Ralat:

- Chapter 1 di bagian:

Naruto berhenti memindai ketika matanya tertuju pada jaket yang ia sampirkan di punggung kursinya. Ia mengambil jaket itu dan mengulum seulas senyum yang dipaksakan pada Sasuke, beranjak keluar dari ruangan.

"Aku tidak menyuruhku kau pergi," ucap Sasuke.

Naruto berhenti melangkah dan menoleh ke arah Sasuke. "Eh?"

- Harusnya dialog Sasuke yang benar:

"Aku tidak menyuruhmu pergi," ucap Sasuke.

- Maaf atas typo-nya yang merusak mood membaca orz

/Chapter 2/

Dua hari kemudian, Sasuke meninggalkan rumah sakit. Ia saat ini duduk di sebelah Naruto di mobilnya sementara Naruto sendiri sedang menyetir dalam diam. Mereka baru saja mengunjungi makam Itachi. Sasuke sama sekali tidak ingat kalau Itachi menderita sakit keras selama lima tahun terakhir ini. Dan selama itu pula kakaknya itu menghabiskan seluruh waktunya dengan terbaring tak berdaya, sampai akhirnya meninggal beberapa hari lalu. Sasuke tidak ingat. Dalam ingatannya, Itachi masih segar bugar, kakak yang selalu ia sambut kepulangannya dari kantor setiap hari.

Sasuke mengamati kertas hasil laporan kondisi syarafnya dari rumah sakit yang baru keluar semalam. Dugaan Dokter Tsunade kalau ia mengalami amnesia sebagian tepat. Dan tampaknya sekarang Sasuke mengerti kenapa ingatannya selama enam tahun ini yang hilang. Karena Itachi. Ia ingin melupakan Itachi yang sekarat, Itachi yang sudah meninggalkannya. Mungkin alam bawah sadarnya ingin ia kembali ke umur tujuh belas di mana Itachi dalam ingatannya masih sehat.

Sasuke menghela napas, memasukkan kembali kertas-kertas hasil laporan kesehatannya ke dalam amplop, lalu melempar amplopnya ke jok belakang. Sasuke bisa merasakan Naruto meliriknya dengan tatapan khawatir, tapi Sasuke tidak menanggapinya. Ia lega karena Naruto tidak bertanya, tidak mengajaknya bicara sejak menjemputnya dari rumah sakit pagi ini. Sasuke memang sedang tidak ingin bicara dengan siapapun.

Sasuke memandang keluar jendela, berusaha untuk tidak memikirkan kakaknya, maka ia mengisi pikirannya dengan Naruto untuk mengurangi rasa sakit, yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan luka bekas kecelakaan, di hatinya.

Kalau benar ia memang menyukai Naruto, kenapa ia melupakannya? Menurut informasi yang Naruto dan Sakura ceritakan, mereka berdua sudah tinggal serumah selama kurang lebih lima tahun. Sasuke pindah ke tempat Naruto bersama Itachi ketika kakaknya mulai sakit-sakitan. Ia lulus kuliah dengan nilai tertinggi dua tahun lalu, dan setelah lulus ia menjadi arsitek. Ia, Naruto dan Sakura saling mengenal semasa kuliah, dan sekarang Sakura adalah manajer di kantor biro arsitektur miliknya. Hanya dalam dua tahun, ia sudah dikenal sebagai arsitek yang patut diperhitungkan. Tampaknya, karirnya cukup bagus kalau begitu.

Naruto sendiri sudah mulai hidup sendiri sejak SMA karena orangtuanya meninggal. Sejak Sasuke dan Itachi pindah ke rumahnya, dia bilang mereka bertiga sudah seperti keluarga. Ia baru lulus kuliah tahun lalu, dan sekarang menjadi dosen honorer di fakultasnya.

Sasuke memandang Naruto yang masih serius menyetir dalam diam dari sudut matanya. Itachi sudah tidak ada. Kenyataan yang rasanya seperti mimpi. Kalau begitu berarti sekarang seharusnya Sasuke hanya punya Naruto, begitu pula sebaliknya. Sayangnya, Naruto sekarang adalah orang yang sama sekali asing baginya, yang baru dikenalnya beberapa hari lalu.

Sasuke dan Naruto sudah sampai di depan apartemen sederhana tempat mereka berdua tinggal. Naruto membuka pintunya dan tersenyum pada Sasuke, membiarkannya masuk lebih dulu. Sasuke tadinya berharap ia akan merasa familiar dengan tempat yang sudah dihuninya selama lima tahun, tapi harapannya sia-sia. Semuanya terasa asing. Ia menghampiri rak di dekat jendela. Dia atas rak itu terdapat banyak sekali pigura, dan foto-foto yang dipajang di dalamnya rata-rata menampilkan wajah Sasuke, Naruto dan Itachi. Hati Sasuke mencelos ketika ia menatap foto-foto yang berjajar rapi itu, namun tak ada memori apapun dalam otaknya. Ia tidak ingat kapan foto-foto ini diambil. Ia tidak ingat bagaimana bisa ia tersenyum seperti itu dalam rangkulan Itachi yang sudah kelihatan lemah, sementara Naruto juga tersenyum lebar dalam rangkulan Itachi yang satunya. Seingatnya ia adalah tipe orang yang jarang sekali tersenyum.

"Kau tersenyum seperti itu dalam setahun bisa dihitung dengan jari."

Sasuke menoleh, Naruto sudah berdiri di sampingnya, tahu foto mana yang sedang diamatinya.

"Kalau kau tidak ingat," ucap Naruto lagi. "Kamarmu yang di ujung itu," ia menunjuk sebuah pintu paling ujung. "Aku akan pindah ke kamar Itachi."

Sasuke mengernyit. "Jadi selama lima tahun, kita berdua sekamar?"

Naruto berdehem salah tingkah dan langsung menghilang ke dapur.

wwWww

Seminggu. Sudah seminggu Sasuke menjalani hidupnya yang terasa asing. Gadis berambut merah jambu yang bernama Sakura itu datang ke rumah setiap hari, mengantarkan pekerjaan, membimbing Sasuke bagaimana harus melakukannya karena bagaimanapun di ingatannya dia masih berusia tujuh belas tahun. Ia melakukan semua pekerjaannya dengan cukup baik, masih butuh adaptasi, tapi ia memang sudah menyukai ilmu arsitektur sejak SMP, jadi sekarang tinggal mengulang penguasaan pada detailnya saja.

Naruto sendiri juga melakukan pekerjaannya di universitas seperti biasa.

Namun yang Sasuke tak mengerti, di sela-sela waktu sibuknya sebagai dosen honorer dan mengerjakan tugas-tugasnya untuk persyaratan menjadi dosen permanen, Naruto selalu menyempatkan diri untuk sarapan dan makan malam bersamanya. Ia sama sekali tidak pernah absen dalam hal itu. Padahal Sasuke sendiri tidak peduli Naruto mau kembali ke apartemennya tepat waktu atau tidak. Sasuke pernah menanyakannya, tapi Naruto hanya menjawabnya dengan cengiran lebar khasnya dan mengatakan kalau itu sudah menjadi kebiasaan mereka selama lima tahun terakhir, dan dia tidak mau mengubah kebiasaan, yang menurut Sasuke konyol itu.

Dan yang lebih mengherankan lagi, mereka selalu bertengkar. Bahkan di jam makan yang selalu diluangkan Naruto itu. Saat Naruto menggedor pintu kamarnya tiap pagi sebagai wake up call, Sasuke menyahut dengan beberapa kata, dan pada akhirnya mereka bertengkar. Saat Sasuke sedang membahas pekerjaannya dengan Sakura, Naruto pulang, Sasuke merasa tidak mengatakan sesuatu yang salah, namun percakapan mereka selalu berakhir dengan pertengkaran, membuat Sakura harus menengahi mereka setiap saat. Saat Naruto sedang menonton TV, Sasuke melewatinya, namun entah bagaimana juga mereka pada akhirnya akan bertengkar. Walaupun Sasuke sama sekali tak pernah sekalipun merasa kalau ia memulainya, ia juga tidak pernah merasa kalau Naruto memulai pertengkaran itu, tapi selalu itulah yang terjadi. Dalam seminggu ini, Sasuke sudah tidak bisa menghitung berapa kali mereka bertengkar. Dan semuanya hanya seputar hal-hal sepele. Berita di koran pagi, sikat gigi, pengaturan handuk, makanan di kulkas, dan hal-hal tak penting lainnya.

"Bagaimana mungkin kita berdua bisa saling mencintai kalau kita bahkan tak bisa berada di ruangan yang sama lebih dari dua menit tanpa bertengkar," keluh Sasuke, bangkit dari lantai linoleum apartemen mereka sambil terengah setelah Naruto membantingnya dari sofa beberapa saat lalu. Ini sudah pertengahan minggu kedua, dan intensitas pertengkaran mereka bukannya berkurang, malah makin bertambah. Sekarang bahkan sudah melibatkan serangan-serangan fisik.

Naruto mencibir. "Seharusnya kau tanyakan itu pada dirimu sendiri."

"Bodoh," umpat Sasuke, mendorong Naruto dengan kakinya agar memberinya tempat di sofa. "Kalau aku tahu jawabannya aku tidak akan bertanya padamu, Dobe."

Sasuke terdiam ketika ia tidak mendapat perlawanan apapun dari Naruto. Ia menoleh, mencari tahu ada apa, dan sedikit terkejut melihat Naruto tengah memandangnya, ternganga.

"Hn?"

Naruto beringsut mendekat. "Kau tadi memanggilku apa?"

Sebelah alis Sasuke terangkat. "Bodoh, Dobe, hn?"

Keheranan Sasuke makin bertambah ketika cengiran lebar terpulas di wajah Naruto. Baru kali ini ia menyaksikan seseorang tersenyum lebar ketika dikatai.

"Kau sudah ingat?" tanyanya penuh harap.

Sasuke terdiam sesaat, mengalihkan pandangannya dari wajah Naruto. Ini bukan pertama kalinya Naruto menanyakan hal itu dalam seminggu ini. Kenyataannya, sampai detik ini dia sama sekali belum ingat satu hal pun tentang enam tahunnya yang hilang. Kenapa Naruto memilih untuk melontarkan pertanyaan semacam itu dengan nada penuh harap begitu di saat seperti ini? Jujur saja, Sasuke sama sekali tidak menyukai pertanyaan itu. Ataupun nada penuh harap itu. Karena tiap kali Naruto bertanya, Sasuke hanya bisa menggeleng, dan entah bagaimana itu membuatnya dihantam perasaan bersalah. Perasaan yang harusnya sama sekali tidak perlu.

"Hn," tanggap Sasuke pada akhirnya. Tanpa gelengan kali ini.

Tanggapan Sasuke membuat senyum Naruto memudar. "Kupikir kau sudah ingat," ucapnya, bangkit dari sofa dan melemparkan remote TV ke sebelah Sasuke. "Kau dulu selalu memanggilku 'bodoh', 'dobe' atau semacamnya." Dan tanpa memandang Sasuke, ia menghilang ke dalam kamar Itachi yang sekarang sudah jadi kamarnya.

Sasuke sama sekali tak bisa berkomentar. Tak tahu harus berkata apa lagi. Memutuskan untuk tidak menganggap itu penting dengan mengabaikan rasa bersalah yang kembali bercokol di dadanya, ia kembali memusatkan perhatiannya ke tayangan berita malam, ketika mendadak sebuah pertanyaan melintas di otaknya, membuatnya menoleh cepat ke arah pintu kamar Naruto yang sudah tertutup. Seingatnya ia tadi hanya menanggapi Naruto dengan 'hn' andalannya. Bagaimana bisa cowok itu bisa paham kalau 'hn' sederhana itu bermakna 'tidak'?

Esoknya, pertanyaan itu masih menghantui Sasuke, jadi dia memutuskan untuk melakukan beberapa eksperimen kecil. Kurang kerjaan memang, tapi seingatnya, tidak ada seorang pun di dunia ini yang bisa memahami 'hn'-nya. Bahkan kadang Itachi juga salah mengartikannya. Dia ingin tahu sejauh apa Naruto tahu.

"Oh, aku baru akan membangunkanmu," kata Naruto ketika Sasuke keluar kamarnya. "Tomat-tomatmu menunggu di meja."

"Hn." Sasuke mengabaikan Naruto, langsung berjalan ke arah meja makan dan mendapati tomatnya sudah teriris rapi. Sasuke juga tidak paham bagaimana Naruto tahu ia lebih suka makan tomat yang diiris pipih begini.

Naruto mendudukkan diri di hadapannya dengan sekarton susu di tangan dan koran di tangan yang lain. "Kau mau susu?" tanyanya, tanpa memandang Sasuke, masih terfokus pada suatu artikel yang dibacanya.

"Hn."

Naruto meletakkan korannya dan berjalan ke meja dapur. "Teh kalau begitu?" tanyanya lagi.

"Hn."

Naruto tidak bertanya lagi, tapi beberapa saat kemudian ia kembali duduk di meja seraya meletakkan secangkir teh tanpa gula di hadapan Sasuke.

"Aku rasanya ingin makan ootori malam ini. Dengan ramen tentunya. Bagaimana menurutmu?" tanya Naruto lagi, membalik halaman korannya.

"Hn."

"Oke. Hanya ootori untukmu, dan ootori plus ramen untukku."

"Bagaimana kau melakukannya?" tanya Sasuke, akhirnya benar-benar membuka mulutnya.

Naruto mendongak menatap Sasuke, mengerjap heran. "Melakukan apa?"

"Memahami maksudku walaupun aku hanya menanggapimu dengan 'hn'."

Naruto tampak berpikir sejenak. "Eh? Entahlah? Aku juga tidak tahu bagaimana aku bisa," tanggapnya, nyengir.

"Sejak kapan?"

Naruto berpikir lagi, sambil melipat koran yang sudah selesai dibacanya. "Aku tidak ingat. Menurutku kau ini mudah dipahami kok. Dibalik ekspresi datar dan kata-kata minim, kau bagaikan buku yang terbuka lebar." Naruto bangkit berdiri, melempar senyum pada Sasuke. "Aku akan berangkat sekarang. Mungkin Sakura akan datang sebentar lagi. Sampai nanti malam."

Sasuke tidak membalas senyum Naruto. "Hn."

/tbc/

Terimakasih yang sudah membaca dan mereview fic ini :D Dan saya mohon maaf yang sebesar-besarnya untuk typo di chapter lalu OTL. Gara-gara typo itu, saya kayaknya sekarang jadi kena typo-phobia orz. Setelah Naruko-phobia, berikutnya typo-phobia. Phobia apalagi yang akan mengikuti setelahnya? #ngek

Sebagai antisipasi atas typo-phobia saya, saya sudah mengecek ulang chapter 2 ini berkali-kali. Kalau masih ada typo, berarti Anda kurang beruntung #wtf yah, semua orang kan tidak luput dari kesalahan, jadi saya mohon ampunannya TwT *beneran deh, saya merasa bersalah banget ada typo di chapter sebelumnya* maafkan saya~~

Beberapa bagian memang terinspirasi dari Junjou Romantica, Sekaiichi Hatsukoi, dan part ootori itu jelas terinspirasi dari Durarara! XD hahaha. Saya nggak tahu aslinya Naruto suka ootori atau nggak xp Review akan membuat hari kemerdekaan ini lebih bermakna!

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Story by: Red Ocean & Nae Rossi-chan

Edited by: Nae Rossi-chan

ALWAYS KEEP THE FAITH