Terima kasih untuk masukan-masukannya, saya akan mencoba untuk memperbaikinya *w*. Chapter 3 update! Hope you like it, hehe. Dan jangan lupa, reviewnya ditunggu *w*.


Disclaimer: Inazuma Eleven © Level-5

Rated: K+

Genre:Friendship, Fantasy, Hurt/Comfort, Family

Characters: Mamoru, Hiroto, Aki, Toramaru, Raiden


The Change

Chapter Three


"Hai! Kamu disana! Apa yang sedang kau lakukan!" seru seorang penjaga yang melihat tingkah laku Mamoru yang mencurigakan tersebut.

"A-a-aku hanya…" kata Mamoru sambil tergagap sambil bergantian menatap pria berambut merah itu dan penjaga yang sedang ada didepannya.

"Siapa yang menyuruhmu untuk memata-matai Pangeran Gran!" kata penjaga tersebut sambil berteriak.

"Ti tidak bu bu…"

"Jawab!"

"Ada apa ini?" Tiba-tiba terdengar suara dari belakang Mamoru, sang penjaga pun kemudian membungkukkan badannya ke arah Mamoru, akan tetapi Mamoru tahu bukan kepadanyalah penjaga tersebut bersikap hormat seperti itu, tetapi kepada orang yang sedang berada di belakangnya saat ini yakni orang yang dari tadi dia ikuti secara diam-diam.

"Yang mulia Pangeran Gran, semoga Anda panjang umur!" kata penjaga tersebut.

"Apa yang terjadi disini?" tanya Gran kepada penjaga tersebut.

"Maaf yang mulia! Orang ini dari tadi secara diam-diam mengikuti yang mulia," kata penjaga tersebut yang masih membungkuk.

"Ada keperluan apa mencari saya?" tanya Gran kepada Mamoru.

Momoru pun kemudian membalikkan badannya kearah Gran dan betapa terkejutnya dia karena kali ini dia sangat yakin kalau orang di depannya ini adalah Hiroto.

"Hi-Hiroto…" katanya pelan.

Namun, orang yang sekarang berada di depannya itu hanya terdiam tanpa ekspresi kemudian "Maaf, Anda salah orang," katanya lagi yang kemudian membalikkan badannya dan berjalan menjauh dari Mamoru yang terdiam seribu bahasa. Dia yakin sekali kalau orang yang baru saja berbicara dengannya itu adalah Hiroto, tapi ada yang berbeda dari Hiroto yang dia jumpai kali ini. Dia merasa Hiroto yang ia temui sekarang seperti 'mati'.

"Karena yang mulia pangeran tidak berniat untuk menghukum Anda, lebih baik sekarang Anda meninggalkan istana ini sekarang juga," kata penjaga tersebut agak sedikit halus dari yang pertama. "Mari saya antarkan."

Mamoru pun berjalan keluar istana diiringi oleh dua penjaga disebalah kiri dan kanan. Mamoru hanya bisa tertunduk, perasaannya kali ini sangat kacau.

"Endo-san!" tiba-tiba terdengar suara Toramaru dari kejauhan yang menyadarkannya dari lamunannya.

"Toramaru…" kata Mamoru pelan.

"Apa yang telah terjadi?" tanyanya lagi setelah jarang antara dirinya dan Mamoru tidak begitu jauh lagi.

"Maaf ya Toramaru, aku telah membawa masalah untukmu," kata Mamoru sambil menundukkan kepalanya. Sampai-sampai Toramaru tidak tahu ekspresi apa yang ada diwajah Mamoru saat ini. Tapi dia tahu Mamoru sedang tidak ingin membicarakan apa-apa dengannya.

"Tidak apa-apa Endo-san," katanya lagi sambil tersenyum lembut. Mamoru kemudian mendongakan kepalanya menatap Toramaru dan tersenyum sedih.

"Aku pulang dulu ya. Maaf bukannya membantu malah menambah masalah," kata Mamoru.

Mamoru pun kemudian berjalan ke arah pintu gerbang bersama dengan dua pengawal tersebut. Sesamapinya di luar istana, Mamoru pun menunduk ke arah kedua penjaga tersebut dan para penjaga-penjaga itu pun membalikkan badan mereka dan masuk kembali ke dalam istana.

Mamoru pun kemudian membalikan badannya dan berjalan kembali ke arah rumahnya. 'Nee-san…' hanya kata itu sekarang yang hanya dapat sedikit menenangkan hatinya, setidaknya dapat memberinya kekuatan untuk berjalan menuju rumahnya yang berjarak beberapa kilometer lagi.


"Aku pulang…" kata Mamoru pelan sambil membuka pintu rumahnya.

"Mamo-chan? Selamat datang…" kata Aki dengan wajah bingung, "Ada apa Mamo-chan? Kenapa wajahmu lagi-lagi murung begini? Padahal tadi pagi kau pergi dengan wajah yang sangat senang… Apakah ada sesuatu yang buruk yang terjadi di istana?" tanya Aki cemas.

"Tidak… tidak ada apa-apa kok, nee-san", jawab Mamoru dengan tersenyum seperti biasanya, tetapi Aki tahu bahwa senyuman itu bukanlah senyuman yang sesungguhnya, Mamoru hanya menunjukan senyuman itu agar Aki tidak merasa cemas dan khawatir dengan keadaanya.

Melihat hal tersebut, Aki pun menjadi semakin cemas dengan keadaan adiknya tersebut. Setelah menarik dan menghembuskan napas panjang, Aki pun berkata, "Mamo-chan, nee-san tahu loh kalau terjadi sesuatu di istana tadi, kamu tidak perlu membohongiku agar aku tidak mengkhawatirkan keadaanmu, karena itu malah akan membuat nee-san menjadi lebih khawatir, Mamo chan…"

Mendengar itu Mamoru pun memutuskan untuk menceritakan apa yang menjadi masalahnya. Ya, Aki memang selalu mengetahui bila adiknya itu sedang dalam masalah atau apapun. Aki pun mendengarkan seluruh cerita Mamoru dengan seksama.

"Daripada kamu kepikiran terus, bagaimana kalau besok kamu tanya langsung saja dengan orangnya? Bukannya besok kalian akan bertemu lagi?" kata Aki setelah Mamoru selesai bercerita.

"Tapi, bagaimana aku harus berhadapan dengannya besok?" tanya Mamoru dengan wajah yang masih murung.

"Mamo-chan, kamu jangan langsung mengambil keputusan secara sepihak. Bukannya tadi kamu bilang kalau ada yang berbeda antara Pengeran Gran dengan Hiroto?" kata Aki.

"Tapi…"

"Kamu percaya pada Hiroto kan?" tanya Aki yang dbalas dengan anggukan pelan dari Mamoru dengan wajah yang masih menunduk.

"Kalau kamu masih menganggapnya sebagai teman baikmu, bicarakan hal ini baik-baik dengannya besok. Berprasangka buruk tentang temanmu itu hal yang buruk loh," kata Aki sambil tersenyum hangat ke arah Mamoru.

Mamoru pun hanya terdiam, kemudian dia pun mengangkat wajahnya dan tersenyum "Iya, besok aku akan coba untuk membicarakan hal ini baik-baik dengannya."

"Nah, ini baru adik kakak." kata Aki sambil mengacak rambut Mamoru. "Hehe, makasih ya nee-san, aku sayang nee-san." kata Mamoru sambil memeluk Aki.

"Nee-san bangga punya adik sepertimu Mamo-chan," kata Aki sambil mengelus rambut Momoru dengan lembut.


Keesokan sorenya…

Hari ini perasaan Mamoru tidak seperti biasanya, ia ingin sekali cepat-cepat mengakhiri pekerjaannya. Para pedagang lainnya menjadi bingung dengan sikap Mamoru hari ini. Ia menjadi pendiam dan kadang pikirannya melayang entah kemana membuat orang yang sedang berbicara dengannya mengatakan "Mamo-chan kamu dengar nggak sih dari tadi aku ngomong apa?" dan jawabannya adalah "Eh? Tadi lagi ngomongin apa ya?" Lawan bicara Mamoru hanya bisa menghela napas kemudian ada yang mengulangi ceritanya lagi dan ada pula yang memutuskan untuk memutuskan untuk diam. Bahkan tadi Mamoru sampai salah memberi kembalian uang.

"Ada apa ya hari ini sama Mamo-chan?" kata salah seorang pedagang pada pedagang yang lainnya.

"Nggak tau, kayak bukan Mamo-chan aja, ya," jawab seorang pedagang lainnya.

"Mungkin dia lagi ada masalah… Tapi kalau sampai bisa membuat Mamo-chan sepert ini, berarti masalahnya cukup berat tuh," kata pedagang lainnya.

"Coba aku tanya," kata salah seorang pedagang.

"Mamo chan, kamu lagi ada masalah?"

"…"

Pedagang itu pun menjadi sweetdrop, "Ano… Mamo chan, haloo?"

"Eh? Ya, ya, ada apa?" kata Mamoru yang baru saja sadar dari lamunannya.

"Kamu lagi ada masalah? Sikapmu aneh soalnya hari ini."

"Eh? itu… iya, tapi aku akan mencoba untuk menyelesaikannya hari ini," kata Mamoru yang kemudian tersenyum kecil.

"Benar tidak apa-apa? Kalau ada yang bisa kami bantu bilang saja."

"Iya, tidak apa-apa. Aku akan menyelesaikannya sendiri," kata Mamoru dengan senyum yang lebar.

Walaupun Mamoru tersenyum, akan tetapi para pedagang disana tahu kalau Mamoru sedang memaksakan dirinya, karena lagi-lagi dia kembali diam dan masuk kedalam pikirannya sendiri. Mereka hanya bisa memandang Mamoru dengan tatapan khawatir. Merasa dirinya menjadi pusat perhatian, Mamoru kemudian tersenyum.

"Aku benar-benar tidak apa-apa. Kalian tidak perlu khawatir."

Mereka kemudian menghela nafas dan melanjutkan kegiatan yang tadi sempat tertunda, meskipun didalam hati mereka masih mengkhawatirkan keadaan teman kecil mereka itu.

Tidak terasa hari sudah sore, Mamoru pun bergegas membereskan barang dagangannya. Kemudian setelah berpamitan kepada semuanya, Mamoru pun berlari secepat mungkin untuk menemui teman yang sepanjang hari ini telah sukses memenuhi pikirannya. Banyak pertanyaan-pertanyaan yang ingin dia ajukan, sampai-sampai Mamoru tidak tahu dia harus mulai dari mana.


Sesampainya Mamoru ditempat pertemuan mereka, dia pun segera mencari-cari sosok berambut merah di antara hamparan rumput yang ada di depannya. Jantungnya berdegup kencang, entah karena dia berlari ataukah karena dia takut tidak dapat menemukan sosok itu lagi. Tidak beberapa lama kemudian, tampaklah sosok tersebut sedang duduk beralaskan rumput hijau dan menikmati semilir angin yang menerpa wajahnya.

"Hiroto!" teriak Mamoru, dia pun segera berlari kearah pria tersebut.

"hah… hah…. A-ada y-yang ing-in ku-bi-ca-ra-kan denganmu…" kata Mamoru sambil terengah-engah dan memegang dadanya.

"Aku juga ingin membicarakan sesuatu denganmu, Mamoru," kata Hiroto tersenyum kemudian mengalihkan pandangannya ke hamparan rumput luas yang ada di depannya.

Mendengar hal tersebut, Mamoru pun mengatur napasnya kemudian duduk di samping Hiroto.

"Sebenarnya sudah lama aku ingin memberitahukan hal ini padamu. Akan tetapi aku masih ragu dan takut kalau-kalau kau akan meninggalkan diriku seperti teman-temanku yang lain," Hiroto mulai berbicara.

"Dulu aku sering bermain dengan teman-temanku disekitar sini. Karena lapangannya luas, kami sering bermain bola dini. Dan tentu saja kami bermain saat matahari masih terang, karena kalau tidak kami bisa jadi santapan empuk hewan-hewan liar disini," kata Hiroto tersenyum mengenal masa-masa kecilnya dulu.

"Akan tetapi setelah mengetahui siapa aku, mereka semua menjauh dan sejak saat itu kami tidak pernah bermain bersama lagi," kata Hiroto yang senyumnya kemudian perlahan memudar.

"Aku adalah pangeran kedua dari kerajaan Inazuma."

"Jadi yang kutemui kemarin didalam istana itu benar kamu kan Hiroto?" tanya Mamoru yang kemudian dibalas dengan anggukan dari Hiroto.

"Tapi kenapa kemarin… Gleg* kamu seperti orang lain," kata Mamoru yang menelan ludahnya ketika ia mengingat betapa seramnya tatapan Hiroto waktu itu.

"Iya, aku juga ingin minta maaf soalnya kemarin. Aku benar-benar minta maaf. Bukan maksudku untuk berpura-pura tidak mengenalmu… Akan tetapi didepan para anggota istana, aku harus bersikap seperti itu…" kata Hiroto dengan nada sangat bersalah "…dan itu juga demi kebaikanmu Mamoru," katanya lagi dengan suara yang sangat kecil, sehingga Mamoru pun tidak mendengarnya.

Suasana pun menjadi hening. Pertanyaan-pertanyaan yang selama ini tidak terjawab, sekarang sudah terjawab semuanya.

"Sekarang terserah padamu saja Mamoru, apakah kamu ingin tetap berteman denganku atau tidak," kata Hiroto tersenyum, akan tetapi dia tidak dapat menyembunyikan kesedihannya.

"…"

"Hmm.. Jadi Hiroto itu adalah pangeran ya…" gumam Mamoru.

"Ha! Lega rasanya, haha," kata Mamoru yang kemudian menghempaskan badannya. Hiroto hanya menatap Mamoru dengan padangan tidak mengerti.

"Lega kenapa?"

"Iya, akhirnya kamu mau cerita tentang dirimu… Biasanyakan aku saja yang bercerita," kata Mamoru yang kemudian menyeringai lebar ke arah Hiroto. Hiroto terkejut dan kemudian tersenyum.

"Terima kasih Mamoru…" gumam Hiroto.

"Hiroto…"

"Ya?"

"Janji ya, lain kali kamu nggak akan main rahasia-rahasian lagi!" kata Mamoru yang kemudian menyodorkan jari kelingkingnya.

Hiroto tertegun sejenak kemudian tersenyum "Iya.." sambil menyilangkan kelingkingnya dengan kelingking Mamoru.

Mereka pun tertawa bersama.


"Aku pulang!" kata Mamoru sesampainya dirumah.

"Selamat datang…" kata Aki yang kemudian tersenyum meliahat raut wajah adiknya yang semangat seperti biasanya.

"Masalahmu dengan Hiroto sudah beres ya?" tanya Aki yang kemudian masuk ke dapur untuk menyiapkan makan malam mereka.

"Iya, ternyata…" Mamoru pun menceritakan semuanya kepada Aki yang tentunya sudah mendapatkan ijin dari Hiroto bahwa dia akan menceritakan hal ini kepada kakaknya saja.

"Nah, bagaimana perasaanmu sekarang Mamo-chan?" tanya Aki.

"Lega dan senang nee-san," kata Mamoru dengan senyum lebarnya. Aki pun hanya mengelus kepala adiknya itu.

"Kalau ada masalah itu, sebaiknya langsung diselesaikan. Jangan dipendam lama-lama. Memang butuh keberanian yang besar untuk itu, tapi kalau Mamo-chan kakak yakin kamu bisa mengatasinya," kata Aki sambil tersenyum lembut.

"Oh ya, kapan-kapan kenalin Hiroto ke kakak ya. Sampai sekarang kakak belum pernah bertemu orangnya, hanya mendengar ceritanya dari kamu saja."

"Ok! Lain kali aku akan mencoba mengajaknya main kesini," kata Mamoru yang masih dengan senyum lebarnya.

"Um… Hiroto kan pangeran, apa dia mau datang ke rumah kita ini?" tanya Aki.

"Tenang saja nee-san. Kalau Hiroto pasti mau!" kata Mamoru dengan percaya diri.

"Kalau tidak mau, ya tinggal seret aja kan… khe khe khe." Tiba-tiba saja muncul aura gelap di sekitar tubuh Mamoru.

"Ma-mamo c-chan…?" Aki hanya sweetdrop melihat aura adiknya itu.


Keesokan harinya…

"Pagi semua!" sapa Mamoru ramah kepada teman-teman sesama pedagangnya di pasar. Para pedagang hanya bisa keheranan dengan sikap Mamoru yang berubah drastis dibandingkan kemarin.

"Pagi Mamo-chan. Sepertinya kamu semangat sekali ya hari ini," sapa seorang pedagang sambil tersenyum.

"Iya, Bi. Perasaanku sedang gembira hari ini," kata Mamoru sambil merapikan barang-barang dagangannya. Semua pedagang disana kemudian tersenyum lega melihat teman kecil mereka ternyata sudah menyelesaikan masalahnya.

"Yosh! Ayo kita mulai bekerja!" kata Mamoru sambil tersenyum lebar.

Setelah hari sudah mulai sore, Mamoru pun merapikan barang dagangannya dan setelah berpamitan dengan para pedagang lainnya, Mamoru pun berlari kearah rumahnya dan tidak lupa dia menemui teman berambut merahnya ditempat biasa. Setelah berbincang-bincang beberapa saat, mereka pun memutuskan untuk pulang.

"Aku pulang!" seru Mamoru ketika ia membuka pintu.

"Selamat datang, Mamo-chan," jawab Aki sambil menghampiri adiknya itu.

"Bagaimana dagangan hari ini?" tanya Aki.

"Laku keras nee-san," kata Mamoru sambil tersenyum lebar. Mendengar hal tersebut, Aki pun tersenyum lembut kemudian mengusap rambut Mamoru " Terima kasih atas kerja kerasnya ya."

Setelah menutup pintu, Aki kemudian kembali ke dapur. Sedangkan Mamoru duduk di ruang makan.

"Oh iya, malam ini Paman Raiden akan datang untuk makan malam bersama kita lho," kata Aki dari arah dapur.

"He? Benarkah? Asik!" seru Mamoru.

Tidak beberapa lama kemudian, terdengar bunyi pintu diketuk. Mamoru pun segera menuju kearah pintu untuk membukakannya. Setelah pintu terbuka, terlihatlah sebuah sosok yang cukup berumur yang kemudian tersenyum dengan lembut kearah Mamoru "Kamu sudah besar ya Mamoru."

"Paman Raiden!" seru Mamoru yang kemudian langsung memeluk Pamannya itu. Paman Mamoru adalah adik dari ayah kedua anak tersebut. Sejak muda, beliau telah bekerja di dalam istana sebagai tabib. Karena kepandaiannya, sekarang dia telah menjadi tabib istana tetap dan diijinkan untuk tinggal di dalam istana.

"Umm… aroma yang sedap. Ternyata kemampuan Aki dalam hal memasak tidak kalah dari para koki isana ya," kata Raiden sambil tersenyum kearah Mamoru.

Aki yang pada saat itu sedang meletakkan sepanci sup di atas meja makan menjadi merona mendengar perkataan Pamannya itu.

"Ah, mana mungkin aku bisa disamakan dengan para koki istana Paman."

Mendengar perkataan Aki, Raiden pun tertawa, "Hahaha, tapi sungguh, loh. Paman tidak berbohong mengenai keahlianmu dalam hal memasak."

Mendengar hal tersebut, wajah Aki makin memerah dan dia pun segera masuk kembali kedapur.

"Wah, Paman hebat… Sudah lama aku tidak melihat wajah nee-san semerah itu," kata Mamoru dengan polosnya.

Mendengar perkataan Mamoru, Raiden pun tertawa dan mengusap kepala Mamoru.

"Ya, sudah sudah. Ayo kita ke ruang makan untuk menyicipi masakan favorit Paman," kata Raiden dan diikuti oleh anggukan dari Mamoru dan mereka pun berjalan perlahan ke arah ruang makan.

"Mamo-chan," Panggil Raiden ketika Aki sedang membereskan meja makan.

"Ya Paman?"

"Kamu mau nggak ikut paman ke dalam istana?"

Prang* Terdengar pecahan piring dari arah dapur.

"Nee-chan!" "Aki!" seru Mamoru dan Raiden bersamaan dan mereka bergegas masuk ke dapur.

To be Continue…