Chapter 2 : Broken Red


Dynasty Warriors by

KOEI


Chara : Ling Tong, Lian Shi, Gan Ning, Sun Shang Xiang, Lu Xun, Lu Meng, Huang Gai, Zhou Tai

FanFic Story : Morning Eagle

Ok, next chapter here! Aku nggak tahu tepatnya umur Lian Shi di game warriors, jadi aku buat dia lebih tua dari Ling Tong di chap ini.

Happy reading all~


Keheningan menambah ketegangan di dalam ruangan. Semua orang duduk terdiam dan terlihat serius. Aku menopang daguku dengan sebelah tangan dan melihat ke sekeliling. Lu Meng memperhatikan semua orang di ruangan ini satu per satu. Jendral Taishi Ci, Huang Gai, Zhou Tai, Lu Xun, Shang Xiang, Gan Ning, dan beberapa Jendral pangkat rendah hingga menengah duduk di kursinya masing-masing, fokus pada Lu Meng. Shang Xiang yang duduk di sebelahku benar-benar tidak bisa diam— gelisah. Menunggu hasil rapat memang bukan halnya.

Lu Meng berdeham dan membuat sebagian orang di ruangan ini tersentak. Dia melipat tangannya di atas meja dan mulai berbicara, "Seperti yang kalian tahu, Yang Mulia Sun Quan akan mengirim beberapa Jendral ke kota sebelah yang sedang kesulitan menangani para bandit. Dan sudah menjadi keputusanku dan Zhou Yu untuk memilih siapa yang akan diutus dalam misi ini. Karena ini bukanlah masalah yang besar, kami hanya akan mengirim empat orang ke Heng Jiang bersama beberapa pasukan."

Semua orang mulai meributkan masalah ini, kegaduhan terdengar hampir di setiap sudut ruangan. Misi yang tergolong jarang ini bisa menaikkan pangkat para Jendral kelas bawah hingga menengah cukup besar dan wajar saja mereka terdengar antusias. Jendral Huang Gai—yang sudah tergolong senior daripada senior—lebih memilih diam. Tugas kecil seperti ini sudah pernah dia lakukan ratusan kali.

Lu Meng berdeham lagi untuk menarik perhatian kami semua. Dan hebatnya, semua orang terdiam dan kembali fokus. Inilah salah satu kedisiplinan tinggi yang dimiliki oleh Wu— ajaran 'Art of War' nya paman Sun Tzu.

"Baiklah, sekarang aku akan menyebutkan nama-nama Jendral yang terpilih," lanjut Lu Meng. Para Jendral yang berpangkat rendah pasti merasa sangat tegang, ini merupakan lonjakan untuk kariernya.

"Gan Ning." Itu salah satu nama yang tidak ingin kudengar. Orang yang bersangkutan terlihat puas dan percaya diri.

"Lu Xun." Lu Xun terlihat sedikit terkejut dan tersenyum puas. Dia belum pernah dikirim ke pertempuran besar sebelumnya, karena masih tergolong baru. Tapi, ini bukanlah misi pertamanya. Dia sudah beberapa kali dikirim oleh Lu Meng yang memang menaruh kepercayaan padanya sebagai penerus.

"Ling Tong." Biasa saja mendengar namaku dipanggil. Sama sekali tidak ada yang istimewa. Aku lebih memusatkan perhatianku pada posisi utama dalam pertempuran nantinya. Lu Meng tidak memilih sembarang orang untuk mewujudkan strategi sempurnanya.

"Sun Shang Xiang." Shang Xiang tiba-tiba terlonjak dari duduknya di sebelahku, membuatku sedikit bergidik—kaget. Mulutnya menganga lebar dan kemudian merasa malu akan tingkahnya yang kekanak-kanakkan di depan para Jendral. Jendral Huang Gai tertawa melihat tingkahnya dan berhasil membuat wajah Shang Xiang memerah.

"Dan yang terakhir adalah Taishi Ci. Aku sendiri akan ikut dalam misi ini sebagai pengatur strategi, mewakili Jendral Zhou Yu." Sebagian Jendral dibuat kecewa oleh Lu Meng. Mereka yang masih tergolong Jendral baru telah kehilangan kesempatan emas untuk menaikkan reputasi mereka.

Sebagian Jendral yang tidak terpilih beranjak dari kursinya dan pergi meninggalkan ruang rapat, termasuk Jendral Huang Gai dan Zhou Tai yang terlihat lebih santai daripada yang lainnya. Kami berlima tinggal di dalam ruangan untuk pengarahan lebih lanjut mengenai posisi yang nantinya kami tempati.

"Baiklah, sekarang aku akan mengumumkan posisi yang harus kalian tempati. Shang Xiang, kau bertugas mengevakuasi para warga di Heng Jiang," jelas Lu Meng.

"Hah? Hanya itu? Aku lebih mengharapkan tugas di garis depan," protes Shang Xiang tidak setuju. Wajahnya cemberut kesal.

"Kau ini masih belum berpengalaman dalam hal menangani bandit. Bisa-bisa kau melupakan tugas utamamu dan melukai lebih banyak orang yang seharusnya kau tolong." Lu Meng menceramahi Shang Xiang. Dan itu memang benar, Shang Xiang tergolong sebagai putri yang ceroboh.

"Tapi, para pengawal bisa menanganinya sendiri," balas Shang Xiang, tidak mau kalah. "Kalian membutuhkan bantuanku di garis depan. Kudengar para banditnya banyak dan sulit untuk ditangani seorang diri."

"Karena itulah, kau ditugaskan di bagian belakang. Terlalu banyak orang yang turun di bagian depan, kita tidak bisa meninggalkan para warga yang kesulitan dan terluka. Nyawa adalah hal penting dalam misi ini, kalian semua harus ingat itu. Dan, kalau kau memprotes lagi, putri, aku akan menggantikan posisimu dengan orang lain dalam misi ini," kata Lu Meng tegas. Itu berhasil membuat Shang Xiang tersentak dan terdiam, tidak bisa membalas lagi. Dia tergolong dalam orang yang akan melakukan apa saja demi ikut dalam medan perang— benar-benar putri yang keras kepala.

Gan Ning nyengir melihat Shang Xiang terdiam. Shang Xiang membalas dengan memelototinya dan mengepalkan tangannya kuat-kuat— menahan diri untuk memukulnya. Aku hanya bisa menggelengkan kepala, sesekali bisa merasakan perasaan yang sama dengannya.

"Tahan dulu, putri. Kau bisa menonjoknya setelah rapat selesai," bisikku.

Shang Xiang mengalihkan pendangannya padaku, masih terlihat kesal. "Aku tahu. Aku juga berpikiran hal yang sama denganmu," balasnya. Aku tersenyum melihat tingkahnya, sedikit kasar tapi aku suka, karena dia ada di pihak yang sama denganku— pembenci si jabrik.

"Lu Xun, kau bertugas untuk menangkap para bandit di bagian belakang. Hati-hati, walaupun mereka tahu kedatangan kita, mereka tidak akan menyerah begitu saja," jelas Lu Meng pada Lu Xun. Lu Xun membalasnya dengan anggukkan dan tersenyum puas. Dia memang tipe orang yang akan menerima apa saja yang ditugaskan padanya, beda sekali dengan orang yang ada di sebelahku ini.

"Dan Ling Tong, kau membantu Lu Xun dalam tugasnya," kata Lu Meng melanjutkan.

Aku tersentak dibuatnya. Posisiku di bagian belakang? Kenapa Lu Meng tidak menaruhku di barisan depan?

"Gan Ning, kau bertugas mengusir dan menangkap para bandit di barisan depan, dibantu dengan Taishi Ci."

"Oke, pak tua! Serahkan saja padaku!" teriak Gan Ning senang.

"Tunggu dulu—" kataku, berniat protes. "Kenapa kau menaruhku di barisan belakang? Dan kenapa dia yang ada di barisan depan?" aku menunjuk Gan Ning dengan telunjukku tanpa melihatnya.

"Kenapa kau berpikiran demikian, Ling Tong?" tanya Lu Meng, mengangkat sebelah alisnya.

"Dia terlalu ceroboh dan sulit diatur. Itu akan menyulitkanmu mengatur strategi dalam misi ini."

"Apa katamu?" teriak Gan Ning marah.

"Itu memang kenyataan," balasku datar, mengerutkan dahiku.

"Kau iri, kan dengan posisiku ini?"

"Aku hanya berpendapat, bahwa kau tidak bisa menyelesaikan misi sesuai waktu yang ditentukan. Itu karena keegoisanmu yang sudah kau tunjukkan di pertempuran sebelumnya!" jelasku, sedikit marah.

"Kau menghinaku!" teriak Gan Ning lagi, kali ini di berjalan ke arahku dari seberang meja. Taishi Ci berusaha menahannya. Lu Xun menahanku yang berusaha menyambut kemarahannya.

"Hentikan kalian berdua! Apa kalian ingin aku keluarkan dari misi ini?" teriak Lu Meng, marah.

"Sudahlah, Ling Tong. Kau bisa dikeluarkan nanti," kata Shang Xiang di sebelahku, memegang tangan kananku erat— lebih tepat menekannya kuat-kuat.

"Benar apa yang dikatakannya. Tenangkanlah dirimu," kata Lu Xun tenang. Aku menghela napas dan berusaha menekan emosiku dalam-dalam. Sulit sekali berusaha tenang dalam satu ruangan yang sama dengan si jabrik.

~0000000~

Tuan Lu Meng sukses memarahi aku dan si jabrik. Kepalaku terasa berdenyut-denyut karena stress dan beban pikiran yang terlalu banyak menumpuk. Aku menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan, mengurangi sedikit bebanku. Aku melakukannya beberapa kali sampai seseorang menegurku dari belakang.

"Apa yang sedang kau lakukan disini?" tanyanya sambil mengangkat kedua alisnya dan tersenyum ramah. Kedatangan Lian Shi membuatku sedikit tersentak karena beberapa alasan. Dia duduk di sampingku, di kursi taman yang memang dibuat untuk dua orang. Tangannya menekan kursi sebagai tumpuan dan kakinya yang panjang diluruskan ke depan—meregangkan badan.

"Apa yang kau lakukan disini?" tanyaku balik, jantungku mulai berdebar tidak karuan. Perasaan yang dulu sudah terpendam kini mulai kembali lagi ke permukaan. Lukanya pun terasa lagi—perasaan tertolak sama seperti dicampakkan.

"Hei, jangan balik bertanya. Kau mengalihkan pembicaraan lagi," katanya santai, tertawa yang ditujukan untuk menghibur diriku. Tapi, aku membalasnya dengan tatapan datar dan serius. Astaga, kenapa dia muncul di saat seperti ini?

Lian Shi berhenti tersenyum dan balik menatapku serius, "Ada apa? Kau mau menceritakannya padaku?"

"Entahlah." Biasanya dia adalah orang yang kuandalkan untuk menampung kisah pahit dan manisku selama ini. Tapi sekarang aku merasa sedikit canggung untuk bercerita.

"Biar kutebak," katanya antusias, sambil berpura-pura berpikir keras—mengerutkan dahinya. "Aku tahu, pasti ini masalah dengan si jabrik lagi, kan?"

Aku tertawa dibuatnya, bisa-bisanya dia menyebut Gan Ning dengan sebutan itu. "Seharusnya kau menyebutkannya langsung pada Gan Ning."

"Akan kupikirkan itu," balasnya sambil tersenyum. "Akhirnya kau bisa tertawa juga. Kau seharusnya lihat wajahmu sendiri, Ling Tong. Kerutan-kerutan di wajahmu itu bisa mempercepat proses penuaanmu."

"Kau terlalu berlebihan," protesku.

"Lalu, kau mau menceritakannya padaku? Aku tidak memaksa, kok. Tapi, biasanya kalau kau ada masalah, kau mau menceritakannya padaku tanpa basa-basi, tidak seperti sekarang ini."

Aku menghela napas sesaat dan mulai bercerita— masalahku dengan Gan Ning di ruang rapat yang sedikit mericuhkan suasana. Lian Shi hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, pertanda dia masih mendengarkan ceritaku.

"Hm... masalah ini memang biasa terjadi antara kau dan Gan Ning. Aku tidak terlalu terkejut mendengarnya."

"Terima kasih atas sarannya."

"Hei, aku bahkan belum memberikan pendapatku," protesnya, tiba-tiba menyentuh tanganku—membuat jantungku semakin berdebar keras.

"Menurutku, seharusnya kau lebih bisa menahan emosimu, Ling Tong."

"Itu pendapatmu yang selalu kau katakan padaku. Aku tidak terlalu terkejut mendengarnya."

"Jangan ikuti kata-kataku."

Aku tersenyum melihatnya marah. Membuatnya marah memberikan kesan tersendiri bagiku beberapa tahun yang lalu, tidak sekarang. Mengingat masa-masa itu membuat hatiku kembali teriris. Wajah marahnya yang khas, dia pasti menggigit bibirnya sambil mengerutkan kedua alisnya. Marah maupun tertawa dia tetap terlihat cantik dan anggun.

"Lebih baik kau jangan hiraukan dia, Ling Tong. Jangan mencari masalah dengannya," lanjutnya, masih terlihat marah.

"Aku tahu. Tapi, dia sudah merebut posisiku. Seharusnya aku yang ditempatkan di garis depan, bukan dia yang keras kepala."

"Harga dirimu benar-benar tinggi, ya?"

"Apa?" tanyaku terkejut.

"Kau benar-benar seperti anak kecil," kata Lian Shi sambil mengerutkan alisnya padaku.

"Kau tidak mengerti apapun."

"Aku tahu yang kaurasakan, Ling Tong."

Aku menatapnya tajam, dia sama sekali tidak tahu apapun tentangku. Apalagi perasaanku padanya. Aku telah terpikat pada wanita yang salah. Wanita yang seharusnya tidak kusukai, karena jelas-jelas dia milik orang lain. Kenapa aku bisa begitu bodoh?

Lian Shi menghela napas dan kemudian menyentuh pipiku dengan tangannya. Dia membuatku tersentak, sedikit melotot. Aku tidak mau dia tahu perasaanku yang sebenarnya.

"Kau sudah seperti adik bagiku, Ling Tong. Aku mengkhawatirkan keadaanmu," katanya lembut sambil mengerutkan dahinya.

"Kita hanya terpaut dua tahun. Tidak ada bedanya dengan seumur," balasku datar.

"Wah, kau membuatku merasa terlihat lebih muda. Haruskah aku berterima kasih padamu?"

"Peluk aku sebagai tanda terima kasih," jawabku sambil berusaha menunjukkan wajah serius. Aku ingin tahu bagaimana reaksinya, apakah dia bisa tersipu-sipu?

Lian Shi menjawabnya dengan tertawa terbahak-bahak. Dia menaikkan sebelah alisnya, pertanda tidak percaya, "Astaga, Ling Tong. Kau bisa saja bercanda dengan wajah serius seperti itu."

Dia sama sekali tidak menyadarinya, bahkan menebak saja tidak. "Baiklah, aku traktir kau saja, ya?"

Aku terus memperhatikan matanya, berusaha menepis perasaanku yang tidak kunjung hilang. Sulit sekali untuk melupakannya, apalagi orangnya selalu berada dekat denganku.

"Aku ingin makan mie," kataku sedikit memelas.

"Mantau saja."

"Kau ini kan istri raja dari Wu. Tidak bisakah yang sedikit lebih mahal?"

"Aku sedang membatasi pengeluaranku."

"Untuk membeli baju baru," tebakku. Dan ternyata memang tepat, wajah Lian Shi berubah merah—kaget.

"Tebakan yang tepat," kataku sambil tertawa mengejek.

"Hei! Aku ini kan perempuan dan itu adalah hal wajar. Lagipula baju itu untuk acara pertemuan resmi nantinya," jelasnya sedikit kesal.

"Aku mengerti, nyonya." Melihatnya bahagia dan hidup berkelimpahan saja sudah membuatku tenang. Dia tidak perlu lagi memikirkan pengeluaran harian untuk biaya hidup, apapun yang dia inginkan bisa langsung terpenuhi. Apa jadinya kalau dia hidup bersamaku? Sepertinya itu adalah hal yang mustahil.

Dia menahan tawa yang keluar dari mulutnya dengan sebelah tangan."Hmph! Aneh sekali sebutan 'nyonya' itu!"

"Oh ya, Ling Tong, boleh aku minta tolong satu hal?" lanjutnya, mengangkat kedua alisnya, masih tersenyum.

"Apa?" tanyaku sedikit ingin tahu.

"Katamu Shang Xiang akan ikut dalam misi ini, kan?"

"Hmm," gumamku sambil menganggukkan kepala.

"Tolong jagalah dia. Aku sangat mengkhawatirkannya, karena aku tidak bisa mendampinginya dalam misi ini. Dia itu orang yang sangat ceroboh," jelasnya sambil mengerutkan alisnya. Dia terlihat takut dan khawatir, jarang sekali bisa berwajah seperti itu.

Aku menghela napas lagi kesekian kalinya hari ini. "Sampai kapan kau akan terus berperan sebagai pengawal bagi Shang Xiang?"

"Dia itu adik iparku, bahkan sekarang aku sudah menganggapnya seperti adik kandungku."

"Aku juga adikmu, kan?" candaku. Lian Shi tertawa lagi dan kali ini menggenggam tanganku—menarikku ke dekatnya dan berjalan bersama meninggalkan taman.


Thx for reading ^^! Please review~