Edited. Uwaa, ternyata bisa dipotong 1000 kata lebih!
Nggak ada yang baca nggak masalah, karena ngedit chapter terakhir ini adalah demi kepuasan saia pribadi. Meski begitu, saia tetap sangat berterima kasih bila ada yang masih mau baca. Domo!
Clash… Setetes air jatuh. Tersadar, lagi-lagi semuanya putih.
Cloud Strife berjalan mengikuti cahaya putih benderang nan tiada menyilaukan mata, bertanya-tanya di mana bisa ditemukan sebuah akhir. Atau sebuah awal. Ia takut kalau harus berputar-putar di sana tanpa menemui tujuan pasti.
'Sekarang apa?' tanyanya dalam hati.
"Cloud!"
Bingo!
Seorang gadis di sana melambaikan padanya.
"Sini!"
Hati pria itu segera dipenuhi ketidakpastian.
'Tidak salah lagi. Rambut panjang berpilin. Mata itu masih hijau bersinar. Cantik, seperti selalu, dan—'
Dan…
'… Hidup.'
Badannya bergetar, ditahan untuk tidak menghambur. Ia bekukan mimik sekuat tenaga hanya untuk menyembunyikan…
Betapa ia sangat-sangat teramat rindu pada sosok itu, Aertih Gainsborough tercinta.
"Kalau ini benar mimpi, jangan bangunkan aku."
DISCLAIMER
Final Fantasy VII milik Square Enix
Setting: AU, OC (s)
Part 6: Masih di Sana
==o0o==
"Aerith, tempat apa ini?" tanya Cloud suatu saat. Ia tahu, tubuhnya telah disambar bolt level tiga secara telak.
Tak beralih dari bunga-bunga lili putih, agak berdendang sang Cetra menyelidik, "Ng? Bukannya kau sudah pernah ke sini, Cloud?"
Angguk.
"Apa itu berarti aku sudah…" …Mati?
"Belum, Cloud. Belum kalau kau tidak menyerah."
"Menyerah?"
Aerith berhenti bekerja, lalu tersenyum. "Kau akan segera bangun, kok. Ya kan?"
Cloud ragu untuk menjawab. Hati dan perasaannya menginginkan untuk tinggal. Ia enggan kembali ke peperangan dunia. Ia menginginkan kedamaian. Karena di tempat ini ia mendapatkan kedamaian itu. Kebebasan akan rasa bersalah yang terus menghantuinya sepeninggal Aerith.
"Zuru-zuru, zuru-zuru."
Telinga Cloud berkedut. Sepertinya Cloud pernah mendengar yang macam itu.
"Zutto zuru-zuru, zuru-zuru. Masih seperti yang dulu. Melankolis dan selalu menoleh ke belakang," komentar Aerith setengah tertawa. Pemuda itu mengerenyit. Kedengarannya sang gadis berambut auburn dapat membaca isi hatinya.
"Bukankah sudah saatnya kau memaafkan dirimu sendiri, Cloud?"
. . .
"Tapi aku membiarkannya mati…"
"Zuru-zuru. zuru-zuru."
"Bukankah sudah saatnya kau memaafkan dirimu sendiri?"
.
.
Aerith menyudahi keheningan panjang itu dengan perkataan bernada yakin,
"Cloud, masih banyak orang membutuhkanmu. Masih ada ratusan urusan yang harus diselesaikan. Karena itu, teruslah hidup. Oke?" Tangan sang gadis pun terulur. "Lagipula, saat satu pulang, yang lain akan kembali."
Pria muda itu masih dalam kebimbangannya saat nuraninya menggerakkan tangannya menyambut tangan sang Cetra. 'Aku hanya… Hanya tak ingin berpisah lagi. Itu saja.'
Kedua tangan mereka akhirnya bertautan.
"Sudah jauh," tandas si gadis, "Jangan berhenti."
"… Ya."
ZRET!
.
.
"Jaga yang lainnya, Cloud."
.
.
=o0o=
Debu beterbangan dalam ruangan itu. Asap yang menyesakkan melesak memenuhi paru-paru. Kehancuran adalah kata paling tepat untuk mendeskripsikan suasana dalam ruangan yang tadinya tertutup rapat. Meski kata itu adalah kata yang mengerikan, tuan putri sama sekali tidak keberatan. Karena dari awal, memang kehancuran yang menjadi tujuannya.
"Sedikit lagi, sedikit lagi kita akan capai mimpi itu. Mimpi yang mustahil, katamu dulu. Lihat? Kita bisa mewujudkannya!" Yuuki mendekati Ex-SOLDIER-nya, pujaan hatinya, hidupnya.
Hiro.
"Hn. Masih belum mengerti juga rupanya. Dasar bocah." Langkah itu berhenti. Alis bertaut dalam kekhawatiran.
"Dengar, Yuuki. Sekeras apa pun kita mencoba, percayalah, mimpi itu tidak akan terwujud. Karena… seperti yang dikatakan semua orang, garis takdir kita sejajar, maka sampai kapan pun tidak akan pernah bertemu."
Bagaikan tombak kata-kata itu menohok dan melubangi. Putri Wutai membatu dibuatnya. Hatinya pedih. Pada akhirnya hanya kata 'mengapa' yang akhirnya mampu ia lontarkan.
"Mengapa kau tak pernah bisa menghargai pengorbananku, Hiro? Yang kulakukan ini semua demi dirimu, demi kita berdua! Kenapa sekarang kau campakkan aku? Apa cintaku tidak cukup? Apa lagi yang harus kukorbankan untuk membuktikan cintaku?"
"Pengorbanan yang kau maksud tak pernah lebih dari sebuah keegoisan. Lagipula, apakah lantas karena seorang putri sepertimu yang melakukannya, pengorbanan itu menjadi berbeda, sementara semua orang yang lain juga berkorban?"
Yuuki mengikuti mata hitam Hiro. Empat tubuh terkapar sekarat di sana. Dia masih ingat bagaimana ke-empatnya dulu bersumpah di depan mata kepalanya untuk melindungi negara dengan taruhan nyawa. Melindungi kehidupan. Melindungi dirinya. Dan apa yang dilakukannya? Mencoba membunuh –memusnahkan mereka bila perlu.
"Tapi dulu kau bilang…" Yuuki tak sanggup menagih janji Hiro. Janji untuk hidup bersama sepanjang sisa hidup mereka.
Ia merasa telah dibodohi, diiming-imingi harapan kosong.
Namun sekali lagi, hatinya mengkhianati perasaannya yang terluka.
"Bukankah kau mencintaiku?"
"Tidak seperti ini."
Seakan ribuan keeping kaca menancap di hatinya yang rentan. Hancur hati si gadis seketika. Jiwa di dalamnya tercabik-cabik. Kesedihan yang amat menyebabkan butir-butir perasaan jatuh berderai-derai. Deras seperti air bah.
"Kenapa? KENAPA? Bahkan laki-laki yang paling kucintai menghancurkan kepingan-kepinganku jadi debu! Jahat! Tidak adil! Jahanam! Terkutuklah dunia ini!"
Tanpa dinyana Hiro berlutut di hadapan calon pemimpin negerinya, tepat sesaat sebelum wanita itu menghancurkan seluruh reaktor mako dengan magic dahsyat miliknya. Dan berkatalah ia sekenanya, seakan dia tidak bersungguh-sungguh mengharapkan apa yang ia minta.
"Aku mohon, Tuan Putri. Berkorbanlah sekali lagi, ini yang terakhir. Demi aku."
Yuuki menggeram marah. Api kemurkaan berkobar dari sorot matanya. Dalam hatinya muncul keinginan untuk meremukkan segala yang ada di planet ini. Dunia telah berdosa karena menjadikannya tumbal atas segala kemalangan. Terkutuklah Gaia, terkutuklah Northen Crater.
'Terkutuk kau Hiro…!'
"TIDAAAAAK!"
Secepat sambaran kilat wanita ninja itu menghujamkan-hujamkan kunai yang juga telah menyobek lehernya ke leher Hiro dengan amat brutal.
.
.
.
"Ya. Kali ini biar aku."
.
.
.
Kunai itu tertancap-tancap dalam. Tak ada perlawanan apa pun.
…
.
.
.
Biji mata Putri Yuuki nyaris keluar.
Hatinya mencelos.
.
.
.
"Hi-Hiro…"
Terlambat.
.
.
.
Hiro tersenyum damai. "Biar aku yang berkorban kali ini."
"HIROOO! TIDAAAAAK! HIROOO! HIROOOOOOO!"
=o0o=
JRASH JRASH JRASH!
Tepat ketika kakinya menapak masuk, pembunuhan itu terlaksana. Jiwa gadis ninja, kotor oleh dendam, melepaskan kemurkaannya dengan begitu buas. Pria pirang itu tidak bisa mencegahnya lagi. Untuk berdiri tegak saja sulit.
Cloud tidak memiliki pilihan selain membiarkan itu semua terjadi. Teringat lagi perkataan Sang Cetra. 'Satu pulang, tapi yang lain akan kembali.' Apakah ini maksudnya? Apakah yang pulang adalah dirinya, dan yang kembali,
Adalah Ex-SOLDIER ini?
"TIDAAAK! HIROOO! MAAFKAN AKU! MAAFKAN AKUUU!"
Yuuki berteriak-teriak seperti orang yang kerasukan. Sementara itu Yuu yang masih menggelepar berusaha merayap mendekati keduanya.
"Kumohon bertahanlah, Hiro! Maafkan aku! Aku tidak bermaksud melakukannya! Ampuni aku!"
"Biarkan aku yang pergi… Yuuki… hiduplah seribu tahun lagi… Cintaku…"
Dan dengan kata-kata itu, jiwa Hiro kembali. Pergi ke mana Gaia membawanya. Pergi dari segala peperangan di dunia, menuju dunia lain yang telah menantinya. Dunia penuh kedamaian. Dunia di ujung tanah serba putih yang sekiranya hanya ada dalam mimpi. Meski kemungkinan besar, di sana ia akan bertemu dengan Zack, ia yakin yang ia pilih ini,
...
adalah kata terakhir dari hatinya yang sudah sekarat.
Pemuda tampan itu tersenyum pada ujung nyawanya.
'ternyata masih... di sana, ya...'
Masih di sana. Hatinya yang walaupun sekarat, masih di sana. Dan kini akan selalu di sana, membaur dengan ribuan hati lainnya, menyatu dengan Lifestream yang berdansa mengawasi kehidupan dari atas sana.
=o0o=
"Aku pernah melihat ini sebelumnya." Ucapan Cloud didengarkan oleh Shiah, juga Tsuiken dan Miki. Syukurlah mereka semua masih hidup. "Semua ini telah direncanakan. Laki-laki ini berniat untuk mati di tangan putri itu."
Sinar keemasan mulai muncul dari balik horizon. Mentari sudah lelah. Bulan akan segera muncul. Putri Yuuki masih menjerit-jerit, memanggil kembali jiwa yang telah berpulang. Yuu terus mendampingi di samping sang putri, tetapi tidak bisa berbuat banyak.
Hidup memang kejam. Dan takdir memang tak pernah adil. Tapi, keduanya tak lantas membekukan hati manusia. Karena sebagaimanapun kerasnya kehidupan, benda itu masih di sana. Dan akan selalu di sana, di bilik kecil yang paling tersembunyi.
Seandainya Cloud mengerti hal ini.
=o0o=
Cloud sedang berdiri di hadapan danau itu lagi seminggu setelah pemakaman Hiro. Putri itu tidak henti-hentinya menangis. Ia berpikir, bukankah seharusnya seperti itu keadaan seseorang bila ditinggalkan orang yang paling itu sayangi? Seharusnya seperti itu, kan, keadaan seseorang yang masih mempunyai hati?
Sesuatu menyibak keluar dari sesemakan. Bukan Yuffie kali ini. Ia sedikit terkejut.
"Tifa?"
Tifa tersenyum hangat. "Jadi di sini kau rupanya. Pantas sering pulang telat."
"Kau sendirian?" tanya Cloud. Tifa mengangguk.
"Cid, Barret, dan beberapa yang lain sudah kembali ke Bone Village," jelasnya.
Mereka berdua memandangi danau beberapa saat.
"Apa kamu masih sedih, Cloud?"
"Sedih? Kenapa harus sedih?" Cloud balik bertanya. Sebenarnya ia sudah tahu maksud pertanyaan Tifa. Ia bahkan pernah menanyakan hal yang kurang lebih sama pada Aerith, dulu.
"Lantas apa yang selalu membawamu kembali ke sini?"
Tapi apa yang harus ia katakan? Ia tidak mau mengakui jawabannya. Padahal jawabannya sangat jelas.
Itu semua tidak terlepas dari kepergian Aerith sendiri.
Itu semua… tidak terlepas dari rasa kehilangannya… atas kepergian Aerith.
.
Cloud memiliki hati yang semurni mutiara dari dalam tiram. Seumur hidupnya, mungkin pemuda bermata biru samudra ini hanya bisa mencintai satu orang. Seolah kunci pintu hatinya yang tiada noda hanya dapat disimpan oleh seorang gadis saja. Dan gadis itu sampai sekarang, hanya Aerith seorang.
Tifa tahu salah satu akan kalah. Dia, atau Cloud. Bila ia memaksakan perasaannya, Cloud kalah. Tapi bila ia harus merelakan pemuda itu tetap berpegang pada hatinya, pada rasa cintanya terhadap Aerith ia yang akan hancur. Tapi ia bersedia hancur, bila itu bisa membuat semuanya utuh kembali.
Tifa tersenyum getir. Dara itu menepuk pundak Cloud dua kali lemat-lemat.
"Aku tidak tahu kenapa kata-kata ini bisa ada di kepalaku. Tapi, kurasa penting untuk mengatakannya."
Tifa menarik napas.
" 'Masih di sana, kok.' "
Pemuda itu melirik gadis berambut hitam lurus di sebelahnya. Nampaknya Tifa benar-benar tidak tahu apa yang sedang ia katakan. Tapi Cloud tahu. Ia sangat tahu.
.
Lihat? Semuanya baik-baik saja kan? Yang perlu kaulakukan adalah mempercayai hatimu. Selama kau percaya padanya, ia akan menuntunmu. Dan jangan takut, Cloud. 'Sesuatu' itu tidak akan meninggalkanmu.
Ia masih di sana. Dan akan selalu di sana.
Ya, masih di sana, Cloud. Hatimu...
Masih di sana...
Tanggal publishnya bagus, lho. 9-10-11!
Terima kasih banyak buat yang sudah setia menunggu update-an fiction ini. Special thanks to:
Swandie
Riruzawa Hiru15
Reiya Sumeragi
Roanolic
KiReiKi Flaurenoct
Kentona Seizaburou
Sutefani Shishiria
Saturn Empress
Yoshimitsu
Maika Hammond
Nyasararu
Cloudzer
Hazena
Eleamaya
konohafled
Tanpa kalian fiction ini tidak berarti. Arigatou gozaimasu! See you next time. Annyeong =D
Review tetep dibales review. Terima kasih sebelumnya bagi yang bersedia ngebaca chapta final ini.
