Terima kasih buat Ayakomezza-san dan Fenesha Neshia-san atas reviewnya, saya senang loh *w*. Untuk tulisan yang bold itu sebenarnya saya juga ngak tahu kenapa bisa jadi seperti itu, padahal pas masukinnya ngak bold loh ... Untuk chapter kedua ini saya coba masukin dengan cara yang beda, semoga ngak bold lagi . Terima kasih atas masukan-masukannnya, saya akan mencoba untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan tersebut kedepannya. Dan akhir kata saya ucapkan "Jangan bosen-bosen ngereview cerita saya ya *w*."


Disclaimer: Inazuma Eleven © Level-5

Rated: K+

Genre: Friendship, Fantasy, Hurt/Comfort, Family

Characters: Mamoru, Hiroto, Aki,


The Change

Chapter Two


"Endou-san, bolehkah aku minta pertolonganmu?" kata Toramaru, sedangkan Endo masih asik memasukkan barang-barang dagangannya kedalam kantong plasik yang sekarang setengahnya telah terisi penuh.

"Boleh, memangnya kamu mau minta tolong apa Toramaru?" katanya namun masih tetap memasukkan barang-barang dagangannya kedalam kantong plastik.

"Besok malam, Kerajaan Aelia akan mengadakan pesta dengan kerajaan lain. Karena aku akan sibuk di dapur besok seharian, sepertinya aku tidak akan sempat untuk membeli bahan-bahan yang kuperlukan," kata Toramaru.

"Lalu, apa yang bisa kubantu?" tanya Mamoru yang masih sibuk dengan pekerjaannya. Sekarang dia beralih ke tomat-tomat yang ada didepannya dan meraup beberapa buah kemudian memasukannya ke dalam kantong plastik.

"Bisa tidak besok pagi-pagi sekali kau mengantarkan semua barang daganganmu ke dalam istana?"

"He? tapi bagaimana caranya? Memangnya orang biasa sepertiku bisa masuk kedalam istana?" tanya Mamoru dan sekarang dia berhenti dan menatap Toramaru dengan bingung.

"Tenang saja Endou-san, aku akan titip pesan kepada penjaga gerbang istana bahwa temanku akan datang untuk membawa bahan-bahan yang diperlukan utuk pesta istana," kata Toramaru sambil tersenyum kearah Mamoru.

"Oh, baiklah kalau begitu. Aku juga pengen tahu di dalam istana itu seperti apa sih," kata Mamoru dengan senyum yang mengembang di mulutnya. Diapaun kemudian mengambil beberapa buah wortel "Yosh! beres, semuanya 500yen ya!" kata Mamoru sambil cengar-cengir dan menyerahkan sekantong plastik besar yang penuh dengan sayur-sayur dan buah-buahan dagangannya. Hal tersebut menyebabkan hampir semua barang dagangan Mamoru berpindah ke dalam kantong plastik tersebut.

"Terima kasih Endou-san, ini uangnya," kata Toramaru sambil menyerahkan sejumlah uang ke Mamoru.

"Sama-sama Toramaru," kata Mamoru mengambil uang tesebut dengan senyum yang masih menghiasi wajahnya.

"Jangan lupa besok pagi ya, Endou-san!" teriak Toramoru dari kejahuan sambil melambaikan sebelah tangannya, sedangkan sebelah tangannya lagi sedang menggendong kantong plastik yang sangat besar.

"Iya!" jawab Mamoru sambil melambaikan kedua tangannya kearah Toramaru.

Setelah hari mulai sore, Mamoru pun segera membereskan barang dagangannya dan bersiap-siap untuk pulang.

"Sudah mau pulang ya Mamo-chan?" kata seorang ibu penjual ikan.

"Iya, Bi. Kalau pulang telat, nanti bisa-bisa dimarahin nee-san," kata Mamoru sambil membayangkan Aki yang sedang mengomelinya karena sering terlambat pulang.

"Haha, titip salam buat Aki-chan ya Mamoru," kata ibu itu.

"Um!" kata Mamoru sambil menganggukan kepalanya dan kemudian tersenyum dengan lebar "Aku pulang dulu ya Bi, semua. Dadah," kata Mamoru sambil berjalan menjahui pasar.

"Hati-hati dijalan ya Mamo-chan!" kata seorang bapak penjual ayam.

Mamoru pun membalikan badannya dan tersenyum lebar kemudian melambaikan sebelah tangannya.

"Anak itu selalu bersemangat ya. Melihatnya saja sepertinya aku kembali muda," kata seorang ibu penjual kue.

"Semoga anak itu tidak pernah kehilangan keceriannya dalam menghadapi masalah apapun…" kata ibu penjual ikan.


Seperti biasa Mamorupun berhenti sejenak untuk menemui Hiroto ditempat pertama kali mereka bertemu. Tampak Hiroto sedang berbaring diatas rerumputan yang ada dengan mata yang tertutup. Timbul niat Mamoru untuk sedikit berbuat iseng.

"Hi – Ro – To" kata Mamoru yang wajahnya sudah berada sangat dekat dengan wajah pria berambut merah itu.

Mendengar namanya dipanggil, secara perlahan-lahan Hirotopun membuka matanya. Diapun hanya terdiam dengan kondisi yang ada sekarang. Tidak berapa lama kemudian diapun sweetdrop "Ano, Mamoru apa wajah kita nggak terlalu dekat ya?"

"Uh, reaksimu nggak asik Hiroto!" kata Mamoru sambil menjauhkan wajahnya dan kemudian duduk disamping Hiroto sambil mengembungkan kedua pipinya.

"Ma, maaf Mamoru," kata Hiroto dengan wajah yang sedikit merasa bersalah.

Melihat reaksi temannya itu, Mamoru hanya bisa tertawa terbahak-bahak "Aku hanya bercanda Hiroto, jangan pasang wajah seperti itu ah!" kata Mamoru yang sekarang memegang perutnya karena tawanya tersebut membuat perutnya sakit. Yang ditertawakanpun hanya bisa cengar-cengir tidak tahu harus bersikap apa.

Tak beberapa lama kemudian, Mamorupun menarik napas untuk menenangkan dirinya. Setelah sedikit tenang, diapun menatap ke arah langit "Hiroto, besok aku tidak bisa menemuimu. Ada pekerjaan yang harus kulakukan dari pagi sampai larut malam."

"Kebetulan, aku juga mau bilang klo besok aku tidak bisa menemui Mamoru, karena ada urusan keluarga," kata Hiroto sambil menatap langit-langit juga.

"Wah, kebetulan sekali ya!" kata Mamoru yang kemudian tersenyum dengan lebar kearah Hiroto. Hirotopun membalas senyuman Mamoru dengan senyuman hangat miliknya.

Merekapun bercakap-cakap seperti biasanya. Tak terasa haripun sudah mulai gelap, tanda bahwa mereka harus pulang ke rumah mereka masing-masing. Setelah mengucapkan salam perpisahan, merekapun berjalan ke arah yang berlawanan.

'Aneh, kenapa Hiroto berjalan kearah yang berlawanan dengan kota ya? Apakah dia tinggal didekat sini? Memangnya ada, ya orang yang tinggal daerah dekat sini?' tanya Mamoru dalam hati. Sebenarnya banyak sekali yang belum diketahui Mamoru tentang Hiroto dan itu membuat hatinya sedih karena Hiroto belum percaya padanya, padahal pertemanan mereka sudah berjalan cukup lama. Memang tidak sampai tahunnan, tetapi Mamoru sudah menceritakan hampir seluruh kehidupannya kepada Hiroto, namun Mamoru sendiri tidak tahu apa-apa mengenai temannya itu. Setelah terdiam beberapa saat, Mamorupun melanjutkan perjalanannya ke rumah.


"Aku pulang," kata Mamoru sambil membuka pintu dengan sebelah tangannya.

"Selamat datang Mamo-chan. Bagaimana dagangan hari ini?" tanya Aki yang kemudian menyambut kepulangan adiknya itu.

"Laku keras seperti biasanya kok nee-san," kata Mamoru sambil tersenyum, akan tetapi Aki tahu bahwa adiknya itu sedang memiliki masalah.

"Loh kalau begitu kenapa wajahmu terlihat sedang ada masalah?" tanya Aki yang khawatir dengan keadaan Mamoru.

"Ahahaha… aku memang tidak bisa menyembunyikan apapun dari nee-san, ya?" kata Mamoru, "Ya, sebenarnya aku sedang berpikir apa aku ini orang yang tidak bisa dipercaya ya?"

"Loh, kenapa kamu bisa berpikiran seperti itu Mamo-chan?"

"Yah… aku pikir sepertinya Hiroto tidak mempercayaiku, padahal kupikir kami sudah berteman baik, tapi sampai sekarangpun ia masih tidak mau memberitahukan apa-apa mengenai dirinya sendiri padaku" jawab Mamoru dengan wajah yang sedikit tertunduk.

"Kupikir Hiroto tidak akan berpikir seperti itu terhadapmu, Mamo-chan," kata Aki sembari memegang bahu adiknya itu, "Kupikir Hiroto memiliki alasan lain mengapa ia tidak mau menceritakan mengenai dirinya sendiri. Mungkin dia memiliki suatu masalah di keluarganya sehingga dia malu untuk menceritakannya padamu. Tetapi tenang saja Mamo-chan… aku yakin suatu saat Hiroto pasti akan menceritakannya padamu, karena itu Mamo-chan harus sabar dan terus berteman baik dengan Hiroto…" lanjut Aki kali ini dengan senyum lembut di bibirnya.

"Ya, kau benar nee-san! Mungkin memang karena itu ya?" balas Endou sekarang dengan senyum lebar kembali terlukis di wajahnya.

Melihat itu Aki pun menjadi tenang, lalu sambil dengan senyuman manisnya Aki berkata "Baguslah kalau begitu, sekarang ayo kita makan aku yakin kamu pasti sudah lapar sekarang"


Pagi ini Mamoru bangun pagi sekali, karena pagi ini dia harus pergi ke istana untuk memberikan sayur-sayuran yang dipesan oleh Toramaru kemarin. Setelah selesai memetik buah-buahan dan sayur-sayuran segar yang dipesan oleh teman kecilnya itu dan berpamitan denga Aki, Mamorupun pergi ke istana.

Selama perjalanan dia tidak dapat menahan rasa penasarannya karena ini adalah pertama kalinya ia dapat masuk ke dalam istana dan mungkin juga ini adalah satu-satunya kesempatan Mamoru untuk dapat melihat istana dari dalam, karena bagaimanapun Mamoru hanyalah keluarga petani biasa. Hari inipun dia sengaja bangun pagi-pagi sekali untuk dapat melihat-lihat istana setelah ia menyelesaikan kewajibannya di sana.

Sesampainya di depan istana…

"Wuuuuuaaaaahhh! Besar sekali! Aku tidak pernah melihat bangunan sebesar ini!" teriak Mamoru di depan gerbang istana dengan mata yang berbinar-binar, "di dalamnya pasti lebih hebat lagi…."

Tetapi belum sempat ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam istana, dua orang penjaga istana langung mengeluarkan pedangnya dan mengarahkan pedang tersebut tepat di samping leher Mamoru yang membuat Mamoru hanya bisa menelan ludahnya dan mengeluarkan keringat dingin di pipinya.

"Ano… A-aku ke…" sebelum Mamoru sempat menyelesaikan kalimatnya, salah satu dari penjaga segera memotongnya, "Siapa kamu? Apa maumu ke sini anak kecil?" tanya penjaga tersebut dengan nada yang mengerikan.

"Eh… itu… aku ke sini atas permintaan dari Chef Toramaru untuk mengantarkan bahan-bahan yang akan dipakai untuk pesta hari ini…" jawab Mamoru terbata-bata.

"Oh, jadi kamu salah satu pedagang yang dimintai tolong oleh koki kerajaan untuk mengantarkan bahan untuk pesta hari ini ya? Ya, sudah kalau begitu kamu boleh masuk!" kata salah satu pengawal kerajaan itu, yang kemudian memasukan pedang mereka kembali ke sarungnya.

'Phew… menakutkan sekali kedua penjaga itu' batin Mamoru sambil melangkahkan kakinya masuk ke dalam istana.

Tapi rasa takut Mamoru itu pun berubah ketika ia melihat lapangan luas dimana banyak sekali pedagang-pedagang yang sedang membawa turun bahan-bahan makanan dari kereta-kereta milik mereka. 'Hebaaatttt' pikir Mamoru 'Banyak sekali pedagang disini, pasti pesta kali ini merupakan pesta yang sangat besar.'

"Endou-san!" tiba-tiba dari kejahuan Mamoru dapat mendengar suara orang yang meneriaki namanya. Mamorupun mencari tahu asal suara tersebut. Tidak beberapa lama kemudian, tampak sosok orang yang sangat dikenalnya sedang berlari kearahnya.

"Toramaru!" kata Mamoru. Toramaru pun melambaikan sebelah tangannya sambil berlari ke arah Mamoru.

Tak beberapa lama kemudian Toramarupun sudah berada didepan Mamoru. Dia pun berhenti sejenak untuk menormalkan pernapasannya, kemudian menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya kemudian tersenyum kearah Mamoru.

"Selamat datang di istana," kata Toramaru. Mamoru pun membalasnya dengan senyum lebaranya.

"Ayo kita bergegas ke dapur," katanya lagi sambil menarik tangan Mamoru.

Sesampainya didapur istana...

"Ini dapur istana. Bangunannya terpisah dari istana utama. Seperti yang bisa kamu lihat sendiri, bangunan ini berada dibelakang istana utama. Semua makanan yang dihidangkan di istana berasal dari sini," jelas Toramaru kepada Mamoru.

Mamoru hanya bisa ber oo ria mendengar penjelasan Toramaoru, entah dia mengerti atau tidak dengan penjelasan tersebut karena sekarang pikiran dan pandangannya hanya pada ruangan besar yang ada dihadapannya.

Setelah meletakan semua barang dagangannya ditempat yang telah diberitahukan oleh Toramaru. Mamorupun memutuskan untuk berkeliling istana 'Mumpung ada kesempatan begini, liat-liat sebentar nggak masalahkan?' pikir Mamoru dalam hati. Ia pun mulai menjelajahi Istana Aliea tersebut dan sesekali terkagum-kagum dengan hal-hal yang tidak pernah dia ketahui sebelumnya.

Mamorupun melangkahkan kakinya ke sebuah koridor dimana dari sana dapat terlihat sebuah taman besar yang ditumbuhi berbagai macam bunga dan ditengah taman itu juga dapat dilihat sebuah air mancur besar dan juga terdapat beberapa gazebo yang tersebar di taman tersebut. Adapula jalan setapak yang terbuat dari batu yang menghubungkan koridor dengan beberap gazebo di taman tersebut.

'Wah… hebat sekali bisa ada taman sebesar ini di dalam sebuah bangunan… istana itu memang hebat' gumam Mamoru dan diapun segera mengarah ke taman tersebut untuk melihat-lihat dan terkagum-kagum dan secara tidak sengaja pandangan mata Mamoru pun tertuju ke arah koridor di sebrang taman tersebut. Terlihat seorang lelaki berambut merah yang perawakannya mirip dengan orang yang sangat dekat dengannya. 'Hiroto…' tiba-tiba dibenak Mamoru muncul nama temannya itu.

Diapun mengendap-endap untuk mencari tahu identitas sebeneranya dari pria tersebut, karena hatinya sangat yakin bahwa itu adalah sahabatnya. Namun tiba-tiba "Hai! Kamu disana! Apa yang sedang kau lakukan!" seru seorang penjaga yang melihat tingkah laku Mamoru yang mencurigakan tersebut.

To Be Continued….