Makasih banget buat yang udah review chapter yang lalu. Maika Hammond, makasih udah menjadi reviewer pertama yang menghargai fiction saia. Dan berhubung saia nggak bisa nge-PM kamu, saia jelaskan aja di sini mengenai 5 orang itu.
5 orang itu OC semuanya. Tapi, kalo kamu tahu siapa mereka, hm... mungkin kamu bakal kaget. Anggap aja 5 orang itu adalah usaha menyatukan kenyataan dengan fantasi yang dilakukan author.
Nah, mulai chapter ini masalah Tifa dan Cloud mulai muncul.
Oh iya, Kimchi lupa bilang di chapter sebelumnya. Review bales review kok. Jangan sungkan buat ngritik, kasih saran, komentar, pujian, celaan, celana, kaos kaki, atau apa pun yang mau disampaikan. Karena Kimchi juga akan ngereview ceirta tiap reviewer fiction ini.
Oke, silakan baca. Nih!
Saat tubuhnya masih duduk menunggang mesin besar hitam itu, kilatan-kilatan mengerikan itu datang lagi. Berbeda dengan sebelumnya, kilatan yang berseliweran di benaknya merupakan kenangan, masa lalu, kenyataan.
SRAT!
Darah memercik ke wajahnya. Bajunya, pedangnya, semua kini ternoda. Pedang yang menembus jantung yang masih berdetak itu begitu panjang, tajam, menyakitkan.
"Tidak..."
DISCLAIMER
Final Fantasy VII milik Square Enix
Setting: AU, OC(s)
Part 2: Yakusoku (Promise)
-o-
Pintu bar Seventh Heaven terbuka, lalu ditutup lagi. Malam itu bar masih ramai. Tidak seperti biasanya.
"Cloud!" baru beberapa kali langkahnya berderap, ada seorang gadis yang sedari tadi telah menunggu memanggil namanya. "Kenapa tidak kau angkat teleponku? Apa terjadi sesuatu?" Cloud menjawab dengan tatapan yang mengisyaratkan tak ada yang perlu dikhawatirkan. Pemuda berkulit putih bersih itu kemudian mendesah pelan.
"Kenapa, Cloud? Lelah?" tanya Tifa. Pria yang diajak bicara menyapukan pandangan ke ruangan bar yang riuh rendah dengan gumaman-gumaman pengunjung.
"Tidak mungkin selelah kau, kurasa." Tifa tertawa kecil, lega karena tampaknya benar-benar tak ada yang perlu ia khawatirkan terhadap Cloud.
"Yah, setidaknya tidak setiap hari seperti hari ini. Biasanya Seventh Heaven selalu sepi. Aku dengar ShinRa menggelar pasar malam. Mereka mempromosikan produk elektronik baru, dan entah kegilaan apa yang membuat mereka melakukannya di sudut kumuh ini." Tifa memijat tengkuknya.
"Biar kubantu."
Tifa tersenyum. Manis sekali. Kadang Cloud melihat pantulan Aerith pada senyuman gadis itu. Setiap ia menyaksikan lengkungan di bibir Tifa, kenangannnya menghablur ke masa lalu. Berputar kembali membalikkan detik-detik jam yang telah lama berpudar.
"Cloud?"
Cloud menggeleng dua kali.
"Kurasa sebaiknya kau naik saja dan tidur. Kamu berkeringat tuh. Aku sanggup kok, menangani ini sendirian. Lagipula, sebentar lagi bar tutup," ujar wanita yang telah dewasa itu khawatir.
"Aku baik-baik saja," tepis Cloud sembari melangkah ke bar, diikuti pandangan mata Tifa yang menerawang curiga.
'Akhir-akhir ini Cloud…'
-o-
Akhirnya setengah jam kemudian satu-satunya bar di sektor tujuh berhenti beroperasi.
"Mungkin ada baiknya perusahaan raksasa itu mempromosikan tiap produk barunya di wilayah ini," ujar Tifa, tersenyum puas.
Masih di belakang bar, Cloud sibuk mencuci dan mengelap gelas-gelas bekas minum pengunjung. Kembali Tifa menyunggingkan senyum spesialnya, yang tidak dia berikan pada pelanggan mana pun. Tidak pada Yuffie, tidak Shelke, Barret, atau Cid. Tidak juga pada anak-anak, Denzel dan Marlene. Senyuman yang hanya untuk Cloud. Entah apa artinya itu.
"Kau tahu, Cloud? Mungkin pasar malam ini hanya akan singgah di sini seabad sekali. Jadi, kenapa kita tidak pergi ke sana malam ini setelah Marlene dan Denzel tidur?"
Cloud berhenti setelah meletakkan gelas terakhir di rak besi yang bergelantungan di atas kepalanya. Lagi-lagi, ia memikirkan sesuatu. Di mata Tifa, pemuda itu tampak… sedang bimbang? Mungkin hanya perasaannya saja, tapi beberapa hari terakhir Cloud sering tampak tidak fokus.
"Ah benar juga, kau lelah. Kurasa aku juga kelelahan setelah seharian bekerja. Hm. Kalau begitu, mungkin lain kali saja—"
"Tidak apa. Aku juga sedang membutuhkan udara segar," putus Cloud.
-o-
Tifa membonceng Cloud menuju pusat slum itu, daerah kumuh paling kumuh di Gaia yang mereka cintai. Square yang letaknya tepat di tengah kota itu, meski seperti semua sudut slum; kumuh, cukup luas. Tidak kurang untuk menampung beberapa puluh ribu orang yang mampir dari kota lain.
"Cloud, nanti kita jalan bersama-sama, ya. Kalau kutafsir dari jumlah orang yang mengunjungi Seventh Heaven, pengunjung pasar malam ini membludak. Jika kita terpisah, bisa gawat. Kerumunan bisa-bisa baru akan bubar besok subuh." Cloud menggumam setuju.
Dan benar saja, keramaian di sana bak lebah yang berkerumun di sekitar sarang mereka. Tapi, kerumunan yang tak lebih lenggang dari dua ton kawanan salmon dalam jaring kapal itu tak bisa menghalau udara yang beku. Si gadis Lockheart kadang mengusap-usap kulit lengannya kedinginan. Beberapa kali dia mengepalkan tangan, lalu menghembuskan nafas untuk menghangatkan tinjunya. Si pemuda yang kelihatan tidak terpengaruh suhu yang rendah diam-diam memperhatikannya.
Tifa masih sibuk dengan ritual mengusir hawa dingin, sampai tiba-tiba Cloud pergi meninggalkan dia ke tengah kerumunan. Kebingungan, sang pemilik bar langsung memanggil-manggil nama teman masa kecilnya.
"Cloud! Hei Cloud, mau ke mana kau?" Tapi orang itu tidak menyahut. Menoleh pun tidak.
Tifa yang tak bisa memutuskan apa yang mesti dilakukan berdiam diri di sana dan mulai terdesak-desak orang yang wira-wiri. Bukan tak mungkin dia kemudian terbawa arus mobilitas manusia yang deras menuju satu titik: exhibition stage megah di titik tengah pasar malam. Dan itu berarti: mustahil bertemu lagi dengan Cloud setidaknya sampai subuh.
"Bukankah sudah kuminta dia berjalan bersama-sama denganku?" dengus Tifa sebal.
DUK!
Seorang pria bertubuh tinggi menjulang tiba-tiba saja menabraknya keras. Tifa nyaris jatuh ke tanah. Saat wanita berambut hitam lurus itu berusaha menyeimbangkan lagi posisi berdiri, beberapa orang yang lain melakukan hal yang sama padanya. Gerakan itu cepat dan tak terduga. Ada sesuatu di balik tindakan ini. Dan apa pun itu, jelas tidak baik.
Belum lagi Tifa tenang dari kepanikannya, dari belakang ada tangan kuat yang memukul tengkuknya, dekat sekali dengan syaraf batang otak. Pengelihatan Tifa seketika buram. Kepalanya pusing. Matanya berkunang-kunang. Namun melawan pun sudah terlambat, Tifa sudah mulai kehilangan kesadaran. Kini yang bisa ia lakukan hanya berharap pada satu orang. Meskipun kemungkinan orang itu menemukannya sangatlah kecil. Nyaris mustahil.
"Cloud, tolong aku."
Sejurus kemudian, orang yang dipanggil itu muncul. Si pirang itu mendekap sebuah buntalan kain. Dan sebelum seluruh kesadaran Tifa menghilang jatuh ke pelukan pemuda itu, gadis itu masih dapat melihat benda apa yang ada di tangan sang pemuda. Itu sebuah jaket.
-o-
"Tifa…"
Saat Tifa sadar, ia sudah ada di rumah. Orang pertama yang dilihatnya adalah Shelke.
"Cloud, Tifa sudah sadar!" Yuffie yang ada di sebelah Shelke berteriak ke luar ruangan. Lalu gadis muda yang sedang terbaring di tempat tidur itu mendengar derap langkah berat. Seorang pemuda terburu-buru masuk ke dalam ruangan.
Detak jantung Tifa berpacu cepat.
"Tifa," panggilnya. Lelaki itu mendekat dan memandangi wajah teman masa kecilnya, memancarkan rasa menyesal yang tersirat. "Maafkan aku."
Cloud masih memegang jaket yang terakhir dilihat Tifa sebelum jatuh pingsan. "Tadinya aku bermaksud membelikan ini," jelasnya sambil melirik jaket itu. "Ini semua salahku." Yuffie dan Shelke berpandangan tak mengerti.
Gadis itu menatapnya tak berdaya. Meski sedang berbaring, pandangannya masih berputar. Pukulan itu menyisakan kerusakan kecil pada tubuhnya. Kelopak matanya mulai mengatup. Melihatnya, Yuffie, Shelke, dan juga Cloud mengerti bahwa Tifa membutuhkan istirahat yang banyak.
Namun, tiba-tiba, sebelum ketiganya beranjak meninggalkan ruangan, Tifa menangkap tangan Cloud.
"Cloud," sergahnya. Saat Cloud berbalik, ia melihat Tifa menggigil. Nafasnya cepat dan berat. Si pirang mulai panik.
"Jangan tinggalkan aku sendirian."
...
"Jangan tinggalkan aku sendirian."
"Kamu bicara apa, Cloud? Aku masih di sini, dan akan selalu di sini. Kau berkata begitu seolah aku akan mati saja."
..
"Aerith!"
..
"Kau bilang kau tak akan meninggalkanku."
"Maaf… Aku… gagal menepatinya. Selamat tinggal, Cloud. Jaga… yang lainnya…"
Rasanya sakit. Sakit sekali. Lebih sakit daripada geostigma yang kambuh.
..
Aku tidak mau ditinggalkan… Aku tak mau ditinggal sendirian. Tapi kenapa? Kenapa?
...
Pemuda itu tidak jadi melangkah. Ia membiarkan tangan gadis itu yang sedingin es menaut kuat miliknya. Gadis itu, mungkinkah sedang merasakan perasaan yang pernah ia rasakan dulu? Perasaan takut kehilangan seseorang. Seseorang yang dicintai?
"Berjanjilah kau tidak akan meninggalkanku lagi… Cloud."
Hati Cloud sakit memikirkan masa lalunya yang pilu. Tapi kali ini, hatinya menjadi lebih perih lagi melihat sahabatnya ini tampak sangat rapuh. Ia tidak ingin kepahitan yang dirasakannya dirasakan pula oleh Tifa.
"Berjanjilah, Cloud." Air mata bening mulai mengalir.
Tak mampu berpikir lebih lama, Cloud menggenggam erat tangan Tifa.
"Aku berjanji, Tifa. Aku berjanji."
~toBcontinued~
Reivew dibales reivew.
Feel free to review =D
