Legolas bersandar pada batang tebal pohon oak di luar kamarnya, membiarkan tungkainya menggelantung dari dahan besar tempatnya duduk. Busurnya, busur pertama yang dibuatnya sendiri, diletakkan di pangkuannya, sementara setabung anak panah digantung di ujung dahan. Pohon itu tingginya paling tidak sepuluh meter, namun bagi Legolas pohon itu tak jauh beda tingginya dengan ranjangnya. Kebetulan, dahan tempatnya duduk mudah dicapai dari jendela kamarnya, dan ia kerap naik ke pohon lewat dahan itu.

Empat puluh musim panas telah berlalu semenjak kelahiran Legolas, dan kini ia telah menjadi remaja. Tubuhnya tak lagi kurus melainkan sedikit berotot, suaranya kian mantap, dan telapak tangannya kasar karena sudah terbiasa berlatih memainkan senjata. Tulang pipinya tinggi dan lehernya jenjang, tidak diragukan lagi rupa yang berkesan ningrat, walau kesan itu sedikit rusak oleh hidungnya yang patah lantaran berkelahi sehari sebelumnya. Yang tidak berubah hanyalah rambut pirang keemasannya yang mencapai pertengahan punggung, serta mata birunya yang sudah sangat menyolok sejak ia lahir.

Semua orang bilang, kecuali perawakan dan tindak-tanduknya, Legolas adalah kembaran sempurna mendiang ibunya.

Orang-orang konyol itu mengatakannya dengan nada kagum dan iri, demikian Legolas kerap membatin, memang mereka bilang ibuku sangat cantik, tapi mereka tidak tahu apa-apa….

"Pangeran Legolas !"

Seseorang berseru memanggilnya dari bawah pohon. Sosoknya dari atas tak terlihat lantaran tertutup beberapa dahan dan dedaunan, namun Legolas tahu, hanya satu orang yang dikenalnya yang mampu membuat dirinya terdengar jelas walaupun dari jarak bermeter-meter.

"Bresilas, mau apa kau ?"

Bresilas, kapten pengawal sekaligus pelatih calon-calon prajurit muda, mendongak menatap ke balik gerumbulan dedaunan, dengan tepat memperkirakan posisi duduk Legolas.

"Turunlah, pangeran, ini waktu anda belajar memanah."

Legolas dengan sengaja tak menjawab, dan malah memejamkan mata, menikmati kehangatan matahari musim panas.

"Pangeran ?"

Masih tak ada tanggapan.

"Pangeran Legolas, bila anda tidak turun sekarang juga, saya terpaksa harus memberitahu ayah anda."

Legolas diam-diam mencebik. Memangnya apalagi yang baru ?

"Terserah kau saja," balas Legolas akhirnya, "aku tak berminat datang, titik."

"Tidak bisa begitu, pangeran. Saya sudah berkewajiban untuk mengajari anda, pada jam ini, setiap hari. Ini amanat dari ayah anda."

"Tidak. Aku tak mau menghabiskan musim panas ini berjam-jam di arena memanah. Aku sudah kuasai permainan bayi itu."

Bresilas menghembuskan nafas keras. Bukan sekali-dua kali saja ia dibuat kehilangan kesabaran oleh Legolas.

"Itu bukan kata-kata yang pantas diucapkan, pangeran. Bahkan seorang prajurit kawakan masih harus tetap berlatih demi mengasah keahliannya. Lagipula, sebagai penerus ayah anda, penting sekali untuk…."

Bresilas tidak sempat menyelesaikan kalimatnya, karena sebatang anak panah mendadak melesat dari balik dedaunan dan menancap hanya beberapa senti dari ujung sepatu butnya. Pengalaman bertahun-tahunlah yang membuatnya tidak menjerit, namun tak urung ia sangat terperanjat.

"Pangeran !"

"Kalau aku mau, aku bisa membuatnya menancap langsung di ujung sepatumu, Bresilas," balas Legolas. "Sekarang pergilah dan jangan ganggu aku."

Bresilas membuka mulut dan nyaris mengeluarkan perkataan keras, tetapi ia tak bisa melihat Legolas dari tempatnya berdiri, dan siapa tahu pemuda itu sedang mengarahkan anak panah kedua padanya. Semua orang di lingkungan istana itu tahu, Pangeran Legolas bisa sangat tak terduga bila ia mau, dan seringkali itu bukan sesuatu yang menyenangkan. Tak punya pilihan, pria itu berbalik dan pergi, setelah sebelumnya menyahut, "terserah anda."

Di atas pohon, Legolas diam-diam menatap siluet Bresilas yang nampak di sela-sela rerimbunan dedaunan dan jalinan dahan. Bresilas bahkan sama sekali tak berhenti, atau menengok kembali, ketika berjalan menjauh. Setelah sosoknya menghilang, Legolas kembali bersandar pada batang pohon, wajahnya tanpa ekspresi.

Mendadak, raut wajahnya mengeras, dan dengan geraman disentakkannya tabung anak panahnya hingga terlepas, lantas dihempaskannya ke tanah.

Malam hari.

Ruang makan pribadi keluarga penguasa Mirkwood berukuran cukup luas, dengan sebuah meja persegi besar sebagai pusatnya. Suasananya sedikit suwung dan sunyi, karena hanya dua orang yang menggunakannya sejak sekian lama. Diterangi cahaya lentera dan lilin di atas meja, penguasa Mirkwood beserta putranya menyantap hidangan makan malam dalam kesunyian.

Legolas memutar-mutar garpunya di atas kentang tumbuknya, hanya sesekali saja memasukkan makanan ke mulut dan mengunyahnya tanpa selera. Sesekali, ia melirik ayahnya, Lord Thranduil, dan akan buru-buru menunduk lagi bila ayahnya mendongak. Tak ada percakapan atau sekedar "bagaimana harimu ?" Hanya suara dentingan pisau atau garpu pada piring, dan sesekali suara kucuran bila pelayan menuangkan anggur tambahan ke dalam gelas.

"Makananmu belum habis separuhnya," ujar Lord Thranduil mendadak, membuat Legolas nyaris menjatuhkan garpunya karena kaget. "Jangan sia-siakan jerih payah juru masak kita."

Begitu saja; ia bahkan tak mengangkat kepala untuk menatap Legolas saat mengatakannya. Legolas mengangkat garpu dan memasukkan kentang ke mulut. Rasanya seperti menelan bola bulu. Setelah beberapa suapan, Legolas memutuskan bahwa suasananya sudah terlalu menyesakkan untuk menikmati makan malam.

"Sudah cukup, ayah."

Lord Thranduil hanya mengangkat alis, tetapi tak menatap anaknya. "Sia-sia saja menyuruhmu makan," gumamnya sambil terus menatap piringnya.

Legolas menahan keinginan untuk menghela nafas kuat-kuat. Sejauh yang bisa diingatnya, suasana makan bersama ayahnya selalu seperti ini; tegang dan tak nyaman. Legolas hingga kini tak pernah tahu, mengapa harus demikian. Banyak ayah teman-temannya yang juga pendiam dan tak banyak omong, namun tindak-tanduk mereka terhadap sang anak tetap memancarkan kehangatan yang tak bisa ditutup-tutupi. Dengan ayahnya sendiri, Legolas tak pernah merasakannya.

Saat Legolas sudah tak tahan dan hendak pergi saja dari tempatnya duduk, Lord Thranduil menghentikan suapannya, dan berkata datar, "silakan kalau kau ingin pergi duluan. Tetapi setelahnya, temui aku di aula senjata."

Legolas mengernyit. "Untuk apa ?"

"Lakukan saja."

Dengan heran, Legolas beranjak dari kursi dan keluar dari ruangan. Saat ini, ia tidak lagi merasa lega karena bisa keluar, melainkan heran. Apa yang diinginkan ayahnya ? Dan mengapa ayahnya tidak menyebut-nyebut insiden dengan Bresilas ? Kepala pengawal itu orangnya jujur; ia akan mengatakan semuanya pada ayahnya. Biasanya, ayahnya tidak pernah melewatkan kesempatan untuk memberinya nasihat-nasihat bernada keras, apapun yang telah dilakukannya. Tapi kali ini ?

Beberapa pelayan yang melewati koridor buru-buru menyingkir sambil membungkuk hormat ketika ia lewat. Tak ada senyum hangat, atau sapaan yang lebih dari sekedar, "selamat malam, pangeran." Legolas bahkan tak mau repot-repot mengangguk sebagai balasan, dan terus saja berjalan seolah para pelayan itu tak lewat di dekatnya.

Aula senjata adalah ruangan besar dan luas, dengan berbagai macam senjata tergantung di dinding atau terletak pada rak dan peti di sisi-sisi ruangan. Sederet papan sasaran untuk latihan memanah menempel di salah satu sisi dinding. Walaupun dindingnya dari batu, lantainya dibiarkan berupa tanah, untuk mencegah lantai licin akibat keringat serta gesekan sepatu-sepatu orang-orang yang berlatih di atasnya.

Legolas sering menggunakan waktu luangnya memanah atau berlatih belati panjang—senjata-senjata kesukaannya—di ruangan ini, sendirian ataupun bersama Bresilas. Tetapi belakangan, ia lebih sering menggunakan ruangan ini sendirian saja.

Hingga beberapa bulan yang lalu, Legolas masih sering berlatih bersama remaja-remaja lainnya. Kini tidak lagi, dan ia tak menyesal karenanya. Toh tak ada yang merasa kehilangan dirinya, dan ayahnya tak pernah bertanya. Tanpa sadar, dirabanya hidung yang pernah patah bekas berkelahi itu.

Tak ingin berdiam diri, Legolas mendekati rak senjata dan menarik sebilah pedang, lantas menimbang-nimbang berat pedang itu sambil berjalan ke arena. Pedang sebenarnya bukan senjata keahliannya, dan entah sudah berapa kali Legolas menjadi bulan-bulanan bila tiba waktunya berlatih menggunakan pedang kayu bersama Bresilas. Bagaimanapun, Legolas tahu bahwa ksatria-ksatria terhebat di Mirkwood adalah pemain pedang handal. Ia tak keberatan berlatih pedang, hanya saja ia tak suka dilihat orang.

Selama beberapa saat, Legolas melatih tebasan-tebasan dasar dan mulai menebas lawan-lawan imajiner kesana-kemari. Gerakan-gerakannya terasa kaku, namun tenaganya kini sudah lebih kuat, dan pedang itu tak lagi membuatnya merasa berat sebelah. Hingga ketika ia berputar ke belakang dan melakukan tebasan miring dari atas ke bawah, mendadak terdengar suara berdentang keras dan pedangnya ditangkis seseorang, begitu cepat hingga wajah Legolas nyaris terhantam pedangnya sendiri.

"Ayah ?"

"Berdiri yang tegap," perintah Lord Thranduil. Saat itu, jubah rumahnya sudah menghilang, diganti dengan tunik kelabu dan celana panjang hitam. Sejalin rambut ditahan di sisi-sisi kepalanya dengan kepangan ala ksatria. Tangan kanannya menggenggam pedang yang bentuk dan ukurannya sama dengan milik Legolas, namun entah mengapa jadi terlihat lebih mengancam di tangannya.

"Angkat pedangmu dan hadapi aku."

Legolas berhenti merasa heran, dan mengetatkan pegangannya pada pedangnya. Jadi Bresilas sudah mengadu, pikirnya getir, saat ayahnya menerjang maju dan menebasnya. Ketika Legolas menangkisnya, tangannya sedikit bergetar. Tanpa sadar, ia melompat mundur.

"Mundur ? Kukira, kau sudah jauh lebih baik dari ini untuk bersikap kelewat percaya diri di depan gurumu."

Thranduil menatap putranya dengan dingin, dan serentetan sabetan susulan yang penuh tenaga membuat Legolas merasa dadanya panas karena berkali-kali harus menghindar dengan cara melompat. Kali berikutnya ia menangkis serangan ayahnya, pedangnya bergetar hebat dan menyakiti tangannya yang sudah kebas. Ia nyaris memekik, tetapi ditahannya.

Aku tak akan memberi kepuasan pada si tua ini !

Legolas mencoba melesat maju dari posisinya dan balas menebas, tetapi Thranduil menghindar dengan mudah, ekspresinya nyaris bosan. Ini membuat Legolas merasa marah dan segera mengubah arah, merubah sabetan menjadi tusukan. Namun gerakannya terasa canggung, dan Thranduil menangkisnya dengan cara memutar.

Mendadak, Legolas merasakan sengatan di sisi lutut kirinya, dan ia memekik sambil berlutut. Thranduil telah menendangnya, disusul dengan sebuah pukulan di wajah yang membuatnya jatuh terlentang sambil memegangi wajahnya. Pedangnya terlepas dari tangannya, terjatuh entah di sebelah mana.

"Berdiri," perintah Thranduil, "itu tidak keras sama sekali. Ayo !"

Tetapi Legolas masih butuh beberapa saat sebelum bisa melakukan perintah ayahnya. Pukulan itu membuatnya sedikit pening, dan lubang hidung sebelah kirinya serasa tersumbat. Bibir atasnya nampaknya juga pecah; darah yang bercampur air liur terasa asin di lidahnya.

"Kalau ini pertempuran sesungguhnya, kau sudah akan mati karena terlalu lama berbaring di tanah !" Sentak Thranduil. "Ayo, berdiri dan buktikan kehebatanmu yang kau tunjukkan pada Bresilas siang tadi."

Legolas mendadak berdiri dan, dengan raungan, menyerbu ke arah ayahnya dengan tangan kosong. Tinjunya sudah teracung, dan akan menghantam Thranduil tepat di ulu hati. Ia sudah tak peduli lagi walaupun akan kena pukul. Namun, dugaan Legolas salah, karena ayahnya mendadak berkelit ke samping dan menangkap pergelangan tangannya. Detik berikutnya, ia sudah terbanting lagi ke lantai, dengan lengan terkunci.

Legolas mencoba berontak, namun mendadak rasa sakit menjalar dari bawah siku hingga ke bahunya, membuatnya memekik.

"Aku menyerah, ayah !"

Untuk sesaat, Thranduil hanya menatap putranya yang sia-sia mencoba melepaskan diri. Kalau saat itu ada yang melihat sang raja dari dekat, orang itu mungkin akan berkata bahwa sorot matanya melunak sedikit. Tetapi, ketika melepaskan tangan Legolas, suaranya sedingin dan setajam kerucut es.

"Dan kelak aku harus mewariskan kerajaan ini padamu ?" Thranduil mendesah. "Menyedihkan. Sungguh menyedihkan."

Tanpa berkata apa-apa, Thranduil meninggalkan ruangan itu, meninggalkan Legolas yang masih terbaring di lantai, berjuang mengumpulkan sisa-sisa kekuatan beserta harga dirinya. Entah ia mengetahuinya atau tidak, fakta bahwa putranya juga sedang berusaha menahan jatuhnya air mata.

Bersambung