Legolas berbaring di ranjangnya, masih mengenakan pakaian yang sama dengan yang dipakainya saat menerima 'pelajaran' dari sang ayah. Bagian depan pakaian itu kotor oleh debu dan ada beberapa tetes darah menodainya, namun Legolas tak peduli.
Di atas meja kecil di samping ranjangnya, ada sebuah basin berisi air hangat bercampur sesuatu yang samar-samar beraroma mint dan kamomil. Seorang pelayan membawakannya bersama sepotong kain lembut ketika ia melihat Legolas berjalan tersaruk-saruk menuju kamarnya dengan wajah terluka, namun Legolas menolak tawaran bantuannya untuk menyeka lukanya.
Berjam-jam sudah berlalu semenjak Legolas kembali ke kamarnya, dan selama itu, yang dilakukannya hanya berbaring sambil berusaha keras melupakan betapa insiden barusan menggores harga dirinya begitu dalam. Walaupun bisa begitu tak pedulian bila mau, Legolas benci kalah dalam hal apapun dan nyaris selalu memenangkan perkelahian, namun kini ia dipecundangi lagi habis-habisan justru oleh ayahnya sendiri.
Tangan Legolas kembali menjangkau kain dan mencelupkannya ke dalam air, sebelum memerasnya dan meletakkannya di bawah mata kirinya, bagian yang membiru bekas terpukul. Ia meringis ketika luka gores kecil di dekat hidungnya tersengat air yang sejuk, namun sejenak kemudian, Legolas mendesau lega sambil menikmati kesejukan dan wangi kain itu.
Sambil tetap menempelkan kain ke wajahnya, Legolas mengubah posisi berbaringnya sehingga kini ia berbaring menyamping. Saat itu, pandangannya menyapu ke arah rak buku tinggi di sisi lemari pakaiannya. Di sudut rak bagian atas, nyaris tak terlihat dari tempatnya berbaring, ada sebuah kotak kayu bertutup. Legolas ingat meletakkan kotak itu di rak teratas setelah ia memutuskan tidak lagi menyukai isinya, namun saat ini, tiba-tiba saja ia ingin melihat isi kotak itu kembali.
Legolas harus meletakkan sebuah kursi di depan rak dan menaikinya sebelum bisa menjangkau kotak tersebut. Setelah meniup selapis debu yang menutupi permukaannya, Legolas membawa kotak itu ke ranjangnya. Perlahan-lahan, dibukanya tutup kotak tersebut, lantas dipandanginya.
Tanpa sadar, Legolas tersenyum sedikit. Kotak tersebut beserta isinya adalah hadiah yang didapatnya di salah satu pesta perayaan hari jadinya, yang sudah lama sekali; ia sendiri sudah lupa yang keberapa, namun dirinya jelas masih bocah. Legolas merasakan setitik nyeri ketika mengingat bahwa Bresilas-lah yang dulu memberikannya, dan beberapa jam yang lalu, Legolas nyaris saja membuatnya kehilangan jari kaki dengan anak panah yang ditembakkannya.
Ketika gumpalan rasa nyeri itu nyaris berkembang menjadi rasa bersalah yang menyiksa, Legolas buru-buru menekannya dengan mengenang-ngenang kembali saat-saat menggembirakan ketika ia untuk pertama kalinya menerima dan membuka kotak itu….
Hari sudah menjelang malam, namun keramaian di dalam istana batu penguasa Mirkwood malah semakin meriah. Itu adalah perayaan hari jadi Pangeran Legolas, dan para tamu bangsawan, perwira, penasihat serta seniman berkumpul di balairung istana dalam suasana pesta. Santap malam baru saja berakhir dan banyak di antara para tamu yang mulai merasakan efek minuman anggur, arak madu, atau wiski Gondor yang tersohor kerasnya.
Musik tak henti-hentinya dimainkan sementara orang-orang berdansa. Para pelayan hilir mudik mengantarkan minuman, atau bergerak sigap mengisi tiap piring kudapan yang nyaris kosong. Bahkan prajurit-prajurit rendahan dan para pelayan muda tidak luput dari kegembiraan. Sembari melakukan tugasnya, mereka sempat-sempatnya menyelundupkan beberapa piring makanan atau guci-guci anggur, dan bercengkerama sembari berusaha agar tidak mabuk berat sebelum tugas mereka malam itu selesai.
Anehnya, yang berulang tahun hari itu justru seolah tak ingin bergabung dalam perayaan. Legolas kecil duduk bersandar di kursinya, di sisi kanan kursi ayahnya. Lord Thranduil duduk tenang sambil menghirup anggurnya dan sesekali menjawab kata-kata kepala penasihatnya yang duduk di sisi kirinya, nyaris sama sekali tak pernah melirik atau menyapa putranya, kecuali untuk menegur kala Legolas duduk dengan tubuh separuh merosot di kursi seolah perutnya membuncit mendadak.
Di depan kursi-kursi yang khusus disediakan untuk Lord Thranduil, Legolas dan para penasihat serta bangsawan tinggi, ada sebuah meja panjang yang disesaki hidangan-hidangan penutup lezat. Namun, Legolas sama sekali tak berselera. Saat ini, ia sedang memandangi ayahnya dengan kesal. Tadi, sebelum santap malam dimulai, ayahnya berdiri dan mengucapkan pidato singkat yang menurut Legolas indah (walau pilihan kata-katanya membosankan), karena ia mengucapkan selamat dan berkata bahwa Legolas telah tumbuh menjadi pangeran yang cerdas dan pantas disebut seorang calon penguasa.
Namun, setelah meneguk anggur sebagai tanda bersulang, Lord Thranduil kembali duduk tanpa menoleh sama sekali ke putranya. Seolah putranya itu hanya bagian dari dekorasi ruangan, bukan bagian utama dari pesta itu sendiri.
Legolas tak tahan lagi. Ia hanya mengucapkan "permisi, ayah," yang singkat sebelum bangkit dari kursinya dan berlari. Beberapa orang yang melihatnya terkejut, namun ketika mereka melihat bahwa Lord Thranduil hanya menoleh sedikit, mereka jadi tak berani berkomentar apa-apa. Si kepala penasihat bertanya pada sang lord soal apakah beliau tak akan mengejar anaknya, namun Lord Thranduil hanya menggeleng pelan dan berkata, "biarkan dia."
Legolas terus berlari menyusuri lorong-lorong istana yang sudah sangat dikenalnya, melewati pelayan-pelayan yang terkejut, terus ke kamarnya. Dari sana, ia membuka jendela dan memanjat ke pohon favoritnya, yang dahannya baru-baru ini telah memanjang sedemikian rupa hingga cukup dekat dengan jendelanya. Setelah mencapai batang tebal yang bisa diduduki dengan cukup nyaman, barulah Legolas membiarkan setitik air mata menuruni pipinya.
Malam ini hari jadinya, namun ia tak merasa bahwa malam ini adalah miliknya.
Legolas tak tahu sudah berapa lama ia duduk di sana, hingga ia mendengar seseorang memanggil-manggilnya. Namun ia tak peduli, dan terus duduk sambil memandang langit, hingga suara gemeresak pelan membuatnya sadar bahwa seseorang telah memanjat ke dahan di dekat dahan yang didudukinya. Orang itu Bresilas.
"Ada apa, Bresilas?" Gumam Legolas tanpa melihatnya. Bresilas mendehem.
"Pangeran, apa anda tidak mau kembali? Ini pesta untuk anda."
"Tidak," tukas Legolas, mengusap air matanya. "Aku tak suka di sana."
"Mengapa?"
Legolas diam saja. Bresilas menghela nafas, lalu menyodorkan sebuah kotak bertutup yang rupanya dibawanya sedari tadi.
"Tadinya saya ingin memberikan hadiah ini setelah pestanya selesai, tetapi sepertinya lebih baik saya serahkan sekarang. Semoga anda menyukainua."
Legolas menyusut hidungnya, menatap kotak yang ada di tangan Bresilas. Tidak seperti hadiah-hadiah mewah yang telah diterimanya sepanjang petang dan malam itu, hadiah itu nampak sederhana dan bahkan tidak dibungkus dengan apapun. Hanya sebuah kotak kayu polos tanpa hiasan apa-apa.
"Terima kasih," gumam Legolas, mengambil kotak itu tanpa berkata apa-apa. Tetapi, ketika Bresilas hendak bersiap turun, Legolas tersentak. "Kau mau kembali?"
"Tempat saya adalah di samping Lord Thranduil, pangeran, termasuk di acara seperti malam ini."
"Iya, aku tahu, kau pernah bilang," ujar Legolas datar, memalingkan wajahnya kembali ke langit. "Pergilah. Terima kasih untuk hadiahnya."
Bresilas menatap pangeran muda itu selama beberapa saat, mulutnya membuka sedikit seolah mau mengatakan sesuatu, tetapi tak jadi. Dalam sekejap, kepala pengawal itu telah menghilang dari hadapan Legolas.
Baru setelah beberapa saat sajalah Legolas akhirnya membuka tutup kotak itu perlahan-lahan. Ketika melihat isinya, matanya membesar, dan binar samar muncul di wajahnya. Di bawah cahaya samar cemerlang bulan dan bintang-bintang, Legolas bisa melihat prajurit-prajurit kayu mungil yang dipahat amat sempurna, dengan detil-detil mengagumkan hingga ke ceruk-ceruk baju zirah serta simbol rumit di dada salah satu prajurit, yang nampaknya diandaikan sebagai sang komandan perang. Legolas mengangkat salah satu prajurit yang memegang busur panah, menatap wajahnya, membayangkan versi manusia dari prajurit kayu tersebut dengan wajahnya sendiri sebagai pengganti wajah sang prajurit.
Malam itu, Legolas tidak kembali ke pestanya.
Keesokan paginya, saat fajar.
Seorang Peri yang mengenakan jubah perjalanan lusuh serta membawa gembolan kain berdiri di depan pintu yang mengarah ke dapur istana Mirkwood. Ia seorang lelaki berambut warna pasir, dengan mata hijau dalam yang menunjukkan bahwa usianya sudah tak muda lagi, walau sebagai Peri wajahnya tak dihiasi keriput sedikitpun. Hanya saja, sedikit kerutan menghiasi ubun-ubun serta sudut-sudut mata dan bibirnya. Rambutnya sedikit kusut, sementara pakaiannya menguarkan aroma debu serta embun, seperti habis melakukan perjalanan jauh.
Sebelum pria itu sempat mengetuk, pintu terbuka, dan seorang pelayan yang masih amat muda keluar sambil menating ember kayu berisi sampah dapur. Pelayan itu melihat si pendatang baru, dan bertanya, "kau siapa?"
Peri itu membungkuk sedikit, dan berkata, "selamat pagi. Maaf jika aku mengganggumu, tetapi aku hanya seorang pengembara, yang berharap kalau-kalau ada pekerjaan yang bisa kulakukan di kediaman tuanmu ini."
Pelayan itu menggigit bibir.
"Aku tak tahu…aku hanya pelayan dapur disini. Aku tak bisa memutuskan sesuatu tentang itu. Biar kutanyakan pada seseorang di dalam."
"Terima kasih."
Pelayan itu mengangguk sedikit, sebelum bergegas masuk. Si peri pengembara itu dengan sabar menunggu di dekat pintu yang ditutup kembali saat si pelayan masuk. Ia kemudian mengarahkan pandangannya ke sekitarnya sembari menunggu, dan hanya sempat menoleh ketika seorang pemuda mendadak berlari melewatinya hingga menabrak bahunya.
"Hati-hati, nak!" Seru peri pengembara itu. Pemuda itu berhenti dan menoleh ke arahnya.
Kata-kata apapun yang hendak terlontar keluar dari mulut si Peri pengembara tertahan di tenggorokannya. Pemuda yang barusan menabraknya amat tampan walaupun ia hanya mengenakan tunik sederhana, dan anehnya familiar. Samar-samar, pria itu menghidu aroma kuda dari tubuhnya, namun ia tak sempat memastikan lebih jauh ketika pemuda itu mendelik padanya.
"Lihat apa kau?" Gumam pemuda itu, sebelum berbalik dan pergi tanpa menunggu jawaban.
Peri pengembara itu menggeleng-gelengkan kepala mendengar nada suaranya. Benar-benar pemuda yang tak tahu sopan santun!
Setelah pemuda itu berlalu, pelayan yang tadi keluar dan berkata, "masuklah. Tuan kami menunggumu."
Senja sudah turun ketika Legolas kembali ke kamarnya. Tadi ia menghabiskan waktu dengan menyendiri di tepi sungai sambil mengumpat-umpat semua orang. Ia agak lapar, tapi ia tak ingin makan, jadi ia memutuskan untuk mengunci diri saja di kamarnya.
Bagaimanapun, ketika membuka pintu, Legolas nampak kaget dan berseru, "hei, kau siapa?"
Yang diteriaki langsung menoleh. Ia adalah seorang pria berpakaian pelayan, tinggi dan kurus, dengan sorot mata yang menunjukkan usia yang pastinya sudah tidak muda lagi. Di tangannya ada beberapa buku yang dipungutnya dari lantai dan hendak diletakkannya di rak. Begitu melihat Legolas, pria itu berkata kalem, "kau tahu, nak, jangan pernah remehkan benda-benda biasa yang berserakan di lantai. Mereka bisa melukaimu suatu saat."
Legolas mengernyit. Ia nyaris tak pernah menaruh perhatian pada para pelayan di kediaman ayahnya ini. Baginya, mereka hanya seperti biji-biji catur; terlihat, penting, tetapi bisa dengan mudah digantikan. Tetapi, pria ini sama sekali belum pernah ia lihat sebelumnya. Itu jelas, karena belum pernah ada pelayan yang berani bicara dengan nada menggurui seperti itu padanya.
"Aku sengaja menaruhnya di situ, kok," balas Legolas, yang mulai merasa tersinggung. "Lagipula, kau tidak ada urusan di sini."
Pelayan itu menggeleng-gelengkan kepalanya. "Aku mungkin pelayan, nak, tapi usiaku jauh lebih tua darimu. Walau kau tak menghormatiku, setidaknya kau bisa berbicara tanpa kekasaran tak perlu seperti itu."
Legolas nyaris tersedak. Berani sekali pelayan ini!
"Tunggu, tunggu, kau ini sebenarnya siapa? Maksudku, apakah ayahku kekurangan pelayan hingga menaruhmu di sini?"
"Aku baru saja diterima bekerja," ujar pelayan itu. "Dan tanggung jawabku memang adalah kamar ini. Sekarang, kalau kau bersedia, aku akan meletakkan buku-buku ini dan membereskan beberapa hal lainnya, walau akan lebih baik lagi kalau kau mau membantu."
Legolas nyaris tak bisa berkata apa-apa mendengar kekurang-ajaran pelayan baru itu, tidak juga ketika ia meletakkan buku-bukunya di rak dan melewatinya. Namun, ketika pelayan itu hendak meraih setabung anak panah dan busur yang tergeletak di dekat dinding, Legolas mendadak berseru, "jangan sentuh itu!"
Pelayan itu tersentak, dan tangannya berhenti beberapa senti dari tabung anak panah. Legolas berjalan tergesa ke arahnya (nyaris menabrak dan membuatnya terdorong ke samping), lantas menyambar tabung anak panah serta busur itu.
"Tak ada yang boleh menyentuh ini," ujarnya dengan nada nyaris mengancam.
Pelayan itu mendengus (lagi-lagi mengagetkan Legolas; belum pernah ada pelayan yang berani mendengus padanya). "Jika kau menyayangi benda-benda ini, caramu menunjukkannya aneh sekali."
"Apa urusanmu? Dan kau ini hanya pelayan, jadi jangan berani berkata demikian padaku. Apa kau tidak tahu, siapa aku ini?"
"Pangeran Legolas, putra Thranduil, Penguasa Mirkwood," ujar pelayan itu kalem.
"Tepat sekali. Pangeran. Tahukah kau apa maknanya?"
"Ah, tentu saja aku tahu. Tetapi seorang pangeran *sejati* akan bertindak seperti layaknya pangeran. Ia tidak akan berbicara kasar kepada orang yang lebih tua, atau membiarkan kamarnya nampak seperti sebuah kandang. Tidakkah kau setuju dengan kata-kataku, nak?"
"Keluar!" Bentak Legolas.
Pelayan itu membungkuk sedikit, lantas meninggalkan kamar Legolas. Yang terakhir ini memandangi kepergian si pelayan dengan marah. Benar-benar pelayan yang kurang ajar! Ia harus bicara dengan ayahnya tentang menempatkan pelayan seperti itu di kamarnya.
Tetapi, Legolas kemudian mengernyitkan kening. Wajah pelayan itu agak familiar baginya. Dan kemudian, mulutnya membuka begitu sadar bahwa pelayan itu adalah orang yang ditabraknya tadi pagi. Kalau begitu, pria tersebut bahkan belum sehari bekerja di sini, dan tingkahnya sudah begitu lancang. Apa yang dipikirkan ayahnya saat menerima pelayan itu? Apakah ini bentuk baru hukuman? Jika ya, mungkin ayahnya sedang mabuk berat saat memikirkannya.
Tidak bisa, pikirnya. Ia sudah biasa dihukum dengan cara didiamkan, dimarahi, hingga dihajar di ruang latihan. Tetapi baginya lebih baik demikian, karena setelah semuanya selesai, ia bisa menyepi ke kamar atau tempat favoritnya di dalam hutan, menjilati luka-lukanya, dan berusaha melupakan semuanya. Tetapi, terjebak dengan pelayan seperti itu? Yang benar saja!
Tidak. Besok pagi, ia akan menemui ayahnya dan membicarakan hal itu. Ayahnya boleh menghajar atau memarahinya sesuka hati, asalkan pelayan itu pergi.
Bersambung.
