selanjutnya. "Sepertinya bukan aku yang mencari masalah, kalau kalian perhatikan dengan lebih baik."
Ron mengangkat kedua tangannya, menyerah. "Oke, oke. Tenang, mate. Ada apa denganmu, eh? Tiba-tiba membentak seperti itu."
Harry sepertinya menyadari apa yang telah ia lakukan, karena kemudian topeng marahnya terlepas dan ia menatap ketiga temannya letih. Ia mengucek kedua matanya, tiba-tiba rasa capek menghantamnya. "Aku tidak tahu," ia bergumam, kembali mengistirahatkan kepalanya di atas meja. "Entah mengapa tiba-tiba aku merasa… buruk."
Hermione, yang kembali memandang ke tempat para guru dan melihat Artemis melepaskan lengan Holly dari pundaknya dan berjalan ke meja Slytherin sembari memandang Harry intens, mencondongkan dirinya ke depan pemuda berkacamata itu dan berbisik perlahan. "Harry, Fowl sedang memandangmu."
Harry mendengus kesal dan tetap menolak menaikan kepalanya. "Aku tak peduli."
Hermione menaikan alisnya, dan kembali memandang anak baru Slytherin itu. Bahkan, walau sang bangsawan itu sudah duduk di mejanya, ia tetap memandang Harry intens. Hermione tahu, Artemis Fowl sedang berharap bahwa sahabatnya akan mendongkakkan kepalanya dan menatap balik. Ia tidak tahu darimana ia tahu karena anak Slytherin tersebut sedang memasang topengnya, tapi ia hanya tahu. Hermione mencongkel bahu Harry lagi. Baru kali ini bocah berambut hitam itu menaikkan kepalanya dan mengirim sahabat di depannya death glare terbaiknya, tapi Hermione mengabaikan itu.
"Fowl memandangmu lagi, Harry."
"Lalu?" Harry bertanya balik, gusar. Apa urusannya kalau bocah itu memandangnya terus menerus, eh? Ia bukan siapa-siapanya.
Kenapa pikirannya yang baru terlintas itu terasa sakit?
Hermione tersenyum misterius, dan mencondongkan tubuhnya dan berbisik pelan agar kedua Weasley di sebelah mereka tidak dapat mendengarnya. "Ia menatapmu dengan intens, Harry. Seolah berharap agar kau mendongkak dan menatapnya balik. Ayolah, Harry."
Harry membeku, menatap Hermione horror. Tunggu dulu. Bagaimana ia bisa tahu?
"I'm a girl, Harry. To see something like this, and a girl, specifically me, see it was really obvious." Hermione memberikan cengiran terbaiknya, berusaha terlihat polos.
Harry mendengus.
Tapi kemudian ia memicingkan matanya, menatap Hermione perhitungan. Kalau sahabatnya saja mengetahui dengan jelas… walau ia dan Artemis baru berkenalan selama dua bulan…
Gawat.
"Siapa lagi yang tahu?" Harry berbisik, dan Hermione tersenyum pengertian.
"Tenang saja, Harry. Sepertinya baru aku yang tahu… kalau Ron, kau tahu lah seperti apa dia." Di sini, gadis itu mendengus. "Kau tahu Harry, aku mendukungmu." Lalu ia memandangnya memohon maaf, "Maaf sedari kemarin kami tidak mendukungmu mengenai… hubunganmu dengan Fowl. Tapi kau benar, tidak semua Slytherin jahat."
Di sini, Harry tersenyum. "Thanks, 'Mione. Walau begitu aku masih bingung…" suaranya mengecil, dan ia terlihat ragu.
Pada dasarnya, ia memang ragu.
"Kenapa?"
"I didn't know him well. I'm not, what do they say? Ah, seeing him, or something like that. It's just… he's attractive; he got some ways to make me feel comfortable around him. He's just like… seeing me not as Harry Potter, but just Harry." Ia tersenyum dan memandang langit-langit, tidak menyadari senyum lembut yang Hermione berikan kepadanya. "And you know I hate my fame, Mione. He's just… like comforting me in the way you and Ron didn't. It's not like I didn't appreciate your friendship, I really do. It's precious to me. But he… well, he's just different."
Hermione tersenyum. "I know, Harry. I know."
Harry mengembalikan senyum itu, walau tidak mencapai matanya. Ia kemudian menengok ke arah meja Slytherin, dan menangkap kedua manik mata berwarna biru jernih yang sedari tadi menatapnya.
Selama beberapa saat, mereka berdua hanya saling menatap sampai kemudia Artemis tersenyum kecil, dan membuka mulutnya dan berkata tanpa suara. 'Ada apa?'
Harry menggeleng perlahan. 'Tidak, tidak apa-apa.'
Harry tahu Artemis bisa merasakan dirinya berbohong, karena ia memicingkan matanya. 'Kau bohong.'
'Jangan dibahas lagi, please?'
Tetap memicingkan matanya, Artemis akhrirnya mengangguk.
Harry tersenyum, dan membisikan kata 'thanks'-nya dan dibalas dengan senyuman kecil dari wajah stoik Slytherin senior itu. Ia mengangguk, lalu mengalihkan wajahnya ke depan, tepat pada saat Dumbledore berdiri dan satu ruangan menjadi sunyi.
"Turnamen akan resmi dibuka setelah makan malam." Kepala Sekolah Hogwarts itu tersenyum, dan mengangkat pialanya. "Sekarang, silahkan menikmati jamuan makan malam, dan anggap saja di rumah sendiri."
Beliau duduk, dan aula mulai kembali bersuara, bersumber dari para penghuninya. Harry mengambil makanannya, yang tumbennya, lebih sedikit daripada biasanya. Dan mulai memakan makan malamnya, sementara orang-orang di sekitarnya mulai mengobrol.
Sementara di ujung aula, Artemis duduk dan meraih makanannya. Ia memperhatikan Krum berjalan dan duduk di sebelahnya, di antara ia dan Malfoy sebenarnya.
"Krum."
"Fowl. Bagaimana bisnismu?"
Artemis tahu bisnis yang dimaksud adalah bisnis 'belakang', dimana ayahnya sudah tidak lagi berpartisipasi. Sementara dirinya…
Artemis menjawab dengan nada ramah. "Ayah sudah mulai, ah, berhenti. Beliau membiarkanku mengambil alih bisnis, sebagian besar, sementara beliau memulihkan dirinya."
Krum mengangguk. Nama Fowl memang terkenal, bahkan di dunia sihir. Beberapa penyihir gelap dan berasosiasi dengan kriminalis lainnya mengetahui tentang reputasi Fowl Senior. Begitu juga dengan anaknya, Fowl Junior yang sekarang berada di depannya. Tidak ada darah penyihir di dalam keluarga Fowl selama berabad-abad, dan sekarang tiba-tiba pewaris mereka datang.
Mungkin tahun ini memang akan menjadi lebih menarik.
Percakapan mereka diisi dengan berbagai macam mengenai bisnis, dan lalu beberapa hal mengenai keluarga. Sepertinya, keluarga Krum, salah satu pebisnis yang membuka cabang di dunia muggle, juga pernah menjalin kerja sama dengan perusahaan Fowl. Pada saat bisnis keluarga mereka kembali lancar, mereka pula menjadi salah satu yang menyodorkan kerja sama lagi. Dan dengan dirinya yang terlibat di dunia sihir seluruhnya sekarang, Artemis mendapat akses lebih banyak ke beberapa nama.
Tersenyum membayangkan kemungkinan kemajuan di perusahaan keluarganya, Artemis meraih tisu dan mengelap mulutnya, lalu akhirnya menaruh perhatian kepada seluruh isi Aula.
Dua orang asing sekarang menempati kursi kosong di meja para guru, dan setelah meneliti wajah mereka baru Artemis menyadari siapa saja mereka. Satu adalah Bartemius Crouch Senior, Kepala Departemen Kerjasama Sihir Internasional. Yang kedua adalah Ludo Bagman, Kepala Departemen Permainan dan Olahraga Sihir.
Wajar saja mereka berdua berada di sini.
Dumbledore berdiri, dan seisi Aula menjadi sunyi. Artemis bisa merasakan ketegangan mengisi, dan menyeringai karenanya.
"Saatnya telah tiba," Dumbledore berkata, tersenyum. "Turnamen Triwizard akan segera dimulai. Aku ingin menyampaikan beberapa patah kata sebelum petinya di bawa masuk, sekadar memperjelas prosedur yang akan kita ikuti tahun ini. Tetapi pertama-tama, izinkan aku memperkenalkan bagi mereka yang belum mengenal mereka, Mr. Bartemius Crouch, Kepala Departemen Kerjasama Sihir Internasional dan Mr. Ludo Bagman, Kepala Departemen Permainan dan Olahraga Sihir."(1)
Tepuk tangan terdengar, tapi Artemis tiba-tiba merasa ingin melihat ke arah meja Gryffindor dan menemukan bahwa Harry sedang melihat ke arahnya. Menaikan alisnya tanda bertanya, Artemis hanya mendapatkan gelengan kepala dari Harry dan cengiran manisnya. Menggeleng kepalanya, Artemis balas tersenyum, dan kembali melihat ke arah Dumbledore.
Tunggu. Cengiran manis? Sejak kapan-
Oh well, cengiranya memang manis.
Tiba-tiba merasakan dorongan kuat untuk menyeringai lebar, Artemis mengubahnya cepat menjadi batukan. Fowl tidak pernah menampakan topengnya di depan umum, terutama Fowl yang seorang Slytherin. Tambah lagi.
Tepukan tangan mereda, dan Dumbledore sekali lagi berbicara. "Lalu, untuk acara Turnamen Triwizard tahun ini, Hogwarts kedatangan salah satu tamu dari komunitas Dunia Sihir. Perkenalkan Komandan Julius Root dan Ms. Holly Short, keduanya adalah tamu dari Kaum Peri."
Bisik-bisik terdengar di seluruh Aula, sampai Artemis mulai bertepuk tangan, diikuti oleh Krum dan anak-anak Durmstrang, lalu Harry dan anak-anak Gryffindor, lalu seisi Aula.
Holly tersenyum cerah kepadanya; dasar peri yang satu itu. Moodnya selalu berubah-ubah, dan Artemis salut kepada Julius yang tahan berada di dekat mantan anggota LEP yang satu itu. Di satu waktu, Holly bisa menjadi peri yang periang, di waktu lain tiba-tiba menjadi cerewet dan mother-hen, di sisi lain tiba-tiba menjadi tidak pedulian, dan kadang semua itu berakhir saat peri itu meledak karena amarah.
Artemis membalas senyuman itu dengan cengiran Slytherin-nya, dan kembali fokus kepada apapun yang akan Dumbledore katakan.
Sayangnya, ia melewatkan tatapan yang diberikan oleh seorang Gryffindor.
Menghela nafas dan menggelengkan kepalanya, Harry menjatuhkan kembali kepalanya ke meja di depannya. Hatinya berdenyut sakit saat ia melihat Artemis tersenyum kepada Peri wanita itu, walau senyumnya berbeda dengan senyum yang selalu diberikan Artemis kepadanya. Tapi tetap saja…
Harry baru mendongkakkan wajahnya ketika ia mendengar suara sebuah peti yang diletakkan hati-hati. Melihat ke depan aula, Harry memperhatikan adanya sebuah peti yang sudah tua tetapi terdesain indah dengan bertatahkan permata. Memandangnya lalu memandang Dumbledore, Harry meluruskan posisi duduknya dan akhirnya kembali mendengarkan penjelasan dengan seksama.
"Intruksi pelaksanaan tugas-tugas yang akan dihadapi para juara tahun ini sudah diperiksa oleh Mr Crouch dan Mr Bagman," kata Dumbledore. "dan mereka sudah menyelesaikan persiapan yang dibutuhkan untuk masing-masing tantangan. Akan ada tiga tugas, dilaksanakan dalam rentang waktu sepanjang tahun ajaran, dan ketiga tugas ini akan mengetes para juara dalam berbagai hal –kecakapan sihir mereka; keberanian mereka; kelihaian mereka dalam menarik kesimpulan; dan tentu saja kemampuan mereka dalam menghadapi bahaya."
Sunyi melanda Aula saat siswa-siswa dari ketiga sekolah mendengarkan kata-kata Dumbledore. Tapi Harry tidak terlalu peduli, yang ia lakukan hanya menatap Dumbledore tanpa melihatnya benar-benar; ia hanya ingin mengabaikan tatapan yang sekali lagi dilontarkan oleh seorang Slytherin tertentu.
"Seperti yang telah kalian ketahui, tiga juara akan bersaing dalam turnamen," Dumbledore meneruskan, "satu juara dari masing-masing sekolah yang berpartisipasi. Mereka akan dinilai berdasarkan bagaimana prestasi mereka dalam masing-masing tugas, dan juara yang mengumpulkan jumlah nilai terbanyak setelah pelaksanaan ketiga tugas akan memenangkan Piala Triwizard. Ketiga juara akan dipilih oleh penyeleksi yang tidak berpihak: Piala Api."(2)
Dumbledore mengeluarkan tongkatnya dan mengayunkannya, membuka kunci peti dan membukanya. Ayunan lagi, dan keluarlah sebuah piala yang terbuat dari kayu. Lalu penyihir legendaris itu menaruh piala di atas peti yang sekarang sudah tertutup, agar seluruh sekolah bisa melihatnya sekarang.
"Siapa saja yang berminat mendaftarkan diri sebagai juara harus menuliskan nama dan sekolahnya dengan jelas di atas secarik perkamen dan memasukkannya ke dalam piala. Para peminat punya waktu dua puluh empat jam untuk memasukkan nama mereka. Besok malam, Halloween, si piala akan mengembalikan tiga nama yang dinilainya paling layak mewakili sekolah masing-masing. Piala ini akan diletakkan di Aula Depan malam ini, supaya mudah dicapai oleh siapapun yang ingin ikut bertanding.
"Untuk memastikan agar tidak ada pelajar yang di bawah umur yang menyerah terhadap godaan," Dumbledore menambahkan sambil tersenyum geli ketika melihat para murid yang masih di bawah umur mengeluh, "aku akan membuat Lingkaran Batas Usia di sekeliling Piala Api setelah piala ini diletakkan di Aula Depan. Tak seorang pun yang berusia di bawah tujuh belas tahun akan bisa melewati lingkaran ini.
"Yang paling akhir, aku ingin menekankan kepada kalian yang berminat ambi bagian, bahwa turnamen ini tidak bisa dianggap enteng. Begitu juara telah dipilih oleh Piala Api, ia wajib mengikuti turnamen sampai akhir. Pemasukan nama kalian ke dalam piala merupakan kontrak sihir yang mengikat. Tak boleh berubah pikiran kalau kalian sudah terpilih menjadi juara. Karena itu kalian harus yakin benar, bahwa kalian sepenuh hati bersedia bermain sebelum memasukkan nama ke dalam piala. Sekarang, kurasa sudah tiba waktunya untuk tidur. Selamat tidur kepada semuanya."(3)
Terdengar kursi di geret, tapi mata Harry tertuju kepada sepasang bola mata biru yang sedang menatapnya balik. Pemilik mata itu tersenyum.
'Goodnight.'
Harry memiringkan kepalanya, tapi tersenyum juga. 'Goodnight to you too, Artie.'
Tetap memakai senyum cerahnya, Harry akhirnya berjalan bersama Ron dan Hermione keluar dari Aula Besar, menengok sekali lagi di pintu untuk melihat kepada Artemis yang masih terus memperhatikannya. Tersenyum, dan entah mengapa merasakan dadanya hangat karena 'perhatian' yang diberikan kepadanya, Harry mengangguk dan berjalan keluar, menuju Menara Gryffindor.
Artemis terus memperhatikan sampai Harry menghilang di pintu depan, baru berbalik dan berjalan lurus menuju meja para staf. Walau wajahnya stoic tanpa ada ekspresi, tapi di dalam hati Artemis sibuk memikirkan 'hubungan' yang ia punya dengan seorang Gryffindor misterius bernama Harry Potter.
Serius, baru kali ini ia merasa panik saat Harry tidak mau bertemu mata dengannya. Aneh, padahal baru beberapa saat yang lalu mereka baik-baik saja. Tapi kenapa detik berikutnya bocah berambut hitam itu mengabaikannya? Lalu, saat ia sudah bertanya ada apa dengannya dan Harry berkata ia baik-baik saja, Artemis tahu itu bohong. Tapi kenapa Harry berbohong kepadanya?
Detik kemudian Artemis tertawa miris dalam hati. Untuk apa seorang Harry Potter, seorang Gryffindor, mempercayai Slytherin sepertinya? Belum lagi mereka baru berkenalan sekitar dua bulan. Waktu yang pendek untuk mempercayai seseorang, right?
Menghela nafas karena keadaan emotionalnya yang tumbennya aneh dan membingungkan, Artemis memasang dinding Occlumency di sekitar pikirannya dan mengunci emosinya dalam-dalam. Sekarang urusan bisnis, biarkan ia berurusan dengan emosinya nanti.
Mendekati kedua Peri itu, Artemis menyapa mereka.
"Holly, Komandan Root."
"Fowl," Julius membalas sapaan Artemis dengan anggukan sopan.
Sementara Holly menyapanya dengan riang seperti biasa, "Artemis!"
Mengangguk kepada para guru, Artemis berbalik menghadapi Dumbledore. "Maaf mengganggu, Profesor Dumbledore, tapi bolehkah saya berbicara sebentar dengan Ms. Holly dan Komandan Root?"
Dumbledore mengangguk, matanya tetap bersinar. "Silahkan ambil waktumu, Mr. Fowl."
Balas mengangguk, Artemis mengisyaratkan kedua peri itu untuk mengikutinya ke dalam ruang kelas kosong. Setelah mereka bertiga masuk, Artemis mengeluarkan tongkat sihirnya dan menggumamkan mantra pengaman dan anti curi-dengar terkuat yang ia ketahui. Setelah selesai, ia berbalik menghadap kedua peri yang duduk tenang di meja para murid.
Menyeringai, ia duduk berseberangan dengan Holly. "Jadi, ada perkembangan apa?"
Julius-lah yang menjawab. "Seharusnya kami yang bertanya begitu, bocah," ia mendengus. "Kudengar ada 'pergerakan' lagi, jadi?"
Artemis mengangkat kedua bahunya. "Ya, benar. Tanda-tandanya mirip dengan apa yang kulakukan tahun lalu. Kau tahu, men-summon demons. Tapi, siapa yang cukup gila untuk melakukannya?"
Kedua peri itu langsung saling bertatapan, lalu Holly menjawab sambil menyeringai. "Kau!"
Artemis mendengus mendengarnya. "Kalau aku, itu kasus beda. Masalahnya, demon yang kupanggil sudah kembali ke tempatnya lagi. Sekarang, siapa?"
Mereka bertiga berlarut dalam pikiran, sampai kemudian terdengar suara Julius. "Kau tahu kemungkinan siapa yang-?"
Artemis mengangguk, lalu kembali menjelaskan mengenai pemikirannya yang sama ia utarakan kepada Butler dan pada saat rapat dengan Minerva waktu itu. Kedua peri itu mendengarkan dengan seksama sampai selesai.
"Jadi, kau masih belum pasti?"
Artemis menggeleng. "Kemungkinan mereka berdua yang paling besar. Tapi, aku tidak mengenal magical signature-nya. Kemungkinan orangnya terlalu kuat, atau mungkin hal lain."
Holly mengangguk. "Sudah terlambat mencegahnya?"
"Kalau misalnya kita mengetahui siapa orangnya, masih bisa kita cegah. Kalau misalnya sudah sampai tahap tiga dan kita belum bisa mengetahui siapa yang ada di balik semua ini… yang bisa kita lakukan hanya berharap semoga yang memanggil bisa mengontrol mereka da nada seseorang yang bisa mengembalikan mereka ke tempat mereka semula."
Ekspresi Julius jelas-jelsa mengatakan 'kau-yang-pastinya-bisa' tapi Artemis menggelengkan kepalanya.
"Tidak, tidak. Tidak bisa hanya aku saja. Sayangnya, pergerakan ini meluas di seluruh Eropa. Dan hanya di dunia Sihir saja. Kemungkinan besar, merkea memang menargetkan untuk menghabiskan penyihir di seluruh Eropa, tapi mengapa dan siapa masih misterius."
Seisi ruangan menjadi tegang karena perkataan dan analisa Artemis, dan setelah beberapa saat suara tegang Holly terdengar. "Jadi, apa yang bisa kita lakukan?"
Artemis terlihar berfikir sejenak. "Yang bisa kita lakukan sekarang, hanya mencari informasi dan menunggu. Sekarang, mereka masih mempersiapkan dan baru akan melakukan tahap satu. Kemungkinan mereka beres, sampai tahap empat, akhir tahun ajaran ini. Selama itu, kita akan terus mencari siapa yang berada di belakang semua ini, dan mungkin kita laporkan kepada Dumbledore. Kalau itu Voldemort, kita harus bersiap. Kalau itu Dumbeldore…"
"Kita harus mencari orang yang tidak berpihak kepadanya." Julius menutup perkataan Artemis.
Artemis mengangguk, lalu kemudian berdiri. "Oke! Besok hari besar, aku turun duluan. Di mana kalian tinggal?"
"Dumbledore menyiapkan tempat khusus untuk kami, di dekat Menara Gryffindor. Kau di mana?"
"Di dungeon, tempat Slytherin."
Mengangguk, Holly berdiri dan memberikan Artemis tepukan di bahunya. "Peralatannya masih berfungsi, kan?"
"Yup, seperti biasa."
Mengeluarkan kembali tongkat sihirnya, Artemis menurunkan wards yang ia pasang, dan mereka bertiga berjalan keluar. Mengucapkan 'Sampai bertemu' dengan singkat, Artemis berjalan menuju dungeon dan mengucapkan kata kunci saat ia mencapai tempat masuk Ruang Asrama Slytherin.
Mengabaikan tatapan-tatapan yang diberikan kepadanya oleh para 'ular' lainnya, Artemis memasuki kamarnya dan berganti pakaian, setelahnya langsung mengeluarkan laptopnya dan bekerja di tempat tidur, tak lupa memasang tirai di sekeliling tempat tidurnya dan memasang mantra pengaman agar tidak dicuri-dengar. Membuka laptopnya, ia mulai bekerja.
Berjam-jam ia bekerja di depan laptopnya, sampai kemudian Artemis menyerah dan menutupnya. Informasi yang ia dapatkan sangat sedikit, hampir tidak ada.
Tapi, setidaknya mereka sudah tahu bahwa aka nada demon muncul di Eropa, dan sekarang yang bertanggung jawab bukan dia.
Menaruh kembali laptopnya dan mengamankannya dengan wards terkuat yang ia ketahui, Artemis kembali ke tempat tidur dan rebahan di sana. Sekuat apapun ia berusaha untuk tidur, tapi yang muncul di pikirannya hanya sosok berambut hitam dan bermata hijau cerah, sosok yang entah bagaimana mendapatkan tempat permanen di pikiran Artemis.
Menghela nafasnya, Artemis memiringkan tubuhnya dan berbisik pelan, "Why you always come back to my mind, Harry?"
Tapi tidak ada yang menjawab.
.
.
Halloween entah mengapa selalu membawa kenangan buruk kepada Harry.
Coba telusuri satu-satu, akhirnya yang lain setuju bahwa Halloween selalu membawa kenangan buruk kepada Harry.
Tahun pertama, saat Halloween, ada Troll masuk ke sekolah, kan? Lalu Harry dan Ron menyelamatkan Hermione dari Troll tersebut, di kamar mandi perempuan. Contreng, tahun pertama Halloween tidak berjalan normal.
Tahun kedua, saat Halloween, Mrs. Norris diserang Basilik di depan toilet perempuan yang dihantui Myrtle Merana, bukan? Dan di situ Harry dituduh. Setelahnya, selama setahun itu Harry terus dituduh sebagai orang yang bertanggung jawab mengenai terlepasnya seekor Basilik dewasa di dalam sekolah penuh anak-anak. Contreng lagi, tahun kedua tidak berjalan seperti yang ia harapkan.
Tahun ketiga? Malam Halloween, Sirius mencoba masuk ke dalam Menara Gryffindor. Walaupun tidak separah dua tahun sebelumnya, setidaknya tidak berjalan normal.
Mengingat itu, Harry menggigil sendiri. Entah bagaimana Halloween tahun ini berlangsung, kalau misalkan terjadi hal-hal seperti itu lagi…
Menggeleng kepalanya mencoba menjernihkan pikirannya, Harry baru sadar kalau dirinya sukses diseret oleh Ron ke Aula Besar untuk sarapan pagi dari Menara Gryffindor tanpa ia sadari sama sekali.
Menghela nafas, ia melepaskan tangan Ron yang mencengkram lengannya, lalu berjalan menuju meja Gryffindor dan meraih beberapa roti sementara mendengarkan Ron berbicara kepada beberapa adik kelas mengenai siapa yang sudah menaruh namanya ke dalam Piala.
"Ada anak Gryffindor?" Harry bertanya, ikut dalam percakapan.
Beberapa orang menoleh, lalu seseorang mendongkakkan kepalanya, wajahnya memerah. "Aku," kata Angelina Johnson, Chaser tim Gryffindor.
Harry tersenyum kepadanya. "Bagus! Setidaknya ada anak Gryffindor yang ikut pertandingan."
Percakapan kembali mengalir, tapi Harry menatap pintu depan. Tepat beberapa detik setelah ia memperhatikan pintu besar tersebut, seseorang yang ia kenal –dan ia tunggu- masuk.
Artemis memperhatikan ruangan, lalu berjalan masuk, lurus menuju meja Slytherin.
Setelah bertukar sapaan dalam diam –lagi, entah mengapa hal itu menjadi kebiasaan bagi mereka berdua- Harry dengan mood yang entah kenapa naik meraih sarapannya.
Tepat pada saat itu anak-anak Durmstrang masuk dan berjalan lurus menuju Piala Api. Satu per satu mereka memasukan nama, dan yang terakhir Victor Krum. Entah mengapa, Harry perhatikan, Hermione terus memperhatikan Seeker tim Nasional Bulgaria itu. Dan tepat ketika Krum selesai menaruh perkamen berisikan namanya, ia berbalik dan menatap lurus kepada Hermione.
Tersenyum ketika mereka berdua sama-sama blushing –walau jelas, Krum tidak terlalu terlihat- Harry menyikut Hermione.
"Emm, lihat siapa yang main mata ya," goda Harry, tertawa ketika Hermione memberikan death glare terbaiknya sambil menahan agar blushing-nya tidak terlihat.
"Oh shut up!" Hermione mendesis galak, "Seperti kau tidak saja!"
Menaikan bahunya tidak peduli, Harry terus memperhatikan Artemis yang sekarang sedang berbincang kepada Krum. Sepertinya bisnis, pikir Harry.
"Aku duluan," ia berdiri, melambai kepada teman-teman Gryffindor lainnya. Mendapat balasan, Harry tersenyum dan berjalan keluar, berniat untuk menyendiri di pinggir danau, tempat favoritnya.
Tapi ia tidak tahu kalau tepat ketika ia berdiri dan beranjak keluar, Artemis menghentikan percakapannya dan undur diri dari Krum, dan berjalan mengikutinya.
Baru ketika ia berada di luar dan bersiap menuju kolam, seseorang menepuk bahunya.
Berbalik dengan cepat dan mata siaga, Harry menghela nafas ketika ia melihat kepada dua bola mata yang sekarang sudah menjadi familiar dengannya.
"Hey," ia berkata pelan.
Artemis tersenyum. "Hey. Cepat sekali perginya?"
Menaikan bahunya, ia menjawab, "Sedang tidak mood makan."
Menaikan salah satu alisnya, Artemis berjalan dan menggesturkan agar Harry berjalan di sebelahnya. "Ke mana?"
"Pinggir danau, dekat pohon yang itu." Harry menjawab sembari menunjuk sebuah pohon besar di pinggir danau, yang kalau duduk di baliknya tidak akan terlihat dari mata para murid.
Mereka berdua berjalan dalam diam, dan duduk bersamaan. Bahu mereka berdua bersentuhan, tapi sepertinya tidak ada yang protes mengenai hal itu. Malah, mereka berdua terlihat nyaman berdekatan seperti itu dan juga berdiam dalam keheningan.
"Jadi…"
Artemis menatap Harry yang sedang melihat jauh, ke dalam Hutan Terlarang. "Ya?"
"Jadi, kau mendaftar Turnamen?"
Artemis mendengus. "Untuk apa?"
Jawaban Harry hanya bahunya yang terangkat.
"No offense, seribu Galleon bagiku tidak terlalu besar, walau mungkin bisa membantu untuk kebutuhan pribadi mengingat keluargaku sedang pergi. Tapi, untuk apa ikut?"
"Hemm…"
"Berfikiran untuk ikut, eh?" Artemis tersenyum melihat Harry mendelik kepadanya.
"Oh tidak, untuk tahun ini aku lebih suka tidak ada masalah sama sekali. Walau aku ragu mengenai hal itu…"
"Hm?"
"Setiap tahun, Halloween selalu menjadi kenangan buruk bagiku." Harry memulai, suaranya berbisik. "Nanti malam, tepat tiga belas tahun orangtuaku meninggal. Tiga belas tahun hidup tanpa Voldemort. Setiap tahun ada saja hal-hal yang terjadi di Hogwarts. Perasaanku tidak enak…"
Tanpa sadar Artemis melingkarkan lengan kanannya di sekeliling bahu mungil Harry. "Ssh, tenang saja. Ada kemungkinan tahun ini tidak akan berjalan seperti tahun-tahun sebelumnya."
"Thanks,"
Mereka duduk dalam diam, tanpa sadar seiring waktu berjalan posisi mereka makin mendekat. Dan Artemis masih belum melepaskan lengannya dari bahu Harry. Tapi, mereka merasa nyaman dengan posisi itu, apa salahnya toh?
"Ah," Artemis teringat bahwa ia berjanji akan melakukan konfrensi lewat video phone dengan Butler siang itu. Ia melepaskan lengannya dari Harry, dan langsung saja bocah berkacamata itu merasa sedih dengan hilangnya kehangantan di sekeliling bahunya. "Aku ada janji dengan Butler. Ayo, masuk."
Berdiri duluan lalu membantu Harry berdiri, mereka berdua berjalan beriringan menuju kastil. Mengantarkan Harry ke depan Nona Gemuk dan melambaik ketika Harry menghilang di balik lukisan itu, Artemis berjalan ke dungeon, dengan laptop dan Butler menunggunya.
Tanpa ia sadari, hari sudah beranjak sore dan ia benar-benar ketinggalan makan siang. Merenggangkan otot-ototnya yang kaku karena kebanyakan duduk, Artemis menaruh laptopnya dan mengambil mandi sore, dan bersantai di ruang Rekreasi.
Baru saja ia duduk di sofa di depan perapian, seorang anak laki-laki tahun empat yang sepertinya bernama Blaise Zabini menghampirinya.
Artemis menaikan alisnya. "Ya?"
"Ada orang yang menunggumu." Kata Blaise netral. Keluarga Zabini selalu netral di dalam perang, jadi Blaise tidak keberatan beramah-tamah dengan Artemis.
"Siapa?" lah, siapa yang mengunjunginya?
"Salah satu peri itu." Balas lelaki Italia itu. Artemis menghela nafas, mengetahui seisi ruangan mengetahui isi percakapan mereka.
"Thanks," ia bergumam dan berdiri, berjalan menuju pintu keluar tanpa memperdulikan bisik-bisik yang ditujukan kepadanya.
Ia membuka pintu, dan menaikan kedua alisnya ketika melihat Holly berdiri di depannya. "Ya, Nona Short yang tumben-tumbennya menjengukku, ada apa?" tanyanya sakrastik.
Holly memberikan death glare terbaiknya. "Oh Tuan Fowl yang agung, bisa bicara sebentar?"
Artemis tertawa, tapi lalu mengangguk. "Masuklah. Kau tamu, setidaknya kau boleh memasuki ruang Slytherin. Ayo berbincang di kamarku, kebetulan Butler ingin berbicara denganmu."
Mengangguk, Holly memasuki pintu. Mereka berdua berjalan beriringan memasuki ruang rekreasi yang sekarang sunyi, dengan para penghuninya yang memperhatikan mereka.
"Ya?" tanyanya tajam, mendelik kepada mereka semua. "Ada urusan?"
Segera mereka sibuk dengan urusan masing-masing, berpura-pura tidak memperhatikan mereka. Menghela nafas, ia berbalik kepada peri berambut merah cepak itu dan menggesturkannya untuk mengikutinya.
"Ayo."
Mereka berdua akhirnya menghabiskan waktu sampai makan malam tiba di dalam kamar Artemis, berbincang dengan Butler dan kembali mencari informasi. Walau, seperti malam sebelumna, sedikit informasi yang bisa mereka dapatkan.
"Sudah waktunya makan malam," Holly merenggangkan otot-ototnya yang kaku karena duduk terlalu lama. Mengangguk menyetujui, Artemis menutup laptopnya dan mengamankannya, dan mereka berdua berjalan keluar kamar.
Menelusuri ruang rekreasi, mereka berdua mendapati masih ada beberapa murid kelas atas yang saking seringnya mengikuti pesta jamuan Halloween memilih untuk turun belakangan. Mengabaikan mereka semua, Artemis berjalan dengan Holly di depannya.
Mereka berdua berjalan menuju Aula Besar sembari mendebatkan beberap hal mengenai keadaan Kaum Peri, yang selama beberapa saat tidak Artemis kunjungi. Mereka berhenti ketika sudah memasuki Aula Besar yang didesain untuk Halloween, dengan labu melayang di udara dan puluhan kelelawar berada di langit-langit yang berubah menjadi langit gelap kelabu. Sementara Artemis duduk di meja Slytherin, Holly berjalan menuju meja para staf dan duduk di sebelah Julius.
Ketika Aula terisi penuh dan jamuan dimulai, pesta berlangsung lebih lama dari biasanya, mungkin karena mereka mendapat pesta dua hari berturut-turut.
Akhirnya, ketika piring sudah kosong, Aula menjadi sunyi saat Dumbledore berdiri.
"Nah, Piala Api sudah hampir siap mengambil keputusan," Dumbledore memulai, memperhatikan seluruh Aula. "Kuperkirakan masih ada satu menti lagi. Setelah nama-nama para juara dibacakan, kuminta mereka maju, berjalan di depan meja guru, dan masuk ke ruang berikut." Ia menggesturkan pintu di belakang meja guru. "Di situ para juara akan menerima instruksi pertama mereka."(4)
Dumbledore mengeluarkan tongkatnya dan cahaya yang keluar dari lilin-lilin di sekeliling langsung menghilang. Ruangan menjadi setengah gelap. Perhatian semua orang tertuju kepada Piala Api yang menyala paling terang di depan ruangan.
Nyala api di dalam piala mendadak menjadi merah lagi. Lidah api mulai menyembur. Detik berikutnya, lidah api meluncur ke atas, dan melontarkan sepotong perkamen setengah gosong. Dumbledore menangkap perkamen tersebut, dan membacanya cepat.
"Juara untuk Durmstrang," katanya keras-keras, "adalah Victor Krum!"
Terdengar tepukan tangan dan sorakan ramai, sementara Victor Krum berdiri dari sebelah Artemis dan berjalan ke arah Dumbledore dan memasuki ruangan yang sebelumnya sudah ditunjukkan Dumbledore.
Lalu kemudian, lidah api yang keluar dari Piala Api sekali lagi menyala merah, perkamen kedua keluar sementar semua orang menunggu dengan tegang.
Dumbledore membaca perkamen itu dengan cepat dan mendongkak. "Juara untuk Beauxbatons," katanya keras-keras, "adalah Fleur Delacour!"
Harry mendengar Ron menahan nafas saat gadis yang terlihat-sepeti-Veela-tapi-bukan-Veela berdiri dan tersenyum. 'Jadi itu rupanya gadis yang dilirik Ron,' gumamnya sambil menyeringai.
Gadis itu –Fleur- berjalan menuju ruangan yang dimasuki oleh Krum sebelumnya. Lidah api sekali lagi berubah merah, dan perkamen lain keluar. Dumbledore menangkapnya, dan membacanya. Ia terliha menaikan alisnya, kaget.
Harry menahan nafas. Siapa-?
"Juara Hogwarts," katanya keras-keras, pandangannya tidak lepas dari perkamen yang ia pegang. Seluruh siswa Hogwarts menahan nafas. "Adalah Artemis Fowl."
"Apa?"
Bukan hanya beberapa orang yang pada dasarnya tidak menerima Artemis, Holly pun melompat dari kursinya tapi ditahan oleh Julius. Mereka berdua men-death glare kepada Artemis, tapi bocah itu sedang memijat dahinya kesal. Ia mendongkak dan matanya langsung menyari sepasang mata hijau cemerlang, dan menghela nafas saat kedua mata itu menatapnya penuh tanya dan kesal. Menggerakkan bibirnya membentuk 'Bukan aku yang memasukan namaku', Artemis berdiri dan berjalan ke depan, memasang topeng datarnya.
Heck, kenapa hidupnya rumit sekali sih?
Harry yang masih kaget karena Artemis yang terpilih, entah kenapa merasa sakit karena anak itu tidak memberitahunya. 'Bukannya Artemis berkata bahwa ia tidak ingin ikut?' pikirnya kesal. Tapi kemudian, ia mengingat kata-kata yang dilontarkan Artemis sebelum pergi. Apa kemungkinan ada yang menjebak Artemis untuk ikut Turnamen ini-?
Menghela nafas dan memutuskan untuk menginterograsi Artemis nanti dan mengabaikan protes Ron mengenai 'juara-Hogwarts-adalah-Slytherin', Harry berkonsentrasi ke depan.
Ia tahu Dumbledore mengatakan sesuatu, tapi ia tidak mendengarkan. Pikirannya terfokus kepada Piala Api, yang entah mengapa lidahnya berubah menjadi merah lagi.
'Ketiga juara sudah ada, kenapa-?'
Entah kenapa, mendadak perasaan Harry menjadi buruk. Oh tidak. Jangan-jangan…
Lidah api tiba-tiba menyembur dan mengeluarkan perkamen. Dumbledore, yang jelas-jelas kebingungan, menangkap perkamen yang keluar. Kerutan di dahinya dan menghilangnya kerlingan di mata biru tuanya menandakan jelas-jelas bahwa apapun yang keluar dari perkamen itu adalah masalah.
Dan entah kenapa Harry menahan nafasnya. Firasatnya buruk sekali.
Benar saja. Karena Dumbledore membisikan isi perkamen itu. "Harry Potter."
Benar kan?
Uh-oh, masa tahun ini ia menghadapi masalah lagi?
He's feeling like pieces.
Membisikan kepada Hermione, "Bukan aku!"
Tapi Hermione tidak mengangguk atau menggeleng, hanya terus menatapnya.
Menghela nafas, Harry berdiri dan berjalan menuju pintu yang ditunjuk Dumbledore sebelumnya, pintu yang dimasuki Artemis.
Berjalan tanpa emosi, Harry akhirnya memasuki ruangan kecil yang berisi lukisan-lukisan. Ketiga juara menatapnya.
"Ada apa?" tanya Fleur. "Apa mereka ingin kami kembali ke sana?"
Harry menghela nafas, dan mengabaikan perkataan Fleur. Ia terus berjalan ke sisi Artemis, dan tanpa sadar melingkarkan kedua lengannya di leher pemuda yang lebih besar itu erat.
Artemis, yang tersentak karena gerakan yang tiba-tiba itu, memegang erat Harry dan berbisik di telinganya. "Ada apa?"
Harry hanya menggeleng.
Mengerutkan dahinya bingung, Artemis kembali memikirkan kemungkinan-kemungkinan, kemudian tersentak, mengabaikan kedua orang lain di ruangan yang sama dengannya. "Harry, apa-?"
Tapi perkataannya terpotong dengan kedatangan Ludo Bagman dan para juri dan guru juga Holly dan Julius. Menaikan alisnya, Holly bertanya dalam diam mengenai posisi Artemis yang sedang memegang Harry erat.
Harry perlahan melepas pelukannya, tapi tetap memegang lengan Artemis sementara pemuda itu memegang erat pundak Harry, ia berbalik menatap para orang dewasa yang memasuki ruangan.
"Luar biasa!" gumam Bagman, "Sungguh luar biasa! Saudara-saudara, izinkan aku memperkenalkan, meskipun kedengarannya tidak masuk akal, juara Triwizard yang keempat."
Bingo.
Pegangan Artemis kepada Harry mengerat.
Harry menatap Artemis, pandangannya memohon. "Aku tidak memasukkan namaku," bisiknya lirih. "Kau tahu dengan pasti aku tidak memasukkan namaku!"
Duumbledore maju ke depan dan memegang erat lengan Harry walau tidak membawanya ke depan, karena Artemis masih memegangnya erat. Mereka berdua beradu pandang, dan Dumbledore bertanya, suaranya tenang. "Harry. Apakah kau memasukkan namamu ke dalam Piala Api?"
Harry menjawab tegang, tapi pasti. "Tidak."
"Apakah kau meminta murid yang lebih tua untuk memasukkannya ke dalam Piala Api untukmu?"
"Tidak."
"Ia pasti bohong!" seru Madame Maxime.
"Ia tidak mungkin melewati Lingkaran Batas Usia." Bantah Profesor McGonagall tajam. "Kita sudah sepakat-"
"Mungkin Dumbly-dorr membuat kesalahan-"
"Maaf Madame," Artemis memotong, mencengkram lebih erat bahu Harry dan membawanya mendekat, membuat Dumbledore melepas tangannya dari Harry. "Tapi, seperti kita ketahui dengan pasti mengenai kekuatan Profesor Dumbledore, beliau cukup sakti untuk membuat Lingkaran Batas Usia. Dan dengan kepribadian sepertinya, Harry tidak mungkin meminta anak yang lebih besar untuk memasukkan namanya. Sementara sebagai juara keempat, harus ada orang yang cukup kuat dan lebih berpengalaman untuk meng-Confundus Piala dan membuatnya menerima bahwa ada sekolah keempat dan hanya Harry sebagai partisipannya. Dengan kata lain, kemungkinan Harry sebagai orang yang memasukkan namanya sendiri ke dalam piala api adalah nol."
Ruangan menjadi sunyi mendengar analisa dari pewaris perusahaan terbesar di Irlandia dan mungkin paling berpengaruh di seluruh Eropa itu. Suaranya yang tegas dan nadanya yang otoriter membuat semua orang terpaksa mendengar alasannya, dan sejauh ini alasannya masuk akal.
"Mr. Fowl benar."
Semua orang menatap ke arah Snape, dan Harry menatap guru Ramuannya itu dengan tidak percaya. Tapi Snape menghindari tatapan matanya, dan menatap orang lain.
"Walau aku benci mengatakannya, Mr. Fowl benar. Mr. Potter tidak mungkin bisa melakukan itu."
Menghela nafas, Harry tanpa sadar menyandarkan kepalanya di bahu Artemis.
"Tapi kenapa?" tanya Fleur. "Dan mengapa ia menolak kesempatan ini? Ini sebuah kehormatan! Dengan hadiah seribu Galleon, banyak yang berharap mati-"
"Itu dia, mademoi," potong Artemis mulus. "Mungkin ada orang yang berharap Harry mati-" di kata ini, cengkeramannya pada Harry mengerat, "-selagi ia berpartisipasi dalam Turnamen ini."
Ruangan kembali menjadi sunyi, sampai Ludo Bagman berdeham dan menatap Crouch. "Jadi-?"
"Apa aku tidak bisa tidak berpartisipasi, Profesor? Mr. Crouch?"
Mr. Crouch menggeleng, terlihat menyesal. "Kami minta maaf, Mr. Potter. Peraturan yang asli sebenarnya adalah memperbolehkan peserta dari semua umur untuk berpartisipasi, asalkan masih bersekolah di sekolah yang ada. Peraturan untuk batas usia baru ditambahkan tahun ini, demi menjaga keamanan peserta."
Harry menghela nafas dan menutup matanya. Tahun ini… lagi-lagi.
Menyadari Harry sekarang menjadi gelisah, Artemis mengelus lengannya dan menatap Mr. Crouch. "Mr. Crouch, sir? Mengenai tugas pertama?"
"Ah!" Mr. Crouch kembali sadar, "Ya, instruksi tugas pertama…"
Ia bergerak maju ke depan para peserta, yang sekarang berkumpul di dekat Artemis dan Harry. "Tugas pertama dirancang untuk mengetes keberanian kalian," ia memberitahu para peserta. "Maka kami tidak akan memberitahu kalian apa tugas itu. Keberanian menghadai Sesutu yang tidak diketahui adalah kualitas penting bagi seorang penyihir, sangat penting. Tugas pertama akan berlangsung pada tanggal dua puluh empat November, di depan semua murid dan dewan juri.
"Para juara tidak diizinkan meminta atau menerima bantuan dalam bentuk apa saja dari guru mereka untuk menyelesaikan tugas dalam turnamen ini. Para juara akan menghadapi tantangan pertama ini hanya dengan bersenjatakan tongkat sihir mereka. Mereka akan menerima informasi mengenai tugas kedua setelah tugas pertama selesai. Mengingat turnamen ini sangat berat dan menyita waktu, para juara dibebaskan dari mengikuti ujian akhir tahun."(5)
Mr. Crouch menatap Dumbledore. "Kurasa itu saja sudah cukup."
Dumbledore mengangguk, mengawasi Madam Maxime yang merangkul bahu Fleur dan membawanya pergi, berdebat dengan bahasa Prancis. Artemis mendengar sedikit percakapannya, yang rupanya mengenai cara agar bisa menenangkan turnamen. Menghela nafas, Artemis menggesturkan agar Harry berdiri tegak, walau tetap mencengkram tangannya. Mengangguk kepada Profesor Dumbledore, Snape, Holly dan Julius, Artemis membawa Harry.
"Hey-hey!"
Artemis berhenti sebentar, mengingat kalau sebenarnya ia menyeret pemuda yang lebih pendek darinya itu. Terkekeh, ia meraih tangan Harry dan menggenggamnya. Merasakan kalau pemuda Gryffindor itu memandang tangan mereka yang bertautan, Artemis menaikan alisnya bertanya kepada pemuda yang wajahnya sekarang memerah.
"Tidak apa kan?"
"Hum,"
Menyeringai penuh kemenangan, Artemis berjalan dengan Harry beriringan. Lorong-lorong sudah kosong, mungkin karena sebentar lagi jam malam. Ia membawanya sampai ke depan lukisan Nona Gemuk. Mereka berdua berhenti, dan saling bertatapan.
"Sampai besok," gumam Harry lembut dan tersenyum.
Artemis membalas senyum itu, meremas tangan Harry sekali lagi dan melepaskannya. "Selamat malam, emeralds, sweet dreams."
Tersenyum, Harry membisikan kata kuncinya dan masuk, tetap menatap Artemis sampai pintu tertutup.
Menghela nafas, Artemis melempar tangannya ke udara sambil merenggangkan tubuhnya, gestur yang sangat un-Slytherin. Tapi ia tidak peduli sekarang. Yang penting, ia dan Harry sudah ada kemajuan dalam 'hubungan' mereka.
Tinggal melihat ke mana ini akan berlanjut.
TBC
Uye! Akhirnya beres juga! Untuk akhir Ramadhan, Chapter lima kawan!
Semoga suka :D
Untuk beberapa percakapan, diambil dari Harry Potter and The Goblet of Fire halaman 309(1), 311-312(2-3), 327(4), dan halaman 341(5). Dan akhirnya! Mungkin banyak yang mirip, ampuni saya karena saya bingung. Mungkin Canon sampai sini saja, untuk selanjutnya diusahakan se-AU mungkin! :D
Oh iyaaa, ada voting nih, mnding kita jadikan:
1. Manipulative!Dumbledore dengan Dark!Harry dan ia bersama Voldemort;
2. Manipulative!Dumbledore dengan Neutral!Harry;
3. Dark!Dumbledore dengan Harry memihak Voldemort;
4. Light!Dumbledore dengan Neutral!Harry tapi ia tidak mau 'bermain' di bawah Dumbledore lagi;
5. Manipulative!Dumbledore dan Dark!Harry tapi ia tidak dengan siapa-siapa;
Hayooo, yang mana? Bingung saya juga, semua pilihan plot-nya beda semua, menurut kalian enakeun yang manaaa?
Ditunggu jawabannya!
And Review please! ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ
