Waaa! Akhirnya Kimchi publish juga nih chapta. Chapta yang dikerjakan berjam-jam karena rasanya tiap ngedit selalu ada yang kurang.
Isi chapta ini kebanyakan rumpian *plaak* salah, percakapan. Kimchi berusaha ngebuat percakapan itu mengalir dan bertambah serius seiring pergantian paragraf. Meski begitu, chapta ini masih jauh banget dari sempurna. Karena itu, komentar, tanggapan, saran, kritik, bahkan flame Kimchi terima dengan tangan menengadah *ngemis…*. Nggak usah sungkan untuk mereview.
Tiap review akan dibalas dengan review juga. Jadi, mari kita saling mengapresiasi satu sama lain =D
Oh, iya, karena ada bagian-bagian flashback dicetak miring, akan lebih baik kalo ngebacanya lewat komputer (di HP tulisan yang di-italic miring juga nggak?). Cuma saran, sih.
Bagi yang review chapter sebelumnya, makasih banyak. Cloudzer, reviewer pertama chapter lalu, terima kasih banyak. Swandie, makasih yah nak, Kimchi seneng. Maika Hammond yang masih bersedia ngebaca dan ngereview lagi, arigatou! Kalo mau bikin akun baru, kasih tau Kimchi ya biar Kimchi bisa baca ceritamu juga. Dan CloudStrife Hiru15, hati saia berbunga-bunga waktu menerima PM darimu. Arigatou. Hontou ni.
Bagi reviewer-reviewer setelahnya, Kimchi berterima kasih atas kemurahan hatinya mau mereview chapter demi chapter. Kimchi akan berusaha supaya cerita ini bisa lebih jelas dan menarik.
Oke, nih, chapta three. Enjoy!
-o-
Kali ini tengah malam. Mata turquoise-nya meratapi permukaan danau, sama seperti sebelumnya. Meski tak tahu pasti apa yang sedang melanda perasaannya, tiap keresahan itu muncul, kakinya selalu membawanya kemari.
'Kumohon, bangunkan aku dari mimpi buruk ini.'
DISCLAIMER
Final Fantasy VII milik Square Enix
Setting: AU, OC(s)
Part 3: Wake Up!
-o-
'Malam ini aku memimpikan hal yang sama. Kali ini tinggal aku dan Tifa… yang tersisa.'
Uap air mengepul karena hembusan nafas Cloud menguap dilawan dinginnya kegelapan.
'Barret, Shelke, bahkan Vincent, semuanya menyusul yang telah pergi terlebih dahulu. Rasa sakit itu muncul berkali-kali lipat.'
Difokuskannya perhatian pada air yang gelap, berusaha melihat jauh di kedalaman danau yang kelam.
"Bangunkan aku dari semua ini."
Tepat setelah kalimatnya selesai, sesemakan di belakangnya bergemerisik.
SREK SREK!
Cloud menyambar pedangnya di Fenrir. Segera setelahnya, dari balik semak keluarlah sesosok tubuh mungil.
"Yuffie?"
Yuffie melambai-lambaikan tangannya bersemangat. "Apa yang sedang kaulakukan di tempat ini, Cloud?"
'Seharusnya aku yang bertanya,' batin Cloud sembari menurunkan pedang besarnya. Gadis kekanakan itu memandangi indahnya bulan purnama pertengahan bulan, sebelum akhirnya berucap sesuatu.
"Cloud, Tifa menunggumu. Kau tahu, kan, menunggu itu nggak enak."
Menunggu. Siapa yang lebih mengenal kata itu daripada dirinya? Sebab, rasanya itulah yang telah ia lakukan pada masa mudanya yang masih belum berakhir. Menunggu.
...
"Apa kau masih sedih, Aerith?"
"Hm?"
"Kepergian Zack. Apa kau masih sedih?"
"…"
Pundaknya mulai berguncang. Saat itu kutahu, ia masih terluka, walau hari telah berganti ratusan kali.
..
"Tidakkah semua yang telah berlalu adalah masa lalumu, Aerith?"
"Ya… kecuali semua tentang Zack."
..
"Aku tidak pernah melihat kau tersenyum selebar itu."
"Oh ya? Aku pernah, dulu sekali… waktu Zack masih ada di sampingku."
..
"Kumohon, katakan apa yang ingin kudengar. Bicaralah, untuk yang terakhir kalinya. Kau sudah tak sedih lagi, Aerith Gainsborough."
..
Aku menunggunya hanya untuk kehilangan dirinya. Betapa naif.
…
"Aku akan segera pulang," jawab Cloud saat tersadar dari lamunan itu, sambil meletakkan kembali pedang berat miliknya di Fenrir untuk menutup-nutupi kenangan yang terlintas barusan. Yuffie menggeleng.
"Bukan itu, Cloud."
Yuffie mendekati Fenrir sampai ia bisa melihat wajah Cloud. Namun tak ada yang lain yang didapatkannya selain mata Cloud yang berusaha menghindari kontak dengan matanya.
"Tifa sudah terlalu lama menunggumu. Sampai aku berpikir, sekarang dia sedang kesakitan karenanya."
Binar mata Yuffie meredup sedikit. Ia menundukkan kepala, mengingat sesuatu.
...-/-...
JDUAR!
"Tifa?" Yuffie berlari menuruni tangga menuju bar tempat Tifa tadinya sibuk mengelap gelas. Sebelum suara ledakan itu terdengar, desingan-desingan peluru menghantam sesuatu dan berpantulan. Desing itu sangat dikenalnya. Dan sesampainya Yuffie di bar, ia melihat Tifa menunduk lemah, beserta bar yang telah hancur, dan tubuh Vincent terlantar di lantai. Namun, bocah Kisaragi itu masih sempat melihatnya. Kelebat-kelebat sosok berzirah hitam.
"Vincent! Apa yang terjadi?" tanyanya panik, berlari menghampiri pria yang tampak amat kesakitan itu. Luka-lukanya parah.
"Tch… Sasaran mereka… Tifa…"
Yuffie berpaling pada gadis yang lain. Gadis Lockhart itu gemetar. Yuffie menegadahkan perlahan kepala Tifa. Dilihatnyalah lajur-lajur air mata di kedua pipi wanita muda itu.
"Apa yang terjadi, Tifa?"
Tifa tak mampu berbicara dengan jelas. Sambil terbata-bata dan sesenggukan, ia bergumam,
"Cl-Cloud… ber-jan-ji tak-kan me-ninggalkan a-ku…"
...-/-...
"Dengar, Cloud. Akhir-akhir ini Tifa terus diserang orang-orang tidak dikenal. Tadi, Seventh Heaven dibobol, dan Tifa mungkin sudah pergi kalau saja tidak ada Vincent yang melindunginya."
"Vincent?"
"Ya. Seharusnya itu kau, kau yang berkewajiban menjaga Tifa. Kau sudah berjanji, Cloud!" Muka Yuffie memerah sewaktu mengucapkan kalimat ini. Itu membuat Cloud terhenyak dan merasa bersalah.
"Tapi apa yang ingin kukatakan sekarang lebih dari itu. Sebelum aku ke sini, Tifa berkata persis seperti ini: "Cloud berjanji takkan meninggalkan aku." Kedengarannya memang seperti dia menuntutmu jadi bodyguard pribadinya, harus ada di sana setiap saat. Tapi, dari wajahnya waktu itu… Kalau kau melihat sendiri, kau akan paham… Apa yang diminta Tifa kemarin, "jangan tinggalkan aku", tidakkah kau berpikir di baliknya ada maksud yang melibatkan perasaannya?"
Cloud bisu. Tiap kata yang ditudingkan gadis berambut pendek itu padanya makin membuatnya takut. Setiap Yuffie meluncurkan kata-kata seperti "Dasar Cloud nggak peka. Aku nggak nyangka, bahkan kau lebih nggak peka dari Vincent.", rasanya pemuda gagah yang ini ingin bersembunyi di balik gunung batu untuk selamanya, menyembunyikan ketidakberdayaannya mengatasi masalah krusial itu.
Yuffie yang mulai lelah untuk pertama kalinya hari itu mendesah panjang. Ia tak tahan lagi.
"Cloud, dengarkan aku."
'Berhenti.'
"Tifa…"
'Jangan katakan, apa pun itu.'
"Jatuh hati. Padamu. Cloud Strife, si nggak peka."
"…" Bibirnya pun terkunci rapat, namun matanya terbelalak nyaris keluar.
"Tifa cinta padamu. Tifa menunggu jawabanmu. Apa kau bersedia menerima cintanya itu, atau tidak."
Karena segalanya telah terucap, dan semua yang semula kabur kini menjadi jelas, ia tak lagi bisa bersembunyi. Ia tak lagi mampu berpura-pura seakan tak mengerti isi permohonan Tifa semalam.
"Aku harus memikirkan ini," kata lelaki itu sambil menyalakan mesin motornya. Gagal bersembunyi, pria ini berusaha kabur. Gadis ninja itu menghentakkan kakinya, berdebum keras.
"Tidakkah kamu mengerti, Cloud?" jerit Yuffie nyaring sekali. Belum pernah Cloud melihat Yuffie yang seperti ini. "Pikiranmu itu yang membuat Tifa makin menderita! Tiap detik yang kau habiskan untuk berpikir membuatnya makin sesak!"
"Kau tak perlu berpikir, Cloud." Yuffie meletakkan tangan di dadanya. "Kau hanya perlu percaya pada hatimu."
Cloud termangu sesaat, tak jadi mengegas motornya. Hati. Sudah sangat lama ia tak menggunakan lagi hatinya, sampai rasanya benda itu sudah tak ada lagi di sana. Apa sekarang, ia masih bisa menggunakan 'benda' itu?
Pria bergiwang itu melemparkan padangan putus asa sekali lagi ke arah danau.
'Kalaupun hatiku masih ada, bukan di dada ini tempatnya.'
Sekilas bayangan muncul. Tentang masa kecil yang ia lewati bersama Tifa Lockhart. Belajar bersama, tumbuh bersama, menjadi kuat bersama, dan berpisah, lalu bertemu lagi. Gadis itu mengukir kenangan yang manis, juga yang pahit di hari-harinya. Melewati suka duka bersamanya. Menang dan kalah bersertanya. Namun, tak ada detakan yang lebih kencang saat bersama gadis itu. Tak pernah muncul rona merah di wajahya, tak ada keringat yang bertetesan deras saat ia di sampingnya. Tidak seperti yang ia rasakan saat berada di sekitar Aerith.
Cloud rasa ia tidak mencintai Tifa. Tapi ia tidak sanggup mencampakkannya jua.
"Kalau aku bisa membuat temanku yang tersisa bahagia, aku akan…" ia tak mampu melanjutkan ucapan.
"Sungguh?" jerit Yuffie kegirangan. "Benarkah yang barusan itu kau yang bicara, Cloud? Kamu nggak sedang kesurupan kan?"
"Eh… aku—"
"Itu! Itulah yang namanya cinta, Cloud! Ternyata kau memiliki perasaan yang sama juga dengan Tifa! Waaaaaah! Aku legaa sekali!" Yuffie melonjak-lonjak seperti anak anjing yang gembira karena diajak jalan-jalan.
Mengerikan. Padahal beberapa detik yang lalu wajahnya tegang seperti kabel listrik di musim dingin.
'Cinta… benarkah?'
"Hebat, hebat! Ternyata cowok stoic macam kau punya hati yang hangat juga. Kalau begitu, Vincent juga… ghishishishishiii." Lho? Kok jadi ke situ arahnya? Dasar serigala berbulu domba si ninja Wutai itu.
Tunggu… Wutai!
Cloud mengingat sesuatu yang belakangan itu juga menjadi salah satu pengganggu utama pikirannnya.
"Yuffie, apa benar putri dari negerimu Wutai menghilang?" Pertanyaan Cloud membuat Yuffie berubah dari ber-euforia menjadi ber-cengo-ria.
"Dari mana kau tahu?"
Cloud menceritakan tentang kelima orang berbaju hitam yang datang hampir seminggu yang lalu. Dan mendengarnya, mata Yuffie melebar.
"Apa? Sampai Tohoshinki turun tangan juga…" gumamnya lirih. Cloud menatapnya bertanya-tanya.
"Tohoshinki adalah pasukan inti paling inti dari bagian pertahanan dan penyerangan Wutai. Lima anggotanya adalah orang-orang terbaik –bukan hanya kemampuan bertarungnya, tapi juga ketampanannya, ghehehehe…"
Cloud berkedip dua kali.
"Ehm… orang-orang terbaik yang memiliki kemampuan berbeda-beda tapi bila disatukan bisa sangat kuat. Kalau sampai pasukan itu turun tangan, berarti masalahnya sudah sangat gawat. Jangan-jangan Raja Northen Crater sudah hampir menarik janjinya," jelas Yuffie.
"Ternyata orang-orang asing yang kulihat itu tak lain adalah Tohoshinki sendiri."
"Apa yang akan terjadi bila janji itu dicabut?" tanya Cloud.
"Eh? Sampai mana kau mengetahui masalah Wutai, huh?" Yuffie terheran-heran.
"Mereka memberi tahuku sedikit."
"Tohoshinki sampai meminta bantuanmu? Berarti situasinya sudah sangat genting. Seharusnya aku tidak berkata sebanyak ini, tapi…
"Sebenarnya, Raja Northen Crater adalah raja yang keji, beringas, dan berambisi penuh menguasai perekonomian Gaia. Karena merasa dihalangi oleh ShinRa, ia tak bisa langsung memonopoli semuanya. Karena itu, pikirnya, dimulai dari lingkup kecil seperti Wutai, dia akan bisa melompat sampai ke kota-kota besar, sampai akhirnya menaklukkan Nibelheim, dan ShinRa. Namun, baru beberapa bulan lalu anaknya meninggal di tangan ShinRa karena berusaha menghancurkan perusahaan itu sendirian. Akhir-akhir ini ia sadar bahwa ia takkan mampu menggulingkan penguasa Gaia. Sehingga ia memutuskan untuk berdamai dengan wilayah jajahannya, berdamai dengan Wutai. Meski begitu, raja yang serakah itu tak mau mengalah tanpa menerima apa pun. Dan dari Wutai, ia meminta putri kami menjadi istrinya."
Pernikahan paksaan. Bahkan Cloud Strife menganggapnya kuno.
"Putri Wutai, waktu kulihat fotonya, sekilas ia mirip…"
"Ya… Benar."
Tifa.
Tentu saja. Karena putri itu mirip Tifa…
"… sesuatu yang buruk mungkin saja menimpa orang yang kau sayangi. Sekali lagi…"
"Orang-orang itu yang menyerang Tifa akhir-akhir ini."
Cloud mengepalkan tangannya.
"Kali ini aku akan selalu ada di sampingnya. Aku sudah berjanji. Tidak akan kubiarkan kali ini ia kecewa. Tidak lagi."
~toBcontinued~
Iya, Kimchi tahu. Fanfic ini alurnya berjalan sangat lambat, kan? Tapi, tolong diikuti aja ya.
Oh iya, jangan sungkan untuk mereview. Karena kelanjutan dari cerita ini bergantung juga pada review.
Review akan dibales review. Feel free to review, ne =D
