Tsubaki Audhi : Aki… (spoiler) Loha, saya juga orang baru, salam kenal juga... saya senang ceritanya sesuai selera Tsubaki-san. Jangan bosan-bosan ngereview cerita saya ya *w*

Vhia Vhilia : daijoubu dajaoubu XD. Iya, mereka berdua imut ya (kya kya /ditendang) ehm… Saya juga baru, salam kenal juga *w*. Iya, ceritanya akan terus berlanjut. Reviewnya ditunggu ya XD.

Ice Snow : Aki baik-baik saja kok, tapi…. (spoiler) hehe. Yup! ayo berusaha!. Akan saya usahakan update secepatnya. Jangan bosan2 ngereview ya XD.

The Fallen Kuriboh : Arigatou XD. Kuriboh-san juga awesome kok *w*. Jangan bosan-bosan mereview XD.

Heylalaa : Gouenji dan Kazemaru memang ada di istana kok, tunggu kelanjutannya ya *w*. Terima kasih masukannya Heylalaa-san, nanti saya coba peraiki. Jangan bosan-bosan ngereview ya *w*


Disclaimer: Inazuma Eleven © Level-5

Rated: K+

Genre:Friendship, Fantasy, Hurt/Comfort, Family

Characters: Mamoru, Hiroto, Aki, Raiden, Mr. Endou (bapak Mamoru), Mrs. Endou (ibu Mamoru)


The Change

Chapter Four


"Nee-san tidak apa-apa? Sini aku bantu," kata Mamoru yang kemudian membantu Aki untuk membereskan pecahan piring yang berserakan tersebut.

"Iya tidak apa-apa Mamo-chan. Terima kasih," kata Aki sambil memungut sebuah pecahan piring yang ada didekatnya.

"Hah…" Raiden menghela napasnya kemudian berjongkok untuk membantu dua bersaudara tersebut membersihkan pecahan piring yang berserakan dilantai.

"Maaf ya Aki-chan telah membuatmu terkejut," kata Raiden.

"…" Aki hanya diam saja.

"Hah…" Raiden pun kembali menghela napasnya.

"Paman hanya mau meminta Mamoru untuk membantu Paman sementara di dalam istana kok. Dan selama Mamoru ada di dalam istana, Paman akan menjaganya sehingga tidak ada hal buruk yang akan menimpanya."

"Tapi Paman… Apa tidak apa-apa…" kata Aki yang kali tidak lagi memungut pecahan piring.

"Tidak apa-apa, percaya sama Paman. Lagian kasihan juga kan Mamoru, dia juga pasti ingin masuk istana."

"Ano… Paman, sebenarnya aku sudah pernah masuk ke dalam istana." kata Mamoru yang kini juga berhenti memungut pecahan piring.

"Ho? Bagaimana caranya kamu masuk?" tanya Raiden.

"Iya. Waktu itu aku dimintai tolong oleh seorang teman yang bekerja sebagai koki istana untuk mengantarkan bahan-bahan makanan untuk pesta kerajaan," kata Mamoru sambil kembali melanjutkan kegiatannya.

"Paman tidak memaksa, terserah Momoru dan Aki saja. Kalian pikirkan saja baik-baik ya," kata Raiden sambil tersenyum dan kemudian kembali melanjutkan kegiatannya juga.

Setelah mereka selesai memunguti pecahan-pecahan piring yang berserakkan di lantai, Raiden memutuskan untuk kembali ke istana. Mamoru dan Aki kemudian mengantar Paman mereka sampai ke depan pintu rumah mereka.

"Oke Aki-chan, Mamo-chan, Paman pulang dulu ya. Soal tawaran Paman yang tadi, kalian pikirkanlah dulu baik-baik," Kata Raiden sambil tersenyum, kemudian melambaikan tangan kanannya beberapa saat dan kemudian membalikkan badannya dan berjalan ke arah istana.

"Nee-san…"

"Oke Mamo-chan, ayo kita masuk ke dalam. Hari sudah larut, besok kamu kan kerja," kata Aki yang kemudian masuk ke dalam rumah mereka dan kemudian diikuti Mamoru.


Keesokan paginya keadaan Aki masih tetap seperti kemarin malam. Melihat itu Mamoru pun merasa cemas dan tak dapat bekerja dengan baik di pasar. Hiroto yang sore itu bertemu Mamoru di tempat biasa mereka bertemu pun menjadi khawatir dengan keadaan Mamoru yang sepertinya sedang mengalami masalah.

"Ada apa Mamoru? Tidak seperti biasanya kau diam seperti ini, apa terjadi sesuatu?" tanya Hiroto dengan tatapan penuh kekhawatiran kepada sahabatnya yang dari tadi diam seribu bahasa.

Tetapi Mamoru tetap terdiam sambil menatap rerumputan di hadapan mereka dengan tatapan kosong. "Mamoru? Kamu tidak apa-apa?" tanya Hiroto semakin khawatir.

"Eh? A-aku tidak apa-apa," jawab Endou sambil tersenyum, akan tetapi Hiroto tahu bahwa senyum tersebut tidak tulus.

Suasana pun hening beberapa saat, sampai Hiroto memulai pembicaraan. "Mungkin aku tidak bisa membantu banyak. Akan tetapi sebagai sahabat, aku ingin Mamoru lebih mempercayaiku," kata Hiroto sambil memandang ke arah langit yang dipenuhi dengan awan-awan yang bergerak dengan lembut.

"… aku khawatir dengan Aki nee-san," kata Mamoru sambil menundukkan kepalanya.

"Aki nee-san? Ada apa dengan Aki nee-san? Apa dia sakit?"

"Tidak… hanya saja dia menjadi aneh sejak kedatangan paman kemarin malam… ya, mungkin lebih tepatnya sejak paman mengajakku untuk membantunya di dalam istana".

Mendengar hal itu Hiroto pun terkejut, dan mengalihkan pandangannya ke arah Mamoru.

"Sebenarnya pamanku bekerja sebagai tabib istana. Kemarin dia memintaku untuk membantunya, karena dia sedang kekurangan orang," lanjut Mamoru.

Hiroto hanya diam sambil menatap rerumputan yang ada di depannya.

"Aku tidak tahu kenapa Aki nee-san menjadi sangat cemas ketika mendengar ajakan paman, padahal seharusnya Aki nee-san tahu kalau aku tidak akan meninggalkannya sendiri. Sepertinya ada hal lain yang membuat Aki nee-san tampak begitu murung karena itu aku menjadi cemas."

"Endou…" kata Hiroto tiba-tiba, "…jangan pernah menginjakan kakimu ke istana lagi." Suara Hiroto berubah menjadi dingin dan tanpa sadar, sekelebat bayangan Gran muncul di benak Mamoru yang membuatnya merinding ketakutan.

Mamoru pun segera mengalihkan pandangannya ke Hiroto dan dibalas dengan senyuman lembut Hiroto yang biasa.

"A-apa maksudmu Hiroto?" tanya Mamoru masih sedikit merasa tidak nyaman.

"Banyak hal di dalam istana yang bisa membuatmu menjadi bukan dirimu lagi," kata Hiroto singkat.

Sebelum Mamoru bertanya lebih lanjut, Hiroto tiba-tiba berdiri "Hari sudah mulai gelap Mamoru, ayo kita pulang," kata Hiroto sambil menyodorkan sebelah tangannya untuk membantu Mamoru berdiri. "Um…" jawab Mamoru singkat sambil mengangguk dan meraih uluran tangan Hiroto.

"Sampai ketemu besok ya," kata Hiroto sambil tersenyum.

"Sampai ketemu besok," kata Mamoru yang membalas tersenyum.


Sesampainya di rumah, seperti biasa Aki menyambut kedatangan Mamoru dengan hangat. Sepertinya Aki sudah kembali seperti semula. Tapi, hal tersebut sama sekali tidak membuat Mamoru merasa lega. Dia tahu pasti ada sesuatu yang disembunyikan oleh nee-sannya itu dan juga oleh sahabatnya, Hiroto. Sesuatu mengenai istana yang tidak pernah dan tidak boleh ia ketahui.

Saat makan malam berakhir, Aki tiba-tiba berkata, "Mamo-chan, ada sesuatu yang ingin nee-san katakan padamu".

Mamoru yang tadi hendak berdiri, kembali duduk dibangkunya.

"A-ada apa nee-san?"

"… Mamo-chan, kau tahu bukan bahwa ayah dan ibu kita juga pernah bekerja di istana dulu?"

"Ya, kudengar di istanalah tempat pertama kali ayah dan ibu bertemu, tetapi karena ada suatu pemberontakan di istana, akhirnya ayah dan ibu keluar dari istana dan bekerja menjadi petani di desa ini,"

"Ya, kau benar. Lalu karena suatu alasan ayah yang bekerja menjadi petani ditarik kembali menjadi prajurit dan tewas di medan perang".

"Iya," kata Mamoru sambil menganggukan kepalanya.

"Maaf Mamo-chan… itu semua bohong. Maaf aku sudah berbohong padamu atas kematian ayah kita"

"Eh? Apa maksud nee-san?" Kali ini jantung Mamoru berdegup dengan cepat.

"Sebenarnya nee-san juga tidak tahu apakah ayah kita masih hidup atau sudah meninggal, ayah…" kata Aki dengan ekspresi yang sedih, "Ayah sebenarnya menghilang tiba-tiba ketika ditarik kembali menjadi prajurit".

"Apa? Tidak mungkin… jadi masih ada harapan bahwa ayah sebenarnya masih hidup?"

"Sebenarnya…


16 tahun yang lalu…

Terlihat sebuah lapangan pelatihan prajurit di istana yang dipenuhi dengan prajurit-prajurit baru yang berlatih dengan penuh semangat. Teriakan semangat mengundang perhatian dayang-dayang istana yang saat itu sedang melewati koridor istana di dekat lapangan tersebut, salah satu dari mereka adalah seorang gadis dengan rambut ikal sebahu. Gadis tengah sibuk memperhatikan salah satu prajurit baru di sana, seorang pemuda dengan rambut hitam dan mengenakan kacamata.

"Hei, Endou-san kamu sadar tidak dari tadi gadis itu memperhatikanmu terus loh…" kata seorang prajurit kepada pemuda berambut hitam dan berkacamata itu sesaat setelah latihan hari itu selesai.

"Eh? Masa?" balas Endou sembari membalikkan badanya melihat gadis yang dari tadi menatapinya itu. Sekejap tatapan mata mereka pun beradu dan saat itu juga wajah sang gadis memerah dan langsung berlari pergi. Dayang-dayang lainnya yang sedari tadi berjalan bersama gadis itu saling bertukar pandang dan kemudian berlari mengejar gadis tersebut. Endou yang melihat hal itu hanya terdiam.

Keesokan harinya gadis itu kembali menatapi Endou yang sedang berlatih bersama prajurit lainnya dari koridor yang sama seperti hari sebelumnya. Kejadian ini pun berlangsung terus menerus hingga hampir sebulan lamanya gadis itu terus memperhatikan Endou yang berlatih. Endou pun menjadi penasaran siapa gerangan gadis itu dan ia pun memutuskan untuk berkenalan dengan gadis itu.

Hari itu seusai latihan berkala prajurit seperti biasanya, Endou segera berlari ke arah koridor tempat di mana gadis yang selalu menatapinya itu berada, tetapi ketika Endou mendekat, gadis itu langsung berlari. Endou dengan refleks mengejar gadis itu. "Tu-tuunggu! Mengapa kau lari?" teriak Endou sambil berlari, tetapi gadis itu tidak mempedulikannya dan terus berlari. Mereka pun terus berlari hingga Endou berhasil menangkap tangan sang gadis.

"Hah…hah…hah… A-akhirnya kau tertangkap juga… Kenapa kau lari? Aku hanya igin berkenalan denganmu…" kata Endou dengan napas tersengal-sengal.

"A-aku… aku…" jawab gadis itu dengan wajah tertunduk dan Endo dapat merasakan tubuh gadis itu bergetar, "maaf! Aku tidak bermaksud macam-macam, aku hanya tertarik dengan semangatmu saat berlatih!"

Sesaat wajah Endou pun memerah, dan suasana pun menjadi hening hanya terdengar suara angin yang membawa terbang beberapa kelopak bunga di taman kerajaan tersebut.


"Ya, itulah awal perjumpaan ayah dan ibu," jelas Aki.

"Heh? Lalu setelah itu apa yang terjadi nee-san?" tanya Mamoru penasaran.

"Setelah itu mereka pun menjadi semakin akrab hingga akhirnya mereka memutuskan untuk menikah dan nee-san pun lahir," lanjut Aki, "tetapi setelah itu terjadi suatu masalah besar di kerajaan, beberapa prajurit melakukan kudeta, dan saat itu raja berserta keluarganya pun terbunuh, lalu ayah dan ibu memutuskan untuk keluar dari istana dan menjadi petani. Semua berjalan lancar, sampai suatu hari…


Brak! brak! brak! terdengar suara ketukan pintu yang sangat keras.

"Istriku kau masuklah ke dalam bersama Aki," kata Endou berusaha untuk menenangkan istrinya kalau semuanya akan berjalan baik-baik saja.

"Tapi suamiku…"

"Tidak apa-apa, tenang saja, percayakan semuanya padaku. Kau lindungilah Aki dan juga bayi dalam kandunganmu"

Setelah mengucapkan itu, Endou pun keluar dan beberapa saat kemudian ia kembali masuk ke rumahnya dengan wajah yang sedih dan cemas.

"Suamiku, bagaimana? Apa yang mereka katakan?" tanya istri Endou.

"Sepertinya aku harus kembali ke istana sekali lagi…" jawab Endou dengan sedih.

Istri Endou pun kaget lalu mereka pun terdiam. Tetapi suasana hening itu segera dipecahkan oleh suara seorang gadis kecil, Aki yang saat itu berumur empat tahun menarik-narik rok ibunya dan celana ayahnya sambil berkata, "Ayah, ibu, ada apa? Kenapa wajah kalian sedih?"

Mendengar itu istri Endou pun segera membungkukan badannya sembari mengusap kepala anaknya itu lalu tersenyum lembut dan berkata, "Tidak apa-apa Aki. Hanya saja sepertinya ayah akan pergi lama."

"Ya, Aki, selama ayah pergi kau harus menjaga ibumu dengan baik dan juga adik bayimu, ya," kata Endou sambil mengusap kepala Aki kecil.


"…dan beberapa hari setelah kejadian itu, kau pun lahir Mamo-chan lalu ibu pun meninggal dan keberadaan ayah sejak saat itu masih belum diketahui hingga sekarang," kata Aki mengakhiri cerita panjangnya.

Suasana menjadi hening seketika. Perasaan Mamoru saat ini antara marah dan senang. Marah, karena selama ini dia dibohongi. Senang, karena kakaknya sudah mau jujur padanya dan akhirnya dia tahu hal apa yang membuat kakaknya menjadi murung.

"Yosh!" kata Mamoru yang bangkit dari kursinya. Aki hanya bisa terheran-heran melihat sikap adiknya itu.

"Sepertinya aku memang harus masuk istana, nee-san," kata Mamoru dengan cengiran khasnya.

Mata Aki membesar mendengar perkataan Mamoru.

"Aku akan mencari tahu kebenaran tentang ayah."

To Be Continue...