Gomenasai. Update kelamaan. Saia masih nggak puas dengan chapta 4, dan ketidakpuasan itu menyebabkan saia nggak bisa ngelanjutin. Karena itu saia rombak lagi chapta ini, berharap dengan rombakan ini chapta selanjutnya bisa digarap. Update selanjutnya Kimchi usahain minggu depan. Terima kasih banyak bagi pembaca yang mau menunggu =D

a/n: Cloudzer, CloudyStrife Hiru15, Swandie, Roanolic (RoalicARIA kaan?), Maika Hammond, Yoshimitsu Takashi, Reiya Sumeragi, dan sepupuku yang baik Kentona Seizaburo, seribu makasih karena tetep setia menantikan fiction ini. Karena review kalianlah saia jadi makin semangat.

Dan Hazena, maaf banget Kimchi lupa ngebales reviewmu. Makasih banget atas tanggapanmu. Oh ya? Suka Yuffentine? Wuaduh, sayang nggak ada pairing itu di fiction ini. Saia bahkan nggak yakin ada pairing yang cukup signifikan di sini.
Putri Wutai emang bukan Yuffie. Kalo Yuffie, Cloud pasti langsung tau dia kabur ke mana. Secara, sesama AVALANCHE. Tapi, chapta depan identitas putri akan terungkap semuanya.

Oke dah.

Tulisan yang di bold-italic adalah point of view Cloud yang agak nelat (fungsinya jadi kaya flashback). Oh iya, chapta ini prolognya flashback juga. Jangan bingung ya. Ikuti aja jalan ceritanya, oke? Chapta 4~ Nih!


Kadang kita harus membuang yang paling berharga untuk menyelamatkan yang nampak tak lebih berharga.

DISCLAIMER

Final Fantasy VII milik Square Enix

Setting: AU, OC (s)

Warning: perkenalan 5 OC sekaligus, kata-kata kasar

Part 4: Between Pride and Partner

-o—

"Hahahahaa! Aneh, aneh! Hei bocah aneh! Apa hari ini kau akan melamun di bawah pohon sambil mencakar-cakar tanah lagi? Betapa suram dirimu! Hahahahaa!"

"…"

Aku tak bisa membalas mereka waktu itu. Tapi aku tahu suatu saat mereka akan merasakan ganjaran dariku.

"Dasar anak nakal! Apa yang kamu lakukan pada anakku, hah? Apa orang tuamu tak pernah mendidikmu?"

"Maafkan anak saya, nyonya. Cloud, apa yang kamu lakukan pada mereka sampai mereka babak belur begini?"

"… Membela harga diri."

"Sekarang cepat minta maaf!"

"…"

"Cloud, ibu minta kamu minta maaf sekarang!"

"Tidak."

"Apa?"

"Harga diriku tidak serendah itu. Aku tidak akan mengampuni mereka yang selalu meremehkanku. Kuharap mereka sadar dengan siapa mereka berhadapan."

Harga diri. Selalu itu yang kujunjung selama ini, lebih dari apa pun. Tak pernah kurendahkan harga diriku pada mereka yang telah menginjak-injakku. Tidak sekalipun.

Tapi…

Apa sekarang aku kembali harus menjunjung harga diri itu, lebih dari segalanya?

End of flashback—

-o-

Di depan Cloud tampak entrance rahasia menuju tempat yang belum pernah dimasukinya. Sebuah piringan besi tua menutupi jalan berupa pipa besi raksasa yang tertanam di tanah. Sambil berusaha menghapus sisa-sisa bayangan mengerikan yang tidak begitu jelas, Cloud berjalan maju.

Seventh Heaven hancur.

"Tifa!" waktu itu, mereka yang ada di dalam rumah Barret terkejut dan memandangiku.

"Mana Tifa?"

"Tifa tidak di sini."

Membungkukkan badannya yang tinggi, Cloud terus masuk lebih jauh ke dalam liang yang gelap dan lembab. Splash… splash. Kakinya menginjak kubangan air berbau busuk yang mungkin sudah menggenang di sana sejak puluhan tahun yang lalu. Untunglah sebuah senter pemberian Shera mampu menuntun langkahnya, sehingga kakinya tak terperosok ke kubangan kotor yang lebih dalam.

"Tifa berada di tempat yang aman. Untuk menghindari tempat itu diketahui mereka yang mengincarnya, lebih baik kau tidak ke sana."

"Harus." Kali ini aku harus melindunginya. "Kutanggung apa pun resikonya."

Shelke terdiam. Pada akhirnya ia memberiku kesempatan sekali lagi.

'Aku tidak tahu Avalanche punya cadangan di tempat seperti ini,' batin perjaka itu.

Ada tangga turun di depan. Di bawah sana ada lorong yang bercabang. Cloud mengambil jalan sebelah kanan.

"Baik. Lokasi Tifa di markas cadangan AVALANCHE. Di bawah sektor delapan. Pintu besi di lorong sebelah kanan."

Dan sampailah ia. Tapi, tampaknya semuanya tidak seperti yang ia harapkan. Pintu sebagai satu-satunya akses masuk… telah terbuka. Dibuka dengan paksa karena papan besi itu lepas dari engselnya.

"Sial!"

Cloud masuk ke ruangan yang lebih besar daripada kelihatannya itu dan mengarahkan senter ke sana kemari. Keberuntungan, sinar kuningnya mengenai secarik kertas yang tertempel di box-box tua tempat barang-barang darurat disimpan.

Di sana tertulis: Kesempatan terakhirmu. Gereja.

"Tch."

-o-

Dalam gereja tua, pasukan inti paling inti negeri Wutai telah bersiap angkat kaki. Motor 3000 cc mereka diparkir sejajar di belakang.

"Hey yo, Hiro. Berapa lama lagi?" tanya sebuah suara tenor tidak sabar. "Aku tak tahan dengan bunga-bunga lili jelek ini. Lendirnya mengotori sepatuku."

"Ck. Dia takkan datang." Hiro, dia yang berkalung metal, berambut acak-acakan, dan bermata sedingin es, memalingkan muka dari jam berbingkaikan emas di telapak tangannya. Kaki panjang suara tenor yang terlalu memperhatikan detil itu menimpali, "kalau begitu tidak ada gunanya lagi kita menunggu. Ayo pulang!"

"T-tungu! Saya mohon, Tsuiken-kun, Hiro-sama. Tunggulah sebentar lagi," pinta dia yang berwajah muda dengan suaranya yang seperti suara perempuan.

"Diam, bocah. Kalau Hiro bilang dia takkan datang, maka kurir rendahan itu takkan datang—" Belum selesai jangkung tenor itu berkata-kata, komentar pedasnya dipotong oleh dia yang jabrik berbaju lorek.

"Berhentilah bertingkah seperti anak kecil, Tsuiken! Shiah benar. Kita tetap harus menunggu."

-o-

Tik tok tik tok… detik-detik terus berlalu.

"Yak. Waktu habis. Ex-SOLDIER congkak itu telah melewatkan kesempatan terakhirnya." Proklamasi Hiro diikuti tawa licik penuh kemenangan Tsuiken.

BRUAKK!

Pintu gereja didobrak kasar. Sayang sekali kesimpulan si pembawa golden pocke watch salah. Itu Cloud Strife yang sedang marah besar. Pintu gereja sampai rompel ditabrak motornya.

"Apa yang kalian inginkan dari Tifa?" suaranya membahana. Mata lelaki itu berkilat marah.

Alih-alih memasang tampang benci, Hiro malah memamerkan memberi sebuah senyuman yang dikagum-kagumkan. "Strife. Seperti yang selalu diharapkan dari seorang SOLDIER. Datang di saat-saat terakhir. Ck. Sungguh menyusahkan," katanya dengan nada mencemooh.

"Simpan omong kosongmu. Aku tidak butuh."

"Ya, ya. Dan apa yang mau kaulakukan sekarang, Strife? Apa kau datang untuk memohon kami mengulang tawaran kami yang sebelumnya? Hm. Sulit. Sangat sulit. Kecuali kau bersujud sambil berlinang air mata darah, mungkin aku bisa pertimbangkan sekali lagi."

"Hiro!"

'Mereka membuat kesalahan besar dengan mempermainkanku,' Cloud yang merasakan darah itu sudah memuncak ke ubun-ubunnya menahan amarah sekuat yang ia bisa.

"Katakan di mana Tifa!" tuntutnya sembari mencabut pedang dari Fenrir.

"Bukan begitu caranya kalau mau meminta sesuatu pada kami, dasar rakyat jelata tak tahu sopan santun," si jangkung Tsuiken memperpanas keadaan.

"Cukup, Tsuiken! Berhenti bicara hal-hal yang sepele!" Sebelum perseteruan berlangsung lebih lama lagi, rambut jabrik yang nanti diketahui Cloud bernama Yuu no Junon *Yuu dari Junon* bertindak. Lambat ia cabut pedang kurusnya yang berkilau-kilau dari sarung yang di pinggangnya – tidak semua, hanya setengah. Cloud memperhatikan bayangan yang dipantulkan kilau metaliknya.

Pupil Cloud mengecil tanda terkejut. Sang Awan segera menghadap apa yang diperlihatkan benda tajam tadi.

Tifa. Lengkap dengan pakaian kebesaran ala putri kerajaan. Disekap dari belakang oleh pria lainnya yang memakai goggle. Bagaimana bisa Cloud tidak menyadari jumlah mereka yang berkurang satu orang?

"Apa maksudnya ini?" desis Cloud. "Tifa tidak ada hubungannya dengan apa pun yang kalian lakukan!"

"Maaf, Strife. Kami terpaksa melibatkannya," gumam dia yang di belakang gadis itu setengah hati.

"Tifa Lockheart memiliki wajah yang sangat mirip dengan Putri Yuuki, kau sudah menyadarinya dari awal, Strife. Raja Northern Crater itu takkan mengetahui perbedaan mereka karena ia sama sepertimu, hanya pernah melihat wajah putri dari fotonya." Yuu menjelaskan lagi. Kali ini dia jaga nada bicaranya supaya tidak terlalu mengintimidasi.

"Kami akan membawa nona Tifa. Kecuali kau bisa jadi lebih bijaksana."

Terbesit dalam pikiran Cloud untuk menghantamkan salah satu dari enam pedang yang sempat diambilnya. Tak jadi melakukan hal itu, sebagai gantinya Cloud malah menguji mereka dengan sebua pertanyaan.

"Kaupikir Tifa akan sudi?"

Keheningan yang cukup lama sukses tercipta. Sampai akhirnya kaki panjang itu berceletuk.

"Kau tidak mengerti, ya, penelan mako? Dia takkan bisa menolak."

Takkan bisa menolak? Mereka tak mungkin berani membunuh Tifa. Tapi, kalaupun mereka mengancam akan membunuh Tifa, pemuda dua puluh dua tahun itu yakin Tifa akan lebih memilih mati daripada menikahi seseorang yang tak pernah dicintainya. Apalagi yang tak pernah dikenalnya.

Harga diri. Bukankah itu yang terpenting dalam hidup? Tidak mungkin Tifa akan rela menukar harga dirnya demi nyawa, nyawa yang akan menjadi sia-sia bila dirinya menjadi istri seorang asing.

Sampai titik ini Cloud merasa yakin tidak ada cara untuk memaksa Tifa memenuhi keegoisan Wutai.

"Hm. Biar aku yang jelaskan." Hiro bangkit berdiri. "Negeri kami sudah menemukan sebuah teknologi totok ingatan yang bisa menghapus semua ingatan yang pernah terbentuk dan merekayasanya dengan yang palsu. Kalau kau mau tahu, gadis ini bisa dengan mudahnya berpikir bahwa dirinyalah putri Wutai yang bertanggung jawab atas nasib kerajaannya. Dengan kata lain, ia pasti menikah dengan sang raja," Hiro menjelaskan seolah-olah hendak menurunkan ketegangan.

"Tch." Rematan Cloud pada gagang pedangnya mengencang. "Kalian semua… tak lebih dari tumpukan bedebah brengsek."

Hanya Tifa di antara ketujuhnya yang membelalakkan mata. Cloud Strife bukanlah tipe yang mudah mengumpat. Apalagi di depan seorang wanita.

"Kalian pikir kalian dewa? Kalian tidak bisa seenaknya menukar nasib orang!"

'Apalagi menghancurkan harga diri seseorang dengan paksa seperti itu!'

"Sayang sekali," cicit seorang yang di belakang. Hiro maju beberapa langkah untuk mendekati Tifa. Ia mengangguk-angguk lalu berbalik lagi menghadap Cloud.

"Tapi kami, memang 'dewa'."

Sudah tak ada lagi kata sabar sekarang. Cloud mengegas Fenrir. Kecepatan Fenrir memaksa Hiro melempar diri ke samping untuk menghindari sabetan pedang Cloud. Bukan. Bukan si datar lidah belati itu yang menjadi sasaran. Tapi orang di belakangnya tentu saja. Si goggle penyekap 'putri palsu' itu.

Cloud berhasil menubruk tubuh pria itu menjauh dari Tifa. Dengan isyarat singkat ia memerintahkan Tifa untuk lari dari tempat itu.

Cloud bergegas memacu lagi mesinnya, menyerang empat prajurit yang lain. Namun ada sebuah serangan dadakan dari arah belakang. Kali ini refleks sebagai seorang first-class-SOLDIER-wannabe menyelamatkan Cloud. Telat sekedip saja si jabrik ini men-sliding Fenrir, bagian atas Cloud akan berpisah dari bagian bawahnya.

"Hei, motor rongsok ini hebat juga," seolah-olah sedang bermain sambil bercanda, naginata itu kembali ditebaskan oleh Tsuiken. Cloud melompat dari Fenrir. Mata naginata yang tajam membelah motor berwarna onyx itu.

"Sayang harus hancur."

Cloud maju kembali. Bukan hanya perusak yang telah membelah motor kesayangannya yang menjadi sasaran serang, semua yang ada di sana kecuali Tifa ikut kena getah. Mau tak mau, semuanya jadi bertarung. Empat lawan satu. empat, karena orang berkalung salib logam bernama Hiro itu tak terlibat dalam pertarungan yang seharusnya menjadi pertarungannya juga.

"Aku harus berterima kasih pada kurir less-useful itu. Untunglah dia menolak mentah-mentah tawarannya. Aku jadi bisa menggunakanmu untuk menggantikan putri. Jadi, putri tidak harus menderita sepanjang sisa hidupnya," bisik Hiro yang tahu-tahu sudah membekap Tifa dengan saputangan putih sembari tersenyum licik. Dia menjatuhkan begitu saja Tifa yang sudah terbius ke rerumputan, menopangkan tangannya yang sebelah ke lutut dan memandangi langit dari lubang di atap gereja seolah tak terjadi apa-apa.

Kembali pada Cloud . Ia sudah sangat kepayahan. Nafasnya tersengal-sengal. Meskipun tiga yang lain hanya berusaha menangkis –bukan membalas— serangannya, si cempreng itu menyerang dengan brutal seperti orang yang gila perang.

"Ugh."

Lutut Cloud mencium tanah. Badannya membungkuk hampir rubuh.

DRAAK!

Punggung Cloud diinjak tanpa kasihan. Hiro tersenyum.

"Wah, wah, wah. Sayang sekali. Ternyata sahabat Zack Fair tak cukup kuat untuk melawan kami." Ia turunkan kakinya dari punggung pemuda pirang, berjongkok di dekatnya, pasang katar di sebelah tangannya, lalu menarik kerah baju Cloud.

"Dengan serangannya barusan, kurasa sudah sangat jelas dia menolak derma kita. Jadi, apa yang harus kita lakukan?" Hiro menggesek-gesekkan kakinya di punggung Cloud.

"Hiro. Kita tak punya urusan dengan orang ini. Ayo tinggalkan tempat ini," Miki, si pemakai goggle yang aneh itu berusaha mencegah pertumpahan darah.

"Yeah? Sayangnya, lebih dari yang kau kira, aku punya. Ada sesuatu yang harus kuselesaikan," tutur Hiro lemat-lemat di telinga Cloud, "aku akan membuat orang ini yang mengemis kematian padaku."

Cloud tak lagi mampu bergerak, kecuali dadanya yang naik turun.

"Kau tahu, kenapa aku begitu ingin menggorok lehermu sekarang?" tanyanya sambil berdiri dan mencekik Cloud tinggi ke atas dengan satu tangan. "Itu semua karena sahabatmu yang bodoh."

"Aku tidak kenal padamu," kata Cloud serak.

"Ya, dan si brengsek Zack pun tidak mengenalku. Tapi aku tahu siapa dia. Aku tahu siapa saja yang dekat dengannya. Aku tahu apa kegiatannya di waktu luang. Aku bahkan pernah ingin jadi seperti dia!" aku Hiro nyaring. Sosoknya yang dingin sedikit berubah menjadi… beringas.

"Tapi, ternyata dia hanya keparat yang mencari-cari kesempatan untuk berkuasa. Dia membuatku kecewa. Dia memberontak. Dia mengkhianat. Bajingan itu mempermalukanku."

"Hahahaaa! Rasakan itu! Siapa suruh kau melawan kami? Kalau kau bisa membuat kami babak belur, kami pun bisa melakukan hal yang lebih menyakitkan daripada itu!"

"Sekarang kita apakan lagi dia?"

"Dia sudah tidak bisa apa-apa. Sebentar lagi anak-anak perempuan akan bermain di taman bunga ini. Kita tinggalkan saja dia di sini. Biar dia malu di depan gadis-gadis itu. Hahahaa!"

Sakit. Dipermalukan itu sakit.

"Malam itu, aku ada di antara SOLDIER yang mencegah kalian kabur. Entah kau yang waktu itu seperti orang idiot ingat atau tidak, si rambut jabrik itu melindungimu dari kami. Dia membunuh semuanya. Semuanya, kecuali aku. Zack Fair telah meremehkanku dengan membiarkanku hidup dalam rasa malu."

Dahi Cloud berkerut. Lagi-lagi tentang harga diri.

Hiro membiarkan katarnya menggores leher Cloud cukup dalam.

" 'Seperti kau bisa melukaiku saja. Memegang katar pun kau tak becus. Shinra membuat kesalahan besar dengan memilih sampah macam angkatan ini.' " Hiro berhenti sejenak untuk menelan air liurnya. "Kata-kata itu… Membuat kepalaku sakit. Tapi kau tahu apa yang membuatku lebih sakit? Oh. Kau, Cloud Strife. Karena Zack mati bukan di tanganku. Dia mati konyol, dan itu semua karena melindungimu!" Dengan brutal Hiro mengayunkan katar itu ke kepala Cloud.

TRANG!

Tepat sebelum benda tajam itu memisahkan leher Cloud dengan badannya, katar ditangkis dengan sabit baja. Sabit milik bocah ramah bermata bulat kelereng, Shiah.

"Saya mohon. Jangan lakukan itu, Hiro-sama. Orang ini tidak bersalah."

"Tidak bersalah… Tahu apa kau? Bocah ingusan macam kau… Bocah macam kau mana tahu sakitnya kehilangan harga diri? Mana kau tahu tentang dendam, juga kepahitan!" Hiro menyentakkan tangannya tanpa ampun. Shiah terjungkal, lalu jatuh berdebum. Seperti sudah kehilangan kewarasan, pemuda itu kembali menghujamkan katarnya ke arah Cloud berkali-kali.

TRANG TRANG TRANG!

Tebasannya ditahan lagi dengan katana kurus.

"Ini sudah berlebihan, Hiro. Hentikan semuanya!" bentak Yuu. "Jangan libatkan dendam pribadimu di sini. Urusan kita sudah selesai!"

DUAAR!

Suara ledakan terdengar, memecah sesaat ketegangan di antara mereka. Arahnya dari selatan. Reaktor mako!

"Oi, oi. Apa kalian tidak dengar suara ledakan tadi? Ayo pulang. Aku tidak mau mati tidak terhormat di tempat penuh lendir ini."

"Tidak!" Tsuiken menoleh ke arah rekan satu timnya yang memakai goggle itu.

"Ini tidak benar. Kita tidak berhak melakukan ini."

"Sekarang sudah terlambat, Miki."

"Belum!" tampik si goggle sambil berlari dan melepaskan Cloud dari cengkraman Hiro. Hiro yang hendak mengejar mereka ditahan oleh Yuu.

"Cloud Strife, masih ada beberapa detik bagi anda untuk merubah pikiran anda. Saya mohon, bantulah kami." Lelaki yang kulitnya halus bak sutra itu memandang Tifa yang masih tertidur. "Anda tidak mau, kan, orang yang anda sayangi direbut dari anda?"

Gempa kecil terjadi menyusul ledakan itu.

Hiro berteriak dari belakang. "Hah! Kalau dia menerima tawaran kita kali ini berarti dia tak bisa memegang kata-katanya. Kalau dia tak bisa memegang kata-katanya berarti dia tak punya harga diri. Kalau harga dirinya sama dengan nol berarti dia tak berharga untuk hidup. Kalau dia—"

"Saya mohon, Cloud Strife," laki-laki ini menangkap mata Cloud yang menatap Tifa dengan pandangan sayang bercampur menyesal, "lakukan ini demi nona Tifa."

DUAR! DUAARR!

Ledakan-ledakan yang lebih besar mulai susul menyusul. Cloud makin khawatir dengan keputusannya yang dulu. Bila ledakan itu berkesinambungan, reaktor itu bisa meledak sepenuhnya dan meracuni penduduk sekitar. Itu cukup untuk mewujudkan mimpi buruk Cloud beberapa hari ini menjadi kenyataan. Cukup untuk mengambil teman-temannya darinya.

"Pilihlah, Cloud Strife, harga dirimu atau—"

"Tch. Kurasa aku tidak punya pilihan."

~willBcontinued~


Hai, Kimchi di sini. Akhirnya! Bisa Kimchi rombak! Kimchi lumayan puas nih. Dengan begini, Kimchi jadi bisa ngelanjutin chapta 5. Semoga bisa cepet.

Oh iya, Kimchi mau ngejelasin soal Tohoshinki. Tohoshinki ditranslate dalam bahasa Inggris, artinya "the Gods Rising from the East". Tapi, entah gimana diterjemahkan dalam bahasa Indonesia jadi "Lima Dewa dari Timur" *sekedar informasi, Tohoshinki adalah vocal grup dari Korea yang debut di Jepang juga. Mereka pernah ngisi Ost One Piece, yaitu We Are!, Share the World, dan Asu Wa Kuru Kara.* jadi, tahu kan yang dimaksud kalimat "sayang sekali, tapi kami memang 'dewa'?"

Reivew akan dibales review! Feel free to review =D

Sampai jumpa di chapter depan! Ja ne!