SHINJUKU RISA PRESENTS

We are Vocaloid family chapter 3

1

2

3

ACTION!

Hari Senin. Hari pertama dari tujuh untaian hari dalam satu minggu. Hari dimana aktivitas mulai berjalan normal kembali. Akan tetapi, tak sedikit orang yang benci dengan hari Senin. Entah karena alasannya malas bekerja, keinginan untuk berlibur setiap hari, atau memang hari sialnya.

Dan Miku memulai paginya di hari Senin ini dengan, menyeterika seragam.

"Anytime shabesugi no "KY". Chirari mitseru no tsuyogari na "i cry". Namida no kouka wa dori kurai?" Miku bernyanyi mengikuti irama salah satu lagu yang terdaftar di playlist handphone nya yang sudah tak bisa dibilang Handphone tulen. Handphone Miku kini sudah beralih fungsinya menjadi 'setengah iPod'. Maksudnya 'setengah iPod' disini adalah, Miku hanya menggunakan handphonenya untuk mendengarkan musik saja, tak lebih dari itu. Termasuk mengisi pulsa handphone. Hari Natal adalah satu-satunya hari dimana Miku akan mengisi pulsanya. Mengapa harus hari Natal? Karena pada hari itu, sudah menjadi tradisi Miku untuk menelpon keluarga dan kerabatnya untuk sekedar mengucapkan 'Selamat Natal dan Tahun baru'. Diluar hari Natal, jangan harap satu yen-pun masuk kedalam handphone-nya.

Beralih ke Miku dan musik.

Miku tak pernah lupa untuk mendengarkan musik setiap harinya. Ia suka musik apa saja (kecuali dangdut). Alhasil, dalam waktu tiga hari, Miku dapat menghabiskan kuota modem-nya yang awalnya berjumlah 4.000.000kb menjadi 0kb hanya untuk mendownload lagu. Motto-nya adalah, 'Music is my life!'dan itu terbukti. Lima jam tanpa musik dapat membuatnya 'bengong' seperti orang hilang akal.

Miku melirik jam digital di layar handphone-nya. Digitnya menunjukkan pukul 07. 09. Tinggal 51 menit lagi sebelum bel sekolah berbunyi. Dan Meiko masih terlelap padahal sudah 3 kali alarmnya berbunyi. Miku pun berinisiatif untuk membangunkan Meiko.

"Hei, Meiko. Ayo bangun!" Miku mengguncang-guncangkan lengan Meiko agar gadis pemalas ini lekas bangun. Namun sayang, kelopak mata Meiko tak kunjung terbuka.
"Meiko~ sarapan hari ini enak, lho."

Naas, Meiko tetap tak kunjung bangun. Ia malah menarik selimutnya, membenamkan kepalanya dalam himpitan bantal dan selimut. Ah, sungguh pemalas sekali gadis ini. Miku mulai kebingungan. Ia tak mau disalahkan jika Meiko nanti terlambat ke sekolah. Miku memijit dagunya, memikirkan cara yang tepat untuk membangunkan Meiko.

"MEIKO! Ini darurat! Sake telah ditarik dari pasaran Jepang!"

BATS!

Tanpa hitungan detik, Meiko langsung bangkit dari tempat tidur layaknya mumi yang bangkit dari sarkofagus. Bagus, Miku! Kau berhasil membangunkannya.
"TIDAK MUNGKIN! Naoto— kau kejam sekali!" Jerit Meiko sembari meremas-remas bantal tak berdosa hingga beberapa gumpal kapuk berceceran karena ulah Meiko. Miku terkekeh kecil melihat Meiko yang mendadak heboh seperti ibu yang kehilangan anaknya.
"Aku hanya bercanda, Mei. Sekarang, cepat mandi, sarapan, dan kita akan berangkat ke sekolah."
Meiko menghela nafas lega. Ah, ternyata sake masih ada. Dengan langkah uring-uringan, Meiko melangkah menuju kamar mandi.


"Miku, kemana Meiko?" Tanya Kaito yang baru saja menyelesaikan ikatan simpul tali sepatunya.
"Ah—itu.."
Miku menunjuk ke arah Meiko yang masih berada diruang tamu. Ah, rupanya kedua tangan Meiko masih sibuk mengatur rok seragamnya.
"Kau repot sekali, Meiko." Sindir Gakupo.
"J-Jangan bicara seperti itu! Aku tidak tahu kalau rok siswi SMA akan sependek ini."Keluh Meiko sambil berusaha menurunkan rok seragamnya yang—panjangnya sejengkal keatas dari lutut, sangat pendek. Meiko memang tak terbiasa memakai rok, apalagi rok pendek yang panjangnya tak sampai selutut. Berbeda dengan Miku yang terlihat enjoy dengan seragam SMA yang baru pertama kali ia pakai pagi ini.

PUK!

Tangan besar Gakupo menepuk pelan kepala Meiko. Lalu ia berkata, "Tidak apa-apa. Lagipula kau terlihat manis."
"JA-JANGAN MENGATAKAN HAL MEMALUKAN SEPERTI ITU!" Respon Meiko dengan wajah yang memerah karena marah, kesal, dan malu. Dengan cepat, Meiko menepis tangan Gakupo yang tanpa permisi 'nemplok' di atas kepalanya.
"Sudah-sudah. Nanti biar ku-cek persediaan rok panjang di koperasi sekolah." Timpal Gakupo lalu berjalan mendahului Meiko, Miku , dan Kaito.


Keempat penghuni kos-kosan telah kembali dari Crypton High School. Mereka pulang bersama, berjalan beriringan, bercerita apa saja yang telah mereka alami disekolah hari ini. Namun, dari mereka berempat, Meiko lah yang saat ini paling 'ekspresif'.
"Yeeehaa! Rok baru! Rok baru!" Seru Meiko girang sambil menari-nari di halaman depan kos-kosan. Rupanya, stok rok panjang di koperasi masih ada, dan Gakupo berbaik hati membelikan satu untuk Meiko. Ah, betapa bahagianya Meiko. Mulai besok, ia tak akan kerepotan menurunkan rok pendeknya.
Saking bahagianya, Meiko terus berjingkrak-jingkrak kegirangan tanpa memperdulikan keadaan sekelilingnya. Bahkan ia tak menyadari kulit pisang yang terkapar dua senti dari kakinya. Dan..

SYUUUT!
"MEIKO!" Miku mengambil ancang-ancang untuk menolong Meiko, namun..

BRUK!

Terlambat. Kaki kiri Meiko terlanjur menginjak kulit pisang tak bersalah yang tergeletak begitu saja dilantai, sehingga ia pun terpeleset. Dan parahnya lagi, kepalanya sampai membentur ubin, sukses membuat Meiko tak sadarkan diri.

"Meiko payah, ah! Masa' kepeleset kulit pisang saja sampai pingsan begini!"Gerutu Gakupo sambil menggotong tubuh Meiko yang—cukup berat ke dalam kamarnya.

"Ngomong-ngomong, sejak kapan di kulkas ada pisang?" Tanya Miku penasaran. Setahu Miku, minggu ini Teto tidak belanja pisang di supermarket.

TUIL! TUIL! TUIL!

"Bunyi ini.." Gakupo dan Kaito saling berpandangan dengan was-was, keringat dingin mengalir dari pori-pori mereka. Mereka hafal suara ini. Suara yang selalu terdengar ketika sang Mario melompat menuju sisi yang lebih tinggi. Pertanyaannya adalah, siapa yang memainkan Playstation di ruang tamu? Tidak, tidak mungkin Teto. Tapi siapapun itu, tentu saja Gakupo dan Kaito tidak rela Playstation mereka dimainkan tanpa izin.

TUIL! TUIL! TUIL! TUIL!

Gakupo mengambil Katana antik yang terpajang di dinding ruang tamu, lalu bergegas menuju ruang TV. Baru selangkah berjalan, Kaito mencekat Gakupo dengan menarik ujung seragamnya.

"Gakupo, untuk apa kau membawa Katana itu?" Tanya Kaito heran. Ah, rupanya Samurai in mode Gakupo sedang kambuh.
"Mungkin saja itu suara maling yang sedang mengecek kondisi Playstation kita! Ini tidak bisa dibiarkan, Kaito! Ayo! Lindungi Playstation sampai titik darah penghabisan!" Tanpa basa-basi, Gakupo langsung berlari menuju ruang TV layaknya seorang Samurai di tengah gemuruhnya medan perang. Ketika jarak kakinya dengan ruang TV tinggal semeter lagi, Gakupo mengangkat Katana nya, mengambil ancang-ancang untuk menyerang orang tak dikenal yang seenaknya memakai Playstation kesayang Gakupo dan Kaito.

"HAAIYYA! MENJAUHLAH DARI PLAYSTATIONKU, PENCURI!" Seru Gakupo sambil memasang posisi kuda-kuda dan mengacungkan pedang Katana-nya ke arah seorang—ah, bukan seorang! Dua orang yang tengah asyik bermain Playstation di depan televisi. Dan lebih mencengangkannya lagi, dua orang yang Gakupo klaim adalah maling, ternyata hanya sepasang anak kecil yang— terlihat seperti saudara kembar.

Kedua bocah itu mengalihkan perhatian mereka dari televisi, lalu serempak mengarahkan pandangan mereka ke arah Gakupo yang menggenggam Katana di tangan kirinya.

"Rin, apakah kau mempunyai pikiran yang sama denganku?" Tanya salah seorang dari mereka berdua yang kita ketahui bernama Kagamine Len. Rin tersenyum kecut, lalu menggigit bibirnya, dan tanpa hitungan detik, mereka berdua pun tertawa terpingkal-pingkal.

"PFFFTT..HYAHAHAHAHA!"
"Jangan menertawaiku, bocah kuning!"
"Kau bertindak layaknya seorang Samurai, memegang Katana saja masih salah. Katana itu sebaiknya digunakan dengan posisi tangan kiri di depan, dan posisi tangan kanan dibelakangnya." Jelas Len dengan rinci. Gakupo segera merubah posisi tangannya, kini Katana itu ia pakai dengan dua tangan, sesuai petunjuk yang Len katakan.

"Khukhukhu—jangan membuatku menebas dada kalian dengan Katana ini, ya!" Gertak Gakupo dengan memasang wajah 'KIRA' khasnya(lihat PV Dancing Samurai untuk lebih jelas mengenai wajah KIRA khas Gakupo).

"Gakupo! Baru pulang sudah bikin ribut!" Teriak Teto dari dapur, mencoba menetralisir keributan yang tengah terjadi antara Gakupo dan 'dua bocah kuning'.
"Ini bukan urusanmu, misoji!"

CTAAAARRR!

Yak, untuk yang kesekian kalinya, Gakupo berhasil menyulut api amarah Teto. Tanpa ba bi bu lagi, Teto segera menyambet sapu ijuk yang tergeletak tak jauh dari tempatnya berada, tujuannya tak lain dan tak bukan adalah untuk menghajar Gakupo.

"MISOJI TTE IUNA—! GAKUPO BAKA NA—!"

DUUUAASSSHH!

"Sekali lagi kau memanggilku misoji, stok terong minggu ini akan kuberikan pada kelinci tetangga sebelah! Ingat itu!"

"I-ittai—Kasane.." Lirih Gakupo yang—lagi-lagi terkapar tak berdaya akibat korban KDRT Teto. Kaito pun segera datang dengan membawa dua lembar tisu untuk membersihkan darah yang merembes dari hidung Gakupo. Ah Kaito, kau benar-benar teman yang baik.


Malam ini, seluruh anggota kos-kos an yang berjumlah tujuh orang plus Teto, berkumpul di meja makan. Hari ini Teto memasak Dinner special untuk anak-anak kos nya.

Sambil menyantap makan malam, mereka saling bercengkrama, beradu argumen, ataupun saling berkenalan satu sama lain.

"Jadi, kalian berdua kembar?" Tanya Miku sambil melahap nasi dimangkuknya. Kedua orang yang ditanya menghentikan sejenak kegiatannya melahap fruit salad yang menjadi makanan penutup malam ini.
"Kami bukan kembar. Dan kami tidak mempunyai hubungan darah sama sekali." Jawab salah satu dari mereka yang bernama Kagamine Len. Miku mengerenyitkan dahinya. Bagaimana mungkin Len dan Rin bukan saudara kembar? Wajah mereka terlihat sama, warna rambut mereka, bahkan marganya sama. Ah, dunia memang aneh, pikir Miku.
"Dan, Dell itu teman kalian juga?" Kali ini balas Kaito yang bertanya kepada duo Kagamine ini.
Rin dan Len berpandangan, lalu tersenyum penuh arti seraya berkata, "Dell lebih dari sekedar teman."
Miku dan Kaito ber 'oh' ria mendengar pernyataan Len dan Rin. Rupanya, masih banyak hal yang belum mereka ketahui soal Dell, dan duo Kagamine ini.
"Ngomong-ngomong soal Dell—" Jari telunjuk Kaito menunjuk ke arah Dell yang sedang semangat bercengkrama dengan Meiko. Saking semangatnya, keringat sampai merembes dari kulit wajah Dell.

"OOOH! Jadi kau juga penggemar Sake, Dell?"
"TENTU! Disamping merokok, meminum Sake tak pernah kulewatkan barang sehari pun!"
"Huwaaaa~ ke-kereeeeen! Kau sudah mencoba Sake XOOX?
"XOOX? Minggu lalu aku sudah mencobanya. Bagaimana dengan sake OXXO?"
"OXXO langgananku tiap minggu! Hei Dell,kudengar perusahaan XXX meluncurkan produk baru mereka, sake XOXO. Mulai diedarkan tanggal XO di OX Town Square! "
"Sungguh? KAWAAAAII! Tak sabar untuk menunggu!"

TWEEEEEWWW—

Miku, Kaito, Gakupo, Teto, Len, dan Rin hanya bisa sweatdrop melihat Meiko(yang sudah sadar dari pingsannya) dan Dell. Nah, beginilah jadinya jika sake-holic saling bertemu.
"Ah—kalau begitu..biarkan mereka bersenang-senang." Ujar Miku sambil merapihkan mangkuk nasi dan sumpitnya setelah selesai makan.

"Miku! Malam ini Meiko sekamar denganku, ya! Kami ingin berbicara banyak soal Sake! Boleh?"
What? Sekamar? Dell dan Meiko? Wah—

"Tentu. Mengapa tidak? Kalau begitu, malam ini aku akan sekamar dengan Rin." Len menggeleng, memberi isyarat tidak setuju."Tidak bisa, Miku. Rin bersamaku. Malam ini kami akan bertanding catur." Tukas Len. Ah, tak ada pilihan lain bagi Miku selain, tidur di sofa ruang tamu! Kedengarannya memang tidak nyaman, tetapi, tak ada pilihan lain.

"Ah, baiklah kalau begitu aku tidur di sofa ruang tamu. Boleh kan, Teto-senpai?" Teto menggeleng, ia tak setuju. 'Kok pada geleng-geleng semua? Ada apa gerangan?' Batin Miku heran.

"Miku, kau tidak tahu, ya? Ruang tamu tiap jam 12 malam ada—yah, you-know-who. Aku tidak ingin kau melihatnya. Kenapa kau tidak sekamar dengan Gakupo saja?" Usul Teto sambil menepuk bahu Gakupo yang duduk disebelahnya. Gakupo merespon dengan menangkupkan kedua tangannya di depan dada, lalu berkata kepada Teto dan Miku,

"Maaf, Teto, Miku. Malam ini aku harus konsentrasi belajar untuk ulangan besok. Jadi, malam ini aku ingin tidur sendiri."

Akhirnya, semua mata tertuju pada Kaito yang sedang asyik melahap pancake ice cream-nya. Merasa diperhatikan, Kaito menghentikan kegiatan melahap pancake nya sejenak.
"Ya, kalau untuk semalam, silahkan saja." Ujar Kaito tanpa ekspresi. Ah, rupanya biar sedang makan, Kaito tetap mendengarkan pembicaraan.

"Yah, kuharap kalian berdua tidak melakukan hal yang aneh-aneh."

Apa maksud Len dan Rin tentang 'Dell lebih dari sekedar teman'?
Apa hubungan Dell, Rin, dan Len yang sebenarnya?
Mengapa Miku tidak meminta Teto untuk sekamar dengannya?

TUNE IN NEXT CHAPTER!

FYI : Naoto- Perdana Menteri Jepang periode sekarang.
: Misoji- 30. Teto umurnya 31, jadi ia adalah, MISOJI
: Misoji tte iuna!-Jangan panggil aku 30 tahun!

Yahhi~ Chapter 3 selesai! Ini chapter paling berantakan, kacau, humor terdikit yang pernah saya bikin di fic ini. Gomen, hahah padahal sampe seminggu lebih nyelesainnya. Ini karena author lagi liburan. Lho? Harusnya kalau liburan updatenya tambah cepet, dong? S-A-L-A-H. Kalo liburan, saya selalu _ (privasi)
Ralat. Kalau liburan, PR malah banyak. Nyebelin, kan? -_-#okecurhatnyacukup-_-
Ah, ternyata tiga orang itu Dell, Len, dan Rin. Saya senang sekali bisa memunculkan Len yang ditunggu-tunggu. Soal pertanyaan ke 3, kenapa Miku tidak sekamar dengan Teto, k a r e n a:
1. Teto tak sudi sekamar dengan anak kos nya.
2. Yah, itu aja. #PLAAAK!

Oke, saya tahu fic ini makin lama makin hancur, apalagi yang bagian pair DellMeiko-_- Dan terima kasih banyak untuk yang udah nge-review :)
But, saya akan sangat senang jika anda ingin mereview fic ini.
So, Review pwease~