Hello there =D
Akhirnya saia bisa update! Saia seneng bukan main! Yahuuuiii!
Buat reviewer chapter lalu, Swandie, Reiya Sumeragi, Kentona Seizaburo, CloudyStrife Hiru 15, dan Roanolic, KiReiKi juga Cecil temen sekolah saia, saia nggak bisa bilang apa-apa selain makasih banyak.
Aha, sebelum lanjut ke ceritanya, sekadar mengingatkan, inilah OC fiction yang saia tulis kali ini. Mereka semua adalah personil boyband Korea, Dong Bang Shin Ki (debut di Jepang dengan nama Tohoshinki).
Hero a.k.a. Hiro. Bisa dibilang dari lima OC, peran Hiro-lah yang paling mengundang konflik. Dengan tatapan, sikap, dan omongannya yang dingin, senjatanya yang utama sebenernya bukan katar di kedua tangan, lidah. Dia juga adalah Ex-SOLDIER, yang merasa terhina oleh Zack dan lari ke Wutai, berharap dia bisa jadi lebih kuat di sana. Korelasi antara Hiro dan sang putri pun adalah yang paling erat. Penasaran? Baca chapter ini!
Choikang a.k.a. Tsuiken. Masih ingat 'si jangkung suara cempreng gila perang'? Orang ini mulutnya paling ceplas-ceplos. Omongannya kasar. Tapi dibanding empat yang lain, dia yang paling kuat, meski sebagai penyeimbang, juga paling lambat.
Yuu no Junon. Mau dibikin Yuu no Juno sesuai nama aslinya, (U-Know Yunho) rasanya nggak pas. Yuu adalah pemimpin aksi sensasional (?) Tohoshinki. Di fiction ini biasanya saia sebut dia 'si jabrik'. Orangnya netral, berbeda dari Hiro-Tsuiken yang menentang Cloud, maupun Shiah-Miki yang membela Cloud. Senjata Yuu adalah katar kurus bermata dua.
Xiah a.k.a. Shiah. Karakter favorit saia. Meski kelihatan paling muda dan 'belum selesai pubertas' (karena suaranya ringan kayak suara anak cewek), cowok ini bukan yang termuda. Hanya saja karena pembawaannya ramah, lembut, dan terkesan cengeng, anggota yang lain (baca: Tsuiken) jadi nggak menghormati.
Micky a.k.a.Miki. Selalu pake goggle. Rambutnya berantakan, bajunya nggak berlengan, dan di celana panjangnya ada banyak kantong yang nggak perlu diketahui apa isinya. Penampilannya paling aneh pokoknya. Tapi orangnya pemurung. Sama kaya Shiah, tidak suka perkelahian. Dia punya kenangan dengan perempuan juga, itu sebabnya dia berani menawarkan kerjasama untuk terakhir kalinya pada Cloud. Dan dia berhasil!
The end is coming close. Chekidot! *plaak* Nih! Chapta lima!
DISCLAIMER
Final Fantasy VII milik Square Enix, dan saia hanya salah satu fans dari gamenya
Setting: AU, OC (s)
Warning: OC nambah 1 lagi
Part 5: Keegoisan
0o0o0
NGUUUUNNGGGG…
Sederet motor hitam bergerak lurus menuju Mako reaktor di selatan.
"Belok kiri. Ada jalan terselubung yang lebih aman."
Laki-laki yang memberinya tumpangan, Shiah si rambut merah, menuruti Cloud dan menuntun pengendara-pengendara motor dibelakangnya ke tikungan tajam itu.
.
.
Sementara itu, di gereja, Tifa mulai tersadar dari tidurnya yang menyakitkan.
"Ah… apa yang terjadi…" desah gadis itu, yang terduduk di rerumputan. Tifa berusaha mengingat-ingat perkataan keenam lelaki yang sempat ia dengar di sela-sela tidurnya.
…
"Aku saja yang memboncengkan Cloud-kun. Jok motorku cukup luas." Suara itu ringan.
"Kalau begitu kau yang akan memimpin di paling depan, Shiah. Kami akan mengikuti." Suara bass.
Lalu langkah-langkah kaki terdengar. Mereka sedang berjalan ke arah motor dan menaikinya, bersiap pergi.
"Ada yang mau kau katakan sebelum berangkat, Strife?"
"…"
"Saya sudah menghubungi Yuffie untuk menjemput Nona Tifa," yang lain berbicara. Aku kenal suara itu. Itu pria bergoggle yang sempat menyekapku.
"Nah. Shall we go?"
BRUMMMM….
"Jangan salah paham. Aku melakukan semua ini demi dia, juga teman-temanku yang lain."
"Kami mengerti. Mari berangkat."
Dan mesin-mesin itu pun menjauh.
…
0o0o0
"Dia menjebak kita!" Hiro mengayun-ayunkan katar, melindungi diri dari peluru-peluru yang entah asalnya dari mana. Di belakang Hiro, Tsuiken meliuk-liukkan motornya panik.
"Ini apanya yang aman?" jerit Tsuiken. "Argh! Jubahku berlubang ditembus peluru! Kau harus membayar semua ini, Strife!"
"Cloud-kun, benar kita tidak salah jalan?" tanya Shiah khawatir. Cloud sedang sibuk mengangkat Buster Sword-nya untuk menangkis peluru.
"Terakhir aku ke sini ini hanya ada aspal dan angin gurun."
"Kapan 'terakhir kali' itu, Cloud-kun?"
"Dua, mungkin tiga tahun lalu."
Tsuiken menyalak ganas. "Kenapa tidak bilang daritadi? Brengsek kau Ex-SOLDIER!"
Dengan susah payah mereka memacu mesin bergerak itu berkelit dari peluru. Akhirnya berhentilah mereka di dalam sebuah terowongan. Memeriksa sekilas penampakan tiap orang, ternyata tidak ada yang tergores. Motor-motor Tohoshinki memang seketika berubah jadi rongsokan (mungkin ini karma karena Tsuiken telah membelah Fenrir kesayangan Cloud jadi dua), tapi tidak ada yang terluka.
"Kita hanya perlu menyusuri terowongan ini sampai di ujung selatan."
Di bawah pedoman 'sang awan', Tohoshinki berjalan kaki mengikuti. Mereka pun mengerti apa yang dimaksudnya 'aman'. Tak ada satu monster pun di terowongan itu. Hanya ada liang-liang yang semakin dalam mereka memasukinya, semakin sempit.
"Terkutuklah tempat sialan ini! Ouch!" Kepala Tsuiken terantuk bagian atas liang, entah untuk yang ke berapa puluh kali.
"Kurang ajar! Tatanan rambutku rusak!"
0o0o0
Di inti bangunan itu, pipa penyedot Mako sekarang tampak akan benar-benar hancur. Tabung silinder berisi 'kehidupan yang dicairkan' itu retak parah. Ditinju sekali, maka isinya akan menyembur keluar.
"Akhirnya," desis seorang gadis muda seraya memakai sarung tangan besi. Tetapi belum sempat menghancurkan objek berisi aliran Mako, dobrakan pada pintu mengalihkan perhatiannya.
"Yuuki-ojou!"
"Cih. Seharusnya aku tahu kalian akan datang… Tohoshinki."
Tohoshinki berhasil menemukan yang mereka cari. Yuu mendekati Putri Wutai –yang betul, mirip sekali dengan Tifa. Putri bernama Yuuki itu sontak menghardik.
"Berhenti! Jangan kira karena kalian sendiri yang datang kemari, aku akan menyerah. Bahkan bila ayah-ayah kalian, para petinggi kerajaan itu, bersujud dan merengek-rengek, sekali-kali aku takkan sudi kawin dengan tua bangka bejat itu!" Dengan dengus kemarahan sang putri mengatakannya. Kelima pemuda gagah dalam kostum hitam serentak menatapi lantai.
"Ojou, kami harap anda mengerti."
"Mengerti? Kau harap aku mengerti kesengsaraan rakyatku, lalu dengan tolol mengorbankan diri demi mereka? Kaulah yang harus mengerti, Shiah! Akulah yang paling menderita selama ini! Sekarang kau datang untuk menghancurkan sisa-sisaku jadi serpihan, dan kau masih memintaku untuk mengerti?"
Kali ini Shiah benar-benarseperti anak kecil yang dimarahi orang tuanya.
"Kita dewasa bersama. Kukira kalianlah yang paling memahamiku." Nadanya melunak.
"Maafkan kami, ojou. Kami hanya menjalankan perintah," suara Yuu menengahi. Putri Wutai yang bagi Cloud adalah kloning Tifa Lockhart kini tersenyum getir.
"Kalian selalu lebih mementingkan perintah daripada diriku," bisiknya lemah. Air mata menggenang. "Padahal aku selalu menganggap kalian sebagai kakak. Kusangka kalian pun menganggapku adik. Ternyata aku tak lebih dari seorang tuan putri bagi kalian. Menyedihkan."
Tangisan sendu terdengar. Five in Black tak tahu lagi bagaimana harus menebus kesalahan ini, membuat seorang putri menangis. Well, mereka tak perlu repot-repot. Tak sampai semenit, tangisan lirih itu berubah menjadi tawa menakutkan.
"Kalau begitu tak ada alasan bagiku untuk berbelas kasihan. Khukhukhu…"
Tiba-tiba serangan magic datang bertubi-tubi. Lightning, fire, earth, bio, ice, semua yang bisa diserap dari materia dilancarkan. Keenam perjaka itu kalut, berusaha menghindar. Putri ini… Kuat!
Sambil berlari Yuu mencari cara menghentikan serangannya. Saat itulah ekor mata sang leader menangkap bayangan Tsuiken.
.
"Celaka—"
BLARRRR!
Tubuh menjulang itu terpelanting karena kurang cepat. Bolt level tiga menyengatnya telak. Nyaris keadaan si jangkung berubah, dari kritis menjadi tak terselamatkan. Kalau saja Miki terlambat menyelamatkannya dari magic earth, yang tersisa dari Tsuiken mungkin tinggal namanya.
"HEAAA!" Putri Yuuki men-summon monster berelemen api, Ifrit. Dalam sekejap ruangan yang telah hancur sebagian, hancur porak poranda. Serangan sang monster merah yang masif dan cepat, belum lagi ruangan yang terbatas dan tertutup, menjadikan hawa berkali lipat lebih panas.
"Mik-ki…" bisik Tsuiken, tubuhnya masih kejang. "Turunkan aku."
Gerakan Miki jadi lebih lambat. Susah payah ia melompat ke kiri untuk menghindari api Ifrit. Tsuiken pun merosot dari gendongannya.
"Turunkan aku," ulang Tsuiken. "Jadilah sedikit berguna. Bantu… yang lain."
"Lebih baik kau tenang dulu, junior."
"Aku tidak akan bisa tenang kalau misi ini sampai gagal… gara-gara aku."
Serta merta Miki meledak. "Berhenti bicara seakan-akan ini adalah akhir!"
"Aku –uhuk… akan baik-baik saja, bodoh! Aku tidak akan jadi salah satu dari kalian kalau selemah itu! Jangan… sekali-kali… Kau remehkan aku!" Adalah harga diri Tsuiken yang membuatnya balas berteriak.
"Hentikan omong kosongmu! Untuk berdiri saja sudah tidak bisa. Jangan sesumbar!"
"Pergi dari sana!" peringatan Yuu menghentikan pertengkaran. Sebuah bola api raksasa melesat bagai komet ke arah dua ninja itu. Bola api yang merah membara, tampak seperti neraka.
Miki mengulas sebuah senyuman tenang.
"Bukankah kita saudara?"
Bersamaan dengan tebasan Cloud pada kepala Ifrit, bola api itu melenyapkan sosok Miki.
JDUAAR!
…
Semuanya terhenti. Bahkan sang putri berhenti untuk mengatur nafas.
…
Dalam keadaannya masing-masing, mata mereka terpaku pada tempat dua sosok tadi berada. Miki dan Tsuiken. Tak ada apa pun yang terlihat selain asap kelam pekat mengapung ke atas.
Shiah terseok-seok menyeret kakinya yang setengah beku akibat magic ice, mencari tanda-tanda kehidupan. Mereka masih di sana. Kedua tubuh itu terlentang. Tangan Miki yang tidak dilindungi lengan baju melepuh parah. Sementara Tsuiken, tubuhnya tidak terlijat api sedikitpun, tapi tidak bergerak sama sekali. Dadanya tidak naik turun.
"Miki-kun, Tsuiken-kun…"
Pemuda berambut merah itu ambruk karena kakinya yang beku mulai lumpuh oleh rasa dingin. Amarah Yuu pun bangkit.
"Lihat apa yang ojou lakukan! Ojou hancurkan teman-teman ojou sendiri!" Cloud menangkap tekad yang menyala-nyala di mata prajurit berkatana yang memegangi bahu kanannya. Coat raven berlubang di sana. Pasti terkena percikan bola api Ifrit.
"Apa pun yang terjadi, aku akan membawa ojou pulang!" Yuu maju dengan mantapnya. Namun, alih-alih menyerah, Putri Yuuki mengambil kunai di pinggangnya.
JRASH…
Terbelalaklah semua.
"Kau sentuh aku dan aku akan bergabung dengan nenek moyangku," ancaman nona muda kali ini berhasil melenyapkan tekad Yuu dalam sekejap. Kunai miliknya telah merobek lehernya sendiri.
"Seharusnya dari awal kulakukan dengan cara ini. Orang-orang bebal macam kalian tak akan berhenti meski harus kehilangan nyawa."
Sebuah senyuman puas terpampang di wajah cantik itu.
"Ojou… Kami… Kedamaian negara kita… Senyuman rakyat Wutai… Apa ojou tega mengorbankan semua itu?" 'demi diri ojou sendiri'. Nada Yuu secara implisit menunjukkan kata lain: egois.
"Aku tak peduli! Selama ini akulah yang terus berkorban demi kalian, akulah yang terkungkung, aku menderita! Tapi, adakah satu dari kalian yang berterima kasih? Semua orang justru menganggap pengorbanan ialah kewajiban yang harus kuemban seumur hidup. Dan sekarang, saat aku merasa hanya cinta yang bisa membuatku terus hidup, aku harus mengorbankannya juga? Lebih baik aku mati! Lebih baik kalian mati juga!"
Seraya menjerit putus asa, Putri Yuuki meng-cast magic bio. Yuu langsung keracunan. Lenguhan kesakitan keluar dari kerongkongannya.
"Permainan ini mulai membosankan."
"Cloud…" Yuu memegangi lehernya. Jabrik yang pirang maju melewati dia.
"Jangan mendekat! Atau aku akan—"
"Silakan saja bunuh diri. Kau tahu cara melakukannya, dan kau tahu juga bagaimana rasa sakitnya."
"Si—"
"Kau bisa diperdaya oleh keegoisan, lalu mati sia-sia karenanya. Aku tidak tertarik. Dan aku. Tidak. Peduli." Cloud tetap maju selangkah demi selangkah. Tiada keraguan sedikitpun di safir matanya itu.
Kini, saat Cloud sudah menghadang Putri Yuuki, yang ada dalam benaknya adalah betapa miripnya nona itu dengan Tifa. Cloud mengamati lebih seksama, sekadar memastikan yang tengah ia lihat bukan ilusi. Memang bukan. Nyata, semuanya nyata. Rambut se-lutut lurus, mirip sekali dengan Tifa tiga tahun lalu, yang rambutnya masih sangat panjang. Mata itu… bentuk bibir yang sama… betapa identik keduanya.
"Siapa kau? Apa urusanmu di sini?"
"Siapa aku bukan urusanmu." Ibu jari Cloud menunjuk ke belakang. "Tadinya aku enggan terlibat, tapi mereka memaksaku ikut campur."
Senyum sinis kembali tersungging di 'bibir-Tifa' sang tuan putri.
"Mereka menyewamu pasti bukan tanpa alasan. Katakan, berapa mereka membayarmu?" Cloud terdiam. Ia baru sadar, dirinya tak dibayar dengan apa pun.
"Akan kubayar dua, tidak, tiga kali lipat untuk mengawalku kabur dari mereka," lanjut Yuuki.
Sesaat ia teringat akan mimpinya beberapa hari lalu, yang sekarang sudah tak pernah muncul. Hanya ia dan Tifa yang tersisa, teman-temannya yang lain tidak ada lagi. Tapi entah kenapa, ia merasa yang terjadi sekarang justru berkebalikan. Justru Tifa lah yang akan pergi, kalau ia tak bertindak.
"Ini bukan demi uang," tegas Cloud. Bukan demi uang. Ya, dirinya tak bisa dibeli kali ini. Karena Cloud Strife rela berepot-repot seperti ini, semua demi mencegah mimpi buruknya jadi kenyataan. Demi Tifa.
"Tak bisa dengan ancaman atau iming-iming untuk mengalahkanmu, eh, mata Mako?" Nampaknya dara itu sudah pulih dari letihnya. Kuda-kuda khas seorang ninja dipertontonkannya.
"Kalau begitu, kekerasan dan rasa sakit pasti bisa!"
Mulailah Putri Yuuki melantunkan melodi kematian ciptaannya. Mantra demi mantra dieja. Magic dan serangan fisik yang sama-sama kuat pun beradu. Meski dengan leluasa ia dapat bergerak, Cloud tidak bisa fokus menyerang gadis itu. Tiap ada celah terbuka, tiap ada kesempatan untuk menusuk kelemahannya,
Bayang-bayang Tifa selalu muncul.
Disusul bayangan lain dari dirinya sendiri, tentang kepergian gadis itu dari hidupnya, untuk selamanya.
"Mati kau!"
Bahkan kata-kata kutuk itu juga… Seakan Tifa sendirilah yang mengatakan. Meski Cloud tahu, Tifa Lockhart tidak akan pernah mengatakan hal semacam itu padanya, tetap saja, kemiripan mereka… membuat hatinya sakit.
"Tifa... Jatuh hati. Padamu. Cloud Strife, si nggak peka."
Kata-kata Yuffie yang mengiang-ngiang makin membuat pedang yang ia sandang terasa berat. Ambisi menjadi first class, kehilangan seorang sahabat karib, depresi berat, mengalahkan idolanya sendiri, lalu diperhadapkan pada dilema antara harga diri dan pilihan yang mau tak mau harus dia ambil. Juga kenyataan bahwa Tifa ternyata menambatkan hati pada dirinya.
Terlalu berat untuk dipikul.
"Ugh!" Ada lengkingan keras dalam kepala mantan SOLDIER itu.
"Lengah!"
JDUARR!
Sebuah magic bolt, magic yang paling ia kuasai sejauh ini, menyambar dia bagai petir di tengah badai menyambar perahu tongkang di tengah samudra.
.
JDUARR!
Tubuh Cloud tepental keluar dari arena pertarungan. Bersamaan dengan itu, seseorang bangkit berdiri, tanpa mempedulikan sang Ex-SOLDIER sama sekali. Hirolah dia. Satu-satunya pemain yang sedari tadi hanya diam dan menunggu.
Tatapan esnya melekat pada sosok tuan putri. Bila ada yang bisa menafsirkan apa yang diperlihatkan mata itu, maka tafsiran itu tak lebih dari kebohongan. Tatapan yang tak bisa didefinisi. Tatapan kosong penuh makna. Beku sekaligus hangat. Benci…
tapi ada cinta yang meluap dari dalamnya.
~willBcontinued~
Saia rasa ada korslet di otak saia. Saia sama sekali nggak bisa ngelanjutin. Harusnya chapta ini jauh lebih panjang. Yasudlah, lanjutnya di chapta 6 aja deh. See you at the last chapta!
Feel free to review =D Review dibales review tetap berlaku lhoooo…
