- Last Tears -
Created : dvalitsa13
Staring : TVXQ
Disclaimer : Cerita di fanfic ini murni HASIL DARI OTAK SAYA!
TVXQ © SM Entertaintment and Themselves
MinJae pair for brotherhood!
Just enjoy for the reading
Mengandung unsur OOC, TYPO, dan HAL JELEK LAINNYA.
Jadi, kalau kalian tidak suka dengan semua unsur diatas….
Simple!
IF YOU DON'T LIKE IT, SO DON'T READ IT!
Saya tidak butuh FLAMER!
[ HAK CIPTA DI LINDUNGI TUHAN YANG MAHA ESA ]
x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x
Apa yang paling menyedihkan saat kau melihat orang yang kau sayangi tergeletak tak berdaya di ranjang rumah sakit dengan alat-alat penopang hidup yang kau tak pernah tahu apa namanya? Alat-alat yang membuat sosok yang kau sayangi itu bisa terus hidup meski entah sosok yang ditopang hidupnya itu masih mau melanjutkan hidupnya atau tidak.
Dan saat itulah sebuah penyesalan bertumpuk, saat sebuah kenyataan pahit yang selalu tersembunyi terkuak. Disaat semuanya menjadi berkali-kali lebih sakit dari luka manapun yang pernah ada di dunia.
Changmin memandang sang kakak yang tampak tertidur dengan damai seakan keadaan seperti inilah yang diharapkan oleh kakaknya. Mata bening polos milik Changmin menatapi tubuh lemah Jaejoong dengan intens, tangan kecilnya meraih jemari kurus Jaejoong yang entah kenapa semakin ringkih saja dalan genggamannya.
"Hyung, bangunlah. Buka matamu untukku Hyung, aku mohon. Aku mohon bangun, dan peluk aku lagi. Hyung..."
Bocah itu terus saja mengucap permohonan yang sama untuk sang kakak yang masih tenang dalam alam bawah sadarnya. Namun Changmin tak peduli, ia yakin dimanapun jiwa sang kakak berada, permohonannya akan terdengar. Miris? Itulah sebuah kasih yang murni. Changmin tak peduli Jaejoong akan mendengarnya atau tidak, yang ia mau hanyalah Jaejoong membuka matanya. Membuka lagi mata yang tertutup itu dan memperlihatkan lagi pada dunia sepasang bola mata bak batu obsidian terindah yang pernah menghias dunia, yang selalu Changmin kagumi sebagai mata terindah. Walau mata itu tak pernah memancarkan kebahagiaan saat ia terbuka, namun Changmin yakin suatu saat mata itu akan bersinar karena kebahagian. Bukan mata yang selalu basah oleh air mata, dan redup karena luka.
Changmin menggenggam lebih erat jemari sang Jaejoong, lalu mengistirahatkan wajahnya diatas telapak tangan sang kakak. Setetes air mata yang mengalir dari matanya membasahi telapak tangan kurus milik sosok yang tengah tertidur itu, air mata yang entah kenapa tak bisa Changmin tahan untuk berhenti mengalir.
"Hyung, jika hyung bangun... aku berjanji akan menjaga hyung. Aku akan menghentikan air mata hyung, membuat hyung bahagia dan membuat mata indah hyung bersinra. Aku berjanji hyung... aku berjanji."
XOXOXOX
1 bulan kemudian...
"Jaejoong! Kau sadar 'nak? Suamiku, Jaejoong sudah sadar. Cepat panggil dokter!" teriakan sang ibu membuat Changmin terbangun dari tidurnya kala itu. Membuatnya dengan segera berlari menuju ranjang kakaknya, dan melonjak-lonjak kegirangan.
Changmin mengulurkan tangannya, "Hyung! Hyung udah bangun? Hyung udah bangun, yeeeiiiyyy! Ayo main bola denganku." Ujar Changmin antusias, membuat sang kakak tersenyum tipis melihat tingkah polosnya itu. Melihat senyuman terhias diwajah pucat Jaejoong, Changmin semakin kegirangan. Ia melonjak-lonjak senang, dan bersenandung asal.
Melihat betapa gembira anak bungsunya itu, sang ibu menepuk pelan kepala Changmin, "Hyung belum boleh main bola sayang. Nanti ya kalau Hyung sudah sehat, Changmin boleh deh main bola sepuasnya sama Hyung. Arraseo?" jelas sang ibu. Changmin mengangguk penuh semangat mendengar penjelasan sang ibu, dan tersenyum semakin lebar untuk itu.
Tak lama terdengar langkah kaki mendekat kearah kamar, dan saat itulah para dokter yang bertanggung jawab akan Jaejoong datang. Para dokter dengan sigap segera memerikas keadaan Jaejoong, dibantu oleh para suster yang cekatan. Salah seorang dokter meminta agar keluarga kecil Kim itu keluar selama para dokter dan suster memeriksa keadaan Jaejoong.
Sang ayah dan ibu tak dapat menyembunyikan rona bahagia pada wajah mereka, begitu juga dengan bocah kecil yang sejak tadi bersenandung riang semenjak ia tahu kakaknya sudah terbangun dari tidur panjangnya. Mereka semua tak pernah tahu apa yang akan terjadi kedepan, mereka tak tahu apa yang mereka harapkan bisa saja tak sesuai dengan kenyataan. Sampai sebuah kalimat, menggugurkan semua asa dan harapan yang ada...
"Tuan..." panggil salah seorang dokter pada tuan Kim. Membuat sosok lelaki yang tengah duduk didepan kamar rawat anaknya bangkit, dan dengan antusiasme tinggi menghampiri dokter yang memanggilnya. Sebuah binar harapan terpancar dari wajah lelaki dewasa itu untuk sang anak yang tengah berada dalam pemerikasaan didalam kamar rawatnya.
"Bagaimana dokter? Anak saya akan sembuh kan?" tanya Tuan Kim.
Sang dokter menunduk, membuat lelaki itu bingung. Dengan kalap, ia mengguncang tubuh sang dokter. Namun, sang dokter tak dapat berkata apa-apa. Ia tak tega menghancurkan semua harapan yang terpendar dari mata laki-laki paruh baya itu.
"Dokter, bagaimana keadaan anak kami?" kini, suara lembut seorang wanita yang menyela. Sang dokter begitu tertekan dengan pertanyaan dua orang tua yang ada dihadapannya, "maaf tuan-nyonya. Kanker yang menjalar dikepala anak anda sudah terlalu ganas. Bahkan kemoterapi tak akan membantu, lebih baik... anda merelakan saja jika anak anda harus pergi. Kita hanya tinggal menunggu waktu dari Jaejoong-sshi..."
"ANIO! ANAKKU AKAN HIDUP SAMPAI DIA BISA MENGGAPAI CITA-CITANYA! ANAKKU AKAN HIDUP SAMPAI DIA MENDAPATKAN KEBAHAGIAANNYA! KAU BERCANDA DOKTER. KAU BERCANDA!" sang ibu pun histeris, dan melemas di pelukan sang suami.
XOXOXOX
Malam itu sepi, teramat sepi sampai-sampai Changmin merasa aneh dengan semua rasa sepi itu. Ia pun bangkit dari sofa tempatnya tidur kala menemani sang kakak dirumah sakit, dengan perlahan ia berjalan mendekati ranjang kakaknya. Dengan susah payah, bocah itu naik keatas ranjang sang kakak. Pelan-pelan tanpa mau membangunkan sang kakak, Changmin masuk kedalam selimut yang melindungi tubuh ringkih kakaknya dari udara dingin. Bocah itu merebahkan tubuh kecilnya disamping tubuh Jaejoong, setelahnya cukup nyaman... ia melingkarkan tangan kecilnya keleher sang kakak.
"Hyung, cepat sembuh ya..." Changmin bangkit sejenak hanya untuk memberikan kecupan lembut dikening Jaejoong.
Kecupan dan kata-kata Changmin ternyata membuat Jaejoong terbangun dari tidurnya, pemuda berwajah cantik itu sontak menoleh kesamping. Terlihat Changmin tengah menyengir kaku, tampak bocah itu merasa bersalah pada sang kakak karena telah menggangu tidurnya.
"Mianhae Hyung, aku berisik. Hyung jadi kebangun deh..."
Jaejoong menggeleng, lalu tersenyum samar pada Changmin. Membuat bocah itu terpesona akan senyum kakaknya, yang walaupun samar tetap terlihat indah dimatanya. "Tidak kok, Hyung senang Changmin berisik. Jadi Hyung ga kesepian..."
"ah, Hyung..." Changmin pun tampak malu-malu mendengar ucapan kakaknya.
"..."
"..."
Jaejoong memejamkan matanya kuat-kuat, lalu membuka kembali matanya. "Changmin, boleh Hyung meminta sesuatu darimu?"
Changmin mengerjap-ngerjapkan mata beningnya, tak mengerti. Namun, ia mengangguk saja seakan ia mengerti apa maksud dari ucapan kakaknya. Jaejoong memandangi langit-langit kamar rawatnya, "bisakah kau menjadi kabanggan Appa dan Umma demi Hyung?"
"Ummm~~ iya! Aku akan menjadi kebanggan Appa, Umma dan juga Hyung! Changmin akan membuat kalian bangga!" seru bocah itu sambil mengepalkan tangannya.
Jaejoong kembali tersenyum mendengar perkataan polos sang adik, "bagus, dan satu hal lagi yang Hyung minta padamu. Maafkan Hyung yang telah membuatmu malu. Kau pasti menderita memiliki Hyung sepertiku. Maafkan Hyung ya? Hyung tidak bisa menjadi kebanggaanmu"
Tak ada jawaban. Changmin tak bisa menjawab apa-apa, bocah itu malah semakin mengeratkan pelukannya pada leher Jaejoong, mengisyaratkan bahwa ia tak suka Jaejoong meminta maaf lagi padanya. Jaejoong memejamkan matanya, mencoba merasakan kehangatan yang dialirkan oleh tangan kecil Changmin padanya. Changmin sendiri kini tengah menatapi wajah kakaknya yang tengah memejamkan matanya, saat itu Changmin melihat sebulir air mata jatuh dari mata kakaknya yang tertutup.
"Hyug?"
"Ya?" jawab Jaejoong tanpa membuka matanya.
Changmin menempelkan tangan kecilnya pada kelopak mata Jaejoong yang tertutup, mencoba menghapus jejak air mata dari sana. "Jangan menangis lagi, hyung kan sudah janji gak akan nangis lagi. Kalau hyung nangis, aku jadi ikut nangis."
"..."
"..."
Jaejoong tersenyum lagi, senyum samar yang akhir-akhir ini sering menghias wajahnya. "Iya, hyung tidak akan menangis lagi. Ini mungkin air mata hyung yang terakhir, setelah ini hyung akan terus tertawa bersama dunia. Kau suka?"
"IYA!" jawab Changmin semangat. Bocah itu merebahkan kepalanya tepat diatas dada sang kakak, terdengar olehnya detakan lemah dari jantung sang kakak. Membuat air matanya yang semakin susah untuk ia tahan agar tidakmengalir.
"Changmin? Bisa kau berjanji?"
Changmin menganggukkan kepalanya yang masih menempel di dada Jaejoong. Jaejoong menghela nafas, "jadilah laki-laki yang hebat. Buatlah orang-orang menatap mu. Jangan pernah menjadi seperti hyung, kau bisa?"
"Baik! Aku berjanji hyung..."
Jaejoong mengangkat tangan kanannya yang tertancap selang infus, lalu meletakkannya keatas kepala Changmin, membelainya dengan lembut. "Tidurlah.."
"Nae, Jumuseyo Hyung." Changmin pun memejamkan matanya.
Yajin bahwa sang adik sudah tertidur, Jaejoong pun menutup matanya perlahan, "Jumuseyo , geuligo jal nae dongsaeng..."
Saat itulah Jaejoong menutup mata indahnya untuk waktu yang tak dapat dihitung lamanya. Detakan jantungnya semakin melambat, dan perlahan hilang. Nafasnya yang pelan, kini tak terasa lagi dan tubuhnya yang dingin kini semakin dingin. Jaejoong telah pergi, menemui kebahagiaannya yang abadi.
"Hyung...!" Changmin yang belum tidur pun perlahan membuka matanya dan terisak, ia tahu bahwa kakaknya telah pergi, detakan lemah di dada sang kakak tak terdengar lagi. Sosok yang sangat ia sayangi, telah bahagia...
END OF FLASHBACK –
Lelaki dewasa berpakaian toga itu tampak menahan emosi yang membuncah dari dalam hatinya. Changmin memejamkan matanya kuat-kuat. Ia dapat merasakan bahwa kini sang kakak dapat melihatnya dari tempat diatas langit sana, ia dapat merasakan kebanggan kakaknya walaupun tubuh sang kakak tak ada didekatnya.
Changmin kembali membuka matanya, mata beningnya yang merah menahan tangis kini menatapi semua hadirin yang ada. "Kalian semua tahu? Hyung-ku adalah orang paling hebat di dunia! Dialah orang yang mengajariku untuk terus bertahan walaupun dunia menentang dirimu. Dan dialah yang mengajarkanku untuk berusaha agar orang-orang menatapku engan cara menjadi diriku sendiri. Bukan dengan menjadi sesuatu yang palsu yang malah menghancurkan diri kita. Membut kita terjebak dalam situasi yang membuat kita susah untuk keluar dari sana,"
Changmin menghela nafas, "dan saat itu telah tiba. Aku, telah mendapatkan pengakuan dari dunia, dengan caraku sendiri. Terima kasih, Hyung..."
Riuh tepuk tangan membahana dalam ruangan itu. Membuat Changmin sekali lagi meneteskan air mata yang pada akhirnya tak sanggup ia tahan. Dengan senyuman lebar, ia mengangkat piagam penghargaannya tinggi-tinggi ke udara.
'Hyung... inilah pengakuanku untuk mu. Inilah kebanggaanku untu mu. Inilah, jalan eksistensimu yang tak pernah kau rasa. Terima kasih, Hyung. Terima kasih...'
XOXOXOXOX
(Jaejoong Journal...)
Kadang aku lelah menjadi diriku saat ini,
Lelah berpura-pura...
Aku hanyalah korban keadaan bukan?
Aku hanya ingin,
Ayah menatapku. Menatapku dan memberikan pelukannya padaku lagi...
Aku hanya ingin ia mengakui keberadaan ku,
Walau aku harus menyalahi kodrat ku yang sesungguhnya.
Aku rela,
Asal ayah kembali menatapku...
Kembali tersenyum padaku...
Kembali memelukku...
Dan berkata...
"Kaulah anak ku..."
= THE END =
