/Chapter 3/

Akhir minggu ketiga. Sasuke sudah mulai menangkap sorot putus asa di mata Naruto. Dan ia tahu alasannya. Pastinya cowok itu berharap ingatan enam tahunnya yang hilang akan segera kembali, tapi sayangnya sama sekali tak ada tanda-tanda untuk itu. Tak ada satupun flashback atau perasaan dejavu pada diri Sasuke seperti yang biasanya terjadi di drama-drama siang. Bahkan panggilan 'dobe'-nya untuk Naruto yang mulai ia gunakan sejak minggu lalu juga tidak membangkitkan ingatan apapun. Ia memanggil Naruto begitu karena memang ia merasa dia pantas dipanggil dengan panggilan itu. Naruto juga mulai memanggilnya dengan sebutan 'teme', yang menurutnya sangat kurang ajar, tapi Sasuke juga selalu bisa menangkap nada penuh harap tiap Naruto memanggilnya dengan cara itu. Apa mungkin dulu itu adalah panggilan kesayangan mereka? Panggilan sayang macam apa itu?

Intensitas pertengkaran mereka makin parah. Tapi Naruto selalu berhenti di saat-saat tertentu, dengan sorot mata putus asa yang sama. Sasuke sedikit tidak menyukai itu. Kalau amnesianya permanen, apa boleh buat kan? Bahkan terapi yang dijalaninya di rumah sakit saja tidak berhasil. Sasuke mulai merasa kalau Naruto sebaiknya berhenti menonton drama saat hari libur. Ia harusnya bersikap realistis seperti pria berusia dua puluh tiga tahun pada umumnya.

Awal minggu keempat. Sudah hampir sebulan. Entah malam itu, karena dorongan apa, Sasuke mendudukkan diri di sebelah Naruto yang sedang menonton anime dan bertanya, "Sejauh apa hubungan kita?"

Naruto menoleh, mengerjap.

"Tidak, aku tidak ingat satu hal pun kalau memang itu yang kau harapkan," sambar Sasuke cepat. Naruto sudah terlalu sering menggunakan tatapan itu padanya tiap kali Sasuke mengangkat topik yang tidak biasa, hingga sekarang ia paham kalau pertanyaan-tak-terlontar yang terkandung dari tatapan itu berbunyi 'Apa kau ingat sesuatu?', "Aku bahkan sampai sekarang masih tidak paham bagaimana bisa orientasiku berbalik seratus delapan puluh derajat," lanjutnya.

Naruto menghela napas, kembali menatap layar kaca, "Sejauh apa itu maksudmu bagaimana?"

"Kita sama-sama cowok. Kau pasti paham."

Naruto berdehem, beringsut tak nyaman di kursinya, "Karena kita sama-sama cowok, pastinya kau juga bisa membayangkan sejauh apa."

"Tidak," ujar Sasuke tajam, "Aku straight."

Naruto mendengus geli, "Kau berharap aku membeberkan detailnya? Kita sekamar selama lima tahun, Sasuke. Aku tak yakin dirimu, yang masih merasa kalau kau berumur tujuh belas tahun ini, mau mendengar apa-apa saja yang bisa kita lakukan berdua."

"Lalu kenapa kau tidak melakukannya sekembalinya aku dari rumah sakit?"

Naruto ternganga memandang Sasuke kali ini. Ekspresinya setengah geli, setengah cengo. Tapi kemudian ia kembali menonton anime yang sedang tayang dan menjawab datar, "Kau yang sekarang tidak menyukaiku."

Sasuke terdiam, memandang lawan bicaranya. Saat ini, ia merasakan hasrat kuat untuk bisa melihat apa yang sedang Naruto pikirkan. Bagaimana bisa Naruto tahan untuk terus bersikap hati-hati seperti ini? Bukan berarti ia ingin disentuh atau bagaimana, hanya saja… bukankah Naruto menyukainya? Sasuke mengalihkan pandangannya ke layar televisi, dimana Naruto menaruh perhatian penuh. Bagaimanapun mereka sama-sama cowok. Insting dasar mereka sama. Dan tinggal serumah dengan orang yang disukai, Sasuke akui, penuh dengan godaan yang sangat sulit untuk ditolak. Ia bisa saja langsung menghambur masuk ke kamar Sasuke dan menyerangnya atau entah apa. Jadi, bagaimana mungkin Naruto bisa bersikap hati-hati? Hanya dengan alasan karena Sasuke yang sekarang tidak menyukainya? Argh. Ini pertama kalinya sejak ia keluar dari rumah sakit ia merasa frustasi karena ingatannya hilang. Ia benar-benar ingin tahu orang seperti apa Naruto itu, selama enam tahun ia mengenalnya. Apakah cowok pirang ini begitu menyukainya sampai ia ingin menjaga perasaan Sasuke, takut kalau ia menolak sentuhannya dan malah menganggap Naruto patut dijauhi?

Sasuke mengangguk paham. Pemikiran semacam itu wajar. Untuk seorang cowok sekalipun. Ia kembali mengerling Naruto dari sudut matanya, dan berkata, "Oyasumi." Setelah itu, ia bangkit dan masuk ke kamarnya.

wwWww

Tepat sebulan sejak Sasuke meninggalkan rumah sakit. Sudah beberapa hari ini ia jarang bertemu Naruto, padahal mereka tinggal serumah. Bahkan ritual sarapan dan makan malam bersamanya juga sudah ditinggalkan. Sasuke seharusnya tidak mempermasalahkan itu. Tapi sayangnya ia memang mempermasalahkannya. Ia harusnya mulai berpikir sehat kalau dia dan Naruto tidak ada hubungan apapun, jadi Naruto mau makan bersamanya atau tidak takkan jadi urusannya. Tapi sayangnya otak dan nuraninya tidak sinkron. Ia merasa kalau Naruto menghindarinya. Tidak, ia yakin Naruto memang menghindarinya.

Mungkin Naruto sudah bosan? Usahanya untuk terus membangkitkan ingatan Sasuke yang raib sama sekali tidak membuahkan hasil. Mungkin ia putus asa. Mungkin dia sudah menyerah.

Sasuke sedang menyetir mobilnya saat ini. Ia baru saja mengunjungi makam Itachi, dan menyempatkan diri untuk mampir ke universitas Naruto, berharap bertemu cowok pirang itu di sana tapi ternyata hasilnya nihil. Naruto sudah selama beberapa hari ini membangunkannya seperti biasa, namun berbeda. Ia biasanya menggedor pintu dan terus meneriaki Sasuke sampai ia membuka pintu dan melontarkan kata-kata sinis ke Naruto, tapi sekarang ia hanya mengetuk beberapa kali, kemudian setelah itu pergi, tak peduli Sasuke bangun atau tidak. Saat Sasuke keluar kamar, apartemen mereka sudah kosong. Saat ia pulang dari universitas, ia langsung masuk kamar.

Sasuke akui ia muak dengan itu. Bukankah seharusnya mereka hanya memiliki satu sama lain? Satu-satunya keluarga Sasuke yang tersisa sudah meninggal, dan Naruto juga sebatang kara. Bukan berarti Sasuke ingin bergantung pada orang lain, tapi… entahlah. Ia sendiri tidak bisa menjelaskan secara logis bagaimana bisa ia merasa marah karena belum melihat Naruto dengan benar selama beberapa hari terakhir padahal ia tahu kalau mereka bersama, yang ada pasti hanya cekcok tak penting.

Sasuke langsung menghambur masuk ke dalam apartemennya begitu ia sampai, dan rasa lega langsung menyergapnya begitu ia melihat Naruto sedang duduk di sofa, makan ramen instannya seperti biasa dan menonton tokusatsu di televisi.

"Naruto," panggil Sasuke.

Naruto mendongak memandangnya, tapi tidak menjawab.

"Apa yang terjadi denganmu?" tuntut Sasuke, geram.

"Aku akan pindah apartemen besok."

Sasuke tertegun. Shock mendengar jawaban langsung itu.

Naruto meneguk kuah ramennya dan bangkit berdiri, memberikan senyumnya pada Sasuke sebelum berjalan ke dapur untuk membuang bungkus ramennya.

"Kenapa?"

Lagi-lagi Naruto tersenyum, "Terus memaksakan dirimu untuk tinggal bersamaku tidak akan berakhir baik untuk kita berdua," jelasnya, "Jadi, Sasuke, aku akan segera menyingkirkan diriku dari hidupmu, karena jelas aku takkan tahan kalau misal suatu hari nanti kau mengencani seorang wanita dan memutuskan untuk tinggal bersamanya saja. Sebelum itu terjadi, aku akan enyah duluan."

Sasuke kehilangan kata-kata. Naruto akhirnya bersikap realistis. Ia sudah menerima kenyataan kalau ingatan Sasuke mungkin takkan kembali. Tapi masalahnya sama sekali bukan itu. Bukan itu.

"Nah," Naruto menyentuh pundak Sasuke. Sasuke menyadari kalau itu adalah kali pertama Naruto menyentuhnya, diluar konteks bertengkar, selama sebulan ini, "Mungkin keadaan sekarang tidak bisa dibilang 'putus' karena bahkan kau tidak ingat kita pernah menjalin hubungan," ia tertawa pahit, "tapi terimakasih untuk segalanya, Tem—ah, tidak—Sasuke."

Naruto menjauhkan tangannya dari pundak Sasuke, "Lagipula sebelum bertemu kau, aku bisa hidup tanpamu. Aku yakin aku akan bisa melakukannya lagi."

Dan Sasuke mengutuk dirinya sendiri karena sama sekali tidak mengatakan apapun pada Naruto sepanjang sisa hari itu.

wwWww

Keesokan harinya, Sasuke langsung melompat dari tempat tidurnya begitu alarmnya berbunyi dan melesat ke kamar Naruto di sebelah kamarnya. Ia berhenti di ambang pintu, Naruto sudah mengepak barang-barangnya dalam kotak-kotak kardus dan sekarang sedang mengemas kardus terakhir.

"Ohayou," ujar Naruto tanpa repot-repot menoleh memandangnya.

Sasuke menyandarkan dirinya di ambang pintu, mengamati Naruto, bergumul dengan nuraninya sendiri. Apa seperti ini juga perasaannya ketika memutuskan untuk menjalin hubungan dengan Naruto? Galau? Ia sampai sekarang masih tak paham kenapa ia menyukai Naruto, tapi sudah sejak berhari-hari yang lalu ia tidak ambil pusing dengan pemahamannya. Jujur saja, saat ini ia merasa marah karena Naruto menyerah untuk membuatnya ingat kembali. Ia merasa seharusnya Naruto berusaha lebih keras lagi.

Sasuke mengerling secarik kertas yang tergeletak di atas meja di dekat pintu, dan tanpa sadar menyobek-nyobeknya menjadi bagian-bagian kecil sebelum melemparkannya, dengan menjadikan Naruto yang tengah berjongkok di depan kardusnya sebagai sasaran.

'Tatap aku, Dobe,' batin Sasuke setiap ia melempar gumpalan kertas-kertas kecil ke arah Naruto.

"Kau kenapa sih?" salak Naruto sambil bangkit berdiri, menatap Sasuke sebal.

'Nah, bagus, begitu.'

"Jangan cari gara-gara denganku. Belum tentu setelah ini kita bisa bertemu lagi, jadi jangan membuatku dendam padamu," rutuk Naruto.

Tanpa berpikir panjang, Sasuke melangkah mendekati Naruto dan mengeliminasi jarak di antara mereka berdua. Entah kerasukan apa, Sasuke membiarkan dirinya mencium Naruto, bukan kecupan ringan seperti yang biasa dilakukan anak usia tujuh belas tahun pada umumnya. Ketika bibir Naruto menyentuh bibirnya, membalas ciumannya dengan sama intensnya, pemahaman menyapu otak Sasuke. Ia sadar ia tidak perlu mencari alasan kenapa ia bisa menyukai Naruto selama enam tahun ini. Karena alasannya tak akan pernah dia temukan. Menyukai seseorang tidak butuh alasan, kan? Yang penting adalah saat ini. Dan saat ini ia merasa kalau ia tidak ingin Naruto pergi. Ia akan cegah dengan segala macam cara kalau perlu. Itulah yang dia pikirkan sebelum ia memutuskan untuk mencium Naruto. Sasuke tidak tahu apakah dengan ciuman ini berarti ia mulai menyukai Naruto atau tidak. Ia tidak yakin. Ia tidak peduli. Ia hanya ingin Naruto tetap di sini.

"Apa…," sengal Naruto begitu mereka saling menjauhkan diri karena kebutuhan akan oksigen, "Untuk apa itu tadi?" tanya Naruto, ia tampak terkejut, dan marah, "Kau bahkan tidak mengingatku sebelum sebulan ini kan?"

"Bodoh," balas Sasuke, memukul puncak kepala Naruto pelan dengan tinjunya, "Kalau kau tidak bisa mengembalikan ingatanku, kembalikan saja rasa sukaku padamu, Dobe."

/fin/

/omake/

Sasuke mengamati Naruto yang tengah membongkar kembali barang-barang yang tadi sudah dikemasnya, menatanya asal saja di kamar Sasuke. Ya, Sasuke baru saja menyuruhnya untuk pindah ke kamarnya, dengan dalih, "Biarkan kamar Aniki tetap seperti sebelum kau tempati, Dobe. Aniki bisa menghantui kita berdua kalau tahu kau membuat kamarnya berantakan."

Dan lagi, Sasuke hanya berdiri diam, menyandarkan dirinya di ambang pintu, bercokol dengan pikirannya sendiri. Sebenarnya sudah sejak beberapa minggu lalu ada yang mengganjal di pikirannya, sejak Sakura menceritakan kencan pertama Sasuke dan Naruto dengan mata berbinar. Tapi ia selalu mencoba untuk tidak memikirkannya, apalagi mengungkitnya. Karena ia takut jawabannya tidak sesuai harapannya mungkin? Dia straight. Tadinya dia sangat yakin dengan itu, tapi dalam hal ini...

"Naruto," panggil Sasuke akhirnya. Rasa penasarannya mengalahkan perasaan lain yang menahannya untuk tidak menanyakan ini.

"Hm?" tanggap Naruto, masih sibuk memasukkan baju-bajunya ke lemari.

"Kau dan aku... siapa yang dominan?" tanya Sasuke akhirnya, berusaha seimplisit mungkin, dan berusaha menjaga agar ekspresinya tetap datar.

Naruto berhenti melakukan pekerjaannya dan menoleh ke arah Sasuke. Ia melempar senyum jahil, "Menurutmu?"

wwWww

Yatta! Selamat hari kemerdekaan, Saudara-saudaraku para fujoshi dan fudanshi :) fanfic ini saya dedikasikan untuk memperingati hari bersejarah ini. Ide awal untuk fanfic ini sendiri didapat dari iklan kecap Bango (?) dan drama korea Secret Garden. Hahaha. Dan jangan permasalahkan judul yang tidak nyambung itu. Saya sudah lama mengalami krisis penjudulan. Waktu saya konsultasikan dengan Nae Rossi-chan, dia ternyata juga sama bingungnya, jadi yasudah. Wkwkwkwk *slapped*

Di review banyak yang menanyakan bagaimana sejarah keluarga Naruto, bagaimana dia bisa hidup sebatang kara, jadi saya jelaskan singkat di sini: Naruto tumbuh besar di panti asuhan! Orangtuanya kemana, mati atau tidak, dia punya kerabat atau tidak, dan hal-hal lainnya, silakan readers unleash your imagination! *dikeroyok rame-rame*

Saya sekali lagi minta maaf untuk typo, OOC, EYD yang abal-abal dan segala kekurangan-kekurangan lainnya dalam fic ini orz. Dan untuk omake-nya, rasanya familiar sekali dengan omake di fic saya sebelumnya 'I Wanna', ya? Nyahahaha~ *gak kreatip*

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Story by: Red Ocean & Nae Rossi-chan

Edited by: Nae Rossi-chan

ALWAYS KEEP THE FAITH