ASTAGFIRULLAAAAAAAH UDAH 5 BULAN INI CERITA KAGAK GUE UPDATE!
Yuuhuuuu~ Camp a.k.a Shinju membawakan kembali Vocaloid Family! Seneng? SENENG? NGGAK? Tabok nih ;) #KRIK KRIK *ditabok duluan*
Nggak tau deh apakah chapter ini akan lebih kocak atau lebih garing dari chapter-chapter sebelumnya. Kalaupun memang tambah garing, anggap maklum saja, ya. Kesibukkan kelas 9 membuat author kehilangan sebagian selera humornya T_T
Makasih buat arasa koneko, ChitanBlueIceCream, Chessire Grell, Hana arny, atas review kalian untuk chapter sebelumnya! XD
Jangan lupa review lagi untuk chapter ini! 83 #PLAK
Maaf banget bagi yang udah nunggu kelanjutan fic ini, saya beneran sibuk di kelas 9 ini. Selain itu...WRITERBLOCK YA ALLAH..WRITERBLOCK! Mati-matian saya nulis ini ditengah writerblock yang melanda. I'M GONNA KILL SOMEONE NAMED WRITERBLOCK NAAAAW :O #.bubar.
Yaudah, dari pada banyak omong, mending capcuss cyiiiin~ :3
(Note: Miku, Meiko, Kaito, Gakupo, Kagamine Twins, Dell, sebut saja mereka "Remaja Ababil" disini. Ababil itu, sejenis kacau, sesat, nggak bener.)
WE ARE VOCALOID FAMILY!
Chapter 5
~DAPUR TETO~
.
.
She was crying at that time..
.
"Pita putihku..hiks.."
"Kita akan segera menemukannya. Kumohon, jangan menangis, Rin!"
.
"Ini punya kalian?"
"Pita putihku! Kakak baik sekali!"
"Wah, saatnya aku pergi! Jadilah anak yang baik, ya!"
.
Sooner, she's smiled, with a very..very bright smile.
"Jadi, mereka berdua itu kau yang pungut?"
Dell mengangguk singkat sebagai jawaban atas pertanyaan Teto.
"Ya. Dan pita putih Rin yang telah mempertemukan kami bertiga." Lanjutnya.
"Tunggu. Aku tidak mengerti. Bagaimana caranya benda itu mempertemukan kalian bertiga?" Benar juga. Bagaimanakah cara sehelai pita putih yang terlihat tidak berguna itu dapat mempertemukan mereka bertiga? Namun, bukannya menjawab pertanyaan Teto, Dell malah mengemasi peralatan kuliah miliknya yang berceceran di lantai kamar dengan tergesa-gesa.
"Sudahlah, aku mau ke Kampus dulu. Pokoknya, malam ini rapihkan rumah."
"Eh? Kenapa kau jadi menyuruh-nyuruh? Memangnya aku ini pembantumu?" Protes Teto tak setuju.
"Sudahlah, dengarkan saja perintahku! Siapkan makan malam yang lezat. Lalu kumpulkan semua anggota kos, dan aku akan menceritakan pertemuan kami bertiga. Dan jangan lupa sediakan sake."
"Terus? Nggak pake DVD player? Mic? Lampu dugem? Biar kayak yang di karaokean gitu?" Ujar Teto yang mulai jengkel karena Dell seolah-olah memperlakukan Teto seperti seorang pembantu. Pemilik kos bukan berarti yang melakukan SEMUA pekerjaan rumah tangga di kos-kos an miliknya, 'kan? Sesekali anggotanya juga harus membantu!
"Tidak usah banyak bicara, Teto. Lakukan saja tugasmu!" Cetus Dell yang berjalan keluar meninggalkan kamarnya dan Teto.
"Huh..paling hanya cerita pertemuan yang biasa dan tidak menarik." Sela Teto ditengah kesibukannya merapihkan kamar Dell yang tak ubahnya seperti kamar mahasiswa frustasi—kertas berceceran dimana-mana, buku tergeletak disana-sini, dan beberapa kaus kaki kotor yang terkapar di lantai.
"TETOOOOOOO! Pinjam dapurnya, ya?"
Tak ada angin tak ada hujan, trio ini—Ted, Len, Rin—mendadak sudah berada di ambang pintu kamar Dell. Yang dipanggil menoleh kearah mereka bertiga, lalu menggelengkan kepalanya.
"Tidak boleh! Itu tempat sakral, tahu!" Larang Teto.
"Teto nyimpan arca didalam dapur?" Tanya Rin polos yang disambut oleh gelak tawa dari Len dan Ted.
"Bukan sakral yang seperti itu, bodoh! Maksudnya, hanya aku yang boleh masuk dapur kos. Makhluk kotor seperti kalian dilarang masuk! Resep rahasia turun temurun keluarga Kasane disimpan disana. Dan kalau sampai ketahuan, maka kemurnian resep itu akan berkurang."
"Kok kedengarannya seperti tersangka mutilasi yang menyembunyikan mayat korbannya?" Sahut Len asal-asalan.
"Aaaargh! Kalian hanya bisa membuatku kesal!" Teto memalingkan wajahnya dari mereka bertiga, lalu pura-pura sibuk agar mereka lekas pergi meninggalkan ia sendiri.
"Kami akan membuatmu lebih kesal kalau kau tidak mengizinkan kami untuk memakai dapurmu." Tukas Len datar sedatar-datarnya tembok. "Benar kata Len. Kami itu orangnya tidak tanggung-tanggung dalam menjahili seseorang. Jadi, kalau tidak mau kena bencana, turuti saja perintah kami." Ancam Rin dengan nada yang tidak kalah datar. Beruntunglah Ted tidak ikut-ikutan membeo perkataan dua bocah ini.
Bencana...
Teto terdiam sejenak, membayangkan konotasi kata 'bencana' itu.
*Masuk ke dunia khayalan Teto yang tak kalah ababil :)
"MWAHAHAHAH! THIS IS SPARTAAAA!" Len berlarian diatas sofa, dengan taplak meja yang sengaja ia ikat di lehernya agar terlihat seperti kesatria Sparta. Sementara Rin membuka kulkas dengan kaki kirinya, lalu dengan segenap kebrutalannya ia keluarkan semua isi kulkas itu.
"Hiasi dindingmu dengan jeruuuuuk!" Seru Rin sambil melempari jeruk itu ke seluruh permukaan dinding kos Teto.
"Oi, lantai dengan pisang!" Tak mau kalah dari Rin, Len menyambar beberapa pisang dari kulkas dan menjejalkannya ke sepanjang lantai kos.
Kerja bagus, bocah Kagamine. Sekarang kos ini sudah tak mempunyai bau yang jelas, antara aroma jeruk dan aroma pisang. Teto yang mulai mencium aroma aneh dan mendengar kehebohan langsung berlari keluar dari kamarnya, akan tetapi..
GEDUBRUK!
..Teto terjatuh dengan cara yang sangat tidak elit—terpeleset kulit pisang.
"KYAAAHAHAHAHAHA!" Refleks, dua bocah yang melihat peristiwa ini langsung terpingkal-pingkal, sementara Teto terus menggerutu tanpa artikulasi yang jelas.
"Len! Gantung Teto! Kita jadikan dia pinata!" Entah iblis apa yang merasuki akal Rin hingga ide sesinting itu bisa terucap dari bibirnya. Dan parahnya lagi, Len mengangguk setuju lalu berlari ke gudang untuk mencari tali, yang secara tak langsung mendukung rencana gila Rin.
Teto yang baru saja bangkit dari terpeleset langsung dihampiri Len dan Rin. Mereka mulai meliliti tubuh mungil Teto dengan tali, dan entah kekuatan apa yang merasuki mereka berdua hingga mampu mengangkat dan mengikat tubuh Teto agar menggantung di langit-langit ruangan. Voila! Pinata ber-twintails merah sudah jadi!
"DASAR ABABIL! TURUNKAN AKU! TURUNKAN AKU!" Terang saja Teto memberontak. Namun, ia tercekat ketika melihat kebawah. Len dan Rin sudah siap dengan tongkat baseball nya masing-masing! Tak lupa dengan tatapan mereka yang seolah berbicara, 'Time to break the pinata!'
GAWAT.
"Ichi, Ni.." mereka menghitung maju, Teto memejamkan matanya. Sepertinya ia harus mati dengan cara yang lagi-lagi sangat tidak elit—mati sebagai pinata gadungan.
"SAN!"
"KYAAAAAAAA!" Teto menjerit nyaring, bahkan twintails merahnya yang ikal sempat lurus sedetik.
"Aah, fakta tentang perempuan yang mempunyai daya khayal tinggi memang benar." Sahut Ted logis, berbeda dengan Len dan Rin memandangi Teto yang masih panik dengan tatapan penuh heran.
Teto mengatur suasana hatinya yang masih kacau. Ia menarik nafas dalam-dalam, dan hanya dengan satu hembusan nafas, ia menjadi tenang kembali.
'BOCAH INI! Tak akan kubiarkan mereka menjadikanku pinata!' batinnya sambil melirik tajam kearah dua bocah didepannya yang berpotensi menjadi destroyer kapan saja.
"Baiklah..tapi jangan mengacau!" Ujar Teto terpaksa. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Len dan Rin langsung berlari menuju dapur sembari menjerit gembira, sementara Ted membungkuk sopan kepada Teto sebagai tanda terima kasih.
"Tak perlu berterima kasih. Yang penting, kau jaga kedua anak itu." Pesan Teto singkat.
"Ooh, kalau itu serahkan pada—"
BRAAAAAK!
"TADAIMAAA~!"
Oh, lihat ini. Remaja-remaja ababil kita sudah datang! Wajah mereka terlihat sangat kelelahan akibat melalui hari-hari yang melelahkan pula di sekolah mereka. Tak lupa dengan bau 'anak ABG' mulai menyeruak masuk kedalam kos-kosan.
"Lah? Sejak kapan Rin memakai celemeknya Teto?" Celetuk Meiko yang memperhatikan Rin dari ujung pita putih sampai kuku kaki.
"Ah, kebetulan sekali. Kami ingin mengadakan acara masak-memasak!" Sahut Rin yang dibalas dengan anggukan setuju dari Len dan Ted.
"Tu-tunggu! Siapa yang bilang akan ada acara masak-memasak?" Sanggah Teto gelagapan.
Mendengar kata 'masak-memasak', para remaja ababil berseragam SMA yang baru datang saling berpandangan satu sama lain.
"MASAK? KAU BILANG MASAK?" Mereka berseru serentak dengan wajah mupeng.
'..firasatku buruk. SANGAT BURUK.' Batin Teto sambil menelan ludah.
.
.
.
.
.
"SERBU DAPUUUUUR!"
Ya. Firasat buruk Teto akhirnya terjadi juga. Remaja-remaja itu memasuki dapur kos Teto, dan mulai mengacau di dalam. Ayolah, ini lebih buruk ketimbang dijadikan pinata gadungan oleh dua bocah Kagamine itu.
"KYAAAAA! DAPURKUUUUU!" Teto menjerit keras hingga suaranya mampu mengalahkan suara sangkakala. Dan yang lebih mengejutkannya lagi, author sendiri tidak tahu seperti apa suara sangkakala sebenarnya.
Mereka semua mulai membuat kekacauan di dapur Teto. Bahkan Ted yang awalnya sok-sokan formal, kini berubah saat avatar menghilang. 100 tahun berlalu. Aang— *ditimpuk pensil*
Oke. Ralat.
Mereka semua mulai membuat kekacauan di dapur Teto. Bahkan Ted yang awalnya sok-sokan formal, kini berubah menjadi tarzan hutan yang liar. Oh, tak hanya Ted! Maksudku, SEMUANYA BERUBAH MENJADI LIAR!
Miku yang mulai mengobrak-abrik kulkas, dan begitu menemukan sebatang Negi, ia mulai menari-nari tak waras. Beda dengan Len dan Rin yang malah bermain perang-perangan dengan alat-alat seadanya—Panci sebagai Helm, dan Spatula sebagai pedang—. Beda lagi dengan Meiko yang sibuk memukul-mukul wajan sembari bernyanyi "HEEE! YAMKO RAMBE YAMKO~".
"Serbuk putih keabuan ini namanya apa, ya?" Ujar Kaito sambil memicingkan matanya, memperhatikan setoples serbuk berwarna putih keabuan dengan seksama.
"Kalau tidak salah itu mirip bedak ketek yang sering ibuku pakai." Sahut Gakupo yang sedang memakan meses warna warni yang tersedia di kulkas. Sangat kekanakan.
"Wah tepat banget, nih!" Kaito membuka toplesnya, lalu mencoreng-morengkan wajah Gakupo dengan serbuk itu. Gakupo memberikan perlawanan dengan mengambil segenggam serbuk itu dan meniupkannya ke arah Kaito yang tengah terbahak-bahak melihat wajah Gakupo yang tercoreng moreng. Wajahnya saat ini tak ubahnya seperti Badut Taman Lawang.
"GYAAAA SERBUK LADA PUTIHNYAAA!" jerit Teto yang langsung berlari menyelamatkan toples serbuk putih keabuan—yang ternyata adalah lada putih—dari tangan-tangan jahil yang tidak bertanggung jawab *lirik Gakupo dan Kaito*.
"Oh, ini lada putih?" tukas Gakupo cengo sambil memandangi toples lada putih yang kini tinggal berisi seperempatnya. Setelah itu, Gakupo dan Kaito saling berpandangan, dan..
"AAACCHOOO! SIALAN KAU GAKUPO!" Bentak Kaito disela-sela bersinnya. "LO DULUAN DODOOOOL!" Gakupo yang tidak terima, akhirnya balas membentak Kaito. Dan pada akhirnya, mereka berdua saling jambak-menjambak, bacot-membacot, bentak-membentak, maki-memaki, dan akhirnya berakhir di pelaminan *eh salah*.
"Teto nyimpen bedak di dapur?" Lelah menari, sekarang ganti Miku yang tak kalah katroknya dengan Kaito. Hanya saja, yang diamatinya kini adala setoples serbuk berwarna jingga pucat.
"Itu kaldu ayam bubuk, bodoh!" Sontak, Teto langsung berlari dan menyelamatkan setoples kaldu ayam bubuk itu. Ia tak ingin bumbunya yang satu ini bernasib sama seperti bubuk lada putih miliknya.
WAAAA! HAHAHAHA!
Rusuh. Suasananya sangat rusuh. Bahkan saking rusuhnya Teto sampai tak bisa berkutik lagi. Matanya sudah terlanjur korengan melihat kerusuhan ini. Pupilnya mengecil dan melebar, nafasnya menderu, tangannya mengepal, sampai akhirnya..
CTAAAAASS!
Teto memukulkan cambuk istimewanya, menghasilkan suara benturan yang nyaring. Semuanya terdiam, bergidik ngeri melihat cambuk besar yang Teto pegang. Ah, itu adalah cambuk yang biasa digunakan orang sirkus untuk menjinakkan hewan buas. Remaja-remaja ini harus 'dijinakkan' secepatnya sebelum kekacauan yang mereka buat semakin memburuk.
"Dengar, ya! Seharusnya dapur ini gue pake untuk memasak makan malam nanti. Malam ini ada yang ingin Dell sampaikan! TAPI KALAU DAPURNYA DALAM KEADAAN ABABIL BEGINI GIMANA GUE MAU MASAK, HAH?"
Semuanya terdiam. Jangankan berbicara, berkedipun sama sekali tidak ada yang berani.
"Sekarang, lo lo lo lo lo lo lo semua tinggalin kos-kosan ini sampai jam 7 malam! Dan kembalilah bersama Dell!" perintahnya bak Komandan berpangkat kepada sersan-sersannya yang hina nan kerdil.
"Teto, bagaimana kalau kubantu pekerjaanmu?" tawar Ted yang melemparkan senyum penuh arti kepada Teto.
"Ah..eh—" Teto speechless. Siapa sangka Ted yang baru ia kenal hari ini dengan Gentle-nya menawarkan bantuan kepada Teto? What a surprise..
"Baiklah anak-anak, sekarang kalian boleh pergi! Aku dan Teto akan disini mempersiapkan segalanya." Ted mendorong remaja-remaja ababil itu agar segera keluar dari dapur.
BLAM!
Ted menutup pintu dapur kos. Baiklah, hanya ada Ted dan Teto didalam.
"Wah..dia melindungi dapurnya seperti melindungi telurnya." Kaito rupanya masih tercengang dengan reaksi Teto yang seganas itu. Kalau boleh jujur, inilah pertama kalinya mereka melihat reaksi Teto yang lebih ganas dibandingkan seekor singa.
"Ya. Tapi dia mamalia, Kaito." Celetuk Gakupo.
"Len..Ted-senpai kalau mulai berkata manis pasti ada maunya, 'kan?" Tanya Rin sembari melipat dada di depan tangannya. Eeh..maksudnya, melipat tangannya didepan dada.
"Mungkin agar ia diijinkan makan malam disini. Berdoa saja semoga Teto masih dalam keadaan sehat ketika kita pulang kembali."
.
Hening. Semua memikirkan perkataan Len.
.
.
"Me..memangnya Ted bakal ngapa-ngapain Teto, ya?" Miku mulai panik.
"Hm? Mungkin."
Hening. Semua memikirkan atau lebih tepatnya, berimajinasi tentang apa yang akan Ted lakukan pada Teto. Bagaimanapun juga, mereka belum begitu mengenal Ted. Bisa saja Ted adalah pengidap yandere akut. Bisa saja Ted adalah psikopat yang bersembunyi dibalik topeng wajah innocent-nya. Bisa saja di dalam Ted malah mengacak-acak dapur, atau merebonding paksa twintails ikal Teto, atau membuat sate daging kucing peliharaan Teto, atau bahkan...
..MEMBUNUH TETO?
.
"Woi..DUGEM YUK?"
Semua pada geleng kepala. Meiko mengucapkan sesuatu tidak pada suasana dan waktu yang tepat. Dasar..
"Gimana kalau nonton bioskop? Nonton film Mie Ayam vs. Sariawan! Featured Ayu Ting Ting! Baru dirilis minggu lalu, lho!" Usul Gakupo dengan ekspresi yang terlihat lebih berilmu dari biasanya. Hei, Menonton Bioskop? Ayolah, remaja mana yang tak senang berkunjung ke sini dikala waktu senggang tersedia?
"SETUJU! OLELELELELELOLEEEE~" Semuanya berseru setuju, diikuti dengan sorakan aneh bin random—OLELELELELEOLEEEE~
Tapi...hei, rupanya tidak semua berseru setuju. Masih ada Meiko yang ekspresinya kontras sekali dengan teman-temannya yang sedang bersorak gaje didepannya.
"Kok giliran Gakupo pada setuju semua?" sahut Meiko dengan segenap ketidak setujuannya.
"Oooohoho gue 'kan kece. Lo kan cupu.." dengan pede, Gakupo melonggar-longgarkan kerahnya, sembari bergaya ala cowok kece. Sontak, koor "Hoooo kepedean hooo" langsung menggema dari mulut para remaja-remaja ababil ini.
"RAMBUT LO MAU GUE POTONG? BIAR TAMBAH KECE." ketus Meiko. Gakupo langsung bergidik ngeri melihat Meiko yang memandang tajam kearah rambutnya yang diikat. Ia tidak bisa membayangkan rambutnya dipangkas dengan cara yang brutal oleh Meiko.
"Sudah, sudah..Meiko, kali ini kita mengiyakan Gakupo karena idenya memang bagus. Gakupo itu bodoh. Jarang 'kan Gakupo ngusulin ide bagus? Bisa 30 tahun sekali malah.." ujar Len menengahi kedua pihak yang berseteru.
"MAKAN TUH KECE! HAHAHAHAHA!" Meiko yang merasa mendapat pembelaan langsung tertawa dengan penuh kemenangan.
"LEN..LO BILANG APA TADI.." Gawat, pemirsa. Aura Gakupo berubah!
"Ma-maaf Gakupo. Kau pintar, kok. Pintaaaaar sekali. Dimaafin, 'kan?" Mohon Len sambil memasang senjata ampuhnya—shota face.
Dan, berhasil. Gakupo ber-blushing ria melihat ke-imutan wajah Len, pemirsa! Ia bahkan tak peduli kalau Len itu adalah laki-laki.
.
.
"Gue maafin, asalkan...lo jadi uke gue. Setuju?"
DOEEEEEENG...
"NGGAK MAU! DASAR MAHO!"
.
To Be Continued :)
YAAAAAAY! Akhirnya selesai! Tambah garing? Tambah kocak? Tambah gak masuk akal? Harap maklum! XDD
Saya harap bagi yang udah nunggu cerita ini, akan tersenyum puas setelah membaca chapter ini. Dan bagi yang baru membaca, saya harap mata anda tak korengan membaca cerita sesat ini TwT.
Makasih banyak karena mau meluangkan waktunya untuk membaca fic ini~ Kalau bukan kalian-kalian-kalian-kalian yang membaca fic ini, maka Vocaloid Family gak akan nyampe 1000 hits :)) *tebar confetti*
Saya mengucapkan terima kasih untuk teman-teman di grup FVI, kalian itu awesome. Kangen masa-masa kita saling curhat tentang masa lalu, pas cerita tentang Bullying itu..aaaaaakkkhh pokoknya aku kangen semua! XD
Last, i would like to receive one review from you, all! XDD
Sampai jumpa di chapter berikutnya! YEEEEHAAAA! XD
