- Last Tears -

Created : dvalitsa13

Staring : TVXQ

Disclaimer : Cerita di fanfic ini murni HASIL DARI OTAK SAYA!

TVXQ © SM Entertaintment and Themselves

MinJae pair for brotherhood!

Just enjoy for the reading

Mengandung unsur OOC, TYPO, dan HAL JELEK LAINNYA.

Jadi, kalau kalian tidak suka dengan semua unsur diatas….

Simple!

IF YOU DON'T LIKE IT, SO DON'T READ IT!

Saya tidak butuh FLAMER!

[ HAK CIPTA DI LINDUNGI TUHAN YANG MAHA ESA ]

x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x

- Jaejoong POV's -

Entah kenapa hati ini sakit,

Rasa sakitnya lebih dalam dari yang pernah aku dapatkan.

Kenapa?

Kenapa rasa sakit yang aku rasakan kali ini benar-benar membuatku seakan tak bisa bernafas?

Tetes demi tetes air mataku mulai turun tanpa bisa aku tahan. Entah karena hati ini terlalu sakit, atau memang aku yang terlalu lemah? Aku meremas ujung rok seragam sekolah yang tengah aku pakai untuk meredam semua perasaan yang tengah berkecamuk dalam dadaku.

Aku tak mau terlihat lemah dengan menangis seperti ini. Mungkin aku memang gemulai dan seperti yang ayah katakan-tidak normal, tapi aku tetaplah seorang laki-laki. Laki-laki, pantang untuk menangis bukan?

Perlahan jemariku yang kurus dan pucat terangkat untuk menghapus jejak air mata yang terlihat, dalam hati aku merutuki air mata yang telah terjatuh itu. Setelah meyakinkan bahwa jejak air mata itu tak akan terlihat oleh ibuku dan Changmin, aku kembali memasang wajah ceria seperti biasa agar mereka berdua tak curiga padaku. Dengan satu helaan nafas, aku mulai melangkah masuk kedalam rumah dengan sebuah senyum palsu.

" na wass-eo!" ucapku.

Tuhan…

Biar aku saja yang merasakan sakit ini.

Jangan kau berikan rasa sakit seperti ini, pada orang-orang yang aku cintai.

Jangan pernah…

Aku mohon padamu tuhan.

- End of Jaejoong POV's -

Wanita yang tengah memeluk Changmin itu sedikit terlonjak saat ia mendengar suara anak sulungnya yang ia pikir baru saja pulang dari sekolahnya. Dengan cepat ia melepaskan pelukannya pada Changmin dan segera menurunkan tubuh kecil anak bungsunya itu dari gendongannya. Setelahnya, wanita paruh baya itu segera melangkah keruangan depan untuk menyambut Jaejoong.

"Hom hwan-yeonghabnida, chagiya. Lelah ya? Kau pulang lebih sore dari biasanya, apa ada sesuatu di sekolah?" Tanya wanita itu pada Jaejoong. Yang ditanya hanya menjawab pertanyaan sang ibu dengan sebuah tatapan lembut.

"Gwenchanayo, chagiya? Ibu khawatir..."

Jaejoong menepuk-nepuk rok seragamnya yang sedikit berantakan, lalu tersenyum pada sang ibu. "Gwenchana, umma. Aku hanya sedikit lelah karena jam pelajaran tambahan tadi. Umma tidak usah mengkhawatirkan aku, aku baik-baik saja." Jelas Jaejoong, membuat sang ibu semakin tak yakin dengan keadaan puteranya itu.

Jaejoong berjalan kearah ruang tengah, disaat yang bersamaan pula matanya bertatapan dengan pandangan Changmin. Seketika itu juga, rasa sakit yang sedari tadi Jaejoong pendam malah menguar dengan bebas. Membuatnya lemas seketika, hingga membuat tubuh ramping Jaejoong jatuh bersimpuh dilantai.

Mata Changmin membelalak saat melihat sang kakak terjatuh. Ia ingin mendekat dan membantu sang kakak, namun entah kenapa ada rasa kesal di dalam hatinya pada sosok Jaejoong. Rasa benci menelusup dalam hatinya saat ia melihat sosok kakaknya, membuat ia memilih untuk pergi dari tempatnya dan meninggalkan sang kakak begitu saja tanpa melihat sosok itu terlebih dahulu.

Jaejoong membeku, mendapati sang adik tak memandangnya. Luka dan rasa sakit itu semakin gencar menyerang hati Jaejoong, membuatnya memukul-mukul dadanya untuk menghilangkan rasa sakit yang begitu terasa disana. Walaupun ia tahu hal itu sia-sia.

Saat langkah kaki Changmin semakin menjauh, Jaejoong dengan lirih berusaha memanggilnya. Berharap sang adik dapat mendengarnya dan kembali menatap dan menghampirinya. Dan yang paling penting adalah agar sosok Changmin kembali memeluknya seperti biasa dan menyayanginya lagi.

"Changmin,"

Panggilan Jaejoong sukses menghentikan langkah kaki sang adik. Kaki kecil milik Changmin diam ditempatnya berdiri, ia menunggu apa yang akan dikatakan oleh sang kakak. Ia berusaha mati-matian untuk menahan perasaannya saat itu, berusaha agar kebencian dan rasa sayang yang ia punya untuk sang kakak tak mengalahkannya dan membuatnya lemah.

"..."

Jaejoong terisak rasanya sangat sesak seakan tak bisa bernafas saat sang adik tak berbalik memandangnya. Dengan putus asa, Jaejoong mengucapkan sesuatu yang sudah terlalu sering ia minta pada orang lain.

"Maafkan aku, Changmin..." Kata Jaejoong lirih, entah pada siapa.

XOXOXOXOX

Teriakan dan makian kembali terdengar dari rumah sederhana milik keluarga Kim. Cacian kasar yang terdengar membuat telinga siapapun menjadi bising dan panas, namun apalah yang bisa orang perbuat jika memang masalah yang diributkan adalah masalah yang tidak sepele. Masalah dimana seseorang dianggap menjadi sebuah aib bagi keluarganya.

"Suamiku! Kau tak boleh egois, ini semua bukan kesalahan Jaejoong! Dia begitu karena kita juga yang salah mendidiknya. Apa kau lupa kalau dulu saat aku mengandung Jaejoong, kau sangat menginginkan anak perempuan?" Kata sang isteri pada suaminya, mencoba membela sang anak. Sang suami membelalakan matanya saat ia mendengar perkataan sang istri. Tangan sang suami kini sudah terangkat di udara, bersiap mendarat di pipi tanpa cela milik istrinya. Namun sebuah suara lirih membuat layangan tangan sang suami terhenti.

"Umma, appa! jangan bertengkar lagi. Aku mohon, jangan bertengkar lagi."

Suara Jaejoong yang begitu lirih terdengar oleh kedua orang tuanya, membuat sang ayah dan ibu menolehkan kepala mereka padanya. Tampak sosok Jaejoong yang tengah berdiri mematung sambil menundukkan wajahnya diambang pintu ruang keluarga. Sang ibu yang melihat keadaan anaknya yang miris itu tak sampai hati untuk menatap padanya.

Jaejoong masih menundukkan wajah sambil tangan kurusnya itu meremasi ujung gaun tidur yang ia kenakan, "maafkan aku appa, aku yang salah. Aku yang salah karena telah berlaku seperti ini, berlaku seperti perempuan. Berlaku menjijikkan, berlaku layaknya orang tak bermoral, berlaku seakan aku adalah orang yang menyalahi kodrat sendiri,"

Jaejoong menghentikan kata-katanya sesaat, mencoba untuk menahan rasa perih yang kembali bersarang di dadanya. Ia mencoba untuk merangkai kata-kata maaf yang sebenarnya tak perlu ia ucapkan di depan sang ayah yang begitu egois. "Aku ingin menjadi kebanggan appa, kebanggan umma, dan kebanggan Changmin. Tapi aku yang mempermalukan kalian semua dengan keadaan ku yang seperti ini. Aku minta maaf appa, umma. Mianhae, jeongmal mianhae..." Kata Jaejoong dangan nada miris. Tak hanya dengan ucapan, Jaejoong juga dengan perlahan berlutut ditempatnya berdiri. Sebuah kata-kata non verbal bahwa ia sedang memohon pada kedua orang tuanya, memohon agar mereka mau memaafkan dirinya.

Sang ayah sama sekali tak bergeming, dengan tak acuhnya ia memalingkan muka pada Jaejoong. Suasana semakin tak nyaman karena sang ayah adalah orang egois yang kasar serta suka bermain tangan.

Sang ibu akhirnya berlari mendekati putera sulungnya, dan dengan lembut merengkuh tubuh itu kedalam sebuah pelukan hangat. Sang ibu baru menyadari betapa rapuh puteranya saat berada dalam pelukannya seperti sekarang, ia benar- benar tak menyangka betapa kajam sosok yang selama ini menjadi suaminya dan ayah bagi anak-anaknya.

"Suamiku, Kenapa diam saja? Minta maaf pada Jaejoong, dia tidak bersalah! Semua ini salahku! Aku yang salah! Cepat minta maaf pada Jaejoong, SUAMIKU!" teriak sang ibu pada ayahnya yang masih diam di tempatnya.

"Umma, maafkan aku..." Jaejoong terus mengucapkan kata-kata itu, seakan- akan hanya kata-kata itulah yang bisa keluar dari pita suaranya. Sang ibu menggeleng, menyangkal semua perkataan maaf anaknya. Namun, semua sanggahan sang ibu membuat Jaejoong semakin merasakan nyeri dihatinya, tangisan yang begitu pilu dan menyayat hati siapapun akhirnya terdengar dari remaja berparas cantik itu.

"SUAMIKU! KAU KEJAM SEKALI, BAHKAN PADA DARAH DAGINGMU SENDIRI! AKU SUDAH BERKALI-KALI BILANG INI BUKAN SALAH JAEJOONG!" Akhirnya sang ibu berteriak pada sang ayah karena sikap laki-laki itu.

PLAKK!

Sang ibu membelalakan matanya saat ia sadar bukan dirinyalah yang terkena tamparan dari suaminya. Dan sadarlah ia bahwa tubuh kurus Jaejoong kembali melindunginya dari tamparan suaminya. Tubuh kurus Jaejoong-lah yang menjadi tamengnya, tubuh kurus Jaejoong-lah yang membuatnya tak merasakan sakit.

"JAEJOONG!"

"..."

Sang ibu menyambar tubuh Jaejoong yang lemas tak sadarkan diri akibat terkena tamparan sang ayah yang membuatnya terhuyung hingga membentur kaki meja. Mata bening wanita itu tampak berkaca-kaca, melihat betapa mirisnya keadaan Jaejoong. Matanya pun merefleksikan darah yang mengalir tanpa dosa dari sudut bibir anaknya yang robek akibat tamparan suaminya, serta darah segar yang muncul di pelipis anaknya itu karena berbenturan dengan kaki meja.

"LIHAT AKIBAT PERBUATANMU PADA ANAKMU SENDIRI! KAU TAK PUNYA HATI! KAU EGOIS, AKU MEMBENCI MU! AKU MEMBENCI MU!"

XOXOXOX

Tiga hari setelah kejadian itu, sang ayah berusaha menghindari putera sulungnya. Sebuah perasaan bersalah dan rasa sesal menelusup kedalam hatinya, membuatnya berfikir bahwa memang dirinya-lah yang terlalu egois dan keterlaluan.

Malam ini, saat langit gelap mulai menyelimuti hari. Lelaki dewasa itu tampak masih terjaga, ia memilih untuk merenung sejenak atas apa yang ia lakukan kepada anaknya.

Kakinya melangkah menuju sebuah bangku yang menghadap kearah jendela kamar, dengan segera ia mendudukkan dirinya diatas bangku itu. Sorot matanya yang tajam menatap langit kelam yang tampak dingin dan menakutkan, saat itu pula ia merasa langit malam bagaikan refleksi dirinya untuk putera sulungnya itu.

"Jaejoong..."

Hatinya sesak saat ia menyebut nama anknya. Entah karena apa, namun yang ia tahu nama itu membuatnya sesak. Sesak akan semua perasaan yang menumpuk di dalam dadanya, yang ia tahu dengan pasti bahwa rasa sesak itu muncul karena rasa bersalahnya yang menggunung pada putera sulungnya.

Teringat lagi kata-kata isterinya yang mengatakan bahwa keadaan Jaejoong adalah akibat kesalahannya dan sang isteri. Kesalahannya yang memaksa Jaejoong berlaku seperti perempuan, kesalahan isterinya yang malah melahirkan Jaejoong yang berjenis kelamin laki-laki, dan kesalahan isterinya jug lah yang tak bisa membuat Jaejoong di tatap olehnya.

Kembali rasa sesak dan rasa sakit muncul untuk menertawakan dirinya. Baru sekarang ia sadari betapa egois dirinya yang selalu beranggapan bahwa dialah yang di permalukan oleh keadaan, yang paling dirugikan oleh semuanya, yang selalu menanggung dosa dari kesalahan yang tak ia perbuat. Dan baru ia sadari juga bahwa sebenarnya dialah yang menjadikan Jaejoong seperti sekarang, baru ia sadari bahwa hanya dengan berpakaian seperti perempuan, Jaejoong mendapatkan sebuah perhatian dan kasih sayang darinya. Dan baru ia sadari juga paksaan akan kehendaknya malah menghancurkan sosok Jaejoong yang tak bersalah. Yang malah menderita karena ke egoisannya.

Dengan putus asa, laki-laki itu menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Hatinya mencelos saat sadar bahwa telapak tangan itu pernah menorehkan luka fisik pada sosok rapuh Jaejoong.

Kali ini penyesalan muncul dengan angkuh, mencoba menenggelamkannya dalam rasa sesal yang terlambat ia sadari, yang harusnya ia sadari sejak lama. Namun, ia bersyukur karena akhirnya ia sadar akan semua perbuatannya. Dan sebuah tekad ia tanamkan dihatinya yang sekeras batu itu, ia akan merubah semuanya. Merubah hal yang ia anggap memalukan dan menjijikkan, bisa menjadi sebuah kebanggaan untuk siapa saja.

'Jaejoong, appa berjanji untuk itu. Appa berjanji...'

XOXOXOX

Pagi kembali datang dan menyapa makhluk-makluk hidup yang ada dibumi. Keadaan kaku dalam keluarga kecil Kim mulai surut, termakan waktu seperti biasa. Namun tidak untuk sebuah luka batin yang di derita Jaejoong. Luka itu tidak akan pernah hilang ataupun sembuh seiring berjalannya waktu.

Sosok Jaejoong yang memakai stelan blouse dan rok selutut muncul dari kamarnya. Dengan langkah yang sangat pelan, Jaejoong berjalan menuju ruang makan keluarga. Hari minggu seperti ini memang biasa dipakai keluarganya untuk sarapan pagi bersama, namun ada satu hal yang membuatnya bingung. Pagi ini begitu berbeda untuk Jaejoong karena sang ayah mengizinkannya sarapan satu meja dengannya, hal itu membuat Jaejoong berdebar-debar katakutan. Ia takut sang ayah akan mencaci-maki dirinya lagi, ia takut akan tersakiti lagi.

"Jaejoong, ayo cepat! Appa dan Changmin menunggu loh..." suara sang ibu menyadarkannya dari alam pikirannya.

Jaejoong menghela nafas berat, tiba-tiba sakit kepala yang ia rasakan selama tiga hari ini kembali menyerangnya. Jaejoong sedikit kehilangan fokus pandangnya, namun cepat-cepat ia menggelengkan kepalanya untuk mengusir rasa sakit dan pusing itu. Dengan langkah perlahan ia berjalan menuju ruang makan dimana semua keluarganya menunggu.

"Duduklah Jaejoong, ibu akan mengambilkan mangkuk dan nasi." Perintah sang ibu. Jaejoong tersenyum seraya berjalan mengikuti ibunya kearah dapur, "mungkin lebih baik aku membantu ibu saja." Kata Jaejoong pelan.

Sesampainya di dapur, tiba-tiba Jaejoong memeluk sang ibu dari belakang. Melingkarkan tangannya dipinggang wanita itu, mencoba mencari kehangatan yang selalu membuatnya merasa nyaman.

Sang ibu terlonjak mendapat sebuah pelukan tiba-tiba dari puteranya itu. Namun ia memutuskan untuk menerima saja perlakuan anaknya itu, ia tak pernah ia melihat Jaejoong bersikap manja padanya. Dengan lembut, ia mengelus tangan sang anak yang beristirahat di pingganya.

"Kau kenapa?"

"Aku sayang umma, aku sayang umma..." lirih Jaejoong berkali-kali.

Sang ibu merasa ada hal aneh dengan Jaejoong, tiba-tiba saja sebuah perasaan tak enak menelusup ke hatinya. Membuatnya gelisah akan perasaannya sendiri, dalam hati ia berdoa agar perasaan tak enak itu tak pernah jadi kenyataan.

Sang ibu kembali mengelus tangan anaknya yang masih mengunci pinggangnya, "Jaejoong? Kau baik-baik saja kan?"

"..."

"Jaejoong?"

Saat itu pula lingkaran tangan Jaejoong pada pinggang sang ibu melemah dan terlepas seiring dengan jatuhnya tubuh Jaejoong kelantai dapur. Tampak darah segar mengalir dari hidung Jaejoong, mambuat sang ibu berteriak histeris.

"JAEJOONG!"

= T B C =

Uhuhuhuhu~

Saya paling ga tahan pas nulis chapter ini.

Baik, tanpa basa-basi saya haturkan...

Mind to leave me some reviews?

Kekekeke...x3