Light Amongst the Darkest Wood

Author : Twice Born Balrog Slayer

Genre : Drama

Characters : Thranduil, Legolas

Rating : T (remaja...atau lihat-lihat nanti deh)

Summary : Alur cerita yang akan menjawab. Sejujurnya, kadang ringkasan awal bisa merusak suasana….

A.N : Terima kasih banyak buat para pembaca yang berkomentar baik tentang karya terdahulu saya yang hancur itu (mudah-mudahan hantunya Tolkien tidak balik menghantui saya…). Sekarang saya lagi istirahat bikin parodi, karena selain belum punya ide, ternyata capek juga ya? Cerita ini saya buat lantaran ada dua permintaan di halaman review : yang satu minta cerita dengan tokoh utama Legolas, dan yang lain minta cerita bergenre drama/angst dengan tokoh Elrond/Celebrian. Masalahnya, yang muncul di kepala justru ide untuk menggabungkan Legolas dengan genre drama/angst. Ya sudah, daripada jadi bisul, saya garap saja jadi serial. Oh ya, cerita ini juga didasarkan pada salah satu karakter yang muncul hanya sebentar di buku The Hobbit, yaitu pelayannya Lord Thranduil dari Mirkwood yang bernama Galion. Berhubung silsilah dan rincian hidup Legolas adalah yang jatahnya paling pelit di buku, jadilah saya bebas menggarap alur dan penokohan. Mudah-mudahan bisa memuaskan para pembaca (amin !)


Pendahuluan

Senja mulai terbit di Mirkwood, dan cahaya lentera-lentera yang baru dinyalakan menimbulkan bayang-bayang panjang di dinding-dinding batu istana-gua Lord Thranduil. Para pelayan yang sibuk menyalakan lentera saling berbicara dan menatap prihatin pada sang lord, yang kini sedang duduk di depan kamarnya sambil menopang wajah dengan kepalan tinju. Sudah berjam-jam semenjak ia berganti posisi, dan walau memang selalu bersikap tenang, bahkan Peri paling bebal pun bisa mengetahui kalau ia sedang cemas luar biasa.

Dari dalam kamar, terdengar suara erangan lirih seorang wanita. Lord Thranduil sedang menanti kelahiran anak pertamanya.

Selama setengah jam terakhir, erangan-erangan itu mulai disertai jeritan-jeritan kecil yang nyaris menjadi tangisan. Lord Thranduil mengetatkan kepalan tinjunya atau menipiskan bibirnya setiap kali jeritan terdengar, tetapi selain itu nyaris tak ada perubahan apapun pada ekspresi wajahnya. Sepiring roti madu dan sebotol anggur telah diletakkan di meja kecil di sisinya; rotinya nyaris tak tersentuh, namun isi botolnya sudah tinggal separuh. Sesekali, seorang pelayan akan masuk ke kamar membawa setumpuk handuk atau baskom air, lantas keluar secepat-cepatnya.

Seorang pelayan pria yang berjaga di dekat pintu, yang hendak digantikan oleh salah satu rekannya sesama pelayan, maju dan bergerak untuk mengambil botol anggur ketika sang lord hendak menuangkan isinya ke gelas.

"My lord, saya mohon," ujarnya perlahan. "Anda tidak ingin pandangan anda kabur karena anggur sebelum anda melihat anak anda, bukan ?"

Lord Thranduil menatap pelayan itu berlama-lama, membuatnya gugup. Pelayan itu lantas mendesah lega ketika Lord Thranduil mendorong botol dan gelas anggur ke arahnya, membiarkan si pelayan mengambilnya dan membawanya ke dapur.

"Akan saya ambilkan teh untuk anda," ujar pelayan itu, sebelum berlalu, lega karena bisa terbebas dari tatapan tanpa ekspresi Lord Thranduil yang menyesakkan.

Tepat setelah itu, sayup-sayup terdengar tangisan bayi dari dalam kamar, dan Lord Thranduil nyaris saja mendorong jatuh kursinya ketika ia berdiri. Beberapa pelayan dan penghuni istana yang berada di tempat itu bersorak gembira, sementara Lord Thranduil bergegas masuk ke kamarnya.

Begitu ia membuka pintu, pemandangan pertama yang dilihatnya adalah dua orang wanita yang sedang membersihkan sesuatu yang nampaknya berwarna merah muda, basah, dan bergerak-gerak di atas meja kecil. Bayinya. Untuk beberapa saat, Lord Thranduil hanya bisa termangu menatap mereka, namun sejurus kemudian segera menghampiri ranjang besar yang ditempati istrinya. Wanita itu nampaknya tertidur, dan rupanya amat lelah, karena matanya terpejam dan tak selazimnya bagi kaum Peri yang tidur dengan mata tetap terbuka.

"My lord," ujar sang bidan, sebelum Lord Thranduil sempat menyentuh istrinya. Bidan itu menggendong si bayi yang kini terbungkus selimut lembut berwarna kuning. "Selamat untuk anda; seorang pangeran kecil yang sehat dan tampan."

Pangeran. Anak lelaki.

Lord Thranduil mendekati bidan itu, yang separo mengangsurkan bayinya agar wajahnya bisa terlihat jelas. Tangisan keras bayi itu kini telah berubah menjadi isakan-isakan kecil yang lebih mirip suara sedakan. Hanya kepala, wajah bulat serta seujung kepalan tangan kanannya yang mencuat keluar dari kain pembungkusnya, samar-samar menguarkan aroma lembut khas bayi yang sukar dijelaskan.

Perlahan, Lord Thranduil mengulurkan telunjuknya dan membelai pipi bayi itu; matanya yang biasanya nampak dingin sedikit melunak, namun mendadak ia berbalik dan kembali ke sisi istrinya.

"My lord…"

"Bagaimana keadaan istriku ?" Tanyanya, menggenggam tangan istrinya dan menggosok-gosoknya. "Mengapa tangannya dingin begini ? Apakah ada yang lupa menyalakan perapian di kamar ini ? Kau," Lord Thranduil menatap seorang healer yang berdiri di samping ranjang istrinya, "mengapa berdiri mematung saja di situ ? Bukankah kau seharusnya merawat istriku ?"

"My lord," ujar healer itu perlahan, raut wajahnya nampak amat sendu. "Istri anda sudah tiada."

Sang bidan tanpa sadar mengetatkan pelukannya pada si bayi. Dua pelayan wanita yang tadi memandikan si bayi berdiri merapat, menahan tangis. Lord Thranduil mematung, tangannya berhenti menggosok-gosok tangan istrinya; dengungan aneh memenuhi rongga telinganya, membuat kamar yang hening itu serasa dipenuhi ratusan orang.

"Apa ?"

"Maafkan saya, my lord. Istri anda sudah tiada. Belum terlalu lama ia wafat…."

"Beraninya kau bercanda seperti itu, healer. Apa kau ingin kulempar ke penjara bawah tanah ?"

"Ampun, my lord. Saya tidak akan pernah bercanda dalam situasi seperti ini. Istri anda melalui proses persalinan yang sulit. Kami telah berusaha sekuat tenaga, dan sang lady sendiri berjuang keras. Tetapi bagaimanapun, Iluvatar punya kehendak berbeda."

"Diam !"

Semua orang yang ada di ruangan itu untuk pertama kalinya melihat Lord Thranduil kehilangan kendali emosinya. Kedua pelayan wanita memekik lirih mendengar sang lord membentak dengan sorot mata mengerikan. Sang bidan berhasil menahan dirinya supaya tidak menjerit, sementara satu tangannya perlahan menutupi telinga kanan si bayi, yang tersentak saat sang lord membentak.

"My lord, saya mohon, putra anda terkejut."

Lord Thranduil melempar pandang ke arah sang bidan, lantas menoleh lagi ke arah istrinya. Ditatapnya lekat-lekat wanita yang telah mendampinginya selama ratusan dasawarsa itu. Wanita yang di awal kehadirannya hanya dianggapnya dengan setengah hati, lantaran pernikahan yang sarat berbagai kepentingan, namun belakangan mulai terasa sebagai bagian yang tak boleh hilang dari kesehariannya.

Dirabanya bibir istrinya, yang tipis dan terkatup. Entah sudah berapa kali bibir itu diciuminya, mulai dari sentuhan awal yang datar dan berbau kewajiban di malam pertama, hingga sentuhan lebih intim yang baru belakangan ini saja ia pahami kenikmatannya. Dan matanya…sekarang tak akan ada lagi tatapan tak setuju dari satu-satunya orang yang berani mempertanyakan rencana atau kebijakannya. Apakah baru kemarin mereka bersantap malam berdua di depan perapian, akhirnya saling menyatakan cinta untuk pertama kalinya semenjak hari pernikahan ?

Dan tangan yang digenggamnya; berapa kali sudah tangan itu memijat-mijat pundaknya kala ia lelah, atau membelai-belai wajahnya saat ia menumpahkan ketakutan terdalamnya akan kewajibannya yang sangat berat ? Kehilangan ayah dalam perang melawan balatentara Sauron, dan beban memerintah kerajaan yang sebagian wilayah hutannya tertutup sarang laba-laba raksasa ataupun jalur perjalanan orc dan goblin ? Hanya wanita itu yang pernah mendengar keluhan-keluhannya tersebut, tanpa menghakimi ataupun memberi pendorong semangat palsu.

"Saya turut berduka, my lord," ujar healer itu, ekspresi wajahnya dengan jelas menunjukkan perasaannya. Lord Thranduil tak menanggapinya, terus duduk di sisi istrinya sambil tetap menggosok pelan tangannya, seolah dengan menghangatkan tangan sang istri akan mengembalikannya dari kematian. "Tetapi, kalau boleh saya berkata, anda masih memiliki peninggalan istri anda. Putra anda, sang pangeran."

Seolah baru benar-benar menyadarinya, Lord Thranduil menoleh menatap putranya, yang kini dibawa sang bidan ke sisi ranjang.

"Ini, my lord, gendonglah Pangeran Legolas."

Lord Thranduil mengangkat alisnya sedikit

"Istri anda sempat membisikkan nama itu pada kami di sela-sela persalinannya. Kata sang lady, beliau selalu ingin mengabadikan keindahan musim panas dalam nama anak pertamanya, karena itu musim kesukaannya."

Legolas berarti 'daun hijau.'

"My lord, gendonglah."

Sang bidan mengulurkan bayi dalam gendongannya, dan untuk pertama kalinya, Lord Thranduil benar-benar menekuni detil-detil raut wajah putranya. Kedua mata Legolas berwarna biru mirip istrinya, walau menurut sang bidan, warna biru itu masih bisa berubah. Rambutnya yang hanya sejumput berwarna pirang keemasan, mirip pula dengan rambut istrinya. Bibirnya pun jelas bibir istrinya, walau bayi itu nampaknya akan mewarisi hidung mancungnya. Lord Thranduil tak bisa lebih yakin lagi bahwa Legolas memang benar peninggalan istrinya.

Seharusnya ia merasa bahagia. Seharusnya ia langsung menggendong Legolas dan memeluknya penuh sayang. Namun, ketika berpaling menatap wajah istrinya yang pucat, Lord Thranduil mendadak merasakan kekosongan aneh yang dingin di dadanya. Ia menatap istrinya dan bayinya, berganti-ganti, membuat sang bidan serta healer dan kedua pelayan merasa heran.

Mendadak, diiringi kekagetan semua orang, Lord Thranduil berdiri dan berjalan keluar kamar, tanpa sedikitpun menghiraukan si bayi maupun seruan-seruan heran sang bidan dan healer.

Bersambung